Khutbah Jumat: Jangan Marah ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 12 Sya’ban 1442 H / 26 Maret 2021 M.
Khutbah Pertama Tentang Jangan Marah
Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pertama-tama kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada kita. Shalawat beriring salam tidak lupa kita limpahkan untuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, atas keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau dan umat beliau sampai hari kemudian.
Jama’ah yang dimuliakan Allah,
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, disebutkan bahwa ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi dan meminta wejangan dan nasihat. Dan Nabi berkata kepadanya: لا تَغْضَبْ (jangan marah).
Kemudian dia meminta wejangan lagi, dan Nabi mengulangi kata-kata itu, yaitu لا تَغْضَبْ (jangan marah). Sampai tiga kali, dan Nabi tetap mengatakan kepadanya لا تَغْضَبْ (jangan marah).
Hadits ini memiliki banyak sekali faedah. Dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpesan kepada lelaki ini dan juga berpesan kepada umat beliau seluruhnya, agar bisa mengendalikan amarah, bisa mengontrol emosi, jangan jadi seorang yang pemarah dan jangan suka mengumbar kemarahan. Pesan yang singkat, tapi sangat bermanfaat bagi kita semua.
Tentunya, kita paham bahwa Nabi tidaklah menafikan marah sama sekali, tapi Nabi menganjurkan kepada kita agar bisa mengendalikan marah dan bisa menempatkan marah itu pada tempatnya. Karena meletakkan marah tidak pada tempatnya adalah sebuah kekonyolan.
Di dalam hadits yang lain, Nabi menyebut orang yang bisa mengendalikan marah/emosi sebagai orang yang kuat. Nabi berkata:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Yang kuat itu bukanlah orang yang kuat bergulat, akan tetapi orang kuat adalah yang dapat menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Yaitu dia dapat mengendalikan amarahnya.
Dan terbukti bahwa amarah ini sering mendatangkan penyesalan. Setelah kita melampiaskan marah kita, barulah kita menyesali apa yang sudah terjadi. Ada kata-kata yang tidak pantas, ada perbuatan yang tidak wajar, itu kita lakukan ketika marah. Seolah-olah kita kehilangan pertimbangan akal sehat. Kita melakukan yang sebenarnya kita tidak inginkan, sehingga di dalam bab thalaq, kemarahan ini menangguhkan thalaq tersebut. Nabi mengatakan:
لاطلاق في غلق
“Tidak ada jatuh talak ketika pada saat ghalaq.”
Para ulama menafsirkan ghalaq di sini adalah marah, sehingga dia sadar dan menyadari apa yang dia ucapkannya. Demikian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan tentang buruknya marah tersebut.
Oleh karena itu Nabi adalah teladan kita, dan beliau adalah seorang yang dapat menempatkan marah itu pada tempatnya.
Nabi tidak pernah marah sama anak-anak. Kalau kita telisik riwayat-riwayat bagaimana Nabi berinteraksi/bermuamalah dengan anak-anak, maka beliau tidak pernah sekalipun memarahi seorang anak. Maka berhentilah memarahi anak, karena itu bukan mendidik.
Sebagian orang tua merasa dia sudah menjadi orangtua yang berprestasi apabila berhasil dan berani memarahi anaknya. Itu adalah suatu pandangan yang sangat-sangat keliru.
Nabi teladan kita di dalam mendidik, kita dapati beliau tidak pernah memarahi seorang anak. Maka kata-kata seorang ayah dan ibu mengatakan “saya memarahi anak saya,” itu adalah kata-kata yang keliaru. Yang benar adalah “Saya menasihati, membimbing, mendidik, mengarahkan anak saya,” bukan memarahi anak. Karena anak perlu disentuh hatinya dengan kasih ...