Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Hadits Tentang Sifat Tangan Allah
    Hadits Tentang Sifat Tangan Allah ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Tentang Nama-Nama Allah dan Sifat-SifatNya. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 28 Rabi’ul Akhir 1443 H / 03 Desember 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Sifat Tangan Allah

    Kajian Hadits Tentang Sifat Tangan Allah
    Telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya dalil dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki dua tangan. Hal ini sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an dan yang diimani oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beserta para sahabat dari kalangan Muhajirin wal Anshar, kaum muslimin dan Imam-Imam Ahlus Sunnah. Semuanya sepakat dalam mengimani dan menetapkan sifat yang ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi diriNya dan juga yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam hadits-hadits yang shahih.
    Semua hal itu wajib kita terima, wajib kita imani dan kita tetapkan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah sebagaimana dzahirnya. Itulah maksudnya, akan tetapi hakikatnya tidak kita ketahui. Kita imani bahwa Allah memiliki sifat tersebut.
    Semua hal itu merupakan konsekuensi dari iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan iman kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Itulah makna dari perkataan Imam Syafi’i Rahimahullah:
    آمنت بالله، وبما جاء عن الله، وعلى مراد الله.. آمنت برسول الله وبما جاء عن رسول الله، وعلى مراد رسول الله
    “Aku beriman kepada Allah dan kepada seluruh yang datang dari Allah sesuai dengan keinginan Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan kepada seluruh yang datang dari Rasulullah sesuai dengan keinginan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”
    Maka aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adanya mengimani seluruh sifat-sifat yang tertera dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Ini kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mengikuti aqidah Salafush Shalih.
    Inilah aqidah, inilah keimanan, inilah tauhid yang harus ditanamkan dalam diri kaum muslimin, yang wajib diimani dan diyakini. Karena penyimpangan dari aqidah tersebut adalah penyimpangan di dalam memahami aqidah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan kesesatan yang nyata dan kebatilan yang besar.
    Prinsip dasarnya bahwa aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya berlandaskan pada Al-Qur’an dan hadits, mengikuti ijma’nya umat Islam ini. Tentu ijma’ yang mu’tabar disini adalah ijma’ sahabat dan tabi’in. Mereka telah sepakat, sehingga tidak seorangpun dari mereka yang mengingkari sifat-sifat Allah, tidak seorangpun yang mentakwil sifat-sifat Allah.
    Keimanan kita kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah tentunya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah dengan landasan bahwa sifat-sifat tersebut sesuai dengan kebesaran, keagungan, kemuliaan dan kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak sama dengan sifat makhluk.
    …لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
    “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura'[42]: 11)
    Tidak akan mungkin ilmu manusia meliputi hakikat tentang diri dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Persamaan dalam nama atau istilah bukan berarti kesamaan dalam hakikat. Allah memiliki pendengaran dan makhluk memiliki pendengaran, manusia memiliki penglihatan dan Allah memiliki pengl...
    1 hr 7 min
  • Ilmu Akan Menjagamu
    Ilmu Akan Menjagamu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 27 Rabi’ul Akhir 1443 H / 02 Desember 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Orang Yang Berilmu Dicintai Dari Hati

    Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu Akan Menjagamu
    Kita membahas tentang orang-orang yang merupakan pembawa ilmu. Terakhir kita telah bahas golongan kedua, yaitu orang-orang yang tunduk kepada kebenaran tapi ilmu itu belum matang/kuat dihati mereka. Mereka punya kemauan mengikuti kebenaran, mengikuti orang-orang yang berilmu, tapi ilmu mereka belum mendalam/kuat. Mereka ini adalah orang-orang yang selalu mengikuti dan bertaqlid kepada ahlul ilmi. Bagaimanapun juga mereka ini masih lebih baik dibandingkan yang berpaling sama sekali.
    Disebutkan di sini tentang sifat mereka dari pernyataan sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu bahwa akan masuk keraguan didalam hatinya ketika pertama kali munculnya syubhat. Ini sangat berbahaya. Ketika ada kerancuan yang datang, maka pertama kali muncul bisa langsung membuat kebimbangan atau keraguan di hati hatinya. Ini disebabkan karena lemahnya ilmunya, kurangnya basirah (keyakinan yang kuat didalam hatinya), maka ketika muncul di hadapan hatinya kerancuan yang paling kecil sekalipun, ini akan memunculkan keraguan dan kebimbangan di dalam hatinya.
    Tentu ini berbeda dengan orang yang mendalam ilmunya. Kalaupun datang menggoda hatinya berbagai macam syubhat (sampai pun sejumlah arus di lautan), maka ini tidak akan menghilangkan/menggoyahkan keyakinannya, dan tidak akan menimbulkan keraguan di dalam hatinya. Karena orang ini telah mendalam dalam ilmunya, maka syubhat atau guncangan kerancuan tadi tidak akan menggoyahkannya. Bahkan ketika datang syubhat menghampirinya, maka penjagaan tentara-tentara ilmu akan menolak syubhat sehingga syubhat terkalahkan dan terbelenggu (tidak berdaya merusak hati).
    Ini bentuk penjagaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sudah kita lewati pembahasan dari ucapan Ali bin Abi Thalib yang mengatakan:
    العلم خير من المال؛ العلم يحرسك, وأنت تحرس المال
    “Ilmu itu lebih utama daripada harta; ilmu akan menjagamu, sedangkan harta kamu yang harus menjaganya.”
    Lihat: Keutamaan Ilmu dan Ahlinya
    Maka kita butuh ilmu, karena dengan sebab ilmu ini Allah memberikan penjagaan kepada kita, Allah jadikan penjagaan di hati kita untuk melawan godaan setan dengan syubhat yang terus-menerus dilontarkannya setiap saat karena ingin merusak hati tersebut. Kalau penjagaan ilmu kurang, otomatis lama-kelamaan pasti ada pengaruhnya dalam hal merusak keimanan, menjadikan keraguan untuk merusak keyakinan manusia.
    Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa syubhat adalah bisikan godaan yang datang kepada hati manusia untuk menghalangi hati itu dari menyingkap kebenaran. Aslinya kalau hati itu bersih, dipenuhi dengan ilmu dan iman, maka setiap adatang sesuatu akan bisa membedakan mana yang benar dan yang salah.
    Abdullah bin Mas’ud berkata:
    هلك من لم يكن له قلب يعرف به المعروف وينكر به المنكر
    “Binasa, orang yang tidak memiliki hati yang dengan hati ini dia mengenal kebaikan sebagai kebaikan dan mengingkari kemungkaran sebagai keburukan.”
    42 min
  • Wajibnya Mendakwahkan Tauhid
    Wajibnya Mendakwahkan Tauhid adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 26 Rabi’ul Akhir 1443 H / 01 Desember 2021 M.

    Kajian Tentang Wajibnya Mendakwahkan Tauhid
    Yang dimaksud dari bab ini adalah apabila seseorang sudah mengetahui tentang hakekat tauhid kemudian khawatir terhadap kesyirikan, makak dia wajib untuk mendakwahkan kepada tauhid. Hal ini agar kaum muslimin bertauhid dengan sebenar-benarnya.
    Penulis kitab tauhid membawakan dalil yang pertama di dalam bab ini. Yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
    “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Inilah jalanku, dan setiap orang yang mengikutiku berdakwah kepada Allah diatas ilmu pengetahuan, Maha Suci Allah, dan tidaklah aku termasuk orang-orang yang mensyirikkan Allah Subhanahu wa Ta’ala’.” (QS. Yusuf[12]: 108)
    Ketika penulis kitab tauhid menyebutkan tentang tauhid, keutamaan tauhid dan apa saja yang mengkonsekuensikan takut dari kebalikan tauhid, maka kemudian penulis Kitab Tauhid mengingatkan dengan bab ini bahwasanya tidak selayaknya bagi siapa yang mengetahui hal tersebut untuk membatasi atas dirinya saja. Tetapi wajib atasnya untuk mendakwahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hikmah (yaitu dengan ilmu pengetahuan) dan dengan nasihat yang baik sebagaimana ia adalah jalan para Rasul dan pengikut-pengikutnya. Mereka senantiasa mendakwahkan dan mengajak kepada tauhid diatas ilmu dan nasihat yang baik.
    Sebagaimana perkataan Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullahu Ta’ala ketika beliau membaca surah Fussilat ayat 33:
    وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
    “Dan siapakah yang lebih baik ucapannya dari orang yang mengajak kepada Allah dan beramal shalih, dan dia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang beragama Islam.'” (QS. Fussilat[41]: 33)
    Al-Hasan Al-Bashri berkata:
    هذا حبيب الله ، هذا ولي الله ، هذا صفوة الله ، هذا خيرة الله ، هذا أحب أهل الأرض إلى الله ، أجاب الله في دعوته ، ودعا الناس إلى ما أجاب الله فيه من دعوته ، وعمل صالحا في إجابته ، وقال : إنني من المسلمين ، هذا خليفة الله
    “Ini (orang yang berdakwah kepada tauhid) adalah wali Allah, ini adalah makhluk pilihan Allah, ini adalah makhluk terbaik yang diciptakan oleh Allah, ini adalah penduduk bumi yang paling dicintai oleh Allah, beliau menerima ajakan Allah untuk berdakwah, dan beliau mendakwahi manusia kepada apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan didalamnya, dan beliau beramal shalih saat mendakwahkan tersebut, dan beliau berkata: ‘Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang beragama Islam’, ini adalah khalifahnya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas muka bumi ini.”
    Sehingga siapa yang mendakwahkan tauhid, berarti dia mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan siapa saja yang mendakwahkan tauhid, dia adalah sebaik-baik makhluk sebagaimana yang terjadi pada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Lihat juga: Dakwah Tauhid adalah Dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    1 hr 35 min
  • Urutan Pertama Dalam Memberikan infaq – Surah Al-Baqarah 215
    Urutan Pertama Dalam Memberikan Infaq – Surah Al-Baqarah 215 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 25 Rabi’ul Akhir 1443 H / 30 November 2021 M.
    Download juga kajian sebelumnya: Hikmah Allah Menguji HambaNya – Surah Al-Baqarah 214
    Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 215
    Ayat ini turun tentang seorang sahabat bernama Amr bin Jamuh yang memiliki banyak harta. Beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang apa yang bisa diinfaqkan dan kepada siapa. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
    “Mereka bertanya kepadamu apa yang mereka infaqkan. Katakanlah: “Apa-apa yang kalian infaqkan dari kebaikan (harta) maka hendaklah diinfaqkan untuk kedua orang tua, dan karib kerabat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan musafir yang kehabisan bekal”. Dan apa-apa yang kalian lakukan dari kebaikan (berupa infaq dan sedekah), maka sesungguhnya Allah Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah[2]: 214)
    Faedah Surah Al-Baqarah Ayat 215
    1. Semangat para sahabat
    Semangat para sahabat -semoga Allah meridhai mereka- untuk bertanya tentang ilmu. Dimana di dalam Al-Qur’an pertanyaan mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih dari 12 pertanyaan yang langsung Allah jawab.
    Maka dari itu bertanya tentang ilmu itu dianjurkan, tapi dengan syarat:
    Pertama, bertanya dalam perkara-perkara yang kita butuhkan. Dimana pertanyaannya memang bermanfaat untuk agama kita. Adapun pertanyaan yang tidak bermanfaat, maka hal seperti ini makruh hukumnya. Makanya kata para ulama bahwa para Salaf terdahulu membenci pertanyaan kecuali pertanyaan yang menimbulkan amal. Adapun kalau pertanyaan itu tidak menimbulkan amal apa-apa, maka mereka tidak menyukainya.
    Kedua, tidak banyak bertanya. Dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang banyak bertanya.
    فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ
    “Karena sesungguhnya yang banyak membinasakan orang-orang sebelum kalian itu banyak bertanya dan menyelisihi Nabi mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    Lihat juga: Hadits Arbain Ke 9 – Kerjakan Perintah Semampunya dan Jangan Banyak Bertanya
    Maka silahkan bertanya kepada ahli ilmu dalam perkara-perkara yang kita butuhkan. Justru kalau kita tidak bertanya lalu kemudian berijtihad sendiri padahal kita bukan ahlinya, seringkali kita jatuh kepada kesalahan.
    2. Jawaban yang bagus
    Menit ke- Di antara termasuk kebagusan dalam menjawab adalah memberikan tambahan melebihi yang ditanyakan. Dimana tambahan tersebut dibutuhkan oleh yang bertanya.
    Mereka bertanya tentang apa yang mereka infaqkan, tapi ternyata jawabannya dua; jawaban pertama tentang apa yang mereka infaqkan, yaitu harta yang halal. Jawaban kedua adalah kepada siapa hendaknya mereka infaqkan.
    Ini sama seperti ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang “Bolehkah berwudhu dengan air laut?” Jawab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ
    “Ia suci dan mensucikan airnya dan halal b...
    46 min
  • Kegigihan Abu Hurairah Berdakwah Kepada Ibunya
    Kegigihan Abu Hurairah Berdakwah Kepada Ibunya merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 25 Rabi’ul Akhir 1443 H / 30 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Kisah-Kisah Shahih Untuk Anak-Anak Shalih
    Kajian Islam Ilmiah Kegigihan Abu Hurairah Berdakwah Kepada Ibunya
    Kita telah membahas kisah dakwah Abu Hurairah kepada ibunya. Bagaimana kegigihan Abu Hurairah mendakwahi ibunya hingga akhirnya mendapatkan hidayah masuk Islam. Dengan kesabaran dan kegigihan, tanpa kenal putus asa, walaupun banyak sekali  hal-hal tidak mengenakkan yang beliau dapati di dalam perjalanan dakwah kepada ibu. Tapi akhirnya dengan kesabaran itu terbayar lunas apa yang menjadi keinginan Abu Hurairah.
    Ini adalah anugerah yang besar, karena itu kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hidayah ditangan Allah, Allah yang membuka hati para hamba untuk menerima hidayah. Ibu, ayah, anak, saudara, dan orang-orang yang kita cintai tidak akan bisa mendapatkan hidayah kalau bukan dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Satu poin yang kita sampaikan kemarin adalah Abu Hurairah pada kali pertama tidak langsung datang kepada Nabi dan minta doa. Tapi beliau mengawalinya dengan perjuangan jatuh bangun yang akhirnya ibunya mencela Nabi, mengatakan sesuatu yang tidak mengenakkan tentang Nabi.
    Abu Hurairah telah berikhtiar sampai batas maksimal, lalu baru pada akhirnya beliau mendatangi Nabi, mengungkapkan masalah dan kesedihannya. Ini adalah salah satu ikhtiar walaupun hidayah bukan ditangan Nabi. Nabi sendiri tidak kuasa untuk memberikan hidayah kepada pamannya, walaupun beliau sangat ingin pamannya masuk Islam. Semua itu dengan izin dan kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Artinya ini juga bukan merupakan kepastian pada waktu itu. Ketika Abu Hurairah minta kepada Nabi berdoa untuk ibunya, bukan berarti hidayah itu pasti didapat. Abu Hurairah tahu itu. Tapi ini adalah salah satu ikhtiar terakhir yang mungkin bisa beliau lakukan saat itu. Pada akhirnya Allah buka pintu hati ibunya untuk menerima hidayah Islam itu.
    Pelajaran yang bisa kita petik dari situ adalah perlu kesabaran untuk mendakwahi orang-orang yang kita cintai. Bahwa mendakwahi orang-orang yang kita cintai itu tidak mudah, lebih berat daripada mendakwahi orang lain di luar sana. Tidak lantas dengan keinginan kita yang keras dan kuat itu dengan mudah kita bisa membimbing dan membawa mereka kepada hidayah. Itu semua ia kembali kepada kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Maka kalau kita berhasil dakwahnya, jangan nisbatkan itu kepada diri kita. Ini karena saya hebat, ini karena saya pintar bicara, karena saya kuat hujjahnya, karena saya menguasai cara untuk mendekati manusia, dan lain sebagainya. Kembalikan itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu berkat rahmat dan karunia Allah. Allah mudahkan orang itu untuk menerima hidayah, bukan karena kita.
    Apa yang kita lakukan itu hanyalah usaha, dan semua itu akan menjadi kebaikan bagi kita kalau ikhlas. Tapi kalau kita riya’, ujub dan menisbatkan itu kepada diri kita, maka bisa jadi pahala itu hilang.
    Didalam kisah itu diceritakan kembali oleh Abu Hurairah bahwa ketika mendengar persaksian ibunya,  Abu Hurairah kembali menemui Rasulullah dalam kondisi berlinang air mata karena kegembiraan yang tiada tara. Maka Abu Hurairah berkata: “Wahai Rasulullah, sambutlah kabar gembira, doamu dikabulkan Allah. Allah memberikan hidayah kepada ibuku.”
    Coba lihat yang dikatakan oleh Abu Hurairah kepada Nabi.
    56 min
  • Talbis Iblis Terhadap Para Ahli Bahasa Arab
    Talbis Iblis Terhadap Para Ahli Bahasa Arab ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 24 Rabi’ul Akhir 1443 H / 29 November 2021 M.

    Kajian Islam Tentang Talbis Iblis Terhadap Para Ahli Bahasa Arab
    Pada pertemuan sebelumnya kita telah menjelaskan talbis iblis terhadap ahli bahasa, sastra, dan juga penyair. Mereka dialihkan dari tujuan utama, yaitu tafaqquh fiddin. Untuk itulah bahasa Arab itu perlu dipelajari. Karena Allah menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang fasih dan Allah mengutus Nabi terakhir dari kalangan bangsa Arab dan berbicara dengan bahasa Arab yang fasih, hadits-hadits Nabi diucapkan dalam bahasa Arab.
    Jika tidak akan sempurna suatu kewajiban kecuali dengan perkara itu, maka perkara itu menjadi suatu yang wajib juga. Hanya saja di sini kewajiban itu bersifat fardhu kifayah, apabila sudah diemban sebahagian orang maka gugurlah kewajiban itu atas yang lain.
    Untuk menjelaskan makna-makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan hadits perlu memiliki kemampuan di dalam bahasa Arab, maka wajib bagi seorang Alim ketika ingin menjelaskan satu hukum harus menguasai bahasa tersebut.
    Bahasa Arab menjadi satu wasilah untuk mencapai tujuannya, yaitu mengambil istinbath-istinbath hukum dari nash-nash syar’i. Akan tetapi sebagian orang mungkin dia tidak tahu tujuan ini atau dia teralihkan dari tujuan itu. Sehingga menjadikan ilmu alat ini sebagai tujuan dan sebagai alat untuk berbangga diri dan kadang-kadang menggunakan ilmu ini untuk menjatuhkan/mempermalukan lawan debat yang mungkin tidak dikuasai oleh lawan debatnya. Sementara mungkin masalah yang diperdebatkan tidak ada kaitannya dengan ilmu tersebut.
    Sehingga ilmu alat ini disalahgunakan atau diselewengkan dari fungsi dan tujuannya. Apalagi mungkin manusia menganggap orang-orang yang menguasai ilmu alat ini sebagai orang yang istimewa, bahkan disebut ulama. Padahal dia belum menguasai ilmu-ilmu alat yang lain seperti ilmu ushul fiqih, ushul hadits, ushul tafsir dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan agama. Kemudian orang tersebut didudukkan sebagai seorang ulama dan bahkan kadang-kadang berfatwa, padahal kemampuannya hanyalah dalam bidang bahasa saja.
    Ini adalah suatu kekeliruan dan ketertipuan dari seorang penuntut ilmu. Maka jangan jadikan alat sebagai tujuan. Dia hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Maka kita harus tahu urgensi ataupun skala prioritas di dalam mendalami agama, tidak terfokus pada satu sisi dan melupakan sisi yang lain.
    Bagaimana penjelasan talbis iblis terhadap ahli fiqih selanjutnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Talbis Iblis Terhadap Para Ahli Bahasa Arab
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Talbis Iblis Terhadap Para Ahli Bahasa Arab” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    56 min
  • Bacaan Dzikir Sore – Kekuasaan Hanyalah Milik Allah
    Bacaan Dzikir Sore – Kekuasaan Hanyalah Milik Allah merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 24 Rabi’ul Akhir 1443 H / 29 November 2021 M.

    Kajian Tentang Bacaan Dzikir Sore – Kekuasaan Hanyalah Milik Allah
    Pembahasan ini adalah kelanjutan dari pembahasan sebelumnya, dimana pada pertemuan yang lalu kita membahas tentang dzikir-dzikir yang khusus dibaca di pagi hari.
    Beberapa bacaan dzikir sore ini sebenarnya mirip dengan bacaan dzikir pagi, hanya saja ada perubahan redaksi. Misalnya di bacaan yang pertama ini, kalau di pagi hari kita membaca: أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ. Sedangkan kalau di sore hari kita membaca أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ للهِ. Adapun kelanjutannya akan mirip.
    Ada beberapa bacaan yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita akan awali dengan bacaan yang pertama, yaitu membaca wirid berikut ini satu kali.
    أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ للهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
    “Kami telah memasuki waktu sore dan kekuasaan hanyalah milik Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah saja, tidak ada sekutu bagiNya, hanya milik Allah lah kekuasaan dan pujian, Dia Maha mampu atas segala sesuatu, Wahai Rabbku, aku memohon kepadaMu kebaikan yang ada di malam hari ini dan setelahnya, aku juga memohon perlindungan kepadaMu dari keburukan yang ada di malam ini dan setelahnya, Wahai Rabbku aku memohon perlindungan kepadaMu dari kemalasan dan keburukan dihari tua, Wahai Rabbku aku memohon perlindungan padamu dari adzab di neraka dan azab di kuburan.”
    Wirid ini diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum.
    Apa kandungan dari bacaan ini? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download bacaan dzikir pagi dan petang.
    Download mp3 Kajian Bacaan Dzikir Sore – Kekuasaan Hanyalah Milik Allah

    Radio Rodja 756AM · Fikih Doa dan Dzikir – Kekuasaan Hanyalah Milik Allah
    Mari turut membagikan link download kajian “Bacaan Dzikir Sore – Kekuasaan Hanyalah Milik Allah” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    52 min
  • Orang Yang Wajib Selalu Kita Muliakan
    Orang Yang Wajib Selalu Kita Muliakan merupakan kajian Islam ilmiah oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan kitab Kun Salafiyyan ‘alal Jaddah. Kajian ini disampaikan pada Sabtu, 22 Rabi’ul Akhir 1443 H / 27 November 2021 M.

    Kajian Islam Tentang Orang Yang Wajib Selalu Kita Muliakan
    Kaedah-kaedah ini memberikan batasan tentang siapa yang wajib untuk kita muliakan dan hormati dikalangan manusia, sehingga tidak boleh disentuh kehormatan/kemuliaan orang-orang yang jelas-jelas direkomendasikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya. Ketika menghadapi kesalahan-kesalahan mereka pun kita jelas hanya menyebutkan dengan kebaikan dan memberikan sebaik-baik udzur untuk mereka.
    Juga memberikan batasan-batasan siapakah orang-orang yang boleh untuk kita bicarakan dan kita kritik. Bahkan bisa jadi bukan hanya boleh dikritik, tapi wajib hukumnya ketika ada kebutuhan dengan mempertimbangkan maslahat tanpa perlu menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka.
    1. Para Nabi dan Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam
    Para Nabi dan Rasul jelas adalah orang-orang yang terbaik di antara semua manusia, hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling bertakwa. Mereka adalah orang-orang yang harus hanya kita sebutkan kebaikannya. Karena kita juga meyakini mereka adalah orang-orang yang maksum (dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) dari terus-menerus dalam kesalahan.
    Sebagian dari para ulama menjelaskan bahwa mungkin di antara mereka ada yang bisa melakukan perbuatan dosa kecil, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala langsung memberikan taufik kepada mereka untuk bertaubat dengar sungguh-sungguh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga ketika mereka wafat dalam keadaan tidak ada dosa-dosa yang masih ada pada diri mereka.
    Para Nabi dan Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam tidak boleh kita sebutkan dengan keburukan, tidak boleh kita sebutkan dengan hal-hal yang menunjukkan kekurangan dalam urusan agama. Ini adalah perkara yang wajib untuk kita lakukan ketika menyikapi mereka. Tidak ada perselisihan dikalangan para ulama Ahlus Ahlus Sunnah wal Jama’ah tentang hal ini.
    2. Para Sahabat Yang Mulia
    Para sahabat yang mulia adalah orang-orang yang direkomendasikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    … رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ…
    “Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah.” (QS. At-Taubah[9]: 100)
    Merekalah orang-orang yang beriman pertama kali, merekalah orang-orang yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyertai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan untuk menegakkan agamaNya. Maka kenalilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak-jejak kebaikan mereka.
    Mereka harus dimuliakan dan tidak disebutkan kecuali dengan kebaikan. Umat Islam tidak boleh memperlakukan para sahabat kecuali dengan kecintaan dan pemuliaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala sungguh telah memuji mereka di dalam Al-Qur’an dengan pujian yang tinggi. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tentang kedudukan mereka yang mulia, tentang perjuangan jihad, juga bagaimana mereka mencurahkan harta dan jiwa di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang mereka:
    وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ
    “Semua mereka (para sahabat) Allah janjikan masuk surga.” (QS. Al-Hadid[57]: 10)
    Maka kalaupun ada kesalahan yang diriwayatkan dari mereka, kita harus melihat bahwa ternyata riwayatnya tidak shahih. Ada juga kesalahan yang mungkin benar riwayatnya, tapi ternyata sahabat tersebut telah diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari perbuatan dosa.
    Ada juga yang mereka melakukan kesalahan tapi dalam hal ini mereka adalah sebagai mujtahid.
    1 hr 6 min
  • Khutbah Jumat: Allah Cinta Hamba Yang Bertakwa, Kaya Hati dan Tersembunyi
    Khutbah Jumat: Allah Cinta Hamba Yang Bertakwa, Kaya Hati dan Tersembunyi ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 21 Rabi’ul Akhir 1443 H / 26 November 2021 M.
    Khutbah Pertama Tentang Hamba Yang Bertakwa, Kaya Hati dan Tersembunyi
    Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai hamba-hambaNya yang bertakwa, kaya hati dan tersembunyi. Dalam hadits riwayat Muslim, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إنَّ الله يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الغَنِيّ الْخَفِيَّ
    “Sesungguhnya Allah cinta kepada seorang hamba yang bertakwa, yang kaya hati dan tersembunyi.” (HR. Muslim)
    Tiga sifat yang dicintai oleh Allah dari seorang hamba, yaitu:
    1. Hamba yang bertakwa
    Sesungguhnya ketakwaan adalah merupakan tujuan disyariatkannya berbagai macam ibadah. Allah berfirman:
    يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
    “Wahai manusia, beribadahlah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 21)
    Allah memerintahkan manusia untuk beribadah kepada Allah saja dan Allah menyebutkan tujuan dari ibadah adalah agar bertakwa. Allah mensyariatkan bulan Ramadhan pun demikian,
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 183)
    Maka ibadah yang tidak menimbulkan ketakwaan itu pertanda ibadah belum diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
    Ternyata tujuan disyariatkannya ibadah, tiada lain supaya kita menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena takwa bermanfaat untuk hidup kita di dunia dan di akhirat. Di dunia ketakwaan membuka pintu-pintu rezeki, Allah berfirman:
    …وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ…
    “Siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan memberikan jalan keluar dari kesulitan hidupnya dan Allah akan berikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq[65]: 2-3)
    Ternyata takwa membuka pintu rezeki seorang hamba, takwa menjadikan seorang hamba diberikan kemudahan dalam urusannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
    “Siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan dijadikan urusannya mudah.” (QS. At-Talaq[65]: 4)
    Bahkan takwa adalah senjata yang paling kuat menghadapi tipu muslihat dan makar orang-orang kafir, orang-orang yang benci kepada Islam. Allah berfirman:
    وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا
    “Jika kalian terus bersabar dan kalian terus bertakwa kepada Allah, tidak akan membahayakan kalian tipu muslihat mereka sedikitpun juga.” (QS. Ali-Imran[3]: 120)
    Betapa dahsyatnya takwa dalam hidup seorang hamba, saudaraku. Maka jadilah kita hamba-hamba yang senantiasa takut kepada Allah dengan bertakwa kepadaNya. Dimana hakikat takwa adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah ‘Azza wa Jalla.
    Maka setiap kita berusaha untuk menjadi hamba yang bertakwa, karena balasannya di akhirat luar biasa. Allah berfirman:
    إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ ‎﴿١٥﴾‏ آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ ‎﴿١٦﴾
    “Sesungguhnya orang yang bertakwa berada dalam surga dan mata...
    15 min
  • Sifat Tangan Allah
    Sifat Tangan Allah ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Tentang Nama-Nama Allah dan Sifat-SifatNya. Kajian ini disampaikan pada Jumat, 21 Rabi’ul Akhir 1443 H / 26 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Hadits-Hadits Tentang Sifat Kalam

    Kajian Tentang Sifat Tangan Allah
    Hal yang perlu kita camkan dalam diri kita yang itu merupakan prinsip dan wajib kita yakini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Sempurna, Maha Agung dan Mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu yang mengetahui tentang diriNya kemudian Allah mengabarkan tentang diriNya pada hambaNya, sehingga kita mengetahui tentang sifat yang ada pada diri Allah beserta penjelasan Nabi yang mulia Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini harus kita yakini dan kita tanamkan dalam diri kita tanpa ada keraguan sedikitpun.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyerupai makhlukNya. Kita mengetahui ada Khaliq (Sang Pencipta) dan ada makhluk yang diciptakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang difirmankanNya:
    …لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
    “Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah, dan Allah memiliki pendengaran dan penglihatan.” (QS. Asy-Syura'[42]: 11)
    Dan Allah mengatakan di dalam Al-Qur’an:
    أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ
    “Apakah kalian yang lebih mengetahui daripada Allah?” (QS. Al-Baqarah[2]: 140)
    Maka tatkala kita mendapatkan di dalam Al-Qur’an dan juga di dalam hadits-hadits yang shahih penjelasan tentang sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, kewajiban kita mengimani, meyakini dan menetapkannya. Keimanan/keyakinan yang dibangun diatas keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat tersebut sesuai dengan kebesaran, keagungan, dan kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu yang diyakini oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat, tabi’in, atba’ut tabi’in, seluruh kaum muslimin yang mengikuti Rasulullah, dan generasi terbaik umat ini dari kalangan Ahlus Sunnah sampai detik ini dan sampai hari kiamat.
    Itulah aqidah yang Allah turunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, itulah aqidah yang diajarkan oleh Rasulullah kepada sahabatnya. Maka barangsiapa yang menyimpang, melenceng, menentang, menyelisihi apa yang diutarakan tadi, maka secara pasti dia akan sesat dan menyimpang dari tuntunan Allah dan RasulNya di dalam membahas perkara yang sangat urgent dan mendasar ini, yaitu aqidah, tauhid dan secara spesial tentang diri Allah, tentang sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Penyebab penyimpangan ahlul kalam dengan berbagai sekte mereka adalah karena tidak lagi mengikuti apa yang kita sampaikan tadi. Sementara hal itu merupakan konsensus/ijma’ Ahlus Sunnah dari kalangan Salaful Ummah sampai detik ini.
    Betapa banyak di zaman sekarang ini pernyataan-pernyataan yang menisbatkan kepada sunnah, tetapi sesungguhnya itu penyimpangan, kesesatan, pembodohan dan juga kedustaan. Mereka menisbatkan suatu pemahaman kepada aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sementara hal itu pada hakekatnya aqidah ahlul kalam.
    Sifat Tangan Allah
    Menit ke- Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki dua tangan. Tangan tersebut merupakan sifat Dzatiyah, yaitu sifat yang menyertai dari Allah. Dan termasuk juga sifat Khabariyah, yaitu sifat yang dalilnya hanya bersumber dari khabar (wahyu), bukan dari akal.
    1 hr 23 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah