Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Menjaga Wibawa Pasangan di Hadapan Anak
    Menjaga Wibawa Pasangan di Hadapan Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 14 Shafar 1443 H / 28 September 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Memilihkan Bacaan Anak
    Kajian Islam Ilmiah Tentang Menjaga Wibawa Pasangan di Hadapan Anak
    Mendidik anak adalah tugas pokok kita sebagai orang tua. Hindari mengeluh, karena itu justru memperberat beban kita. Kewajiban ini memang ada pada pundak kita, maka jangan coba-coba berpikir untuk meletakkannya dari pundak kita. Kerjasama antara ayah dan bunda haruslah dibangun serapi mungkin agar hasilnya juga maksimal. Karena tujuannya adalah sama-sama ingin meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga saja Allah berkenan memberikan apa yang kita harapkan, yaitu anak-anak yang shalih dan shalihah berbakti kepada orang tua.
    Satu perkara yang tidak boleh kita lupakan bahwa kita harus memiliki wibawa ditengah-tengah keluarga. Hal ini karena hanya dengan kewibawaan itulah ucapan dan perkataan kita akan diperhatikan dan ditaati oleh anak-anak. Artinya orang tua harus menjaga image di tengah-tengah keluarga, terutama di hadapan anak-anak.
    Maka sudah sepantasnyalah kedua orang tua untuk saling menjaga kewibawaan tersebut. Janganlah seorang ayah menjatuhkan wibawa ibunya di hadapan anak-anak. Demikian pula sebaliknya ibu janganlah menjatuhkan wibawa ayah di hadapan anak-anak.
    Mungkin banyak pasangan melakukan itu demi kepuasan batinnya. Mungkin ada sedikit rasa benci kepada pasangannya, kemudian caranya adalah dengan menjatuhkan wibawanya di hadapan anak-anak. Atau banyak juga pasangan-pasangan yang masih kekanak-kanakan sehingga mencari eksistensi di tengah-tengah manusia dengan cara merendahkan orang lain, walaupun itu adalah pasangan hidupnya sendiri.
    Kalau belum punya anak mungkin pengaruh buruknya sedikit. Tapi kalau mereka telah memiliki anak, apalagi anaknya sudah mengerti, ini bisa menjadi awal bencana. Karena jika sampai wibawa salah seorang ayah dan bunda ini jatuh dimata anak-anak, maka ini adalah awal bencana.
    Maka junjunglah sikap saling menghormati dan kesungguhan dalam menegakkan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala di antara keluarga, terutama di rumah kita. Mengajarkan kepada anak tentang hak-hak orang tua, jelaskan pula dengan baik apa saja hak ayah dan hak ibu, dan terangkanlah bahwa menaati orang tua dalam perkara yang ma’ruf itu termasuk bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Sebagai istri, doronglah anak-anak agar taat kepada ayah, yaitu suami. Begitu pula sebaliknya, sebagai ayah doronglah anak-anak agar memuliakan ibu, yaitu istri kita sendiri. Caranya dengan memberitahu perihal keagungan seorang ibu, janganlah kedua orang tua saling menjatuhkan. Dan yang sering terjadi juga adalah mereka saling berebut perhatian anak.  Tentunya ini tidak baik, dan bahkan banyak pendidikan-pendidikan yang akhirnya gagal karena kedua orang tua justru saling berebut mendapatkan perhatian dari anak-anak mereka.
    Demikian juga sebagai suami, jangan menghina istri di hadapan anak. Apalagi menghukum secara fisik dengan pukulan ataupun nasihat-nasihat secara verbal, walaupun tindakan kita benar. Tapi menjadi tidak benar kalau dilakukan di hadapan anak-anak.
    Menghukum itu bukan artinya kita harus menjatuhkan kehormatan orang yang dihukum. Itu perlu kita perhatikan agar hukuman itu bermanfaat bagi orang yang dihukum. Itu prinsip dalam Islam.
    56 min
  • Talbis Iblis Terhadap Ahlul Hadits
    Talbis Iblis Terhadap Ahlul Hadits adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 20 Safar 1443 H / 27 September 2021 M.

    Kajian Islam Tentang Talbis Iblis Terhadap Ahlul Hadits
    Sebagian orang yang berkecimpung di dalam ilmu hadits hanya menitikberatkan satu sisi, lupa pada sisi yang lain. Bahwa ilmu hadits ada macam; ilmu riwayatan (mengetahui validitas hadits) dan dirayatan (memahami hadits-hadits sebagaimana mestinya). Dua-duanya adalah perkara yang penting. Kadang-kadang iblis menyibukkan kita pada satu sisi dari ilmu hadits ini dan melupakan sisi yang lain.
    Di lain pihak ada orang yang asyik dengan ilmu hadits dirayatan tapi lupa ilmu hadits riwayatan, sehingga mereka kadang-kadang tidak peduli hadits itu maudhu’ atau dhaif. Akibatnya mereka menggunakan sembarang hadits untuk berhujjah dan berdalil. Ini tentunya satu hal yang keliru.
    Salah satu talbis iblis terhadap ahlul hadits adalah di dalam bab jarh dan ta’dil. Ini adalah salah satu cabang yang sangat penting di dalam ilmu hadits. Dan sebenarnya ilmu hadits itu ditegakkan untuk hal ini, yaitu untuk mengetahui keshahihan atau kedhaifan sebuah hadits. Salah satunya bisa diketahui dengan mengetahui kondisi para perawi yang meriwayatkan hadits tersebut. Maka dari itu diperlukan sebuah cabang ilmu yang sangat penting untuk bisa menimbang para perawi tersebut.
    Ilmu al-jarh wa at-ta’dil diketahui dan dipelajari secara khusus di berbagai pelajaran-pelajaran ilmu, terutama ilmu hadits. Ini sangat penting. Akan tetapi iblis atau setan menggunakan talbisnya untuk menyelewengkan ilmu ini dari tujuannya. Tujuannya tentu mulia, yaitu untuk memilah dan memilih mana perawi yang bisa diambil haditsnya dan mana perawi yang tidak bisa diambil haditsnya. Namun setan masuk disela-sela itu menyelewengkan dan membelokkan dari tujuannya.
    Sebagian dari ahlul hadits mencemarkan nama baik sebagian yang lain dengan alasan bahwa ini adalah bagian dari ilmu jarh dan ta’dil, tapi sebenarnya maksudnya adalah untuk membalas dendam karena ada hasad. Lalu menggunakan ilmu ini sebagai cara untuk meluapkan hasad atau dendam.
    Maka antara al-jarh wa at-ta’dil dan ghibah itu hanya dipisahkan dengan tirai yang sangat tipis. Apabila niat kita terbelok sedikit saja dari tujuannya, maka akan jatuh kepada ghibah yang diharamkan. Adapun al-jarh wa at-ta’dil itu sendiri termasuk salah satu dari enam bentuk ghibah yang dibolehkan.
    Tentunya ini harus berhati-hati. Kita tidak boleh merasa aman dan berada di zona aman dari makar-makar setan. Karena dia tidak henti-hentinya membelokkan dari tujuan kita, bahkan ketika kita mengerjakan amal-amal yang utama. Bukan berarti kita shalih, kita berada dijalur yang benar, lalu kita tidak diganggu olehnya.
    Kita tahu bahwa di sana ada setan Khinzib yang memang daerah operasinya di masjid mengganggu orang-orang yang shalat. Jadi jangan kita menganggap bahwa ketika kita berada di jalur yang tepat maka kita tidak diganggu. Bahkan gangguannya lebih hebat. Kadang-kadang kita tertipu dan setan berhasil membelokkan niat kita.
    Bagaimana penjelasan talbis iblis terhadap ahlul hadits? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    42 min
  • Bangkitnya Manusia Setelah Ditiupkan Sangkakala Kedua
    Bangkitnya Manusia Setelah Ditiupkan Sangkakala Kedua merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Al-Qiyamah Ash-Shughra yang disampaikan oleh Ustadz Ali Nur, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 13 Safar 1443 H / 20 September 2021 M.

    Kajian Tentang Bangkitnya Manusia Setelah Ditiupkan Sangkakala Kedua
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan kepada kita bahwa sebelum ditiupkannya sangkakala yang kedua, maka tubuh manusia yang sudah menjadi tanah (kecuali tulang ekor) itu sedikit demi sedikit akan tumbuh bagaikan sebutir bibit. Hingga akhirnya menjadi sosok manusia yang sempurna.
    Setelah sempurna jasadnya, ditiuplah sangkakala yang kedua. Maka seluruh ruh manusia akan kembali ke jasadnya masing-masing. Pada saat itulah yang disebut dengan hari berbangkit.
    Ketika tulang ekor itu dihujani dan dia pun tumbuh hingga akhirnya menjadi manusia yang sempurna, apakah fisik manusia yang tumbuh itu sama dengan yang dulu ada di dunia?
    Allah akan mengembalikan hamba-hamba Allah, tetapi mereka akan diciptakan dengan ciptaan yang berbeda dengan apa yang ada di dunia sebelumnya. Di antaranya mereka tidak akan pernah mati walau diterpa siksaan seperti apapun.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِن كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ
    “…Dan mereka akan didatangi oleh (ancaman) kematian dari seluruh penjuru, dan dia tidak akan pernah mati…” (QS. Ibrahim[14]: 7)
    Seorang manusia yang menjadi penduduk neraka, rasa sakit dari seluruh arah. Bahkan sakitnya tidak hanya di fisiknya, tapi juga ke hati. Namun meski begitu mereka tidak akan mati. Itulah salah satu perbedaan fisik manusia di akhirat dengan di dunia.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajianyang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Bangkitnya Manusia Setelah Ditiupkan Sangkakala Kedua – Al-Qiyamah Ash-Shughra
    Mari turut membagikan link download kajian ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    51 min
  • Manhaj Salaf Membantah Pelaku Yang Menyimpang
    Manhaj Salaf Membantah Pelaku Yang Menyimpang merupakan kajian Islam ilmiah oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan kitab Kun Salafiyyan ‘alal Jaddah. Kajian ini disampaikan pada 18 Shafar 1443 H / 25 September 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Manhaj Salaf Membantah Pelaku Yang Menyimpang
    Menit ke- Tujuan kita mambahas kitab ini adalah untuk memudahkan kita melakukan At-Tashfiyah wa At-Tarbiyah . Yaitu pembersihan dan mendidik diri serta kaum muslimin di atas pemahaman yang telah bersih dan murni tersebut. Inilah sebabnya para ulama Salaf lebih mengutamakan orang yang ketika menjelaskan agama sekaligus membantah penyimpangan-penyimpangan sesuai dengan kebutuhan yang ada di masyarakat.
    Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullahu Ta’ala pernah ditanya: “Seseorang yang beribadah untuk dirinya sendiri, apakah ini lebih kamu sukai daripada orang lain yang dia membahas tentang penyimpangan-penyimpangan bid’ah?” Maka Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullahu Ta’ala mengatakan:
    إذا قام وصلى واعتكف فإنما هو لنفسه، وإذا تكلم في أهل البدع فإنما هو للمسلمين؛ هذا أفضل
    “Kalau dia melaksanakan ibadah shalat, beri’tikaf, maka manfaatnya terbatas pada dirinya sendiri. Tapi kalau dia membantah ahlul bid’ah, maka ini manfaatnya untuk dirinya sendiri dan semua kaum muslimin, maka ini yang lebih utama.”
    Pembahasan agama dengan metode seperti ini kita dengarkan dari para Ustadz kita, alhamdulillah akhirnya kita dapat hidayah, mengetahui kesalahan yang selama ini kita lakukan, kemudian kita berhijrah.
    Masih pernyataan Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullahu Ta’ala yang bertanya kepada beliau tentang perbuatan para ulama ahlul hadits yang mengkritik para rawi hadits. Beliau berkata:
    إذا سكت أنت وسكت أنا؛ فمتى يعرف الجاهل الصحيح من السقيم؟!
    “Kalau engkau diam dan aku juga diam, maka bagaimana orang jahil bisa mengetahui hadits shahih dan lemah…!?”
    Inilah pertimbangan utama.
    Kita ketahui di akhir zaman ini sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam demikian terasing. Bahkan sudah merupakan ketentuan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berlakukan pada agama ini, bahwa semakin jauh zaman maka semakin banyak sunnah yang ditinggalkan, semakin banyak bid’ah yang bermunculan.
    Lalu bagaimana Ahlus Sunnah bisa berpegang teguh dengan sunnah kalau tidak ada yang menjelaskan ini yang benar dan yang salah? Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhuma berkata:
    ما يأتي على الناس عام إلا أحدثوا فيه بدعة، وأماتوا فيه سنة، حتى تحيا البدع وتموت السنن
    “Tidaklah datang kepada manusia suatu tahun kecuali di situ mereka akan mengada-ngadakan satu perbuatan bid’ah dan meninggalkan sunnah. Sampai tumbuh subur kebid’ahan dan berguguran sunnah-sunnah.”
    Lalu mana konsekuensi seseorang yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah kalau dia tidak berusaha menghidupkan sunnah dan memadamkan kebalikan dari sunnah? Bagaimana mungkin kita yang di akhir zaman bisa merasakan nikmatnya melaksanakan sunnah dalam shalat, puasa, apalagi dalam iman dan tauhid kalau seandainya bid’ah yang semakin lama semakin bermunculan tidak dipadamkan dengan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui keberkahan dakwah para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, kemudian para ustadz-ustadz sunnah kita?
    Bahkan keadaan yang lebih memprihatinkan lagi adalah apa yang digambarkan oleh sahabat yang mulia Hudzaifah Ibnul ...
    58 min
  • Bertambah dan Berkurangnya Iman
    Bertambah dan Berkurangnya Iman adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 14 Dzulhijjah 1442 H / 24 Juli 2021 M.
    Iman adalah pokoknya agama
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa masalah iman adalah pokoknya agama. Iman adalah masalah yang paling penting dari semua masalah. Di antara alasannya adalah:

    * Iman merupakan sebesar-besar kewajiban yang diwajibakan oleh Allah dalam hidup ini.
    * Iman merupakan hak Allah yang wajib atas hambaNya. Seorang hamba wajib mengimani Allah dan wajib melaksanakan dari iman itu, yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjauhkan segala macam perbuatan syirik.
    * Lafadz iman berulang kali disebutkan dalam Al-Qur’an dan dalam hadits-hadits Nabi yang shahih. Lebih banyak dari penyebutan semua lafadz.
    * Imam merupakan pokok atau prinsipnya agama.
    * Orang yang mewujudkan iman (dengan keyakinan, perkataan, dan perbuatan) maka dia akan mendapatkan kesuksesan, kemenangan, dan kedudukan di muka bumi ini. Barangsiapa yang merusak atau menyia-nyiakannya, maka dia akan mendapatkan kerugian yang nyata.
    * Dengan iman ini dikeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya.
    * Dengan iman ini akan dipisahkan antara orang-orang yang bahagia dengan orang-orang yang celaka. Dan juga dipisahkan siapa orang-orang yang harus kita mencintai/loyal kepada dia dan juga orang-orang yang kita harus memusuhinya.

    Sebab bertambahnya iman
    Belajar ilmu yang bermanfaat
    Imam Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah berkata bahwa ilmu yang bermanfaat yaitu mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah, memahami makna-maknanya, dan diikat yang demikian itu dengan pemahaman para sahabat dan tabi’in dan tabi’ut tabi’in dalam memahami Al-Qur’an dan hadits, dan juga dari apa yang datang dari mereka berkaitan dengan pembicaraan masalah yang halal dan haram, tentang zuhud, tentang kelembutan hati, tentang ilmu, dan selain daripada itu, dan bersungguh-sungguh juga untuk membedakan antara yang shahih dan yang dhaif, kemudian bersungguh-sungguh untuk mengetahui makna-maknanya dan memahaminya, yang demikian cukup bagi orang yang berakal.
    Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i, yang memfaedahkan mengetahui yang wajib atas seorang yang sudah baligh dari urusan agama ini dan juga dalam bermuamalah. Dan dia juga wajib mengetahui tentang nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan juga wajib mengetahui apa yang wajib dilaksanakan dari perintah Allah. Kemudian dia wajib mensucikan Allah dari berbagai macam kekurangan. Yang demikian berputar pada tafsir, hadits dan fikih.
    Dan para Nabi tidak mewariskan Dinar dan Dirham, tapi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia mendapatkan bagian yang banyak. Maka penuntut ilmu yang semakin menuntut ilmu, memahami dan mengamalkannya, maka akan bertambah imannya.
    Menit ke- Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu menjelaskan dalam doanya:
    اللهم زدنا إيمانًا ويقينًا وفقهًا
    “Ya Allah, tambahkanlah kami iman, keyakinan, dan juga pemahaman.”
    Membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya
    Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dengan kalimat “barokah”:
    وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
    “Dan Al-Quran itu adalah kitab yang diturunkan yang diberkahi oleh Allah,
    0 min
  • Khutbah Jumat: Allah Menciptakan Manusia Untuk Diuji
    Khutbah Jumat: Allah Menciptakan Manusia Untuk Diuji ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 17 Safar 1443 H / 24 September 2021 M.
    Khutbah Pertama Tentang Allah Menciptakan Manusia Untuk Diuji
    Jama’ah yang dimuliakan Allah, salah satu tujuan Allah Subhanahu wa Ta’ala menghadirkan kita di muka bumi ini, menciptakan kita dari tiada menjadi ada, dari sesuatu yang bukan apa-apa menjadi seorang manusia yang sempurna, adalah untuk diuji.
    Merupakan hak Allah menguji manusia. Seorang insan tidak boleh berkata “mengapa Allah menguji saya?” karena itu hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kewajiban manusia adalah menjalani ujian. Terserah mau ikut ujian atau tidak, itu kewajiban kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surah Al-Insan ayat 2:
    إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
    “Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur (mani laki-laki dan perempuan) untuk mengujinya, karena itulah Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan[76]: 2)
    Allah berikan kita alat ilmu (yaitu mendengar dan melihat) supaya kita bisa menjalani kewajiban kita untuk diuji.
    Jadi hak Allah untuk menguji kita semua dan kewajiban kita semua untuk menjalani ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, apapun ujian itu. Kita tidak bisa memilih: “Ya Allah ujilah aku dengan begini dan begini saja.” Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menentukannya.
    Dua jenis ujian
    Ujian-ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala itu ada dua macam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
    “Sesungguhnya setiap jiwa pasti merasakan mati; dan Kami uji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya[21]: 35)
    Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa ujian dari Allah cuma dua bentuknya, yaitu keburukan dan kebaikan. Dan dua-duanya adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita diuji dengan dua hal itu.
    Para mufassirin menyebutkan, yaitu kadang kita diuji dengan sakit dan kadang kita diuji dengan sehat, kadang kita diuji dengan kemiskinan dan kadang juga kita diuji dengan kekayaan. Kadang kita diuji dengan kesempitan dan kadang-kadang juga kita diuji dengan kelapangan. Dan dua-duanya adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Mungkin banyak orang yang mengira bahwa ujian Allah itu adalah ketika dia diberi kesempitan, kesulitan, sakit, miskin, barulah meluncur dari lisan seorang insan “Aku sedang diuji Allah.” Misalnya ada orang yang jatuh sakit, saudaranya mungkin menanyakan kepadanya keadaannya. Maka diapun berkata “Fulan, aku sedang diuji Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
    Namun adakah ketika Allah angkat penyakit itu dan Allah beri dia sehat, ketika dia ditanya oleh saudaranya tentang keadaannya, adakah dia mengatakan: “Fulan, aku sedang diuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kesehatan.”
    Orang tidak mengira itu adalah sebuah ujian. Padahal sakit maupun sehat kita dua-duanya adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan banyak manusia yang gagal justru ketika diuji dengan kebaikan. Maka tingkatannya Allah sebutkan:
    بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ
    Pertama Allah sebutkan “keburukan” baru kemudian “kebaikan”.
    20 min
  • Para Sahabat Tidak Ada Yang Mentakwil Istawa’ dengan Istaula
    Para Sahabat Tidak Ada Yang Mentakwil Istawa’ dengan Istaula ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Tentang Nama-Nama Allah dan Sifat-SifatNya. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 17 Safar 1443 H / 24 September 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Hadits-Hadits Yang Menjelaskan Sifat Istiwa’

    Kajian Tentang Para Sahabat Tidak Ada Yang Mentakwil Istawa’ dengan Istaula
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan Al-Qur’anul Karim kepada para sahabat, baik secara lafalnya atau maknanya. Bahkan tujuan ayat-ayat Al-Qur’an disampaikan adalah untuk dipahami maknanya dan diketahui maksudnya. Maka Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyampaikan kedua hal itu, sehingga banyak para sahabat yang menghafal Al-Qur’an dan memahami maknanya.
    Oleh karena itu Abu Abdirrahman As-Sulami (salah seorang tabi’in) menjelaskan bahwa para sahabat yang mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka seperti ‘Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhum,
    إذا تعلموا من النبي صلى الله عليه وسلم عشر آيات لم يجاوزوها حتى يتعلموا ما فيها من العلم والعمل
    Bahwa mereka belajar dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sepuluh-sepuluh ayat dan tidaklah mereka berpindah dari sepuluh ayat ke ayat selanjutnya kecuali bila mereka telah memahami isi kandungannya berupa ilmu dan pengamalannya.
    Jadi para sahabat memahami makna dari Al-Qur’an dan pasti (tanpa diragukan) mereka membaca ayat yang berkaitan dengan sifat istiwa’ tersebut. Yang menjadi pertanyaan, adakah dari salah seorang mereka (sahabat, tabi’in) bahwa istawa’ itu bukanlah hakiki tapi majazi, bahwa Allah tidak istiwa’ di atas ‘Arsy? Demi Allah sama sekali tidak ditemukan hal itu. Bahkan kata Imam Ibnul Qayyim, semua sahabat dan tabi’in sepakat bahwa Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala  di atas ‘Arsy, Maha Tinggi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagi orang-orang Jahmiyah yang mengingkari sifat-sifat Allah dan mentakwilnya, silakan datangkan satu nukilan dari para sahabat dan tabi’in yang mengingkari sifat tersebut.
    Oleh karena itu Imam Ibnul Qayyim ketika menyebutkan syubhat Jahmiyah yang mengatakan makna istiwa’ adalah istaula (berkuasa) bukan tinggi, bukan di atas, maka Ibnul Qayyim menjelaskan kebatilan pentakwilan tersebut memiliki lebih dari 41 sisi pendalilan. Di poin terakhir Imam Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para tabi’in dan imam-imam Ahlus Sunnah, mereka sepakat dengan makna dari istiwa’ adalah bahwa Dzat Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhlukNya sesuai dengan kebesaran dan keagunganNya. Tidak seorangpun dari mereka yang mengatakan bahwa makna istiwa’ adalah istaula.
    Dzat Allah Maha Tinggi, dan Allah tidak butuh kepada ‘Arsy. Bahkan ‘Arsy tidak runtuh karena ada malaikat yang memikulnya, dan semua itu dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Tidak mungkin ada dari kalangan para sahabat begitu membaca ayat tentang istawa’ kemudian mereka berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana istawa’?” Maka kita meyakini bahwa cara yang benar dalam memahami Al-Qur’an dan mengamalkannya adalah apa yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabat. Sahabat memahaminya kemudian menukil hal itu kepada tabi’in,
    1 hr 22 min
  • Kekuasaan Allah
    Kekuasaan Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 17 Muharram 1443 H / 26 Agustus 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Kekuasaan Allah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۖ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ ۖ وَتَرْزُقُ مَن تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
    “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau memberikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.” (QS. Ali-Imran[3]: 27)
    Menit ke- Di antara faidah dari ayat yang mulia ini adalah:
    Pertama, maha mampunya Allah dan kekuasaan Allah. Dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan yang malam kepada yang siang dan yang siang kepada yang malam.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa memanjangkan waktu malam dan mengurangi waktu siang. Dan bisa mengurangi waktu malam dan menambah waktu siang. Tidak ada yang sanggup menambah malam satu jam, menambah siang satu jam, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Kalau seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini berkumpul untuk menambah satu jam dari apa yang disebut tadi, maka tidak akan pernah sanggup.
    Kedua, di sini ada penetapan tentang hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena memasukkan malam ke siang dan siang ke malam ada hikmah yang sangat besar untuk kemaslahatan makhlukNya.
    Perbedaan musim dalam satu tahun berpengaruh kedalam tubuh, jasad dan tumbuh-tumbuhan. Di antara tumbuh-tumbuhan ada yang muncul di musim dingin dan ada yang muncul di musim panas.
    Ketiga, dengan perubahan musim ini manusia mengetahui tentang kelemahan, kefakiran dan butuhnya dia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Kita semua butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau datang musim dingin, dia mencari sesuatu yang bisa menghangatkannya. Kalau datang musim panas dia mencari sesuatu yang bisa mendinginkannya. Dia membutuhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua kondisi ini.
    Inilah di antara faidah berubahnya panas dan dingin dari perubahan siang dan malam.
    Keempat, disana ada sesuatu yang bisa mengganggu dan menyakiti manusia. Hal ini disebut dalam ilmu kedokteran dengan bakteri. Ada di antara jenis-jenis bakteri yang tidak bisa mati kecuali dalam cuaca yang sangat dingin, yang lainnya tidak bisa mati kecuali dalam cuaca yang sangat panas. Ini sesuatu yang dapat kita saksikan.
    Ini juga hikmahnya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang muncul dari Allah memasukkan malam ke siang dan siang ke malam.
    Kelima, memasukkan malam ke siang dan siang ke malam (memanjangkan waktu siang/malam) menunjukkan tentang kesempurnaan dari Maha Mampunya Allah. Karena tidak ada satupun dari makhlukNya yang sanggup menambah satu jam saja di malam atau siang hari. Akan tetapi Allah yang mampu melakukan hal tersebut.
    Keenam, menunjukkan kesempurnaan tentang qudrah Allah, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu untuk mengeluarkan yang hidup dari yang mati, yang mati dari yang hidup.
    Ketujuh, rezeki itu ditangan Allah. Allah berfirman: “Dan Engkau memberikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki…” Hendaknya orang yang berakal (apalagi orang yang beriman) jangan meminta atau mencari rezeki dari tangan manusia. Tetapi carilah dan mintalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena yang memberi rezeki hakekatnya adalah Al...
    49 min
  • Allah Pemilik Kekuasaan
    Allah Pemilik Kekuasaan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 3 Muharram 1443 H / 12 Agustus 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Allah Pemilik Kekuasaan
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
    “Katakanlah: ‘Wahai Allah pemilik kekuasaan, Engkau memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau menghinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tanganMu segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau mampu untuk melakukan segala sesuatu.’” (QS. Ali-Imran[3]: 26)
    Ayat yang mulia ini mengandung banyak sekali pelajaran dan faidah.
    Pertama, pengajaran Allah ‘Azza wa Jalla kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyerahkan segala urusan hanya kepadaNya. Ini ada dalam firmanNya: “Katakanlah: Ya Allah, pemilik kekuasaan…” seruan ini ditujukan kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga kepada umatnya. Karena Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan suri tauladan yang baik dan imam untuk kita.
    Kedua, penjelasan tentang kekuasaan Allah yang sempurna. Hal ini dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Wahai pemilik kekuasaan…“.
    Ketiga, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuasaan kepada siapa yang Allah kehendaki (tetapi belum tentu Allah ridhai). Hal ini dengan dasar firman Allah: “Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki“.
    Keempat, kekuasaannya makhluk bukan kekuasaan yang berdiri sendiri (tidak merdeka). Tetapi kekuasaan makhluk itu didasari dengan adanya pemberian (tentunya yang memberi adalah Allah). Dimana Allah berfirman: “Engkau memberikan kekuasaan“.
    Kekuasaan dengan dasar pemberian maka tidak diragukan bahwa ia kurang dari kekuasaan yang memberi. Oleh karena itu telah datang dalam hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
    “Tangan yang berada di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (Muttafaqun ‘alaih)
    Kelima, penetapan tentang sifat masyiah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Artinya Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak. Ini diambil dari firman Allah: “Engkau memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, Engkau mengambil kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau menghinakan siapa saja yang Engkau kehendaki.”
    Segala perkara yang dihubungkan oleh Allah dengan masyiah, maka dia terbangun diatas hikmah yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
    “Masyiah kalian bergantung dengan masyiah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan[76]: 30)
    Keenam, ayat ini menjelaskan kesempurnaan kekuasaan Allah. Dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan kekuasaan dari siapa orang yang Allah kehendaki, kemudian mencabutnya setelah orang itu mendapatkan kekuasaan dari yang Allah kehendaki. Dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: R...
    44 min
  • Penghalang dan Yang Terhalangi dalam Waris
    Penghalang dan Yang Terhalangi dalam Waris merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. dalam pembahasan Kitab Zadul Mustaqni. Kajian ini disampaikan pada Kamis, 16 Safar 1443 / 23 September 2021 M.
    Download kajian sebelumnya: Mendepatkan Setengah Bagian Harta Dari Ahli Waris

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Penghalang dan Yang Terhalangi dalam Waris
    Adapun istri/suami, haknya tidak akan gugur selamanya, tapi ada kemungkinan berkurang. Adapun kakek akan gugur dengan adanya ayah.
    Kaedah yang umum dijelaskan oleh para ulama bahwa yang mendapatkan hak waris melalui perantara, maka keberadaan perantara menghalangi dia untuk mendapatkan waris. Misalnya Ali meninggal. Antara Ali dengan kakek ada perantara ayah. Bila ayah masih hidup (walaupun kakek masih hidup), maka kakek tidak dapat.
    Begitu juga nenek, bila ibu masih hidup, maka semua nenek yang masih hidup tidak mendapatkan waris.
    Keberadaan anak laki-laki menyebabkan semua cucu tidak dapat mendapatkan warisan. Keberadaan ayah, kakek, anak laki-laki, atau cucu laki-laki  menyebabkan semua saudara-saudaara seayah seibu tidak mendapatkan warisan.
    Keberadaan ayah tidak menghalangi kebawah. Sorang meninggal, ayahnya masih hidup, anak laki-laki sudah wafat, maka cucu tetap mendapatkan warisan.
    Untuk lebih jelas, mari kita simak melalui video rekaman LIVE Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. – Zadul Mustaqni’ Fi Ikhtishari Al-Muqni’
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Penghalang dan Yang Terhalangi dalam Waris
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Penghalang dan Yang Terhalangi dalam Waris” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    1 hr 19 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah