Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Mengucapkan Tauhid Ikhlas Dari Hati
    Mengucapkan Tauhid Ikhlas Dari Hati adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 15 Shafar 1443 H / 22 September 2021 M.
    Kajian Tentang Mengucapkan Tauhid Ikhlas Dari Hati
    Dan keduanya meriwayatkan dari hadits Itban Radhiyallahu ‘Anhu: 
    فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
    “Maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan atas neraka siapa saja yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah mencari dengannya wajah Allah.”
    Yang dimaksud perkataan “keduanya meriwayatkan” adalah bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di dalam Kitab Shahih mereka berdua dengan lafadz dan riwayat yang panjang. Dan ini adalah bagian potongan dari hadits yang panjang tersebut.
    Itban bin Malik bin Amr bin Al-Ijlan Al-Anshari, dari Bani Salim bin Auf. Beliau adalah sahabat Nabi yang masyhur, dan wafat pada kekhalifafhan Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘Anhuma.
    Inti dari hadits ini adalah bahwa orang yang bertauhid dan mengucapkan tauhid tersebut dari hatinya secara ikhlas, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan atasnya neraka.
    Pelajaran dari hadits ini juga bahwa apabila kita mendapatkan kabar baik, maka dianjurkan untuk mengabarkannya kepada kaum muslimin. Hal ini sebagaimana Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau asalnya ingin mengabarkan kabar baik tersebut, bahwa orang yang bertauhid dan ikhlas ketika mengucapkan kalimat tauhid, maka diharamkan atasnya neraka bagaimanapun dosanya. Tetapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang. Salah satu sebab larangannya adalah agar manusia tidak bersandar dengan hal tersebut. Sehingga akhirnya mereka tetap berlomba-lomba dalam kebaikan.
    Imam Bukhari menyebutkan menyebutkan dengan sanad yang lain. Telah meriwayatkan kepada kami Mu’tamir, dia berkata, aku telah mendengar bapakku, bapakku berkata, aku telah mendengar Anas bin Malik, beliau berkata, disebutkan untukku bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قَالَ أَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ لَا إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَّكِلُوا
    “Siapa saja yang menemui Allah dalam keadaan tidak mensyirikkan dengan sesuatu apapun, niscaya dia masuk ke dalam surga.” Muadz bin Jabal berkata: “Apakah tidak aku beritakan kabar gembira kepada orang-orang?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Tidak, sesungguhnya aku khawatir mereka akan bersandar.” (HR. Bukhari)
    Maksudnya bersandar yaitu bersandar dengan keutamaan ini akhirnya malas untuk beramal dan meremehkan maksiat.
    Maka jelaslah dengan redaksi hadits ini makna syahadat Laa Ilaaha Illallah. Bahwasanya orang yang bersyahadat Laa Ilaaha Illallah wajib meninggalkan kesyirikan.
    Hakikat tauhid adalah tertariknya ruh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala secara global. Maka siapa yang bersyahadat Laa Ilaaha Illallah secara ikhlas dari hatinya, pasti masuk surga. Karena keikhlasan adalah tertarik dan condongnya hati kepada Allah. Yaitu dengan cara dia bertaubat dari dosa-dosa. Jika dia mati dalam keadaan demikian,
    1 hr 47 min
  • Memelihara Bacaan dan Hafalan Al-Qur’an
    Memelihara Bacaan dan Hafalan Al-Qur’an adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 14 Shafar 1443 H / 21 September 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Allah Mengangkat Derajat dengan Al-Qur’an
    Ceramah Agama Islam Tentang Memelihara Bacaan dan Hafalan Al-Qur’an
    Kita telah sampai pada bab yang membahas perintah untuk senantiasa memperhatikan Al-Qur’anul Karim dan peringatan tentang hal-hal yang menjadikan seseorang lupa kepada Al-Qur’anul karim.
    Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata:
    عن أَبي موسى – رضي الله عنه – عن النبي – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «تعاهدوا هَذَا القُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أشَدُّ تَفَلُّتاً مِنَ الإبلِ فِي عُقُلِهَا» . متفقٌ عَلَيْهِِ
    Dari Abu Musa Radhiyallahu ‘Anhu beliau berkata, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda: “Hendaknya kalian selalu bersama Al-Qur’an, maka demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, bahwa Al-Qur’an ini lebih cepat pergi daripada seekor unta yang diikat dengan ikatannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar seseorang senantiasa menjaga Al-Qur’an. Misalnya seseorang pandai membaca dan menghafalnya, maka jangan sampai dia meninggalkan membacanya. Hendaknya selalu dan senantiasa menjaga Al-Qur’an. Hal ini karena jika hafalan yang ada pada seseorang ditinggalkan dalam waktu tertentu, maka Al-Qur’an itu lebih cepat untuk hilang dari dadanya.
    ‘Utsman bin Affan Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu berkata:
    لو طهرت قلوبنا لما شبعت من كلام الله
    “Seandainya hati kita bersih (dari penyakit-penyakit hati), maka tentu dia tidak akan pernah kenyang dengan Al-Qur’anul Karim.”
    Hal ini karena memang makanan hati kita adalah wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka tiada hari tanpa Al-Qur’an.
    Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata:
    وعن ابن عمر رضي الله عنهما: أنَّ رسول الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: … «إنَّمَا مَثَلُ صَاحبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ الإِبِلِ المُعَقَّلَةِ، إنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أمْسَكَهَا، وَإنْ أطْلَقَهَا ذَهَبَتْ» . متفقٌ عَلَيْهِِ.
    Dari Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma beliau berkata, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan seorang yang menghafal Al-Qur’an ibarat seekor unta yang diikat kakinya. Kalau dia senantiasa memperhatikan ikatannya, maka ikatan itu akan tetap terpalihara. Tetapi kalau ikatan itu dilepas, maka unta itu akan lari.”(Muttafaqun ‘alaihi)
    Demikianlah Al-Qur’an, kita harus senantiasa memperhatikan, mengulangi dan mencermati hafalan itu agar dia tidak hilang. Maka sudah seyogyanya seseorang yang menghafal Al-Qur’an untuk membagi waktunya sehingga setiap hari dia memuroja’ah Al-Qur’an.
    Al-Qur’an sudah diberikan kemudahan kepada kita untuk membaca dan menghafalnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
    “Sungguh telah Kami berikan kemudahan bagi Al-Qur’an untuk dihafal/dibaca, maka apakah ada orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar[54]: 22)
    Bagaimana pembahasan lengkapnya?
    1 hr 12 min
  • Talbis Iblis Terhadap Para Ahli Qira’at dan Qari’
    Talbis Iblis Terhadap Para Ahli Qira’at dan Qari’ adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 13 Safar 1443 H / 20 September 2021 M.

    Kajian Islam Tentang Talbis Iblis Terhadap Para Ahli Qira’at dan Qari’
    Tentunya di antara makar dan tipu daya iblis adalah mengalihkan manusia dari perkara yang lebih penting kepada yang tidak penting. Di antara kelalaian yang tidak bisa diterima oleh akal adalah menyia-nyiakan usia dengan melakukan satu perbuatan padahal ada perkara lain yang jauh lebih penting. Tentunya kita harus mengetahui skala prioritas dari amal-amal yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan atas kita.
    Di antara manusia ada yang menghabiskan umurnya untuk satu perkara yang kurang penting dan melalaikan perkara-perkara yang jauh lebih penting. Misalnya seseorang sibuk dalam perkara-perkara yang mustahabbat lalu dia melalaikan perkara-perkara wajibbat.
    Misalnya orang-orang yang mengabaikan tadabbur Quran lalu menghabiskan waktu untuk memperbagus bacaan. Dia mengabaikan perkara yang jauh lebih penting dan sibuk dengan perkara yang kurang penting. Padahal mendalami/mentadabburinya adalah inti dari interaksi dengan Al-Qur’an. Karena tujuan Al-Qur’an diturunkan adalah untuk diamalkan. Dengan tadabbur kita bisa memahami, dan dengan pemahaman yang benar kita bisa mengamalkannya dengan benar.
    Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, namun manusia menjadikan bacaannya sebagai amalan.” Maksudnya adalah mereka hanya membaca tanpa mengamalkan kandungan Al-Qur’an. Ini merupakan salah satu bentuk talbis yang dilakukan oleh iblis kepada manusia.
    Contoh lainnya adalah seseorang membaca qira’at-qira’at yang tidak masyhur/asing lalu menjauhi qira’at yang mutawatir dan masyhur. Dia menampilkan bacaan-bacaan yang tidak umum dan meninggalkan bacaan-bacaan yang sudah mutawatir. Tujuannya adalah untuk menampakan sesuatu yang aneh dan unik. Sehingga mendulang simpati dan sanjungan dari manusia. Supaya dikatakan dia adalah orang yang mendalami Al-Qur’an dan ahli qira’at.
    Ada di antara mereka yang menggabungkan ayat-ayat sajdah dan dibaca secara khusus. Tentunya itu tidak mengikuti tertib Al-Qur’an. Mereka melakukan itu tujuannya adalah untuk mengejar sujudnya tanpa mengindahkan kaidah-kaidah bacaan yang benar.
    Bagaimana penjelasan talbis iblis terhadap manusia dalam berbagai disiplin ilmu? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Talbis Iblis Terhadap Para Ahli Qira’at dan Qari’
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Talbis Iblis Terhadap Para Ahli Qira’at dan Qari'” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    49 min
  • Ditiupnya Sangkakala Kedua
    Ditiupnya Sangkakala Kedua merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Al-Qiyamah Ash-Shughra yang disampaikan oleh Ustadz Ali Nur, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 6 Safar 1443 H / 13 September 2021 M.

    Kajian Tentang Ditiupnya Sangkakala Kedua
    Yang dimaksud dengan بالبعث (hari berbangkit) yaitu bangkitnya jasad-jasad manusia dan dihidupkannya kembali para hamba di hari kiamat. Adapun النشور maknanya mirip dengan البعث.
    Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menghidupkan kembali hamba-hambaNya yang sudah mati, maka Allah memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniupkan sangkakala (yang kedua). Ketika itu ruh manusia kembali ke jasad-jasad mereka. Maka manusia pun bangkit untuk menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ
    “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian ditiup sangkakala untuk yang kedua kalinya, dan manusia bangkit dan menunggu (persidangan/perintah). ” (QS. Az-Zumar[39]: 69)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    إِن كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُونَ
    “Ketika dengan satu teriakan, maka semua mereka hadir di hadapan Kami.” (QS. Yasin[36]: 53)
    Turun hujan
    Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits bahwasanya sebelum ditiupkannya sangkakala yang kedua ada turun air dari langit. Dari situlah maka tumbuhlah jasad-jasad manusia.
    Bagaimana penjelasan tentang ditiupnya sangkakala? Mari download mp3 kajian yang sangat bermanfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Ditiupnya Sangkakala Kedua – Al-Qiyamah Ash-Shughra
    Mari turut membagikan link download kajian ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    1 hr 7 min
  • Shalat Ashar Diawal Waktu
    Shalat Ashar Diawal Waktu ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 13 Safar 1443 H / 20 September 2021 M.

    Download kajian sebelumnya: Waktu-Waktu Shalat
    Kajian Tentang Shalat Ashar Diawal Waktu
    Shalat ashar afdhalnya dilakukan diawal waktu. Dan ini sebenarnya hukum yang umum pada semua waktu shalat. Adapun tentang shalat ashar ada hadits khusus yang menjelaskan masalah ini. Di antaranya hadits Anas bin Malik Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, beliau pernah mengatakan:
    كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ حَيَّةٌ فَيَذْهَبُ الذَّاهِبُ إِلَى الْعَوَالِي فَيَأْتِيهِمْ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ
    “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa shalat ashar dalam keadaan matahari ketika masih tinggi (terang). Setelah shalat ashar selesai ada seseorang yang pergi ke daerah ‘Awali dan kembali lagi sedangkan matahari masih tinggi.” (HR. Bukhari)
    Ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat ashar di awal waktu. Kalau tidak diawal waktu, maka seharusnya waktunya tidak cukup untuk pergi ke ‘Awali kemudian kembali lagi dalam keadaan matahari masih tinggi.
    Juga hadits dari Rafi’ bin Khadij Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, beliau mengatakan:
    كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْعَصْرِ ثُمَّ نَنْحَرُ الْجَزُورَ فَتُقْسَمُ عَشَرَ قَسْمٍ ثُمَّ تُطْبَخُ فَنَأْكُلُ لَحْمًا نَضِيجًا قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ
    “Dahulu kami pernah shalat ashar bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, selesai shalat ashar kami menyembelih unta dan membaginya menjadi 10 bagian. Setelah itu kami pun memasaknya dan memakan dagingnya dalam keadaan segar sebelum matahari terbenam.” (HR. Ahmad)
    Ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika itu shalat asharnya diawal waktu. Kalau tidak diawal waktu harusnya tidak cukup waktunya untuk menyembelih unta, membaginya hingga 10 bagian, memasaknya, dan memakannya sebelum matahari terbenam.
    Waktu mendung
    Melakukan shalat ashar diawal waktu ini menjadi sangat ditekankan ketika cuaca mendung. Hal ini karena kita tidak bisa melihat menguning/memerahnya matahari. Padahal kita tidak boleh mengakhirkan waktu hingga menguningnya matahari tanpa udzur.
    Pernah suatu ketika Buraidah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu bersama sekelompok orang dan ketika itu cuacanya mendung. Maka beliau mengatakan:
    بَكِّرُوا بصَلَاةِ العَصْرِ؛ فإنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قَالَ: مَن تَرَكَ صَلَاةَ العَصْرِ فقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
    “Lakukanlah shalat ashar diwaktu awalnya, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda: ‘Barangsiapa yang meninggalkan shalat ashar maka amal-amalnya menjadi terhapuskan.'” (HR. Bukhari dan An-Nasa’i)
    Ini menunjukkan bahwa ketika cuaca mendung, kita dianjurkan dengan anjuran yang sangat kuat untuk melakukan shalat ashar diawal waktunya.
    Shalat paling mulia
    Shalat ashar adalah shalat yang paling mulia di antara shalat lima waktu. Di antara yang menunjukkan hal ini adalah hadits dari sahabat Buraidah tadi:
    مَن تَرَكَ صَلَاةَ العَصْرِ فقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
    “Barangsiapa yang meninggalkan shalat ashar maka amal-amalnya menjadi terhapuskan.”
    Dan tidak ada hadits seperti ini untuk shalat yang lainnya.
    1 hr 12 min
  • Khutbah Jumat: Banyak Mengingat Allah
    Khutbah Jumat: Banyak Mengingat Allah ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 10 Safar 1443 H / 17 September 2021 M.

    Khutbah Pertama – Banyak Mengingat Allah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-hambaNya agar senantiasa mengingat diriNya. Allah berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ‎﴿٤١﴾‏ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ‎﴿٤٢﴾‏ هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ…
    “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (ingatlah) Allah dengan dzikir yang banyak. Dan bertasbihlah kepadaNya diwaktu pagi dan petang. Dialah Allah yang bershalawat atas kalian dan demikian para malaikatNya agar Allah mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya (yang terang benderang)…” (QS. Al-Ahzab[33]: 41-43)
    Allah memerintahkan kita untuk banyak berdzikir (mengingat) Allah. Dan Allah menyebutkan bahwasanya Allah bershalawat kepada mereka yang banyak berdzikir kepada Allah, demikian pula para malaikatNya. Dan bahwasanya dengan dzikir itu Allah akan keluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.
    Jangan menjadi orang yang lalai
    Allah melarang kita untuk menjadi orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Allah berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 205:
    وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ
    “Ingatlah Rabbmu pada dirimu dengan penuh tadharru’ dan rasa takut, dan suara yang tidak dikeraskan, di waktu pagi dan petang, dan jangan sekali-kali kamu menjadi orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf[7]: 205)
    Allah mengancam bahwasanya orang yang berpaling dari berdzikir kepada Allah, Allah akan jadikan setan lah sebagai temannya yang akan menemaninya. Allah berfirman:
    وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
    “Siapa yang berpaling dari mengingat Ar-Rahman, Kami akan jadikan setan yang akan selalu menemani dia.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 36)
    Karena seseorang ketika tidak mengingat Allah, ketika seseorang lepas dari dzikir kepada Allah, maka setan pun masuk ke hati kita. Ibnu Abbas berkata:
    الشَّيْطانُ جاثِمٌ عَلى قَلْبِ ابْنِ آدَمَ فَإنْ سَها وغَفَلَ وسَوْسَ وإذا ذَكَرَ اللَّهَ خَنَسَ
    “Setan itu selalu memperhatikan hati anak Adam. Apabila ia lalai maka setan pun memberikan was-was di hatinya. Kalau ia mengingat Allah, setan pun bersembunyi ketakutan.”
    Allah pun menjanjikan pahala besar bagi mereka yang senantiasa mengingat Allah.
    وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
    “Laki-laki yang banyak berdzikir dan wanita yang banyak berdzikir, Allah persiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab[33]: 35)
    Sungguh subhanallah.. orang yang banyak berdzikir ternyata Allah telah sediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
    Bahaya berpaling dari mengingat Allah
    Orang yang senantiasa berpaling dari mengingat Allah, Allah jadikan ia lupa kepada maslahat dirinya sendiri. Allah berfirman:
    وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
    “Jangan kalian menjadi orang-orang yang melupakan Allah dan Allah pun jadikan dia lupa kepada dirinya sendiri, mereka itu orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr[59]: 19)
    Apabila kita berpaling dari berdzikir kepada Allah, tidak mau mengingat Allah, tidak mau mendengarkan ayat-ayat Allah,
    17 min
  • Hadits-Hadits Yang Menjelaskan Sifat Istiwa’
    Hadits-Hadits Yang Menjelaskan Sifat Istiwa’ ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Tentang Nama-Nama Allah dan Sifat-SifatNya. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 10 Safar 1443 H / 17 September 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Ayat-Ayat Yang Menjelaskan Tentang Sifat Istiwa’

    Kajian Tentang Hadits-Hadits Yang Menjelaskan Sifat Istiwa’
    Pembahasan tentang sifat istiwa’ menjadi perkara yang diperselisihkan dan ditakwilkan oleh Ahlul kalam. Sementara kita mengetahui dan memahami bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan sifat tersebut di dalam 7 ayat dalam Al-Qur’anul Karim. Begitu juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga telah menjelaskan hal itu. Akan tetapi muncul sekte dari Ahlul kalam mengingkari sifat tersebut kemudian mentakwilnya dengan berbagai alasan yang tidak bisa diterima oleh akal yang sehat, disertai dengan berbagai syubhat yang berlandaskan logika semata.
    Kita perlu juga menyampaikan sebagian hadits yang disabdakan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ini didengar dan diimani oleh para sahabat.
    Hadits tentang Sifat Istiwa’
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Abu Hurairah sembari memegang tangan beliau, kemudian menyampaikan kepada Abu Hurairah:
    يَا أَبَا هُرَيرَةَ، إِنَّ اللهَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ وَمَا بَينَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ استَوَى عَلَى العَرشِ
    “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy.” (HR. An-Nasa’i, hasan)
    Hadits ini memperkuat dan mempertegas makna yang terdapat dalam ayat-ayat yang kita bacakan bahwa setelah Allah menciptakan langit dan bumi selama enam hari kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih (sesuai dengan keagungan, kebesaran dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala) untuk istiwa’ di atas ‘Arsy.
    Dalam hadits Qatadah bin Nu’man Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لَمَّا فَرَغَ اللهُ مِنْ خَلْقِهِ اسْتَوَى عَلَى عَرْشِهِ
    “Setelah Allah selesai menciptakan makhlukNya, kemudian Allah istiwa’ di atas ‘ArsyNya.” (HR. Al-Khallal)
    Perkataan ulama tentang istiwa’
    Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa makna istiwa’ yang dipahami oleh ulama salaf ada empat, yaitu:

    * العلو
    * الارتفاع
    * الاستقرار
    * السعود

    Keempat makna yang dinukilkan dari ulama salaf tentang istiwa’ ini menunjukkan kepada ketinggian sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu yang demikian itu sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan karena Allah butuh kepada ‘Arsy, akan tetapi ‘Arsy (bahkan semua malaikat pemikul ‘Arsy) membutuhkan pertolongan Allah.
    Diwaktu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hidup, beliau membacakan ayat Al-Qur’an kepada para sahabatnya, menyampaikan lafadz Al-Qur’an dan juga maknanya secara bersamaan. Bahkan tujuan lafadz Al-Qur’an disampaikan adalah untuk dipahami maknanya.
    Para sahabat mendengar ayat tersebut. Subhanallah, karena fitrah mereka yang masih lurus, hati mereka yang masih bersih, pikiran yang masih jernih, mereka yang selalu mengimani apa yang datang dari Allah dan RasulNya dan tidak mengha...
    1 hr 24 min
  • Perbandingan Ilmu dan Harta Bag 2
    Perbandingan Ilmu dan Harta Bag 2 adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 9 Safar 1443 / 16 September 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Perbandingan Ilmu dan Harta

    Ceramah Agama Islam Tentang Perbandingan Ilmu dan Harta Bag 2
    Segi-segi kemuliaan ilmu dibandingkan harta.

    * Mencintai dan menuntut ilmu adalah asal dari semua ketaatan. Sedangkan mencintai dunia dan harta serta berambisi mengejarnya adalah asal dari semua keburukan.
    * Nilai dari orang yang kaya adalah hartanya, sedangkan nilai dari orang yang berilmu adalah ilmunya. Maka orang yang kaya ini dihargai karena hartanya. Sehingga ketika hartanya hilang maka hilanglah nilainya, setelah itu dia dianggap orang yang tidak berharga sama sekali. Sedangkan nilai kehormatan orang yang berilmu tidak pernah hilang. Hal ini karena ilmu semakin diajarkan semakin bertambah dan berkah.
    * Nilai harta adalah dari jenis badan manusia. Hal ini karena harta perhiasan bagi tubuh. Sedangkan keberadaan ilmu adalah jenis kebutuhan ruh manusia dan menghiasi jiwa manusia. Kita tahu bahwa seindah apapun fisik manusia, kalau jiwanya telah hilang maka dia berubah menjadi bangkai (bukan manusia).
    * Kalau ditawarkan kepada orang yang berilmu untuk ditukar ilmunya dengan dunia, maka dia tidak akan ridha dengan dunia itu. Sedangkan orang kaya yang berakal, ketika dia melihat kemuliaan ilmu dan bagaimana kemuliaan yang dicapai oleh orang yang berilmu dengan ilmunya, maka dia akan menginginkan agar ilmu itu menggantikan semua harta yang ada pada dirinya.
    * Kekayaan dengan harta sering menjadi sebab kebinasaan bagi pemiliknya. Hal ini karena banyak yang berambisi memiliki harta. Adapun kekayaan dengan ilmu, ini merupakan sebab kehidupannya dan kehidupan orang lain.
    * Tidak ada seorang pun yang mengamalkan ketaatan kepada Allah kecuali dengan ilmu. Sedangkan kebanyakan orang yang berbuat maksiat kepada Allah (hanyalah terjadi maksiat tersebut) dengan hartanya.
    * Orang yang berilmu akan mengajak manusia ke jalan Allah dengan ilmu dan keadaannya. Sedangkan orang yang mengumpulkan harta menyeru manusia kepada dunia dengan harta dan keadaannya. Karena orang-orang yang mengumpulkan dunia adalah orang-orang yang sibuk menghiasi dirinya dengan fasilitas dunia, tentu ini menjadi pengajak bagi orang lain untuk mencontoh dirinya.
    * Kenikmatan yang didapatkan dengan kekayaan harta hanya dua kemungkinan; bukan kelezatan yang nyata (khayalan) atau kelezatan seperti yang dirasakan oleh hewan.  Adapun kelezatan ilmu adalah kelezatan akal dan ruh (jiwa) manusia. Ini adalah kelezatan sesungguhnya yang akan bisa menjadikan jiwa tenang dan hati damai. Kelezatan ini menyerupai kelezatan yang dirasakan oleh para malaikat.
    * Semua manusia sepakat untuk mencela dan menganggap buruk sikap rakus dalam mengumpulkan dan berambisi untuk mendapatkan harta. Sementara semua orang-orang yang berakal di setiap umat bersepakat untuk mengagungkan orang yang berambisi untuk menuntut dan mendapatkan ilmu agama.

    Bagaimana penjelasan selanjutnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..
    Download MP3 Kajian

    50 min
  • Mendepatkan Setengah Bagian Harta Dari Ahli Waris
    Mendepatkan Setengah Bagian Harta Dari Ahli Waris merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. dalam pembahasan Kitab Zadul Mustaqni. Kajian ini disampaikan pada Kamis, 9 Safar 1443 / 16 September 2021 M.
    Download kajian sebelumnya: Hak Waris Untuk Nenek

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Mendepatkan Setengah Bagian Harta Dari Ahli Waris
    Anak perempuan sendirian
    Setengah adalah bagian seorang anak perempuan dengan syarat dia sendirian. Seorang wafat tidak punya anak kecuali satu orang anak perempuan dan tidak ada anak laki-laki, maka dia mendapatkan setengah.
    Misalnya Ahmad wafat, ahli warisnya satu anak perempuan, istri dan paman. Maka istri 1/8, anak 1/2, sedangkan paman mandapatkan sisa. Maka perbandingannya istri mendapat 1, anak mendapat 4, sedangkan paman mendapatkan 3 bagian.
    Anak perempuan dari anak laki-laki
    Kemudian yang mendapatkan setengah juga adalah anak perempuan dari anak laki-laki (cucu dari yang meninggal dari jalur anak laki-lakinya). Syaratnya adalah tidak ada fara’ waris diatasnya (tidak ada anak perempuan dan laki-laki), kemudian dia satu orang. Kalau ada tentu dia tidak mendapatkan waris.
    Misalnya Ahmad wafat, ahli warisnya istri, satu anak perempuan, satu anak laki-laki yang sudah wafat sebelum Ahmad, dimana anak laki-laki ini mempunyai anak perempuan. Maka cucu perempuan dalam kasus ini tidak mendapatkan setengah, karena yang setengah diambil oleh anak perempuan.
    Dalam kasus yang lain misalnya Ahmad wafat, ahli warisnya istri dan cucu perempuan. Maka cucu perempuan ini mendapatkan 1/2 dan istri mendapat 1/8.
    Saudari seayah seibu yang ia satu orang
    Syaratnya adalah tidak ada anak perempuan, tidak ada anak laki-laki, tidak ada cucu perempuan dari anak laki-laki, bapak dan kakek dari yang meninggal juga sudah meninggal. Maka saudari seayah seibu yang dia satu orang mendapatkan setengah.
    Ini semunaya berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla di dalam surah An-Nisa’ ayat 11 dan 176, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنثَيَيْنِ ۚ فَإِن كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِن كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ…
    “Allah mensyari’atkan bagimu tentang anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta.”
    Pada ayat ini Allah wasiatkan dalam pembagian warisnya. Kalau ahli warisnya ada anak laki dan perempuan, maka anak laki-laki mendapatkan dua bagian dan anak perempuan satu bagian. Bila mereka semuanya anak perempuan (tidak ada anak laki-laki) dan jumlah mereka lebih dari dua, maka mereka mendapatkan 2/3. Dan jika dia satu orang, maka untuknya adalah setengah.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Mendepatkan Setengah Bagian Harta Dari Ahli Waris
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link
    1 hr 10 min
  • Hadits Arbain Ke 34 – Aturan dalam Merubah Kemungkaran
    Hadits Arbain Ke 34 – Aturan dalam Merubah Kemungkaran merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 7 Safar 1443 H / 4 September 2021 M.

    Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain 33 – Tuntunan Ketika Bersengketa
    Kajian Hadits Arbain Ke 34 – Aturan dalam Merubah Kemungkaran
    عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
    Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaknya dia mengubahnya dengan lisannya. Dan jika tidak bisa, hendaklah dia mengubahnya dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.'” (HR. Muslim)
    Hadits ini menjelaskan aturan nahi munkar, yaitu bagaimana kita merubah kemungkaran yang dia lihat. Ini adalah hadits yang sangat penting karena amar ma’ruf nahi munkar adalah salah satu pokok dalam agama kita. Islam akan tegak selagi masih ada amar ma’ruf nahi munkar, Islam ini akan melemah jika amar ma’ruf nahi munkar tidak ada lagi atau melemah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwasanya ciri umat ini adalah menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan itu adalah syarat bagi mereka untuk bisa menjadi umat terbaik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ…
    “Kalian adalah umat terbaik yang pernah dikeluarkan untuk manusia, kalian mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran…” (QS. Ali-Imran[3]: 110)
    Juga dalam berbagai hadits shahih, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendorong kita untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Misalnya dalam salah satu hadits Arbain ke-25:
    أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ
    “Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan untuk kalian pintu-pintu sedekah yang lain?” Kemudian beliau menajbarkan:
    إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ
    “Sesungguhnya pada setiap tasbih satu kali itu terhitung sedekah, setiap takbir satu kali itu sedekah, setiap tahmid satu kali itu sedekah, setiap tahlil satu kali itu sedekah, mengajak orang kepada kebaikan itu sedekah dan melarang orang dari kemungkaran itu juga sedekah. Bahkan pada kemaluan seorang di antara kalian ada sedekahnya.”
    Jadi amar ma’ruf nahi munkar adalah sebuah amal shalih dalam Islam. Islam mendorong kita untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dalam keluarga, dalam lingkungan, dan dalam masyarakat yang kita tinggali. Tapi Islam juga menjelaskan tentang tata caranya.
    Merubah kemungkaran yang diketahui
    Kita dalam keseharian tentunya melihat kemungkaran-kemungkaran. Seorang muslim dituntut untuk mengubah kemungkaran itu.
    1 hr 16 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah