Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Urgensi Penetapan Sifat Ilmu Bagi Allah
    Urgensi Penetapan Sifat Ilmu Bagi Allah merupakan kajian Islam ilmiah Shahih Bukhari Kitab Tauhid yang disampaikan oleh Ustadz Abu Qotadah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 13 Rabiul Awal 1443 H / 19 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Hakikat Sifat Tergantung Kepada Siapa Sifat Itu Dinisbatkan

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Urgensi Penetapan Sifat Ilmu Bagi Allah
    Imam Bukhari di sini ingin menetapkan sifat ilmu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا
    “Allah mengetahui perkara-perkara yang ghaib lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menampakan kepada siapapun tentang perkara yang ghaib.” (QS. Al-Jin[72]: 26)
    Dari ayat ini diketahui bahwa siapa saja yang mengklaim tahu perkara yang ghaib, maka dia telah kafir. Oleh sebab itu disebutkan oleh para ulama -sebagaimana juga disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab- bahwa salah satu pembatal keimanan adalah orang yang mengklaim tahu perkara yang ghaib.
    Kemudian Imam Bukhari membawakan Surah Luqman Ayat 34:
    إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ…
    “Sesungguhnya hanya disisi Allah ilmu tentang hari kiamat…” (QS. Luqman[31]: 34)
    Hal ini menunjukkan bahwa kapan terjadinya hari kiamat termasuk dari perkara yang ghaib dan termasuk ilmu yang dikhususkan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Kemudian Imam Bukhari membawakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    أَنزَلَهُ بِعِلْمِهِ
    “Allah menurunkan Al-Qur’an dengan ilmuNya.” (QS. An-Nisa[4]: 166)
    Lalu Imam Bukhari membawakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ
    “Allah Maha Mengetahui apa yang dikandung oleh seorang wanita ketika dia hamil dan juga tidaklah seseorang dilahirkan oleh ibunya kecuali dengan ilmu Allah Ta’ala.” (QS. Fatir[35]: 11)
    Dalam arti Allah mengetahui kapan akan lahir, termasuk detiknya kapan, laki-laki atau perempuan, akan sehat atau sakit, berapa umurnya, apakah termasuk orang yang muslim atau kafir, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat tahu itu semua.
    Kemudian penulis membawakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    إِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِ
    “KepadaNya dikembalikan ilmu tentang hari kiamat.” (QS. Fussilat[41]: 47)
    Dalam artian tidak ada makhluk -termasuk para malaikat, para Nabi dan Rasul- kapan akan terjadinya hari kiamat. Oleh sebab itu kalau ada orang yang mengklaim tahu kapan terjadinya hari kiamat, maka dia telah kafir. Adapun disebutkan tanda-tanda akan terjadinya hari kiamat, tentu ini telah disebutkan di dalam hadits-hadits yang shahih tentang adanya ciri-ciri kiamat. Tetapi kapan akan terjadinya hari kiamat maka itu tidak ada yang tahu kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Hadits yang dibawakan beliau ada dua, yaitu:
    Dari Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    مفاتيح الغيب خمس لا يعلمها إلا الله لا يعلم ما تغيض الأرحام إلا الله ولا يعلم ما في غد إلا الله ولا يعلم متى يأتي المطر أحد إلا الله ولا تدري نفس بأي أرض تموت إلا الله ولا يعلم متى تقوم الساعة إلا الله
    “Kunci perkara ghaib itu ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. (1) Tidak ada yang tahu apa yang ada di rahim kecuali Allah, (2) Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok kecuali Allah, (3) Tidak ada yang tahu akan turunnya hukan kecuali Allah,
    56 min
  • Hadits-Hadits Nabi Tentang Pendidikan
    Hadits-Hadits Nabi Tentang Pendidikan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 13 Rabiul Awal 1443 H / 19 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Cara Menasihati Anak
    Kajian Islam Ilmiah Tentang Hadits-Hadits Nabi Tentang Pendidikan
    Kita telah sampai pada lampiran kedua, yaitu hadits-hadits Nabi yang mungkin perlu kita sampaikan kepada anak-anak, khususnya yang berkaitan dengan tarbiyah ataupun pendidikan.
    Di antaranya hadits yang sangat populer, dan ini adalah salah satu dasar di dalam memberikan pelajaran kepada anak-anak. Yaitu hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    يَا غُلاَمُ إِنّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ فَحْفَظْ هُنَّا
    “Wahai bocah, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa pelajaran dan ingatlah pelajaran itu.”
    Ini adalah salah satu faidah agar para pendidik menyampaikan kata-kata yang memancing perhatian ataupun atensi dari anak didik kita. Misalnya seperti panggilan ‘Ya Ghulam,’ atau ‘Ya Bunayya,’ dan seterusnya. Ini juga berguna untuk menunjukkan keakraban kepada anak-anak didik kita.
    Hal ini perlu, karena hati mereka bukan ditangan kita, tapi di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mudah-mudahan dengan kata-kata yang memancing perhatiannya dan menumbuhkan keakraban itu hatinya lebih siap menerima dan lebih terbuka.
    Jauhi hal-hal yang seolah-olah kita mendiktenya atau memaksanya atau merendahkannya yang kadang-kadang membuat dia lari. Dia sudah pasang kuda-kuda untuk menolak apa yang kita sampaikan. Maka pancinglah dengan panggilan-panggilan yang membawa suasana hangat dan menambah kedekatan kita kepada anak didik. Sehingga mereka merasa nyaman mendengarkan kata-kata kita.
    Nasihat-nasihat agama itu adalah suatu yang berat. Allah mengatakan:
    إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
    “Sungguh Kami akan turunkan kepadamu kata-kata yang berat.” (QS. Al-Muzzammil[73]: 5)
    Syaikh Al-Albani Rahimahullah mengatakan:
    الحق ثقيل، فلا تثقلوه أكثر بسوء أخلاقكم
    “Kebenaran itu berat, maka jangan diperberat lagi dengan akhlak yang buruk.”
    Dengan cara/metode yang salah, maka membuat kebenaran itu semakin bertambah berat. Hal ini tentu perlu diperhatikan oleh para pendidik.
    Terkadang perlu menyisipkannya dengan doa-doa, misalnya kita mengatakan: “Semoga Allah merahmatimu, semoga Allah menjagamu,” dan kata-kata semacam itu yang menunjukkan bahwa kita betul-betul menghendaki kebaikan bagi dirinya. Karena kadang-kadang anak itu curiga dengan nasihat yang akan kita sampaikan. Mereka mengira ini untuk kepentingan ayah atau ibu. Maka doa-doa yang diselingi disela-sela kalimat itu membantunya untuk menumbuhkan kepercayaan kepada apa yang akan kita katakan.
    Bagaimanan penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Hadits-Hadits Nabi Tentang Pendidikan
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Hadits-Hadits Nabi Tentang Pendidikan” ini ...
    50 min
  • Keistimewaan Ayat Kursi
    Keistimewaan Ayat Kursi adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 13 Rabiul Awal 1443 H / 19 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Keistimewaan Surah Al-Falaq An-Nas Al-Mulk dan Al-Baqarah
    Keistimewaan Surah Al-Falaq An-Nas Al-Mulk dan Al-Baqarah
    Ayat Kursi ini adalah ayat yang ke-255 dari surat Al-Baqarah. Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata:
    Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, beliau berkata: “Pernah aku diwakilkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menjaga zakat Ramadhan. Maka suatu ketika datang kepadaku seseorang dan mengambil zakat tersebut. Maka aku memegangnya lalu berkata: ‘Sungguh aku benar-benar akan melaporkan perbuatanmu ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.’
    Kata orang tersebut: ‘Sesungguhnya aku adalah orang yang betul-betul butuh dan aku mempunyai tanggungan dari keluargaku dan aku sungguh betul-betul mempunyai kebutuhan dengan makanan ini.’ Maka kata Abu Hurairah: ‘Aku lepaskan dan aku biarkan dia pergi.’
    Ketika dipagi hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepadaku: ‘Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh orang yang kau tahan itu semalam?’ Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, orang itu mengeluh kepadaku tentang kebutuhannya, aku kasihan kepadanya, maka aku lepas dia untuk pergi.’
    Mendengar jawaban Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
    أما إنه قد كذبك وسيعود
    ‘Ketahuilah bahwa dia berdusta padamu dan dia akan kembali.’
    Maka aku pun mengetahui bahwasanya orang itu akan datang lagi. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengatakan begitu. Maka aku pun menunggunya.
    Ternyata orang itu betul-betul datang kemudian dia mengambil zakat lagi dengan kedua tangannya. Maka aku katakan kepadanya: ‘Sungguh aku benar-benar akan menyampaikan tentang perbuatanmu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.’
    Kata orang tersebut: ‘Lepaskan aku, sesungguhnya aku betul-betul butuh dan aku mempunyai tanggungan, aku tidak akan kembali lagi.’ Maka aku pun merasa kasihan kepada orang itu, lalu aku lepas dia untuk pergi.
    Ketika dipagi hari maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepadaku: ‘Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh orang yang engkau tahan semalam itu?’
    Aku menjawab: ‘Ya Rasulullah, dia mengadu kepadaku tentang kebutuhan dan tanggungan beban keluarganya. Aku pun kasihan pada orang itu. Maka aku lepas dia untuk pergi.’
    Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    إنه قد كذبك وسيعود
    ‘Sesungguhnya dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali.’
    Maka aku menunggu orang ini yang ketiga kalinya. Kemudian betul datang lagi orang itu di malam hari. Dia mengambil dari makanan zakat itu dengan kedua telapak tangannya. Maka aku menahan dia dan mengatakan: ‘Sungguh aku benar-benar akan mengangkat permasalahanmu ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallama. Ini sudah yang ketiga kali dan ini yang terakhir. Engkau selalu mengatakan bahwasanya tidak akan kembali, ternyata kemudian engkau kembali.’
    Maka kata orang itu: ‘Biarkan aku, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu satu kalimat ...
    1 hr 9 min
  • Bangunan Rumah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Bangunan Rumah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 12 Rabi’ul Awal 1443 H / 18 Oktober 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Bangunan Rumah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Bab 334 – Bab tentang bangunan
    Semua orang ingin punya rumah, bahkan itu menjadi salah satu kebutuhan pokok. Sehingga semua berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari terik mentari dengan teduhnya atap rumah, dari dinginnya angin dengan adanya tembok-tembok yang mengelilingi bangunan rumahnya.
    Di sini Al-Imam Bukhari menyebutkan dua hadits. Yang pertama:
    عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ هِلَالٍ: أَنَّهُ رَأَى حُجَرَ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جَرِيدٍ مَسْتُورَةً بِمُسُوحِ الشَّعْرِ
    “Dari Muhammad bin Hilal bahwa dia melihat kamar istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terbuat dari pelepah kurma yang disusun lalu ditutup menggunakan sejenis kain/kulit kambing.”
    Seperti itu kamar-kamar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sehingga kalau membuat rumah dimasa itu, maka sepekan rumah itu jadi dan bisa ditinggali. Adapun sekarang membuat rumah membutuhkan waktu yang sangat lama dan menghabiskan banyak uang untuk membuat bangunan yang terkadang tidak terlalu bermanfaat untuk mereka.
    Terkadang ada yang rumahnya sangat besar, tapi anaknya hanya satu. Sedangkan untuk menyumbang membangun rumah Allah, bangunan yang dimanfaatkan oleh umat manusia, yang dia dengan membangun rumah Allah akan Allah gantikan dengan istana di surga, hanya sedikit yang dia donasikan untuk hal itu.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ
    “Barangsiapa yang membangunkan untuk Allah masjid, maka Allah akan bangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. Ahmad)
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau hijrah sampai ke Kota Madinah. Beliau tidak langsung masuk ke jantung kota Madinah, tapi beliau singgah di Quba, pinggiran kota Madinah. Yang pertama beliau lakukan adalah membangun masjid. Setelah itu beliau melanjutkan perjalanan ke dalam kota Madinah. Beliau tidak punya rumah sehingga menumpang di rumahnya Abu Ayyub Al-Anshari. Beliau fokus konsentrasi membangun masjid. Setelah selesai membangun masjid beliau baru membangun kamar-kamar istrinya.
    Maka ini nasihat untuk umat Islam agar ketika ingin membangun rumah, jangan lupa untuk mengeluarkan harta yang banyak untuk membangun rumah di surga.
    Kemudian Muhammad bin Hilal ditanya: ‘Bagaimana sih rumahnya ‘Aisyah?’ Dia menjawab:
    كَانَ بَابُهُ مِنْ وِجْهَةِ الشَّامِ
    “Pintunya ke arah Syam (membelakangi kiblat).”
    Lalu ditanya lagi: ‘Pintu rumahnya itu dua daun pintu atau satu daun pintu?’ Dia menjawab:
    كَانَ بَابًا وَاحِدًا
    “Pintunya satu, bukan dua daun pintu.”
    Kemudian ditanya lagi: ‘Pintunya terbuat dari apa?’ Maka dijawab:
    مِنْ عَرْعَرٍ أو ساج
    “Dari kayu Arar atau (seperti) kayu jati.”
    Seperti itu bangunan rumah Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam. Sehingga teman-teman yang mungkin rumahnya RSSS (rumah sangat sempit sekali) hendaklah bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Coba lihat bagaimana rumah Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam. Beliau adalah makhluk paling indah dan paling dicintai Allah, tapi ternyata rumahnya sangat sederhana sekali.
    1 hr 26 min
  • Faedah-Faedah Dari Kisah Ashabul Ukhdud
    Faedah-Faedah Dari Kisah Ashabul Ukhdud adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 12 Rabi’ul Awal 1443 H / 18 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Kisah Ashabul Ukhdud

    Ceramah Agama Islam Tentang Faedah-Faedah Dari Kisah Ashabul Ukhdud
    Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ashabul ukhdud adalah sebagai berikut:
    Haramnya Sihir
    Sihir itu hukumnya haram, tidak dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bisa mendorong pelakunya kepada seluruh keburukan/kejelekan/dosa/maksiat. Ini didasari dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ أَتَى عَلَى دَابَّةٍ عَظِيمَةٍ قَدْ حَبَسَتْ النَّاسَ فَقَالَ الْيَوْمَ أَعْلَمُ آلسَّاحِرُ أَفْضَلُ أَمْ الرَّاهِبُ أَفْضَلُ فَأَخَذَ حَجَرًا فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ أَمْرُ الرَّاهِبِ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ أَمْرِ السَّاحِرِ فَاقْتُلْ هَذِهِ الدَّابَّةَ حَتَّى يَمْضِيَ النَّاسُ فَرَمَاهَا فَقَتَلَهَا وَمَضَى النَّاسُ
    “Ketika anak muda tadi berjalan kemudian ternyata di jalan itu ada binatang yang sangat besar menghalangi jalannya manusia. Kemudian anak muda tadi berkata: ‘Pada hari ini aku akan mengetahui siapa yang paling utama, apakah tukang sihir atau si Rahib.’ Kemudian dia pun mengambil batu kecil, dan dia berkata: ‘Ya Allah, apabila perkara Rahib itu lebih Engkau cintai dari perkaranya tukang sihir, maka bunuhlah dia.’ Ketika dilempar akhirnya binatang itu mati dan manusia bisa lewat lagi.”
    Ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai sihir dan tukang-tukang sihir. Kita diharamkan untuk mendatangi tukang-tukang sihir dan diharamkan untuk belajar sihir.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala melabeli tukang sihir dengan ‘mujrim’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّهُ مَن يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ
    “Sesungguhnya yang mendatangi Rabbnya dalam keadaan mujrim (berdosa), maka dia akan masuk neraka jahanam, dia tidak hidup juga tidak mati.” (QS. Thaha[20]: 74)
    Mujrim di sini adalah tukang sihir, karena ayat yang mulia ini sebelumnya bicara tentang pertempuran antara Musa dan Harun melawan tukang-tukang sihir.
    Tukang sihir adalah setan
    Tukang sihir ini setan. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ
    “Nabi Sulaiman tidak kafir akan tetapi setan-setan itu yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah[2]: 102)
    Dalam ayat ini tukang-tukang sihir disebut ‘setan-setan’.
    Tukang sihir suka berbohong
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَن تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ ‎﴿٢٢١﴾‏ تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ ‎﴿٢٢٢﴾
    “Apakah mau aku beritakan kepada kalian, kepada siapa setan-setan itu turun. Setan-setan itu turun kepada setiap orang yang banyak berdusta.” (QS. Asy-Su’ara[26]: 221-222)
    Oleh karena itu tukang sihir ini tidak akan pernah beruntung selamanya dan tidak akan pernah menang selamanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ
    “Tukang sihir selamanya tidak akan pernah beruntung.” (QS. Thaha[20]: 69)
    Jadi kenapa kita datang kepada tukang sihir?
    48 min
  • Iblis Mengutamakan Qiyas daripada Hadits
    Iblis Mengutamakan Qiyas daripada Hadits adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 11 Rabi’ul Awal 1443 H / 18 Oktober 2021 M.

    Kajian Islam Tentang Iblis Mengutamakan Qiyas daripada Hadits
    Pada kesempatan ini kita akan membicarakan tentang salah satu talbis iblis terhadap orang-orang yang berkecimpung di dalam bidang fiqih. Yaitu iblis menjadikan mereka mengutamakan qias daripada hadits. Ini tipu daya yang dilakukan oleh iblis terhadap manusia, dan ini merupakan salah satu sebab dia tidak melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika diperintahkan untuk sujud kepada Adam, maka dia menolaknya dengan argumentasi:
    أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
    “Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS. Al-A’raf[7]: 12)
    Iblis merasa unsur penciptaannya (yaitu api) lebih baik daripada tanah. Maka menurut analogi yang dia pakai bahwa tidak layak dirinya untuk sujud kepada Adam. Seharusnya sebaliknya, Adam yang sujud kepada iblis. Maka diapun menolak perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan qiyas yang rusak. Ini yang dibisikkan oleh iblis ke telinga manusia untuk melakukan analogi-analogi yang keliru dan membuat mereka takjub dengan logika yang mereka miliki.
    Salah satu di antara perkara yang menjadikan banyak menyimpang dari sunnah adalah penggunaan qiyas yang berlebihan dan tidak pada tempatnya. Yaitu qiyas tapi tidak ada kesamaan antara sesuatu yang diqiyaskan dengan materi qiyasnya. Hingga terjadi kekeliruan di dalam istimbat hukum dan muncullah hal-hal yang berseberangan dan bertolak belakang dengan sunnah atau dengan apa-apa yang dikenal oleh para sahabat.
    Tentunya qiyas adalah salah satu thariqul istimbat furu’iyyah yang bisa digunakan, tapi dengan ketentuan-ketentuan yang telah dijelaskan oleh para ulama. Yaitu:

    * adanya illat yang menyatukan antara keduanya,
    * ada kesamaan antara keduanya dan tidak ada perbedaan.

    Karena inti dari qiyas yang shahih adalah menyatukan perkara-perkara yang sama dalam hal illat dan lainnya dalam satu hukum dan membedakan hal-hal yang tidak sama. Tapi ketika ini digunakan secara serampangan, maka kadang-kadang hal yang tidak sama disamakan, hal yang berbeda disatukan, hingga terjadi kesalahan hukum.
    Semua ini tidak lepas dari penggunaan logika yang terlalu luas ataupun tidak pada tempatnya. Melakukan analisis berdasarkan logika yang terlalu berlebih-lebihan.
    Ini tentunya satu dorongan yang ditiupkan oleh iblis ke dalam pikiran manusia. Atas dasar itu apabila salah ada salah seorang dari mereka yang berdalil dengan hadits, maka akan dicela dan ditolak dengan argumentasi “Perlu ditimbang dulu dengan logika” apakah hadits itu relevan atau tidak.
    Maka terjadilah benturan antara hadits dengan analogi-analogi manusia. Padahal salah satu adab syar’i dalam berdalil adalah mendahulukan hadits atau nash daripada qiyas atau analogi. Maka dari itu fuqaha ahlul hadits yang membagi dalil syar’i menjadi dua bagian besar. Yaitu:

    * Sumber hukum asli (Al-Qur’an dan hadits),
    * Sumber hukum yang mengikut kepada yang asli (qiyas, ijma’, dll)

    Dalam hal ini tentunya kalau ada sumber hukum yang asli itu lebih didahulukan daripada yang taba’i. Talbis iblis dalam masalah ini adalah sebagian orang yang mungkin berkecimpung di dalam istimbath al-ahkam, mereka didorong untuk berlebih-lebihan di dalam menggunakan logika ataupu...
    39 min
  • Dalil-Dalil Hari Berbangkit
    Dalil-Dalil Hari Berbangkit merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Al-Qiyamah Ash-Shughra yang disampaikan oleh Ustadz Ali Nur, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 11 Rabi’ul Awal 1443 H / 18 Oktober 2021 M.

    Kajian Tentang Dalil-Dalil Hari Berbangkit
    Iman terhadap hari berbangkit diwajibkan dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Baik Qur’an maupun sunnah telah menunjukkan dengan bukti yang sangat otentik. Al-Qur’an mulai dari awal sampai akhir dipenuhi dengan penyebutan-penyebutan kondisi tentang hari akhirat dan menyebutkan juga secara rinci tentang hari akhirat.
    Demikian juga dikuatkan lagi dengan berita-berita yang benar dan contoh-contoh yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dan petunjuk. Sebagaimana yang disebutkan Al-Qur’an yang membuktikan tentang hal itu. Dan juga membantah terhadap orang-orang yang mengingkari, dan menjelaskan dusta dan kebohongan mereka.
    Semua rincian demi rincian ini untuk meyakinkan kepada kita bahwa begitulah kondisi hari akhirat. Supaya kita mempersiapkan diri dengan amalan shalih untuk menghadapi hari-hari itu.
    Semakin beriman dengan hari akhirat, maka hal itu akan semakin memudahkan dia untuk beramal shalih. Hal ini karena dihadapannya akan dia lalui hari-hari yang sulit jika di sini tidak berupaya membawa perbekalan.
    Adapun mereka yang berusaha sebanyak-banyaknya membawa perbekalan, maka nanti di sana tidak akan sulit.
    Fitrah yang lurus bisa menerima adanya hari akhirat. Dan tidak benar orang-orang sesat yang mengatakan bahwasanya hari berbangkit itu tidak masuk akal.
    Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam surah Yasin, Allah menceritakan tentang kondisi orang kafir yang menurut mereka hari berbangkit tidak akan mungkin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَن يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ ‎﴿٧٨﴾‏ قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ ‎﴿٧٩﴾
    “Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; namun mereka lupa bagaimana diawalnya diciptakan; mereka berkata: ‘Siapakah yang akan menghidupkan tulang belulang yang sudah hancur luluh?’ Katakanlah: ‘Yang menghidupkannya adalah dahulu pernah menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.'” (QS. Yasin[36]: 78-79)
    Akal mereka mengatakan bahwa tidak akan mungkin tulang belulang yang sudah hancur menjadi tanah kembali menjadi manusia yang sempurna. Padahal Allah mampu menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada. Lalu bagaimanya hanya sekedar membangkitkan yang tadinya ada kemudian diadakan kembali? Tentu ini lebih mudah bagi Allah.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajianyang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Dalil-Dalil Hari Berbangkit – Al-Qiyamah Ash-Shughra
    Mari turut membagikan link download kajian “Dalil-Dalil Hari Berbangkit” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    1 hr 5 min
  • Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah Terhadap Masalah Kufur dan Takfir
    Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah Terhadap Masalah Kufur dan Takfir adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 09 Muharram 1442 H / 28 Agustus 2021 M.

    Definisi Kufur
    Kufur secara bahasa berarti menutupi. Sedangkan menurut syara’, kufur adalah tidak beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya. Orang yang melakukan kekufuran, tidak beriman kepada Allah dan RasulNya disebut kafir.
    Jadi ada yang mendustakan, tapi ada juga yang tidak mendustakan. Yang tidak mendustakan juga disebut kafir karena tidak mau beriman. Contohnya seperti Abu Thalib yang membenarkan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi dia tidak mau masuk Islam, dia mati dalam keadaan kafir.
    Prinsip-Prinsip Ahlus Sunnah Dalam Kufur dan Takfir
    Prinsip pertama, pengkafiran adalah hukum syar’i dan tempat kembalinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini adalah masalah besar. Dan awal adanya kelompok Khawarij dan yang lainnya adalah karena masalah ini.
    Dijelaskan oleh Imam Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah bahwa masalah-masalah Islam, iman, kufur, nifaq, ini merupakan masalah yang sangat besar sekali. Karena sesungguhnya Allah kaitkan nama-nama ini dengan kebahagiaan dan celaka, dan orang itu berhak mendapatkan surga atau neraka, dan perbedaan tentang nama-nama ini merupakan awal terjadinya perbedaan yang terjadi di tengah umat ini, yaitu Khawarij menyalahi sahabat. Dimana Khawarij mengeluarkan orang-orang yang berbuat dosa dikeluarkan dari agama Islam secara keseluruhan dan mereka masukkan orang-orang Islam yang berbuat dosa besar tersebut dalam kekufuran. Mereka bermuamalah seperti muamalah dengan orang-orang kafir. Dan dengan demikian mereka menghalalkan darahnya kaum muslimin dan harta mereka.
    Kemudian terjadi sesudah mereka perbedaan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa orang muslim yang berbuat dosa besar tidak dikafirkan dan tidak dikatakan Islam.
    Kemudian sesudah itu terjadi perbedaan Murji’ah yang mengatakan bahwa sesungguhnya orang fasik itu beriman dengan iman yang sempurna. Ini semua sesat. Karena kalau orang fasik maka imannya berkurang.
    Prinsip kedua, barangsiapa yang tetap keislamannya secara meyakinkan, maka keislaman itu tidak bisa lenyap darinya kecuali dengan sebab yang meyakinkan pula.
    Prinsip ketiga, tidak setiap ucapan dan perbuatan yang disifatkan nash sebagai kekufuran merupakan kekafiran yang besar (kufur akbar) yang mengeluarkan seseorang dari agama, karena sesungguhnya kekafiran itu ada dua macam; kekafiran kecil (asghar) dan kekafiran besar (akbar). Maka, hukum atas ucapan-ucapan maupun perbuatan-perbuatan ini sesungguhnya berlaku menurut ketentuan metode para ulama Ahlus Sunnah dan hukum-hukum yang mereka keluarkan.
    Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    …وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
    “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia kafir.” (QS. Al-Maidah[5]: 44)
    Dijelaskan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma:
    كفر دون كفر
    “Kufur dibawah kekufuran.”
    Jadi tidak langsung dikatakan kafir keluar dari Islam. Kalimatnya kufur tapi tidak dikatakan keluar dari agama Islam.
    Ahlus Sunnah adalah orang yang paling tahu tentang kebenaran dan paling sayang kepada makhlu...
    0 min
  • Perkataan Para Imam Dalam Mengikuti Sunnah
    Perkataan Para Imam Dalam Mengikuti Sunnah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 28 Dzulhijjah 1442 H / 07 Agustus 2021 M.
    Perkataan Para Imam Dalam Mengikuti Sunnah
    Pada kajian kali ini kita akan bahas tentang أقوال الأئمة في اتباع السنة وترك أقوالهم المخالفة لها (Perkataan para imam dalam mengikuti sunnah dan meninggalkan perkataan mereka yang menyalahi sunnah).
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
    “Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian, jangan kalian mengikuti selainnya dari wali-wali, sedikit sekali kalian ingat.” (QS. Al-A’raf[7]: 3)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
    “Jangan kamu ikut apa yang kamu tidak ketahui, karena sesungguhnya pendengaran, mata dan hati akan ditanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Isra[17]: 36)
    Perkataan para imam dari empat imam madzab, yaitu di antaranya:
    Imam Abu Hanifah Rahimahullah
    Beliau berkata:
    لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه
    “Tidak halal bagi seseorangpun untuk mengambil pendapat kami selama dia belum tahu darimana kami mengambilnya.”
    Artinya dia harus tahu sumber dari perkataan para imam ini. Dalilnya ada atau tidak.
    Beliau juga berkata:
    حرام على من لم يعرف دليلي أن يفتي بكلامي
    “Haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa dengan perkataanku.”
    Beliau berkata lagi:
    إذا قلت قولا يخالف كتاب الله تعالى وخبر الرسول صلى الله عليه وسلم فاتركوا قولي
    “Apabila aku berpendapat atau aku berfatwa yang menyalahi kitabullah ta’ala dan juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka tinggalkan perkataanku.”
    Imam Malik bin Anas Rahimahullah
    Kata Imam Malik bin Anas:
    إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في رأيي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه
    “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa, aku salah dan aku benar. Maka perhatikan dari fatwaku; yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah kalian ambil, dan setiap apa yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah maka tinggalkan pendapatku.”
    Beliau juga berkata:
    ليس أحد بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صل الله عليه وسلم
    “Dan tidak ada seorang pun sesudah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan diambil perkataannya dan ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”
    Imam Syafi’i Rahimahullah
    Syaikh Al-Albani Rahimahullah berkata bahwa nukilan dari beliau dalam masalah ini sangat banyak dan baik sekali. Di antaranya Imam Syafi’i berkata:
    أجمع المسلمون على أن من استبان له سنة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يحل له أن يدعها لقول أحد
    “Telah ijma’ kaum muslimin bahwasanya siapa yang sudah jelas baginya sunnah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena perkataan/pendapat/fatwa seseorang.”
    Yang wajib kita ikut adalah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Beliau juga mengatakan:
    إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله علي...
    0 min
  • Khutbah Jumat: Memakmurkan Masjid
    Khutbah Jumat: Memakmurkan Masjid ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 08 Rabiul awal 1443 H / 15 Oktober 2021 M.
    Khutbah Pertama Tentang Memakmurkan Masjid
    Betapa agungnya masjid di dalam Islam. Dimana ia adalah bangunan yang sangat dicintai oleh Allah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang tempat yang paling dicintai oleh Allah di muka bumi ini dan tentang tempat yang paling Allah tidak sukai. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا
    “Tempat yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah masjid-masjidnya.” (HR. Muslim)
    Dinaungi pada hari kiamat
    Subhanallah, saudaraku sekalian.. Mencintai masjid dan menjadikan hati kita terpaut dengan masjid menjadikan kita termasuk orang-orang yang dinaungi oleh Allah pada hari kiamat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ في ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إلَّا ظِلُّهُ
    “Ada 7 orang yang akan Allah berikan naungan pada hari kiamat dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
    Siapa di antara 7 orang itu? Allah mengatakan:
    رَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌفي المَسَاجِدِ
    “Orang yang hatinya terpaut dengan masjid.” (Muttafaqun ‘alaih)
    Subhanallah, orang yang hatinya terpaut dengan masjid, dia mencintai masjid, dia rindu kepada masjid, diberikan oleh Allah pada hari kiamat naungan dimana dihari itu kita sangat membutuhkan naungan Allah ‘Azza wa Jalla.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memberikan janji besar bagi mereka yang membangun masjid dengan sebuah rumah di surga. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ
    “Barangsiapa yang membangun masjid, Allah akan bangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.” (HR. Ahmad)
    Dalam satu riwayat yang lain:
    ولو كمَفْحَصِ قَطاةٍ
    “Walaupun ia membangunnya hanya sebesar sangkar burung saja.” (HR. Ibnu Hibban)
    Pasti mendapatkan hidayah
    Subhanallah, saudaraku seiman.. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyaksikan keimanan orang-orang yang senantiasa memakmurkan masjid. Allah beriman:
    إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
    “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah tiu hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan kehidupan akhirat, dia benar-benar menjaga shalat dan membayar zakat, dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Maka semoga mereka termasuk orang-orang yang mendapatkan hidayah.” (QS. At-Taubah[9]: 18)
    Kata Ibnu Abbas, kata-kata عسى dalam Al-Qur’an maknanya pasti. Artinya pasti orang yang memakmurkan masjid itu diberikan hidayah hatinya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Hidup dan mati dalam keadaan baik
    Allah pun menjamin orang yang senantiasa menjalankan kakinya menuju masjid dan dia terus menjaga agar bisa shalat di masjid, bahwa ia akan hidup dalam keadaan baik dan wafat pun dalam keadaan baik. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    “Aku bermimpi tadi malam melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam bentuk yang paling indah. Allah berfirman: ‘Ya Muhammad, tahukah kamu apa yang sedang diperbincangkan oleh para malaikat yang ada di langit sana?
    15 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah