Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Sifat Maji’ dan Ityan
    Sifat Maji’ dan Ityan ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Tentang Nama-Nama Allah dan Sifat-SifatNya. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 29 Rabiul Awal 1443 H / 5 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Allah Turun Ke Langit Bumi

    Kajian Tentang Sifat Maji’ dan Ityan
    Di antara sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Maji’ (datang). Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat datang untuk melakukan pengadilan (menghisab) manusia. Hal yang demikian itu tentunya sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Kenapa kita mengimani hal ini tanpa ada keraguan sedikitpun? Jawabnya adalah karena terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits shahih penjelasan tentang sifat tersebut.
    Satu hal yang perlu kita tersampaikan. Jika terbesit dalam benak pikiran kita tasbih (penyerupaan) Allah datang. Kemudian kita mulai menghayalkan bagaimana datangnya, apakah pindah/turun dengan DzatNya dan ‘Arsy kosong, karena itu makna ‘datang’ dalam kehidupan kita. Maka makna seperti yang harus kita singkirkan. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
    “Tidak ada yang suatupun yang serupa dengan Allah. Sementara Allah mendengar dan melihat.” (QS. Asy-Syura[42]: 11)
    Ini prinsip/kaedah yang sangat penting sekali. Allah tetapkan bagiNya pendengaran dan penglihatan. Artinya Allah memiliki sifat yang ditetapkan Allah dan RasulNya dan sifat tersebut tidak menyerupai satupun dari sifat makhluk.
    Kenapa kita berani mengatakan bahwa Allah turun ke langit bumi, Allah istiwa’ di atas ‘Arsy, Allah datang pada hari kiamat? Demi Allah, tiada yang menyebabkan kita mengatakannya kecuali karena kita mendapatkan di dalam Al-Qur’an Allah yang menyatakannya dan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan tentang hal itu.
    Adapun bila terbesit dalam benak pikiran kita berbagai makna-makna yang batil atau pemahaman-pemahaman yang negatif, maka ini harus disingkirkan. Karena kalau terus kita buka peluang dalam pikiran untuk menghayalkan/merenungkan berbagai makna-makna yang negatif tersebut, maka akan berakhir kepada suatu aqidah yang sangat berbahaya, yaitu ta’thil (mengingkari) dengan alasan ingin mensucikan Allah.
    Setelah mereka mengingkari, bagaimana memahami makna ayat tersebut? Yaitu mereka mentakwil yang inginya adalah pengingkaran pada maknanya sehingga terjadi berbagai perbedaan dalam mentakwil yang masing-masing berusaha untuk menafsirkannya sesuai dengan latar belakang pemikiran dan juga prinsip dasar yang telah dia cetuskan sebelumnya. Menurut mereka kalau ditetapkan secara zhahirnya berarti akan menyerupai sifat makhluk, itulah penyebab kenapa ahlul kalam mentakwil kemudian mengingkari sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Mereka juga menggunakan ayat لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ, tapi tidak dilanjutkan kepada ayat sesudahnya. Pada ayat tersebut ada penafian dan penetapan. Yang dinafikan adalah penyerupaan sedangkan yang ditetapkan adalah sifat-sifat Allah. Berarti menetapkan sifat tidak melazimkan adanya penyerupaan.
    Inilah aqidah Salafush Shalih, beginilah mereka beraqidah, inilah keyakinan mereka. Mereka sungguh generasi pilihan yang dipilih untuk menemani RasulNya, yang harus dijadikan sebagai suri tauladan dan pedoman di dalam memahami Al-Qur’an dan hadits.
    1 hr 11 min
  • Faedah-Faedah Surah Ali Imran Ayat 31 – Ayat Ujian
    Faedah-Faedah Surah Ali Imran Ayat 31 – Ayat Ujian adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 28 Rabiul Awal 1443 H / 4 November 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Faedah-Faedah Surah Ali Imran Ayat 31 – Ayat Ujian
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
    “Katakanlah: ‘Apabila kalian mencintai Allah,  maka ikutilah aku. Niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai kalian dan Allah mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-Imran[3]: 31)
    Di antara faedah yang bisa kita ambil dari ayat ini adalah:
    Pertama, bahwa Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menantang orang-orang yang mengklaim cinta kepadanya dengan timbangan yang adil ini, yaitu ittiba’-nya mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Kedua,  bolehnya berbicara kepada orang yang mengklaim dengan metode tantangan. Karena ini adalah merupakan kebenaran. Seandainya dia tahu tentang hakikat dirinya, maka dia tidak akan mensifati dirinya dengan sifat tersebut. Tapi kenyataannya orang tersebutlah yang telah menghinakan dirinya. Oleh karena itu tidak usah khawatir dari menantang mereka untuk menegakkan dalil atas dakwahan-dakwahannya.
    Ketiga, hal ini merupakan pembenaran terhadap sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dimana beliau bersabda:
    البَيِّنَةُ عَلَى المُدَّعِي
    “Bukti harus ditunjukkan oleh orang yang mengklaim.”
    Kaidah ini walaupun dalam dakwahan sebagian mereka dengan yang lainnya, akan tetapi hakekatnya ini merupakan kaedah yang umum. Maka setiap orang yang mengklaim harus membuktikan adanya keterangan/bukti/dalil atas apa yang dia klaim.
    Keempat, bahwa mencintai Allah merupakan tujuan bagi seluruh manusia, walaupun dia bukan orang mukmin. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku.”
    Kelima, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah betul-betul utusan Allah. Karena Allah menjadikan ittiba’ kepada Rasulullah merupakan sebab mendatangkan cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hambaNya. Jadi kalau seseorang berittiba’ kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka Allah mencintai orang-orang tersebut.
    Keenam, semakin kuat ittiba’-nya seseorang kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ini merupakan tanda cinta seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila engkau melihat seseorang mengikuti Rasul dengan sangat kuat, maka ketahuilah dia sangat mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Adapun seseorang muslim tidak mau mengikuti sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak mau mempelajari sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka menunjukkan kurang cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Oleh karena itu ayat ini disebut ‘ayat ujian’. Ayat ini membuka klaim manusia. Jika dia mengatakan ‘saya cinta Allah’ tapi tidak mengikuti sunnah, maka klaimnya palsu.
    Ketujuh, mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan sebab mendapatkan cinta Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Ikutilah aku niscaya Allah mencintai kalian.”
    Kita semua ingin dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita tidak mau dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    34 min
  • Ilmu Adalah Kehidupan Bagi Ruh
    Ilmu Adalah Kehidupan Bagi Ruh adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 28 Rabi’ul Awal 1443 H / 04 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Harta Menjadikan Hamba Membenci Perjumpaan dengan Allah

    Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu Adalah Kehidupan Bagi Ruh
    Segi-segi kemuliaan ilmu dibandingkan harta:
    Tiga puluh delapan, kedudukan ilmu pada ruh manusia adalah seperti kedudukan ruh pada badan. Yakni kalau ruh itu adalah kehidupan bagi badan manusia, maka ilmu adalah kehidupan bagi ruh manusia.
    Maka jiwa/ruh manusia adalah bangkai yang hidupnya adalah dengan ilmu. Sebagaimana tubuh manusia adalah bangkai yang hidupnya dengan ruhnya. Sehingga fungsi ilmu adalah menghidupkan hati/jiwa/ruh pada diri manusia.
    Sedangkan orang yang kaya dengan harta, perkara maksimal yang bisa dicapainya adalah menambah kehidupan bagi tubuhnya. Subhanallah ini jelas perbedaan yang sangat jauh sekali.
    Orang-orang yang tidak punya ilmu agama disebutkan di dalam Al-Qur’an:
    أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ…
    “Mereka adalah orang-orang yang mati dan tidak hidup sama sekali…” (QS. An-Nahl[16]: 21)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    فَإِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَىٰ…
    “Wahai Rasulullah, kamu tidak bisa memperdengarkan kebenaran terhadap orang-orang yang sudah mati…” (QS. Ar-Rum[30]: 52)
    Maksudnya di sini adalah orang-orang yang mati hatinya. Makanya kedudukan ilmu pada ruh manusia adalah seperti kedudukan ruh pada badan manusia.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan petunjuk yang diturunkanNya kepada RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan ruh. Maksudnya ini ruh bagi jiwa.
    وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا…
    “Demikianlah Kami wahyukan kepadamu (wahai Rasulullah) ruh dari perintah Kami…” (QS. Asy-Syura[42]: 52)
    Agama ini adalah ruh bagi jiwa manusia. Artinya jiwa manusia akan kering dan mati ketika tidak disirami dengan wahyu dari petunjuk yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Oleh karena itu seorang penyair Arab mengatakan:
    وَفي الجَهلِ قَبلَ المَوتِ مَوتٌ لِأَهلِهِ · وَأَجسادُهُم قَبلَ القُبورِ قُبورُ
    “Kejahilan terhadap ilmu sebelum orangnya mati, telah terlebih dahulu mematikan jiwanya. Dan tubuh-tubuh mereka telah menjadi kubur sebelum tubuhnya sendiri masuk ke dalam kuburan.”
    Makanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ
    “Perumpamaan orang yang selalu berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Tiga puluh sembilan, kedudukan hati manusia seperti raja bagi anggota badan, sedangkan ilmu adalah perhiasan yang menghiasi raja, perlengkapan yang menjadikan penampilan raja itu semakin indah.
    Ini adalah penjelasan yang diterangkan oleh para ulama sehubungan dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim tentang kedudukan hati pada anggota badan manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    59 min
  • Tidak Meminta Ruqyah, Kay dan Tidak Melakukan Tathayyur
    Tidak Meminta Ruqyah, Kay dan Tidak Melakukan Tathayyur adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 26 Rabiul Awal 1443 H / 03 November 2021 M.
    Kajian Tentang Tidak Meminta Ruqyah, Kay dan Tidak Melakukan Tathayyur
    Sebelumnya kita sudah membahas sebuah hadits dari Husain bin Abdurrahman yang bangun malam karena disengat kalajengking atau binatang yang mempunyai bisa lainnya. Kemudian di dalam hadits disebutkan bahwa Sa’id bin Jubair Rahimahullah bertanya: “Apa yang kamu lakukan setelah tersengat? Maka Husain bin Abdurrahman bercerita: “Aku minta diruqyah.” Kemudian Sa’id bin Jubair bertanya lagi: “Atas dasar apa engkau minta diruqyah?”
    Di dalam perkataan ini terdapat pelajaran bahwa hendaknya seorang muslim begini dalam beragama, yaitu meminta sandaran hukum atas benarnya sebuah pendapat. Apapun yang dia kerjakan, terutama hal-hal yang berkaitan dengan aqidah, ibadah, muamalah, akhlak dan adab, senantiasa didasari oleh hujjah dari Al-Qur’an atau hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Selanjutnya Husain bin Abdurrahman menjawab: “Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya’bi.” Sang guru bertanya lagi: “Apa hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Sya’bi?” Muridnya menjawab: “Asy-Sya’bi meriwayatkan kepada kami dari Buraidah:
    لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْـنٍ أَوْ حُـمَةٍ
    “Tidak boleh ruqyah kecuali karena ‘ain atau terkena sengatan.”
    Imam Al-Khattabi berkata bahwa makna hadits adalah tidak ada ruqyah yang lebih menyembuhkan dan lebih utama dibandingkan meruqyah orang yang terkena ‘ain atau terkena sengatan. Dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah meruqyah dan diruqyah.
    Selanjutnya Sa’id berkata: “Sungguh baik sikap seseorang yang mengamalkan apa yang telah ia dengar. Hanya saja dalam hal ini Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma telah menuturkan kepada kami bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    ‘Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat oleh Allah, lalu saya melihat seorang Nabi bersama beberapa orang, seorang Nabi bersama seorang dan dua orang dan seorang Nabi sendiri, tidak seorangpun menyertainya.
    Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang sangat banyak jumlahnya. Maka aku pun mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku: ‘Itu adalah Musa dan kaumnya’.
    Tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok orang lainnya yang jumlahnya juga sangat banyak. Lalu dikatakan kepadaku bahwa mereka itu adalah umatku. Dan di antara mereka ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan siksa.
    Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberitahukan seperti itu beliau bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam rumahnya. Para sahabat pun mulai memperbincangkan tentang 70.000 orang itu.
    Ada di antara mereka yang mengatakan: ‘Mungkin saja mereka itu sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.’ Ada lagi yang mengatakan: ‘Mungkin saja mereka orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam dan tidak pernah melakukan kesyirikan terhadap Allah.’ dan menyebutkan yang lainnya.
    Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun keluar rumah, para sahabat memberitahukan rasa penasaran mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    هُمُ الَّذِينَ لاَ يَرْقُونَ وَلاَ يَسْتَرْقُونَ وَ لاَ يَتَطَيَّرُونَ وَ عَلَى رَبِّـهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
    1 hr 29 min
  • Kebiasaan Orang Kafir Mencela Orang Beriman – Surah Al-Baqarah Ayat 212
    Kebiasaan Orang Kafir Mencela Orang Beriman – Surah Al-Baqarah Ayat 212 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa 27 Rabi’ul Awal 1443 H / 02 November 2021 M.
    Download juga kajian sebelumnya: Orang Yang Menjual Dirinya Kepada Allah – Surat Al Baqarah ayat 207-210
    Surah Al-Baqarah Ayat 212
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا ۘ وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
    “Dihiaskan kepada orang-orang kafir itu kehidupan dunia, dan mereka memperolok-olok orang yang beriman. Dan orang-orang yang bertakwa itu akan berada di atas mereka nanti pada hari kiamat. Dan Allah memberikan rezeki kepada siapa yang Allah kehendaki dengan tanpa perhitungan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 212)
    Faedah Surah Al-Baqarah Ayat 212
    Dari ayat ini, kata Syaikh Utsaimin Rahimahullah kita ambil faedah:
    Orang-orang kafir tertipu dengan kehidupan dunia
    Sebab utama orang bisa kafir adalah karena tertipu dengan dunia. Kalau dia tidak tidak tertipu dengan dunia, dia yakin bahwa dunia ini sementara, dan bahwasanya kehidupan hakiki itu adalah kehidupan akhirat, tentu dia akan bersiap-siap untuk menuju kehidupan akhirat itu. Tapi karena dia tertipu dengan dunia, akhirnya menganggap seakan-akan hidup hanya di dunia saja. Akibatnya mereka pun kemudian tidak beriman kepada kehidupan akhirat.
    Orang-orang kafir asyik dengan dunia
    Orang-orang kafir asik dengan dunia dan keinginan terbesarnya adalah dunia, tujuan mereka dunia, Karena Allah mengatakan dalam ayat itu: “dihiaskan kepada mereka,” kalau sudah dihiaskan di hati mereka dunia, pasti keinginan dia dunia dan yang dia cari hanya dunia.
    Sifat seperti ini tidak layak untuk dimiliki oleh seorang yang beriman kepada Allah dan kehidupan akhirat. Orang-orang kafir itu cinta dan bencinya karena dunia, loyalitas dan permusuhannya karena dunia semuanya, sedihnya mereka karena dunia, semua karena dunia, bahkan berteman pun karena dunia, sama sekali bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla.
    Maka kalau kita orang beriman lebih asyik dengan dunia dan tidak merasa asyik dengan ibadah kepada Allah, sungguh kita sudah menyerupai keadaan orang-orang kafir (bukan berarti kita kafir).
    Dunia remeh bagi orang beriman
    Orang yang beriman dengan iman yang sempurna menganggap dan memandang dunia itu sesuatu yang remeh. Karena Allah mengatakan dalam ayat ini: “dihiaskan kehidupan dunia untuk orang kafir,” berarti untuk orang beriman yang benar-benar beriman tidak dihiaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kehidupan dunia.
    Orang yang beriman memandang dunia itu remeh karena mereka yakin dunia itu sementara. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kalau melihat perkara dunia yang membuat beliau kagum, beliau mengatakan:
    إِنَّ الْعَيْشَ عَيْشُ الآخِرَهْ
    “Sesungguhnya kehidupan (yang hakiki) adalah kehidupan akhirat.”
    Namun hadits ini mursal, karena berasal dari periwayatan Mujahid, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun memang demikianlah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits-hadits yang banyak mengingatkan umatnya tentang hakikat dunia. Di antaranya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengumpamakan dunia itu seharga sayap seekor nyamuk.
    لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّه جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَ...
    45 min
  • Penetapan Sifat Mulkiyah
    Penetapan Sifat Mulkiyah merupakan kajian Islam ilmiah Shahih Bukhari Kitab Tauhid yang disampaikan oleh Ustadz Abu Qotadah. Kajian ini disampaikan pada Selasa 27 Rabi’ul Awal 1443 H / 02 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Penetapan Nama dan Sifat As-Salam Al-Mu’min

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Penetapan Sifat Mulkiyah
    Imam Bukhari menyebutkan:
    بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {مَلِكِ النَّاسِ}
    “Bab firman Allah Ta’ala: Malikin naas.”
    Di sini menetapkan sifat Mulkiyah, yaitu Allah sebagai Raja Diraja (Yang Maha Merajai).
    Kita mengetahui bab tentang nama dan sifat Allah Ta’ala adalah bab tentang berita. Maka mengandung dua hakikat, yaitu:
    Pertama, tidak ada jalan untuk menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah kecuali dengan jalan Al-Qur’an dan Sunnah. Sehingga kita menetapkan apa yang ditetapkan Allah dalam kitabNya dan menetapkan apa yang ditetapkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sunnahnya.
    Kedua, kewajiban kita menetapkan apa yang ditetapkan Allah dan menetapkan apa yang ditetapkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kewajiban kita menerima dan membenarkan semua berita dari Allah dan dari Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Imam Bukhari kembali memberikan beberapa contoh tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah. Disini di antaranya adalah nama ‘Al-Malik’ atau ‘Al-Maalik’.
    Nama Al-Malik ditetapkan dengan nash Al-Qur’an, sebagaimana dijelaskan dalam surah An-Naas atau dalam Al-Fatihah:
    مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
    Berarti nama Allah ‘Al-Malik’ telah haq sebagai nama Allah karena ditetapkan di dalam Al-Qur’an.
    Nama ini juga ditetapkan di dalam Sunnah, yaitu pada hadits yang disebutkan oleh Imam Bukhari, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    يَقْبِضُ اللَّهُ الأَرْضَ يَوْمَ القِيَامَةِ، وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا المَلِكُ، أَيْنَ مُلُوكُ الأَرْضِ؟
    “Allah menggenggam bumi pada hari kiamat. Dan Allah melipat langit dengan tangan kananNya. Kemudian Allah berfirman: ‘Aku adalah raja, mana raja-raja bumi?'” (HR. Bukhari)
    Singkatnya bahwa Imam Bukhari mengajari kita kembali satu kaidah penting bahwa menetapkan nama dan sifat Allah harus dengan dalil Al-Qur’an atau Sunnah. Baik itu dalilnya ada dalam Al-Qur’an dengan Sunnah, atau hanya ditetapkan oleh Al-Qur’an tanpa didapatkan dalam Sunnah secara langsung, atau ditetapkan oleh Sunnah tanpa didapatkan leterlek-nya di dalam Al-Qur’an.
    Semuanya adalah hujjah/argumentasi bagi kita dalam menetapkan agama.
    Makna Al-Malik
    Menit ke-  Para ulama mengatakan bahwa:
    الملك هو: المتصرف بالأشياء حسب إرادته، ومشيئته، لا راد لأمره، ولا معقب لحكمه
    “Al-Malik artinya: Yang mengatur/menguasai segala sesuai sesuai dengan iradah dan masyiahNya, tidak ada yang bisa menolak urusanNya, dan juga tidak akan bisa menolak kepada hukumNya.”
    Artinya apabila Allah telah menetapkan sesuatu secara kauniyah, maka tidak ada yang akan bisa membantah atau keluar dari ketetapan Allah.
    Al-Imam Ar-Raghib Al-Asfahani mengatakan:
    الملك هو: المتصرف بالأمر والنهي
    “Al-Malik itu artinya yang berhak memerintah dan melarang.”
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini..
    Download mp3 Kajian

    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link
    1 hr
  • Menumbuhkan Kepedulian Sosial Pada Anak
    Menumbuhkan Kepedulian Sosial Pada Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa 27 Rabi’ul Awal 1443H / 02 November 2021.
    Kajian sebelumnya: Memotivasi Anak Menjadi Pribadi Yang Kuat
    Kajian Islam Ilmiah Tentang Menumbuhkan Kepedulian Sosial Pada Anak
    Pesan untuk berbuat baik kepada teman dan tetangga adalah perkara yang berkaitan dengan habluminannas. Anak-anak harus diajari, didik, diarahkan bagaimana dia membangun hubungan dengan orang-orang sekitar. Misalnya dengan temannya, dengan tetangga, dengan orang-orang yang ada di dekatnya. Ini penting bagi anak tersebut, hingga dia memiliki attitude/perangai/adab yang baik ketika berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkata:
    خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ
    “Sebaik-baik sahabat disisi Allah adalah orang yang paling baik kepada sahabatnya, sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya.” (HR. Tirmidzi)
    Ini berisi pesan kepada kita semua agar menjadi orang yang baik kepada sahabat dan juga kepada tetangga. Mereka adalah orang-orang yang kerap kali berhubungan dengan kita di dalam hidup. Dan anak-anak harus dilatih untuk bisa memiliki adab dan etika yang baik ketika bergaul dengan temannya. Jangan biarkan anak suka mengganggu temannya.
    Sebagian orang tua bangga karena anaknya berani mengganggu dan menyakiti temannya. Ini tentunya tidak mendidik dan menunjukkan gagalnya orang tua melatih anak untuk memiliki adab dan etika yang baik. Jangan dibiarkan anak memiliki perangai seperti itu.
    Apa yang kita biasa tanamkan pada anak itu yang akan dia bawa nanti ketika dewasa. Jadi perlu diarahkan sejak kecil untuk memiliki adab dan akhlak yang baik ketika bergaul. Perhatikan sikap dan prilakunya.
    Ini adalah hadits yang mungkin bisa kita sampaikan kepada anak-anak supaya dia bisa menjadi sahabat yang terbaik bagi sahabatnya dan tetangga yang baik bagi tetangganya.
    Kemudian di antaranya juga hadits Nabi yang mendorong anak kita supaya menjadi anak yang berguna bagi sesama, ringan tangan membantu, melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, menyebarkan kebaikan ke tengah-tengah manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
    “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.” (HR. Thabrani)
    Dalam hadits lain dengan redaksi yang lain pula, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
    “Hamba yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani)
    Maka kita mendorong anak supaya menjadi anak yang berguna manusia, khususnya bagi kaum muslimin. Dorong dia untuk banyak berkarya untuk kemaslahatan umat manusia, menjadikan anak ini menjadi anak yang ringan tangan. Jelaskan juga kepadanya bahwa membantu sesama adalah sebab turunnya bantuan Allah kepadanya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ
    “Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
    Maka biasakan anak dengan amal-amal kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain. Sampaikan juga kepadanya hadits seorang laki-laki yang ...
    48 min
  • Keutamaan Wudhu
    Keutamaan Wudhu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa 27 Rabi’ul Awal 1443H / 02 November 2021.
    Kajian sebelumnya: Keistimewaan Ayat Kursi
    Keutamaan Wudhu
    Wudhu yang kita lakukan sehari-hari ketika akan shalat atau akan membaca Al-Qur’an, ini mempunyai fadhilah yang besar. Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni seorang hamba dengan dia berwudhu, yang mana dengan berwudhu itu berguguran dosa-dosanya (antara dia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala).
    Oleh karena itu yang patut kita perhatikan dalam masalah ini, hendaknya ketika berwudhu benar-benar berwudhu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena ada orang yang berwudhu hanya untuk mendinginkan tubuhnya di saat panas, atau dia berwudhu tanpa niat.
    Dikarenakan wudhu merupakan ibadah yang mulia dan mempunyai fadhilah yang besar, maka dari itu sudah sepatutnya setiap amal yang kita kerjakan kita niatkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ
    “Sesungguhnya amal-amal itu hendaknya dengan niat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Lihat: Hadits Arbain Ke 1 – Innamal A’malu Binniyat
    Dalam bab keutamaan wudhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أَلا أَدُلُّكُمْ عَلى مَا يمْحُو اللَّهُ بِهِ الخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟
    “Maukah kamu sekalian aku tunjukkan kepada kalian suatu amal yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa, Allah mengangkat derajat?”
    Para sahabat menjawab: “Tentu kami mau wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِسْباغُ الْوُضُوءِ عَلى المَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الخطى إِلى المَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاةِ بعْد الصَّلاةِ، فَذلِكُمُ الرِّباطُ، فَذلكُمُ الرِّباطُ
    “Menyempurnakan wudhu disaat-saat yang tidak menyenangkan, banyaknya langkah menuju masjid, menunggu datangnya shalat setelah dia mengerjakan shalat yang sebelumnya, itulah yang dinamakan ar-ribath, itulah yang dinamakan ar-ribath.” (HR. Muslim)
    Asal makna ribath yaitu menunggu/menjaga wilayah-wilayah perbatasan kaum muslimin dari serangan musuh. Fadhilahnya besar, yaitu jika dia meninggal maka akan terhindar dari fitnah kubur, tidak ditanya oleh dua malaikat Munkar dan Nakir.
    Pada hadits ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyamakan orang yang shalat kemudian dia menunggu shalat berikutnya dengan melakukan ribath.
    Hadits Abu Hurairah ini menjelaskan kepada kita tentang manusia sebagai ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang didalam diri mereka ada hawa nafsu, ada keinginan-keinginan untuk berbuat yang buruk. Ini bisa terampuni/terhapus dengan berwudhu secara sempurna.
    Wudhu yang sempurna yaitu seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan tiga kali tiga kali kecuali mengusap kepala hanya satu kali. Jadi betul-betul mengenai seluruh anggota wudhunya.
    Saat-saat yang tidak menyenangkan misalnya dimalam yang dingin, ketika perjalanan, ini hal yang denganya menghapus dosa seorang hamba.
    Menit ke- Hadits selanjutnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ
    “Berwudhu/bersuci adalah setengah dari iman.
    1 hr 35 min
  • Jabatan Adalah Sesuatu Yang Menakutkan
    Jabatan Adalah Sesuatu Yang Menakutkan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 25 Rabiul Awal 1443 H / 1 November 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Jabatan Adalah Sesuatu Yang Menakutkan
    Bab 337 – Bab ucapan seseorang: ‘Semoga dia tidak hidup’
    Imam Bukhari Rahimahullahu Ta’ala mengatakan: بَابُ قَوْلِ الرَّجُلِ: لَا بُلَّ شَانِئُكَ (bab tentang ucapan seseorang yang mengatakan لَا بُلَّ شَانِئُكَ). Ini doa agar orang yang membencimu mati, semoga mati yang memusuhimu/membencimu, semoga dia tidak hidup. Bolehkah kita mendoakan seperti itu?
    Imam Bukhari menyebutkan sebuah atsar, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, tapi atsar ini dhaif, sehingga tidak dapat dijadikan sandaran.
    Suatu sore Abu Hurairah melihat kepada bintang yang ada di hadapannya. Kemudian beliau mengatakan:
    والذي نفسه أَبِي هُرَيْرَةَ بِيَدِهِ! لَيَوَدَّنَّ أقوامٌ ولَوا إماراتٍ فِي الدُّنْيَا وَأَعْمَالًا أَنَّهُمْ كَانُوا مُتَعَلِّقِينَ عِنْدَ ذَلِكَ النَّجْمِ، وَلَمْ يَلُوا تِلْكَ الْإِمَارَاتِ، وَلَا تِلْكَ الْأَعْمَالَ. ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيَّ فَقَالَ:: لَا بُلّ شَانِئُكَ، أَكُلُّ هَذَا
    “Demi yang jiwa Abu Hurairah berada ditanganNya! Kaum laki-laki yang mereka menjabat di dunia, suatu hari nanti pada hari kiamat mereka ingin digantung di bintang-bintang ini asalkan tidak menjabat.” Kemudian Abu Hurairah menghadap kepada Abdul ‘Aziz dan mengatakan: “Semoga yang memusuhimu tidak basah lagi (mati).”
    Atsar ini disebutkan dalam riwayat Ahmad dan hadits yang shahih, dimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa, mereka tidak mengapa diberi siksaan jatuh dari bintang-bintang asalkan mereka tidak menjabat jabatan dalam pemerintahan. Hal ini karena jabatan adalah sesuatu yang menakutkan.
    Sebagian orang beranggapan bahwa jabatan itu penghormatan dan kemuliaan, sehingga kita melihat dimasa sekarang ini orang-orang berebut untuk menjadi pejabat. Bagaimana mereka rebutan untuk menjadi kepala desa, bupati, gubernur. Dan kita dapat menyaksikan di dunia (belum di akhirat) berapa banyak pejabat-pejabat itu yang berakhir menyedihkan. Awalnya dihormati, dihargai, tahu-tahu mereka berada di penjara.
    Sahabat Abu Dzar pernah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, kenapa engkau tidak memberiku jabatan?” Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا
    “Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah. Dan kekuasaan itu adalah amanah (yang berat), dan kekuasaan tersebut menjadi kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya (jujur) dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.” (HR. Muslim)
    Ini yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka akan menyesal, mereka akan berpikir lebih baik dilemparkan dari bintang tersebut, dijatuhkan di tempat yang tinggi, daripada mereka menjabat jabatan di pemerintahan.
    Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menyebutkan bahwa jabatan dan kekuasaan itu adalah ibu susu yang sangat baik, tapi kalau sudah menyapih maka dia meyapih dengan sangat buruk. Ini yang terkadang tidak dipikirkan.
    Mereka berpikir kalau menjadi pejabat maka akan terhormat, dihargai orang, jadi kaya raya.
    1 hr 31 min
  • Ujian Merupakan Sunatullah Pada MakhlukNya
    Ujian Merupakan Sunatullah Pada MakhlukNya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 25 Rabiul Awal 1443 H / 1 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Allah Mengangkat Derajat Orang Yang Rendah Hati

    Ceramah Agama Islam Tentang Ujian Merupakan Sunatullah Pada MakhlukNya
    Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Ashabul Ukhdud adalah sebagai berikut:
    6. Ujian merupakan sunatullah pada makhlukNya
    Pelajaran ini diambil dari kisah Ashabul Ukhdud. Dimana Si Rahib diuji keimanannya dengan disiksa sampai dibelah tubuhnya menjadi dua dengan gergaji. Kemudian juga teman duduknya raja, juga ghulam beserta orang-orang beriman diuji dengan dibakar.
    Manusia diciptakan di atas muka bumi ini untuk diuji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
    “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari nutfah yang Kami ingin mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan[76]: 2)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا…
    “Dia-lah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan kematian dan kehidupan, agar Allah uji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk[67]: 2)
    Ulama menyebutkan ujian di dunia ini dengan dua hal. Yaitu dengan kebaikan dan dengan keburukan, dengan kekayaan dan dengan kemiskinan, dengan kesusahan dan dengan kesenangan.
    Sebagian kita menyangka ujian itu hanya dengan kemiskinan, tidak punya uang, kekurangan, kesempitan, sakit dan semua hal yang tidak menyenangkan. Padahal sesungguhnya semua kebaikan adalah ujian; kekayaan, sehat, kelapangan, semua kesenangan itu ujian.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    …وَبَلَوْنَاهُم بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
    “Dan Kami uji mereka dengan kebaikan-kebaikan dan Kami uji mereka juga dengan keburukan-keburukan, semoga mereka kembali.” (QS. Al-A’raf[7]: 168)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
    “Setiap jiwa yang memiliki nyawa pasti akan merasakan kematian, dan Kami uji kalian  dengan keburukan dan dengan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kami lah kalian dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya[21]: 35)
    Jadi yang akan sukses/selamat/berhasil menghadapi ujian adalah orang yang beriman. Yaitu imannya bukan hanya sekedar dimulut, tetapi imannya betul-betul menghujam di hati dan dibuktikan dengan amalan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
    “Sungguh menakjubkan perkaranya orang beriman itu, semua perkaranya baik baginya. Dan itu tidak dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Apabila dia mendapatkan kebaikan, dia bersyukur, dan itu baik baginya.
    47 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah