Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Ashabah Bil Ghair
    Ashabah Bil Ghair merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. dalam pembahasan Kitab Zadul Mustaqni. Kajian ini disampaikan pada Rabu, 07 Rabiul Awal 1443 H / 14 Oktober 2021 M.
    Download kajian sebelumnya: Bab Ashabah

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Ashabah Bil Ghair
    Seorang anak laki-laki mewarisi dan cucu dari jalur laki-laki dan saudara seayah-seibu atau saudara seayah bersama saudarinya dua per tiga.
    Misalnya seseorang laki-laki wafat dan ahli warisnya kita katakan istri, satu anak laki-laki, satu anak perempuan. Dalam hal seperti istri mendapat bagiannya seperdelapan, karena ada anak. Kalau tidak ada anak perempuan, tentu anak laki-laki mengambil sisanya. Tapi dalam kasus ini yang meninggal punya anak laki-laki dan anak perempuan, maka dia tidak mengambil sisa.
    Untuk lebih jelasnya silahkan melihat video rekaman [LIVE] Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. – Zadul Mustaqni’ Fi Ikhtishari Al-Muqni’.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Bab Ashabah
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian ” Ashabah Bil Ghair” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    1 hr 25 min
  • Perbandingan Kelezatan Harta dan Ilmu
    Perbandingan Kelezatan Harta dan Ilmu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 07 Rabiul awal 1443 / 14 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Perbandingan Ilmu dan Harta Bag 3

    Ceramah Agama Islam Tentang Perbandingan Kelezatan Harta dan Ilmu
    Segi-segi kemuliaan ilmu dibandingkan harta:
    Tiga puluh satu, kelezatan yang didapatkan dari harta atau kekayaan duniawi hanyalah dirasakan ketika terjadi pembaharuan. Bertambahnya harta atau fasilitasnya. Adapun kalau dipakai terus menerus bisa jadi kelezatan itu hilang sama sekali atau paling tidak berkurang.
    Hal ini ditunjukkan dengan keadaan tabiat orang yang memiliki harta tadi. Jiwanya akan selalu menuntut tambahan kekayaan yang lain. Kalau seandainya dia puas, pasti dia akan berhenti. Tapi ternyata dia akan mencari yang lain, menuntut tambahan kekayaan yang lain, masih berambisi untuk mencarinya. Dia akan selalu berusaha mendapatkan tambahan dari harta yang sudah dimilikinya, maka dia selalu dalam kebutuhan yang terus-menerus dan tidak pernah tertunaikan. Meskipun misalnya dia memiliki semua perbedaharaan yang ada di bumi, maka perasaan kurang, ambisi dan semangatnya untuk mengejar harta terus ada pada dirinya.
    Inilah keadaan yang dirasakan kenikmatan dengan harta kalau seandainya memang ada kenikmatannya. Yaitu hanya ketika pertama kali atau ketika mendapatkan tambahan.
    Alasan yang lain karena harta sendiri adalah salah satu dari dua kegemaran yang tidak pernah menjadikan manusia kenyang. Disebutkan dalam hadits shahih bahwasanya semangat untuk mencari harta dan semangat mencari ilmu adalah dua kegemaran yang tidak pernah menjadikan manusia puas. Sehingga orang ini tidak pernah lepas dari kesusahan dalam hal ambisi dan semangatnya mengejar harta tersebut.
    Ini berbeda kekayaan yang dirasakan dengan ilmu dan iman. Karena kelezatan dengan ilmu dan iman itu terus dimanfaatkan, itu sama dengan kelezatan ketika bertambahnya ilmu atau terjadi peningkatan iman. Bahkan orang yang memiliki kelezatan ilmu dan iman, meskipun dia tetap berambisi untuk menambahnya, ketika dia mencari tambahan ilmu dan bersemangat untuk meningkatkan imannya, saat itu dia sudah disertai dengan kelezatan yang dirasakannya dan kelezatan dari hal-hal yang ingin ditambahnya tersebut.
    Tiga puluh dua, kekayaan dengan harta pasti dengan sendirinya ada tuntutan dari orang lain untuk dia berbagai kekayaannya dengan orang yang tidak mampu. Maka orang yang memiliki harta ada dua pilihan di hadapannya:

    * Tidak memberikan harta sehingga terkenal sebagai orang yang pelit, orang yang jauh dari kebaikan, jauh dari memberikan manfaat bagi orang lain. Sehingga dia akan dibenci, dicela dan direndahkan. Dan setiap orang yang dibenci dikalangan manusia, maka peluang untuk sampainya berbagai macam keburukan atau hal-hal yang tidak menyenangkan lebih cepat dibandingkan dengan sampainya kobaran api kepada kayu bakar yang kering.
    * Pilihan kedua adalah memberikan bantuan. Tentu tidak memungkinkan bagi dirinya untuk bisa menyampaikan bantuan hartanya kepada semua orang. Maka mestinya dia akan memberikan bantuannya kepada sebagian orang dan menahannya dari sebagian yang lain. Ini akan membuka baginya pintu permusuhan dan celaan dari orang-orang yang tidak mendapatkan bagian bantuan harta darinya.

    Orang yang tidak mendapatkan bantuan darinya,
    55 min
  • Merealisasikan Tauhid Dengan Sebenar-Benarnya
    Merealisasikan Tauhid Dengan Sebenar-Benarnya adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 06 Rabiul Awal 1443 H / 13 Oktober 2021 M.
    Kajian Tentang Merealisasikan Tauhid Dengan Sebenar-Benarnya
    Yang dimaksud merealisasikan tauhid adalah memurnikan dan membersihkannya dari kotoran-kotoran kesyirikan, perbuatan bid’ah dan maksiat.
    Kalau kita perhatikan bab ini termasuk daripada keutamaan tauhid sebagaimana bab yang pertama. Namun ini disendirikan karena agungnya bab ini serta keutamaan paling tinggi dari keutamaan tauhid.
    Setiap muslim mendapatkan keutamaan tauhid. Entah itu mendapatkan keamanan, petunjuk, masuk surga, diharamkan dari neraka, ataupun diberatkan timbangan dan diampuni dosa. Tetapi ada keutamaan khusus yang tidak dimiliki oleh semua orang, yaitu orang-orang yang benar-benar merealisasikan tauhid, benar-benar menerapkan kewajiban-kewajiban dari dua kalimat syahadat.
    Kewajiban dari ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah’ adalah tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah. Dan kewajiban dari ‘Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah’ adalah tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyari’atkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Inilah yang disebut dengan menerapkan tauhid dengan sebenar-benarnya. Tentu tidak semua orang bisa menerapkan hal itu.
    Maka para ulama mengatakan bahwa penerapan tauhid yang sebenarnya adalah dengan cara:

    * meninggalkan segala macam kesyirikan, baik syirik besar ataupun syirik kecil,
    * meninggalkan perbuatan bid’ah dengan segala macam jenis perbuatan bid’ah,
    * meninggalkan maksiat dengan segala macam jenis maksiat.

    Dengan demikian maka seseorang benar-benar menerapkan tauhid. Dan dengan itulah dia akan mendapatkan keutamaan yang paling istimewa dari tauhid, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.
    Bisa saja seorang muslim mendapatkan keutamaan tauhid. Tapi mungkin dia dipenuhi dengan maksiat, dipenuhi dengan perbuatan bid’ah. Tentunya berbeda dengan yang benar-benar menerapkan tauhid. Sehingga dirinya terlepas dari kesyirikan (besar atau kecil), terlepas dari perbuatan bid’ah, dan terlepas dari perbuatan maksiat.
    Sifat Nabi Ibrahim Merealisasikan Tauhid
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
    “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (berpegang teguh kepada kebenaran). Dan sekali-kali ia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. An-Nahl[16]: 120)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dengan sifat-sifat ini. Dimana sifat-sifat ini adalah puncak dari penerapan tauhid dengan sebenar-benarnya.
    1. Suri tauladan
    Menit ke- Maksudnya yaitu pemimpin yang dicontoh, pendidik/pengajar kepada kebaikan. Dan yang seperti itu tidaklah beliau dapatkan kecuali karena menyempurnakan kedudukan sabar dan keyakinan. Dengan sabar dan keyakinan inilah seseorang akan mendapatkan kepemimpinan dalam agama.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
    “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimp...
    1 hr 42 min
  • Hakikat Sifat Tergantung Kepada Siapa Sifat Itu Dinisbatkan
    Hakikat Sifat Tergantung Kepada Siapa Sifat Itu Dinisbatkan merupakan kajian Islam ilmiah Shahih Bukhari Kitab Tauhid yang disampaikan oleh Ustadz Abu Qotadah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 28 Shafar 1443 H / 05 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Penetapan Nama dan Sifat Allah

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Hakikat Sifat Tergantung Kepada Siapa Sifat Itu Dinisbatkan
    Menit ke- Allah Subhanahu wa Ta’ala disifati dengan sifat rahmat (kasih sayang) dan makhluk juga disifati dengan sifat kasih sayang. Tapi ada satu kaidah bahwa  yang qaidah-qaidah nya memang perlu dihafal, yaitu: “Sama dalam penyebutan nama itu tidak mesti sama dalam hakikatnya.” Dalam arti kalau Allah disifati dengan rahmat dan makhluk disifati dengan rahmat, maka tidak mesti sama. Hal ini karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan penjelasan dalam Al-Qur’an:
    لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
    “Tidak ada yang sama dengan Allah dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura'[42]: 11)
    Kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala disifati dengan melihat dan manusia disifati dengan melihat, Allah disifati dengan mendengar dan manusia disifati dengan mendengar, ingat bahwa hakikat mendengarnya Allah berbeda dengan mendengarnya makhluk, hakikat melihatnya Allah tidak sama dengan hakikat melihat makhlukNya. Inilah kaidah yang sangat agung.
    Kita sebagai mukmin Ahlus Sunnah memerangi pendapat yang menyamakan Allah dengan makhlukNya. Maka Ahlus Sunnah meyakini sifat yang dinisbatkan kepada Allah berbeda dengan sifat yang disebutkan kepada makhluk (walaupun namanya sama). Ketika dinisbatkan kepada Allah, maka kita katakan: “Ini rahmat Allah sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah.” Kita mengetahui rahmat Allah luas, sedangkan rahmat manusia terbatas.
    Jadi dalam pembahasan pertama tentang asma’ dan shifat ini, mualif mengajarkan kepada kita kaidah yang sangat agung. Yaitu bahwa hakikat sifat yang ada pada sesuatu akan berbeda-beda tergantung kepada siapa sifat itu dinisbatkan. Bahkan antara makhluk dengan makhluk.
    Kalau kita melihat adanya perbedaan antara makhluk dengan makhluk. Misalnya antara tangan manusia dengan tangan monyet, kita pahami ini berbeda. Contoh yang lain ketika kita menisbatkan sifat “kuat” kepada gajah dan semut, maka kita pahamai sifat kuatnya berbeda. Gajah bisa menarik mobil, sedangkan semut baru mampu mengangkat sebutir nasi jika bersama-sama. Padahal sama-sama dinamakan kuat.
    Kalau antara makhluk dengan makhluk punya perbedaan, maka tidak mesti kalau kita menetapkan sesuatu kepada Allah sama dengan makhlukNya. Seperti kita menetapkan sifat rahmat kepada Allah, kemudian sifat rahmat kepada makhluk, maka tidak mesti sama. Karena hakikat sifat rahmat Allah berbeda dengan sifat rahmatnya manusia.
    Menit ke- Sehingga menetapkan satu sifat tidak mesti menyamakan Allah dengan makhluk. Karena hakikat sifat berbeda tergantung yang disifatinya. Kalau menetapkan sifat wajah kepada manusia, kita berkata bahwa sifat wajah bagi manusia adalah wajah yang kita lihat. Adapun untuk Allah, maka tidak ada yang serupa dengan Allah. Kita tidak boleh menganggap bahwa wajah yang dinisbatkan kepada Allah adalah wajah yang dinisbatkan kepada makhluk. Sebagaimana kita memahami (perbedaan) rahmat yang dinisbatkan kepada Allah dan rahmat yang dinisbatkan kepada makhluk.
    Sebab dalam hadits-hadits ini jelas, Allah merahmati dan manusia juga merahmati. Sehingga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan bahwa “Allah tidak merahmati orang yang tidak memiliki sifat rahmat.
    57 min
  • Cara Menasihati Anak
    Cara Menasihati Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 6 Rabiul Awal 1443H / 12 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Nasihat dan Doa Untuk Anak
    Kajian Islam Ilmiah Tentang Cara Menasihati Anak
    Saat ini kita telah sampai pada pelajaran yang dapat kita petik dari surat Luqman. Yaitu wasiat yang disampaikan oleh Luqman kepada anaknya.
    Ini merupakan salah satu surat yang berisi nilai-nilai pelajaran untuk orang tua maupun anak. Dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan dialog antara Luqman dan putranya.
    وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ…
    “Dan ingatlah ketika Luqman berkata ketika ia memberikan pelajaran kepada anaknya…” (QS. Luqman[31]: 13)
    Awali dengan sapaan
    Ini adalah salah satu metode orang-orang shalih sebelum kita dan juga oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memberikan nasihat secara khusus kepada anak-anak. Dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan kepada Ibnu Abbas:
    إِنّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ
    “Aku akan mengajarkan beberapa pelajaran.”
    Tentunya ketika berdialog dengan anak-anak, kita memang mengkhususkan satu pembicaraan itu sebagai sebuah nasihat dari orang tua kepada anak. Diperlukan perhatian dari orang tua kepada anaknya. Dan kata-kata ataupun kalimat yang memancing perhatiannya.
    Mengawali pembicaraan dengan sapaan atau seruan ini berfungsi untuk menarik perhatian ataupun meminta supaya memperhatikan apa yang dikatakan. Sehingga ayah berbicara dan anak mendengar/menyimak, tidak saling berbalas kata-kata.
    Prioritas
    Luqman berkata:
    يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ
    “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah.” (QS. Luqman[31]: 13)
    Semua perkara dalam agama itu penting, tapi dari yang penting itu ada yang lebih penting. Sehingga kita harus bisa menentukan skala prioritas di dalam memberikan pelajaran kepada anak.
    Perkara yang terpenting di sini adalah perkara yang berkaitan dengan aqidah tauhid. Karena ini merupakan sebab manusia itu diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Dan sebagaimana kita sebutkan sebelumnya bahwa tugas terpenting orang tua adalah mengawal tauhid anaknya. Karena dia lahir dengan segel tauhid yang melekat pada dirinya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
    “Setiap bayi lahir dengan membawa fitrahnya (tauhid).” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Maka di sini Luqman berpesan agar jangan melakukan syirik, baik itu syirik kecil apalagi syirik besar.
    Jelaskan alasannya
    Luqman berkata:
    إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
    “Sesungguhnya kesyirikan adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman[31]: 13)
    Terkadang dalam memberikan pelajaran kepada anak, tidak hanya perkara-perkara pokok tanpa menjelaskan alasan. Tapi kita perlu menjelaskan alasan. Misalnya mengapa dia harus shalat, mengapa tidak boleh berbohong, dan seterusnya.
    Seperti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika melarang Al-Hasan kurma zakat, maka Nabi menjelaskan kepada Al-Hasan kenapa ia dilarang tidak boleh memakan kurma zakat. Yaitu karena beliau adalah cucu Nabi, maka tidak halal memakan harta zakat.
    Kadang-kadang orang tua bisa menyuruh, bisa memerintah, dan bisa melarang, tapi tidak bisa menjelaskan alasan. Maka dari itu orang tua tentunya harus membekali diri juga dengan pengetahuan.
    1 hr 3 min
  • Kisah Ashabul Ukhdud
    Kisah Ashabul Ukhdud adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 5 Rabiul Awal 1443H / 11 Oktober 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Kisah Ashabul Ukhdud
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    كَانَ مَلِكٌ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ وَكَانَ لَهُ سَاحِرٌ فَلَمَّا كَبِرَ قَالَ لِلْمَلِكِ إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ فَابْعَثْ إِلَيَّ غُلَامًا أُعَلِّمْهُ السِّحْرَ فَبَعَثَ إِلَيْهِ غُلَامًا يُعَلِّمُهُ
    “Ada seorang raja dari kaum sebelum kalian yang mempunyai tukang sihir. Ketika sudah tua tukang sihir ini berkata kepada raja tersebut: ‘Aku sudah tua, utuslah kepadaku seorang anak muda yang aku akan ajarkan sihir kepadanya.’ Maka raja tersebut mengutus seorang anak muda kepadanya untuk diajarkan sihir.”
    Sebagian pemimpin (baik dulu sampai sekarang) menggunakan sebagian tukang sihir untuk menyelesaikan sebagian urusan mereka. Tentunya perbuatan mereka ini adalah perbuatan yang haram dan tercela.
    Tukang-tukang sihir adalah orang-orang yang suka merusak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئْتُم بِهِ السِّحْرُ ۖ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ
    “Ketika mereka melemparkan tongkat dan tali, Musa berkata: ‘Yang kalian datangkan adalah sihir, sesungguhnya Allah akan membatalkannya’ Sesungguhnya Allah tidak akan memperbaiki amalan orang-orang yang merusak.” (QS. Yunus[10]: 81)
    Dalam kisah ini kita tahu bahwa orang-orang yang membawa kebatilan juga mencari murid-murid untuk meneruskan kesesatannya. Maka orang yang membawa kebenaran tidak boleh diam, hendaknya terus berdakwan mengajarkan ilmu, mempunyai murid juga untuk menyampaikan kebenaran, tidak terputus.
    Tukang sihir ini bukannya taubat, tapi dia justru ingin mempunyai murid. Padahal ini merupakan keburukan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    من سن سنة سيئة، كان عليه وزرها، ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء
    “Orang yang memberikan contoh yang jelek, dia akan mendapatkan dosanya. Dan dia juga akan menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)
    Ini merupakan ancaman dari Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada orang yang mengajarkan kesesatan/keburukan, mencontohkan kejelekan. Begitu juga orang yang berfatwa dengan fatwa yang salah, dia berkata dengan perkataan yang menyimpang tentang Allah, tentang Islam, tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tentang Al-Qur’an, kemudian diajarkan. Dia akan diikuti oleh murid-muridnya dan dia akan mendapatkan dosa.
    Lanjutan kisahnya..
    فَكَانَ فِي طَرِيقِهِ إِذَا سَلَكَ رَاهِبٌ فَقَعَدَ إِلَيْهِ وَسَمِعَ كَلَامَهُ فَأَعْجَبَهُ فَكَانَ إِذَا أَتَى السَّاحِرَ مَرَّ بِالرَّاهِبِ وَقَعَدَ إِلَيْهِ فَإِذَا أَتَى السَّاحِرَ ضَرَبَهُ فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى الرَّاهِبِ فَقَالَ إِذَا خَشِيتَ السَّاحِرَ فَقُلْ حَبَسَنِي أَهْلِي وَإِذَا خَشِيتَ أَهْلَكَ فَقُلْ حَبَسَنِي السَّاحِرُ
    “Ketika anak muda itu berjalan, dia berjumpa dengan Rahib. Kemudian dia duduk mendengarkan nasihat Rahib dan dia merasa takjub/tartarik. Kemudian setiap kali dia mendatangi tukang sihir selalu melewati tukang sihir itu dan selalu duduk mendengarkan Rahib. Ketika terlambat mendatangi tukang sihir, maka dia dipukul. Kemudian dia mengadukan perkaranya kepada Si Rahib. Kemudian Rahib berkata: ‘Kalau kau takut kepada tukang sihir,
    44 min
  • Bacaan Dzikir Pagi Bagian 3
    Bacaan Dzikir Pagi Bagian 3 merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 4 Rabi’ul Awal 1443 H / 11 Oktober 2021 M.

    Kajian Tentang Bacaan Dzikir Pagi Bagian 3
    Pada pertemuan sebelumnya kita telah mulai pembahasan tentang dzikir-dzikir yang khusus dibaca dipagi hari. Kali ini kita akan memasuki pembahasan tentang bacaan ketiga yang disunnahkan untuk dibaca dipagi hari.
    Bacaan yang ketiga ini berbunyi:
    أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
    “Pagi ini kami berpegang dengan fitrah Islam, dan dengan kalimat tauhid, dan dengan agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan juga dengan agama ayah kita Ibrahim, yang tegak diatas jalan yang lurus, tunduk serta tidak termasuk kaum musyrikin.” Dibaca 1 x dipagi hari.
    Dalil yang melandasi bacaan ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Sanadnya dinilai shahih oleh Imam Al-Iraqi dan Syaikh Al-Albani bahwa salah satu sahabat Nabi yang bernama Abdurrahman bin Abza Radhiyallahu ‘Anhu, beliau menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila memasuki waktu pagi membaca dzikir tadi.
    Kandungan doa
    Hadits ini mengajak kita untuk mengingat nikmat-nikmat Allah. Jadi dipagi seharusnya kita awali dengan mengingat nikmat-nikmat Allah, terutama nikmat yang sifatnya ukhrawi. Jangankan setelah shalat subuh, bahkan begitu kita bangun pun kita membaca:
    اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
    “Segala puji bagi Allah yang bisa membuat kita hidup kembali setelah tadi kita baru dimatikan oleh Allah dan nanti kita pun juga akan dibangkitkan untuk menemui Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Nikmat ukhrawi
    Nikmat ini sering dilupakan. Padahal nikmat ukhrawi lebih berharga daripada nikmat duniawi. Karena nikmat ukhrawi itu kekal abadi, akan membawa kepada kekekalan di dalam negeri kenikmatan, yaitu surga. Adapun nikmat duniawi itu sifatnya hanya sementara.
    Kita diajak untuk menghayati nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita supaya kita banyak bersyukur. Kalau bersyukur maka hidup kita akan tenang, damai dan tentram. Sebaliknya, kalau kita tidak suka bersyukur, maka hidup kita akan gelisah.
    Dalam hadits ini ada empat nikmat Allah yang bersifat ukhrawi, yaitu:

    * Menit ke- Nikmat fitrah Islam,
    * Menit ke- Nikmat kalimat tauhid,
    * Menit ke- Nikmat berpegang dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
    * Menit ke- Nikmat ajaran Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam.

    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian Bacaan Dzikir Pagi Bagian 3

    Radio Rodja 756AM · Fikih Doa dan Dzikir – Bacaan Dzikir Pagi Bag 3
    Mari turut membagikan link download kajian “Bacaan Dzikir Pagi Bagian 3” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita s...
    52 min
  • Orang-Orang Yang Mengingkari Hari Kebangkitan
    Orang-Orang Yang Mengingkari Hari Kebangkitan merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Al-Qiyamah Ash-Shughra yang disampaikan oleh Ustadz Ali Nur, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 4 Rabi’ul Awal 1443 H / 11 Oktober 2021 M.

    Kajian Tentang Orang-Orang Yang Mengingkari Hari Kebangkitan
    Sejak dahulu sampai sekarang masih banyak orang-orang yang mendustai hari berbangkit. Sebagian mereka ada yang menetapkan adanya hari berbangkit tapi menggambarkan tidak sesuai dengan gambaran yang digambarkan oleh para Rasul.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perkataan orang-orang yang mendustakan hari berbangkit, lantas Allah cela dan ancam mereka. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَإِن تَعْجَبْ فَعَجَبٌ قَوْلُهُمْ أَإِذَا كُنَّا تُرَابًا أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
    “Kalau kamu merasa heran dengan perkataan mereka, sungguh yang lebih aneh lagi ucapan mereka: ‘Apabila kami sudah menjadi tanah, apakah kami nanti akan diciptakan dengan makhluk yang baru?’ Mereka itulah orang-orang yang kafir kepada Rabb mereka; dan mereka nanti di neraka Jahannam akan dibelenggu leher-leher mereka, mereka itulah penghuni neraka, dan mereka kekal di dalamnya.”  (QS. Ar-Ra’d[13]: 5)
    Oleh karena itu mereka yang mengingkari adanya hari berbangkit sama artinya mereka telah kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena hari berbangkit itu termasuk salah satu keimanan yang wajib kita imani. Itu termasuk dalam salah satu daripada rukun iman yang apabila ada dari rukun iman yang diingkari, maka orang tersebut kafir terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman menceritakan bagaimana olok-olok orang-orang kafir yang mendustakan hari berbangkit ini.
    وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ ‎﴿٢٩﴾‏ وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ وُقِفُوا عَلَىٰ رَبِّهِمْ ۚ قَالَ أَلَيْسَ هَٰذَا بِالْحَقِّ ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَرَبِّنَا ۚ قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ ‎﴿٣٠﴾
    “Mereka mengatakan: ‘Kehidupan hanya satu kehidupan dunia ini saja, dan kita tidak akan dibangkitkan.’ Kalau nanti (pada hari kiamat) kamu melihat mereka berdiri di hadapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian Allah berfirman: ‘Bukankah hari ini adalah sebuah kebenaran?’ Mereka menjawab: ‘Benar, demi Allah’. Maka Allah pun berkata: ‘Kalau begitu rasakanlah adzab akibat kekafiran yang kamu lakukan'”. (QS. Al-an’am[6]: 29-30)
    Disitulah akan muncul penyesalan demi penyesalan yang tidak ada bandingannya dan penyesalan yang tidak akan ada gunanya sama sekali. Adapun jika penyesalan itu terjadi sekarang di alam dunia, maka masih ada kesempatan untuk bertaubat dan beriman kepada hari berbangkit.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajianyang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Orang-Orang Yang Mengingkari Hari Kebangkitan – Al-Qiyamah Ash-Shughra
    Mari turut membagikan link download kajian ini ke jejaring sosial Fac...
    56 min
  • Fiqih Seputar Shalat Isya’ dan Subuh
    Fiqih Seputar Shalat Isya’ dan Subuh ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 4 Rabi’ul Awal 1443 H / 11 Oktober 2021 M.

    Download kajian sebelumnya: Waktu Shalat Isya’
    Kajian Fiqih Seputar Shalat Isya’ dan Subuh
    Mengakhirkan shalat isya’
    Shalat isya’ termasuk di antara shalat yang disunnahkan untuk diakhirkan. Berbeda dengan shalat-shalat yang lainnya, dimana sunnahnya adalah dilakukan diawal waktu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ أَنْ يُؤَخِّرُوا الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفِهِ
    “Seandainya aku tidak hawatir memberatkan umatku, aku akan perintahkan mereka untuk mengakhirkan shalat isya’ sampai sepertiga malam atau sampai pertengahan malam.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
    Ini menunjukkan bahwa shalat isya’ itu lebih afdhalnya dilaksanakan di akhir waktu. Namun apabila masyarakat berat untuk menjalankan shalat isya’ di akhir waktu, maka sebaiknya tidak mengakhirkan shalat isya’. Yang lebih baik bagi masyarakat yang demikian adalah melakukan shalat isya’ di awal waktu. Karena apabila kita lakukan di akhir waktu, maka itu akan sangat memberatkan mereka. Itu juga akan menjadikan mereka tidak senang untuk shalat berjamaah shalat isya’ bersama kita. Sehingga jamaah yang ke masjid menjadi sedikit.
    Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kadang-kadang melakukan shalat isya’ di awal waktu, juga kadang-kadang melakukan shalat isya’ di akhir waktu. Apabila beliau melihat para sahabat sudah berkumpul di awal waktu, maka beliau menyegerakan shalat isya’. Apabila beliau melihat para jemaah agak telat, maka beliau mengakhirkan shalat isya’.
    Ini menunjukkan bahwa sebagai seorang imam kita harus memperhatikan keadaan makmum. Apabila para makmum berat menjalankan sesuatu yang paling afdhal, maka ada baiknya kita memilih tingkatan yang dibawahnya. Yang penting masih sesuai dengan tuntunan syariat. Ini untuk menjadikan hati kaum muslimin senang dengan ajaran Islam.
    Dimakruhkan tidur sebelum shalat isya’
    Menit ke- Selain dimakruhkan untuk tidur sebelum shalat isya’, kita juga dimakruhkan ngobrol (berbincang-bincang panjang lebar) setelah shalat isya’. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيْثَ بَعْدَهَ
    “Dahulu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak suka tidur sebelum isya’ dan beliau tidak suka ngobrol setelah shalat isya’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Karena kalau kita tidur sebelum shalat isya’, bisa jadi kita tidak bangun kecuali setelah waktu shalat isya’ selesai.  Adapun dimakruhkannya gobrol setelah shalat isya’ adalah karena bisa jadi nanti akhirnya perbincangan kita panjang sekali sehingga akhirnya kita begadang. Ketika kita begadang maka dikhawatirkan nanti shalat subuhnya yang hilang, atau paling tidak menjadikan kita semakin sulit untuk shalat malam.
    Hukum makruh ini bisa hilang ketika ada kebutuhan. Para ulama mengatakan bahwa tidak ada hukum makruh ketika ada kebutuhan untuk menjalankannya. Sehingga apabila pada keadaan tertentu kita membutuhkan obrolan setelah shalat isya’, maka menjadi tidak makruh. Misalnya ada permasalahan yang dihadapi oleh kaum muslimin akhirnya kita membuat rapat setelah shalat isya’, maka hukum makruhnya hilang karena adanya kebutuhan.
    1 hr 7 min
  • Hadits Tentang Sifat Ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala
    Hadits Tentang Sifat Ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Tentang Nama-Nama Allah dan Sifat-SifatNya. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 02 Rabiul Awal 1443 H / 08 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Para Sahabat Tidak Ada Yang Mentakwil Istawa’ dengan Istaula

    Kajian Hadits Tentang Sifat Ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala
    Sebelumnya kita sudah menjelaskan sebagian dalil dari Al-Qur’an bahwa Allah Maha Tinggi. Pada kesempatan kali ini kita akan menyebutkan sebagian dari hadits-hadits Shahih yang menjelaskan sifat ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah itu kita akan menukil sebagian dari perkataan ulama Salaf yang menjadi panutan kita di dalam beragama.
    Di antara hadits yang menjelaskan sifat ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِنَّ اللَّهَ لَمَّا قَضَى الخَلْقَ، كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي
    “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala menentukan takdir makhluk, takdir tersebut ditulis di sebuah kitab dan kitab tersebut ada di sisi Allah di atas ‘Arsy: ‘Sesungguhnya rahmatKu mendahului murkaKu’” (HR. Bukhari)
    Hadits ini tentunya sesuai dengan ayat yang menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala diatas ‘Arsy, diatas makhlukNya. Menunjukkan kepada kita bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Tinggi.
    Sifat Al-‘Uluw merupakan sifat dzatiyah, yaitu yang senantiasa menyertai diri Allah. Sebelum Allah menciptakan ‘Arsy, Allah telah Maha Tingi.
    Lihat: Sifat Dzatiyah dan Fi’liyah
    Di antara dalil yang menjelaskan ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah perkataan Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy Radhiyallahu ‘Anha. Yaitu bagaimana proses Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahi beliau. Ummul Mukminin Zainab merasa bangga tatkala dimana akad pernikahan tersebut disahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah yang langsung menghalalkan hal itu untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ummul Mukminin Zainab berkata:
    زوجُكُنَّ أهْلوكُنَّ وزوَّجَنيَ اللَّهُ من فوقِ سبعِ سماواتٍ
    “Kalian dinikahkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam oleh wali-wali kalian, sementara aku dinikahkan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari atas langit yang tujuh.” (HR. Tirmidzi)
    Ini menunjukkan kepada kita bahwa para shahabiyat mengimani, ini merupakan fitrah yang telah terpatri dalam hati mereka bahwa Allah Maha Tinggi. Kemudian datang ayat dan hadits-hadits mempertegas apa yang diyakini oleh fitrah dan akal yang sehat.
    Juga di antara hadits yang menjelaskan ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas seluruh makhlukNya, yaitu hadits yang menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ…
    “Allah yang pertama, yang terakhir, dzahir dan batin…” (QS. Al-Hadid[57]: 3)
    Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menafsirkan makna dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut:
    اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ
    “Ya Allah, Engkau Yang Maha Pertama, tidak ada  suatupun sebelumMu.
    1 hr 25 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah