Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Kisah Allah Menghidupkan Orang Yang Sudah Mati
    Kisah Allah Menghidupkan Orang Yang Sudah Mati merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Al-Qiyamah Ash-Shughra yang disampaikan oleh Ustadz Ali Nur, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 17 Rabi’ul Akhir 1443 H / 22 November 2021 M.

    Kisah Allah Menghidupkan Orang Yang Sudah Mati
    Salah satu bukti adanya hari berbangkit adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Berkuasa untuk merubah makhlukNya dari satu keadaan ke keadaan berikutnya. Seperti Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan biji-bijian yang mati. Tapi lihat kalau kita letakkan di tempat yang basah, ternyata benda yang kita anggap mati itu bisa hidup dan tumbuh menjadi sebuah pohon yang rindang dan dapat memberikan buah-buahan yang bermanfaat bagi manusia.
    Biji yang kita anggap mati ternyata bisa tumbuh hidup. Itu salah satu contoh bahwasanya Allah bisa merubah makhluk dari satu keadaan ke keadaan yang lain.
    Bukti yang lain adalah bahwa Allah menghidupkan orang yang sudah mati di alam dunia ini.
    5. Allah menunjukkan kekuasaanNya dengan menghidupkan orang yang sudah mati di alam dunia ini
    Sepanjang sejarah manusia ada orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perlihatkan langsung bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengembalikan mayat kembali hidup atau tulang yang sudah hancur kembali menjadi makhluk hidup. Hal itu disaksikan oleh beberapa orang dengan mata kepala mereka. Bahkan mereka langsung menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan muncul dari sebahagian benda mati.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menceritakan kepada kita tentang mukjizat-mukjizat yang luar. Di antaranya umatnya Nabi Musa pernah berkata kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salam:
    … يَا مُوسَىٰ لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً…
    “Hai Musa, kami tidak akan mempercayaimu sampai kami melihat Allah secara langsung.” (QS. Al-Baqarah[2]: 55)
    Begitulah Bani Israil. Padahal mereka sudah diselamatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejaran Fir’aun dan Allah selamatkan dengan mukjizat. Seperti Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan:
    فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ
    “Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukulkan tongkatmu ke laut’. Maka terbelahlah laut dan masing-masing laut yang terbelah itu bagaikan gunung yang menjulang tinggi.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 63)
    Bukan hanya itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam surah Al-Baqarah:
    وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ…
    “Kami naungi kalian dengan awan, dan Kami turunkan kepada kalian manna dan salwa…” (QS. Al-Baqarah[2]: 57)
    Setelah mereka menyaksikan kejadian-kejadian ini, mereka masih berani mengatakan:
    … يَا مُوسَىٰ لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً…
    “Hai Musa, kami tidak akan mempercayaimu sampai kami melihat Allah secara langsung.” (QS. Al-Baqarah[2]: 55)
    Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    …فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ ‎﴿٥٥﴾‏ ثُمَّ بَعَثْنَاكُم مِّن بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ‎﴿٥٦﴾
    “Akhirnya kalian disambar petir sampai meninggal. Kemudian setelah itu Kami hidupkan kalian kembali setelah kalian mati, semoga kalian bersyukur.” (QS. Al-Baqarah[2]: 55-56)
    Jadi umat Nabi Musa pernah merasakan mati dan Allah hidupkan mereka kembali. Itu kisah pertama yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an bagaimana Allah menghidupkan orang yang sudah Allah matikan.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    1 hr 5 min
  • Waktu Yang Tepat Untuk Meng-qadha’ Shalat
    Waktu Yang Tepat Untuk Meng-qadha’ Shalat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 17 Rabi’ul Akhir 1443 H / 22 November 2021 M.

    Download kajian sebelumnya: Bagaimana Cara Mengganti Shalat Yang Tertinggal Tanpa Udzur?
    Kajian Fiqih Tentang Waktu Yang Tepat Untuk Meng-qadha’ Shalat
    Apakah ketika meng-qadha’ diwajibkan untuk segera melakukannya ataukah boleh memilih waktu yang kita inginkan? Misalnya kita ketiduran sehingga shalat subuh kita terlewat karena baru bangun jam 06:30 dan matahari sudah terbit. Apakah kita meng-qadha’ shalat subuhnya diwaktu itu segera ataukah kita boleh memilih waktu lain, misalnya waktu subuh di hari berikutnya, atau nanti ketika waktu shalat dzuhur?
    Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan bahwa meng-qadha’ shalat diwajibkan segera. Yaitu wajib segera dilakukan. Ketika kita bangun 06:30, maka kita diwajibkan segera meng-qadha’nya.
    Setelah bangun kita wudhu, kemudian setelah itu kita shalat. Hal ini karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan di dalam hadits:
    مَنْ نَامَ عَنْ صَلاَةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا
    “Barangsiapa yang ketiduran atau kelupaan sehingga tidak shalat pada waktunya, maka shalatlah dia ketika ingat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ini menunjukkan wajibnya kita meng-qadha’ diwaktu kita ingat, bukan setelah itu.
    Pendapat lain di dalam masalah ini bahwa kita boleh mengakhirkan qadha’ shalat yang telah lewat. Namun tetap lebih utama kita melakukannya dengan segera.
    Di antara dalil mereka karena waktu qadha’ itu musytarak (sama antara waktu awal dengan waktu setelahnya), semuanya bernama waktu untuk meng-qadha’ shalat. Kapanpun kita meng-qadha’nya maka namanya sama-sama shalat qadha’. Sehingga menyegerakan untuk meng-qadha’ shalat adalah sunnah dan sangat dianjurkan. Tapi kalau mengakhirkannya maka tidak ada masalah.
    Hadits Nabi “Shalatlah dia ketika dia ingat,” menunjukkan bahwa seseorang diwajibkan meng-qadha’ ketika dia ingat. Dan ini menunjukkan wajibnya meng-qadha’ sesegera mungkin.
    Kalau kita katakan dia wajib meng-qadha’ sesegera mungkin, maka konsekuensinya ketika dia akhirkan dengan sengaja tanpa ada udzur, maka dia berdosa mengakhirkan qadha’nya. Berbeda kalau ada udzur atau alasan yang dibenarkan oleh syariat untuk mengakhirkannya. Seperti misalnya dia menahan sakit perut sehingga dia mengakhirkan setelah masalah perutnya selesai.
    Contoh yang lain adalah ketika seseorang bangun ternyata makanan sudah dihidangkan. Ini adalah udzur untuk mengakhirkan qadha’nya. Karena kalau dia menyegerakan shalatnya ketika itu kemungkinan besar dia sulit untuk khusyuk karena memikirkan makanan yang sudah dihidangkan tadi.
    Intinya adalah dia wajib untuk segera melakukan qadha’nya. Kalau dia mengakhirkan qadha’nya tanpa ada udzur yang diterima oleh syariat, maka dia berdosa dalam mengakhirkannya.
    Tertib Ketika Meng-qadha’ Shalat
    Menit ke- Apakah ketika kita meng-qadha’ diwajibkan tertib? Maksud tertib adalah melaksanakan shalat sesuai dengan urutannya.
    Contoh dalam masalah ini adalah apabila ada orang ketiduran sampai lewat waktu asharnya, kemudian masuklah waktu maghrib baru bangun, sedangkan tidurnya sejak setelah shalat dzuhur.
    1 hr 14 min
  • Allah Membangkitkan Tulang Yang Sudah Menjadi Debu
    Allah Membangkitkan Tulang Yang Sudah Menjadi Debu merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Al-Qiyamah Ash-Shughra yang disampaikan oleh Ustadz Ali Nur, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 10 Rabiul Akhir 1443 H / 15 November 2021 M.

    Allah Membangkitkan Tulang Yang Sudah Menjadi Debu
    Allah menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu menciptakan dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada, maka tidak sulit bagi Allah untuk mengulangi kembali menjadi ada. Kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu menciptakan makhluk yang jauh lebih besar dan rumit, apalah susahnya bagi Allah untuk menciptakan makhluk yang jauh lebih mudah. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu dengan mudah merubah satu keadaan ke keadaan lainnya.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tiga data ini dalam satu ayat untuk membantah pemikiran orang-orang yang tidak beriman dengan hari berbangkit. Allah berfirman:
    وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ
    “Mereka memberi kami satu permisalan, tapi mereka lupa dengan ciptaan mereka bagaimana. Mereka mengatakan: ‘Siapa yang mampu untuk membangkitkan kembali tulang yang sudah menjadi debu?'” (QS. Yasin[36]: 78)
    Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ ‎﴿٧٩﴾‏ الَّذِي جَعَلَ لَكُم مِّنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنتُم مِّنْهُ تُوقِدُونَ ‎﴿٨٠﴾
    “Katakanlah: ‘Sesungguhnya yang menghidupkannya nanti adalah yang menciptakannya pertama kali. Sungguh Dia Maha Mengetahui atas seluruh makhluk-makhlukNya. Dia-lah yang telah menjadikan untuk kalian api dari pohon yang hijau dan kalian pun mampu menyalakan api tersebut dari pohon hijau tersebut.'” (QS. Yasin[36]: 79-80)
    Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَن يَخْلُقَ مِثْلَهُم ۚ بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ…
    “Bukankah yang menciptakan langit dan bumi mampu menciptakan yang seperti itu? Tentu, sesungguhnya Dia Maha Pencipta dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya urusan Allah itu apabila Dia menginginkan sesuatu Dia cukup dengan mengatakan ‘Jadilah!’ maka jadilah. Maha Suci Allah yang di tanganNya-lah segala kekuasaan, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Dan kepadaNya-lah kalian akan kembali.” (QS. Yasin[36]: 81-83)
    Yang memberikan contoh ini adalah orang Arab yang mengingkari adanya hari berbangkit. Disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwasanya ada orang kafir yang mengingkari adanya hari berbangkit dimana dia datang membawa tulang yang sudah hancur. Kemudian dia hancurkan tulang tersebut dan dia hembus. Lantas dia berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    يا محمد أتزعم أن الله يبعث هذا؟
    “Ya Muhammad, apakah kamu katakan bahwasanya Allah akan menghidupkan yang seperti ini?”
    Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat-ayatNya untuk mencela si kafir ini dikarenakan kebodohan dan kesesatannya. Seandainya dia berakal, maka dia tidak akan bertanya terntang pertanyaan ini. Karena keberadaan dan ciptaan dia dalam kehidupan ini sudah cukup sebagai jawaban terhadap pertanyaannya.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajianyang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    1 hr 4 min
  • Tauhid dan Istighfar adalah Tiang Agama
    Tauhid dan Istighfar adalah Tiang Agama adalah Kajian bersama Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas Hafidzahullahu Ta’ala pada hari Sabtu, 02 Rabiul Awal 1443 H / 09 Oktober 2021 M.

    Ceramah Agama Tentang Tauhid dan Istighfar adalah Tiang Agama
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
    “Ketahuilah bahwasanya tiada Ilah yang berhak diibadahi melainkan hanya Allah, dan mohonkanlah ampun kepada Allah atas dosamu, dan mohonkanlah ampun untuk laki-laki yang beriman dan perempuan-perempuan yang beriman. Dan Allah mengetahui tempat usaha kamu dan tempat tinggal kamu.” (QS. Muhammad[47]: 19)
    Allah menyebutkan dalam ayat ini dengan kalimat “ketahuilah”, artinya kita diwajibkan untuk menuntut ilmu sebagaimana disebutkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya: العلم قبل القول والعمل (ilmu itu sebelum berkata dan sebelum berbuat).
    Kemudian Allah menyebutkan “Tiada Ilah yang berhak diibadahi melainkan hanya Allah,” artinya semua sesembahan selain Allah adalah batil. Yang berhak diibadahi hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Kemudian disuruh untuk minta ampun atas dosa-dosa, padahal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah maksum. Nabi disuruh untuk minta ampun sebagai contoh bagi ummatnya, agar umatnya selalu istighfar (minta ampun) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ilmu merupakan jalan untuk mengetahui bagaimana kita mentauhidkan Allah. Jadi kita wajib thalabul ilmi. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
    “Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
    Lihat juga: Islam Agama Ilmu
    Karena wajib, maka setiap muslim wajib untuk belajar tentang agama ini. Dan yang pertama kali dipelajari adalah tentang tauhid. Karena tauhid merupakan ashraful ulum (ilmu yang paling mulia).
    Tiada Ilah yang berhak diibadahi melainkan hanya Allah
    Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah menjelaskan bahwa jalan untuk mengetahui bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi melainkan hanya Allah ada beberapa perkara, yaitu:
    Pertama (yang paling besar) yaitu mentadaburi nama-nama Allah dan sifat-sifatNya, juga perbuatan-perbuatanNya yang menunjukkan kepada kesempurnaan, keagungan dan kemuliaan Allah. Karena itu wajib untuk kita mengerahkan semua usaha untuk beribadah hanya kepada Allah Yang Maha Sempurna, yang bagiNya semua pujian, bagiNya semua kemuliaan, bagiNya semua keindahan.
    Kedua, mengetahui bahwa Allah bersendiri dalam penciptaan dan mengatur alam semesta ini. Artinya tidak ada yang menciptakan kecuali hanya Allah dan tidak ada yang mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allah Ta’ala. Sehingga dia mengetahui yang demikian itu bahwasanya Allah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi, tidak ada yang lain yang kita ibadahi kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ketiga, mengetahui bahwa Allah bersendiri yang memberikan nikmat yang lahir dan batin, Allah bersendiri memberikan nikmat agama dan dunia. Sesungguhnya yang demikian itu mewajibkan untuk bergantungnya hati hanya kepada Allah dan juga mencintaiNya, beribadah hanya kepadaNya, karena tidak ada Ilah yang berhak diibadahi melainkan hanya Allah dan tidak ada sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Keempat, apa yang kita lihat dan dengar dari ganjaran kepada wali-wali Allah yang melaksanakan tauhid. Allah menolong dan memberikan nikmat yang segera di dunia ini dan nanti di akhirat kepada mereka.
    Yang pertama kita lihat adalah dari para Nabi dan Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam yang Allah abadikan dalam Al-Q...
    51 min
  • Hadits-Hadits Tentang Sifat Kalam
    Hadits-Hadits Tentang Sifat Kalam ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Tentang Nama-Nama Allah dan Sifat-SifatNya. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 14 Rabi’ul Akhir 1443 H / 19 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya:  Sifat Kalam

    Kajian Hadits-Hadits Tentang Sifat Kalam
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa ada para malaikat yang ditugaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk turun ke permukaan bumi ini, memantau, menjaga dan memelihara (dengan izin Allah) hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ada malaikat yang ditugaskan di malam hari dan malaikat yang ditugaskan di siang hari. Begitu mereka telah menyelesaikan tugasnya di malam hari, mereka akan naik menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala melaporkan kondisi hamba-hamba Allah. Maka akan turun malaikat yang berjaga di siang hari. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui kondisi dan perihal para hambaNya. Maka kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي
    “Kemudian malaikat yang berjaga di malam hari begitu terbit fajar dia akan naik menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah bertanya kepada mereka sementara Allah lebih mengetahui tentang kondisi hambaNya: ‘Wahai para malaikat, bagaimana kalian tinggalkan hamba-hambaKu?'”
    Jadi Allah bertanya kepada malaikat dan malaikat mendengar perkataan Allah. Lanjutan haditsnya:
    فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ
    “Kemudian malaikat menjawab: ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami juga datang menjumpai mereka dalam keadaan shalat.'” (HR. Bukhari)
    Pergantian malaikat tersebut terjadi di waktu shalat fajar dan juga di waktu shalat ashar.
    Dari hadits ini banyak pelajaran yang menjelaskan tentang aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di antaranya bahwa Subhanahu wa Ta’ala Maha Tinggi, sehingga para malaikat naik menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian juga Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat kalam (berbicara). Perkataan Allah bisa didengar sehingga malaikat mendengar perkataan Allah kemudian menjawab pertanyaan yang disampaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para malaikat.
    Perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut terjadi sesuai dengan kehendak Allah, kendati secara hukum asal dari perkataan itu adalah Dzatiyah (yang senantiasa menyertai dari Allah). Tapi dalam satuan kalam (perkataan), maka Allah berbicara kapan saja, dimana saja, kepada siapa saja. Maka ini menjelaskan kepada kita tentang sifat kalam yang dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Selanjutnya hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab shahih beliau dalam kitab tauhid. Hadits Abu Hurairah yang menjelaskan tentang keutamaan puasa. Di antara redaksi hadits tersebut:
    يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ له، إِلَّا الصِّيَامَ
    “Allah ‘Azza wa Jalla berkata: ‘Seluruh amalan (ketaatan dan ibadah) manusia untuk mereka, kecuali puasa.'”
    يَقُولُ الله عَزَّ وَجَلَّ: الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي
    “Allah ‘Azza wa Jalla berkata: ‘Puasa itu spesial untukKu dan aku yang langsung memberikan balasan. Disebabkan dia meninggalkan syahwatnya, meninggalkan makanan dan minumannya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    1 hr 8 min
  • Takut Kepada Kesyirikan
    Takut Kepada Kesyirikan adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 12 Rabiul Akhir 1443 H / 17 November 2021 M.

    Kajian Tentang Takut Kepada Kesyirikan
    Salah satu tanda seseorang mengamalkan tauhid dengan semurni-murninya adalah khawatir dirinya terperosok kedalam kesyirikan. Dan siapa yang khawatir dirinya terperosok kedalam kesyirikan, maka dia akan menjauhi kesyirikan tersebut yang itu merupakan pengamalan tauhid dengan semurni-murninya, dia juga akan selalu berusaha mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Orang yang takut terporosok kedalam kesyirikan, maka dia akan berusaha selalu di atas ketaatan. Karena kemaksiatan adalah tanda kekurangan tauhid, tanda turunnya iman, turunnya keikhlasan, turunnya rasa muraqabatullah.
    Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan dalil yang pertama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ…
    “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan akan mengampuni apa saja dosa selain itu bagi siapa yang dikehendakiNya…” (QS. An-Nisa[4]: 48)
    Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata bahwa maksudnya adalah Allah tidak mengampuni untuk seorang hamba yang bertemu denganNya (kelak di hari kiamat) dalam keadaan mensyirikkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah akan mengampuni apa saja selain itu bagi siapa yang dikehendakiNya.
    Maka jelas dengan ayat ini bahwa syirik adalah dosa paling terbesar. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan bahwa Allah tidak akan mengampuninya bagi siapa yang belum bertaubat darinya. Dan apa saja dosa-dosa selain itu maka dia dalam kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika Allah menghendaki, Allah akan mengampuninya bagi siapa yang bertemu denganNya dengan dosa tersebut. Dan jika Allah menghendaki Allah akan menyiksanya bagi siapa yang membawa dosa tersebut.
    Ini mengakibatkan untuk seorang hamba sangat takut dari kesyirikan yang keadaannya seperti ini di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dosa syirik tidak diampuni karena dia adalah dosa paling buruk, kedzaliman yang paling dzalim, merendahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, memalingkan hak Allah yang paling istimewa kepada selain Allah dengan apa-apa yang merupakan milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ
    “Kemudian orang-orang kafir berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-An’am[6]: 1)
    Artinya memalingkan ibadah yang itu merupakan hak paling istimewa bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada selain Allah.
    Sebab yang lain adalah karena perbuatan syirik bertentangan dari maksud penciptaan dan perintah. Kita diciptakan oleh Allah untuk beribadah. Dan ibadah yang dimaksud adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
    “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ…
    “Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah secara ikhlas (hanya untuk Allah dalam menjalankan ketaatan).” (QS. Al-Bayyinah[98]: 5)
    Itu tujuan dan maksud dari penciptaan makhluk. Adapun perbuatan kesyirikan bertentangan dengan tujuan ini.
    1 hr 32 min
  • Shalat Menghapuskan Dosa
    Shalat Menghapuskan Dosa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 11 Rabiul Akhir 1443 H / 16 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Keutamaan Adzan
    Shalat Menghapuskan Dosa
    Pembahasan kita masih pada bab tentang keutamaan shalat. Kita telah membahas hadits yang terakhir, yaitu hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu:
    أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ
    “Bagaimana pandangan kalian jika ada sebuah sungai di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian yang mana setiap hari dia mandi lima kali, apakah tersisa kotoran pada tubuhnya?”
    Para sahabat menjawab: “Tidak akan ada tersisa kotoran pada tubuhnya.”
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا
    “Maka demikian pula lah  perumpamaan shalat lima waktu, yang mana dengannya Allah menghapus kesalahan dan dosa seorang hamba.” (Muttafaqun ‘alaih)
    Ini salah satu dari keutamaan-keutamaan shalat yang lima waktu ataupun shalat-shalat yang lainnya.
    Apa yang digambarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berupa perumpamaan ini sangat jelas. Hal ini supaya kita mampu untuk mencerna dan memahami dengan mudah dan gamblang bahwa seorang yang senantiasa mengerjakan shalat lima waktu ibarat seorang yang mandi setiap hari lima kali. Dia selalu membersihkan dirinya dari kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa dari shalat yang dikerjakannya. Oleh karena itu janganlah kita menggampangkan masalah shalat lima waktu.
    Dan demikian pula kewajiban kita sebagai orang tua, sebagai guru, sebagai pendidik, adalah untuk yang membina dan mendidik anak-anak kita dan generasi kaum muslimin menjadi generasi yang senantiasa menegakkan shalat lima waktu sejak dini.
    Hadits yang selanjutnya, dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مثَلُ الصَّلواتِ الخَمْسِ كمثَلِ نهْرٍ جارٍ غمْرٍ عَلى بَابِ أَحَدِكُم يغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خمْسَ مرَّاتٍ
    “Perumpamaan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah sungai yang mengalir dengan air yang penuh. Dia mengalir di depan pintu salah seorang di antara kamu sekalian, yang mana dia mandi dari sungai tersebut setiap hari lima kali.” (HR. Muslim)
    Ini menunjukkan keutamaan shalat lima waktu yang membersihkan diri kita dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan setiap hari.
    Yang namanya manusia ada saja perbuatan dosa yang dia kerjakan tanpa dia menyadarinya atau tidak. Kesalahan-kesalahan dalam pandangan, berbicara, mendengar, melangkah dan yang lainnya, kita selalu berbuat dosa. Maka shalat yang lima waktu itu membersihkan dosa-dosa seorang hamba. Sebagaimana mandi membersihkan fisik dan tubuh seseorang, maka shalat membersihkan jiwa dan diri seseorang dari dosa-dosa yang dikerjakannya.
    Kemudian hadits yang selanjutnya, dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Pernah seseorang mencium seorang wanita (yang bukan mahramnya), maka orang ini datang menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu dia memberitahukan kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang perbuatannya terhadap wanita tersebut. Maka Allah menurunkan firmanNya:
    1 hr 32 min
  • Talbis Iblis Terhadap Tukang Kisah
    Talbis Iblis Terhadap Tukang Kisah ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 10 Rabiul Akhir 1443 H / 15 November 2021 M.

    Kajian Islam Tentang Talbis Iblis Terhadap Tukang Kisah
    Pada masa lalu ataupun diawal-awal masa-masa Islam yang menjadi pemberi nasihat ataupun yang berbicara di depan manusia adalah para ulama dan ahli ilmu. Namun seiring dengan berjalannya waktu, tren ini kemudian diambil alih oleh orang-orang jahil. Mereka berani mengambil alih tugas ini, sehingga mereka yang memiliki kedudukan tidak mau lagi hadir di majelis-majelis seperti ini. Maka muncullah para penceramah ataupun penutur kisah yang mana mereka bukanlah orang-orang yang berilmu, dan majelisnya juga bukan majelis ilmu, tapi majelis nasihat.
    Para penceramah dan pemberi nasihat ini tidak membekali diri mereka dengan ilmu syar’i. Kadang-kadang mereka juga lebih memilih cerita-cerita atau kisah-kisah yang membuat orang-orang awam terkagum-kagum. Sehingga banyaklah muncul bid’ah-bid’ah ataupun hal-hal baru yang dinisbatkan kepada agama melalui perkara-perkara yang dinisbatkan kepada Nabi ataupun kepada agama.
    Ibnul Jauzi telah menulis buku tentang kerusakan-kerusakan para penceramah di dalam buku beliau yang berjudul القصاص والمذكرين. Disitu Ibnul Jauzi menjelaskan apa saja yang dilakukan oleh para qushash ini. Yaitu mereka memalsukan hadits-hadits, terutama di dalam bab targhib wa tarhib.
    Iblis membuat talbis atas mereka sehingga mereka mengatakan: “Kami bermaksud memberi anjuran kepada manusia untuk melakukan kebaikan dan mencegah mereka dari keburukan.” Lalu mereka membuat-buat kisah yang mungkin ini akan menarik perhatian khususnya orang-orang awam. Kadang-kadang kisah-kisah itu menyentuh, akan tetapi sebenarnya itu bukanlah kisah yang sah dinisbatkan kepada Nabi, atau mungkin kisah-kisah yang tidak ada asal-usulnya, atau mungkin karangan mereka sendiri. Terkadang ini dinisbatkan kepada agama dan manusia menganggapnya sebagai suatu bagian dari agama.
    Sebagai contoh kisah Tsa’labah yang mungkin sangat populer yang ternyata haditsnya tidak sah dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak ada asal-usulnya, dan bahkan kisah-kisah seperti itu tercantum dalam buku-buku tafsir, seperti tafsir Ibnu Katsir.
    Manusia menerima mereka karena mereka mengaduk-aduk perasaan para pendengarnya dengan retorika dan penyampaian yang menarik hati. Ini merupakan pelanggaran terhadap syariat. Karena dengan perbuatan itu mereka menganggap syariat Islam masih kurang dan perlu disempurnakan dengan cara-cara seperti itu. Dalam hal ini mereka melupakan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
    “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas nama Nabi, silakan dia mengambil tempat duduknya di dalam neraka.” (HR. Muslim)
    Maka mereka pun menganggap ringan memalsu hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan alasan niat mereka baik.
    Lihat juga: Bahaya Membuat dan Menyebarkan Hadits Palsu
    Talbis Iblis untuk membacakan syair-syair
    Menit ke- Di antara talbis iblis lainnya adalah mereka sengaja mencari-cari kalimat yang bisa memotivasi jiwa, bisa menggairahkan hati. Mereka membuat-buat berbagai seni berbicara atau retorika dan kadang-kadang mereka menyisipinya dengan mendendangkan syair-syair yang bercerita tentang hati ataupun cinta.
    46 min
  • Bagaimana Cara Mengganti Shalat Yang Tertinggal Tanpa Udzur?
    Bagaimana Cara Mengganti Shalat Yang Tertinggal Tanpa Udzur? ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 10 Rabiul Akhir 1443 H / 15 November 2021 M.

    Download kajian sebelumnya: Udzur Bolehnya Shalat Diluar Waktunya
    Kajian Fiqih Tentang Bagaimana Mengganti Shalat Yang Ditinggalkan?
    Bagaimana apabila ada seseorang tidak menjalankan shalat sampai keluar waktunya tanpa ada udzur syar’i. Apakah dia wajib meng-qadha’, ataukah dia tidak boleh meng-qadha’?
    Ini banyak terjadi di masyarakat. Ada orang-orang yang memang benar-benar tidak memperhatikan shalatnya. Mereka malas menjalankan shalat, bukan karena ada udzur yang dibenarkan oleh syariat. Tapi memang karena meremehkan masalah shalat sampai berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
    Bagaimana dengan orang-orang yang seperti ini? Apakah ketika mereka bertaubat maka diwajibkan untuk meng-qadha’ shalat-shalat yang mereka tinggalkan dengan sengaja tanpa adanya udzur syar’i tersebut?
    Pendapat Bolehnya Meng-qadha’ shalat
    Jumhur ulama (dari empat mazhab) menyatakan bahwa mereka tetap wajib meng-qadha’ shalat yang mereka tinggalkan walaupun meninggalkannya tanpa ada udzur syar’i. Konsekuensi dari pendapat ini, misalnya ada orang yang dia menyepelekan shalatnya sampai 30 tahun. Setelah bertaubat maka dia wajib meng-qadha’ semua shalatnya. Apabila dia bertaubatnya umur 50 tahun, maka semua shalat yang pernah dia tinggalkan wajib diqadha’.
    Jumhur ulama berdalil di antaranya dengan dalil-dalil yang mewajibkan qadha’ kepada orang yang meninggalkan shalat karena lupa atau karena tertidur. Dan banyak dalil yang menjelaskan wajibnya meng-qadha’ shalat atas orang yang ketiduran atau lupa. Mereka mengatakan bahwa kalau orang yang meninggalkan shalat dengan adanya udzur saja diwajibkan untuk meng-qadha’, apalagi orang-orang yang meninggalkan shalat tanpa adanya udzur.
    Orang yang ketiduran dari shalatnya, dia tidak bersalah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَفْرِيطٌ
    “Tidak ada kesalahan pada tidur.” (HR. Muslim)
    Orang yang ketiduran (tidak bersalah), itu saja setelah dia bangun wajib meng-qadha’ shalat yang ditinggalkan, apalagi orang yang salah dalam meninggalkan shalat, tentunya dia lebih wajib untuk meng-qadha’ shalatnya.
    Mereka juga berdalil dengan meng-qiyaskan masalah shalat dengan puasa. Mereka mengatakan bahwa dalam sebagian riwayat kisah orang Badui yang menjima’ istrinya di siang hari Ramadhan, ada redaksi yang bunyinya:
    وَصُمْ يَوْمًا مَكَانَ مَا أَصَبْتَ
    “Dan puasalah engkau sehari sebagai ganti puasa dihari yang engkau menjima’ istrimu.”
    Orang yang menjima’ istri di siang hari Ramadhan, tentunya dia menjima’ dengan sengaja, berarti dia membatalkan puasanya dengan sengaja. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ternyata memerintahkan orang ini untuk berpuasa sebagai ganti satu hari itu. Jadi berarti puasanya dua bulan berturut-turut tambah satu hari itu.
    Mereka juga berdalil dengan hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    فَدَينُ اللهِ أحَقُّ أن يُقضَى
    “Hutang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala itu lebih pantas untuk dibayar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Mereka mengatakan bahwa orang yang tidak shalat dengan sengaja itu berhutang kepada Allah Subhanahu wa ...
    1 hr 1 min
  • Khutbah Jumat: Tolong-Menolong
    Khutbah Jumat: Tolong-Menolong ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 07 Rabi’ul Akhir 1443 H / 12 November 2021 M.
    Khutbah Pertama Tentang Tolong-Menolong
    Pertama-tama kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita:
    وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
    “Jika kamu menghitung nikmat Allah, kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl[16]: 18)
    وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
    “Dan apapun nikmat yang kamu miliki semuanya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. An-Nahl[16]: 53)
    Allah hanya meminta kita untuk bersyukur kepadaNya dengan menyembahNya semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu yang lain.
    Kita bersyukur kepada Allah pada kesempatan siang ini kita masih diberi kesehatan, kita masih diberi kehidupan, kita masih dijaga di atas Islam dan iman.
    Kemudian shalawat dan salam tidak lupa kita limpahkan untuk Nabi kita, teladan kita, junjungan kita Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, atas keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau, dan umat beliau sampai hari kemudian.
    Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah,
    Bagi hamba yang mengharapkan dan menginginkan turunnya pertolongan Allah kepada dirinya, maka salah satu sebab turunnya pertolongan Allah atas seorang hamba adalah dengan membantu sesama. Jadilah orang yang ringan tangan, suka membantu sesama, ini merupakan salah satu faktor Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong seorang hamba. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan di dalam hadits:
    وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
    “Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
    Bahkan menolong sesama itu merupakan sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong kita, bukan hanya di dunia, bahkan nanti saat-saat kita sangat membutuhkan pertolongan, yaitu di akhirat kelak Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong dan membantu kita. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan di dalam sebuah hadits:
    خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
    “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi sesama.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)
    Maka apapun kelebihan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita, baik itu berupa harta, kekuatan, jabatan, ilmu, maka kita membaginya dengan sesama. Kita membantu orang yang lemah, kita mengajari orang yang bodoh, kita membela orang yang lemah/miskin, karena kita memiliki kelebihan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan dan tidak Allah berikan kepada yang lain, karena rezeki manusia memang tidak ada yang sama. Maka barangsiapa yang memiliki kelebihan, gunakanlah itu untuk membantu sesama/saudaranya.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits:
    يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا
    “Mudahkan urusan manusia, bantu mereka dan jangan menyulitkan orang lain.” (HR. Bukhari Muslim)
    Perkara yang bisa kita bantu untuk saudara kita, maka bantulah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan salah satu di antara tingkatan iman, bahkan tingkatan iman yang paling rendah adalah:
    إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ
    “Menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Muslim)
    Ini adalah bentuk mungkin yang sangat ringan/sepele kita membantu sesama. Ada rintangan di jalan, kayu atau sejenisnya, kita singkirkan, kita membantu sesama. Maka bantuan yang kita berikan untuk manusia ini akan berbuah manis pada akhirat ke...
    13 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah