Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Peran Media Dalam Mendidik Anak
    Peran Media Dalam Mendidik Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 29 Muharram 1443 H / 07 September 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Anda Tidak Sendiri Dalam Mendidik Anak
    Kajian Islam Ilmiah Tentang Peran Media Dalam Mendidik Anak
    Pendengaran dan penglihatan adalah sarana ilmu. Ini sangat berpengaruh dalam menentukan baik buruknya seseorang. Pendengaran dan penglihatan bisa menjadi sarana masuknya hal-hal yang ma’ruf, yaitu ilmu yang bermanfaat. Kalau yang masuk adalah keburukan, maka itu akan menjadi keburukan juga. Dan itu ujian yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada manusia, melalui apa yang dilihat dan didengarnya.
    Apa yang terlihat dan terdengar itu tidak bisa hilang begitu saja dari ingatan. Karena akal akan bekerja untuk merekamnya. Maka ada perintah untuk menjaga pandangan dan pendengaran di dalam Islam. Inilah jawaban kenapa dilarang mendengar syubhat. Karena bukan hanya syubhat itu masuk ke dalam telinga kita kemudian selesai.
    Ingatlah kisah Ibnu Rawandi yang tersesat karena dia tidak menjaga pendengarannya dari mendengarkan perkataan-perkataan kaum Rafidhah dan orang-orang Atheis. Akhirnya dia menjadi Atheis sejati dan bahkan pemikirannya lebih parah. Dia membuat satu agama tandingan yang dia klaim itu lebih baik daripada Islam. Padahal awalnya dia adalah orang yang lurus, menjadi rusak karena tidak menjaga saluran ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
    “Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur (antara mani laki-laki dan perempuan) agar Kami menguji dan Kami jadikan manusia bisa mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan[76]: 2)
    Tentunya pendengaran dan penglihatan sangat penting. Kalau kita tidak bisa mendengar dan melihat, bagaimana sesuatu bisa masuk ke dalam akal kita? Ini adalah nikmat yang luar biasa, tapi itu juga ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Tontonan sebagai tuntunan
    Terkadang sebagian tontonan itu dijadikan sebagai tuntunan, padahal itu sekedar hiburan. Tapi siapa sangka ternyata itu bukan sekedar alat hiburan, tapi alat propaganda. Apalagi yang membuat konten-konten itu adalah orang yang tidak mengenal agama atau non muslim. Maka dia tidak peduli pengaruh apa yang sampai kepada orang yang melihat dan mendengar karya mereka. Padahal tontonan itu membentuk satu pola pikir bagi orang yang melihat dan mendengarnya.
    Yang menjadi masalah bukan alatnya, tapi isinya. Sebelum kita mengenal adanya radio dan televisi dakwah, yang kita kenal dari televisi hanya buruknya saja. Di dalamnya ada siaran-siaran yang seharusnya tidak dilihat dan tidak didengar. Tapi Alhamdulillah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat dan karunia kepada kita radio dan televisi sudah bisa dipakai, digunakan dan dimanfaatkan untuk menyampaikan kebaikan. Maka bermunculanlah radio-radio dan televisi dakwah untuk mengalihkan fungsi dari dua alat ini. Yaitu dari yang awalnya memberikan pengaruh negatif kepada sesuatu yang bermanfaat.
    Ini adalah nikmat Allah yang perlu kita jaga supaya terus menghasilkan faedah bagi umat manusia. Ketika kita tahu ada solusi untuk menggunakan dua alat ini kepada kebaikan, maka kita juga harus mengarahkan anak-anak untuk suka mendengarkan radio dan televisi dakwah.
    Bagaimanan penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    1 hr 3 min
  • Motivasi Membaca Al-Qur’an
    Motivasi Membaca Al-Qur’an adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 29 Muharram 1443 H / 07 September 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Dianjurkan Kembali Dari Safar Disiang Hari
    Ceramah Agama Islam Tentang Motivasi Membaca Al-Qur’an
    Kita masuk pada باب فضل قراءة القرآن (Bab tentang keutamaan membaca Al-Qur’an). Al-Qur’anul Karim adalah wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi dan RasulNya yang terakhir dengan perantara Malaikat Jibril.
    Al-Qur’an adalah sumber ilmu dan kebenaran. Maka sudah seyogyanya keutamaan Kalamullah diletakkan yang pertama kali dalam pada kitab ini dalam rangka untuk menghormati dan memuliakan Al-Qur’an.
    Al-Qur’anul Karim tidak diragukan lagi tentang kebenaran dan keagungannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan:
    ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
    “Kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 2)
    Al-Qur’an yang tidak ada keraguan padanya ini hendaknya kita berupaya untuk selalu membaca, mendalami dan mentadabburinya. Tidak sedikit di antara kaum muslimin yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak paham apa yang dibacanya, lalu bagaimana mungkin seseorang bisa mengamalkannya?
    Maka merupakan hal yang harus bagi setiap muslim dan muslimah mempunyai waktu dalam kehidupannya untuk membaca Al-Qur’anul Karim dengan memahami makna dan kandungannya. Caranya adalah dengan mempelajari bahasa Arab, atau minimal seseorang membaca terjemahannya. Kalau ada hal yang kurang jelas maka bisa ditanyakan kepada orang yang berilmu.
    Ketika kita membaca dengan berusaha memahaminya, maka kita akan menjumpai hal-hal yang luar biasa. Tetapi kalau sekedar membaca tanpa memahami, maka -walalupun mendapatkan pahala- alangkah baiknya jika disertai dengan memahami apa yang kita baca.
    Keutamaan Al-Qur’an
    Menunjukkan kepada yang terbaik
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ…
    “Sesungguhnya Al-Qur’an ini menunjukkan kepada yang terbaik (dalam semua hal).” (QS. Al-Isra'[17]: 9)
    Tidak ada keraguan bagi kita akan kebenaran Al-Qur’anul Karim. Orang-orang yang ragu tentang kebenaran Al-Qur’an adalah orang-orang munafiq.
    Dijaga oleh Allah
    Al-Qur’an adalah kitab yang terpelihara dan dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
    “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami yang akan menjaganya.” (QS. Al-Hijr[15]: 9)
    Bagaimanapun upaya tangan-tangan jahil untuk merubah Al-Qur’an, maka tidak akan bisa. Hal ini karena Allah yang menjaganya.
    Al-Qur’an adalah mukjizat
    Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang usianya selamanya. Mukjizat-mukjizat lain yang Allah berikan kepada para Nabi sudah habis. Adapun Al-Qur’anul Karim tidak akan selesai, dia tetap menjadi mukjizat bagi Nabi Shallallahu ‘Alai...
    1 hr 23 min
  • Ditiupnya Sangkakala
    Ditiupnya Sangkakala merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Al-Qiyamah Ash-Shughra yang disampaikan oleh Ustadz Ali Nur, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 28 Muharram 1443 H / 6 September 2021 M.

    Kajian Tentang Ditiupnya Sangkakala
    Setelah seorang manusia berada di alam barzakh, seorang mukmin akan mendapatkan nikmat kubur dan dia menunggu kapan terjadinya hari kiamat. Mereka berdoa:
    ربى أقم الساعة
    “Ya Allah segerakan hari kiamat.”
    Adapun orang-orang kafir, mereka mendapatkan adzab kubur di alam barzakh. Dan demikianlah ditimpakan kepada mereka adzab tersebut hingga hari kiamat. Mereka berdoa:
    ربى لا تقوم الساعة
    “Ya Allah, jangan jadikan hari kiamat.”
    Hal ini karena mereka tahu bahwasanya adzab yang sedang mereka derita itu saja sudah sangat dahsyat dan luar biasa rasanya, apalagi adzab yang menanti mereka pada hari kiamat.
    Ditiupnya sangkakala
    Hari kiamat terjadi dengan ditiupkannya sangkakala. Dengan tiupan itu maka hancurlah seluruh alam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ…
    “Dan ditiupkanlah sangkakala, maka bermatianlah siapa saja yang ada di langit dan siapa saja yang ada di bumi kecuali yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dimana mereka tidak mati disaat sangkakala ditiupkan.”
    Lanjutan firman Allah ini:
    ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ
    “Kemudian ditiupkan lagi dengan tiupan yang berikutnya maka manusia-manusia itu bangkit menunggu.” (QS. Az-Zumar[39]: 68)
    Dalam ayat ini dijelaskan bahwa sangkakala ditiup dua kali.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ ‎﴿٦﴾‏ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ ‎﴿٧﴾
    “Pada hari alam diguncangkan, dan akan diikuti oleh tiupan kedua.” (QS. An-Nazi’at[79]: 6-7)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ
    “Tidaklah mereka menunggu kecuali yang satu teriakan saja, dimana dengan satu teriakan saja binasalah seluruhnya, bahkan mereka yang sedang bertengkar.” (QS. Yasin[36]: 49)
    Mereka yang sedang bertengkar itu ketika mendengar satu tiupan pertama maka langsung mati, tanpa menunggu sampai akhir pertengkaran.
    فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ
    “Manusia pada saat itu tidak sempat lagi memberi wasiat, bahkan tidak sempat lagi kembali ke rumah mereka.” (QS. Yasin[36]: 50)
    Inilah kondisi ketika ditiupnya sangkakala yang pertama. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُم مِّنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنسِلُونَ
    “Dan ditiuplah sangkalala, maka bangkitlah manusia-manusia dari kuburan mereka, dan mereka semua pergi menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Yasin[36]: 51)
    Bagaimana penjelasan tentang ditiupnya sangkakala? Mari download mp3 kajian yang sangat bermanfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Ditiupnya Sangkakala – Al-Qiyamah Ash-Shughra
    Mari turut membagikan link download
    57 min
  • Waktu-Waktu Shalat
    Waktu-Waktu Shalat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 28 Muharram 1443 H / 6 September 2021 M.

    Download kajian sebelumnya: Konsekuensi Hukum Bagi Orang Yang Meninggalkan Shalat
    Kajian Tentang Waktu-Waktu Shalat
    Para ulama telah bersepakat bahwa shalat lima waktu itu ada waktu-waktu yang telah ditentukan untuknya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا
    “Sesungguhnya shalat itu diwajibkan kepada kaum mukminin sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.” (QS. An-Nisa[4]: 103)
    Waktu shalat dzuhur
    Shalat dzuhur adalah shalat yang diwajibkan dengan masuknya waktu dzuhur. Shalat ini mempunyai beberapa nama, yaitu: shalat dzuhur, shalat ula, shalat hajirah.
    Awal waktu dzuhur
    Awal waktu dzuhur adalah ketika matahari tergelincir dari pertengahan langit. Para ulama telah berijma’ dalam masalah ini,  karena banyaknya hadits yang menjelaskannya. Di antaranya hadits dari sahabat Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
    وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ
    “Waktu dzuhur itu ketika matahari tergelincir (dari pertangahan langit).” (HR. Muslim)
    Akhir waktu dzuhur
    Adapun akhir waktu dzuhur maka para ulama telah berselisih pendapat dalam masalah ini, antara mayoritas ulama dengan ulama madzhab Hanafiyah. Jumhur ulama mengatakan bahwa akhir waktu dzuhur adalah ketika bayangan sama dengan ukuran aslinya. Kalau kita tegakkan tongkat panjangnya 1 meter, maka waktu dzuhur ketika bayangan tongkat tersebut juga 1 meter.
    Adapun ulama-ulama Hanafiyah mengatakan bahwa waktu dzuhur berakhir ketika bayangan menjadi dua kali lipatnya benda aslinya. Berarti kalau tongkatnya 1 meterk, maka bayangannya mencapai 2 meter.
    Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah pendapatnya mayoritas ulama. Hal ini karena banyak sekali hadits yang menguatkan pendapat mayoritas ulama. Di antaranya hadits dari sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma:
    وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرْ الْعَصْرُ
    “Waktu dzuhur itu ketika matahari tergelincir dari pertengahan langit sampai bayangan seseorang seperti tingginya dia selama waktu ashar belum datang.” (HR. Muslim)
    Ada juga hadits lain yang menunjukkan bahwa waktu dzuhur berakhir ketika bayangan seseorang sama dengan tingginya, yaitu hadits Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma. Disebutkan dalam hadits beliau: “Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat dzuhur di hari berikutnya ketika bayangan seseorang yang sama dengan tingginya.” Ini menunjukkan bahwa akhir shalat dzuhur itu ketika bayangan sesuatu sama dengan tingginya.
    Waktu Shalat Ashar
    Menit ke- Shalat ashar juga disebut sebagai shalat wustha. Inilah yang disebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an (menurut pendapat yang lebih kuat). Yaitu dalam FirmanNya:
    حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ
    “Jagalah shalat-shalat kalian dan juga shalat wustha.” (QS. Al-Baqarah[2]: 238)
    Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menjelaskan kepada kita bahwa shalat ashar sangat dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,
    1 hr 4 min
  • Prinsip Ahlus Sunnah Dalam Dien dan Iman
    Prinsip Ahlus Sunnah Dalam Dien dan Iman adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 07 Dzulhijjah 1442 H / 17 Juli 2021 M.
    Kajian Tentang Prinsip Ahlus Sunnah Dalam Dien dan Iman
    Kita masih membahas poin yang ke-42 tentang Prinsip Ahlus Sunnah Tentang Dien dan Iman. Pembahasan yang terakhir sampai poin yang ke-7.
    Kedelapan, Ahlus Sunnah tidak mengkafirkan Ahlul Qiblat (kaum Muslimin) secara mutlak dengan sebab perbuatan maksiat dan dosa besar yang mereka lakukan, sebagaimana yang dilakukan oleh Khawarij, bahkan persaudaraan iman mereka tetap terpelihara, meskipun berbuat maksiat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا
    “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya.” (QS. Al-Hujuraat: [9]: 3)
    Pada ayat ini Allah tetep menyebutkan di sini dengan kalimat “iman”, padahal jelas terjadi peperangan antara kaum muslimin dengan kaum muslimin. Allah tidak mengkafirkan mereka.
    Di dalam hadits disebutkan:
    سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
    “Mencaci maki seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kufur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Dijelaskan oleh para ulama bahwa maksud kufur di sini adalah كفر دون كفر (kufur dibawah kekufuran), bukan berarti mereka kafir keluar dari agama Islam.
    Ini adalah prinsip yang besar bagi orang yang beriman. Adapun Khawarij mereka mengkafirkan orang yang berbuat dosa besar dari kaum muslimin. Ini telah kita bahas pada kajian Ahlus Sunnah Adalah Ahlul Wasath (Pertengahan).
    Kesembilan, Ahlus Sunnah tidak mencabut nama iman secara keseluruhan dari orang Islam yang fasiq dalam agama ini dan tidak menghukuminya kekal dalam Neraka, sebagaimana yang dikatakan oleh Khawarij dan Mu’tazilah. Orang Islam yang berbuat dosa besar dan maksiat dikatakan tidak sempurna imannya.
    Khawarij mengatakan bahwa orang yang berbuat dosa besar, maka dikatakan dia kafir (keluar dari agama Islam) dan di akhirat kekal dalam api neraka. Mu’tazilah mengatakan bahwa ketika seseorang melakukan dosa besar, maka dikatakan dia tidak mukmin dan tidak kafir. Prinsip mereka adalah منزلة بين المنزلتين (dia berada di satu tempat di antara dua tempat). Kedua pendapat ini sesat.
    Adapun Ahlus Sunnah mengatakan bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar dan maksiat tidak dikafirkan, tapi dikatakan tidak sempurna imannya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    لاَ يَزْنِى الزَّانِي حِيْنَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَسْرِقُ السَّارِقُ حِيْنَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَنْتَهِبُ نُهْبَةً ذَاتَ شَرَفٍ يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيْهَا أَبْصَارَهُمْ حِيْنَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ.
    “Tidaklah berzina seorang pezina, ketika berzina ia dalam keadaan beriman, tidaklah seorang pencuri, ketika ia mencuri dalam keadaan beriman, tidaklah seorang peminum khamr, ketika ia meminumnya ia dalam keadaan beriman, tidaklah seorang yang menjarah suatu jarahan yang berharga yang disaksikan oleh manusia, ketika menjarahnya ia dalam keadaan beriman.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)
    0 min
  • Khutbah Jumat: Mencintai Keimanan dan Membenci Kemaksiatan
    Mencintai Keimanan dan Membenci Kemaksiatan ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 25 Muharram 1443 H / 3 September 2021 M.

    Khutbah Pertama – Mencintai Keimanan dan Membenci Kemaksiatan
    Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kepada umat Islam bahwa di tengah-tengah kita ada peninggalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ…
    “Ketahuilah oleh kalian bahwasanya pada diri kalian ada Rasulullah…” (QS. Al-Hujurat[49]: 7)
    Kata Al-Imam Ibnu Katsir, ketahuilah oleh kalian bahwa pada diri kalian ada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka hormatilah, agungkanlah, beradablah terhadapnya. Karena sesungguhnya ia lebih tahu dari kalian tentang apa saja yang maslahat untuk kalian. Ia lebih sayang kepada kalian daripada sayangnya kalian kepada diri kalian sendiri.
    Sebagaimana Allah berfirman:
    النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ…
    “Nabi itu lebih layak untuk diikuti oleh kaum mukminin dari mengikuti diri mereka sendiri…” (QS. Al-Ahzab[33]: 6)
    Di sini Allah mengingatkan bahwa pada diri kita ada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah telah meninggal dunia, tapi ada sunnahnya. Rasulullah telah meninggalkan kepada kita dua warisan yang agung. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
    “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Siapa saja yang berpegang kepada keduanya ia tidak akan pernah tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Imam Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi)
    Maka agungkanlah keduanya, pelajarilah oleh kita bersungguh-sungguh, jagalah adab kita kepada Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jangan sampai mendahulukan pendapat siapapun di atas pendapat Allah dan RasulNya.
    Kemudian Allah berfirman setelahnya:
    …لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ …
    “Kalaulah Rasulullah menaati kalian dalam banyak perkara, kalian akan susah.”
    Sebagaimana juga Allah berfirman:
    وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ…
    “Kalaulah kebenaran mengikuti hawa nafsu manusia, maka akan terjadilah kerusakan di langit dan di bumi…” (QS. Al-Mu’minun[23]: 71)
    Allah mengingatkan bahwa kalau Rasulullah mengikuti kalian, maka kalian akan binasa. Oleh karena itu kewajiban kalian adalah mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena ia lebih tahu dari kalian tentang jalan yang menunjukkan kita ke dalam surga, tentang kemaslahatan hidup kita di dunia dan akhirat, tentang apa saja perkara yang diridhai oleh Allah atau dimurkai olehNya.
    Maka kewajiban kita adalah untuk benar-benar menghormati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Lalu Allah berfirman:
    وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
    “Akan tetapi Allah menjadikan kalian mencintai keimanan, dan Allah hiaskan keimanan pada hati-hati kalian, dan Allah jadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Merekalah orang-orang yang terbimbing hidupnya.”
    Ketika Allah mengingatkan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwasanya pada diri mereka ada Rasulullah,
    14 min
  • Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy
    Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Tentang Nama-Nama Allah dan Sifat-SifatNya. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 25 Muharram 1443 H / 3 September 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Mengenal dan Mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala

    Kajian Tentang Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy
    Pembahasan tentang sifat adalah perkara ghaib yang berkaitan dengan diri Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak terdapat sedikitpun celah atau ruang untuk berimajinasi, untuk berijtihad, untuk menganalogikan, untuk menggunakan teori yang dibuat oleh akal pikiran manusia. Maka tentunya prinsip landasan yang akan kita gunakan untuk menetapkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wahyu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ
    “Apakah kalian yang lebih mengetahui atau Allah Subhanahu wa Ta’ala?” (QS. Al-Baqarah[2]: 140)
    Maka tidak diragukan bahwa Allah lebih mengetahui tentang diriNya, dan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang lebih mengetahui tentang dari Allah dari kalangan umat manusia ini.
    Oleh karena itu landasan kita dalam membahas tentang sifat-sifat Allah hanya wahyu. Tentunya wahyu/dalil tidak bertentangan dengan akal yang sehat. Tatkala ada yang menyatakan atau muncul pernyataan bahwa akal bertentangan dengan dalil, maka seyogyanya akal tersebut tidak lagi digunakan sebagaimana fungsinya.
    Maka aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan semua sifat yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur’anul Karim dan juga yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits-hadits yang shahih sebagaimana tertera di dalam Al-Qur’an dan hadits, tidak ditakwilkan, tidak diselewengkan maknanya, tidak diingkari, tidak diserupakan dengan makhluk dan tidak ditanyakan tentang hakikatnya. Maka diimani sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an dan hadits sesuai dengan dzahirnya.
    Dalam penetapan tersebut kita harus bersihkan otak pikiran dan hati kita dari berbagai bisikan setan yang akan menanamkan sebagian syubhat bahwa kalau ditetapkan nanti menyerupai makhluk maka berarti penetapan tersebut akan membawa kepada penyerupaan dengan makhluk. Ini adalah bisikan-bisikan setan pada akal manusia. Maka kita katakan bahwa Allah mengatakan dalam Al-Qur’anul Karim:
    لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
    “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah dan Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura'[42]: 11)
    Ini prinsip yang selalu kita ulang-ulang kepada kaum muslimin, sehingga jangan sampai mereka  menghakimi Allah dengan akal pikirannya. Padahal Allah telah menjelaskan tentang diriNya, tidak perlu dengan akal pikiran kita, tapi terimalah dengan akal yang sehat bahwa apa yang Allah sampaikan sesuai sebagaimana yang diinginkan oleh Allah dan itu yang wajib kita imani.
    Sifat Fi’liyah
    Sebelumnya pernah kita jelaskan bahwa sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan hadits ada yang berkaitan dengan Dzat Allah, yaitu sifat yang ada pada Dzat Allah, yang tidak pernah terpisah dari Dzat Allah.
    Ada juga sifat yang dinamakan sifat fi’liyah, yaitu sifat yang berkaitan dengan perbuatan Allah, bila Allah menghendaki maka Dia akan melakukan.
    Lihat: 
    1 hr 26 min
  • Ilmu Lebih Baik Dari Harta
    Ilmu Lebih Baik Dari Harta adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 24 Muharram 1443 H / 02 September 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu Lebih Baik Dari Harta
    Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan:
    العلم خير من المال؛ العلم يحرسك, وأنت تحرس المال
    “Ilmu itu lebih baik dibandingkan harta: karena ilmu akan menjagamu dan kamulah yang menjaga harta.”
    Ini pernyataan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu yang menunjukkan kedudukan dan kemuliaan ilmu. Adapun harta, bahkan dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang shahih:
    إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
    “Sesungguhnya masing-masing umat ada fitnahnya dan fitnah bagi umatku adalah harta.”
    Inilah harta. Kalau orang yang memegangnya tidak punya benteng penjaga, tidak punya iman yang kuat, maka akan bisa menjerumuskan dia kedalam fitnah. Sedangkan ilmu, dia justru yang menjaga kita. Semakin banyak kita pelajari, semakin sering kita kaji, semakin banyak sebab-sebab yang akan menjaga kita dari tergelincir atau menyimpang dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lurus.
    Kata Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala bahwa ilmu akan menjaga dan melindungi pemiliknya dari tempat-tempat kehancuran dan jurang-jurang kebinasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ilmu agama dengan segala keberkahan dan kebaikannya bukan hanya menumbuhkan iman, bukan hanya untuk menjadikan hati tenang ketika kita mengkaji ilmu, membaca Al-Qur’an dan merenungkan isinya, tapi lebih dari itu sebagai penjaga dan sebab untuk senantiasa menuntun kita agar selalu menempuh jalan Allah yang lurus sampai di akhir hayat.
    Seorang manusia, bagaimanapun dia tidak akan menjerumuskan dirinya dalam kebinasaan selama akalnya masih ada bersama dirinya. Artinya kalau dia paham bahwa sesuatu akan membinasakan dirinya, maka dia tidak akan melakukan atau menjerumuskan dirinya kedalam sesuatu itu. Terjadinya orang terjerumus dalam kebinasaan adalah karena dia tidak tahu bahwa itu bisa mencelakakan dirinya.
    Kejahilan bisa membunuh seseorang. Mending kalau hanya tubuhnya yang dibunuh, bagaimana kalau aqidahnya yang dibunuh, bagaimana kalau imannya yang dibinasakan akibat perbuatan yang tidak diketahuinya tersebut? Na’udzubillahi min dzalik.
    Kalau dia tidak punya ilmu tentangnya, maka orang ini perumpamaannya seperti orang yang mengkonsumsi makanan beracun. Adapun orang yang mengetahui tentang racun dan bahayanya bagi tubuh, maka ilmunya akan menghalangi dia untuk tidak memakannya. Dia tahu itu beracun meskipun kelihatannya menggiurkan. Sedangkan orang yang tidak tahu akan makan, maka dengan sebab ini kejahilan membinasakan dirinya. Ini adalah permisalan tentang penjagaan ilmu terhadap pemiliknya.
    Subhanallah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan ilmu benar-benar disamping memiliki kekuatan untuk mengarahkan kepada kebaikan, ternyata juga menjaga kita dari keburukan. Bahkan ilmu menjaga mereka dalam kebaikan yang paling besar dalam Islam, yaitu ikhlas. Penyimpangan niat adalah kebinasaan paling besar. Imam Ad-Daruquthni pernah mengatakan:
    طلبنا العلم لغير الله فأبى أن يكون إلا لله
    “Kami dahulu menuntut ilmu bukan karena Allah, tapi ilmu tidak mau kecuali membawa kami kepada keikhlasan karena Allah.”
    Ilmu menuntun dan menjaga dari penyimpangan niat...
    56 min
  • Hak Waris Untuk Ibu
    Hak Waris Untuk Ibu merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. dalam pembahasan Kitab Zadul Mustaqni. Kajian ini disampaikan pada Kamis, 24 Muharram 1443 H / 02 September 2021 M.
    Download kajian sebelumnya: Pembagian Warisan Untuk Kakek dan Saudara-Saudari

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Hak Waris Untuk Ibu
    Ibu di sini adalah yang melahirkan yang wafat. Karena sebagian orang mengatakan kalimat “ibu” itu untuk istrinya juga dia panggil ibu. Maka yang dimaksud di sini bukan istri, tetapi perempuan yang melahirkan (orang yang meninggal) inilah yang dinamakan ibu.
    Hak waris ibu adalah seperenam
    Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِن كَانَ لَهُ وَلَدٌ
    “Bila yang wafat mempunyai anak atau anak dari anak laki-laki (cucu dari jalur laki-laki) atau dua orang dari saudara atau saudari dari yang meninggal, maka ibu mendapat seperenam.” (QS. An-Nisa[4]: 11)
    Contoh 1
    Misalnya seorang wafat, ahli warisnya adalah ibu dan satu anak laki-laki. Maka dalam kasus seperti ini ibu mendapat seperenam dan anak laki-laki mendapat sisa. Sehingga ibu mendapat 1/6 dan anak mendapat 5/6 bagian.
    Contoh 2
    Misalnya seseorang wafat, ahli warisnya ibu, satu anak perempuan, satu orang paman (saudara dari yang meninggal). Di sini ibu mendapat 1/6, anak perempuan mendapat 3/6, paman mengambil sisa (yaitu 2/6).
    Hak waris ibu adalah sepertiga
    Dan ibu mendapatkan sepertiga dari harta waris bila tidak ada anak dari yang meninggal atau anak dari anak laki-laki (cucu dari jalur laki-laki) yang meninggal atau tidak ada dua orang saudara.
    Contoh 3
    Seorang wafat, ahli warisnya adalah ibu dan satu orang saudara laki-laki. Di sini satu orang saudara, bukan dua orang saudara. Kalau dua orang saudara, maka bagian ibu menjadi seperenam. Tapi kalau satu orang saudara, bagian ibu tetap mendapatkan sepertiga.
    Kasus Umariyatain
    Pada kasus ini ‘Umar yang pertama menentukan atau memutuskan hukum dalam kasus ini. Yaitu ibu mendapatkan sepertiga dari sisa harta atau yang dinamakan tsulutsul baqi.
    Untuk lebih jelasnya silahkan melihat penjelasan melalui video di YouTube berikut ini:

    Download mp3 Kajian
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Hak Waris Untuk Ibu” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    1 hr 7 min
  • Mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Dengan Ilmu
    Mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Dengan Ilmu adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 23 Muharram 1443 H / 1 September 2021 M.
    Kajian Tentang Mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Dengan Ilmu
    Dari ‘Ubadah bin Shamit, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَن شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، وأنَّ محمّدًا عبده ورسوله، وأنَّ عيسى عبدالله ورسوله، وكلمته ألقاها إلى مريم، وروح منه، والجنّة حقّ، والنّار حقّ؛ أدخله اللهُ الجنَّة على ما كان من العمل
    “Barangsiapa yang bersyahadat “Laa Ilaaha Illallah Wahdahulaa Syarikalah,” dan bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hambaNya dan RasulNya, dan bersyahadat bahwa ‘Isa hambaNya dan RasulNya, dan kalimat Allah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Maryam, dan bahwasanya Nabi ‘Isa adalah ruh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bersyahadat bahwa surga benar dan neraka benar, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkannya ke dalam surga atas apa yang telah dia amalkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    ‘Ubadah bin Shamit
    Beliau adalah Abu Al-Walid ‘Ubadah bin Shamit bin Qais Al-Anshari Al-Khazraji. Beliau salah satu pemimpin dari kaum Anshar, mengikuti perang Badar dan sahabat yang masyhur. Beliau meninggal tahun 34 H dalam usia 72 tahun, ada yang berkata bahwa beliau hidup dizaman kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘Anhu.
    Syahadat Laa Ilaaha Illallah
    Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam “Siapa yang bersyahadat Laa Ilaaha Illallah” yaitu, seseorang yang berbicara dengan syahadat tersebut (dengan didasari) memahami maknanya dan mengamalkan konsekuensi-konsekuensinya (baik lahir maupun batin).
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ…
    “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan dosa orang-orang beriman laki-laki dan perempuan…” (QS. Muhammad[47]: 19)
    Jadi sebelum mengucapkan Laa Ilaaha Illallah harus memahami/mengilmui makna dari Laa Ilaaha Illallah. Baru setelah itu ucapkan Laa Ilaaha Illallah. Adapun istighfar dalam ayat ini adalah gambaran mengamalkan konsekuensi Laa Ilaaha Illallah.
    Lihat juga: Syarat-Syarat Laa Ilaaha Illallah
    Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
    “Dan orang-orang yang berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memiliki syafaat kecuali yang bersyahadat dengan kebenaran dan dalam keadaan mereka menyadarinya.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 86)
    Ini menunjukkan bahwasanya orang yang bersyahadat harus dengan ilmu. Adapun sedekar mengucapkan tanpa memahami maknanya, tidak yakin terhadap ucapan tersebut, tidak beramal dengan apa yang menjadi konsekuensi dari ucapan Laa Ilaaha Illallah (yaitu berlepas diri dari kesyirikan, mengikhlaskan ucapan dan amal ibadah, baik itu ucapan lisan, hati atau amal perbuatan), maka syahadatnya ini tidak bermanfaat.
    Jika seorang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah seribu kali, tapi kemudian meminta kepada orang yang mati, maka Laa Ilaaha Illallah yang dia ucapkan tidak bermanfaat. Hal ini karena dia tidak mengamalkan konsekuensi dari syahadat Laa Ilaaha Illallah.
    1 hr 36 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah