Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Talbis Iblis Kepada Orang Yang Bersuci
    Talbis Iblis Kepada Orang Yang Bersuci ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 28 Jumadil Akhir 1443H / 31 Januari 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Talbis Iblis Kepada Orang Yang Bersuci
    Beberapa orang ahli ibadah terkena penyakit was-was ketika berniat, sehingga kadang-kadang ia mengucapkan kalimat “Aku berwudhu untuk menghilangkan hadats” kemudian dia mengatakan “Aku berwudhu agar dibolehkan shalat”. Kemudian dia terus mengulang-ulang wudhu karena merasa wudhunya blm sempurna. Sehingga kita lihat sebagian orang mondar-mandir di tempat wudhu hanya karena merasa wudhunya belum sempurna, dia khawatir shalatnya tidak diterima.
    Kadang-kadang dia merasa ada sesuatu yang keluar dari perutnya, tapi sebenarnya tidak. Karena dia tidak terdengar suara dan tidak juga tercium bau, hanya was-was belaka. Kemudian dia ulangi lagi wudhunya.
    Sebagian orang yang berwudhu merasa belum masuk niatnya. Mereka ini dibisiki was-was bahwa kalau tidak menyatu antara ucapan niat dengan amal ibadah itu maka dikatakan belum berniat. Jadi harus seperti akad yang tidak ada jeda antara pelafalan niat dengan pelaksanaan ibadah tersebut. Tentu ini suatu hal yang sukar. Kadang-kadang setan suka membisiki hal seperti ini kepada orang-orang yang jahil.
    Lihat: Hal-Hal Yang Membatalkan Wudhu
    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa sebab terjadinya talbis seperti ini tidak lain dan tidak bukan adalah kejahilan terdekat terhadap syariat. Karena niat itu adanya di dalam hati, bukan dilafalkan dengan ucapan. Membebani diri dengan melafalkan niat termasuk perkara yang tidak perlu.
    Terkadang juga menjadi suatu hal yang janggal dan ganjil ketika terjadi pelafalan yang tidak sinkron dengan niat. Toh yang berlaku adalah niat yang ada di dalam hati, bukan apa yang dilafalkan. Disamping itu tidak ada faedahnya juga mengulang-ulang pelafalan niat karena merasa belum menyatu antara niat dengan ibadah itu. Ini adalah pembebanan diri sendiri dengan suatu yang kadang-kadang susah.
    Di antara ahli ibadah itu ada yang terkena talbis iblis dengan mencermati air wudhu secara berlebihan. Iblis berkata: “Dari mana kamu tahu air itu suci?” Maka dia memeriksa air itu dan memandanginya sangat lama untuk memastikan tidak ada najis. Akhirnya mungkin dia terluput dari Takbiratul Ihram karena terlalu lama di tempat wudhu.
    Lihat: Pentingnya Mendapatkan Takbiratul Ihram Bersama Imam
    Padahal syariat itu sudah cukup mudah baginya. Kalau kita lihat secara visual tidak ada najis, maka berarti suci, tidak perlu dipastikan sedetail-detailnya.
    Bagaimana cara selamat dari talbis iblis ini? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Talbis Iblis Kepada Orang Yang Bersuci
    Mari turut membagikan link download
    46 min
  • Orang-Orang Yang Diperbolehkan Untuk Dikritik
    Orang-Orang Yang Diperbolehkan Untuk Dikritik merupakan kajian Islam ilmiah oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan kitab Kun Salafiyyan ‘alal Jaddah. Kajian ini disampaikan pada Sabtu, 26 Jumadil Akhir 1443 H / 29 Januari 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Orang-Orang Yang Diperbolehkan Untuk Dikritik
    Kita membahas tentang orang-orang yang diperbolehkan untuk kita kritik dan kita peringatkan manusia untuk menjauhi mereka karena bahayanya pemahaman mereka. Mungkin kadang kita tidak perlu sebutkan nama, tapi yang jelas kesalahan ini perlu diperingatkan agar umat menjauhinya. Kemarin kita sudah sebutkan yang pertama yaitu tentang Ahlul bid’ah.
    2. Rawi-rawi hadits dan orang-orang yang dijadikan sebagai saksi
    Rawi-rawi hadits dan para saksi ini jika mereka adalah orang-orang yang memang tidak bisa diterima persaksiannya (ada kelemahan), entah mereka dikenal pernah berdusta atau rawi hadits yang sering lalai/lupa dengan riwayatnya, tentu ini dibuktikan oleh para ulama ahli hadits, maka boleh untuk kita mengkritik mereka dan ini berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.
    Ini termasuk yang dikecualikan dari ghibah karena kemaslahatannya sangat besar. Yaitu penjagaan terhadap agama, penjagaan terhadap hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kalau seandainya tidak ada ulama yang menyebutkan kritikan terhadap rawi-rawi tersebut akhirnya akan tercampur riwayat-riwayat yang Shahih dan riwayat-riwayat yang lemah, orang tidak akan bisa membedakannya. Dan dengan sebab ini kemurniaan Islam tidak akan terjaga lagi.
    Dengan adanya para ulama yang senantiasa mengkritik/meluruskan kesalahan para rawi hadits, dari sinilah kita dapatkan Islam yang murni, Islam yang hanya bersumber dari perkataan atau riwayat yang Shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka untuk kemaslahatan besar seperti ini, ini termasuk perkara yang diperbolehkan di dalam Islam, bahkan wajib. Kesepakatan bolehnya hal ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahumullahu Ta’ala.
    Sudah kita ketahui bahwa Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullahu Ta’ala ketika ditanya tentang masalah mengkritik rawi-rawi hadits atau saksi-saksi yang bermasalah, maka beliau mengatakan:
    إذا سكتَّ أنتَ، وسكتُّ أنا، فمتى يعرف الجاهلُ الصّحيحَ من السقيم
    “Kalau kamu diam (tidak mengkritik rawi), saya juga diam, maka bagaimana orang yang jahil mengetahui mana hadits yang shahih mana hadits yang lemah?”
    Kalau para ulama tidak membicarakan masalah ini maka akan tercampur riwayat dan banyak hal-hal yang menjadi sebab tidak lagi kaum muslimin mengenal Islam yang murni sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada RasulNya yang mulia Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Sesungguhnya orang yang memperhatikan perbuatan para Imam Ahlus Sunnah ketika membela agama ini yang di antaranya adalah ketika mereka membantah penyimpangan Ahlul Bid’ah, maka akan didapati para Imam Ahlus Sunnah sama sekali tidak mengisyaratkan kepada apa yang disebut dengan muwazanah (harus menimbang antara kebaikan dan keburukan). Hal ini karena tujuannya memperingatkan untuk menjauhi, bukan mempromosikan.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 kajian Tentang Orang-Orang Yang Diperbolehkan Untuk Dikritik

    Radio Rodja 756AM ·
    1 hr 4 min
  • Terkabulnya Doa Nabi Zakaria
    Tafsir Ali Imran Ayat 39 – Terkabulnya Doa Nabi Zakaria adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 24 Jumadil Akhir 1443 H / 27 Januari 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 39 – Terkabulnya Doa Nabi Zakaria
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ
     “Para malaikat memanggilnya ketika dia berdiri shalat di Mihrab: ‘Bahwa Allah pun memberikan kabar gembira kepada engkau dengan Yahya, yang membenarkan kalimat dari Allah, dan dia sebagai panutan, dan dia memiliki kemampuan untuk menahan diri dari hawa nafsu, dan dia merupakan seorang Nabi di antara orang-orang shalih.'” (QS. Ali-Imran[3]: 39)
    Ayat yang mulia ini menunjukkan tentang terkabulnya doa Nabi Zakaria. Dimana di ayat sebelumnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengabarkan bahwa Nabi Zakaria berdoa.
    Faidah Surah Ali Imran Ayat 39
    Adanya Malaikat
    Ayat ini menetapkan tentang adanya malaikat, dan kita wajib beriman tentang hal ini. Karena ini merupakan salah satu rukun dari rukun iman. Malaikat adalah makhluk yang dicipta oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari cahaya, Allah menciptakan mereka untuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka melaksanakan tugas sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pencipta mereka, senantiasa bertasbih di malam dan di siang hari dan tidak pernah malas.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan tentang para malaikat dengan sabdanya:
    أطت السماء، وحق لها أن تَئِط ما من موضع أربع أصابع منها، إلا وفيه ملك قائم لله أو راكع أو ساجد
    “Di langit itu berbunyi (berderit), dan haq baginya untuk berbunyi. Tidak ada tempat yang jaraknya empat jari melainkan disitu ada malaikat yang sedang berdiri atau ruku’ atau sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Tirmidzi)
    Ini merupakan kebesaran Allah. Kalau kita melihat dan membaca hadits ini dimana jumlah malaikat begitu sangat banyak sekali dan semuanya dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Mengingkari para malaikat dihukumi kafir, karena mendustakan Al-Qur’an. Oleh karena itu tidak boleh kita mengingkari tentang keberadaan malaikat.
    Malaikat bisa bicara
    Para malaikat bisa bicara dengan suara yang bisa didengar. Hal ini didasarkan dengan firmanNya: “Malaikat memanggil Nabi Zakaria…”
    Bolehnya berbicara kepada orang yang shalat
    Ini diambil dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Malaikat memanggilnya ketika Nabi Zakaria berdiri shalat di Mihrab…” Akan tetapi orang yang diajak bicara dan dia sedang shalat tidak membalas dengan ucapan, tetapi hanya dengan isyarat. Yang lebih utama adalah tidak dilakukan kecuali ada kebutuhannya. Karena kalau engkau mengajak bicara orang yang shalat, maka itu bisa mengganggu dia, dan bisa jadi dia lupa kemudian menjawabnya.
    Memberikan kabar gembira
    Disyariatkannya memberikan kabar gembira kepada seseorang dengan sesuatu yang membuatnya bahagia/senang. Di ayat ini Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kabar gembira kepada engkau dengan Yahya…”
    Adapun kabar gembira yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim dengan kelahiran Nabi Ishaq adalah dengan firmanNya:
    قَالُوا لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ
    39 min
  • Kisah Keberanian dan Semangat Berdakwah
    Kisah Keberanian dan Semangat Berdakwah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 22 Jumadil Akhir 1443 H / 25 Januari 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Menceritakan Kisah Nabi Musa Menuntut Ilmu
    Kajian Islam Ilmiah Tentang Kisah Keberanian dan Semangat Berdakwah
    Salah satu kisah yang mungkin juga bisa menginspirasi yaitu tentang keberanian dan semangat membela/mendakwahkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu kisah seorang pemuda atau lebih dikenal dengan sebutan kisah Ashabul Ukhdud.
    Kisah ini disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi menceritakan bahwa di antara umat-umat sebelum kita ada seorang raja yang memiliki seorang tukang sihir. Saat usianya semakin tua, si tukang sihir berkata kepada raja: “Usiaku semakin tua dan ajalku segera tiba. Oleh karena itu bawakan seorang pemuda untuk aku ajari ilmu sihir.” Mungkin dia ingin mewariskan ilmu sihir itu kepada seorang pemuda.
    Maka Raja itu menyerahkan seorang pemuda kepadanya yang kemudian diajari ilmu sihir. Namun di antara tukang sihir dan sang Raja terdapat seorang rahib. Dan si pemuda sering mendatangi dan mendengar ucapan rahib ini.
    Karena kagum akan gaya bahasa dan tutur kata rahib ini, si pemuda semakin sering berkunjung bahkan berguru kepada rahib tersebut. Sehingga ia sering terlambat datang ke tempat tukang sihir ataupun terlambat kembali ke keluarganya. Karena itulah apabila mendatangi tukang sihir ia dipukul dan ditanya: “Apa yang menahanmu untuk segera datang?” Begitu pula apabila kembali ke keluarganya mereka akan memukulnya dan bertanya dengan keras: “Apa yang menahanmu untuk segera pulang?”
    Si pemuda mengeluhkan hal tersebut kepada sang rahib. Maka diberikan nasehat kepadanya: “Jika tukang sihir hendak memukulmu, maka katakanlah: ‘Keluargaku telah menahanku.’ Dan jika keluargamu hendak memukulmu, maka katakanlah: ‘Tukang sihir telah menahanku.'”
    Bagaimana kisah lengkapnya? Dalam kisah ini terdapat pelajaran untuk anak bahwa umat-umat terdahulu tidak mudah untuk beriman kepada Allah. Ada harga yang harus mereka bayar untuk iman mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mari download dan simak kajian yang penuh manfaat ini.
    Lihat juga: Kisah Ashabul Ukhdud
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Kisah Keberanian dan Semangat Berdakwah
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Kisah Keberanian dan Semangat Berdakwah” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    49 min
  • Keutamaan Shalat-Shalat Sunnah Rawatib
    Keutamaan Shalat-Shalat Sunnah Rawatib adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 22 Jumadil Akhir 1443 H / 25 Januari 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Meluruskan dan Merapatkan Shaf Ketika Shalat Berjamaah
    Keutamaan Shalat-Shalat Sunnah Rawatib
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    بَيْنَ كُلِّ أَذانَيْنِ صَلاةٌ، بيْنَ كلِّ أَذَانيْنِ صَلاةٌ، بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاةٌ وقالَ في الثَالثَة: لمَنْ شَاءَ
    “Di antara dua adzan ada shalat, di antara dua adzan ada shalat, di antara dua adzan ada shalat.” Dalam ketiga kalinya ini beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Bagi yang menghandaki.” (Muttafaqun ‘alaihi)
    Hadits ini sebagai hadits yang menjelaskan kepada kita bahwa ada shalat sunnah qabliyah setiap shalat lima waktu. Meskipun qabliyah itu ada yang muakkad dan ada yang ghairu muakkad. Yang muakkad di antaranya adalah shalat qabliyah subuh dan qabliyah dzuhur. Sedangkan yang ghairu muakkad adalah qabliyah ashar, qabliyah maghrib, dan qabliyah isya’.
    Adapun yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maksud dengan “dua adzan” adalah adzan dan iqamah. Di antara dua adzan ini ada shalat sunnahnya.
    Dari hadits ini pula, sebagian ulama ada yang menganjurkan untuk menjawab iqamah. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut iqamah sebagai adzan. Maka mereka mengatakan bolehnya menjawab iqamah sebagaimana menjawab adzan.
    Jadi hadits ini menjelaskan kepada kita tentang adanya shalat qabliyah pada shalat lima waktu. Karena ada sebagian masjid yang mereka tidak ada jarak antara adzan dan iqamah. Dalam arti tidak ada shalat sunnah. Ini salah satu kekeliruan. Hendaknya berikanlah waktu.
    Mungkin alasan mereka bahwa waktu maghrib itu singkat (tidak panjang) sebagaimana waktu-waktu yang lainnya. Tapi shalat dua rakaat juga singkat, disamping menunggu jamaah yang hendak datang shalat berjamaah. Mungkin masih ada yang berwudhu atau buang air. Berikan kesempatan mereka untuk mendapatkan takbiratul ihram sambil memberikan waktu kepada mereka untuk shalat sunnah qabliyah.
    Orang-orang yang mengatakan tidak ada shalat qabliyah magrib mungkin belum sampai pada mereka hadits ini.
    Bab Penekanan Shalat Sunnah Qabliyah Subuh
    Kata Al-Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala:
    عن عائشةَ رضِيَ اللَّه عنْهَا ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كانَ لا يدَعُ أَرْبعاً قَبْلَ الظُّهْرِ ، ورَكْعَتَيْنِ قبْلَ الغَدَاةِ . رواه البخاري
    “Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau berkata: ‘Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak meninggalkan empat rakaat sebelum shalat dzuhur demikian pula dua rakaat sebelum subuh.'” (HR. Bukhari)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang melakukan beberapa jenis (variasi) amal. Contohnya pada qabliyah dzuhur, terkadang beliau melakukan 4 rakaat, tapi kadang beliau lakukan 2 rakaat sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhuma. Yang beliau lakukan tersebut adalah untuk memberikan kepada kita contoh tentang variasi dalam beramal.
    Hadits ini juga menjelaskan kepada kita tentang keutamaan dua rakaat sebelum subuh, yang mana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu mengerjakannya. Hal ini sebagaimana dalam hadits berikut ini:
    1 hr 23 min
  • Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah
    Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 21 Jumadil Akhir 1443 H / 24 Januari 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah
    Sebagaimana yang kita jelaskan sebelumnya, bahwa tidak ada satupun jenis dan golongan manusia yang luput dari tipu daya iblis. Termasuk di antara mereka adalah ahli ibadah, mereka juga tidak lepas dari talbis iblis.
    Ibnul Jauzi berkata bahwa pintu terbesar yang dapat dimasuki iblis untuk menggoda manusia adalah pintu kejahilan. Melalui pintu inilah iblis masuk kepada orang-orang jahil dengan leluasa. Adapun terhadap orang-orang yang berilmu, iblis tidak dapat masuk kepada mereka melainkan dengan cara mencuri-curi. Mungkin akan memerlukan beberapa langkah memperdaya orang yang berilmu.
    Adapun terhadap orang-orang yang jahil, iblis dengan leluasa bisa menyeret mereka kepada keburukan apapun yang diinginkan oleh iblis. Dan biasanya tidak selalu orang yang rajin ibadah itu berilmu. Banyak di antara orang-orang yang punya semangat ibadah namun sayang mereka mengabaikan bab ilmu, walaupun tidak semua. Ada orang yang rajin ibadah juga rajin/fokus menuntut ilmu dan tidak menyepelekan ilmu.
    Tapi banyak juga di antara orang-orang yang rajin ibadah ini mengabaikan ilmu. Iblis melancarkan tipu dayanya kepada mayoritas ahli ibadah yang minim ilmu. Akibat minimnya ilmu pada mereka, maka iblis pun menjadikan mereka sebagai target. Karena mayoritas ahli ibadah menyibukkan diri dengan ibadah sehingga melalaikan menuntut ilmu. Padahal tentunya menuntut ilmu adalah ibadah.
    Ini suatu perkara yang ironi, dimana ahli ibadah meninggalkan ibadah yang agung, yaitu menuntut ilmu. Hal ini mungkin karena terlalu sempit memandang ibadah, hingga terfokus kepada beberapa bentuk-bentuk ibadah tertentu saja.
    Awal talbis iblis terhadap ahli ibadah ini dengan menggambarkan di hadapan mereka bahwa ibadah itu lebih utama daripada ilmu. Yaitu dibuat menjadi sebuah konflik antara ibadah dan ilmu; rajin ibadah menyingkirkan ilmu atau berilmu malas beribadah. Seolah-olah dikesankan seperti itu.
    Ini adalah talbis iblis pertama terhadap ahli ibadah tersebut. Yaitu menjadikan ibadah lebih utama daripada ilmu. Padahal kita tahu bahwa menuntut ilmu itu juga ibadah, bahkan ibadah yang agung. Karena dia masuk dalam kategori ibadah, yaitu segala sesuatu yang disukai dan dicintai Allah, dan ilmu masuk ke dalamnya. Namun sayang bagi mereka ini seolah-olah ibadah dan ilmu adalah satu yang bertentangan. Sehingga kalau ibadah harus menyingkirkan ilmu dulu dan kalau cerita ilmu tidak bisa cerita ibadah. Ilmu seolah-olah dianggap sebagai penghalang dari ibadah.
    Ini adalah satu kerancuan berpikir. Karena ibadah tidak akan bisa sempurna tanpa ilmu. Dan menuntut ilmu adalah bagian terpenting dalam ibadah.
    Pada hakekatnya ilmu jelas lebih utama daripada ibadah sunnah yang dikerjakan oleh hamba. Ibadah menuntut ilmu adalah pokok dan dasar dari semua ibadah-ibadah yang lain. Ini yang tidak dipahami oleh sebagian orang yang gemar ibadah tapi tanpa ilmu. Sehingga setan/iblis dengan mudah memperdaya mereka.
    Iblis memperlihatkan kepada mereka bahwa maksud ilmu tidak lain adalah untuk diamalkan. Sayangnya mereka tidak memahami amalan kecuali amalan anggota badan. Mereka tidak tahu bahwasanya yang dimaksud dengan amalan juga termasuk didalamnya adalah amalan hati. Bahkan amalan hati itu jauh lebih utama daripada amalan anggota badan. Yaitu mereka terlalu menyempitkan makna ibadah.
    35 min
  • Bukan Asal Nama
    Bukan Asal Nama ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 21 Jumadil Akhir 1443 H / 24 Januari 2022 M.

    Kajian Tentang Bukan Asal Nama
    Tema ini diangkat karena hingga saat ini masih banyak orang yang mengatakan “Apalah arti sebuah nama”. Seakan-akan nama itu tidak terlalu penting dan tidak perlu dipermasalahkan seandainya nama tersebut kurang pas dalam timbangan agama.
    Padahal nama itu penting. Karena itu adalah identitas seseorang. Sehingga sekali dikasih nama, itu akan dibawa sampai tua bahkan sampai mati. Karena nama adalah identitas yang bakalan melekat dalam diri seseorang, maka tidak boleh sembarangan.
    Setiap orang akan mendapatkan pengaruh dari nama yang diberikan kepadanya. Jadi nama itu ada pengaruhnya kepada karakter/perilaku seseorang. Kalau misalnya ada orang melihat artis terkenal lalu namanya diberikan untuk nama anak kita padahal artis itu sukanya kumpul kebo (berzina), itu sangat mungkin berpengaruh kepada karakter anak. Apakah rela ketika anak kita nanti kita  besarnya suka kumpul kebo seperti artis tersebut?
    Kalau nama yang diberikan kepada anak baik, maka insyaAllah akan memberikan pengaruh baik kepada anak kita. Sebaliknya kalau nama yang diberikan kepada anak kita buruk, maka itu akan memiliki pengaruh buruk kepada anak.
    Di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, diceritakan ada seorang sahabat yang bertamu kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seperti biasa, Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: “Siapa namamu?” Orang itu menjawab: “Hazn (artinya: sedih/susah/sulit).” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar nama tadi, beliau mengatakan:
    أنْتَ سَهْلٌ
    “Mulai sekarang ubahlah namamu menjadi Sahl (artinya: mudah/gampang/lancar).”
    Begitu mendengar nasehat atau anjuran dari Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, sahabat tersebut berkata: “Nama ini dari bapak saya. Aku tidak akan mengubah nama yang dikasih oleh bapakku.” Maka mulai hari itu sampai dia meninggal dunia urusan dia dan keluarganya selalu susah. (HR. Bukhari)
    Lihatlah bahwa nama itu memiliki pengaruh kepada kondisi seseorang. Sehingga dalam memberi nama tidak boleh sembarangan.
    Nama anak adalah tanda baik atau tidaknya orang tua
    Salah satu indikator untuk mengetahui orang tua baik atau tidak bisa dilihat dari nama anak-anaknya. Kalau misalnya masyaAllah nama anaknya adalah Muhammad, Ibrahim, Musa, Ismail, ini adalah nama orang-orang baik, maka mudah-mudahan orang tuanya ini baik dan punya kepedulian kepada anak-anaknya. Tapi seandainya anak-anaknya ini namanya adalah nama-nama yang tidak jelas, ini berarti pertanda bahwa orang tuanya adalah orang yang tidak baik.
    Pentingnya nama
    Salah satu hal yang menunjukkan pentingnya nama, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu beberapa kali mengganti nama sahabatnya yang tidak baik. Kalau seandainya ungkapan “Apalah arti sebuah nama” adalah ungkapan yang benar, niscaya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan peduli dengan nama tidak baik yang ada dalam komunitas para sahabatnya. Tapi karena nama itu penting, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika melihat ada sebagian sahabatnya yang namanya tidak pas, maka namanya diganti oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Salah satu contohnya adalah Abu Hurairah. Dahulu ketika zaman Jahiliyah nama Abu Hurairah adalah Abdu Syams (Hambanya matahari). Begitu masuk Islam, maka oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak dibiarkan nama tersebut.
    48 min
  • Mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Dengan Yakin
    Mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Dengan Yakin merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 20 Jumadil Akhir 1443 H / 23 Januari 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Bertemu dengan Allah Membawa Keimanan Tanpa Keraguan

    Kajian Hadits Mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Dengan Yakin
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, saat itu ada Abu Bakar, Umar dan beberapa sahabat yang lain. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun bangkitlah dari tengah-tengah kami karena hendak buang hajat, dan beliau lama tidak kembali. Maka kami merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan kami pun merasa ketakutan jangan-jangan terjadi sesuatu pada Rasulullah. Maka kami pun kemudian bangkitlah dan aku orang yang pertama kali merasa khawatir.
    Aku pun keluar untuk mencari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hingga aku pun mendatangi sebuah kebun yang dipagari milik kaum Anshar dari Bani Najjar. Maka aku mengelilinginya barangkali aku bisa mendapatkan pintu untuk masuk dan ternyata tidak ada.  Ternyata ada selokan yang masuk ke dalam kebun tersebut dari sebuah sumur yang ada di luar dimana selokan ini memang untuk pengaliran air. Maka akupun meringkuk untuk masuk, lalu aku pun masuk. Ternyata di situ ada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang buang hajat.
    Maka Rasulullah bersabda: ‘Apakah itu Abu Hurairah?’ Aku berkata: ‘Iya wahai Rasulullah.’ Rasulullah bertanya: ‘Ada apa dengan kamu?’ Aku berkata: ‘Engkau tadi berada di tengah-tengah kami dan lalu engkau pergi namun engkau lambat tidak pulang-pulang, kami khawatir terjadi sesuatu pada dirimu. Maka kami pun merasa ketakutan dan aku yang pertama kali ketakutan. Maka aku mendatangi kebun ini dan menyelinap masuk melewati selokan itu seperti halnya musang. Dan orang-orang ada di belakangku menyusul.’
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah…’ Sambil beliau memberikan kepadaku dua sendalnya. Kemudian beliau bersabda:
    اذْهَبْ بِنَعْلَيَّ هَاتَيْنِ فَمَنْ لَقِيتَ, مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ.
    ‘Pergilah dengan membawa dua sendalku ini. Siapa saja yang kamu temui di belakang tembok ini yang ia bersyahadat Laa Ilaaha Illallah dalam keadaan hatinya betul-betul yakin dalam syahadatnya, maka berikan kabar gembira kepadanya dengan surga.’
    Maka Abu Hurairah pergilah membawa dua sendal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka yang pertama kali aku temui adalah Umar. Lalu Umar bertanya: ‘Ini dua sendal siapa hai Abu Hurairah?’
    ‘Ini dua sendal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutusku dengan membawa dua sendal ini untuk memberikan kabar gembira kepada setiap yang aku temui yang dia bersyahadat Laa Ilaaha Illallah dalam keadaan hatinya yakin, aku berikan kabar gembira dengan surga.’
    Maka Umar pun kemudian mendorong dadaku sehingga aku pun jatuh diatas pantatku. Lalu Umar berkata: ‘Kembalilah kamu kepada Rasulullah, hai Abu Hurairah.’ Maka aku pun kembalilah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka aku pun menangis. Sementara Umar mengikutiku di belakangku.
    48 min
  • Meluruskan dan Merapatkan Shaf Ketika Shalat Berjamaah
    Meluruskan dan Merapatkan Shaf Ketika Shalat Berjamaah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 15 Jumadil Akhir 1443 H / 18 Januari 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Keutamaan Shaf Pertama
    Meluruskan dan Merapatkan Shaf Ketika Shalat Berjamaah
    Anas bin Malik Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu berkata:
    أُقِيمَتِ الصَّلاةُ، فأَقبَل عَلينَا رسُولُ اللَّهِ ﷺ بِوَجْهِهِ فقَالَ: أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وتَراصُّوا، فَإنِّي أَراكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي
    “Pernah suatu ketika sudah dikumandangkan, lalu kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghadap kepada kami (makmum) lalu bersabda: ‘Luruskan dan rapatkan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari belakang punggungku.'” (HR. Imam Al-Bukhari)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang diperintahkannya untuk merapatkan dan meluruskan shaf di dalam shalat berjamaah. Maka dari itu kepada kaum muslimin dimanapun mereka berada, disaat kita shalat berjamaah hendaknya tetap memperhatikan masalah lurus dan rapatnya shaf.
    Hadits selanjutnya dari Nu’man bin Basyir Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhuma, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لَتُسوُّنَّ صُفُوفَكُمْ، أَوْ ليُخَالِفَنَّ اللَّه بَيْنَ وجُوهِكُمْ
    “Sungguh kalian benar-benar akan meluruskan shaf-shaf kalian ataukah Allah akan menjadikan hati dan wajah kalian berselisih.” (Muttafaqun ‘alaih)
    Ini merupakan perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada kaum muslimin ketika shalat berjamaah. Hendaknya mereka benar-benar meluruskan dan merapatkan shaf-shaf mereka. Karena kalau tidak maka Allah akan berbuat sesuatu yang lain.
    Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
    : أَنَّ رسولَ اللَّه ﷺ كانَ يُسَوِّي صُفُوفَنَا، حتَّى كأَنَّما يُسَوّي بهَا القِدَاحَ، حَتَّى رَأَى أنَّا قَد عَقَلْنَا عَنْهُ. ثُمَّ خَرَج يَوْمًا فَقَامَ حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ، فَرَأَى رجُلا بَادِيًا صدْرُهُ مِنَ الصَّفِّ فقالَ: عِبَادَ اللَّهِ، لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ، أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّه بيْنَ وجُوهكُمْ.
    “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu betul-betul merapatkan shaf-shaf kami, sampai-sampai ibarat beliau merapatkan anak panah, sampai beliau betul-betul melihat bahwa kami telah memahami apa yang beliau perintahkan. Kemudian pada suatu hari beliau keluar untuk memimpin shalat berjamaah, beliau berdiri sampai menjelang takbir, beliau melihat ada salah satu di antara jama’ah yang dadanya kedepan (tidak lurus), beliau bersabda: ‘Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian benar-benar meluruskan shaf-shaf kalian, atau jika kalian tidak melakukannya maka Allah akan menjadikan kalian berselisih wajah-wajah kalian.'” (HR. Muslim)
    Ini menunjukkan bahwa amalan yang dianggap ringan tentang mendapatkan shaf ini ternyata ada akibatnya kalau tidak dikerjakan. Intinya bahwa hadits ini memerintahkan kepada kita untuk meluruskan shaf-shaf ketika shalat berjamaah. Jangan sampai ada ruang yang renggang antara seseorang dengan teman di sampingnya dalam berdiri mengerjakan shalat berjamaah.
    Hadits ini juga mengandung ancaman terhadap orang-orang yang tidak merapatkan dan meluruskan shaf-shaf mereka. Allah akan menjadikan wajah-wajah mereka berselisih. Para ulama menyebutkan bahwa ancaman ini menunjukkan wajibnya meluruskan dan merapatkan shaf ketika shalat berjamaah...
    1 hr 25 min
  • Menganggap Baik Bersedekah Setelah Korupsi
    Menganggap Baik Bersedekah Setelah Korupsi ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 14 Jumadil Akhir 1443 H / 17 Januari 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Menganggap Baik Bersedekah Setelah Korupsi
    Salah satu talbis iblis terhadap para pemimpin dan penguasa yaitu iblis menjadikan para pemegang kekuasaan menganggap baik bersedekah setelah meng-ghashab (melakukan korupsi atau mengambil harta dengan cara tidak sah). Dan iblis memperlihatkan kepada mereka bahwa sedekah tersebut dapat menghapus dosa korupsi itu.
    Maka mungkin ada dalam benak sebahagian orang bahwa kalau korupsi jangan tanggung-tanggung. Karena hasil korupsi yang disedekahkan dapat menghapus dosa korupsi. Ini tentunya bisikan iblis kepada orang-orang yang diserahi amanah/kekuasaan sehingga memandang baik perbuatan tersebut. Mereka mengira bahwa sedekah yang dikeluarkan setelah melakukan korupsi atau mengambil harta rakyat tanpa hak adalah perkara yang dapat menghapusnya.
    Iblis membisikkan ke telinga mereka satu dirham sedekah dapat menghapus 10 dosa dari hasil korupsi. Mereka mengira dosa bisa terhapus/terampuni dengan bersedekah tersebut. Padahal ini mustahil. Karena dosa korupsi tetap ada, sedangkan dirham jika merupakan hasil korupsi, maka tidak akan diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan dari hasil yang halal saja belum tentu bisa menghapus dosa korupsinya, walaupun amal-amal shalih dapat menghapus keburukan. Karena memberi sedekah kepada orang miskin tidak menggugurkan tanggung jawab atas orang lain seperti tindakan merampas sesuatu yang bukan haknya. Apalagi itu merupakan hak umat/masyarakat/rakyat, maka dia harus mengembalikannya kepada rakyat kalau dia melakukan korupsi.
    Maka sedekah yang dikeluarkan dari hasil korupsi tidak bisa menghapus dosa korupsi. Maka dalam hal ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَنْ جَمَعَ مَالًا حَرَامًا ثُمَّ تَصَدَّقَ مِنْهُ لَمْ يَكُنْ لَهُ فِيهِ أَجْرٌ وَكَانَ إِصْرُهُ عَلَيْهِ
    “Barangsiapa yang mengumpulkan harta dengan cara yang haram lalu dia menyedekahkannya, maka tidak ada pahala baginya, sementara dosa (mengumpulkan harta dengan cara yang haram) tetap menjadi tanggunganya.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:
    إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا
    “Allah itu Mahabaik dan tidak akan menerima kecuali yang baik-baik.” (HR. Muslim)
    Jika seseorang mengumpulkan harta dengan cara yang haram, maka tetap terhitung atasnya dan menjadi tanggungannya. Dia akan ditanya tentang harta dari mana dan kemana. Dia tidak bisa lolos dari pertanyaan itu. Maka ini merupakan salah satu talbis orang-orang yang diberikan kekuasaan/jabatan lalu melakukan tindak korupsi. Dia berpikir nanti setelah korupsi ingin bersih-bersih harta. Yaitu dia menyedekahkan korupsinya itu mungkin untuk bangun masjid, pesantren dan sejenisnya. Dia kira itu dapat menghapus dosa korupsinya, padahal tidak. Bahkan harta yang dia sedekahkan itu sebenarnya tidak patut untuk disedekahkan. Karena itu bukan hak untuk dikeluarkan sebagai sedekah. Tapi dia harus mengembalikan itu kepada pemiliknya. Kalau pemiliknya adalah rakyat, maka dia kembalikan kepada rakyat/negara.
    Maka tidak ada celah untuk melakukan kejahatan seperti ini dengan alasan nanti setelah melakukan korupsi ingin bersih-bersih. Membersihkan harta korupsi dengan bersedekah adalah satu pemikiran yang salah.
    30 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah