Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Talbis Iblis Kepada Penuntut Ilmu Untuk Mudah Berfatwa
    Talbis Iblis Kepada Penuntut Ilmu Untuk Mudah Berfatwa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 25 Rabiul Awal 1443 H / 1 November 2021 M.

    Kajian Islam Tentang Talbis Iblis Kepada Penuntut Ilmu Untuk Mudah Berfatwa
    Sebelumnya kita sudah bahas bahwa di antara mereka ada yang didorong untuk berani berfatwa walaupun belum layak untuk menjadi mufti. Ini merupakan salah satu talbis iblis terhadap para penuntut ilmu dan orang-orang yang menggeluti ilmu. Yaitu mereka terburu-buru untuk menapaki satu tahapan di dalam ilmu. Di antaranya adalah status menjadi seorang mufti yang mana tentunya banyak syarat-syarat kriteria yang harus dipenuhi.
    Kita dapat pelajaran dari para Salaf bagaimana wara’ dan kehati-hatian mereka di dalam bab ini. Seperti yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abi Laila, dia menceritakan: “Aku bertemu 120 orang sahabat Rasulullah. Jika salah seorang dari mereka ditanya tentang satu masalah, maka ia pun akan mengalihkannya kepada sahabat yang lain, lalu yang lain mengalihkannya kepada yang lainnya pula hingga pertanyaan tersebut kembali kepada orang yang pertama ditanya.”
    Maka salah satu jerat iblis adalah mendorong para penuntut ilmu atau orang-orang untuk berani berfatwa meskipun belum sampai derajat untuk memberikan fatwa. Kadang-kadang mereka berani berfatwa hanya berdasarkan logika tanpa disertai dalil dan keterangan syariat.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ
    “Mereka ditanya lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan orang lain.” (HR. Bukhari)
    Oleh karena itu kita dapati para sahabat selalu berhati-hati di dalam mengeluarkan satu statement yang dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Dalam lafal yang lain, dari Abdurrahman bin Abi Laila disebutkan: “Aku pernah bertemu 120 orang sahabat Anshar dari kalangan shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di masjid ini. Tidaklah seorang dari mereka menyampaikan hadits melainkan ia berharap saudaranya berkenan menggantikan posisinya di dalam menyampaikan hadits itu. Dan tidaklah dia dimintai fatwa melainkan ia berharap ada saudaranya yang lain yang mau menggantikan dirinya dalam memberikan fatwa itu.”
    Hal ini karena menyampaikan hadits artinya menisbatkan sesuatu kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Itu adalah satu tanggungjawab yang berat dan besar. Maka mereka sangat berhati-hati.
    Mereka bukanlah orang yang memperebutkan kedudukan Mufti itu. Bahkan mereka berharap bisa selamat dari tanggungjawab yang berat itu.
    Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’i, ia ditanya oleh seseorang tentang suatu masalah. Lantas ia tidak langsung menjawabnya tapi justru bertanya kepada si penanya: “Apakah kamu tidak mendapati orang lain yang dapat kamu tanya tentang masalah ini?”
    Ini bukan artinya menyembunyikan ilmu, tapi wujud dari sifat wara’ dan kehati-hatian. Hingga mereka berharap bisa selamat dari tanggungjawab yang sangat berat itu.
    Seperti halnya Sufyan Ats-Tsauri menolak untuk memberikan fatwa dalam bab nikah dan talaq. Hal ini karena beliau merasa itu ada tanggungjawab yang berat, menyangkut rumah tangga seorang muslim. Bisa saja dengan fatwa yang salah hancurlah rumah tangga muslim itu. Sementara itulah yang dikehendaki oleh iblis.
    Demikian juga di dalam hal yang berkaitan dengan nyawa manusia. Misalnya di dalam bab jihad.
    49 min
  • Kabar Gembira Kelahiran Anak
    Kabar Gembira Kelahiran Anak merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 25 Rabiul Awal 1443 H / 1 November 2021 M.

    Kajian Tentang Kabar Gembira Kelahiran Anak
    Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan anak ini kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki. Sehingga ada sebagian rumah tangga yang memang oleh Allah tidak diberi anak. Berarti ketika kita diberi kesempatan oleh Allah untuk punya anak, itu dan sebuah anugerah. Biasanya ketika kita merenungi nikmat ini, maka kita akan bahagia. Sehingga kelahiran bayi adalah sebuah kabar gembira.
    Sehingga jangan heran kalau para malaikat pun memberikan kabar gembira tentang kelahiran anak kepada para Nabi dan istri-istri mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا
    “Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS. Maryam[19]: 7)
    Lihat bagaimana di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan kata kabar gembira manakala menyampaikan berita tentang akan dikaruniainya Nabi zakariya seorang anak bernama Yahya.
    Contoh yang lain kisah Nabi Ibrahim. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِن وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ
    “Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (QS. Hud[11]: 71)
    Jadi yang namanya ucapan kebahagiaan atas kelahiran bayi adalah sesuatu yang diajarkan dalam agama kita. Sehingga anak laki-laki atau perempuan yang dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, harus disyukuri.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala bercerita tentang kaum musyrikin dizaman Jahiliyah ketika anaknya terlahir perempuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala bercerita:
    وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِالْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ ‎﴿٥٨﴾‏ يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ ‎﴿٥٩﴾
    “Dan apabila ada seorang dari mereka diberi kabar tentang (kelahiran) anak perempuan, maka wajahnya langsung hitam (merah padamlah), dan dia sangat marah. Ia mengucilkan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl[16]: 58-59)
    Inilah pola pikirnya orang-orang jahiliyah dahulu yang sangat merendahkan perempuan. Islam datang memuliakan perempuan dengan memposisikan pada porsinya.
    Doa kelahiran bayi
    Menit ke- Kalau misalnya bayi itu lahir kemudian kita ingin menjenguk atau ingin mengucapkan ucapan selamat, apa sebaiknya doa yang diucapkan? Kalau dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara khusus kami belum tahu adanya redaksi tertentu tentang bacaan ucapan selamat ketika bayi lahir. Tapi yang kami temukan di sini adalah sebuah doa yang diucapkan oleh Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah.
    Al-Hasan Al-Bashri mengatakan:
    بُورِكَ لَكَ فِي الْمَوْهُوبِ وَشَكَرَتَ الْوَاهِبُ وَرُزِقْتَ بِرَّهُ وَبَلَغَ أَشَدُّهُ
    “Semoga anak yang dianugerahkan kepadamu ini diberkahi, semoga engkau bisa bersyukur kepada Sang Pemberi, serta engkau dikaruniai baktinya,
    53 min
  • Allah Menciptakan Makhluk Yang Lebih Besar Dari Manusia
    Allah Menciptakan Makhluk Yang Lebih Besar Dari Manusia merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Al-Qiyamah Ash-Shughra yang disampaikan oleh Ustadz Ali Nur, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 25 Rabiul Awal 1443 H / 1 November 2021 M.

    Allah Menciptakan Makhluk Yang Lebih Besar Dari Manusia
    3. Allah menciptakan makhluk yang lebih besar dari manusia
    Menit ke- Yang mampu menciptakan makhluk megah dan besar, pastilah Dia akan mampu juga menciptakan makhluk yang lebih kecil. Tentu tidak bisa diterima oleh akal sehat jika ada seseorang yang mampu mengangkat beban yang berat lantas dikatakan kepadanya ‘kamu tidak akan mampu mengangkat beban yang lebih ringan.’
    Seorang yang mampu membangun sebuah istana megah, pastilah dia akan lebih mampu lagi membangun rumah yang kecil. Itulah logika sehat yang bisa diterima oleh akal kita.
    Dan milik Allah permisalan yang jauh lebih lebih tinggi. Banyak ciptaan-ciptaan Allah yang jauh lebih besar dan megah ketimbang ciptaan manusia. Tidak mungkin kita mengatakan kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi: ‘Engkau takkan mampu menciptakan makhluk yang lebih kecil.’ Ini adalah pernyataan yang tidak mungkin diterima oleh akal.
    Artinya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan langit dan bumi, Allah menciptakan alam semesta dan hal-hal yang jauh lebih besar lagi dari hal itu. Lalu apakah kita katakan Allah tidak akan mampu membangkitkan manusia?
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَقَالُوا أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا
    “Mereka berkata: ‘Apabila kami sudah menjadi tulang-belulang dan sudah hancur, apakah kami akan dibangkitkan lagi menjadi makhluk yang baru?'” (QS. Al-Isra'[17]: 49)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ قَادِرٌ عَلَىٰ أَن يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ وَجَعَلَ لَهُمْ أَجَلًا لَّا رَيْبَ فِيهِ…
    “Tidakkah mereka melihat bahwasanya Allah itulah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Allah juga Maha Berkuasa untuk menciptakan makhluk-makhluk yang semisal dengan langit dan bumi. Allah menetapkan ajal bagi mereka dan itu tidak diragukan lagi…” (QS. Al-Isra'[17]: 99)
    Ibnu Taimiyah berkata bahwasanya sudah dimaklumi dengan akal sehat ciptaan langit yang tujuh lapis dan bumi yang berlapis-lapis ini jauh lebih besar dan megah ketimbang ciptaan seperti manusia. Tentunya kemampuan untuk menciptakan langit dan bumi itu jauh lebih membutuhkan kekuasaan dan kemampuan ketimbang menciptakan manusia.
    Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk yang jauh lebih besar, hal itu menandakan bahwa Allah lebih mudah menciptakan/membangkitkan makhluk yang lebih kecil.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada kita bahwasanya yang telah menciptakan langit dan bumi yang sangat megah tersebut mampu menghidupkan tulang yang sudah menjadi tanah dan mampu mengembalikan ke kondisi awalnya.
    4. Allah berkuasa merubah makhlukNya dari satu kondisi ke kondisi yang lain
    Menit ke- Orang-orang yang mendustakan adanya hari berbangkit melihat bahwasanya matinya para hamba, kemudian mereka hancur menyatu dengan tanah, mereka kira untuk membangkitkannya kembali adalah satu hal yang mustahil.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajianyang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    1 hr
  • Menjalankan Shalat Diwaktunya
    Menjalankan Shalat Diwaktunya ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 25 Rabiul Awal 1443 H / 1 November 2021 M.

    Download kajian sebelumnya: Fiqih Seputar Shalat Isya’ dan Subuh
    Kajian Fiqih Tentang Menjalankan Shalat Diwaktunya
    Menjalankan shalat diwaktunya
    Kewajiban untuk shalat diwaktunya termasuk di antara kewajiban yang sangat ditekankan di dalam bab shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا
    “Sesungguhnya shalat itu diwajibkan kepada kaum mukminin berdasarkan waktu yang telah ditentukan.” (QS. An-Nisa[4]: 103)
    Kewajiban ini sangat ditekankan. Makanya tidak boleh mengakhirkan shalat sampai keluar waktunya, apapun alasannya.
    Misalnya ada orang yang junub dan tidak mendapatkan air, tidak mendapatkan pasir atau debu, maka tetap diperintahkan untuk shalat diwaktunya. Atau mungkin ada orang dipenjara dan tidak bisa melakukan wudhu, juga tidak bisa melakukan tayamum, juga tidak bisa bergerak, maka tetap diwajibkan shalat diwaktunya. Atau mungkin ada orang yang bajunya najis tapi dia tidak mendapatkan baju lain selain itu, dan juga tidak bisa mencucinya, maka dia tetap diwajibkan untuk shalat diwaktunya. Atau mungkin ada orang yang tidak punya baju sehingga auratnya terbuka, maka orang yang seperti ini juga tetap diwajibkan untuk shalat diwaktunya.
    Ketika dia sudah shalat diwaktunya, maka dia tidak disyariatkan untuk meng-qadha shalatnya diwaktu yang lain.
    Begitu pentingnya waktu di dalam shalat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadikan amalan ini sebagai amalan yang paling afdhal. Di dalam hadits Ibnu Mas’ud Radiallahu Ta’ala ‘Anhu, beliau pernah bertanya kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Dalam riwayat lain redaksinya “Amalan apakah yang paling afdhal?”
    Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    الصَّلاَةُ عَلىَ وَقْتِهَا
    “Shalat diwaktunya.” (HR. Bukhari Muslim)
    Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah shalat diawal waktunya. Itulah amalan yang paling afdhal.
    Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab dengan jawaban ini, maka ini menunjukkan bahwa waktu shalat itu sangat penting di dalam ibadah shalat. Jangan sampai kita menyepelekan masalah waktu shalat ini. Bahkan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang umatnya untuk mengikuti pemimpin yang mengakhirkan shalatnya (padahal masih di dalam waktu shalat).
    Sahabat Abu Dzar Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengatakan kepadaku:
    كيف أنت إذا كانت عليك أمراء يميتون الصلاة، أو قال: يؤخرون الصلاة عن وقتها؟
    “Bagaimana engkau apabila dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang mematikan shalat, mereka mengakhirkan shalat dari waktunya?”
    Aku pun mengatakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku wahai Rasulullah?”
    Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:
    صَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌ
    “Shalatlah kamu diwaktunya. Apabila engkau bisa shalat bersama mereka, maka shalatlah bersama mereka lagi. Karena sesungguhnya shalat itu menjadi shalat sun...
    1 hr 10 min
  • Menjaga Kemurnian Agama dengan Membantah Penyimpangan
    Menjaga Kemurnian Agama dengan Membantah Penyimpangan merupakan kajian Islam ilmiah oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan kitab Kun Salafiyyan ‘alal Jaddah. Kajian ini disampaikan pada Sabtu, 23 Rabiul Awal 1443 H / 30 Oktober 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Menjaga Kemurnian Agama dengan Membantah Penyimpangan
    Dari ‘Aisyah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anha, ketika Hindun binti Utbah mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dia berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah suami yang pelit, dia tidak memberikan nafkah yang mencukupi diriku dan anak-anakku kecuali yang aku ambil secara diam-diam darinya dalam keadaan dia tidak tahu.”
    Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membenarkan, beliau bersabda:
    خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ
    “Ambillah dari hartanya yang mencukupi dirimu dan anak-anakmu dengan cara yang baik.” (HR. Bukhari)
    Yakni mengambil yang sepantasnya dan sewajarnya, tidak lebih daripada yang dibutuhkan. Dari sini kita tahu bolehnya menyebutkan kejelekan seseorang dan ini tidak termasuk ghibah. Karena kalau seandainya ghibah ini terlarang, pasti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan menegur istri Abu Sufyan ini. Tapi ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membiarkan, bahkan mengizinkannya untuk mengambil hartanya secara sembunyi-sembunyi asal sekedar mencukupinya, maka ini menunjukkan bahwasanya mengadukan dan menyebutkan kejelekan diperbolehkan.
    Kita harus memahami bahwa ada perbuatan-perbuatan yang memang secara asalnya terlihat masuk ke dalam ghibah karena kita menyebutkan kejelekan orang di belakangnya. Tapi untuk kemaslahatan diperbolehkan di dalam agama.
    Menit ke- Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah berkata: “Haditst ini dijadikan sebagai dalil tentang bolehnya menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh seseorang kalau tujuannya untuk meminta fatwa atau mengadu kepada orang yang berilmu dan yang semisalnya, ini adalah salah satu tempat yang diperbolehkan padanya melakukan ghibah.”
    Memang sebagian dari para ulama mengatakan bahwa seandainya bisa disamarkan namanya (tidak perlu disebut) dan cukup bagi ahli ilmu mengetahui rinciannya, maka tentu itu lebih baik. Tapi kalau seandainya harus disebutkan, maka jelas boleh. Karena tujuannya adalah meminta fatwa dan mengadu kepada orang yang berilmu untuk mencari solusi yang sesuai dengan syariat.
    Dalam contoh-contoh di sini menyangkut kemaslahatan satu orang. Bagaimana jika itu berhubungan dengan kemaslahatan penjagaan agama? Misalnya ada seorang yang pemahamannya merusak aqidah yang benar, mempengaruhi kaum muslimin, tersebar, dan orang banyak menyukainya, maka yang seperti ini pantas untuk disebutkan keburukannya. Apalagi kalau kita melihat banyak orang yang tertarik dengan ceramahnya, banyak yang terpengaruh dengan apa yang disampaikannya, maka dalam rangka menjaga agama Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih pantas lagi untuk diperbolehkan disebutkan keburukan-keburukannya dalam rangka memperingatkan kaum muslimin agar menjauhinya.
    Penjagaan terhadap agama jelas lebih mulia dibandingkan penjagaan terhadap hak perorangan yang disebutkan di dalam contoh-contoh yang sudah kita bacakan.
    Tidak menyebutkan sisi kebaikan
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengingkari perbuatan Hindun Radhiyallahu Ta’ala ‘Anha ketika dia hanya menyebutkan sisi keburukan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengatakan: ‘Kenapa kamu tidak sebutkan kebaikan-kebaikannya Abu Sufyan, dia punya banyak kebaikan,’ ini tidak dibutuhkan karena tujuannya adalah meminta pendapat dari hal yang berhubungan dengan kesalahannya.
    Dan Antum tahu,
    49 min
  • Allah Turun Ke Langit Bumi
    Allah Turun Ke Langit Bumi ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Tentang Nama-Nama Allah dan Sifat-SifatNya. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 23 Rabiul Awal 1443 H / 29 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Makna Sifat Ma’iyyatullah

    Kajian Tentang Allah Turun Ke Langit Bumi
    Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit bumi di sepertiga malam terakhir. Terjadi penyimpangan di dalam memahami sifat ini dari kalangan ahlul kalam, sebagaimana tradisi mereka di dalam mempelajari sifat-sifat Allah. Tidak diragukan bahwa ahlul kalam mengingkari sifat ini.
    Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mengikuti Rasulullah, mengikuti para sahabatnya, mengikuti imam-imam Ahlus Sunnah dari dahulu sampai saat ini, mereka semua sepakat di dalam mengimani seluruh sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, termasuk sifat an-nuzul (turunnya Allah Subhanahu wa Ta’ala) ke langit dunia di sepertiga malam terakhir.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرُ، يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرُ لَهُ
    “Rabb kami Tabaaraka wa Ta’alaa turun ke langit dunia pada setiap malam ketika tinggal sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: ‘Barangsiapa yang berdo’a kepadaKu, niscaya akan Aku kabulkan do’anya, barangsiapa yang meminta kepadaKu, niscaya Aku akan penuhi permintaannya, dan barangsiapa yang memohon ampunan kepadaKu, maka Aku akan mengampuninya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Begitu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan hadits tentang sifat nuzul (turun ke langit bumi), itu didengar oleh para sahabat. Disebutkan oleh para ulama bahwa hadits yang menjelaskan tentang sifat turunnya Allah ke langit bumi mutawatir, diriwayatkan lebih dari 28 sahabat Nabi yang mulia. Mustahil mereka berdusta, mereka meriwayatkan hal demikian kemudian menyampaikan kepada tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Kemudian kumpulkan oleh para ulama hadits di dalam kitab-kitab mereka.
    Di antara para ulama yang menyebutkan bahwa hadits itu mutawatir adalah Ibnu Abdil Barr (ulama maliki), Ibnu Taimiyah (ulama hambali), Adz-Dzahabi (ulama syafi’i), Ibnul Qayyim (ulama hambali), dan ulama-ulama yang lain Rahimahumullah.
    Bahkan Imam Adz-Dzahabi menjelaskan:
    وقد ألفت أحاديث النزول في جزء وذلك متواتر
    “Aku telah menulis sebuah kitab yang mengumpulkan hadits-hadits tentang turunnya Allah ke langit bumi, dan itu adalah mutawatir.”
    Jadi ini bukan monopoli madzhab tertentu, ini merupakan aqidah ‘Ahlus Sunnah lintas madzhab yang menetapkan sifat Allah. Tidak ada yang menyelisihi mereka kecuali ahlul kalam pengikuti Jahmiyah.
    Menit ke- Tatkala Abu Bakar, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Abu Darda dan yang lainnya mendengar hadits tersebut, apakah terbesit dalam benak mereka ‘kalau Allah turun berarti ‘Arsy kosong?’ Demi Allah tidak ada yang terbesit dalam benak pikiran mereka seperti itu.
    Sebagai bukti ternyata tidak ada yang komplain dari para sahabat. Dan jika ada yang berkata: ‘mungkin itu karena mereka tidak mau bertanya saja’, maka kita jawab bahwa ini asumsi yang negatif tentang para sahabat. Mereka memahami bahasa Arab, telah perpatri dalam hatinya untuk mengimani apa yang datang dari Allah da Rasu...
    1 hr 26 min
  • Hadits Arbain Ke 36 – Hadits Tentang Tolong Menolong
    Hadits Arbain Ke 36 – Hadits Tentang Tolong Menolong merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 20 Rabiul Awal 1443 H / 26 Oktober 2021 M.

    Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 35 – Semua Muslim Bersaudara
    Kajian Hadits Arbain Ke 36 – Hadits Tentang Tolong Menolong
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. وَاللهُ في عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ.
    وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الجَنَّةِ.
    وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بهِ نَسَبُهُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ بِهَذَا اللَّفْظِ.
    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau bersabda: “Barangsiapa yang meringankan kesulitan besar seorang muslim di dunia, maka Allah akan meringankan kesulitan besarnya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang kesulitan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memudahkan untuknya kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong seorang hamba selagi hamba tersebut menolong saudaranya.
    Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.
    Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah di antara rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca Al-Qur’an di situ, saling mudzakarah di antara mereka tentang ayat-ayat itu, kecuali rahmat akan memenuhi majelis mereka, para malaikat akan mengiringi mereka, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memuji mereka di antara para malaikat yang ada disisiNya. Dan barangsiapa yang tertinggal karena amalannya, maka dia tidak bisa mengejar dengan nasabnya.” (HR. Muslim)
    Hadits ini senada dengan hadits Ibnu ‘Umar yang diriwayatkan dalam Bukhari dan Muslim, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda:
    الْمُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ، لا يَظْلِمُهُ ولا يُسْلِمُهُ، مَن كانَ في حاجَةِ أخِيهِ كانَ اللَّهُ في حاجَتِهِ، ومَن فَرَّجَ عن مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللَّهُ عنْه بها كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَومِ القِيامَةِ، ومَن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَومَ القِيامَةِ
    “Seorang muslim itu saudara untuk muslim yang lain, jangan dia mendzaliminya, jangan juga menyerahkannya kepada musuh. Barangsiapa yang memenuhi hajat seorang saudaranya, Allah akan penuhi hajatnya. Barangsiapa yang ia melepaskan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Mengangkat Kesulitan Orang Lain
    1 hr 1 min
  • Penetapan Nama dan Sifat As-Salam Al-Mu’min
    Penetapan Nama dan Sifat As-Salam Al-Mu’min merupakan kajian Islam ilmiah Shahih Bukhari Kitab Tauhid yang disampaikan oleh Ustadz Abu Qotadah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 13 Rabiul Awal 1443 H / 19 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Urgensi Penetapan Sifat Ilmu Bagi Allah

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Penetapan Nama dan Sifat As-Salam Al-Mu’min
    Pada kajian kali ini dibahas tentang:
    باب قول الله تعالى : السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ
    “Bab firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: As-Salamu Al-Mu’minu…”
    Para ulama menjelaskan kenapa Imam Bukhari mencantumkan ayat kemudian hadits dalam penetapan nama-nama dan sifat Allah. Ini mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
    Pertama, bahwa yang berhak menetapkan nama bagi Allah adalah Allah, dan yang paling layak menetapkan nama Allah bagi Allah adalah RasulNya. Karena Allah yang paling tahu tentang Dzat-Nya dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang diberi wahyu oleh Allah Ta’ala untuk menetapkan nama bagiNya.
    Maka kaidah Ahlus Sunnah dalam menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah yaitu menetapkan apa yang ditetapkan Allah bagiNya dan menetapkan apa yang ditetapkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi Allah. Hal ini karena bab yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah perkara ghaib. Kita tidak menetapkan bahwa itu nama ataupun sifat bagi Allah dengan akal semata. Akan tetapi apa yang ditetapkan Allah dan RasulNya tidak akan bertentangan dengan akal.
    Kedua, orang-orang ahlul bid’ah dari kalangan ahlul kalam mengatakan bahwa hadits ahad tidak dipakai dalam menetapkan aqidah. Maka Imam Bukhari di sini ingin membantah kepada orang-orang yang menyimpang tentang hal itu dari dua sisi:

    * Beliau menyebutkan hadits-hadits ahad yang menetapkan nama-nama Allah dan itu ternyata dikuatkan dengan dalil Al-Qur’an yang menjadikan kita tidak perlu ragu lagi.
    * Tidak benar pembagian istilah mutawatir dan ahad sebagai tingkatan argumen. Yang benar adalah jika hadits ahad itu shahih, maka sama dalam derajat sebagai hujjah dengan hadits mutawatir.

    Menit ke- Imam Bukhari mencantumkan hadits yang menunjukkan bahwa nama As-Salam itu selain ditetapkan oleh Al-Qur’an juga ditetapkan oleh sunnah.
    Hadits itu berawal dari seseorang yang salah mengucapkan kalimat. Dikatakan:
    كنا نصلي خلف النبي – صلى الله عليه وسلم – فنقول : السلام على الله ، فقال النبي صلى الله عليه [ ص: 88 ] وسلم : إن الله هو السلام ، ولكن قولوا : التحيات لله والصلوات والطيبات ، السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته ، السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين ، أشهد أن لا إله إلا الله ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله .
    “Kami shalat di belakang baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian ada orang yang mengatakan: ‘Assalamu ‘Ala Allah.’ Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah, Dialah As-Salam, tapi ucapkanlah:
    التحيات لله والصلوات والطيبات ، السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته ، السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين ، أشهد أن لا إله إلا الله ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله .
    Pendalilan dari hadits yang menunjukkan bahwa nama As-Salam ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah adalah ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: إن الله هو السلام (Sesungguhnya Allah, Dialah As-Salam).
    Tujuan utama Imam Bukhari mengetengahkan bab ini dengan menyebutkan ayat dan hadits adalah menetapkan nama di antara nama Allah, yaitu As-Salam. Imam Bukhari juga ingin membantah kepada ahlul kalam dari kalangan Jahmiya...
    1 hr 3 min
  • Memotivasi Anak Menjadi Pribadi Yang Kuat
    Memotivasi Anak Menjadi Pribadi Yang Kuat merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 20 Rabi’ul Awal 1443 H / 26 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Hadits-Hadits Nabi Tentang Pendidikan
    Kajian Islam Ilmiah Tentang Memotivasi Anak Menjadi Pribadi Yang Kuat
    Kita sudah sampai pada poin lampiran- lampiran, yaitu beberapa hadits-hadits Nabi yang berisi nasihat-nasihat yang penting untuk kita sampaikan kepada anak-anak. Yang pertama telah kita sampaikan hadits Abdullah bin Abbas yang berisi wejangan tentang muraqabah, tauhid, dan iman kepada takdir.
    Hadits lain yang penting juga kita sampaikan untuk anak-anak adalah hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu tentang perintah untuk bersungguh-sungguh menjadi anak yang kuat dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jangan berandai-andai. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
    “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah.”
    Ini memotivasinya untuk menjadi pribadi yang kuat, baik lahir maupun batin/mental/rohani/jiwa. Sehingga menjadi anak yang tegar dan siap untuk menghadapi tantangan-tantangan.
    Sampaikan kepada anak-anak kita bahwa Allah lebih menyukai hamba yang kuat. Banyak kebaikan-kebaikan yang bisa dilakukan dengan kekuatan dan tidak bisa dilakukan dengan kelemahan. Maka jadilah mukmin yang kuat.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan:
    وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ
    “Dua-duanya baik,” hal ini karena keduanya adalah orang-orang yang beriman, hanya saja yang kuat lebih disukai Allah dan lebih baik daripada yang lemah.
    احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ
    “Sungguh-sungguhlah dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu,” yaitu memiliki kekuatan mental, kesungguhan, dan keuletan di dalam meraih cita-cita dan keinginan. Tidak mudah menyerah, tidak mudah mundur, tidak mudah berputus asa, dan terus mencoba.
    Banyak di sana anak-anak yang mudah menyerah, tidak gigih dalam meraih cita-citanya, dan bahkan terkadang anak-anak itu belum mencoba tapi sudah menyerah kalah, merasa tidak mampu. Ini adalah satu perasaan yang harus disingkirkan dari dirinya dan diganti dengan optimisme.
    وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
    “Teruslah memohon pertolongan kepada Allah, dan jangan kamu lemah.” (HR. Muslim)
    Biasakan anak memiliki hubungan dengan Allah, terutama di dalam hal meminta. Jika butuh pertolongan, maka pintu yang harus kita ketuk adalah pintu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena hakekatnya tanpa pertolongan Allah kita tidak bisa apa-apa.
    Hanya saja kadang-kadang Allah Subhanahu wa Ta’ala menolongnya tapi manusia tidak merasa ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan selalu meminta pertolongan kepada Allah, seorang hamba harusnya menjadi hamba yang kuat, karena dia bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا
    “Sesungguhnya kekuatan itu adalah milik Allah seluruhnya.” (QS. Al-Baqarah[2]: 165)
    Hamba yang merasa dia ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia menjadi hamba yang kuat. Ini perlu kita tanamkan kepada anak-anak untuk menjadi pribadi yang kuat, tidak mudah menyerah, tidak mudah mundur sebelum dia berusaha semaksimal mungkin.
    “Jangan bersikap lemah,” baik mental maupun fisiknya.
    58 min
  • Dianjurkan Membaca Al-Qur’anul Karim Dalam Keadaan Berkumpul
    Dianjurkan Membaca Al-Qur’anul Karim Dalam Keadaan Berkumpul adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa 20 Rabi’ul Awal 1443H / 26 Oktober 2021.
    Kajian sebelumnya: Keistimewaan Ayat Kursi
    Dianjurkan Membaca Al-Qur’anul Karim Dalam Keadaan Berkumpul
    Dianjurkan membaca Al-Qur’anul Karim dalam keadaan berkumpul, karena disitulah nanti ada yang membimbing, yang membaca dan yang menjelaskan makna-makna dari ayat-ayat Al-Qur’an.
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    ومَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، ويتَدَارسُونَه بيْنَهُم، إِلاَّ نَزَلتْ علَيهم السَّكِينَة، وغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَة، وَحَفَّتْهُم الملائِكَةُ، وذَكَرهُمْ اللَّه فيِمنْ عِنده
    “Tidaklah satu kaum (beberapa orang) berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah membaca kitab Allah, dan mereka saling mempelajari tentang kitab Allah, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat Allah, malaikat menaungi mereka, Allah akan menyebutkan mereka terhadap para malaikat yang ada di sisiNya.” (HR. Muslim)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang keutamaan mempelajari Al-Qur’anul Karim di salah satu rumah rumah-rumah Allah, membahas tentang tafsirnya, sehingga kita mendapatkan ilmu dan pendalaman terhadap ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ini salah satu cara yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk seorang mendapatkan ketenangan dalam dirinya, ketentraman jiwa dan hati. Tidak gelisah dengan berbagai macam gejolak yang disaksikannya di muka bumi ini. Dengan membaca Al-Qur’anul Karim semua itu akan menjadi hal yang kecil.
    Rahmat Allah akan meliputi mereka. Dan para malaikat menaungi mereka. Subhanallah, alangkah indahnya orang-orang yang hadir di majelis yang mulia yang membacakan ayat-ayat Al-Qur’anul karim, mendalami makna dan kandungannya, mengamalkan isi perintah-perintah dan menjauhi larangan-laranganNya.
    Allah menyebutkan perorangan yang hadir di majelis tersebut kepada para Malaikat yang hadir di sisiNya. Maka satu hal yang luar biasa ketika seseorang mendalami Al-Qur’anul karim.
    Dengan seseorang duduk di majelis ilmu seperti yang disebutkan dalam hadits ini, orang yang kurang paham bisa bertanya kepada orang yang paham. Lain halnya kalau seseorang membaca sendiri, kadang-kadang ada hal-hal yang mungkin dia kurang paham.
    Bab Keutamaan Berwudhu
    Menit ke- Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ…
    “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak shalat maka basuhlah wajah-wajah dan tangan-tangan kalian sampai ke siku, dan usaplah kepala-kepala kalian dan (basuhlah) kaki-kaki kalian sampai ke kedua mata kaki, dan apabila kalian berada dalam keadaan junub maka mandilah, dan apabila kalian dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan atau salah seorang selesai buang air atau mengumpuli wanita, kemudian kalian tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah dengan debu yang bersih; usaplah wajah dan tangan kalian dengan debu itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah[5]: 6)
    1 hr 40 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah