Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Allah Mengangkat Derajat Orang Yang Rendah Hati
    Allah Mengangkat Derajat Orang Yang Rendah Hati adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 19 Rabi’ul Awal 1443 H / 25 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Faedah-Faedah Dari Kisah Ashabul Ukhdud

    Ceramah Agama Islam Tentang Allah Mengangkat Derajat Orang Yang Rendah Hati
    Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Ashabul Ukhdud adalah sebagai berikut:
    4. Barangsiapa yang rendah hati karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya
    Pelajaran ini diambil dari sabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa anak muda itu mendatangi Rahib dan mengabarkan apa yang telah terjadi. Dimana anak muda itu dengan izin Allah membunuh binatang besar yang menghalangi manusia.
    Kemudian Rahib berkata: “Wahai anakku, engkau hari ini sudah lebih mulia dariku. Sungguh engkau telah sampai kepada perkaramu dari apa yang aku lihat ini.”
    Ini pelajaran yang sangat besar tentang masalah tawadhu’. Kami khususkan hal ini untuk ahlul ilmi, para Dai dan juga selain mereka.
    Dari sini kita tahu tentang tawadhu’nya Si Rahib. Hakikatnya Rahib itu lebih utama dari anak muda tadi. Karena dia yang mengajarkan anak muda itu tauhid. Seandainya tidak bertemu dengan Rahib dan tidak diajarkan tauhid, mungkin anak muda ini sudah menjadi tukang sihir besar.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
    “Rendahkanlah dirimu kepada orang-orang beriman yang mengikuti engkau.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 215)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
    “Dan sabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya dipagi hari dan disore hari yang hanya menginginkan wajah Allah semata. Jangan dua matamu berpaling dari mereka karena menginginkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah mengikuti orang yang kami telah lalaikan hatinya dari mengingat Kami, dan perkaranya dia melampaui batas.” (QS. Al-Kahfi[18]” 28)
    Ini adalah perintah dari Allah untuk sabar dan tawadhu’ bersama orang-orang yang tidak mampu, kekurangan, kesusahan, kemiskinan namun mereka dalam ketaatan.
    Manfaat tawadhu’
    Adapun hasil dari tawadhu’, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan dalam sabdanya:
    إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
    “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mewahyukan kepadaku, hendaknya kalian saling merendahkan hati sehingga tidak ada seseorang berbangga-bangga diatas yang lainnya, dan tidak ada seseorang menganiaya yang lainnya.” (HR. Muslim)
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:
    مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ للَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
    “Harta tidak akan mungkin berkurang karena sedekah, tidaklah seorang memberikan maaf kepada orang lain melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala malah menambahkan kemuliaan pada orang tersebut, dan tidaklah seseorang merendahkan hatinya karena Allah melainkan pasti diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)
    50 min
  • Ahli Fiqih Yang Menolak Kebenaran Karena Sombong
    Ahli Fiqih Yang Menolak Kebenaran Karena Sombong adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 18 Rabi’ul Awal 1443 H / 25 Oktober 2021 M.

    Kajian Islam Tentang Ahli Fiqih Yang Menolak Kebenaran
    Salah satu kebiasaan dan juga akhlak para Salaf adalah mereka tidak segan untuk berpindah dari satu pendapat kepada pendapat yang mereka nilai lebih mendekati kebenaran. Ia beralih dari satu dalil ke dalil lainnya yang mereka anggap lebih jelas. Ini merupakan bukti ketulusan niat di dalam mencari kebenaran.
    Salah satu talbis iblis terhadap orang-orang yang berbicara di dalam masalah fiqih adalah berusaha untuk mempertahankan pendapat gurunya atau pendapat yang mereka sudah kenal sebelumnya. Lalu mereka merasa berat untuk beralih kepada pendapat yang ternyata mungkin lebih kuat dari sisi dalil atau lebih jelas kebenarannya. Ini semua adalah demi mempertahankan ego, gengsi, atau mempertahankan pendapat mazhab, atau pendapat gurunya, atau pendapat sudah dia pegang lama.
    Pada saat salah seorang dari ahli fiqih mengetahui bahwa kebenaran ada di pihak lawan atau yang berseberangan dengannya, dia tetap tidak mau atau enggan meninggalkan kesalahannya. Dada terasa sesak saat mengetahui kenyataan bahwa kebenaran ada di pihak lawan. Ini adalah cobaan yang sulit ahli fiqih, dimana dia dikenal dengan kedalamannya di dalam membahas fiqih.
    Kalau dia tidak memiliki dada yang lapang, maka dia akan menolak pendapat itu. Kadang dia berusaha keras untuk membantahnya, padahal dia tahu betul bahwa apa yang ada di pihak lawan itu adalah yang benar.
    Di sini perlu kebersihan hati dan niat yang lurus untuk bisa sampai kepada kebenaran. Itu adalah bagian yang terberat ketika kita melihat bahwa kebenaran itu ternyata ada di pihak yang lain, bukan di pihak kita. Disitulah diuji bagaimana loyalitas kita kepada Al-Quran dan hadits. Kita tunduk kepada dalil atau kepada hawa nafsu?
    Imam Asy-Syafi’i pernah berkata: “Tidaklah aku berdebat dengan seseorang melainkan aku ingin agar kebenaran itu keluar dari lisannya.” Artinya beliau siap untuk menerima kebenaran itu dari lawan debatnya.
    Keburukan yang terburuk adalah kita menolak kebenaran karena kebenaran itu tidak datang dari kita. Padahal kita bukan acuan kebenaran dan kita tahu itu.
    Imam Asy-Syafi’i juga pernah berkata: “Tidaklah aku berdebat dengan seseorang yang dia itu mengingkari dalil melainkan wibawanya akan jatuh di mataku. Serta tidaklah dia menerima dalil melainkan aku akan menghormatinya. Dan tidaklah pula aku berdebat dengan seorang, kemudian aku mendapat musibah karena hujah ada padanya, kalau dia memang memilikinya, maka aku wajib mengikuti pendapatnya.”
    Di sini iblis memainkan perannya untuk memasukkan kedalam hati kita penyakit sombong. Walaupun kata-kata kita menunjukkan seolah-olah sebagai orang yang tawadhu’. Sebagian orang menutupi kesombongannya dengan kata-kata yang menunjukkan seolah-olah dia adalah orang yang tawadlu’. Padahal dia menolak kebenaran, dan itu cukup dikatakan sebagai sebuah kesombongan. Hal ini karena salah satu definisi sombong yang disebutkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah:
    الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
    “Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)
    Iblis memasukkan ini ke dalam hati mereka sehingga mereka menolak kebenaran itu. Sehingga perlu kejernihan hati dan kelapangan dada untuk bisa menerima kebenaran dari manapun itu datangnya.
    41 min
  • Bacaan Dzikir Pagi – Meminta Ilmu, Rezeki dan Amal
    Bacaan Dzikir Pagi – Meminta Ilmu, Rezeki dan Amal merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 18 Rabi’ul Awal 1443 H / 25 Oktober 2021 M.

    Kajian Tentang Bacaan Dzikir Pagi – Meminta Ilmu, Rezeki dan Amal
    Bacaan yang dianjurkan untuk kita baca di pagi hari antara lain adalah doa yang insyaAllah sudah tidak asing bagi kebanyakan kita, yaitu doa yang berbunyi:
    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
    “Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu; ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, amal yang diterima.”
    Landasan dari doa ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dinilai Hasan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahumullah, dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam rutin membaca doa di atas setiap selesai shalat subuh.
    Ini adalah sebuah doa yang luar biasa. Menjelaskan betapa Islam itu ingin agar setiap pagi umatnya mempunyai target yang jelas. Pada hari itu apa yang dicari. Hal ini sangat penting agar kita terarah dan terus berada di atas jalan yang benar, tidak terombang-ambing dengan keadaan, tidak gampang ikut-ikutan, tidak seperti air di atas daun talas (tidak punya prinsip).
    Ketika seseorang mempunyai target, waktu dalam sehari itu sudah jelas digunakan untuk apa. Biasanya orang-orang yang ngobrol sampai berjam-jam dan suka membuang-buang waktu, mereka adalah orang-orang yang tidak punya terget.
    Terget seorang muslim
    Inilah bagusnya Islam, target yang akan kita pelajari itu bukan hanya terkusus untuk para pegawai dan bisnisman, akan tetapi target ini berlaku bagi setiap muslim, apapun profesinya. Target itu ada tiga, yaitu:
    1. Ilmu yang bermanfaat
    Menit ke- Setiap pagi kita harus berupaya memiliki target “hari ini saya harus mendapatkan tambahan ilmu agama”. Makna ilmu yang bermanfaat adalah ilmunya benar dan diamalkan. Sehingga efeknya akan mendekatkan diri kita kepada Allah.
    Sebagian ulama ketika menerangkan “ilmu yang bermanfaat” adalah ilmu yang mendekatkanmu kepada Allah. Jadi semakin ngaji itu semakin dekat kepada Allah. Berarti kalau semakin ngaji semakin jauh dari Allah, itu berarti ilmunya tidak benar.
    Ada tiga jenis ilmu yang bermanfaat:

    * Ilmu tentang Allah, yaitu segala hal yang dengannya kita jadi kenal kepada Allah.
    * Ilmu tentang jalan yang mendekatkan kita kepada Allah, yaitu mempelajari ayat-ayat Allah, hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, belajar cara shalat, cara puasa, cara dzikir dan doa.
    * Ilmu tentang akhirat, yaitu nanti di akhirat kita akan bertemu apa saja, perjalanan kita bagaimana, ketika kita mati nanti di kuburan akan ditanyakan apa saja, apa yang nanti disediakan oleh Allah di surgaNya, bagaimana nanti orang-orang yang selamat melewati shirath, nanti di padang mahsyar siapa saja orang-orang yang akan dilindungi/dinaungi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa saja amalan-amalan yang bisa mengantarkan kita ke surga, apa balasan yang Allah sediakan di surga.

    2. Rezeki yang baik
    Menit ke- Sebagian ulama menjelaskan rezeki yang baik itu adalah rezeki yang halal. Dengan rezeki yang halal ini hati kita akan tenang, membuat kita kuat beribadah, menjadi sebab amalan kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menyebabkan keberkahan.
    Maka sudah saatnya kalau kita merasa rumah tangga kita tidak nyaman, anak-anak susah diatur, pasangan kita juga demikian,
    47 min
  • Bukti Kebenaran Adanya Hari Berbangkit
    Bukti Kebenaran Adanya Hari Berbangkit merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Al-Qiyamah Ash-Shughra yang disampaikan oleh Ustadz Ali Nur, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 18 Rabi’ul Awal 1443 H / 25 Oktober 2021 M.

    Orang yang Mengingkari Hari Berbangkit
    Orang-orang yang mengingkari hari berbangkit terbagi tiga, yaitu:
    Pertama, mereka yang sama sekali tidak mempercayai adanya hari berbangkit. Hal ini dikarenakan memang mereka tidak percaya adanya Allah. Ini seperti orang-orang komunis dan atheis.
    Kedua, mereka yang percaya adanya Allah, tetapi tentang hari berbangkit mereka tidak percaya. Ini seperti orang-orang kuffar Quraisy dan umat-umat Para Rasul terdahulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
    “Apabila kalian bertanya kepada mereka: ‘Siapa sebenarnya yang menciptakan langit dan bumi?’ Mereka menjawab: ‘Allah’…” (QS. Az-Zumar[39]: 38)
    Mereka percaya dengan adanya Allah sebagai Rabb yang disembah, tapi mereka tidak percaya dengan adanya hari berbangkit.
    Ketiga, mereka yang percaya adanya Allah dan percaya adanya hari berbangkit, tetapi dengan cara yang tidak disebutkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Sebagaimana yang sudah kita jelaskan bahwasanya masalah kubur, alam barzakh, dan kondisi detail tentang hari berbangkit, itu semua berita dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga ketika kita bicara detail tentang alam barzakh dan hari berbangkit maka kita hanya bisa menginformasikan apa yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Bukti Kebenaran Adanya Hari Berbangkit
    Bukti kebenaran adanya hari berbangkit dijelaskan dengan berbagai macam cara. Yaitu:
    1. Berita langsung dari Allah
    Manusia mengetahui informasi tentang suatu hal bisa melalui panca inderanya secara langsung. Dan bisa juga informasi yang tidak langsung, yaitu melalui  pemberitaan orang lain. Tentunya informasi ini harus melalui orang yang punya kapabilitas dan bisa dipercaya, tidak boleh sembarangan informasi. Karena kalau sembarangan, bisa saja informasi yang sampai kepada kita salah.
    Ketika kita bicara tentang hari berbangkit, tidak ada seorangpun yang melihat langsung bagaimana terjadinya hari berbangkit. Tetapi ada informasi yang bisa kita percaya bahkan wajib untuk kita yakini. Sebagai seorang muslim wajib untuk mengimani apa yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan apa yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki beberapa cara untuk meyakinkan hambaNya agar mereka yakin dengan adanya hari berbangkit. Yaitu dengan cara:

    * menggunakan kata-kata penegas,
    * Allah bersumpah,
    * Allah memerintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk bersumpah,
    * mencela para pendusta adanya hari kiamat,
    * memuji orang-orang yang beriman dengan adanya hari berbangkit,
    * janji Allah tentang hari kiamat itu pasti benar,
    * mengatakan hari kiamat sudah dekat (pasti terjadi),
    * Allah memuji diriNya bahwa Dia berkuasa untuk membangkitkan seluruh makhluk-makhlukNya, serta mencela berhala-berhala yang tidak mampu berbuat apapun,
    * Allah menyebutkan bahwa tidak ada selain Dia yang bisa membangkitkan yang sudah mati.

    Misalnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ…
    “Hari kiamat itu akan datang…” (QS. Thaha[20]: 15)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَاR...
    50 min
  • Mukaddimah Kajian Mukhtashar Shahih Muslim
    Mukaddimah Kajian Mukhtashar Shahih Muslim merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 17 Rabiul Awal 1443 H / 24 Oktober 2021 M.

    Mukaddimah Kajian Mukhtashar Shahih Muslim
    Kita memulai kajian Mukhtashar Shahih Muslim (مختصر صحيح مسلم) yang ditulis oleh Al-Imam Al-Hafidz Al-Mundziri Rahimahullah. Dimana ini adalah ringkasan dari Shahih Muslim, adapun yang meringkasnya yaitu Al-Imam Al-Hafidz Al-Mundziri.
    Biografi Singkat Al-Imam Al-Hafidz Al-Mundziri
    Beliau adalah ‘Abdul ‘Adzhim bin ‘Abdul Qawiy bin ‘Abdullah bin Salamah. Kunyah beliau adalah Abu Muhammad. Beliau dilahirkan dari Damaskus pada tahun 581 hijriyah dan wafat di Mesir tahun 656 hijriyah.
    Semenjak kecil beliau menghafal Al-Qur’anul Karim. Demikian sejarah para ulama, mereka diwaktu kecil disibukkan dulu dengan menghafal Al-Qur’an. Maka tidak aneh para ulama sudah hafal Al-Qur’an pada umur enam tahun, ada yang tujuh tahun, ada yang dua belas tahun. Hal ini karena memang Al-Qur’an sangat berkah. Orang yang menghafal Al-Qur’an, biasanya Allah berikan kepada dia kemudahan untuk menghafal pelajaran yang lainnya.
    Di antara tulisan beliau adalah Mukhtashar Shahih Muslim yang akan kita bahas. Ini adalah ringkasan dari Shahih Muslim. Beliau meringkas Shahih Muslim dengan cara dibuang sanadnya, kemudian dibuang juga hadits-hadits yang terulang.
    Mukaddiman Mukhtashar Shahih Muslim
    Menit ke- Beliau meringkas kitab shahih yang ditulis oleh Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi Radhiyallahu ‘Anhu dengan harapan bisa memudahkan bagi orang yang ingin menghafalnya. Hal ini karena memang di zaman dahulu menghafal ilmu adalah sebuah keharusan.
    Menghafal ilmu sangat dianjurkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan Nabi mendoakan dalam sabdanya:
    نَضَّرَ اللَّهُ امْرَءًا سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا فَأَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَا
    “Semoga Allah memberikan cahaya kepada orang yang mendengarkan sabdaku, lalu ia berusaha memahaminya, lalu ia menghafalkannya, lalu ia menyampaikan seperti yang ia dengar.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
    Maka dalam hal ini kita berlomba-lomba untuk bisa mempraktekkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan cara kita menghafal Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Lihat juga: Mendengarkan Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Beliau juga berharap ini bisa mendekatkan kepada orang yang ingin membacanya. Beliau menyusun dengan cara agar para penuntut ilmu mudah untuk menemukan hadits di tempatnya. Ringkasan ini walaupun kecil namun sudah mencakup semua yang ada dalam Shahih Muslim.
    Kitab Al-Iman
    Menit ke- Iman secara istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yaitu keyakinan dengan hati, ucapan dengan lisan, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan menaati Allah, dan berkurang dengan menaati setan. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah, siapa yang tidak punya keyakinan ini maka dia bukan Ahlus Sunnah.
    Contohnya Murji’ah mengatakan bahwa amal tidak mempengaruhi iman. Jadi kalau ada orang punya keyakinan dengan keyakinan yang kuat bahwasanya Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, Muhammad sebagai Rasulnya,
    43 min
  • Khutbah Jumat: Melewati Shirath
    Khutbah Jumat: Melewati Shirath ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 16 Rabiul awal 1443 H / 22 Oktober 2021 M.
    Khutbah Pertama Tentang Melewati Shirath
    Dalam surah Maryam ayat 71, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا
    “Dan tidaklah setiap orang dari kamu melainkan pasti memasukinya. Dan yang demikian itu adalah ketetapan yang pasti dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Maryam[19]: 71)
    Ayat ini menjelaskan bahwa ada satu proses yang akan kita lewati nanti di hari kiamat, yaitu melewati shirathh. Yang mana proses ini akan dilewati oleh siapapun. Para Nabi dan Rasul akan melewatinya, dan tidak ada yang diucapkan oleh mereka saat itu selain ucapan:
    اللهم سَلِّمْ سَلِّمْ
    “Ya Allah selamatkanlah, Ya Allah selamatkanlah.”
    Ini adalah satu proses yang akan kita lewati, yaitu jembatan yang terbentang diatas punggung neraka yang ujungnya adalah surga. Siapa saja yang berhasil melewatinya, maka ia akan masuk ke dalam surga, namun yang gagal akan jatuh ke dalam jurang neraka. Ini adalah satu hal yang sangat mengerikan dan tidak mudah.
    Oleh karena itu para Nabi dan Rasul mendampingi umat-umat mereka dan berdoa untuk umatnya, termasuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Dan menyeberangi shirath bukanlah perkara yang mudah. Disifati oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang shirathh itu, dia adalah jembatan yang menggelincirkan, tidak ada cahaya kecuali orang-orang yang membawa cahaya imannya, penuh dengan duri-duri seperti pohon sa’dan, dan juga banyak kait-kait yang menyambar-nyambar.
    Dia adalah jembatan yang terbentang panjang, lebih halus daripada rambut dan lebih tajam daripada pedang. Ada yang melewatinya secepat pandangan mata, ada yang secepat tiupan angin, ada yang seperti kuda berlari, ada yang berjalan, merangkak, ada yang mengesot, ada yang tidak mampu meletakkan kakinya di atas shirath, karena dia tidak punya cahaya dan tidak dapat melihat shirath yang sangat halus itu. Demikianlah manusia menyeberangi shirath ini menurut amal perbuatan mereka selama di dunia.
    Amanah dan Silaturahim
    Dan ada dua perkara yang mengintai manusia di shirath, yaitu amanah dan silaturahim. Ini dua perkara yang selalu dan senantiasa mengintai manusia yang melewati shirath itu. Apabila hamba itu adalah hamba yang menyia-nyiakan amanah dan suka memutus tali silaturahim, maka dia akan ditarik oleh amanah dan silaturahim itu ke dalam jurang neraka.
    Menunaikan amanah
    Oleh karena itu selama kita hidup di dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengembankan kepada kita amanah-amanah, maka tunaikanlah amanah itu. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ
    “Tidak ada iman bagi orang yang tidak menunaikan amanah.” (HR. Ahmad)
    Banyak sekali amanah-amanah yang Allah bebankan diatas pundak kita; hidup ini adalah amanah, harta yang Allah berikan adalah amanah, jabatan/kekuasaan/kekayaan yang Allah berikan adalah amanah, keluarga yang Allah berikan kepada kita (anak istri) itu adalah amanah. Secara umum Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
    “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.”
    Yaitu amanah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala letakkan di pundaknya. Maka jadilah seorang yang amanah, baik kepada diri, harta, maupun amanah-amanah yang dipercayakan oleh manusia kepada kita. Apabila kita diserahi jabatan,
    16 min
  • Harta Menjadikan Hamba Membenci Perjumpaan dengan Allah
    Harta Menjadikan Hamba Membenci Perjumpaan dengan Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 15 Rabi’ul Awal 1443 H / 21 Oktober 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Perbandingan Kelezatan Harta dan Ilmu

    Ceramah Agama Islam Tentang Harta Menjadikan Hamba Membenci Perjumpaan dengan Allah
    Segi-segi kemuliaan ilmu dibandingkan harta:
    Tiga puluh empat, kelezatan yang dirasakan oleh orang yang kaya dengan harta selalu berkaitan dengan kehadiran orang-orang di sekitarnya. Meskipun misalnya tidak ada orang lain kecuali yang paling dekat saja, para pembantunya, pelayannya, istri-istrinya, tawanan budak-budaknya ataupun pengikut-pengikutnya. Karena meskipun dia memiliki harta sebanyak apapun kalau tidak ada yang melayani dia hampir tidak ada artinya harta tersebut. Meskipun dia kaya tetap dia butuh orang yang melayaninya.
    Orang yang kaya dengan harta, seandainya dia sendirian menikmati hartanya tanpa ada pelayan, atau istri atau tanpa ada seorang pun dari kalangan manusia, maka dia tidak akan sempurna mengambil manfaat dan menikmati hartanya.
    Dan dikarenakan sempurnanya kelezatan dengan kekayaan harta ini tergantung dari bagaimana dia membutuhkan yang lainnya, maka hubungan dengan orang lain ini menjadi sebab timbulnya berbagai macam gangguan dan kesusahan pada dirinya. Karena ketika sudah berhubungan dengan orang pasti dia akan berusaha mencari sebab untuk membuat orang suka kepadanya padahal tidak mungkin akan dicapai hal tersebut.
    Di sini Ibnul Qayyim ingin menegaskan bahwasanya kekayaan dengan harta itu tidak akan bisa kita rasakan dengan sempurna. Tetap kita harus membutuhkan yang lain, tidak bisa dia berdiri sendiri. Maka orang ini akan mendapatkan cobaan dengan keberadaan orang-orang yang mau tidak mau dia butuh. Akan terjadi yang namanya kebencian atau permusuhan antara dia dengan mereka. Karena menjadikan semua manusia ridha kepadanya adalah perkara yang mustahil untuk dicapai.
    Dengan dia mencari keridhaan sebagian dan membuat marah yang lainnya, ini adalah sebab keburukan dan permusuhan. Yang mana semakin lama kita bergaul dengan manusia, maka akan semakin menambah sebab-sebab keburukan dan permusuhan, bahkan menguatkannya.
    Pergaulan yang lama-kelamaan justru banyak keburukan ini hanyalah terjadi dari sisi kekayaan dengan harta. Karena kalau  seandainya orang yang punya harta ini tidak punya jasa atau kebaikan kepada mereka, justru mereka akan menjauhi, tidak mau bergaul dan tidak mau dekat dengannya.
    Sementara keburukan ini tidak terdapat pada kekayaan dengan ilmu. Karena orang yang kaya dengan ilmu dan mengajarkan ilmunya kepada manusia, maka manusia akan menghormatinya, menghargai dia dengan dengan ilmunya, akan berusaha untuk menunaikan dan menjaga hak-haknya.
    Tiga puluh lima, orang tidak menunju kepada harta untuk langsung dinikmati pada dzatnya. Karena dzat harta itu sendiri tidak bisa mendatangkan manfaat sama sekali. Akan tetapi harta itu ditujukan untuk bisa membeli fasilitas-fasilitas atau makanan-makanan yang kita butuhkan. Karena harta itu sendiri merupakan sarana atau jalan untuk meraih tujuan-tujuan kita. Dan sudah diketahui bahwasanya tujuan-tujuan itu lebih mulia dibandingkan sarana. Padahal tujuan itu -meskipun lebih mulia dibandingkan harta- adalah kurang dan rendah karena masih berhubungan dengan urusan-urusan dunia.
    56 min
  • Surah Ali Imran Ayat 31 – Ayat Ujian
    Surah Ali Imran Ayat 31 – Ayat Ujian adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 15 Rabi’ul Awal 1443 H / 21 Oktober 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Surah Ali Imran Ayat 31 – Ayat Ujian
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
    “Katakanlah: ‘Apabila kalian mencintai Allah,  maka ikutilah aku. Niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai kalian dan Allah mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-Imran[3]: 31)
    Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa ayat ini dinamakan oleh sebagian ulama salaf dengan آية المحنه, yakni ayat ujian. Hal ini karena ada satu kaum yang mengklaim bahwa mereka mencintai Allah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan NabiNya untuk menentang mereka dengan timbangan ini.
    Kalau dakwaan mereka itu benar maka hendaknya mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sama saja apakah dari kalangan orang-orang Yahudi, atau Nasrani, atau dari orang-orang munafik. Siapapun yang mengklaim mencintai Allah, maka dengan timbangan ini orang tersebut ditantang.
    Adapun sekedar klaim, maka semuanya bisa mengklaim ada hubungan dengan Laila, sedangkan Laila tidak mengakuinya. Semua mengklaim cinta kepada Allah, karena klaim itu mudah. Akan tetapi pembahasannya adalah harus adanya bukti. Dan bukti itu harus ditunjukkan oleh orang yang mengklaim. Jika mereka betul-betul mencintai Allah, maka hendaknya mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar mereka mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari hanya sekedar klaim belaka. Yakni mendapatkan anugerah yang besar berupa cinta Allah kepada mereka.
    Inti permasalahannya adalah bukan engkau mencintai, tetapi bagaimana engkau dicintai. Adapun jika engkau mencintai kemudian engkau tidak dicintai, maka ini merupakan adzab.
    Kisah Barirah dan Mughits
    Perhatikan kepada peristiwa yang terjadi di zaman Rasul tentang Barirah dan Mughits yang mereka berdua adalah budak. Kemudian Barirah dimerdekakan. Barirah membenci suaminya sedangkan Mughits betul-betul sangat mencintai istrinya. Maka Mughits merasa tersiksa dengan kecintaannya kepada Barirah.
    Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan pilihan: “Pilihlah olehmu untuk dirimu.” Artinya boleh tetap bersama dengan suaminya atau berpisah.
    Maka Mughits menangis di jalan-jalan kota Madinah. Suaminya meminta agar Barirah tidak meninggalkannya. Maka Mughits mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, berilah syafaat untukku di sisinya.” Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbicara kepada Barirah: “Kembalilah kamu ke suamimu.”
    Barirah menjawab: “Wahai Rasulallah, seandainya engkau memerintahkanku untuk kembali, maka aku akan mentaatimu. Tetapi kalau engkau hanya memberikan isyarat saja, maka aku tidak membutuhkan dia lagi.”
    Kita lihat bagaimana taatnya para sahabat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Walaupun berat di hati tapi ketika ini adalah perintah Rasul, maka tetap dilaksanakan.
    Kemudian ketika ditanya demikian, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Aku mengisyaratkan saja.” Kemudian Barirah berkata: “Tidak ada hajat aku terhadapnya.” (HR. Bukhari)
    57 min
  • Asal-Asal Masalah
    Asal-Asal Masalah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. dalam pembahasan Kitab Zadul Mustaqni. Kajian ini disampaikan pada Kamis, 14 Rabi’ul Awal 1443 H / 21 Oktober 2021 M.
    Download kajian sebelumnya: Ashabah Bil Ghair

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Asal-Asal Masalah
    Bab asal-asal masalah ini maksudnya adalah bagaimana Anda menemukan masalah jami’ah atau pembagian yang bisa dibagi kepada seluruh bagian. Misalnya jika ada yang mendapatkan seperempat, seperdua, sepertiga, ini bagaimana caranya agar bisa dibagi kepada semuanya. Tentu caranya disamakan penyebutnya dengan cara KPK, kemudian masing-masing disamakan.
    Pembagian yang ditentukan oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk para ahli waris itu ada 6 pembagian. Yaitu pembagian dengan penyebut 2, penyebut 3 dan turunannya.
    Penyebut 2
    Bagian seperdua
    Yang mendapatkan bagian seperdua adalah:

    * untuk suami bila istri yang wafat tidak meninggalkan anak,
    * jika anak perempuan satu orang dan tidak ada anak laki-laki, maka untuk anak perempuan tadi adalah setengah.

    Bagian seperempat
    Yang mendapatkan bagian seperempat adalah:

    * untuk suami yang istrinya wafat meninggalkan anak,
    * untuk istri yang suaminya wafat dan meninggalkan anak,

    Bagian seperdelapan
    Yang mendapatkan bagian seperdelapan adalah jika para suami wafat dan ada anak, maka untuk istri-istri adalah seperdelapan dari harta yang ditinggalkan.
    Lalu siapa yang mendapatkan warisan dengan penyebut 3 dan seterusnya? Mari Download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Asal-Asal Masalah
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Asal-Asal Masalah” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    1 hr 43 min
  • Wudhu Menggugurkan Dosa
    Wudhu Menggugurkan Dosa merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah كتاب صحيح الترغيب والترهيب (kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Rabu, 13 Rabiul Awal 1443 H / 20 Oktober 2021 M.

    Download kajian sebelumnya: Agungnya Wudhu
    Hadits ke-184
    Dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, bahwasanya beliau meminta air untuk berwudhu, lalu beliau berwudhu. Kemudian setelah selesai berwudhu beliau pun tertawa, lalu beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya:
    ألا تسألوني ما أضحكني
    “Tidakkah kalian bertanya kepadaku apa yang membuat aku tertawa?”
    Mereka berkata: “Apa yang membuat kau tertawa wahai Amirul Mukminin?”
    Utsman berkata:
    رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم توضأ كما توضأت ثم ضحك فقال ألا تسألوني ما أضحكك فقالوا ما أضحكك يا رسول الله فقال إن العبد إذا دعا بوضوء فغسل وجهه حط الله عنه كل خطيئة أصابها بوجهه فإذا غسل ذراعيه كان كذلك وإذا طهر قدميه كان كذلك
    “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berwudhu seperti wudhuku tadi, kemudian beliau tertawa. Lalu beliau bersabda: ‘Tidakkah kalian bertanya kepadaku apa yang membuat aku tertawa?’ Maka para sahabat berkata: ‘Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah?’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Sesungguhnya seorang hamba apabila dia meminta air wudhu lalu ia mencuci wajahnya, maka Allah akan gugurkan semua kesalahan yang dilakukan oleh wajahnya. Apabila ia mencuci dua tangannya sampai siku-siku, maka demikian pula. Apabila ia mencuci dua kakinya, maka demikian pula.'” (HR. Ahmad dengan sanad yang jayyid, demikian pula Abu Ya’la, Al-Bazzar dengan sanad yang shahih)
    Al-Bazzar memberikan tambahan:
    فإذا مسح رأسه كان كذلك
    “Apabila ia mengusap kepalanya, maka demikian pula.”
    Hadits ke-185
    Menit ke- Dari ‘Abdullah Ash-Shanabihi Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إذا توضأ العبد فمضمض خرجت الخطايا من فيه فإذا استنثر خرجت الخطايا من أنفه فإذا غسل وجهه خرجت الخطايا من وجهه حتى تخرج من تحت أشفار عينيه فإذا غسل يديه خرجت الخطايا من يديه حتى تخرج من تحت أظفار يديه فإذا مسح برأسه خرجت الخطايا من رأسه حتى تخرج من أذنيه فإذا غسل رجليه خرجت الخطايا من رجليه حتى تخرج من تحت أظفار رجليه ثم كان مشيه إلى المسجد وصلاته نافلة
    “Apabila seorang hamba berwudhu lalu ia berkumur-kumur, maka keluarlah dosa-dosa dari mulutnya. Apabila ia menghirup air ke hidung dan mengeluarkannya, akan keluarlah dosa-dosanya dari hidungnya. Apabila ia mencuci wajahnya, akan keluarlah dosa-dosa dari wajahnya. Hingga dasa-dosa itu keluar dari kelopak matanya. Apabila dia mencuci dua tangannya, keluarlah dosa-dosa dari dua tangannya tersebut, hingga dosa-dosa itu keluar dari bawah kuku-kuku tangannya tersebut. Apabila ia mengusap kepala, maka keluarlah dari kepala itu dosa-dosanya, hingga ia keluar dari dua telinganya. Apabila ia mencuci dua kakinya, keluarlah dosa-dosa dari dua kakinya, sehingga dosa-dosa itu keluar dari bawah kuku-kuku kakinya. Kemudian perjalanannya dia ke masjid dan shalatnya juga menjadi tambahan untuk dia.” (HR. Imam malik, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Al-Hakim berkata shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim dan tidak ada illat padanya)
    Dua hadits ini menunjukkan bahwasanya wudhu itu masyaAllah bisa menggugurkan dosa. Kalau kita berkumur-kumur saja, maka dosa-dosa kecil yang dilakukan oleh lisan akan keluar. Setiap kali kita berwudhu bayangkan berapa banyak dosa-d...
    1 hr 7 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah