Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Balasan Pada Hari Kiamat
    Balasan Pada Hari Kiamat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 26 Dzuhijjah 1442 H / 5 Agustus 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Balasan Pada Hari Kiamat
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيهِ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
    “Maka bagaimana jika Kami mengumpulkan mereka pada hari kiamat yang tidak ada keraguan tentang terjadinya. Dan setiap jiwa akan disempurnakan balasannya sesuai dengan apa yang dia lakukan dan mereka tidak didzalimi sama sekali.” (QS. Ali-Imran[3]: 25)
    Ayat ini menjelaskan tentang beberapa hal:
    Pertama, dalil tentang keagungan dari hari kiamat. Dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka bagaimana apabila Kami kumpulkan mereka pada hari kiamat yang tidak ada keraguannya tentang hari tersebut. Dan setiap jiwa pasti akan disempurnakan balasannya sesuai dari apa yang diamalkannya”.
    Kedua, pada ayat ini terdapat ratapan musibah untuk mereka yang tidak memiliki kecuali kerugian di hari tersebut. Dimana mereka rugi agama dan dunia mereka. Mereka akan menangis dihari tersebut.
    Ketiga, penetapan tentang adanya hari kiamat. Hari yang tidak ada keraguan di dalamnya.
    Keempat, orang yang ingkar terhadap hari akhir atau ragu tentangnya, maka dia kafir. Karena dia telah mendustakan firman Allah yang menyatakan bahwa hari tersebut tidak ada keraguan sama sekali.
    Kelima, bahwa hari dimana semua akan dibalas dengan sempurna itu adalah hari kiamat. Hal ini dengan dasar firman Allah Ta’ala:  “Dan setiap jiwa akan dibalas dengan sempurna sesuai apa yang telah dia usahakan”.
    Manusia terkadang diberi sedikit balasan dari apa yang dia lakukan di dunia. Hal ini sebagaimana firman Allah:
    …وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ‎﴿٢﴾‏ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ…
    “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari kesempitannya dan Allah akan berikan dia rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq[65]: 2-3)
    Jadi ada jalan keluar dari kesempitan, luasnya rezeki, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka di dunia. Ini merupakan balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan di sana ada balasan lain yang lebih besar dan lebih manfaat, yaitu petunjuk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
    “Dan orang-orang yang mendapatkan hidayah (petunjuk), Allah Subhanahu wa Ta’ala tambahkan hidayahNya untuk mereka. Dan Allah anugrahkan ketakwaan untuk mereka.” (QS. Muhammad[47]: 17)
    Petunjuk dan amal shalih itu lebih utama dari harta. Karena hidayah itu jika Allah menambahkannya kepada seseorang, maka menjadi lapanglah dadanya, hatinya bersinar dan dia menjadi tenang. Kemudian ketakwaan menjadi sesuatu yang sangat mudah padanya dari segala sesuatu, dan amal-amal shalih menjadi kebahagiaan dirinya. Oleh karena hal tersebut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    جُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
    “Dijadikan indah pandangan mataku dalam shalat.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)
    Orang yang beriman itu semua amal shalihnya menjadi penyejuk jiwanya, indah pada pandangan matanya. Hal ini karena dalam setiap amal shalihnya dia merasakan dua hal yang sangat besar, yaitu:

    45 min
  • Allah Mengangkat Derajat dengan Al-Qur’an
    Allah Mengangkat Derajat dengan Al-Qur’an adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 07 Shafar 1443 H / 14 September 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Motivasi Membaca Al-Qur’an
    Ceramah Agama Islam Tentang Allah Mengangkat Derajat dengan Al-Qur’an
    Telah kita bahas pada pertemuan yang lalu hadits ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, yang mana beliau mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إن اللهَ يَرفعُ بهذا الكِتابِ أقْواماً ويَضَعُ به آخَرِينَ
    “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab Al-Qur’an ini beberapa kaum dan juga dengan kitab Al-Qur’an ini Allah merendahkan yang lainnya.” (HR. Muslim)
    Ini menunjukkan bahwa salah satu penyebab kemuliaan yang dimiliki oleh seseorang adalah karena dia membaca, menghafal dan mengajarkan Al-Qur’an. Sehingga Allah mengangkat derajatnya dan memuliakannya. Sebaliknya ada sebagian orang yang karena tidak beriman kepada Al-Qur’an atau jauh dari Al-Qur’anul Karim dan tuntunannya, maka Allah rendahkan dengan perbuatan tersebut.
    Kita sepatutnya bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Alhamdulillah beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tinggal bagaimana meningkatkan membaca Al-Qur’an, menghafalnya atau memahami kandungan dan maknanya, kemudian setelah itu kita berupaya untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena Islam ini tidak hanya teori, tidak sekedar memaparkan dalil-dalil, tidak sekedar mengeluarkan argumentasi dalam bentuk tulisan atau pembicaraan. Tetapi Islam adalah praktek, yaitu ilmu yang diamalkan, itulah Islam yang sempurna. Itulah yang tentu diharapkan untuk menjadi seorang muslim yang hakiki, yaitu mempunyai ilmu dan mengamalkan ilmunya, kemudian diajarkan juga kepada manusia.
    Hasad Yang Terpuji
    Dari Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau bersabda:
    لا حَسَدَ إِلا في اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ القُرْآنَ، فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاء اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً، فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ
    “Tidak boleh hasad dan dengki kecuali pada dua perkara; (1) seorang yang Allah anugerahkan kepadanya Al-Qur’anul Karim, lalu dia senantiasa membaca dan menghafalnya pada siang dan malam hari, (2) seorang yang Allah anugerahkan kepadanya rezeki berupa harta lalu kemudian dia senantiasa menginfakkan bagian dari hartanya dimalam hari dan disiang hari.” (Muttafaq ‘alaihi)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang kecemburuan terhadap satu kebaikan yang dilakukan oleh seseorang. Seorang cemburu dan bertanya “Kok dia bisa melakukan hal tersebut? Kok dia bisa mengerjakannya? Sedangkan kenapa aku tidak?” Adapun hasad tercela yaitu hasad yang ada pada diri seseorang dan dia merasa benci terhadap nikmat yang Allah berikan kepada seorang hamba.
    Oleh karena itu hati-hati, mari kita introspeksi diri dengan melihat dan memeriksa hati, apakah ada hasad atau tidak? Kalau ada, maka berupayalah untuk menghilangkannya, mohon kepada Allah supaya Allah hilangkan rasa hasad dan dengki terhadap saudara kita. Segera kita upayakan untuk menghilangkannya, jangan dibiarkan. Yakinlah kepada Allah Ta’ala bahwa Allah yang memberikan nikmat-nikmat itu kepada hamba-hambaNya sesuai dengan ap...
    1 hr 11 min
  • Interaksi Anak-Anak dengan Internet
    Interaksi Anak-Anak dengan Internet merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 07 Shafar 1443 H / 14 September 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Peran Media Dalam Mendidik Anak
    Kajian Islam Ilmiah Tentang Interaksi Anak-Anak dengan Internet
    Kalau kita umpamakan, internet itu bagaikan pisau bermata dua. Jika kita menilik manfaatnya, tentunya sangat banyak. Bahkan internet hari ini bisa dikatakan sebagai tulang punggung mata pencaharian sebagian orang. Dan juga di sana banyak kita temukan orang-orang yang mendapatkan hidayah dan mengenal Islam melalui internet. Lebih dari itu kita tahu bahwa ini adalah sarana komunikasi yang murah dan cepat.
    Namun dibalik itu kita juga mengakui bahwa kerusakannya tidak sedikit, pengaruh buruknya sangat banyak. Jika tidak hati-hati mengguna, media ini justru akan menyeret kita pada kerusakan yang tiada tara. Sehingga dapat kita katakan sangat jarang orang yang masuk ke dunia maya bisa keluar tanpa membawa dosa. Hanya orang-orang yang Allah selamatkan dari keburukan internet ini hingga selamat dari keburukan internet tersebut. Bahkan hampir tidak ada orang yang menggunakannya murni untuk kebaikan.
    Tanpa kita sadari -karena mudahnya kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan siapapun (bahkan orang yang tidak kita kenal)- ini bisa menjadi satu alat untuk melakukan suatu tindak kejahatan.
    Sisi lain yang tidak kalah rusaknya adalah ideologi-ideologi yang merusak, aqidah-aqidah menyimpang yang ini semua juga ditawarkan di dunia maya. Sehingga banyak orang-orang tertular ideologi yang sesat melalui dunia maya.
    Oleh karena itu orang tua juga perlu tahu apa kegiatan anak di dunia maya. Ketika orang tua memberikan pengawasan dan bimbingan bahwa anak merasa tidak dibiarkan, bahwa dia dalam pantauan, tentunya dia akan berhati-hati. Apalagi anak-anak yang belum matang akalnya, rasa ingin tahunya besar, dan dia belum mengerti secara penuh bagaimana menggunakan alat itu. Bahkan kalau disiasati, sebenarnya anak tidak perlu memegang gadget. Mereka bisa belajar online melalui PC (personal computer) atau laptop. Sehingga mereka tidak pegang langsung benda yang sulit untuk diawasi.
    Keteladanan orang tua
    Pengaruh internet ini sungguh luar biasa. Dan boleh dikatakan masalah orang tua dengan anak hari ini adalah masalah interaksi mereka dengan internet. Maka orang tua juga harus melihat kepada diri sendiri, bahwa mereka juga tidak bisa lepas dari itu.
    Jika orang tua berbicara kepada anak agar meninggalkan benda itu, maka ini agak susah. Hal ini karena mereka lihat orang tua mereka memegang alat ini. Sehingga keteladanan akan susah untuk mereka dapatkan. Karena mereka mendapati suatu hal yang berkebalikan dengan apa yang dikatakan oleh orang tua.
    Maka ketika kita katakan kepada anak-anak “Jangan pegang gadget”, itu menjadi satu kata-kata yang hambar. Hal ini karena mereka tidak melihat keteladanan. Kecuali orang tua memang bisa lepas dari alat itu dan mereka menunjukkan kepada anak-anak bahwa Ayah dan Bunda tidak pegang alat itu.
    Dalam hal ini orang tua tidak bisa mengatakan “Saya ada kepentingan dan mereka tidak ada kepentingan”. Tentu anak-anak tidak tahu kepentingan kita dan mereka merasa juga penting memegang benda itu.
    Bagaimanan penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    52 min
  • Tipu Muslihat Kelompok Bathiniyah
    Tipu Muslihat Kelompok Bathiniyah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 28 Muharram 1443 H / 6 September 2021 M.

    Kajian Islam Tentang Tipu Muslihat Kelompok Bathiniyah
    Kaum Bathiniyah memiliki tipu muslihat yang sangat berbahaya dalam mengajak manusia kepada kesesatan. Mereka membedakan antara orang yang mudah diajak mengikuti ajaran (orang awam) dan orang yang sulit untuk diajak, yaitu kaum terpelajar. Setiap kali mendapatkan peluang untuk mengajak seseorang, maka mereka akan melihat tabiatnya terlebih dulu, siapa yang mereka hadapi. Apabila tabir orang itu condong kepada sikap zuhud, maka mereka segera mengajaknya berbuat amanah, jujur dan meninggalkan syahwat. Akan tetapi apabila orang tadi mengumbar hawa nafsu, maka mereka menegaskan bahwa ibadah merupakan suatu kebodohan, sikap wara’ adalah kedunguan, dan seorang dikatakan cerdas kalau dia mau menggapai kesenangan dunia.
    Inti ajaran Bathiniyah ini adalah sesuatu yang berkebalikan dengan ajaran Islam. Tentunya untuk menarik kaum muslimin ke dalam kelompok ini ataupun dalam pemikiran mereka, maka mereka akan lihat siapa yang menjadi target/korban. Sehingga mereka bisa laris menjajakan kesesatan ataupun pemikiran-pemikiran mereka, walaupun jelas-jelas itu bertolak belakang dengan Islam.
    Orang-orang yang mengikuti ajaran ini bukan hanya dari kalangan awam. Tapi juga dari kalangan terpelajar, bahkan yang memiliki gelar dan tingkat intelektual yang tinggi. Mereka terpengaruh dengan ajaran yang bertolak belakang dengan ajaran Islam.
    Kisah Ibnu Rawandi
    Ibnu Rawandi sangat dekat dengan pengikut Rafidhah dan Atheis. Setiap diperingatkan maka dia berkilah: “Aku ingin mengetahui ajaran-ajaran mereka saja.” Ini asal mula mengapa Ibnu Rawandi akhirnya terpengaruh dan menjadi seorang Bathiniyah. Maka para ulama dahulu melarang kita duduk di majelis ahli bid’ah atau mendengarkan perkataan mereka.
    Al-Imam Adz-Dzahabi menukil dari Sufyan Ats-Tsauri, bahwa dahulu para ulama senantiasa berpesan kepada murid-murid mereka, dan ini adalah pesan kepada generasi yang akan datang.
    يرون أن القلوب ضعيفة، والشبه خطافة
    “Mereka memandang bahwa hati itu lemah sedangkan syubhat itu sangat cepat sambarannya.”
    Artinya bahwa mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Karena apabila syubhat itu sudah masuk ke dalam hati, maka susah untuk dikeluarkan. Dia akan tetap bersemayam di dalam hati itu. Dan tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Maka kita mendengar riwayat-riwayat dari para Salaf yang itu bukanlah sikap berlebihan sebenarnya. Tapi itu adalah satu pilihan. Dimana kita memilih selamat dan itu yang dipilih oleh para ulama terdahulu. Mereka tidak merasa aman dengan hati mereka yang berbolak-balik. Seperti Ayyub As-Sikhtiyani kedua telinga beliau ketika ada seorang Mu’tazilah yang ingin membacakan satu ayat. Beliau berkata: “Tidak, walaupun setengah ayat.”
    Ada orang yang berkata: “Wahai Imam, apa salahnya dia membacakan satu ayat atau satu hadits?” Maka Ayyub As-Sikhtiyani menjawab: “Aku khawatir dia membacakan ayat itu lalu dia selewengkan maknanya, lalu masuk itu kedalam hatiku.” Beliau adalah seorang ahli ilmu, namun demikian beliau juga tidak merasa aman terhadap hati beliau. Lalu mengapa kita hari ini yang bukan apa-apa merasa aman mendengarkan perkataan setiap orang, mendengarkan syubhat-syubhat, seolah-olah itu tidak akan berpengaruh kepada hati kita?
    1 hr 2 min
  • Khutbah Jumat: Bahasa Arab Adalah Syiar Islam
    Bahasa Arab Adalah Syiar Islam ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 2 Safar 1443 H / 10 September 2021 M.

    Khutbah Pertama – Bahasa Arab Adalah Syiar Islam
    Di antara yang termasuk ketakwaan adalah mengagungkan syiar-syiar Allah. Allah Ta’ala berfirman:
    وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
    “Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya ia termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj[22]: 32)
    Syiar Allah adalah merupakan syi’ar Islam yang harus kita tampakkan, kita agungkan dan wajib setiap muslim untuk menghormatinya. Di antara syiar Islam yaitu bahasa Arab. Sesungguhnya ia adalah merupakan syi’ar Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:
    إن اللسان العربي شعار الإسلام وأهله
    “Sesungguhnya bahasa arab adalah syi’ar Islam dan umat Islam.” (Iqtidha shirat al mustaqim)
    Ia adalah bahasa Al-Qur’an dan hadits. Allah berfirman:
    إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
    “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an yang berbahasa Arab...” (QS. Yusuf[12]: 2)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
    “Itulah Al-Qur’an yang berbahasa Arab, yang tidak ada padanya kebengkokan…” (QS. Az-Zumar[39]: 28)
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun berbicara bahasa Arab, hadits-hadits Rasulullah berbahasa Arab, demikian pula kitab-kitab para ulama semuanya berbahasa Arab. Maka dari itulah para ulama mengatakan bahwasanya mempelajari bahasa Arab adalah kewajiban setiap muslim.
    Ini dia Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah, beliau berkata:
    على كل مسلم أن يتعلم من لسان العرب ما بلغه جهده في أداء فرضه كما عليه أن يتعلم الصلاة والأذكار
    “Wajib atas setiap muslim mempelajari bahasa Arab sesuai kemampuannya dalam melaksanakan kewajiban sebagaimana wajibnya ia mempelajari shalat dan dzikir dzikirnya.” (Al-Hawi 16/120)
    Ini dia ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, khalifah yang kedua dari Khulafaur Rasyidin, beliau berkata:
    تعلموا العربية وعلموها الناس
    “Pelajari oleh kalian bahasa Arab dan ajarkan kepada manusia.”
    Al-Mawardi mengatakan:
    معرفة لسان العرب فرض على كل مسلم من مجتهد وغير مجتهد
    “Mempelajari bahasa Arab itu wajib atas setiap muslim baik ia mujtahid atau bukan mujtahid. (Al Hawi 16/120)
    Maka seseorang yang mencintai bahasa Arab karena ia mengetahui bahwasanya Al-Qur’an bahasa Arab, hadits bahasa Arab, maka ia termasuk kecintaan yang berasal dari keimanan. Mengagungkan bahasa Arab termasuk syiar Islam dan mengagungkan syiar-syiar Allah ‘Azza wa Jalla.
    Maka kewajiban setiap kita berusaha semaksimal mungkin bagaimana kita bisa mempelajari bahasa Arab. Kalau Antum saja masyaAllah semangat belajar bahasa Inggris dan yang lainnya, kenapa kita tidak semangat untuk belajar bahasa Arab?
    Yang musibah adalah orang yang mengatakan bahwasanya menyebarkan bahasa Arab adalah salah satu ciri teroris. Ini adalah ucapan yang diucapkan oleh orang-orang yang menginginkan agar umat Islam tidak paham Al-Qur’an dan hadits. Karena memahami Al-Qur’an adalah kewajiban setiap muslim. Tidak mungkin kita bisa memahami Al-Qur’an dan hadits bila tidak memahami bahasa Arab dengan benar, saudaraku sekalian.
    Masuknya berbagai macam pemikiran yang sesat ke dalam Islam, di antaranya adalah akibat kebodohan terhadap bahasa Arab. Sehingga akhirnya banyak penyimpangan-penyimpangan pemikiran, pemahaman yang nyeleneh, ini akibat tidak faham bahasa Arab.
    12 min
  • Orang Yang Terperdaya Dengan Amal Perbuatan Mereka
    Orang Yang Terperdaya Dengan Amal Perbuatan Mereka adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 19 Dzuhijjah 1442 H / 29 Juli 2021 M.
    Ceramah Agama Islam Tentang Orang Yang Terperdaya Dengan Amal Perbuatan Mereka
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ ۖ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِم مَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ
    “Yang demikian itu karena mereka berkata: ‘Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari saja’. Mereka terpedaya dalam agama mereka oleh karena apa yang mereka buat-buat.” (QS. Ali-Imran[3]: 24)
    Ayat ini menjelaskan tentang beberapa hal:
    Pertama, batilnya angan-angan. Terkadang jiwa memberikan angan-angan kepada seseorang dengan sesuatu yang tidak benar. Mereka berkata: “Kita tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan hanya beberapa hari saja.”
    Orang-orang yang diberi Al-Kitab kemudian tidak mau berpegang teguh dengannya. Mereka percaya diri dan merasa dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetapi perbuatan mereka jauh dari apa yang diinginkan oleh Allah, mereka tidak mau berhukum dengan Al-Kitab
    Kedua, ini merupakan peringatan bagi seseorang jangan sampai seseorang menyandarkan diri kepada  angan-angan. Karena hal itu merupakan perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Banyak orang yang terjatuh dalam perbuatan maksiat tetapi mereka memberikan angan-angan kepada diri mereka bahwa nanti akan mendapatkan ampunan dari Allah walaupun terjatuh dalam maksiat. Tentu ini adalah angan-angan yang keliru.
    Betul bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, tapi jangan lupa bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ‎﴿٤٩﴾‏ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ ‎﴿٥٠﴾‏
    “Sampaikanlah kepada hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku ini Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan sesungguhnya azabKu adalah azab yang pedih.” (QS. Al-Hijr[15]: 49-50)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk memberikan kabar kepada hamba-hambaNya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pengampun dan Maha Penyayang, tapi jangan lupa bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala juga punya azab yang sangat pedih.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
    “Ketahuilah bahwa Allah itu sangat keras siksaanNya dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah[5]: 98)
    Ketiga, mereka itu beriman tentang adanya hari kebangkitan, akan tetapi iman mereka tidak bermanfaat sama sekali. Hal ini dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Mereka berkata:’Kita tidak akan disentuh oleh api neraka melainkan beberapa hari saja.’”
    Ini menunjukkan bahwa mereka beriman tentang adanya hari kebangkitan, tetapi keimanan mereka tidak bermanfaat sama sekali. Maka dalam hal keimanan seseorang tidak cukup hanya beriman tentang adanya Allah dan hari akhir semata jika tanpa disertai adanya penerimaan dan ketundukan.
    Apabila sekedar membenarkan, maka ini bukan keimanan. Bukankah Abu Thalib dahulu berikrar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu benar? Bahkan dia berkata: “Mereka telah mengetahui bahwa putra kami tidak didustakan oleh kami dan tidak berkata dengan perkataan yang batil....
    45 min
  • Perbandingan Ilmu dan Harta
    Perbandingan Ilmu dan Harta adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 1 Safar 1443 / 9 September 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Perbandingan Ilmu dan Harta
    Kita masih melanjutkan pembahasan atsar yang sangat panjang dari sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu. Beliau berkata:
    والمال تَنقصه النفقةُ
    “Harta akan berkurang ketika diinfakkan.”
    Adapun ilmu jika semakin diambil oleh orang lain (diajarkan), maka semakin tumbuh dan berkembang (semakin banyak). Ucapan beliau ini tidak bertentangan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
    “Sedekah itu tidak mengurangi harta.” (HR. Muslim)
    Dua hal ini tidak bertentangan. Karena harta kalau kita infakkan, maka nominalnya pasti berkurang. Tapi pada hakikatnya tidak berkurang karena Allah Subhanahu wa Ta’ala gantikan dengan balasan yang lebih baik di akhirat nanti.
    Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu melanjutkan:
    وأما العلم فكالقبس من النار لو اقتبس منها أهل الأرض لم يذهب منها شيء بل يزيد العلم بالاقتباس منه
    “Adapun ilmu seperti bara api (arang), kalau semua orang mengambilnya maka tidak ada yang berkurang sedikitpun karena akan terbakar lagi yang lain. Bahkan ilmu  semakin bertambah dengan semakin diambil (disebarkan).”
    فهو كالعين التي كلما اخذ منها قوى ينبوعها وجاش معينها
    “Maka ilmu ini perumpamaannya seperti mata air yang semakin diambil airnya maka semakin kuat memancarnya dan semakin besar tersebarnya air tersebut.”
    Subhanallah ini keutamaan dan kemuliaan ilmu. Bukan hanya sewaktu kita menuntutnya, bukan hanya sewaktu kita berusaha mempelajarinya, tapi sewaktu kita menyebarkannya pun sudah menjadi sumber pahala bahkan sedekah yang terus mengalir pahalanya, disamping itu juga ternyata ilmu akan menjadi sebab keberkahan. Hal ini karena semakin kita sebarkan maka semakin memudahkan kita untuk memahami agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Perbandingan ilmu dan harta
    Kebanyakan orang kalau untuk urusan mencari rezeki maka mereka habiskan waktu siang dan malam. Tapi kalau untuk menuntut ilmu hanya diberi waktu luang saja, itupun kalau ada waktu. Padahal tidak tahu bahwa harta -bahkan semua kehidupan manusia- kalau tidak dengan penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebab penjagaan ilmu, maka manusia tidak akan selamat dari fitnah dunia (harta, kedudukan dan kegiatan sehari-hari yang berpotensi melalaikan manusia).
    Segi-segi keutamaan ilmu dibandingkan harta:

    * Ilmu agama warisan para Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam, sedangkan harta adalah warisan para raja dan orang-orang kaya. Barangsiapa mengambil bagian dari warisan ilmu ini berarti dia mengambil bagian yang sangat banyak.
    * Ilmu akan menjaga pemiliknya sedangkan pemilik harta dia harus berpayah-payah menjaga hartanya.
    * Ilmu adalah hakim (pemutus keputusan) bagi harta, sedangkan harta tidak bisa memutuskan hukum bagi ilmu.
    * Harta akan berkurang kadarnya dengan diinfakkan, sedangkan ilmu semakin bertambah ketika diajarkan/disebarkan.
    * Pemilik harta yang mati, maka dia terpisah dari hartanya. Sedangkan ilmu akan masuk bersama pemiliknya ke dalam kuburan.
    * Harta akan didapatkan oleh orang beriman atau orang kafir (menunjukkan dia tidak istimewa).
    46 min
  • Hak Waris Untuk Nenek
    Hak Waris Untuk Nenek merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. dalam pembahasan Kitab Zadul Mustaqni. Kajian ini disampaikan pada Kamis, 1 Safar 1443 / 9 September 2021 M
    Download kajian sebelumnya: Hak Waris Untuk Ibu

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Hak Waris Untuk Nenek
    Akan mendapatkan waris seperenam ibu dari ibu (nenek dari jalur ibu), ibu dari bapak, dan ibu dari bapaknya bapak. Nenek yang mendapat warisan hanya tiga ini. Adapun ibunya kakek (dari jalur ibu), maka ini tidak mendapatkan warisan, ini yang dikuatkan dalam madzhab hambali. Namun sebagian para ulama mengatakan tetap dapat karena statusnya nenek.
    Juga sekalipun ke atas dari jalur keibuan tadi. Ibu dari ibu, nenek dari ibu, bahkan bisa jadi nenek dari nenek (jalur ibu). Tentunya dengan syarat mereka masih hidup. Karena syarat ahli waris itu statusnya hidup. Dahulu kaum muslimin biasa menikah di umur yang masih muda (asal sudah haid), sehingga ini mungkin terjadi.
    Contoh Kasus

    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Hak Waris Untuk Nenek
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Hak Waris Untuk Nenek” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    1 hr 13 min
  • Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Hamba dan RasulNya
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Hamba dan RasulNya adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 30 Muharram 1443 H / 8 September 2021 M.
    Kajian Tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Hamba dan RasulNya
    Di dalam hadits disebutkan:
    وَأَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
    “Dan bahwasanya siapa yang bersyahadat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hamba dan RasulNya.”
    Makna اَلْعَبْدُ di sini adalah budaknya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mempunyai gelar yang sangat luar biasa, yaitu Abdullah (hamba Allah) yang benar-benar menghambakan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
    “Bukankah Allah yang mencukupkan hambaNya.” (QS. Az-Zumar[39]: 36)
    Yang dimaksud “HambaNya” dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini merupakan sifat khusus dan gelar mulia yang dimiliki Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena seorang hamba akan mulia ketika dia menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Derajat tertinggi seorang hamba adalah penghambaan yang khusus dan menjadi seorang Rasul. Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling sempurna didalam dua sifat ini. Adapun rububiyah (kekuasaan, penciptaan, pengaturan) dan uluhiyah (seluruh ibadah), maka keduanya adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada yang mensyarikati Allah dalam sedikitpun dari keduanya (rububiyah dan uluhiyah) tersebut, baik itu malaikat yang sangat dekat kedudukannya dengan Allah atau Nabi yang menjadi rasul-rasul Allah.
    Diberikan dua sifat عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ (hamba Allah dan RasulNya) kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah untuk membantah sifat berlebih-lebihan atau meremehkan. Karena kebanyakan dari orang yang mengaku umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka terlalu berlebih-lebihan dengan sikap ghuluw baik dalam ucapan ataupun perbuatan, dan meremehkan dengan meninggalkan pengikutan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan bersandar kepada pendapat-pendapat yang menyelisihi apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan dia berani dalam menafsirkan kabar-kabar dan hukum-hukum yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan memalingkannya dari hal-hal yang ditunjuki olehnya, dan dia berpaling dari mengikuti risalah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Siapa yang bersyahadat bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Rasulullah, ini mengakibatkan untuk beriman kepadanya, dan mempercayai apa yang diberitakan olehnya, dan mentaatinya di dalam apa saja yang diperintahkan, dan menjauhi apa saja yang dilarang dan diperingatkan olehnya, hendaknya dia mengagungkan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan RasulNya, dan tidak mendahulukan atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ucapan siapapun. Tapi realita pada hari ini dan juga sebelumnya dari orang-orang yang menisbatkan kepada ilmu dari para hakim dan ahli fatwa berbeda dengan hal itu. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    1 hr 53 min
  • Hukum Wanita Melepas Pakaian di Selain Rumah Suaminya
    Hukum Wanita Melepas Pakaian di Selain Rumah Suaminya merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah كتاب صحيح الترغيب والترهيب (kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Rabu, 30 Muharram 1443 H / 8 September 2021 M.

    Download kajian sebelumnya: Hukum Mandi di Pemandian Umum
    Kajian Hukum Wanita Melepas Pakaian di Selain Rumah Suaminya
    Hadits ke-170
    Dari Abi Al-Malih Al-Hudzali Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya para wanita dari kola Himsh atau dari penduduk Syam masuk kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, lalu ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata: “Apakah kalian yang wanita-wanitanya biasa masuk ke Al-Hammamat (pemandian air panas)? Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَا مِنْ امْرَأَةٍ تَضَعُ ثِيَابَهَا فِي غَيْرِ بَيْتِ زَوْجِهَا إِلَّا هَتَكَتْ السِّتْرَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ رَبِّهَا
    “Tidak ada seorangpun wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumah suaminya kecuali ia telah membuka tirai antara ia dengan Rabbnya.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim)
    Di sini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengancam bahwa tidak ada seorangpun wanita yang melepas pakaiannya di selain rumah suaminya kecuali dia sudah merusak tirai antara dia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Hadits ke-171
    Imam Ahmad, Abu Ya’la, Ath-Thabrani, dan Al-Hakim meriwayatkan dari jalan Darraj Abu Samah dari As-Saib, bahwa ada beberapa wanita yang masuk kepada Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha, lalu kemudian Ummu Salamah bertanya kepada para wanita itu: “Siapa kalian ini?” Maka para wanita berkata: “Kami dari kota Himsh.” Ummu Salamah berkata: “Apakah dari kota yang wanitanya suka masuk ke pemandian air panas?” Para wanita itu berkata: “Apakah tidak boleh?” Maka Ummu Salamah berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَزَعَتْ ثِيَابَهَا فِي غَيْرِ بَيْتِها خَرَقَ اللهُ عَنْهَا سِتْرَ
    “Wanita mana saja yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan rusak tirainya.”
    Hadits ke-172
    Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلاَ يَدْخُلِ الْحَمَّامَ إِلاَّ بِمِئْزَرٍ
    “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka janganlah laki-laki masuk ke pemandian kecuali dengan memakai sarung.”
    Ini khusus untuk laki-laki, boleh masuk ke pemandian tapi syaratnya dengan memakai sarung. Kalau untuk wanita tidak boleh sama sekali, kecuali -sebagaimana sudah kita sebutkan dari perkataan Imam Nawawi dan Ibnu Qudamah dan para ulama yang lain- wanita yang sangat membutuhkan untuk mandi di sana karena tidak mungkin mandi di rumahnya. Seperti wanita yang selesai haid, atau wanita yang selesai nifas, atau yang sakit dan yang lainnya.
    Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يدخل حليلته الحمام من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يشرب الخمر من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يجلس على مائدة يشرب عليها الخمر من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يخلون بامرأة ليس بينه وبينها محرم
    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan kehidupan akhirat,
    1 hr 3 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah