Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Bacaan Dzikir Sore – Mensyukuri Nikmat Ukhrawi
    Bacaan Dzikir Sore – Mensyukuri Nikmat Ukhrawi merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 30 Jumadil Awal 1443 H / 3 Januari 2022 M.

    Kajian Tentang Bacaan Dzikir Sore – Mensyukuri Nikmat Ukhrawi
    Di antara bacaan yang dianjurkan untuk rutin kita baca di sore hari, yaitu bacaan:
    أَمْسَيْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
    “Sore ini kami berpegang dengan fitrah Islam, dan berpegang dengan kalimat tauhid, dan berpegang dengan agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berpegang dengan agama ayah kita Ibrahim yang tegak di atas jalan yang lurus dan tunduk, dan beliau tidak termasuk golongan kaum musyrikin.” (HR. Ahmad)
    Dalil landasan dibacanya dzikir ini setiap sore adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan sanadnya dinilai Shahih oleh Imam Al-Iraqi dan Syaikh Al-Albani, dari seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang bernama Abdurrahman bin Abza Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu. Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila masuk waktu sore maka beliau membaca dzikir tadi.
    Inti dari dzikir ini adalah kita diajak oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk merenungi nikmat yang Allah berikan kepada kita, terutama nikmat-nikmat yang bersifat ukhrawi. Dimana nikmat ukhrawi ini lebih mahal dari nikmat duniawi. Hal ini karena nikmat ukhrawi diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang dicintai olehNya.
    Nikmat duniawi ketika diberikan kepada seseorang, itu tidak serta-merta menjadi bukti bahwa orang itu dicintai sama Allah. Tapi kalau kita ingin tahu seseorang dicintai oleh Allah atau tidak, maka lihat orang itu diberi nikmat ukhrawi sama Allah atau tidak.
    Setiap sore dan pagi kita diajak untuk merenungi nikmat-nikmat yang bersifat ukhrawi. Hal ini supaya kita tergerak untuk bersyukur. Karena seringkali hidup seseorang tidak nyaman karena kurang syukur. Kalau hidup kita terasa sempit, tidak tenang, gelisah, itu biasanya karena kurang syukur.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajiannya. Download juga mp3 bacaan dzikir pagi dan petang.
    Download mp3 Kajian Bacaan Dzikir Sore – Mensyukuri Nikmat Ukhrawi

    Radio Rodja 756AM · Fikih Doa dan Dzikir – Mensyukuri Nikmat Ukhrawi
    Mari turut membagikan link download kajian “Bacaan Dzikir Sore – Mensyukuri Nikmat Ukhrawi” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    53 min
  • Shalat Yang Diperbolehkan Pada Waktu Terlarang
    Shalat Yang Diperbolehkan Pada Waktu Terlarang ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 9 Jumadil Awal 1443 H / 13 Desember 2021 M.

    Download kajian sebelumnya: Cara Meng-qadha’ Shalat
    Kajian Fiqih Shalat Yang Diperbolehkan Pada Waktu Terlarang
    Pada kesempatan yang telah lalu kita sudah membahas tentang waktu-waktu yang kita dilarang shalat di dalamnya. Yaitu:

    * ba’da subuh sampai terbit matahari,
    * dari terbitnya matahari sampai matahari meninggi,
    * pertengahan hari ketika matahari benar-benar ditengah-tengah langit,
    * ba’da ashar sampai matahari hampir terbenam,
    * dari matahari hampir terbenam sampai matahari terbenam.

    Ada lima waktu yang kita dilarang shalat di dalamnya. Namun disana ada shalat-shalat yang dikecualikan dari larangan ini. Sehingga kita boleh melakukan shalat-shalat ini walaupun di waktu-waktu yang terlarang tersebut.
    Shalat sunnah di pertengahan hari jum’at sebelum khatib datang
    Ini bukan shalat sunnah qabliyah jum’at, tapi shalat sunnah mutlak. Bilangan rakaatnya tidak ditentukan, bisa dua, bisa empat, bisa enam, bisa delapan dan seterusnya. Intinya sebelum khatib datang seseorang yang berada di masjid dianjurkan untuk shalat sunnah dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, tidak ada penentuan berapa rakaatnya.
    Hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Shahih beliau, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لَا يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلَا يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الْإِمَامُ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى
    “Tidaklah seseorang mandi di hari jum’at, kemudian orang tersebut bersuci sesuai kemampuannya, dan dia menggunakan minyak untuk rambutnya, atau dia menggunakan parfum yang dimilikinya di rumahnya, kemudian orang ini keluar berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, kemudian orang ini shalat sesuai dengan apa yang dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuknya, kemudian orang ini diam apabila khatib berkhutbah, kecuali dia mendapatkan ampunan antara hari itu sampai jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari)
    Ketika dikatakan dia shalat sampai imam datang, berarti dia shalatnya sebelum waktu dzuhur masuk kemudian sampai waktu dzuhur masuk, bahkan sampai khatib datang. Konsekuensi adalah orang ini akan melakukan shalat sunnah ketika matahari benar-benar berada di pertengahan langit. Maka hadits ini menunjukkan bolehnya melakukan shalat sunnah di hari jum’at disaat matahari benar-benar berada di pertengahan.
    Shalat dua rakaat setelah thawaf
    Shalat sunnah ini boleh dilakukan kapanpun. Hal ini karena hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau pernah bersabda:
    يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لاَ تَمْنَعُنَّ أَحَدًا طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ وَصَلَّى أَىَّ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ
    “Wahai anak keturunan Abdul Manaf, jangan sampai kalian melarang siapapun yang thawaf mengelilingi Ka’bah dan shalat kapanpun waktunya baik dimalam hari maupun disiang hari.” (HR. An-Nasa’i)
    Ini menunjukkan bahwa shalat sunnah dua rakaat setelah thawaf boleh dilakukan kapanpun waktunya.
    1 hr 8 min
  • Bahaya Teman Yang Buruk
    Bahaya Teman Yang Buruk merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 8 Jumadil Awal 1443 H / 12 Desember 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Awal Iman Adalah Ucapan Laa Ilaaha Illallah

    Kajian Hadits Bahaya Teman Yang Buruk
    Dari Sa’id bin Al-Musayyab, dari ayahnya, ketika Abu Thalib telah hadir kematiannya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang. Dan ternyata beliau mendapati di sisi Abu Thalib ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughirah, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
    “Hai Paman, ucapkan Laa Ilaaha Illallah yang dengan kalimat itu aku akan bersaksi untukmu nanti di sisi Allah.”
    Maka berkata Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah: “Hai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terus mengatakan “Ucapkan Laa Ilaaha Illallah” dan mengulang-ulanginya. Dan ternyata Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah pun juga sama mengatakan demikian terus. Sehingga akhirnya ternyata diakhir hayatnya Abu Thalib menyatakan bahwa dirinya diatas agama ayahnya dan tidak mau mengucapkan Laa Ilaaha Illallah.
    Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أَمَا وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ
    “Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang oleh Allah.” Maka Allah pun menurunkan firmanNya:
    مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
    “Tidaklah Nabi dan orang-orang yang beriman layak untuk memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrikin walaupun mereka karib-kerabat, setelah jelas kepada mereka bahwa mereka penduduk neraka jahanam.” (QS. At-Taubah[9]: 113)
    Dan Allah pun turunkan tentang Abu Thalib, Allah berfirman kepada RasulNya:
    إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
    “Sesungguhnya engkau tidak bisa memberi hidayah kepada siapa yang kamu suka, akan tetapi Allah-lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Allah kehendaki, dan Allah lebih tahu siapa yang berhak mendapatkan hidayah.” (QS. Al-Qashash[28]: 56)
    Hadits ini kita ambil faidah:
    Mendatangi orang kafir
    Bolehnya mendatangi orang kafir yang sedang sakaratul maut untuk mentalqin Laa Ilaaha Illallah. Kalau antum punya saudara yang kafir kemudian dia menuju kematiannya, maka gunakan kesempatan itu suruh dia mengucapkan Laa Ilaaha Illallah.
    Mentalqin mayat
    Disyariatkan mentalqin mayat dengan mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Sebagaimana dalam hadits:
    لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ
    “Talqinkan mayat kalian dengan ucapan Laa Ilaaha Illallah.” (HR. Muslim)
    Adapun ditalqin dengan “Allah” karena beranggapan Laa Ilaaha Illallah terlalu panjang dan dikhawatirkan hanya mengucapkan Laa Ilaaha, maka kita katakan bahwa jangan menolak dalil dengan akal. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memerintahkan “Talqinkan mayatmu dengan ucapan Laa Ilaaha Illallah,” lalu kamu tolak dengan mengatakan kasihan mayatnya kepanjangan. Siapa yang lebih tahu tentang kebaikan, kamu atau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?
    49 min
  • Awal Iman Adalah Ucapan Laa Ilaaha Illallah
    Awal Iman Adalah Ucapan Laa Ilaaha Illallah merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 23 Rabbi’ul Tsani 1443 H / 28 November 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Mukaddimah Kajian Mukhtashar Shahih Muslim

    Kajian Hadits Awal Iman Adalah Ucapan Laa Ilaaha Illallah
    Menit ke- Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka dengan empat dan melarang mereka dari empat. Yaitu Rasulullah menyuruh mereka beriman kepada Allah saja, lalu Rasulullah bersabda:
    هَلْ تَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وحده؟
    “Tahukah kalian apa itu iman kepada Allah saja?”
    Mereka berkata: “Allah dan RasulNya lebih tahu.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ, وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ, وَصَوْمُ رَمَضَانَ, وَأَنْ تُؤَدُّوا خُمُسًا مِنْ الْمَغْنَمِ
    “Yaitu syahadat Laa Ilaaha Illallah dan Muhammad Rasulullah, ia mendirikan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan, dan kalian memberikan seperlima dari ghanimah.”
    Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang mereka dari empat bejana. Yaitu: Dubba’, Hantam, Muzaffat, dan an-Naqir. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    احْفَظُوهُ وَأَخْبِرُوا بِهِ مَنْ وَرَائِكُمْ
    “Hafalkan ini dan kabarkan kepada orang-orang yang ada di belakang kalian sana.”
    Ibnu Mu’adz menambahkan dalam haditsnya dari ayahnya, ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Al-Asyaj ‘Abdul Qais:
    إِنَّ فِيكَ لخَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ: الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ
    “Sesungguhnya engkau memiliki dua perangai yang dicintai oleh Allah; al-hilm (bisa menahan emosi ketika kemarahan menggelora) dan al-anah (tidak tergesa-gesa).” (HR. Muslim)
    Dari hadits ini kita ambil faidah:
    Rihlah untuk menuntut ilmu
    Dianjurkannya mengadakan rihlah dalam rangka menuntut ilmu. Sebagaimana dahulu para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari tempat-tempat yang jauh datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menuntut ilmu. Ini dia mereka datang dari utusan Abdul Qais yang sangat jauh sekali.
    Menyambut tetamu
    Disyariatkan menyambut tetamu dengan mengatakan “Marhaban (selamat datang)” sebagaimana halnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyambut mereka dengan mengatakan hal itu. Kalau orang sunda mengucapkan “Wilujeng Sumping”, dan masing-masing daerah punya ucapan berbeda-beda, itu ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Menghormati bulan-bulan haram
    Orang-orang musyrikin di zaman Rasulullah dahulu menghormati bulan-bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Jika orang-orang kafir yang tidak beriman dan mereka musyrik sangat menghormati bulan-bulan haram, maka kita kaum muslimin harus lebih menghormati lagi.
    Cara menghormati bulan-bulan haram adalah dengan menjauhi perbuatan dzalim. Karena perbuatan dzalim di bulan haram dilipatgandakan dosanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Lihat juga: Khutbah Jumat 4 Bulan Haram
    Pengertian Iman dan Islam
    Iman dan Islam dua nama yang apabila bertemu maka berpisah maknanya, dan apabila berpisah maka bertemu maknanya. Maksudnya adalah jika Islam dan Iman disebut dalam satu kalim...
    51 min
  • Sifat Wajah Allah
    Sifat Wajah Allah ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Tentang Nama-Nama Allah dan Sifat-SifatNya. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 6 Jumadil Awal 1443 H / 10 Desember 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Sifat Tangan Allah

    Kajian Hadits Tentang Sifat Wajah Allah
    Menit ke- Kita wajib mengimani sifat yang yang ditetapkan oleh Allah. Di antara sifat yang ditetapkan oleh Allah bagi diriNya dan juga yang ditetapkan oleh Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi Allah adalah sifat wajah (al–wajhu). Ini merupakan sifat Dzatiyah Al-Khabariyah, maksudnya adalah sifat yang ada pada dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sifat tersebut tiada dalil atau sumber penetapannya kecuali hanya wahyu (khabar dari Allah dan RasulNya) dan tidak bisa direkayasa, tidak bisa dilogikakan. Maka wajib bagi kita untuk mengimani bahwa Allah memiliki wajah.
    Di antara dalil yang menjelaskan hal itu, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ‎﴿٢٦﴾‏ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ‎﴿٢٧﴾
    “Apa yang ada di permukaan bumi akan binasa. Dan kekal wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman[55]: 27)
    Sungguh sangat jelas dan nyata bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki wajah. Ini adalah firman Allah, Allah yang mengabarkan. Apakah kalian yang lebih mengetahui ataukah Allah Subhanahu wa Ta’ala?
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
    “Segala sesuatu yang ada di permukaan bumi ini akan binasa kecuali wajahNya.” (QS. Al-Qashash[28]: 88)
    Berarti Allah memiliki wajah. Dan tentunya wajah tersebut ada pada dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga secara makna dan konsekuensinya jika wajah Allah kekal abadi maka tentunya diri dan dzat Allah adalah kekal. “Wajah” di sini bukan berarti maknanya dzat atau diri Allah sebagaimana yang ditakwilkan oleh ahlul kalam.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ
    “Kemana saja kalian menghadap maka di sana ada wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah[2]: 115)
    Begitu juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ
    “Mencari wajah Rabbmu Yang Maha Tinggi.” (QS. Al-Lail[92]: 20)
    Di sini ditetapkan sifat wajah bagi Allah. Bila kita ditanya apa maksud “mencari wajah Rabbmu yang Maha Tinggi” maka berbeda lagi pembahasannya. Tapi ayat ini menetapkan sifat wajah. Dan tidak diragukan bahwa semua kita yang beramal mengharapkan wajah Allah, kemuliaan Allah, keagungan Allah. Ini adalah penjelasan makna, bukan pentakwilan sifat. Karena kita menetapkan “wajah” di sini adalah wajah Allah.
    Hadits Tentang Sifat Wajah Allah
    Menit ke- Di antara hadits yang menjelaskan tentang sifat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam Shahih Muslim:
    إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّورُ لَوْ كَشَفَهُ لأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ
    “Allah tidak pernah tidur dan tidak pantas bagiNya tidur. Allah merendahkan timbangan dan mengangkatnya.
    1 hr 20 min
  • Mendakwahkan Syahadat Laa Ilaaha Illallah
    Mendakwahkan Syahadat Laa Ilaaha Illallah adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Selasa, 04 Jumadal Awwal 1443 H / 8 Desember 2021 M.

    Kajian Tentang Mendakwahkan Syahadat Laa Ilaaha Illallah
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutus Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu kepada penduduk Yaman. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ». وَفِي رِوَايَةٍ: «إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ، فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ،
    “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab, maka jadilah yang pertama kali kamu dakwahkan kepada mereka adalah syahadat Laa Ilaaha Illallah.”
    Di dalam riwayat yang lain yaitu: “Agar mereka mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika mereka mentaatimu akan hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu di setiap hari dan malam…”
    Kita melanjutkan pembahasan hadits ini. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتَرُدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ،
    “Jika mereka mentaatimu akan hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sedekah yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir mereka.”
    Di dalam hal ini terdapat dalil bahwa zakat adalah rukun yang paling wajib setelah mendirikan shalat lima waktu. Dan bahwa zakat diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang fakir. Karena hak orang-orang fakir di dalam harta zakat lebih ditekankan dari hak yang tersisa dari delapan orang yang berhak mendapatkan harta zakat.
    Di dalam hadits tadi juga terdapat pelajaran bahwa pemimpin yang berhak untuk mengambil harta zakat dan membagikannya, baik dia sendiri yang membagikannya ataupun petugasnya. Maka siapa yang menahan dari menunaikan zakat, maka diambil darinya harta zakat dengan paksa.
    Di dalam hadits ini juga terdapat dalil bahwa cukup mengeluarkan zakat kepada satu bagian dari delapan bagian orang yang berhak mendapatkan harta zakat. Ini adalah pendapatnya Imam Malik dan Imam Ahmad.
    Di dalam hadits ini juga terdapat pelajaran bahwa tidak diperbolehkan memberikan harta zakat kepada orang kaya, tidak pula kepada orang kafir yang tidak mu’allaf. Dan bahwa zakat tetap wajib pada harta anak kecil dan orang gila, sebagaimana ini adalah pendapat mayoritas para ulama berdasarkan keumuman hadits.
    Lalu kenapa di dalam hadits ini hanya disebutkan perintah shalat dan zakat saja? Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.
    Lihat juga: Syarat-Syarat Laa Ilaaha Illallah
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Mendakwahkan Syahadat Laa Ilaaha Illallah
    1 hr 19 min
  • Keutamaan Seorang Menunggu Datangnya Waktu Shalat
    Keutamaan Seorang Menunggu Datangnya Waktu Shalat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 03 Jumadal Awwal 1443 H / 7 Desember 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Shalat Menghapuskan Dosa
    Keutamaan Seorang Menunggu Datangnya Waktu Shalat
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, beliau berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لا يَزَالُ أَحَدُكُمْ في صَلاةٍ مَا دَامتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ، لا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلى أَهْلِهِ إِلاَّ الصَّلاةُ
    “Seseorang di antara kamu tetap berada dalam keadaan shalat selama dia ditahan oleh shalat. Tidaklah ada yang mencegahnya untuk kembali kepada keluarganya kecuali shalat.” (Muttafaqun ‘alaih)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang keutamaan orang yang shalat kemudian duduk di masjid menunggu datangnya waktu shalat. Dia tidak kembali kepada keluarganya sampai menyelesaikan shalat yang berikutnya. Ini dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa dirinya seakan-akan berada dalam shalatnya.
    Jadi kalau seorang misalnya datang diwaktu magrib dan shalat berjamaah di Masjid bersama kaum muslimin. Kemudian dia menunggu sampai datangnya waktu isya’. Yang mendorong dia untuk menunggu di Masjid adalah ingin shalat isya’ secara berjamaah di Masjid itu juga, maka selama dia menunggu sejak dia duduk setelah maghrib sampai datang waktu isya’ dicatat dalam keadaan shalat.
    Ini suatu hal yang menunjukkan besarnya fadhilah dan keutamaan orang yang menunggu shalat setelah mengerjakan shalat yang sebelumnya.
    Hadits ini juga menjelaskan kepada kita tentang anjuran untuk seorang selalu menjaga dan memelihara shalatnya. Dan ketika dia menunggu di masjid hendaknya dia berniat di hatinya bahwa menunggu di Masjid untuk shalat yang berikutnya. Sehingga dia mendapatkan ganjaran/pahala seperti orang yang sedang mengerjakan shalat.
    Mendapatkan Doa Malaikat
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    المَلائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلاَّهُ الَّذي صَلَّى فِيهِ مَا لمْ يُحْدِثْ، تَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ
    “Para malaikat terus mendoakan salah seorang di antara kalian selama dia berada di tempat shalatnya yang dia shalat di tempat itu, selama dia tidak berhadats. Para Malaikat berdoa dengan mengucapkan: ‘Ya Allah ampunilah orang ini, Ya Allah rahmatilah dia.'” (HR. Bukhari)
    Ini adalah doa yang dimohonkan oleh para malaikat bagi seorang yang duduk di tempat shalatnya setelah selesai shalat.
    Hadits ini menunjukkan tentang keutamaan orang-orang yang menunggu datangnya shalat atau orang yang tetap duduk di tempat shalatnya setelah dia mengerjakan shalat dan dia tidak bangun dari tempat itu, maka selama itu dia didoakan oleh para malaikat.
    Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa para malaikat memohon ampun kepada Allah Ta’ala untuk orang-orang beriman. Oleh karena itu jika seseorang ingin didoakan oleh para malaikat, maka datanglah ke masjid, shalatlah berjamaah, lalu duduklah di tempat shalatmu itu dengan berdzikir, berdoa, atau membaca Al-Qur’an.
    Hadits ini juga menjelaskan kepada kita bahwa malaikat mengetahui perbuatan seorang hamba; dosa-dosanya, amal kebajikannya. Mereka menyaksikan seorang hamba ketika melakukan kebaikan atau keburukan.
    1 hr 32 min
  • Menyampaikan Kisah Salman Al-Farisi Kepada Anak
    Menyampaikan Kisah Salman Al-Farisi Kepada Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 03 Jumadal Awwal 1443 H / 7 Desember 2021 M.
    Kajian sebelumnya: Kegigihan Abu Hurairah Berdakwah Kepada Ibunya
    Kajian Islam Ilmiah Tentang Kisah Salman Al-Farisi
    Kisah Salman Al-Farisi adalah kisah sangat inspiratif yang perlu kita sampaikan kepada anak-anak, terutama di dalam kegigihan dan ketegaran dalam mencari kebenaran.
    Salman Al-Farisi bercerita tentang perjalanan mencari hidayah. Pada awalnya kita sampaikan bahwa Salman Al-Farisi adalah seorang bangsawan. Dia adalah seorang berkebangsaan Persia dan berasal dari keluarga terpandang.
    Ayahnya adalah seorang ketua di kampungnya. Dia juga merupakan anak yang disayang oleh kedua orang tua. Bahkan boleh dikatakan orang tuanya sangat melindungi dan menjaga Salman Al-Farisi. Sampai dia berkata: “Saya layaknya seorang gadis yang dipingit.” Tugasnya hanyalah menjadi pelayan api ataupun sesuatu yang disembah oleh kaumnya.
    Pada suatu ketika, ayahnya sedang sibuk mengurus bangunan dan ia minta tolong kepada Salman untuk mengurus kebun. Ini adalah awal mula Salman tertarik kepada sesuatu yang dia lihat di luar.
    Di tengah perjalanan, dia melewati kaum Nasrani sedang beribadah di dalam rumah ibadah. Salman kagum terhadap ibadah kaum ini. Maka ia pun melihat dan menanyakan perihal mereka.
    Hatinya berbisik pada saat itu: “Sungguh agama ini lebih baik daripada agama yang aku anut.” Tentunya agama-agama Samawi itu lebih dekat nasabnya kepada Islam daripada agama non Samawi seperti Majusi yang dianut oleh bangsa Persia.
    Ia pun penasaran terhadap agama ini. Maka selama berada di tempat ibadah itu dia bertanya: “Dari manakah asal agama ini?” Mereka menjawab: “Dari negeri Syam.”
    Setelah puas melihat ritual ibadah mereka, Salman pulang. Ternyata ayahnya sudah mengutus seseorang untuk mencarinya. Ayahnya bertanya: “Dari mana kamu? Bukankah tadi aku menyuruhmu untuk mengurus kebun?”
    Salman dengan kepolosannya bercerita: “Ayah, aku bertemu sejumlah orang yang sedang beribadah di sebuah tempat ibadah. Aku kagum melihat ritual agama mereka. Aku duduk bersama mereka hingga matahari terbenam.”
    Ayah Salman berkomentar: “Hai anakku, tidak ada kebaikan pada agama itu. Agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik.” Maka Salman berkata: “Sekali-kali tidak, menurutku agama itu lebih baik daripada agama kita.”
    Sejak saat itulah ayahnya khawatir hingga memborgol kaki Salman dan mengurungnya di dalam rumah. Hal ini agar tidak bisa datang lagi kepada kaum tersebut.
    Namun Salman tidak diam begitu saja, penasarannya mengalahkan rasa takut kepada ayahnya.
    Salman melanjutkan ceritanya: “Maka aku pun mengutus seseorang  kepada orang-orang Nasrani itu untuk menyampaikan pesanku: ‘Jika ada kafilah dagang dari negeri Syam datang, maka beritahukanlah kepadaku.'”
    Ada rencana dalam benak Salman untuk pergi ke negeri Syam dan ikut bersama rombongan kafilah dagang itu. Demikian rasa penasaran seorang anak muda.
    Ini adalah sisi psikologis yang perlu kita perhatikan pada anak muda yang penuh dengan tanda tanya. Dia masih mencari banyak jawaban dalam hidupnya. Maka para orang tua jangan mementahkan dan mematahkan rasa penasaran seorang anak. Hendaknya para orang tua menanggapinya. Dan justru normalnya anak adalah bertanya dan bertanya.
    1 hr
  • Syukurilah Apapun Jenis Kelamin Bayi
    Syukurilah Apapun Jenis Kelamin Bayi merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 02 Jumadal Awwal 1443 H / 6 Desember 2021 M.

    Kajian Tentang Syukurilah Apapun Jenis Kelamin Bayi
    Ketika seseorang sudah berumah tangga, tentunya salah satu keinginan yang akan muncul adalah ingin punya anak. Keinginan itu adalah sesuatu yang manusiawi. Kalau ada orang tidak ingin punya anak, itu justru tidak sesuai dengan tabiat asli manusia.
    Manusia punya tabiat ingin punya anak. Hanya saja keinginan itu sering melampaui dari sekedar punya anak, tapi ingin anak dengan kriteria tertentu. Kalau kriteria yang dimaksud adalah ingin yang shalih/shalihah, yang berbakti kepada orang tua, maka itu yang dianjurkan di dalam doa-doa.
    Tapi ketika keinginan itu terkait dengan hal-hal yang merupakan hak prerogatif Allah seperti menentukan laki-laki atau perempuan, menentukan apakah kulitnya putih atau hitam, rambutnya keriting atau lurus, apakah ini boleh? Maka jawabnya boleh, tidak mengapa punya keinginan-keinginan itu. Yang perlu kita fahami bahwa apapun nanti hasilnya, maka kita harus siap mental untuk menerima apapun yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Jika ketika lahir tidak sesuai dengan yang kita harapkan, maka jangan kecewa dan bersedih. Karena sejatinya diluar sana banyak orang-orang yang menanti bertahun-tahun (bahkan belasan tahun) untuk diberi momongan.
    Ketika Allah memberikan kepada kita anak, itu adalah karunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    لِّلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَن يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَاءُ الذُّكُورَ ‎﴿٤٩﴾‏ أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا ۖ وَيَجْعَلُ مَن يَشَاءُ عَقِيمًا ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ ‎﴿٥٠﴾
    “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Allah akan menciptakan apapun yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Asy-Syura'[42]: 49-50)
    Lihatlah Allah menutup ayat ini dengan dua Asmaul Husna; ‘Alimun (Maha Mengetahui), Qadirun (Maha Kuasa). Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Salah satu yang Allah ketahui adalah apa yang terbaik untuk kita.
    Jadi kalau seandainya ada keluarga yang dikaruniai Allah anak perempuan semua, itu Allah Maha Tahu bahwa itu yang terbaik untuknya. Jika sebaliknya suami istri dikaruniai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala anak laki-laki semua, maka itu yang terbaik untuknya.
    Allah juga Maha Kuasa untuk melakukan segala sesuatu, salah satunya adalah membuat orang berbeda-beda. Ada yang anaknya laki-laki semua, ada yang perempuan semua, ada yang laki-laki dan perempuan, ada yang mandul padahal dia terlahir di keluarga yang subur.
    Dan yang mengalami kondisi yang Allah sebutkan di dalam surah Asy-Syura’ ayat 49-50 itu bukan hanya manusia biasa, termasuk manusia-manusia istimewa sekaliber para Nabi dan Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam pun juga mengalami kondisi seperti itu. Nabi Luth ‘Alaihis Salam memiliki anak yang semuanya perempuan, ada Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam yang anaknya laki-laki semua.
    Kalau para Nabi dan Rasul saja mengalami hal seperti itu, apalagi kita semuanya. Kita pun juga berpotensi untuk mengalami hal itu. Sehingga jangan banyak mengeluh. Karena kita tidak tahu yang terbaik untuk kita apakah anak laki-laki atau per...
    53 min
  • Cara Meng-qadha’ Shalat
    Cara Meng-qadha’ Shalat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 02 Jumadal Awwal 1443 H / 6 Desember 2021 M.

    Download kajian sebelumnya: Waktu Yang Tepat Untuk Meng-qadha’ Shalat
    Kajian Fiqih Tentang Cara Meng-qadha’ Shalat
    Apabila ada seseorang meng-qadha’ shalatnya karena suatu udzur (alasan yang dibenarkan oleh syariat). Bagaimana cara dia meng-qadha’ dari sisi jumlah rakaat dan sifatnya?
    Misalnya ada orang meninggalkan shalat karena ketiduran saat dia sedang safar. Kemudian dia baru bisa meng-qadha’ ketika sudah sampai di rumah. Apakah dia meng-qadha’ dengan cara meng-qashar ataukah itmam (menyempurnakan). Karena pada asalnya ketika safar itu shalatnya diqashar, sedangkan ketika mukim maka seharusnya shalat secara sempurna.
    Para ulama Rahimahumullahu Jami’an berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakan qadha’nya tatap dengan cara meng-qasharnya. Apabila shalatnya empat rakaat -karena shalat tersebut diwajibkan kepadanya ketika safar-, maka ketika qadha’ juga demikian ( walaupun keadaannya sudah mukim). Mereka mengatakan:
    لأن القضاء يحكي الأداء
    “Karena qadha’ itu menggantikan ada’nya.”
    Maka seharusnya kalau memang asal kewajibannya dua rakaat, maka qadha’nya juga dua rakaat.
    Pendapat kedua mengatakan bahwa dia harus shalat secara sempurna. Alasannya adalah karena keadaannya sekarang sudah mukim. Sedangkan sebelumnya adalah safar, karena safar itulah akhirnya dia mendapatkan keringanan. Sekarang penyebab keringanannya menjadi hilang, maka seharusnya kembali kepada hukum asalnya, yaitu menjalankan shalat dengan sempurna.
    Ini adalah masalah yang tidak ada dalil khusus yang menjelaskannya, makanya para ulama berbeda pendapat. Wallahu ta’ala a’lam, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang kedua. Apabila seorang musafir ada shalatnya yang ketinggalan karena udzur, kemudian dia meng-qadha’nya ketika mukim, maka dia wajib shalat dalam keadaan sempurna.
    Bagaimana kalau sebaliknya? Seseorang meninggalkan shalat karena udzur dalam keadaan mukim, kemudian setelah itu dia melakukan safar dan ingin meng-qadha’ shalatnya. Apakah dia meng-qadha’ shalat dalam keadaan meng-qashar ataukah menyempurnakannya?
    Menit ke- Kalau yang diqadha’ adalah shalat yang diwajibkan saat mukim, maka dia harus menyempurnakannya walaupun meng-qadha’nya dalam keadaan safar. Adapun sebaliknya, kalau yang diqadha’ adalah shalat ketika dalam keadaan safar dan dia meng-qadha’ dalam keadaan mukim, maka dia harus shalat dalam keadaan sempurna.
    Meng-qadha’ shalat sunnah rawatib
    Menit ke- Apakah shalat sunnah rawatib yang tertinggal bisa diqadha’? Jawabannya boleh. Misalnya ada orang ketinggalan shalat sunnah rawatib sebelum subuh, maka boleh bagi orang yang seperti ini untuk meng-qadha’ shalat sunnah rawatibnya setelah shalat subuh. Hal ini sebagaimana pernah dilakukan oleh salah seorang sahabat dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengingkarinya.
    Begitupula dengan shalat sunnah rawatib sebelum dzuhur, apabila tertinggal maka dibolehkan bagi dia untuk melakukannya setelah shalat dzuhur selesai.
    Adzan dan iqamah pada shalat qadha’
    Menit ke- Apakah tetap disunnahkan adzan dan iqamah ketika meng-qadha’ shalat? Jawabannya adalah iya tetap disunnahkan untuk adzan dan iqamah. Dalilnya adalah hadits Abu Qatadah Radhiyallahu Ta’ala...
    1 hr 12 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah