Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Tafsir Ali Imran Ayat 32 – Taat Kepada Allah dan RasulNya
    Tafsir Ali Imran Ayat 32 – Taat Kepada Allah dan RasulNya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 06 Rabi’ul Akhir 1443 H / 11 November 2021 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 32 – Taat Kepada Allah dan RasulNya
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
    “Katakanlah: ‘Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul; dan jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang kafir.” (QS. Ali-Imran[3]: 32)
    Yang dimaksud dengan taat adalah sebuah ungkapan tentang ketundukan dan persetujuan, baik itu berupa melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu. Kalau berupa perintah, maka ketaatannya adalah melaksanakan apa yang diperintahkan tersebut. Dan apabila berupa larangan, maka ketaatanya adalah dengan cara menjauhi hal yang dilarang tersebut.
    Mentaati Rasul dari apa yang diperintahkan olehnya dari syariat, maka ini merupakan bentuk ketaatan ekpada Allah. Adapun tentang yang tidak berhubungan dengan syariat, maka tidak diragukan lagi bahwa manusia yang punya hak terbesar atas kita adalah beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Akan tetapi Rasul terkadang memberikan syafaat tentang sesuatu yang tidak harus ditaati dalam syafaat tersebut sebagaimana dalam kisah Barirah yang sudah kita bahas.
    Pada kisah Barirah ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan syafaat untuk suaminya agar kembali kepada suaminya, Barirah mengatakan tidak mau. Sebelumnya Barirah bertanya apakah itu perintah? Kalau perintah maka dia akan mendengar dan taat. Tapi ternyata itu hanya anjuran semata. Oleh karena itu Barirah memilih tidak kembali kepada suaminya.
    Kemudian Allah berfirman: “Apabila mereka berpaling (yaitu akni tidak mentaati Allah dan RasulNya), maka ini merupakan kekufuran.” Akan tetapi tidak dihukumi secara mutlak, bisa jadi mengeluarkan dari Islam dan bisa jadi tidak mengeluarkan dari Islam.
    Apabila kekufurannya berupa mengkufuri secara mutlak (seluruh apa yang diperintahkan), maka ini adalah kekufuran yang mengeluarkan dari Islam. Tetapi kalau muqayyad (terkait dengan sebagian perintah), maka ini tidak mengeluarkan dari Islam. Timbangannya adalah nash. Jika nashnya menunjukkan bahwa itu merupakan kekafiran, maka keberpalingnya merupakan kekafiran yang mengeluarkan dari agama Islam. Apabila nashnya menunjukkan hanya maksiat  dibawa kekufuran, maka itu kekufuran yang tidak mengeluarkan dari Islam.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian Tentang Taat Kepada Allah dan RasulNya

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Ali Imran 32 – Taat Kepada Allah dan RasulNya
    Mari turut membagikan link download kajian yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    47 min
  • Mencintai Ilmu Agama
    Mencintai Ilmu Agama adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 06 Rabi’ul Akhir 1443 H / 11 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Ilmu Adalah Kehidupan Bagi Ruh

    Ceramah Agama Islam Tentang Mencintai Ilmu Agama
    Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu berkata bahwa mencintai ilmu agama atau mencintai orang yang berilmu merupakan ibadah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa ilmu adalah warisan para Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam. Dan orang-orang yang berilmu adalah ahli waris para Nabi. Dikatakan ‘perwaris para Nabi’ menunjukkan dekatnya kedudukan mereka dari para Nabi dan Rasul. Dalam artian tingkatan setelah para Nabi dan para Rasul adalah orang-orang yang  mengambil ilmu mereka dan menyebarkannya di kalangan manusia.
    Karena ilmu adalah warisan para Nabi, maka mencintai ilmu dan orang-orang yang berilmu berarti mencintai warisan para Nabi dan ahli waris mereka. Sebagaimana membenci ilmu dan membenci orang-orang yang berilmu berarti membenci warisan para Nabi dan ahli waris mereka.
    Makanya kita mengetahui bahwa menuntut ilmu adalah ibadah yang paling afdhal. Bahkan sudah pernah kita nukilkan penjelasan dari Imam Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullahu Ta’ala yang menyebutkan bahwa kebanyakan dari para ulama Salaf menegaskan hal ini:
    طلب العلم أفضل من نوافل العبادات
    “Menuntut ilmu keutamaannya/pahalanya lebih utama dibandingkan amalan-amalan ibadah yang sunnah.”
    Makanya ilmu ini berhubungan dengan ibadah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita ingat di dalam Islam bahwa mencintai hal-hal yang berhubungan dengan agama adalah ibadah dan keutamaan yang besar. Sebagaimana juga membenci atau memperolok-olok/melecehkan/meremehkan hal-hal yang berhubungan dengan agama bukan hanya dosa besar, tapi bisa membawa kepada kekufuran. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    …قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ‎﴿٦٥﴾‏ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ…
    “Katakanlah, ‘Apakah terhadap Allah, terhadap ayat-ayatNya dan terhadap RasulNya kalian berani memperolok-olok?’ Janganlah kalian meminta maaf, sungguh kalian telah kufur setelah beriman…” (QS. At-Taubah[9]: 65)
    Maka sebagian dari para ulama menjelaskan bahwa termasuk didalamnya adalah membenci orang yang berilmu atau seorang ulama ‘Ahlus Sunnah karena ilmu yang dibawanya dan karena sikap berpegang teguhnya yang kuat terhadap sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Membenci seorang ulama karena ilmu yang dibawanya atau karena sunnah yang dipegang teguhnya bisa menjadi sebab kekufuran.
    Mencintai ilmu adalah tanda kebaikan
    Kata Ibnul Qayyim selanjutnya bahwa mencintai ilmu merupakan tanda-tanda kebaikan. Karena mencintai ilmu berarti kita mencintai petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya, menjelaskan tentang cara beriman yang benar, mengenal aqidah yang benar sesuai dengan pemahaman para shahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum Ajma’in. Kalau tujuannya mulia, berarti mencintai sarana untuk yang membawa kepada kemuliaan tersebut termasuk bagian dari mencintai kemuliaan tersebut dan termasuk bagian dari ibadah yang agung.
    52 min
  • Berobat Tidak Menafikan Tawakal
    Berobat Tidak Menafikan Tawakal adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 05 Rabi’ul Akhir 1443H / 10 November 2021 M.
    Kajian Tentang Berobat Tidak Menafikan Tawakal
    Adapun melakukan sebab dan berobat yang tidak ada kemakruhan di dalamnya, maka ini tidak menodai tawakal. Ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah secara marfu’, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    ما أنزل اللهُ داءً إلا أنزل له شفاءً علمَهُ من علمه وجهلَه من جهِله
    “Tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Allah telah menurunkan untuknya obat. Ada yang mengetahuinya dan ada yang tidak mengetahui.” (HR. Bukhari Muslim)
    Ini menunjukkan orang yang mengerjakan sebab tidak menafikkan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan jika obat tersebut bermanfaat, maka meninggalkan berobat dalam keadaan seperti ini tercela dan tidak disyaratkan.
    Dan juga dalil yang menunjukkan bahwa semestinya seseorang berobat saat sakit (terutama jika ada obat yang diketahui), yaitu hadits dari Usamah bin Syarik Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata:
    كنت عند النبي صلى الله عليه وسلم وجاءت الأعراب فقالوا يا رسول الله انتداوي؟ فقال: نعم يا عباد الله تداووا فإن الله عز وجل لم يضع داء إلا وضع له شفاء غير داء واحد. قالوا ما هو؟ قال: الهرم
    “Aku pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu datang seorang dari kampung Arab pedalaman dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah kita boleh berobat?’
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Iya, wahai hamba-hamba Allah, berobatlah, karena Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah meletakkan penyakit kecuali meletakkan untuknya obat penyembuh, kecuali satu penyakit.’
    Kemudian orang Arab itu bertanya: ‘Apa itu?’ Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: ‘Tua.'” (HR. Ahmad)
    Hadits ini juga menunjukkan bahwa disyariatkan untuk berobat dan tidak menafikkan tawakal ketika seseorang berobat.
    Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Hadits-hadits ini mengandung beberapa perkara. Yaitu di antaranya menetapkan adanya sebab dan akibat, membatalkan pendapat yang mengingkari adanya sebab dan akibat, perintah untuk berobat, dan bahwasanya berobat tidak menafikan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana tidak tidak menafikkan tawakal menolak lapar dan haus,  dingin dan panas dengan kebaikan-kebalikannya.
    Bahkan tidak sempurna hakikat tauhid kecuali dengan mengerjakan sebab secara langsung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tegakkan sebagai konsekuensi dari akibat, baik itu secara kuasa Allah ataupun secara syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bahkan meniadakan melakukan sebab mencela tawakal itu sendiri, sebagaimana ia mencela perintah dan hikmah dan bahkan melemahkan tawakal dari sisi dia mengira bahwa tidak mengerjakan tawakal maka lebih kuat dalam tawakal.
    Karena orang yang meninggalkan sebab adalah kelemahan dan menafikan tawakal, yang mana hakikat tawakal adalah bersandar hati kepada Allah didalam perkara mendapatkan apa yang bermanfaat untuk seorang hamba pada dunia dan agamanya, dan menahan apa yang membahayakannya dalam perkara dunianya atau agamanya, dan harus bersamaan dengan bersandarnya hati dengan langsung melakukan sebab, kalau tidak mengerjakan sebab maka dia meniadakan hikmah dalam penciptaan Allah dan juga tidak sesuai dengan syariat Islam.
    Maka jangan sampai seorang hamba menjadikan kelemahannya sebagai tawakal dan jangan jadikan tawakalnya sebagai kelemahan.”
    1 hr 11 min
  • Hikmah Diutusnya Para Rasul – Surah Al-Baqarah Ayat 213
    Hikmah Diutusnya Para Rasul – Surah Al-Baqarah Ayat 213 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa 04 Rabi’ul Akhir 1443 H / 09 November 2021 M.
    Download juga kajian sebelumnya: Kebiasaan Orang Kafir Mencela Orang Beriman – Surah Al-Baqarah Ayat 212
    Surah Al-Baqarah Ayat 213
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
    “Adalah manusia tadinya satu umat. Maka saat mereka berselisih, Allah pun mengutus para Nabi untuk memberikan kabar gembira dan peringatan, dan Allah turunkan bersama meraka kitab suci dengan membawa kebenaran, agar menghakimi manusia dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Dan tidaklah berselisih tentang kitab suci kecuali orang-orang yang telah diberikan kepada mereka kitab suci tersebut, setelah datang kepada mereka keterangan akibat kedzaliman di antara mereka. Maka Allah memberikan hidayah kepada orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendakNya. Dan Allah memberikan hidayah siapa yang Allah kehendaki kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah[2]: 213)
    Manusia tadinya satu umat
    Sebagian ulama mengatakan yang dimaksud ayat ini bahwa manusia tadinya berasal dari satu orang, yaitu Nabi Adam ‘Alaihish Shalatu was Salam. Sbagian lagi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘manusia’ di sini yaitu 10 generasi pertama dari keturunan Nabi Adam ‘Alaihish Shalatu was Salam.
    Penafsiran yang benar dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu bahwa yang dimaksud ‘manusia’ di sini adalah generasi 10 abad pertama dari anak-anak Nabi Adam. Bahwasanya mereka semua diatas satu aqidah/agama, yaitu agama Islam. Syaikh ‘Utsaimin merajihkan pendapat ini.
    Artinya bahwa manusia sebelum diutusnya para Nabi dan Rasul (setelah Nabi Adam ‘Alaihish Shalatu was Salam) mereka diatas satu agama, yaitu Islam. Karena Nabi Adam adalah seorang Nabi yang Allah turunkan kepadanya syariat untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan anak-anak Nabi Adam pun di atas agama ayahnya. Kemudian ketika telah banyak manusia, pendapat-pendapat mereka berselisih. Maka ketika mereka berselisih itulah Allah pun kemudian mengutus para Nabi dan Rasul.
    Memberikan kabar gembira dan peringatan
    Tugas seluruh Nabi dan Rasul tidak lepas dari dua hal ini. Yaitu memberikan kabar gembira dengan surga bagi orang-orang yang mau menaati Allah dan memperingatkan manusia dengan neraka bagi orang yang tidak mau menaati Allah ‘Azza wa Jalla.
    Ini merupakan pokok dalam mendidik manusia. Yaitu hendaknya diseimbangkan antara pemberian kabar gembira dengan pemberian peringatan peringatan. Kabar gembira untuk menimbulkan motivasi dan semangat melakukan amal shalih dan ketaatan. Adapun pemberian peringatan adalah agar takut dari api neraka dan meninggalkan perbuatan maksiat.
    Yang namanya berharap dan takut harus diseimbangkan. Kecuali dalam keadaan-keadaan yang memang harus diberatkan salah satunya. Misalnya dalam keadaan sedang sakit,
    41 min
  • Hadits Ringkas dan Ringan Untuk Anak
    Hadits Ringkas dan Ringan Untuk Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa 04 Rabi’ul Akhir 1443 H / 09 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Menumbuhkan Kepedulian Sosial Pada Anak
    Kajian Islam Ilmiah Tentang Hadits Ringkas dan Ringan Untuk Anak
    Ada beberapa hadits-hadits Nabi yang berisi nasihat-nasihat yang perlu kita sampaikan, dan hendaknya ini dihafal oleh orang tua untuk disampaikan kepada anak. Beberapa hadits-hadits yang ringkas, ringan dan mudah untuk dihafal.
    Hadits kebersihan bagian dari iman
    Misalnya mengenai masalah menjaga kebersihan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
    الطُّهُوْرُ شَطْرُ الإِيْمَانِ
    “Kebersihan itu bagian dari iman.” (HR. Muslim)
    Lihat juga: Hadits Arbain Ke 23 – Keutamaan Bersuci
    Bahwa ciri-ciri orang mukmin itu adalah bersih, baik dirinya maupun lingkungannya. Sehingga anak terdorong untuk menjalani pola hidup bersih. Misalnya tidak buang sampah sembarangan, tidak membiarkan sampah-sampah berserakan di kamar, di rumah ataupun di lingkungannya.
    Untuk melatih disiplin bersih ini memang harus dari kecil. Karena kita lihat anak-anak yang jorok memang tidak diajarkan untuk menjalani pola hidup bersih. Misalnya kita lihat sebagian anak itu teledor membuang sampah sembarangan. Mungkin ini adalah sesuatu yang dilihat dari orang tuanya atau bahkan dari gurunya.
    Jadi memang harus dilatih disiplin dalam kebersihan. Dan kita motivasi dia dengan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengatakan:
    لَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ
    “Tidak ada yang menjaga wudhu kecuali orang mukmin.” (HR. Ibnu Majah)
    Jadi mukmin itu identik dengan kebersihan. Bukan hanya kebersihan diri, tapi juga kebersihan lingkungan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
    طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ
    “Bersihkanlah pekarangan kamu.” (HR. Ath-Thabrani)
    Logikanya, kalau Nabi menyuruh kita membersihkan pekarangan, tentunya ini juga perintah untuk membersihkan dalam rumah. Luar rumah saja harus bersih apalagi di dalamnya yang mana kita tinggal di dalamnya. Maka menjaga kebersihan adalah ciri orang beriman.
    Kaitannya dengan dunia pendidikan adalah melatih anak untuk disiplin bersih. Dan itu adalah bagian dari gaya hidupnya. Ini tentunya akan mendorongnya untuk menjadi pribadi yang bersih jasmani maupun rohani.
    Hadits larangan sombong
    Menit ke- Sombong adalah sifat yang sangat buruk. Maka kita perlu menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan ini kepada anak. Seperti hadits Nabi tentang definisi sombong, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
    “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi kesombongan.” (HR. Muslim)
    Kesombongan menghalangi seorang hamba dari surga. Kemudian jelaskan apa definisi sombong. Yaitu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
    “Sombong itu adalah suka menolak kebenaran dan senang merendahkan orang lain.” (HR. Muslim)
    Maka anak dilatih untuk mendengar dan menerima nasihat, membela yang benar dan mengagungkan kebenaran.
    53 min
  • Keutamaan Adzan
    Keutamaan Adzan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa 04 Rabi’ul Akhir 1443 H / 09 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Keutamaan Wudhu
    Keutamaan Adzan
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِذا نُودِي بالصَّلاةِ، أَدْبرَ الشيْطَانُ ولهُ ضُرَاطٌ حتَّى لاَ يسْمع التَّأْذِينَ، فَإِذا قُضِيَ النِّداءُ أَقْبَل، حتَّى إِذا ثُوِّبَ للصَّلاةِ أَدْبَر، حَتَّى إِذا قُضِيَ التَّثْويِبُ أَقْبلَ، حَتَّى يخْطِر بَيْنَ المرْءِ ونَفْسِهِ يقُولُ: اذْكُرْ كَذا، واذكُرْ كذا لمَا لَمْ يكن يذْكُرْ منْ قَبْلُ حَتَّى يظَلَّ الرَّجُلُ مَا يدرَي كَمْ صلَّى
    “Apabila adzan dikumandangkan, maka setan akan lari menjauh dan dan keluar kentut darinya sampai dia tidak mendengar adzan. Kalau adzan selesai dikumandangkan, maka dia datang lagi. Ketika iqamah dikumandangkan maka dia lari lagi. Kalau iqamah selesai dia datang lagi. Sampai dia mengganggu dengan bisikan-bisikannya antara seorang yang shalat dengan shalatnya. Ketika orang itu dalam keadaan shalat, setan mengatakan kepada orang itu ‘ingat ini dan ingat itu’ untuk sesuatu yang tidak diingat oleh orang yang shalat itu. Sampai-sampai seorang tidak tahu berapa rakaat dia shalat.” (Muttafaqun alaih)
    Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu ini menjelaskan kepada kita tentang sebab setan lari dan menjauh adalah ketika mendengar adzan dan iqamah.
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang hal-hal ghaib. Yaitu tentang setan yang kita tidak melihat mereka dengan mata kepala. Tetapi kita beriman kepada Allah dan RasulNya tentang adanya setan yang mengganggu/menggoda/membisiki manusia dengan bisikan-bisikan yang dikehendaki oleh setan itu.
    Hadits ini juga menjelaskan kepada kita tentang pertarungan antara orang-orang beriman dengan setan. Setan itu terus ingin menyesatkan manusia agar menyimpang dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Hadits ini juga menjelaskan kepada kita tentang cara-cara yang digunakan setan di dalam menyebatkan anak Adam. Dia berupaya dengan penuh kesabaran bagaimana agar manusia tersesat dari jalan yang lurus. Makanya seorang hamba hendaknya selalu bersandar/tergantung dan berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
    Hadits berikutnya, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِذا سمِعْتُمُ النِّداءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ، ثُمَّ صَلُّوا علَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى علَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ بِهَا عشْراً، ثُمَّ سلُوا اللَّه لِيَ الْوسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنزِلَةٌ في الجنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إِلاَّ لعَبْدٍ منْ عِباد اللَّه وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُو، فَمنْ سَأَل ليَ الْوسِيلَة حَلَّتْ لَهُ الشَّفاعَةُ
    “Apabila kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muadzin. Kemudian shalawatlah kamu kepadaku. Karena sesungguhnya barangsiapa yang membaca shalawat atasku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bersalawat kepada orang itu sepuluh kali shalawat. Kemudian mohonlah kepada Allah untuk aku al-wasilah. Karena sesungguhnya al-wasilah adalah sebuah kedudukan yang tinggi di sisi Allah, yang mana kedudukan tersebut tidak sepatutnya diberikan kecuali kepada seorang hamba di antara hamba-hamba Allah. Dan aku berharap yang dimaksud dengan hamba tersebut adalah aku. Barangsiapa yang memohon kepada Allah untukku al-wasilah, maka halal baginya syafaat.” (HR. Muslim)
    1 hr 27 min
  • Disyariatkannya Berobat
    Disyariatkannya Berobat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 3 Rabiul Akhir 1443 H / 8 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Ujian Merupakan Sunatullah Pada MakhlukNya

    Ceramah Agama Islam Tentang Disyariatkannya Berobat
    Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Ashabul Ukhdud adalah sebagai berikut:
    7. Disyariatkannya Berobat
    Berobat ada dua jenis. Yaitu (1) dengan obat-obatan yang alami, pergi ke dokter/tabib untuk berobat atau yang semisal. (2) berobat dengan obat-obatan ilahiyah ruhaniyah yang datang keterangannya dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yaitu:
    Bersedekah
    Di antaranya berobat dengan cara bersedekah. Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits yang hasan:
    دَاوَوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
    “Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan bersedekah.” (HR. Baihaqi)
    Membacakan surah Al-Fatihah
    Di antaranya juga berobat dengan membacakan surah Al-Fatihah kepada orang yang sakit. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkata kepada salah satu sahabat beliau ketika sahabat beliau meruqyah seseorang kemudian sembuh. Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya:
    وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ
    “Darimana engkau tahu bahwa surah Al-Fatihah ini adalah ruqyah?” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Berdoa
    Di antaranya juga adalah berdoa. Doa sangat penting sekali, bahkan banyak penyakit sembuh karena doa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ
    “Doa itu bermanfaat untuk sesuatu yang sudah terjadi atau belum terjadi, maka wajib atas kalian wahai hamba-hamba Allah untuk melakukan doa.” (HR. Tirmidzi)
    Minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allah Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu. Bagi Allah sangat mudah memberikan kesembuhan kepada penyakit yang seorang sangka sulit untuk sembuh.
    Melakukan ruqyah syar’iyyah
    Melakukan ruqyah syar’iyyah sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada kita. Jangan melakukan ruqyah yang bid’ah/syirik berbentuk jampi-jampi. Jagan pula ghuluw (berlebih-lebihan) dalam melakukan ruqyah. Yaitu semuanya diruqyah; kepala, kaki, tangan, mobil, motor, rumah, ini berlebihan.
    Ketika meruqyah, hendaknya jangan banyak bertanya kepada jin apalagi mempercayainya. Misalnya ditanya siapa namanya, lahir dimana, berapa yang ada di tubuh ini. Tentu ini kebodohan. Karena anak buah iblis itu pembohong. Khawatir orang yang percaya dengan yang seperti ini masuk kepada hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
    “Barangsiapa yang mendatangi peramal atau dukun, kemudian membenarkan apa yang diucapkannya, maka dia telah mengkafiri terhadap ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Ahmad)
    Madu
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di surat An-Nahl ayat 69:
    فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ
    “Pada madu itu ada obat untuk manusia.” (QS. An-Nahl[16]: 69)
    54 min
  • Ahli Fiqih Yang Mendekati Pintu Penguasa
    Ahli Fiqih Yang Mendekati Pintu Penguasa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 3 Rabiul Akhir 1443 H / 8 November 2021 M.

    Kajian Islam Tentang Ahli Fiqih Yang Mendekati Pintu Penguasa
    Mendekati pintu penguasa adalah salah satu talbis iblis terhadap para Fuqaha. Mereka mengira bahwa itu adalah salah satu kesuksesan dan kemajuan. Dan banyak di antara mereka ketika mendekati penguasa terfitnah dengan harta dan kedudukan yang ditawarkan, sehingga hati mereka terfitnah dengan dunia. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengatakan bahwa barangsiapa yang mendatangi pintu penguasa, maka dia akan terkena fitnah dunia.
    Ada penyakit yang mengancam manusia berkaitan dengan dunia, yaitu penyakit wahn (cinta kepada dunia). Siapa saja ada potensi untuk terkena penyakit tersebut tanpa pandang bulu. Maka dari itu para ulama Salaf dahulu menjaga kedekatan mereka dari para penguasa tersebut, mereka tidak mendatangi pintu penguasa.
    Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Aku tidak khawatir apabila penguasa menghinakan diriku. Justru yang aku khawatirkan adalah pada waktu mereka memuliakanku sehingga hatiku menjadi lunak terhadap mereka.”
    Maka para ulama Salaf dahulu menjaga kedekatan mereka dengan penguasa agar kewajiban-kewajiban yang mereka emban seperti amar ma’ruf nahi munkar dan menyampaikan nasihat bisa dilakukan dengan baik tanpa ada intervensi dari para penguasa tersebut.
    Para ulama Salaf menjauhkan diri dari para penguasa karena kezaliman yang mungkin nampak jelas yang dilakukan oleh para penguasa. Para penguasa itu akan meminta bantuan kepada para ulama, mereka membutuhkan fatwa/pendapat dalam menjalankan roda kekuasaan mereka. Lalu akan muncul orang-orang yang kecenderungannya terhadap dunia, maka mereka pun mungkin akan melayani apa yang diinginkan oleh para penguasa itu. Kemudian mereka menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah, mengorbankan akhirat demi mendapatkan dunia. Ini yang dikawatirkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi siapa saja yang mendekati pintu penguasa.
    Apabila hati itu sudah terkena penyakit wahn (cinta kepada dunia), bahkan mungkin berlebihan, maka mereka akan gelap mata menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta dengan kedudukan yang mereka miliki sebagai pemuka agama atau dipandang sebagai ahli ilmu atau status-status agama lainnya yang membuat manusia percaya kepadanya.
    Memakan harta wakaf
    Kadangkala di antara mereka ada yang berani memakan harta wakaf yang diwakafkan oleh kaum muslimin untuk madrasah-madrasah yang dibangun untuk para penuntut ilmu, dakwah dan pendidikan. Mreka memakan harta tersebut dan merasa punya bagian disitu. Bahkan banyak di antara mereka yang mengklaim harta wakaf itu sebagai harta pribadinya. Kadangkala mereka menyamarkan status harta wakaf itu kemudian akibatnya generasi-generasi yang datang sesudahnya mengklaim harta itu sebagai harta ayah atau kakeknya, padahal itu adalah harta wakaf/umat. Harta yang tidak hak baginya ini diwariskannya kepada cucunya.
    Ini adalah salah satu hal yang sangat berbahaya. Penyelesaian hal-hal yang berkaitan dengan harta itu tidak mudah di akhirat. Tidak dengan mudah kita bisa melepaskan dosa-dosa kedzaliman berkaitan dengan harta. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan:
    وَلَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ…
    “Janganlah kalian memakan harta sebagian kalian atas sebahagian yang lainnya secara batil.” (QS. Al-Baqarah[2]: 188)
    Ini yang perlu kita berhati-hati di dalam bab h...
    53 min
  • Bacaan Dzikir Pagi – Maha Suci Allah dan Segala Pujian Hanya UntukNya
    Bacaan Dzikir Pagi – Maha Suci Allah dan Segala Pujian Hanya UntukNya merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 3 Rabiul Akhir 1443 H / 8 November 2021 M.

    Kajian Tentang Bacaan Dzikir Pagi – Maha Suci Allah dan Segala Pujian Hanya UntukNya
    Masih membahas sebuah wirid yang dibaca pagi sebanyak tiga kali. Bacaan itu berbunyi:
    سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
    “Maha Suci Allah dan segala pujian hanya untukNya sejumlah makhluk ciptaanNya, sebesar keridhaanNya, seberat ‘Arsynya Allah, sebanyak tinta yang dipergunakan untuk menulis kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)
    Di sini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan sebuah wirid yang bisa dijadikan sebagai alternatif pengganti atas apa yang dilakukan oleh Juwairiyah Radhiyallahu ‘Anha. Yang menarik di sini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa kalimat yang pendek ini bisa mengalahkan dzikir yang dibaca berjam-jam. Hal ini karena dahsyatnya kandungan yang ada di dalam kalimat dzikir tersebut.
    Secara ringkas tasbih artinya ketika kita mengucapkan ‘Subhanallah’ adalah Maha Suci Allah. Kita berupaya untuk menjauhkan segala kekurangan dari Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mensucikan Allah dari sifat-sifat yang buruk dan perbuatan-perbuatan yang tidak layak bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Adapun ‘Alhamdulillah’ artinya adalah kita memuji Allah dengan menyebutkan sifat-sifatNya yang mulia dan dengan mengingat karunia yang Allah berikan kepada kita yang tidak terhingga jumlahnya.
    1. Sejumlah makhluk ciptaanNya
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kita bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak untuk disucikan dengan mengucapkan ‘Subhanallah‘ dan dipuji dengan mengucapkan ‘Wabihamdih‘.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak untuk disucikan dan dipuji sebanyak makhluk yang diciptakanNya. Maknanya bahwa Allah berhak untuk dipuji dan disucikan dengan jumlah yang tidak terhitung sebagaimana makhluk tidak terhitung. Sehingga jangan pernah kita merasa ‘Saya sempurna sempurna di dalam berdzikir kepada Allah.’ Karena sebanyak apapun kita berdzikir, maka tidak akan pernah bisa mencapai kesempurnaan. Tapi kita disuruh oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
    “berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 41)
    Batas minimal ‘dzikir yang banyak’ adalah ketika kita sudah membaca seluruh dzikir/wirid/doa yang ada tuntunannya. Sedangkan masih ada dzikir-dzikir yang ada tuntunannya yang belum kita amalkan. Maka kalimat ‘sebanyak jumlah makhluk Allah’ ini memberikan pelajaran yang berharga kepada kita. Yaitu agar kita meningkatkan jumlah dzikir kita.
    2. Sebesar keridhaanNya Allah
    Menit ke- Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak untuk dipuji dan disucikan sebesar keridhaanNya (tidak ada batasnya). Maka kita harus terus meningkatkan kualitas dzikir kita. Yaitu dengan cara memahami dan merenungi makna yang kita baca.
    Dzikir bukan tentang siapa yang paling cepat selesai, atau suara yang paling keras, tapi dzikir itu diukur dengan seberapa kita mengerti apa yang kita baca, seberapa kita meresapi makna yang ada didalamnya, dan seberapa kita mengaplikasikan konsekuensi dari dzikir itu dalam kehidupan kita sehari-hari.
    3. Seberat ‘ArsyNya Allah
    Menit ke- Kita tahu bahwa makhluk yang diciptakan ...
    48 min
  • Udzur Bolehnya Shalat Diluar Waktunya
    Udzur Bolehnya Shalat Diluar Waktunya ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 3 Rabiul Akhir 1443 H / 8 November 2021 M.

    Download kajian sebelumnya: Menjalankan Shalat Diwaktunya
    Kajian Fiqih Tentang Udzur Bolehnya Shalat Diluar Waktunya
    Kita telah membahas bahwa waktu merupakan sesuatu yang sangat ditekankan di dalam shalat lima waktu. Apapun keadaannya, kita berusaha untuk menjalankannya di waktunya.
    Kita juga sudah membahas bagaimana kalau ada orang sudah masuk ke dalam waktu kemudian tidak menjalankan shalat diawal waktunya. Ternyata di tengah-tengah waktu datang udur yang menjadikan dia tidak boleh shalat seperti haid atau nifas. Apakah dia wajib mengqadha shalat tersebut?
    Dipertemuan kali ini juga dibahas tentang beberapa permasalahan. Yaitu:
    Menit ke- Waktu shalat merupakan sesuatu yang sangat ditekankan sekali dalam syariat shalat. Kita harus melakukan shalat di dalam waktunya sebisa mungkin (apapun keadaannya).
    Ketika dikatakan ‘udzur’ berarti bukan karena keinginan seseorang. Udzur bisa dibahasakan sebagai alasan yang dibenarkan/diterima oleh syariat. Adapun alasan-alasan yang diterima oleh syariat yang menjadikan seseorang boleh menjalankan shalat di luar waktunya adalah:
    1. Lupa
    Dalil dari dua udzur ini adalah sabda Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ
    “Barangsiapa yang lupa terhadap shalatnya (sampai akhirnya dia meninggalkan shalat tersebut karena lupa), maka silakan dia shalat ketika inget, tidak ada penebus untuk shalat tersebut kecuali itu.” (HR. Abu Dawud)
    Ini juga masuk dalam keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
    “Wahai Rabb kami, jangan hukum kami apabila kami lupa atau kami tidak sengaja melakukan sesuatu kesalahan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 286)
    Di dalam hadits yang shahih, disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    قَدْ فَعَلْتُ
    “Aku telah melakukan hal itu.”
    Berarti ketika seorang hamba melakukan kesalahan karena lupa atau tidak sengaja, maka Allah tidak memberikan hukuman kepadanya. Oleh karena itu kalau ada orang lupa menjalankan shalat pada waktunya, maka Allah tidak menghukum dia. Tapi Allah memerintahkan kepadanya untuk mengqadha shalatnya ketika ingat.
    2. Ketiduran
    Adapun dalil untuk udzur tidur ditunjukkan oleh peristiwa yang terjadi pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya. Beliau pernah tidur bersama para sahabatnya dalam sebuah perjalanan jauh. Mungkin beliau dan para sahabatnya sedang capek-capeknya sehingga mereka tidaklah bangun kecuali karena ada sinar matahari yang sampai ke wajah mereka. Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika itu mengatakan:
    ليس في النوم تفريط، إنما التفريط على من لم يصل الصلاة حتى يجيء وقت الصلاة الأخرى، فمن فعل ذلك فليصلها حين ينتبه لها
    “Tidak ada kelalaian dalam tidur, akan tetapi kelalaian yang sebenarnya adalah apabila orang tidak menjalankan shalatnya sampai datang waktu shalat yang lain. Barangsiapa yang melakukan hal tersebut (meninggalkan shalat karena tidur), maka silahkan shalat ketika sudah terjaga.” (HR. Muslim)
    3. Paksaan
    Menit ke- Ketika ada orang dipaksa untuk meninggalkan shalat, bahkan misalnya berisyarat untuk shalat pun tidak boleh bagi dia.
    1 hr 18 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah