Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Khutbah Jumat: Senantiasa Menjaga Niat
    Khutbah Jumat: Senantiasa Menjaga Niat ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 01 Rabiul awal 1443 H / 08 Oktober 2021 M.
    Khutbah Pertama Tentang Senantiasa Menjaga Niat
    Setiap manusia diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kekuatan untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Setiap manusia diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala keinginan/kehendak. Dengan keinginan itu dia berusaha untuk mengambil sesuatu yang bermanfaat ataukah sesuatu yang tidak bermanfaat untuk hidupnya.
    Oleh karena itulah saudaraku seiman, perkara yang senantiasa kita perhatikan dalam hidup yaitu senantiasa menjaga niat kita, menjaga keinginan kita. Karena dari keinginanlah muncul perbuatan. Ketika kita tidak menjaga keinginan, sehingga kemudian keinginan kita pun dicampuri oleh hawa nafsu dan syahwat, sehingga pada waktu itu kita menginginkan sesuatu yang tidak diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, lalu kemudian berubahlah ia menjadi sebuah perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah.
    Oleh karena itu gunakan keinginan dan niat kita untuk hal-hal yang baik. Gunakan keinginan dan niat kita untuk hal-hal yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang tidak menjaga niat dan keinginannya, jangan harap dia akan dijaga perbuatan dan amalnya. Tapi siapa yang berusaha menjaga niatnya, maka Allah pun akan menjaga amalnya, bahkan Allah akan menjadikan untuknya orang-orang yang membantu keinginannya tersebut.
    Al-Imam Ibnul Qayyim Qayyim menyebutkan bahwa setiap manusia diberikan oleh Allah dua kekuatan; kekuatan yang pertama kekuatan keinginan, kekuatan yang kedua yaitu kekuatan ilmu. Apabila seseorang menginginkan hidayah namun ia tidak memiliki ilmunya, ia tidak akan mendapatkan hidayah. Demikian pula orang yang mengetahui hidayah dan berilmu tentang hidayah namun ia tidak menginginkannya, maka ia pun tidak mendapatkan hidayah.
    Kapan seseorang diberikan oleh Allah hidayah? Yaitu ketika ia menginginkan hidayah dan ia pun berilmu tentang hidayah. Lalu kemudian ia berusaha untuk mengamalkannya dalam kehidupan. Maka jadilah ia termasuk orang-orang yang mendapatkan hidayah.
    Oleh karena itulah setiap manusia bergerak sesuai dengan keinginannya. Ada orang yang mereka melakukan hal-hal yang tidak baik, karena memang hati dan keinginannya tidak baik. Sebaliknya, orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan dan ketaatan, karena memang hatinya dan keinginannya menginginkan kebaikan.
    Maka saudaraku, inilah yang harus kita perhatikan betul. Meluruskan niat-niat dalam setiap perbuatan, dalam setiap amal, karena itulah yang paling berpengaruh di dalam amal kita.
    Ketika kita pergi shalat tapi tidak meluruskan niat, masuklah kemudian setan di hati kita. Lalu setan pun menggambarkan kepada kita indahnya pujian manusia, sehingga kemudian karena kita kurang sungguh-sungguh menjaga keinginan dan niat, akhirnya kita pun tidak berharap keridhaan Allah, ternyata kita mengharapkan pujian manusia, akhirnya amal kita tidak diterima oleh Allah.
    Maka dari itulah saudaraku, bersihkan keinginan dan niat kita dari dua perkara. Yang pertama adalah syahwat, yang kedua adalah syubhat.
    Syahwat identik dengan dunia; harta, pujian manusia, tahta dan yang lainnya. Ketika keinginan kita dimasuki oleh syahwat, akhirnya untuk ikhlas pun sangat sulit sekali.
    Banyak orang yang beramal shalih, karena keinginan dan niatnya dimasuki oleh syahwat, akhirnya ketika beramal niatnya bukan karena Allah, tapi karena dunia, karena agar diganti di dunia, karena agar rezekinya dimudahkan dan yang lainnya. Sementara Allah mengancam orang-orang yang punya keinginan seperti ini.
    18 min
  • Setiap Jiwa Akan Mendapati Balasan Dari Perbuatannya
    Setiap Jiwa Akan Mendapati Balasan Dari Perbuatannya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 30 Safar 1443 H / 07 Oktober 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Setiap Jiwa Akan Mendapati Balasan Dari Perbuatannya
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِن سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
    “Ingatlah pada hari ketika setiap jiwa mendapatkan balasan atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, begitu juga balasan atas kejahatan yang telah dia kerjakan, dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan itu, dan Allah memperingatkan kalian akan siksaNya. Dan Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hambaNya.” (QS. Ali-Imran[3]: 30)
    Faidah yang bisa kita ambil dari ayat yang mulia ini adalah:
    Pertama, peringatan bagi hari yang besar ini. Dimana manusia mendapatkan apa yang telah dilakukan dari kebajikan atau keburukan. Maka bahagialah orang yang diberi taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk beramal dengan amal kebajikan. Dia akan mendapatkan kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Hendaknya kita semua berusaha terus beramal dengan amal shalih dan menjauhkan dari amal-amal yang mendatangkan murkanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Kedua, wajib -minimalnya disunnahkan- bagi seseorang untuk mengingat hari ini.
    Ketiga, pasti adanya balasan bagi setiap jiwa. Apakah ini umum atau dikecualikan bagi yang tidak diberikan taklif? Kalau kita lihat keumuman lafadz, maka ini mencakup semuanya. Yang tidak mukallaf maka dicatat untuknya kebaikan adapun keburukan tidak dicatat. Dari amal kebaikan itu dia akan mendapatkan di hadapannya, adapun amal keburukan akan dihapus.
    Kemungkinan yang kedua bahwa balasan itu adalah untuk yang mukallaf saja. Dan tidak diragukan lagi yang dimaksud ‘jiwa’ di sini tidak dimaksudkan secara umum. Karena binatang tidak masuk di dalamnya. Sehingga yang dimaksud dengan ‘jiwa’ di sini adalah jiwa yang mukallaf.
    Keempat, kesempurnaan tentang kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan menghadirkan apa yang telah diamalkan oleh seorang manusia baik amalan itu sedikit ataupun banyak.
    Kelima, pengawasan Allah sangat sempurna. Tidak ada yang luput sedikitpun bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan apa yang dilakukan oleh seseorang pasti akan dia dapati.
    Keenam, penetapan hari akhir, dimana dia merupakan hari pembalasan.
    Ketujuh, keburukan akan kembali kepada orang yang melakukannya.
    Kedelapan, ditetapkannya dihari itu ada perasaan.
    Kesembilan, orang yang melakukan perbuatan buruk memiliki kebencian terhadap perbuatannya pada hari tersebut. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan itu.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Ali Imran 30 – Setiap Jiwa Akan Mendapati Balasan Dari Perbuatannya
    41 min
  • Perbandingan Ilmu dan Harta Bag 3
    Perbandingan Ilmu dan Harta Bag 3 adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 30 Safar 1443 / 07 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Perbandingan Ilmu dan Harta Bag 2

    Ceramah Agama Islam Tentang Perbandingan Ilmu dan Harta Bag 3
    Segi-segi kemuliaan ilmu dibandingkan harta.

    * Orang yang dihormati/dikedepankan/dimuliakan karena hartanya, ketika hartanya hilang maka hilang juga penghormatan dan pemuliaan pada dirinya. Karena dia mulia dengan sesuatu yang berasal dari luar dirinya.Berbeda dengan orang yang dikedepankan/dihormati/dimuliakan karena ilmunya, ini tidak menambah bagi dirinya kecuali semakin dihormati dan semakin dimuliakan.Makanya orang-orang yang dimuliakan karena harta ini biasanya kemana-mana dia akan bawa hartanya. Yaitu dengan penampilan, perhiasan dan kekayaannya. Ketika suatu saat dia tidak membawa hartanya, maka dia tidak akan bernilai di mata manusia.
    * Seseorang yang dikedepankan karena hartanya, ini pada hakekatnya celaan bagi dirinya. Karena kalau bukan karena hartanya maka mestinya dia berhak untuk dikebelakangkan dan dihinakan. Adapun dimuliakannya seorang karena ilmunya, maka ini menunjukkan hakekat kesempurnaan pada dirinya. Karena ini berarti mengedepankan dirinya dengan apa yang ada pada dirinya dan sifat yang memang ada padanya.
    * Orang yang mencari kesempurnaan dengan kekayaan harta itu seperti orang yang ingin mengumpulkan dua hal yang bertentangan (artinya tidak mungkin bisa dikumpulkan). Jiwanya akan cenderung berpaling dari sifat dermawan dan dia menyangka kesempurnaan dirinya adalah dengan menahan hartanya. Musibah ini adalah perkara yang menimpa kebanyakan manusia.Jadilah hati manusia selalu ditarik di antara dua panggilan; yaitu antara dermawan atau kikir. Sehingga hatinya ada pada kedudukan yang saling bertentangan di antara keduanya.

    Bagaimana penjelasan selanjutnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Perbandingan Ilmu dan Harta Bag 3
    Mari turut membagikan link download kajian “Perbandingan Ilmu dan Harta Bag 2” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    58 min
  • Sejagat Raya Ampunan Dengan Tauhid
    Sejagat Raya Ampunan Dengan Tauhid adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 29 Safar 1443 H / 06 Oktober 2021 M.
    Kajian Tentang Sejagat Raya Ampunan Dengan Tauhid
    Dan Imam Tirmidzi memiliki riwayat -beliau menghasankan riwayat tersebut- dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    قال الله تعالى يا بن آدم لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئاً لأتيتك بقرابها مغفرة
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau jika mendatangiKu dengan membawa sejagat raya dosa dan kesalahan, kemudian engkau menemuiKu dalam keadaan tidak mensyirikkanKu dengan sesuatu apapun, sungguh Aku akan datangi engkau dengan sejagat raya ampunan.'” (HR. Tirmidzi)
    Inilah dalil kelima yang dibawakan oleh penulis Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab Rahimahullahu Ta’ala di dalam bab yang pertama.
    Menit ke- Ini menunjukkan keutamaan tauhid. Yaitu mengampuni dosa sebesar apapun selama tidak melakukan kesyirikan.
    “Kemudian engkau menemuiKu dalam keadaan tidak mensyirikkanku dengan sesuatu apapun”. Ini adalah syarat yang berat di dalam janji akan mendapatkan ampunan. Dan syaratnya tersebut adalah selamat dari kesyirikan, baik yang besarnya ataupun yang kecilnya, yang banyaknya ataupun yang sedikitnya. Dan tidak selamat dari itu kecuali orang yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah hati yang selamat (dari kesyirikan), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ‎﴿٨٨﴾‏ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ‎﴿٨٩﴾‏
    “Pada hari kiamat tidak bermanfaat harta apapun dan juga anak-anak, kecuali seorang yang datang menemui Allah dengan membawa hati yang selamat (dari kesyirikan).” (QS. Asy-Syuara'[26]: 88-89)
    Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali berkata: “Siapa yang datang dengan kesalahan dan dosa sejagat raya disertai dengan tauhid, pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menemuinya dengan sejagat raya ampunan.”
    Bahkan Ibnu Rajab berkata: “Jika telah sempurna tauhid seorang hamba dan keikhlasannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala didalamnya, dan dia juga menegakkan syarat-syarat tauhid dengan hati, lisan dan anggota tubuhnya, atau dengan hati dan lisannya saat meninggal, maka hal tersebut akan mendatangkan ampunan setelahnya dari apa yang telah lalu dari dosa-dosa seluruhnya dan menahannya dari masuk ke dalam neraka sama sekali.
    Maka siapa yang hatinya merealisasikan tauhid, maka akan keluar dari hatinya setiap apa saja dari selain Allah; rasa cinta, pengagungan, kemuliaan, penghormatan, rasa takut, rasa tawakkal kepada selain Allah. Pada saat inilah tauhid tersebut akan membakar kesalahan-kesalahannya seluruhnya meskipun dosanya seperti buih di lautan.”
    Ibnul Qayyim menjelaskan makna hadits ini bahwa dimaafkan untuk ahli tauhid yang benar-benar murni (yang tidak tercampur dengan kesyirikan) apa yang tidak dimaafkan bagi yang tidak bertauhid. Jikalau seorang ahli tauhid bertemu dengan Tuhannya membawa sejagat raya dosa-dosa, maka Allah akan mendatanginya dengan sejagat raya ampun. Dan hal ini tidak terjadi bagi siapa yang kurang tauhidnya. Sesungguhnya tauhid yang murni yang tidak tercampuri kesyirikan apapun tidak akan menyisakan dosa kecuali dihapuskannya. Karena tauhid yang seperti itu mengandung kecintaan kepada Allah pengagungan terhadapNya, rasa takut dan harap kepadaNya, juga rasa cinta yang mengakibatkan dicucinya dosa-dosa tersebut walaupun ...
    1 hr 43 min
  • Agungnya Wudhu
    Agungnya Wudhu merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah كتاب صحيح الترغيب والترهيب (kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Rabu, 29 Shafar 1443 H / 06 Oktober 2021 M.

    Download kajian sebelumnya: Hukum Wanita Melepas Pakaian di Selain Rumah Suaminya
    Hadits ke-180
    Dari Abu Darda Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أنا أول من يؤذن له بالسجود يوم القيامة وأنا أول من يرفع رأسه فأنظر بين يدي فأعرف أمتي من بين الأمم ومن خلفي مثل ذلك وعن يميني مثل ذلك وعن شمالي مثل ذلك
    “Aku adalah orang yang pertama kali diizinkan untuk sujud pada hari kiamat nanti, dan aku adalah orang yang pertama kali mengangkat kepalanya pada hari kiamat. Lalu aku melihat ke depanku, maka aku mengenali umatku di antara umat-umat yang lain, dari belakangku pun juga demikian, dari kananku demikian dan dari kiri pun demikian juga.”
    Lalu kemudian ada seorang laki-laki berkata: “Bagaimana engkau mengenal umatmu, Wahai Rasulullah di antara umat-umat yang lainnya dari semenjak Nabi Nuh sampai umatmu?” Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    هم غر محجلون من أثر الوضوء ليس لأحد ذلك غيرهم وأعرفهم أنهم يؤتون كتبهم بأيمانهم وأعرفهم تسعى بين أيديهم ذريتهم
    “Mereka (umatku) ubun-ubunnya bercahaya, kaki dan tangannya bercahaya dari bekas air whudu. Hal itu tidak ada kecuali pada mereka saja. Dan aku juga mengenal mereka bahwa mereka diberikan kitab catatan amalnya dari kanan mereka. Dan aku juga mengenal mereka bahwa berjalan di hadapan mereka anak-anaknya yang beriman.” (HR. Ahmad)
    Keistimewaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan tentang keistimewaan diri, tapi bukan dalam rangka bersombong diri. Hal ini menunjukkan boleh kita menyebutkan kelebihan diri kalau memang dibutuhkan dan tidak menimbulkan ‘ujub, kesombongan, riya’ dan yang lainnya. Maka kalau syarat-syarat ini terpenuhi boleh. Tapi kalau kita tidak menyebutkan karena khawatir terkena penyakit sombong atau ‘ujub atau karena tidak ada kebutuhan, maka jangan. Cukuplah Allah yang tahu tentang kelebihan diri kita.
    Menit ke- Beliau adalah Nabi yang paling utama dibandingkan seluruh Nabi, Rasul yang paling utama dibandingkan seluruh Rasul Shalawatullah wa Salamuhu ‘Alahi. Maka kita umatnya bergembira, ternyata kita memiliki Nabi yang mempunyai keistimewaan luar biasa. Bergembira dengan cara ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jangan berbuat bid’ah, cukup ikuti saja Rasul, jadikan beliau sebagai suri tauladan, jadikan beliau sebagai panduan untuk hidup kita. Allah berfirman:
    قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ…
    “Katakan: ‘Jika kalian memang mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah). Niscaya Allah akan cintai dan ampuni dosa-dosa kamu.” (QS. Ali Imran[3]: 31)
    Maka kita bersyukur menjadi umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasa syukur itu kita realisasikan dengan cara mengikuti jejak kaki Rasulullah, mempelajari sunnahnya, mempelajari hadits-haditsnya, lalu kita praktekkan dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kita menjadi seorang pengikut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sejati.
    Dalam aqidah, ibadah dan bahkan dalam seluruh sisi kehidupan, kita jadikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seb...
    1 hr 9 min
  • Penetapan Nama dan Sifat Allah
    Penetapan Nama dan Sifat Allah merupakan kajian Islam ilmiah Shahih Bukhari Kitab Tauhid yang disampaikan oleh Ustadz Abu Qotadah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 28 Shafar 1443 H / 05 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Bab Firman Allah Surat Al-Isra’ ayat 110

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Penetapan Nama dan Sifat Allah
    Menit ke- Imam Bukhari membawakan ayat dalam surah Al-Isra’ ayat 110 dan membawakan dua hadits; yaitu hadits Jarir bin Abdillah dan hadits kisah tentang Usamah bin Zaid Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhuma.
    Ayat dan hadits yang dibawakan oleh Imam Bukhari ini adalah dalil pokok untuk berbicara tentang penetapan nama dan sifat.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ…
    “Serulah ‘Ya Allah’ atau ‘Ya Rahman’…” Kemudian pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan:
    فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
    “Bagi Allah itu ada nama-nama yang baik.” (QS. Al-Isra'[17]: 110)
    Maka pada bab ini Imam Bukhari meletakkan kaidah-kaidah Ahlus Sunnah dalam menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah.
    Ayat ini sebagaimana dikatakan oleh para ulama tafsir, seperti Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari dan yang lainnya, bahwa orang-orang kuffar Quraisy tidak mengimani nama Ar-Rahman. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat Al-Qur’an:
    وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَٰنِ
    “Mereka kufur kepada Ar-Rahman.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 30)
    Kemudian disebutkan dalam kisah yang lain. Yaitu ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan melakukan perjanjian dengan orang-orang kafir Quraisy, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk menulis basmalah.
    Dikisahkan bahwa mereka meminta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menghapus dua perkara. Yang pertama yaitu penyebutan “Ar-Rahman”. Adapun yang kedua adalah penyebutan “Rasulullah”, sehingga tinggal tersisa “Muhammad bin Abdillah.”
    Imam Bukhari mengetengahkan ayat ini dalam bab nama dan sifat untuk menjelaskan wajibnya mengimani kepada seluruh nama Allah. Yaitu nama-nama yang Allah telah tetapkan di dalam Al-Qur’an. Hal ini karena ayat ini diturunkan dalam rangka menjelaskan bantahan kepada orang-orang kuffar Quraisy yang mereka mengingkari nama itu.
    Dalam sebuah kaidah yang harus dipahami oleh kaum muslimin adalah bahwa semua nama Allah menunjukkan kepada Dzat yang satu, yaitu Allah. Dan juga menunjukkan kepada sifat yang dikandung oleh setiap nama itu.
    Imam Bukhari juga ingin menjelaskan poin penting juga bahwa mengingkari dan mengkufuri salah satu nama Allah berkonsekuensi seperti mengkufuri semuanya. Jadi kalau sudah jelas-jelas itu adalah nama Allah kemudian diingkari oleh seseorang bahwa itu adalah bukan nama Allah, tidak mau menerima dan tidak mau menetapkan, maka itu hukumnya adalah kafir.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini..
    Download mp3 Kajian
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Penetapan Nama dan Sifat Allah” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    51 min
  • Nasihat dan Doa Untuk Anak
    Nasihat dan Doa Untuk Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 28 Shafar 1443 H / 05 September 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Menjaga Wibawa Pasangan di Hadapan Anak
    Kajian Islam Ilmiah Tentang Nasihat dan Doa Untuk Anak
    Kita sampai pada bab lampiran-lampiran sebagai pelengkap dari apa yang sudah kita bahas sebelumnya. Di dalam lampiran ini kita membahas beberapa perkara, yaitu:

    * Ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi nasihat dan doa yang mungkin bisa menjadi bahan bagi para orang tua untuk menyampaikan dan menjelaskannya kepada anak-anak.
    * Hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang perlu diajarkan, khususnya berkaitan dengan sunnah-sunnah keseharian yang perlu diketahui oleh anak-anak. Dan tentunya ini akan menjadi satu rutinitas yang akan dia lakukan nantinya.
    * Doa-doa keseharian yang hendaknya dihafalkan oleh anak-anak. Karena dalam Islam hampir semua aktivitas dimulai dengan doa dan diakhiri dengan doa.
    * Kisah-kisah shahih untuk anak-anak shalih, baik di dalam Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    * Kalimat-kalimat yang tidak patut diucapkan oleh orang tua. Tentunya menjaga lisan di dalam pendidikan itu suatu hal yang sangat perlu, bahkan ini bagian dari pendidikan itu sendiri.
    * Sikap-sikap yang salah dan sikap-sikap yang seharusnya. Beberapa sikap yang mungkin dipandang biasa, tapi sebenarnya itu tidak biasa. Dan bagaimana seharusnya orang tua bersikap di dalam menghadapi anak-anak mereka.

    Nasihat dan Doa Untuk Anak
    Wasiat Nabi Ibrahim
    Menit ke- Ini adalah wasiat Nabi Ibrahim kepada anak-anaknya agar istiqamah memegang agamanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
    “Dan Ibrahim mewasiatkan wasiat ini kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub kepada anak-anaknya juga. Mereka berkata: ‘ Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih bagimu agama ini bagi kamu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.'” (QS. Al-Baqarah[2]: 132)
    Ini wasiat yang perlu kita sampaikan kepada anak-anak kita. Apapun yang terjadi, bagaimanapun sulitnya kehidupan, bagaimanapun beratnya penderitaan, bagaimanapun hebatnya cobaan, kita tetap harus istiqamah diatas Islam. Karena godaan dan cobaan itu akan mereka hadapi.
    Wasiat Nabi Ya’qub
    Menit ke- Wasiat Nabi Ya’kub agar anak-anaknya tetap beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
    “Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’kub, dan ketiga ia berkata kepada anak-anaknya saat itu: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan ayahmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, yaitu Ilah yang Esa dan kami berserah diri kepadaNya.'” (QS. Al-Baqarah[2]: 132)
    Ini pelajaran yang disampaikan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya. Sehingga ketika ayahnya bertanya kepada anak-anaknya, mereka mengetahui jawabannya.
    Ini khawatirkan Nabi Ya’kub terhadap anak-anak keturunannya,
    1 hr 2 min
  • Keistimewaan Surah Al-Falaq An-Nas Al-Mulk dan Al-Baqarah
    Keistimewaan Surah Al-Falaq An-Nas Al-Mulk dan Al-Baqarah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 28 Shafar 1443 H / 05 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Keistimewaan Surah Al-Fatihah Al-Ikhlas Al-Falaq dan An-Nas
    Keistimewaan Surah Al-Falaq An-Nas Al-Mulk dan Al-Baqarah
    Keistimewaan Surah Al-Falaq dan An-Nas
    Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata:
    وعن عقبة بن عامِر رضي الله عنه أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «ألَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتْ هذِهِ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ؟ {قُلْ أَعْوذُ بِرَبِّ الفَلَقِ} وَ{قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ}»
    Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Engkau tidak akan pernah melihat seperti ayat-ayat yang diturunkan pada malam ini, yaitu Al-Falaq dan An-Nas.” (HR. Muslim)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang keutamaan dua surah ini. Bahwasanya dua surah ini adalah sebaik-baik yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam membentangi diri beliau dari godaan jin dan manusia, bahkan dari makhluk-makhluk lain yang dapat membahayakan seseorang.
    Menit ke- Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:
    كَانَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم يَتَعَوَّذُ مِنَ الجَانِّ، وَعَيْنِ الإنْسَانِ، حَتَّى نَزَلَتْ المُعَوِّذَتَانِ، فَلَمَّا نَزَلَتَا، أخَذَ بِهِمَا وَتَرَكَ مَا سِوَاهُمَا
    “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kejahatan jin, dan dari ‘ain, sampai diturunkannya oleh Allah dua surah ini (Al-Falaq dan An-Nas). Ketika dua surah ini turun, beliau mengambilnya dan menjadikan dua surah ini sebagai bacaan beliau dalam rangka berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan jin dan kejahatan mata manusia, dan beliau meninggalkan yang lainnya.” (HR. Tirmidzi)
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang termulia yang dijaga dan dilindungi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun demikian beliau selalu memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kejahatan manusia, jin dan makhluk-makhluk yang lainnya. Apalagi kita sebagai manusia biasa yang tidak mempunyai kekuatan dan bukan siapa-siapa? Maka sudah seyogyanya kita lebih banyak yang memohon perlindungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari kejahatan jin dan manusia, dari kejahatan pandangan manusia, dan dari kejahatan makhluk-makhluk Allah yang lainnya.
    Hendaknya kita selalu memohon perlindungan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala siang dan malam. Kita tidak tahu apa yang berlaku di muka bumi ini dari makhluk-makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dari niat-niat mereka, kejahatan mereka, incaran mereka kepada seorang hamba. Yang mengetahuinya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka kita mohon perlindungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari kejahatan berbagai makhluk yang menginginkan keburukan bagi kita.
    Seorang kalau bertawakal, bergantung dan berlindung pada Allah, maka Allah akan melindunginya. Tapi ketika dia meminta perlindungan dan berharap kepada selain Allah, maka Allah biarkan dia. Oleh karena itu sebagai seorang yang beriman, mari kita terus membentangi diri dari kejahatan-kejahatan sebagian makhluk Allah yang menginginkan keburukan bagi seorang hamba.
    Keutamaan Surah Al-Mulk
    1 hr 14 min
  • Adab Dalam Memandang
    Adab Dalam Memandang adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 27 Shafar 1442 H / 05 Oktober 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Adab Dalam Memandang
    Bab 332 – Tidak diperbolehkannya seorang menajamkan pandangan kepada saudaranya tatkala dia pergi
    Menit ke- Al-Imam Al-Bukhari menyebutkan sebuah atsar dari seorang tabi’in yang bernama Mujahid bin Jabr, beliau mengatakan:
    يُكْرَهُ أَنْ يُحِدَّ الرَّجُلُ إِلَى أَخِيهِ النَّظَرَ أَوْ يُتْبِعَهُ بَصَرَهُ إِذَا وَلَّى، أَوْ يَسْأَلَهُ مِنْ أَيْنَ جِئْتَ وَأَيْنَ تذهب
    “Tidak disukai seorang menajamkan pandangan kepada saudaranya,atau diikuti dengan matanya ketika dia pergi, atau menanyakan kepadanya dari mana engkau datang dan kemana engkau pergi.”
    Secara sanad, atsar ini dhaif. Tapi kalau kita melihat sebagai sebuah adab, ketika kita mandang orang, maka tidak boleh memandang matanya dengan pandangan yang tajam, pandangan yang menunjukkan ada ketidaksukaan di dalam hati.
    Mata adalah jendela hati. Ketika seseorang memandang orang lain yang pandangan yang penuh dengan kasih sayang, maka pandangannya tidak tajam. Dan kalaupun menyorot ke mata orang tersebut, biasanya akan ada senyuman.
    Maka adabnya adalah dengan menyapa dan tunjukkan dengan mata bahwa kita memandang dengan penuh penghormatan.
    Bab 333 – Ucapan orang “ويلَك”
    Menit ke- Ungkapan “wailak” adalah sebuah kalimat yang diucapkan bagi orang yang terjatuh dalam kebinasaan. Seakan-akan “dengan perbuatanmu ini engkau hampir binasa/celaka.”
    Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat seorang sedang menggiring seekor unta/sapi gemuk yang hendak dihadiahkan untuk disembelih di Mekah.
    (ارْكَبْهَا) فَقَالَ: (إِنَّهَا بَدَنَةٌ. قَالَ: (ارْكَبْهَا) قَالَ: إِنَّهَا بَدَنَةٌ. قَالَ: (ارْكَبْهَا) قَالَ: فَإِنَّهَا بَدَنَةٌ، قال: (اركبها ويلك)
    “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada orang tersebut: ‘Engkau naiki unta itu’, lalu sahabat ini mengatakan: ‘Ya Rasulullah ini badanah‘, Nabi mengulangi: ‘Iya, engkau naiki’, maka orang ini mengatakan lagi: ‘Ya Rasulullah ini badanah’…”
    Orang ini membantah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebanyak tiga kali. Dan yang keempat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Naiki unta itu, celaka engkau.” Artinya engkau hampir binasa dengan membantah apa yang diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Menit ke- Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata:
    إِنِّي أَكَلْتُ خُبْزًا وَلَحْمًا، فَهَلْ أَتَوَضَّأُ؟ فَقَالَ: وَيْحَكَ أَتَتَوَضَّأُ مِنَ الطيبات
    “‘Aku baru saja makan roti sama daging, apakah aku harus berwudhu?’ Ibnu Abbas menjawab: ‘Waihak, apakah engkau berwudhu karena habis memakan makanan yang baik?'” (HR. Abu Dawud)
    Ucapan ‘waihak‘ dikatakan kepada orang yang terjebak dalam kebinasaan/kecelakaan yang dia tidak pantas mendapatkannya. Karena orang ini bertanya dengan pertanyaan yang bagus.
    Menit ke- Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhuma, pada waktu selesai Perang Hunain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mampir di Ji’ranah yang di sana dibagikan harta rampasan perang kepada umat Islam yang pembagiannya tidak rata.
    Kalau bicara keadilan bukan berarti sama.
    1 hr 28 min
  • Talbil Iblis Untuk Menyebarkan Hadits Palsu
    Talbil Iblis Untuk Menyebarkan Hadits Palsu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 27 Safar 1443 H / 04 Oktober 2021 M.

    Kajian Islam Tentang Talbil Iblis Untuk Menyebarkan Hadits Palsu
    Di antara talbis iblis terhadap orang-orang yang berbicara tentang hadits adalah meriwayatkan hadits-hadits maudhu’ (palsu). Bahkan dahulu para pemalsu hadits -terutama tentang fadhilah surah Al-Qur’an- beralasan bahwa mereka melakukan itu untuk membela Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Tentu ini alasan yang tidak bisa diterima, karena mereka melanggar sendiri sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
    “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berkata atas namaku (yang aku tidak katakan) secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
    Jadi alasan mereka itu tidak bisa diterima. Mereka beralasan melakukan itu untuk Nabi. Supaya orang baca Al-Qur’an maka dibuatlah hadits palsu, supaya orang rajin dzikir dibuatlah hadits-hadits palsu tentang dzikir-dzikir tertentu. Membaca dengan jumlah sekian dan sekian yang kadang-kadang tidak masuk akal.
    Misalnya harus membaca itu sampai ratusan ribu, sementara kita tahu Nabi tidak pernah membaca dzikir sampai ratusan ribu, paling banyak adalah 100 kali. Jadi ditimbang dengan logika yang lurus ataupun dengan akal sehat saja itu tidak masuk orang berdzikir sampai 100.000 kali, maka akan habis waktunya. Sementara kewajiban sehari semalam itu banyak. Apakah habis untuk membaca dikir yang tidak wajib?
    Demikian kita lihat sebagian hadits-hadits maudhu’ dan palsu itu sudah terlihat palsunya dari matannya. Tapi banyak juga orang-orang yang masih tega membacanya dan menisbatkannya kepada Nabi dan diam (tidak menjelaskannya) bahwa riwayat itu palsu.
    Ini merupakan tindak kejahatan terhadap syariat. Tujuan mereka adalah untuk mengalihkan pandangan mata manusia kepada diri mereka. Karena orang akan mudah tertarik kepada hal-hal yang aneh, asing dan tidak biasa. Ketika kita mendengar hadits yang asing, maka perhatian kita tertuju kepada orang yang mengatakan atau menyampaikannya.
    Iblis membuat orang itu mudah untuk berkata “Nabi bersabda…” tanpa dicek terlebih dahulu validitas hadits tersebut.
    Maka dalam hal ini Nabi mewanti-wanti dan memberikan peringatan kepada kita semua. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    مَنْ رَوَى عَنِّى حَدِيثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ
    “Siapa yang meriwayatkan satu hadits yang dia tahu bahwa hadits itu palsu, maka sungguh dia termasuk salah satu di antara dua pendusta (yaitu yang membuat dan dia yang menyampaikannya).” (HR. Muslim)
    Berdusta di dalam agama tidak sama dengan berdusta di dalam percakapan sehari-hari. Karena berdusta dalam masalah agama bisa menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, yang baik bisa jadi buruk dan yang buruk bisa jadi baik, dan akan muncul bid’ah.
    Maka tidak boleh dengan mudah seseorang menisbatkan sesuatu kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena itu kaitannya dengan syariat. Kita tidak punya hak apapun untuk melabeli sesuatu itu sebagai bagian dari syariat kecuali itu kita dapatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    57 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah