Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Tafsir Ali Imran Ayat 33-34 – Orang-Orang Pilihan
    Tafsir Ali Imran Ayat 33-34 – Orang-Orang Pilihan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 20 Rabi’ul Akhir 1443 H / 25 November 2021 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 33-34 – Orang-Orang Pilihan
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ ‎﴿٣٣﴾‏ ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِن بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ‎﴿٣٤﴾
    “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran diatas seluruh alam, (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya merupakan keturunan dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali-Imran[3]: 32)
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan faedah dua ayat ini. Yaitu:
    Pertama, penjelasan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran di atas makhlukNya yang lain.
    Kedua, Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih dari makhlukNya siapa yang Allah kehendaki dan apa yang Allah kehendaki. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
    “Dan Rabbmu mencipta apa yang Dia kehendaki dan Dia memilih dari ciptaanNya tersebut. Mereka tidak memiliki pilihan. Maha Suci Allah serta Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Qasas[28]: 68)
    Ketiga, makhluk Allah tidak satu derajat dalam amalan, sifat, rezeki, juga dalam perorangan individu. Allah mengangkat sebagian mereka di atas sebagian yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
    “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami-lah yang membagi maisyah mereka dalam kehidupan dunia di antara mereka. Dan Kami angkat sebagian mereka diatas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dengan sebagian yang lain saling mengambil manfaat. Dan rahmat Rabbmu itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf[44]: 32)
    Keempat, sebagian ulama mengatakan dengan ayat ini bahwa orang-orang shalih dari kalangan manusia lebih utama dari malaikat. Mereka juga berdalil dengan beberapa dalil, di antaranya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam.
    Tapi menurut Syaikh, bahwa pembahasan ini kurang berfaedah. Faedahnya apa kalau kita katakan bahwa Fulan lebih afdhal dari Malaikat Jibril? Apa faedahnya kalau kita katakan orang-orang shalih dari kalangan Bani Adam lebih utama dari malaikat atau malaikat lebih utama dari orang-orang shalih?
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengkompromikan dua pendapat ini. Beliau berkata bahwa malaikat lebih utama dari manusia diawalnya. Adapun manusia yang shalih lebih utama dari malaikat diakhirnya. Hal ini bisa terjadi karena cahaya lebih utama dari tanah. Malaikat diciptakan dari cahaya, berbeda dengan tanah. Adapun diakhirnya surga itu diperuntukan untuk orang-orang shalih dari anak keturunan Adam dan juga untuk jin.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan bahwa malaikat masuk kepada penduduk surga dari setiap pintu dengan mengucapkan:
    سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ…
    49 min
  • Para Pembawa Ilmu Yang Tidak Amanah
    Para Pembawa Ilmu Yang Tidak Amanah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 20 Rabi’ul Akhir 1443 H / 25 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Orang Yang Berilmu Dicintai Dari Hati

    Ceramah Agama Islam Tentang Para Pembawa Ilmu Yang Tidak Amanah
    Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu menyampaikan nasihat bahwa tidak semua orang-orang yang membawa ilmu agama itu terpercaya dan ikhlas, tapi ada juga yang memang tidak amanah dalam hal ini.
    Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata bahwa ucapan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu “Ah, sesungguhnya di sini (dalam dada) ada ilmu,” ini menunjukkan bahwa seseorang boleh mengabarkan ilmu dan kebaikan yang ada pada dirinya agar orang bisa mengambil manfaatnya.
    Sebagian dari shahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum Ajma’in ketika menyampaikan tentang ayat-ayat Al-Qur’an bahwa mereka yang paham tafsirnya, seperti Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu mengatakan “tanya kepadaku,” supaya nanti orang tidak bertanya kepada yang tidak pantas menyampaikannya. Kalau tujuannya untuk hal ini, yaitu agar orang bisa mengambil ilmu dan kebaikan dari sumber yang benar, maka tentu ini diperbolehkan.
    Termasuk pengertian ini adalah ucapan Nabi Yusuf Ash-Shiddiq dalam Al-Qur’an:
    اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
    “Jadikanlah aku menjadi bendahara negeri ini, sesungguhnya aku adalah orang yang bisa menjaga dan orang yang punya ilmu tentang ini.” (QS. Yusuf[12]: 55)
    Hal itu diperbolehkan agar orang mengetahui sumber-sumber kebaikan dan bisa mengambil dari sumber yang benar.
    Barangsiapa yang memberitakan tentang dirinya dengan hal yang seperti ini untuk memperbanyak hal-hal yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya berupa kebaikan, maka ini terpuji. Tujuannya bukan untuk menyombongkan dirinya, bukan sekedar untuk pamer agar dipuji orang, tapi dia ingin menyampaikan kepada orang agar orang bisa mengambil dari sumber yang benar tentang ilmu dan kebaikan.
    Tentu berbeda dengan orang yang mengabarkan bahwa dia punya ilmu atau kebaikan dengan tujuannya untuk membanggakan dan membesarkan dirinya serta memamerkan kebaikannya agar dipuji dikalangan manusia, maka ini Allah akan berikan balasan dengan kebencian manusia terhadap dirinya dan kerdilnya nilai dirinya dimata manusia.
    Sementara orang yang pertama Allah Subhanahu wa Ta’ala akan agungkan di hati dan dalam pandangan manusia. Maka dalam hal ini:
    إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ
    “Sesungguhnya amal tergantung dari niat-niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Lihat juga: Hadits Arbain Ke 1 – Innamal A’malu Binniyat
    Memang ini termasuk semacam memuji diri sendiri atau memberitakan tentang kebaikan yang ada pada diri kita sendiri. Ini dalam tujuan-tujuan tertentu diperbolehkan, meskipun asalnya hal-hal yang seperti ini kalau dilakukan oleh kebanyakan manusia cenderung dikhawatirkan menjadikan dia memuji diri sendiri yang membawa kepada keburukan. Tapi tentu saja ucapan sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu ini tujuannya adalah untuk kebaikan, karena kita mestinya bersangka baik kepada para saha...
    57 min
  • Hadits Tentang Syirik Kecil
    Hadits Tentang Syirik Kecil adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 19 Rabi’ul Akhir 1443 H / 24 November 2021 M.

    Kajian Hadits Tentang Syirik Kecil
    Di dalam hadits disebutkan:
    أَخْوَفَ ما أَخافُ عليكُمُ الشِّركُ الأصغرُ، فسئل عنه، فقال: الرِّياءُ
    “‘Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil’. Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang syirik kecil tersebut, lalu beliau menjawab: ‘ar-riya’.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
    Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al-Albani Rahimahullahu Ta’ala di dalam kitab beliau Silsilah al-ahadits ash-shahihah dengan lafadz riwayat Imam Ahmad, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر. قالوا: وما الشرك الأصغر يا رسول الله؟ قال: الرياء، يقول الله تعالى يوم القيامة إذا جازى الناس بأعمالهم: اذهبوا إلى الذين كنتم تراءون في الدنيا فانظروا هل تجدون عندهم جزاء؟
    “‘Sesungguhnya apa yang aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.’ Kemudian para sahabat bertanya: ‘Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: ‘Syirik kecil adalah riya’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pada hari kiamat ketika membalas manusia dengan amal-amal perbuatan mereka: ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian riya’i di dunia, maka lihatlah apakah kalian mendapatkan ganjaran dari mereka?‘” (HR. Ahmad)
    Ini adalah termasuk dari kasih sayang dan sikap kelembutan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap umatnya. Tidak ada kebaikan apapun kecuali Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunjukkan dan memerintahkan untuk mengerjakan kebaikan tersebut. Dan tidak ada keburukan kecuali Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah menjelaskan, memberitahukan dan melarang umatnya.
    Ini seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    ما بعثَ اللَّهُ من نبيٍّ إلَّا كانَ حقًّا عليْهِ أن يدلَّ أمَّتَهُ على خيرِ ما يعلمُهُ لَهم
    “Tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus seorang Nabi pun melainkan wajib atas mereka untuk menunjukkan umatnya atas kebaikan apapun yang mereka ketahui.” (HR. Muslim)
    Jadi ketika mengabarkan bahwa yang paling ditakutkan adalah syirik kecil, ini adalah bentuk kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada umatnya. Beliau tidak membiarkan umatnya terperosok ke dalam kesyirikan, dosa paling besar. Maka apabila di zaman sekarang ada para pendakwah yang mengajarkan tauhid, menjauhkan diri dari kesyirikan, ini sebenarnya adalah termasuk daripada bentuk kasih sayang kepada umat Islam.
    Kebanyakan para pendakwah yang mengajarkan tauhid dan menjauhkan umat dari kesyirikan, mereka tidak memvonis secara personal bahwa Si Fulan musryik/kafir, tetapi mereka membicarakan hukum perbuatan.
    Jika syirik kecil dikhawatirkan atas sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, padahal mereka memiliki kesempurnaan ilmu dan kekuatan iman, maka bagaimana tidak dikhawatirkan terhadap orang yang dibawah mereka baik dari sisi ilmu ataupun iman dengan derajat yang lebih rendah lagi? Terlebih lagi jika diketahui bahwa kebanyakan ulama-ulama di dunia pada hari ini tidak mengetahui dari tauhid kecuali yang ditetapkan oleh orang-orang musyrik dahulu. Mereka tidak mengenal makna uluhiyah yang dinafikan oleh kalimat ikhlas dari setiap apa saja selain Allah.
    Makna dari tauhid bukan hanya sekedar meyakini Allah Maha Pencipta,
    0 min
  • Hikmah Allah Menguji HambaNya – Surah Al-Baqarah 214
    Hikmah Allah Menguji HambaNya – Surah Al-Baqarah 214 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 18 Rabi’ul Akhir 1443 H / 23 November 2021 M.
    Download juga kajian sebelumnya: Persatuan dan Perselisihan – Faedah Surah Al-Baqarah Ayat 213
    Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 214
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ ‎
    “Apakah kalian mengira untuk masuk ke dalam surga sementara belum datang kepada kalian seperti yang menimpa orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa kesulitan dan kesusahan, bahkan digoncang dengan berbagai macam ujian. Sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman berkata: ‘Kapan datangnya pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala?’ Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah[2]: 214)
    Menghadapi ujian
    Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kepada kita semuanya bahwa untuk masuk ke surga itu tidak semudah yang dibayangkan. Karena surga itu dikelilingi oleh perkara-perkara yang sulit. Allah mengatakan: “Apakah kalian mengira kalian akan masuk surga sementara belum menimpa kalian seperti yang menimpa orang-orang sebelum kalian?”
    Mereka ditimpa kesusahan, kesulitan dan berbagai macam ujian. Maka dari itu ternyata untuk masuk surga kita harus menghadapi ujian dulu. Sebagaimana juga Allah berfirman dalam ayat yang lainnya:
    أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
    “Apakah kalian mengira akan masuk surga, sementara belum tampak bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala siapa di antara kalian yang bersungguh-sungguh dan siapa yang sabar.” (QS. Ali-Imran[3]: 142)
    Jalan menuju surga membutuhkan kesabaran, keimanan, kekuatan dan kesungguhan. Jalan menuju surga bukan sebatas angan-angan “Saya ingin masuk surga, saya insyaAllah masuk surga,” tidak demikian.
    Setiap orang yang beriman pasti diuji. Terkadang ujian itu dengan kesulitan, kesusahan, musibah, bencana, juga malapetaka. Terkadang ujian itu diberikan dengan kesenangan. Dan pasti semua kita inginnya diuji dengan kesenangan. Tapi kita banyak yang tidak sabar dengan kesenangan. Karena dengan kesenangan justru dibuka pintu-pintu syahwat, dengan kesenangan terbuka pintu-pintu maksiat.
    Banyak orang yang tidak sabar dengan kesenangan. Saat ia senang lebih banyak lalai; dilalaikan oleh HP, game dan berbagai macam hal yang melalaikan. Saat kita senang, rasa takut kita kepada Allah berkurang.
    Faedah Surah Al-Baqarah 214
    Di antara faidah-faidah yang bisa kita petik dari ayat ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullah berkata:
    1. Perhatian Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap umat Islam
    Allah menghibur umat Islam dengan umat-umat sebelumnya. Artinya bahwa umat-umat sebelum kalian itu diberikan ujian sangat berat. Maka kalian pun (umat Islam) tidak mungkin bisa masuk surga kecuali melalui dan menghadapi ujian demi ujian tersebut.
    Ketika kita melihat orang yang lebih berat ujiannya, maka kita terhibur. Tapi ketika kita melihatnya kepada orang yang lebih senang, kita justru tidak menjadi orang yang bersyukur.
    Disebutkan dalam hadits,
    46 min
  • Khutbah Jumat: Kehidupan Hati
    Khutbah Jumat: Kehidupan Hati ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 14 Rabi’ul Akhir 1443H / 19 November 2021M.
    Khutbah Pertama Tentang Kehidupan Hati
    Sesungguhnya kehidupan hati adalah merupakan kehidupan yang hakiki. Dimana seorang hamba yang hatinya hidup, maka Allah berikan kepada dia berbagai macam kenikmatan. Dan kenikmatan yang paling luas adalah mengenal Allah ‘Azza wa Jalla, kenikmatan beramal shalih.
    Maka ketika seorang hamba diberikan oleh Allah hati yang hidup, dia bisa melihat kebenaran, dia bisa merasakan akan adanya penyakit-penyakit yang masuk ke dalam dirinya.
    Orang yang hatinya hidup, maka ia lebih bahagia dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah dibandingkan ia memaksiati Allah ‘Azza wa Jalla.
    Oleh karena itulah kewajiban seorang hamba lebih memperhatikan kesehatan hatinya dibandingkan kesehatan badannya. Dahulu para sahabat Rasulullah Shalawatullahi ‘Alaihi wa Salamuhu diberikan oleh Allah keistimewaan dan keutamaan bukan dengan banyaknya amal, akan tetapi dengan kebeningan hati mereka.
    Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Tidaklah para sahabat diberikan keutamaan oleh Allah karena banyaknya shalat atau banyaknya puasa mereka. Akan tetapi mereka diberikan keutamaan oleh Allah karena apa yang ada di hati mereka.”
    Dalam riwayat yang lain Al-Hasan Al-Bashri berkata kepada teman-temannya: “Kalian lebih banyak shalatnya, kalian lebih banyak puasanya dibandingkan para sahabat. Tapi para sahabat lebih utama dari kalian.”
    Lalu teman-temannya Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Kenapa hal itu terjadi?” Kata Al-Hasan Al-Bashri: “Karena hati mereka lebih mengharapkan akhirat dibandingkan kalian. Dan hati mereka lebih zuhud terhadap kehidupan dunia dibandingkan kalian.”
    Subhanallah..
    Seorang mukmin lebih memperhatikan kesehatan hatinya dibandingkan dengan kesehatan badannya. Adapun orang-orang yang terkena penyakit hati berupa kemunafikan, dia lebih memperhatikan kesehatan badannya dan tidak peduli dengan hatinya.
    Allah mensifati orang-orang munafik dalam surah Al-Munafiqun, Allah berfirman:
    وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ
    “Apabila kamu melihat mereka, badan-badan mereka membuat kamu kagum.” (QS. Al Munafiqun[63]: 4)
    Karena orang-orang munafik lebih memperhatikan badannya, tapi mereka tidak peduli dengan hatinya. Sedangkan mukmin sangat memperhatikan hatinya, dia khawatir kalau ternyata kemunafikan itu masuk ke dalam dirinya.
    Muhammad bin Al-Munkadir berkata:
    أَدْرَكْتُ ثَلاَثِيْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ
    “Aku bertemu dengan tiga puluh sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, semua mereka mengkhawatirkan kemunafikan itu ada pada diri mereka.” (HR. Bukhari)
    Bayangkan, para sahabat yang imannya luar biasa ternyata mereka semua mengkhawatirkan dan takut kalau ternyata hatinya ditimpa penyakit kemunafikan. Karena sesungguhnya penyakit-penyakit hati (apalagi penyakit kemunafikan) akan membinasakan akhirat seorang hamba. Keselamatan kita di akhirat bukan tergantung kepada harta benda, tapi keselamatan di akhirat tergantung kepada hati kita Allah berfirman:
    يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ‎﴿٨٨﴾‏ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ‎﴿٨٩﴾
    “Pada hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah membawa hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 88-89)
    Apa yang dimaksud dengan selamat? Kata Ibnul Qoyyim selamat dari mengagungkan selain Allah, selamat dari berbagai macam penyakit-penyakit hati ...
    16 min
  • Hadits Arbain Ke 37 – Allah Mencatat Kebaikan dan Keburukan
    Hadits Arbain Ke 37 – Allah Mencatat Kebaikan dan Keburukan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 18 Rabi’ul Akhir 1443 H / 23 November 2021 M.

    Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 35 – Semua Muslim Bersaudara
    Kajian Hadits Arbain Ke 37 – Allah Mencatat Kebaikan dan Keburukan
    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم -فِيْمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى-، قَالَ: «إِنَّ اللهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ.
    وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً» رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
    Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam riwayat beliau dari Tuhan beliau Tabaraka wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala mencatat kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan, kemudian dia menjelaskannya;
    Barangsiapa yang bertekad untuk berbuat baik tapi dia kemudian tidak mengamalkan kebaikan itu, maka Allah mencatatnya di sisiNya sebagai sebuah kebaikan yang sempurna.
    Dan jika dia berniat untuk berbuat baik kemudian dia mengamalkan kebaikan itu, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mencatatnya di sisiNya dan melipatgandakannya menjadi 10 kebaikan, atau menjadi 700, atau menjadi lebih banyak lagi.
    Dan jika dia berniat untuk melakukan keburukan kemudian tidak mengamalkannya, maka Allah mencatatnya sebagai kebaikan yang sempurna. Dan jika dia berniat untuk berbuat keburukan kemudian dia mengamalkan keburukan itu, maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ini adalah sebuah kabar dan informasi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menyampaikan kepada kita bahwasanya Dia mencatat amalan-amalan kebaikan kita, pun juga amalan-amalan keburukan kita. Maka kita harus hati-hati dengan amalan kita. Kita harus meyakini bahwasanya seluruh amal baik pasti dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan amalan-amalan buruk kita juga dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini menegaskan bahwasanya akan ada pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Masing-masing dari kita akan ditanya tentang amalannya. Apa yang sudah kita lakukan di dunia? Kita semuanya akan mempertanggungjawabkan itu dengan pertanggungjawaban yang sangat detail di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Kita semuanya harus menyiapkan diri untuk itu. Andai kematian menutup kehidupan kita sama sekali, maka kita bisa santai-santai. Tapi kematian hanyalah menutup kehidupan dunia kita saja. Dibalik kematian itu masih ada kehidupan yang lebih besar, kehidupan yang lebih penting, yang merupakan kehidupan sejati. Kebahagiaan kita di sana tergantung pada amalan kita saat masih di dunia.
    Maka selagi kita masih punya nafas, selagi kita masih punya nyawa, hendaknya kita ingat bahwasanya dunia ini hanya sementara. Kita harus mengupayakan kebahagiaan kita di akhirat yang merupakan negeri yang abadi dan kehidupan yang sejati. Jangan sampai kita terlena. Ingat bahwasanya semua amalan kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Su...
    1 hr 17 min
  • Kisah-Kisah Shahih Untuk Anak-Anak Shalih
    Kisah-Kisah Shahih Untuk Anak-Anak Shalih merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 18 Rabi’ul Akhir 1443H / 23 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Hadits Tentang Makan dan Minum
    Kajian Islam Ilmiah Kisah-Kisah Shahih Untuk Anak-Anak Shalih
    Salah satu metode yang digunakan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memberikan ilmu dan pelajaran kepada manusia adalah dengan menceritakan kisah-kisah. Hal ini agar kita bisa memetik pelajaran dari situ. Ini juga perlu kita lakukan terhadap anak-anak kita, yaitu bercerita kepada anak-anak. Terutama kisah-kisah yang menginspirasi, bisa diambil faedahnya, dan berisi pelajaran-pelajaran yang berharga.
    Di antaranya adalah kisah bagaimana perjuangan seorang anak mendakwahi ibunya dan berbakti kepada ibunya walaupun saat itu ibunya belum muslimah.
    Tapi perlu diperhatikan bahwa penyampaian kisah-kisah ini bukan hanya sekedar untuk menumbuhkan semangat. Harus ada faedah yang bisa diambil. Karena semangat membabi buta tanpa dikendalikan bisa berbahaya. Karena bisa dimanfaatkan oleh iblis untuk kepentingannya.
    Maka harus ada faedah yang bisa kita petik dibalik kisah itu, bukan hanya sekedar untuk membakar semangat anak. Karena untuk mengawal semangat itu tetap pada jalurnya bukanlah pekerjaan yang mudah. Musuh kita juga bisa memanfaatkan semangat itu untuk kepentingannya.
    Kelompok-kelompok bid’ah seperti Khawarij, Rafidhah, Mu’tazilah, merek apunya semangat. Tapi semangat itu tidak pada jalurnya. Maka hati-hati dengan skedar kita membakar semangat tanpa kesadaran ilmu.
    Intinya adalah kesadaran yang dibangun dengan ilmu. Itu yang akan membimbingnya kepada jalan yang benar, bukan hanya sekedar bermodalkan semangat dan semangat. Tapi kisah ini betul-betul kita ajarkan untuk mengambil dan memetik pelajaran-pelajaran berharga yang menjadi bekal dan inspirasi bagi anak-anak untuk melakukan kebaikan.
    Kisah Abu Hurairah dengan ibunya
    Menit ke- Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan ketika dahulu mengajak ibunya memeluk Islam.
    Jadi demikianlah hubungan anak dan orang tua itu tidak putus. Anak tetap diharuskan berbakti, berbuat baik dan menyambung tali silaturrahim dengan orang tuanya walaupun berbeda agama. Dia tetap ibu bagi kita, itu tidak bisa dihapus dan tidak bisa diingkari. Karena Islam juga mengatakan bahwa termasuk salah satu kekufuran adalah mengingkari nasab.
    Maka dahulu anak-anak akngkat dinisbatkan kepada ayah angkatnya. Kemudian itu dihapus dan kembali dinisbatkan kepada ayah kandungnya. Ini tidak boleh diputus bagaimanapun kondisinya.
    Tentunya di sini Abu Hurairah merasa ada tanggung jawab kepada ibunya untuk mengajak ibunya kepada Islam. Ini salah satu kewajiban kita, yaitu mendakwahi anggota keluarga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
    “Berilah peringatan kepada karib-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 214)
    Abu Hurairah mendengar perkataan ibunya yang tidak enak mengenai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mungkin ibunya mencela Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tapi di sini tidak lantas muncul kebencian ataupun reaksi yang berlebihan dari Abu Hurairah. Dia tetap sabar dan tetap mendakwahi ibunya walaupun bersedih. Dia tidak lantas membenci ibunya, apalagi mengucapkan kata-kata yang tidak pantas atau menghardik.
    Kewajiban kita hanyalah mendakwahi dan menyampaikan, hidayah bukan ditangan kita dan bukan milik kita juga.
    1 hr
  • Kisah Ashabul Kahfi dan Hadits Tentang Pemuda
    Kisah Ashabul Kahfi dan Hadits Tentang Pemuda adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 17 Rabi’ul Akhir 1443 H / 22 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Disyariatkannya Berobat
    Ceramah Agama Islam Tentang Kisah Ashabul Kahfi
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا…
    “Apakah engkau mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan yang mempunyai raqim itu termasuk tanda-tanda kebesaran Kami yang menakjubkan?
    Dan ingatlah ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: ‘Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu. Dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.’
    Maka Kami tutup telinga mereka di dalam Goa itu selama beberapa tahun.
    Kemudian Kami bangunkan mereka agar Kami tahu manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal.
    Kami mengisahkan kepada engkau (wahai Muhammad) kisah mereka dengan benar. Sesungguhnya mereka itu adalah anak-anak muda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan petunjuk bagi mereka.
    Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri, mereka berkata: ‘Tuhan kami ini adalah Tuhan langit dan bumi, kami tidak menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh kalau kami berbuat demikian tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.’
    Mereka adalah kaum Kami yang telah menjadikan Tuhan-Tuhan selainNya. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas tentang kepercayaan mereka? Maka siapakah yang lebih dzalim dari orang yang mengada-ada kedustaan atas Allah?
    Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmatNya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu.” (QS. Al-Kahfi[18]: 9-16)
    Sampai firmanNya:
    وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا
    “Maka mereka tinggal di Gua mereka selama 300 dan ditambah 9 tahun. Katakanlah: ‘Allah itu lebih mengetahui berapa lama mereka tinggal; milik Allah-lah hal yang ghaib di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatanNya dan alangkah tajam pendengaranNya; tidak ada bagi mereka selain Allah seorang pelindung pun; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutuNya dalam menetapkan keputusan.” (QS. Al-Kahfi[18]: 25-26)
    Empat Untus Kisah Ashabul Kahfi
    Menit ke- Kisah Ashabul Kahfi di kitab ini disampaikan empat unsur. Yaitu:

    * Sifat-sifat Ashabul Kahfi. Yaitu sifat-sifat anak muda yang menjadi penghuni gua.
    * Karomah-karomah yang Allah muliakan dengannya Ashabul Kahfi.
    * Berbicara tentang Ashabul Kahfi setelah bangun dari tidur mereka. Bagaimana, apa yang mereka lakukan, hal-hal apa saja yang mereka jumpai, dan keanehan-keanehan apa saja yang mereka jumpai.
    * Setelah manusia mengetahui Ashabul Kahfi dan mengetahui perkara mereka, apa yang terjadi?

    Sifat Ashabul Kahfi dan Hadits Tentang Pemuda
    1. Anak-anak muda
    Mereka lebih bisa menerima kebenaran dari selainnya. Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya: “Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Ashabul Kahfi adalah anak-anak muda, mereka lebih menerima kebenaran dan jalannya lebih lurus daripa...
    51 min
  • Penceramah Yang Mencintai Kedudukan
    Penceramah Yang Mencintai Kedudukan ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 17 Rabi’ul Akhir 1443 H / 22 November 2021 M.

    Kajian Islam Tentang Penceramah Yang Mencintai Kedudukan
    Keshalihan bukan berarti kebal ataupun bisa selamat dari talbis iblis. Bahkan talbis iblis terhadap orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi seperti ahli ilmu dan orang shalih itu semakin besar dan berat. Maka dari itu kita harus senantiasa waspada dan jangan merasa aman dari tipu daya musuh kita ini.
    Siapapun bisa menjadi korban ataupun sasaran dari tipu daya iblis ini. Diantaranya juga adalah para penceramah, pemberi nasihat, atau penutur kisah.
    Ibnul Jauzi Rahimahullah mengatakan bahwa boleh jadi seorang penceramah atau seorang pemberi nasihat pada awalnya terlihat lulus, ada keseriusan dan kesungguhan menyampaikan kata-kata yang penuh hikmah dan bijaksana. Hanya saja seiring dengan berlalunya waktu, hati mereka tersusupi perasaan cinta kepada kedudukan dan gila kehormatan, sehingga niat pun menjadi bergeser dan keikhlasan pun memudar.
    Hal ini tentunya tidak lepas dari peran iblis yang senantiasa membisikkan was-was ke dalam hati manusia. Berpindahnya seseorang dari ketaatan kepada kemaksiatan, itu bukanlah secara spontan ataupun seketika. Tapi ada proses yang terjadi yang kadang-kadang itu luput dari perhatian kita. Sehingga tanpa dia sadari dia jatuh dalam jebakan iblis.
    Pada awalnya kita terlihat ikhlas ataupun tulus. Dan untuk mempertahankan itu tidak mudah. Setan berusaha untuk menggeser niat dan merampas keikhlasan kita. Dan pada akhirnya setanpun berhasil mengeluarkan kita dari keikhlasan. Yang awalnya mungkin kita sungguh-sungguh, kita memiliki ketulusan dan keikhlasan, tapi kalau kita lalai dan lengah terhadap musuh, maka bisa saja hati kita disusupi dengan sesuatu yang berkebalikan dari itu semua.
    Indikasi yang dapat dilihat secara kasat mata adalah jika ada penceramah atau pemberi nasihat yang menggantikan atau membantunya dalam menasihat orang lain, maka dia langsung menunjukkan sikap tidak suka kepada orang itu dan merasa tersaingi. Sehingga dia menunjukkan ketidaksukaan kepada orang yang menggantikan kedudukannya.
    Padahal apabila niatnya memang ikhlas/lurus, dia tidak akan memperlihatkan sikap benci kepada orang lain yang mungkin membantu dirinya dalam menyampaikan nasihat kepada saudara-saudaranya.
    Iblis masuk ke tengah-tengah mereka dan yang pertama dibelokkan oleh iblis adalah niat sehingga niatnya bukan karena Allah. Melainkan niatnya adalah untuk mengejar reputasi, pujian, apresiasi, sanjungan, penghormatan manusia dan sejenisnya.
    Salah satu tipu daya iblis terhadap para penceramah dan penutur kisah ini adalah mencampur baurkan antara laki-laki dan perempuan dalam satu tempat. Kita bisa lihat kaum wanita berteriak-teriak lantaran terbawa emosi. Namun si penutur kisah sama sekali tidak menegur, karena dia berharap mendapat simpati manusia.
    Bagaimana penjelasan talbis iblis terhadap ahli fiqih selanjutnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    46 min
  • Mentahnik dan Mendoakan Bayi
    Mentahnik dan Mendoakan Bayi merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 17 Rabi’ul Akhir 1443 H / 22 November 2021 M.

    Kajian Tentang Mentahnik dan Mendoakan Bayi
    Siapa yang tidak ingin anaknya tumbuh dengan penuh kesehatan? Semua orang tua saya yakin ingin anaknya sehat. Ketika anak sakit tentu pikiran kita akan terbebani, aktivitas akan terganggu, konsentrasi pun juga demikian. Sehingga untuk mencapai kesehatan anak, banyak hal yang dilakukan oleh para orang tua.
    Banyak di antara mereka tidak peduli dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Katanya “uang bisa dicari”. Tentu selama itu masih dalam batas proporsional maka tidak masalah. Tapi yang berbahaya adalah ketika cara-cara yang dilakukan sudah menyerempet ajaran agama,  bahkan bertentangan dengan tuntunan Islam.
    Contohnya beberapa tahun yang lalu muncul sebuah fenomena anak-anak kecil dipakaikan gelang yang warna-warni bernama sambetan. Ada di antara orang tua yang memakaikan gelang itu dengan sebuah keyakinan bahwa gelang itu akan melindungi anak dari gangguan-gangguan yang bersifat mistis.
    Sejatinya memakai gelang-gelang seperti itu dengan tujuan untuk menolak bala diistilahkan dengan jimat. Dan Islam agama yang sangat anti dengan hal-hal yang seperti. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
    “Barangsiapa yang memakai jimat, maka dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad)
    Terkadang, upaya yang dilakukan oleh sebagian orang tua guna melindungi anaknya ternyata tidak dibenarkan oleh agama. Padahal sebenarnya Islam sudah punya konsep yang sangat istimewa untuk menjaga kesehatan anak. Yaitu konsep yang menggabungkan antara cara lahiriyah dengan batiniyah, menggabungkan antara ikhtiar dengan doa.
    Sejak bayi lahir, kita langsung diajarkan oleh Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dua hal, yaitu tahnik dan doa. Sunnah tahnik dan doa disebutkan di dalam banyak hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Salah satunya adalah hadits yang dituturkan oleh seorang sahabat Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau menceritakan pengalaman pribadinya:
    وُلِدَ لِي غُلَامٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ
    “Anakku baru lahir. Saya bergegas membawa anakku menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menamainya Ibrahim, beliau mentahniknya dengan kurma dan mendoakannya keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Mentahnik Bayi
    Menit ke- Tahnik adalah mengunyah sebutir kurma sampai lembut dan halus kemudian mengoleskan kunyahan kurma itu sedikit ke langit-langit mulut si bayi dengan tangan yang bersih dan steril. Kalau tidak ada kurma maka bisa digantikan dengan sesuatu yang manis, misalnya madu.
    Hukum mentahnik bayi adalah sunnah menurut banyak ulama. Sehingga jika dikerjakan insyaAllah mendapatkan pahala.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak secara gamblang menjelaskan apa manfaat kesehatan dari tahnik itu. Tapi tentunya perbuatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdasarkan wahyu dari Allah.
    Para pakar kesehatan menemukan bahwa ada manfaatnya secara kesehatan. Dan ketika kita mengetahui bahwa ini ada manfaatnya secara kesehatan, maka ini semakin membuat kita yakin inilah yang terbaik.
    Para ilmuwan mengatakan bahwa bayi yang baru lahir memiliki kadar gula yang rendah. Semakin kecil bobot atau ukuran bayi, maka semakin rendah pula kadar gula yang ada di ...
    49 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah