Memotivasi Anak Menjadi Pribadi Yang Kuat merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 20 Rabi’ul Awal 1443 H / 26 Oktober 2021 M.
Kajian sebelumnya: Hadits-Hadits Nabi Tentang Pendidikan
Kajian Islam Ilmiah Tentang Memotivasi Anak Menjadi Pribadi Yang Kuat
Kita sudah sampai pada poin lampiran- lampiran, yaitu beberapa hadits-hadits Nabi yang berisi nasihat-nasihat yang penting untuk kita sampaikan kepada anak-anak. Yang pertama telah kita sampaikan hadits Abdullah bin Abbas yang berisi wejangan tentang muraqabah, tauhid, dan iman kepada takdir.
Hadits lain yang penting juga kita sampaikan untuk anak-anak adalah hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu tentang perintah untuk bersungguh-sungguh menjadi anak yang kuat dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jangan berandai-andai. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah.”
Ini memotivasinya untuk menjadi pribadi yang kuat, baik lahir maupun batin/mental/rohani/jiwa. Sehingga menjadi anak yang tegar dan siap untuk menghadapi tantangan-tantangan.
Sampaikan kepada anak-anak kita bahwa Allah lebih menyukai hamba yang kuat. Banyak kebaikan-kebaikan yang bisa dilakukan dengan kekuatan dan tidak bisa dilakukan dengan kelemahan. Maka jadilah mukmin yang kuat.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan:
وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ
“Dua-duanya baik,” hal ini karena keduanya adalah orang-orang yang beriman, hanya saja yang kuat lebih disukai Allah dan lebih baik daripada yang lemah.
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ
“Sungguh-sungguhlah dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu,” yaitu memiliki kekuatan mental, kesungguhan, dan keuletan di dalam meraih cita-cita dan keinginan. Tidak mudah menyerah, tidak mudah mundur, tidak mudah berputus asa, dan terus mencoba.
Banyak di sana anak-anak yang mudah menyerah, tidak gigih dalam meraih cita-citanya, dan bahkan terkadang anak-anak itu belum mencoba tapi sudah menyerah kalah, merasa tidak mampu. Ini adalah satu perasaan yang harus disingkirkan dari dirinya dan diganti dengan optimisme.
وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Teruslah memohon pertolongan kepada Allah, dan jangan kamu lemah.” (HR. Muslim)
Biasakan anak memiliki hubungan dengan Allah, terutama di dalam hal meminta. Jika butuh pertolongan, maka pintu yang harus kita ketuk adalah pintu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena hakekatnya tanpa pertolongan Allah kita tidak bisa apa-apa.
Hanya saja kadang-kadang Allah Subhanahu wa Ta’ala menolongnya tapi manusia tidak merasa ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan selalu meminta pertolongan kepada Allah, seorang hamba harusnya menjadi hamba yang kuat, karena dia bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا
“Sesungguhnya kekuatan itu adalah milik Allah seluruhnya.” (QS. Al-Baqarah[2]: 165)
Hamba yang merasa dia ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia menjadi hamba yang kuat. Ini perlu kita tanamkan kepada anak-anak untuk menjadi pribadi yang kuat, tidak mudah menyerah, tidak mudah mundur sebelum dia berusaha semaksimal mungkin.
“Jangan bersikap lemah,” baik mental maupun fisiknya.