Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Menghadapi Berita Yang Belum Diprediksi
    Menghadapi Berita Yang Belum Diprediksi adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 8 Jumadal Awwal 1443 H / 13 Desember 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Menghadapi Berita Yang Belum Diprediksi
    Kita sampai bab ويَأْتِيْـكَ بِالأَخْبَـارِ مَنْ لَمْ تُـزَوِّدِ (Bab tentang akan datang kepadamu informasi-informasi yang engkau belum punya persiapan untuk menghadapinya). Ada saat-saat kita mendapatkan berita duka tidak kita bayangkan. Orang yang kita cintai, yang kita tadi pagi masih sarapan bersamanya, tahu-tahu sore hari kita mendapat berita orang itu meninggal mungkin karena tabrakan.
    Apa sikap seorang muslim menghadapi hal ini? Maka dia harus benar-benar mempersiapkan diri, karena badai itu akan datang. Allah Jalla Jalaluhu mengatakan:
    وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
    “Kami benar-benar akan memberikan ujian kepada kalian sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, meninggalnya orang-orang yang dicintai, berkurangnya buah-buahan. Dan berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 155)
    الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
    “Tatkala mereka tertimpa musibah, mereka mengatakan: ‘Kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada Allah.'” (QS. Al-Baqarah[2]: 156)
    Orang yang bersabar yang tatkala terkena musibah dia menguatkan hatinya, dia menyandarkan kepada Sang Pencipta, dia yakin akan kembali kepada Allah, maka orang ini akan mendapatkan shalawat (pujian, berkah, keselamatan) dari Allah, dan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.
    Ada orang-orang yang tidak siap, tidak ada tanda-tandanya, itulah kehidupan.
    وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا
    “Tidak ada yang tahu besok apa yang akan terjadi.” (QS. Luqman[31]: 34)
    Imam Bukhari menyebutkan sebuah hadits. Dari Ikrimah, dia berkata:
    سَأَلْتُ عائشةَ رضيَ اللهُ عَنْها هل سَمِعْتِ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يَتَمَثَّلُ شِعْرًا قطُّ
    “Aku bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anha apakah engkau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melantunkan bait syi’ir sesekali?”
    Kita tahu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan penyair, beliau tidak membuat dan tidak menyampaikan syair-syair.
    فقالتْ أَحْيانًا إذا دخلَ بَيْتَهُ يقولُ ويأتيكَ بِالأَخْبارِ مَنْ لمْ تُزَوِّدِ
    Kata ‘Aisyah berkata: ‘Iya kadangkala. Kalau beliau masuk ke dalam rumah, beliau berkata: ‘Akan datang kepadamu berita-berita yang engkau belum diberi bekal untuk menerimanya’.
    Subhanallah.. Bait syair ini adalah potongan syair Abdullah bin Rawahah, sahabat Nabi Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu.
    Bait syair sebelum ini menyebutkan: “Hari-hari akan menampakkan bagimu apa yang engkau tidak mengetahui sebelumnya.” Ada perkara-perkara yang kita tidak mengetahui sebelumnya ternyata tahu-tahu itu terjadi. Karena memang manusia tidak punya ilmu tentang yang ghaib, tentang apa yang akan terjadi esok hari. Makanya hari ini adalah hari kita, sedangkan hari esok belum tentu milik kita.
    Maka seorang mukmin harus siap mendapatkan informasi yang dia belum punya kesiapan menerimanya. Tapi dia bersabar dan menyerahkannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya?
    1 hr 21 min
  • Pelajaran Dari Kisah Dzulqarnain
    Pelajaran Dari Kisah Dzulqarnain adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 5 Rajab 1443 H / 07 Februari 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Hadits Larangan Menjadikan Kubur Sebagai Masjid
    Ceramah Agama Islam Tentang Pelajaran Dari Kisah Dzulqarnain
    Dzulqarnain adalah seorang raja yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan dalam surat Al-Kahfi dari ayat yang ke-83 sampai 99. Dan kita akan bahas dari tiga unsur:

    * Siapakah Dzulqarnain itu?
    * Tentang rihlahnya Dzulqarnain.
    * Tentang Yakjuj dan Makjuj.

    Dia adalah seorang raja yang memiliki kekuasaan yang sangat luas dari timur dan barat. Hal ini sesuai dengan hadits Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dimana dikatakan:
    مِن حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
    “Dari sana (daerah timur) muncul tanduk setan.”
    Dzulqarnain adalah ungkapan untuk menunjukkan bahwa raja ini kekuasaannya sangat luas, timur dan barat dikuasai oleh beliau.
    Ada juga yang mengatakan bahwa dia disebut Dzulqarnain karena raja tersebut sangat kuat. Oleh karena itu domba jantan yang kuat mempunyai tanduk.
    Ada juga yang berpendapat bahwa disebut dengan Dzulqarnain karena memang dia memiliki dua tanduk. Seakan-akan ada mahkota di atas kepalanya yang ada dua tanduknya itu. Tetapi Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata bahwa pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah bahwa maknanya raja yang menguasai timur dan barat.
    Adapun dalam kitab Allah tidak ada penyebutan tentang Dzulqarnain kecuali di surat Al-Kahfi ini dan di ayat-ayat yang akan kita bicarakan tentangnya. Adapun dalam hadits tidak ada satupun hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berbicara tentang Dzulqarnain.
    Oleh karena itu kita mengenal Dzulqarnain sebatas yang Allah kabarkan dalam Al-Qur’an, tidak boleh kita mengarang cerita.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَيَسْأَلُونَكَ عَن ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُم مِّنْهُ ذِكْرًا ‎﴿٨٣﴾‏
    “Mereka bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang Dzulqarnain. Katakanlah: ‘Aku akan bacakan sebagian kisahnya kepada kalian.'” (QS. Al-Kahfi[18]: 83)
    Ini menunjukkan tentang kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Al-Qur’an bukan karangannya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan ini merupakan dalil bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah. Dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengetahui hal yang ghaib.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian Pelajaran Dari Kisah Dzulqarnain

    Radio Rodja 756AM · Pelajaran Dari Kisah Dzulqarnain
    Mari turut membagikan link download kajian yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua...
    46 min
  • Was-Was Saat Bersuci
    Was-Was Saat Bersuci ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 5 Rajab 1443 H / 07 Februari 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Was-Was Saat Bersuci
    Di antara tipu daya dan talbis iblis dalam bab thaharah adalah berkaitan dengan pakaian yang dikenakan untuk ibadah, yaitu untuk shalat. Karena salah satu syarat shalat adalah bersih pakaian dan tempat dari najis. Di sinilah iblis masuk membisikkan dan menghembuskan was-wasnya kepada orang yang akan shalat terkait pakaian yang mereka kenakan. Setan membisiki seolah-olah pakaian itu ia tidak suci dan perlu dicuci.
    Maka kita dapati seseorang yang terkena was-was seperti ini mencuci pakaiannya berkali-kali padahal pakaian itu sudah suci. Hanya karena was-was saja seolah-olah pakaian itu telah menempel najis padanya. Bahkan Ibnul Jauzi mengatakan ada yang ekstrim mencuci pakaiannya di sungai karena menganggap tidak sah dicuci di rumah. Bahkan ada pula yang memasukkan pakaiannya ke dalam sumur seperti halnya orang-orang Yahudi yang terkenal berlebih-lebihan dalam bab thaharah ini, kebalikannya orang Nasrani yang mengabaikan bab thaharah.
    Adapun muslim pertengahan di antara keduanya. Karena muslim selalu bersikap tengah tengah dalam segala hal. Berbeda dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang selalu berada di dua sisi yang berlawanan. Orang-orang Yahudi ini bahkan ada yang menggunting pakaiannya karena khawatir ada najis disitu.
    Ini termasuk penghambur-hamburan harta tentunya. Berapa banyak baju yang akan dibuang/rusak jika ada najis menempel padanya harus digunting? Sebagian orang ada yang berlebih-lebihan juga dalam banyak hal, terutama di dalam bab thaharah. Maka setan dengan mudah memasukkan was-was ke dalam hatinya. Sehingga dia merasa kesulitan sendiri.
    Para sahabat yang mulia tidak pernah berbuat seperti itu. Mereka shalat dengan pakaian yang mereka kenakan sehari-hari. Apalagi shalat lima waktu yang kadang-kadang tidak selamanya kita berada di rumah. Terkadang kita berada di tempat kerja. Sebagian orang gara-gara bajunya bau keringat maka dia tidak shalat. Padahal keringat itu tidak najis.
    Jadi banyak manusia yang terjangkit penyakit was-was. Dan setan terus menambah keragu-raguan. Sehingga menyulitkan mereka sendiri. Padahal agama ini mudah.
    وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
    “Tidak ada yang mempersulit dirinya di dalam agama melainkan dia akan kalah.” (HR. Bukhari)
    Yaitu dia akan meninggalkan agama itu karena dia merasa berat. Padahal agama itu sejalan dengan fitrah manusia.
    Bagaimana cara selamat dari talbis iblis ini? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Was-Was Saat Bersuci
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Was-Was Saat Bersuci” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    46 min
  • Memberi Nama Terbaik
    Memberi Nama Terbaik ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 5 Rajab 1443H / 07 Februari 2022 M.

    Kajian Tentang Memberi Nama Terbaik
    Nama yang direkomendasikan di dalam agama kita itu memiliki urutan/prioritas. Kami bawakan berdasarkan keterangan dari para ulama dilandasi dari dalil-dalil yang ada bahwa skala prioritas untuk memberi nama itu sekurang-kurangnya ada lima.
    Nama terbaik
    Nama terbaik adalah nama yang direkomendasikan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu dua nama: Abdullah dan Abdurrahman. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إنَّ أحبَّ أسمائِكم إلى اللهِ عبدُ اللهِ وعبدُ الرحمنِ
    “Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah yaitu Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim)
    Sehingga kalau kita baca buku-buku sejarah, maka kita akan temukan bahwa sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu banyak sekali yang namanya Abdullah. Bahkan ada seorang ulama yang mencoba menghitung sahabat Nabi yang namanya Abdullah ternyata ada 300 orang. Untuk membedakan antara satu Abdullah dengan Abdullah yang lainnya adalah dengan menyebutkan nama bapaknya.
    Setiap orang yang bernama Abdullah seharusnya dia mengingat bahwa dia harus berupaya betul-betul menjadi hamba Allah yang baik, yang selalu menghambakan dirinya kepada Allah. Begitu pula ketika seorang memakai nama Abdurrahman, dia juga seharusnya selalu mengingat bahwa dia itu adalah hambanya Allah yang Maha Pengasih. Sehingga seharusnya dia itu menjadi manusia yang pengasih.
    Nama yang berupa penghambaan kepada Asmaul Husna
    Nama Allah bukan hanya ‘Allah’ dan ‘Ar-Rahman’, tapi masih banyak nama Allah yang lainnya. Kita tidak tahu secara pasti jumlah nama Allah itu berapa. Sehingga selama ada nama Allah ‘Azza wa Jalla yang berlandaskan Al-Qur’an atau hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang shahih, maka itu bisa dijadikan sebagai nama yang diawali dengan ‘Abdul’.
    Misalnya salah satu nama Allah adalah Al-Aziz, berarti kalau kita punya anak bisa kita beri nama Abdul Aziz. Nama Allah yang lain adalah Al-Malik, berarti kalau kita hendak memberi nama bisa dengan Abdul Malik, dan seterusnya.
    Nama para Nabi dan Rasul
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
    أنَّهم كانوا يُسمُّونَ بأنبيائِهِم والصَّالحينَ قبلَهُم
    “Dahulu mereka biasa memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama para Nabi dan nama orang-orang shahih yang hidup sebelum mereka.” (HR. Muslim)
    Jadi kebiasaan memberi nama anak dengan nama para Nabi dan Rasul itu sudah lama. Hal ini karena para Nabi dan para Rasul itu adalah teladan, orang-orang yang baik-baik. Maka kita dianjurkan untuk memakai nama para Nabi atau Rasul. Harapannya mudah-mudahan anak kita bisa meniru dan meneladani keshalihan orang-orang tersebut.
    Dan manusia yang paling shalih setelah Nabi dan Rasul adalah para sahabat. Mereka adalah manusia yang terbaik di muka bumi ini setelah para Nabi dan Rasul, terutama Khulafaur Rasyidin. Yaitu Abdullah (Abu Bakar), Umar, Utsman, Ali.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Mem...
    47 min
  • Sifat-Sifat Yang Dianjurkan Pada Seorang Muadzin
    Sifat-Sifat Yang Dianjurkan Pada Seorang Muadzin ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 5 Rajab Jumadil Akhir 1443 H / 05 Februari 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Masalah Yang Berkaitan dengan Adzan dan Iqamah
    Kajian Sifat-Sifat Yang Dianjurkan Pada Seorang Muadzin
    Muadzin adalah seorang yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini karena dia adalah pelaku ibadah yang mulia. Oleh karenanya dianjurkan sifat-sifat tertentu bagi seorang muadzin agar dia pantas untuk menjalankan ibadah yang mulia ini. Di antara sifat-sifat tersebut adalah:
    Tidak mengambil gaji
    Hendaknya seorang muadzin tidak mengambil gaji dari ibadah adzannya. Ini dianjurkan karena jelas hal ini bisa menjadikan amalan adzan seseorang lebih ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini lebih sesuai dan lebih dekat dengan sabda Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada sahabat Utsman bin Abil ‘Ash:
    وَاتَّخِذْ مُؤَذِّنًا لاَ يَأْخُذُ عَلَى أَذَانِهِ أَجْرًا
    “Jadilah seorang muadzin yang tidak mengambil upah dalam mengumandangkan adzan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i)
    Ini adalah perintah dari Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan perintah minimal menunjukkan hukum dianjurkan. Pada asalnya menunjukkan kewajiban namun para ulama banyak yang memaknai hadits ini bahwa perintah di sini menunjukkan anjuran, bukan kewajiban.
    Makanya pera ulama menegaskan apabila tidak ada seorang yang mau mengumandangkan adzan dengan sukarela, maka imam kaum muslimin harus mencari orang yang mengumandangkan adzan dan menggajinya.
    Adil dan terpercaya
    Maksud dari adil di sini adalah orang yang bukan fasik. Dia orang yang shalih/baik dan dia terpercaya. Sifat seperti ini dianjurkan ada pada seorang muadzin. Karena muadzin itu dipercaya oleh orang-orang dalam mengabarkan waktu shalat. Sehingga tidak layak seorang fasik mengumandangkan adzan, karena pada asalnya persaksian dia tidak diterima. Lalu bagaimana dia dipercaya sebagai seorang yang mengabarkan masuknya waktu adzan? Maka seharusnya seorang yang fasik dijauhkan dari amalan mengumandangkan adzan.
    Orang yang adzan juga dianjurkan orang yang shalih. Apalagi dizaman dahulu dimana seorang muadzin agar suaranya bisa tersebar lebih jauh mereka harus naik ke tempat yang tinggi. Dan ketika berada di tempat yang tinggi tersebut dia akan melihat rumah-rumah orang, dan bisa jadi dia melihat wanita yang ada di rumah-rumah tersebut. Mungkin rumahnya dipagari dan wanita merasa sudah aman di dalam rumahnya. Tapi itu masih terlihat oleh seorang muadzin yang naik ke menara untuk mengumandangkan adzan. Sehingga keadaan seorang muadzin yang shalih sangat diperlukan agar dia tidak tergoda untuk melihat hal-hal yang demikian.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala berpendapat bahwa adzannya orang fasik tidak menggugurkan fardhu kifayah. Hal ini karena menyelisihi perintah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda:
    مَن عَمِلَ عملًا ليس عليه أمرُنا فهو رَدٌّ
    “Barangsiapa yang melakukan amalan ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan kami maka amalan tersebut ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)
    Suara yang keras/lantang dan indah
    Termasuk di antara fungsi utama adzan adalah mengabarkan kepada manusia sudah masuk waktu shalat.
    1 hr 3 min
  • Mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Karena Mengharapkan Wajah Allah
    Mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Karena Mengharapkan Wajah Allah merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 4 Rajab Jumadil Akhir 1443 H / 04 Februari 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Dengan Yakin

    Kajian Hadits Mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Karena Mengharapkan Wajah Allah
    Dari Mahmud bin Ar-Rabi’, dari Itban bin Malik, ia berkata: “Aku datang ke Kota Madinah lalu aku menemui Itban bin Malik. Lalu aku berkata: ‘Hadits yang telah sampai kepadaku dari engkau tolong sampaikan kepadaku.’ Kata Itban: ‘Aku tertimpa sesuatu dari kejauhanku.’
    Dalam riwayat yang lain bahwa Itban bin Malik senantiasa menjadi imam di masjid kampungnya. Dan antara masjid dengan rumahnya itu ada lembah. Dimana kalau musim hujan maka lembah itu mengalirkan air, sehingga Itban tidak bisa shalat di masjid tersebut.
    ‘Lalu aku mengirim seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sesungguhnya aku suka engkau datang kepadaku wahai Rasulullah agar engkau shalat di rumahku. Lalu tempat shalatmu aku ingin jadikan sebagai mushala di dalam rumah.’
    ‘Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun mendatangiku ia bersama beberapa sahabatnya yang Allah kehendaki untuk datang. Lalu Nabi pun masuklah ke rumahku. Sementara beliaupun shalatlah di rumahku.’
    Dalam riwayat yang lain Rasulullah bertanya kepada Itban: ‘Dimana tempat yang kamu suka aku shalat di situ?’ lalu kemudian Itban pun menunjuk ke sebuah tempat, lalu Rasulullah pun shalat di situ. Sementara sahabat-sahabat berbincang di antara mereka.
    Dalam riwayat yang lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri shalat, lalu kemudian sahabat-sahabat yang ikut bersama Nabi pun bershaf dibelakang beliau, lalu kemudian beliaupun shalat berjamaah.
    Lalu kemudian rupanya beberapa orang yang mendengar kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ke rumah Itban datang untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian terjadilah perbincangan di antara mereka yang memperbincangkan orang-orang munafiqin. Mereka menyandarkan kepalanya orang yang mereka anggap sebagai pentolannya, yaitu Malik bin Dukhsyum.
    Dalam riwayat yang lain mereka mengatakan: ‘Itu orang munafik.’ Para sahabat itu berharap Nabi mendoakan kecelakaan untuk Malik bin Dukhsyum. Dan mereka berharap semoga Malik bin Dukhsyum ditimpa keburukan.
    Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah selesai shalat, beliau bersabda kepada para sahabat yang sedang berbincang-bincang tersebut:
    أَلَيْسَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ؟
    ‘Bukankah dia bersyahadat Laa Ilaaha Illallah dan bahwasanya aku adalah Rasulullah?’
    Maka mereka berkata: ‘Iya, dia mengucapkan Laa Ilaaha Illallah namun sebatas di lisan, tidak dengan hatinya.’ Maka Rasulullah bersabda:
    لَا يَشْهَدُ أَحَدٌ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَيَدْخُلَ النَّارَ أَوْ تَطْعَمَهُ
    ‘Tidak ada seorang pun yang bersyahadat Laa Ilaaha Illallah dan bahwasanya aku adalah Rasulullah kemudian ia masuk neraka.’
    Dalam riwayat yang lain disebutkan:
    فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
    ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan atas api neraka orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah karena mengharapkan wajah Allah.
    45 min
  • Jadilah Pejuang di Jalan Allah
    Jadilah Pejuang di Jalan Allah adalah kajian tematik yang disampaikan oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc. Hafidzahullah pada Sabtu, 3 Rajab 1443 H / 5 Februari 2022 M.
    Jadilah Pejuang di Jalan Allah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
    “Hai orang-orang yang beriman, jikalau kalian menolong Allah niscaya Allah Tabaraka wa Ta’ala pasti akan menolong kalian dan akan mengokohkan kaki-kaki kalian.” (QS. Muhammad[47]: 7)
    Maksud “mengokohkan kaki” adalah agar tetap berada di atas kebenaran di dunia, alam barzakh, dan akhirat.
    Di dalam ayat yang mulia ini Allah Tabaraka wa Ta’ala menyuruh manusia untuk menolong Allah. Dan kalimat “menolong Allah” langsung bisa dipahami maksudnya adalah berjuang untuk menegakkan agama Allah. Bukan menolong Allah seperti menolong makhluk. Karena sesuatu yang sangat difahami bahwa Allah tak butuh pertolongan siapapun.
    Yang sering ditanyakan kepada kita adalah bagaimana praktek menolong agama Allah? Maka jawabnya adalah kembalikan kepada kaum yang sudah direkomendasi menolong agama Allah, yaitu Muhajirin dan Anshar. Kalau ingin tahu bagaimana menolong agama Allah adalah bagaimana para sahabat Muhajirin dan Anshar menolong agama Allah, seperti itulah menolong agama Allah yang benar.
    Para sahabat yang jelas-jelas menolong agama Allah mulai dari awal kota Mekkah dan Madinah, sampai Rasul kita tercinta Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggalkan umatnya untuk menghadap Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dan bersama merekalah Rasul kita tercinta Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegakkan agama Allah di permukaan bumi ini.
    Awal daripada sifat sang penolong agama Allah dan para pejuang-pejuang Allah adalah jujur.
    1. Jujur
    Jujur adalah sifat pertama kalau Anda ingin menjadi pejuang agama Allah. Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di hadapan mereka ada dua pilihan, yaitu mengucapkan syahadat dengan penuh kejujuran dan berjalan di atas konsekuensi syahadat atau tidak mengucapkan kalimat itu dan memendamnya di dalam hati dan tetap berada diatas agama nenek moyang. Dan inilah kondisi fase Mekkah.
    Oleh karena itu divase Mekkah hanya ada dua kelompok manusia, yaitu mukminun dan kafirun, tidak ada munafiqun di tengah-tengah mereka. Yang berani mengucapkan syahadat adalah orang-orang jujur, yang ketika berani mengucapkannya berani menanggung resiko dan konsekuensi pahit dari berani mengucapkan syahadat.
    Maka para shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam para pejuang agama Allah, semua mereka orang yang jujur, orang yang tidak pernah berdusta. Sebanyak itu para sahabat Nabi, sebanyak itu para pejuang Islam bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak ditemukan mereka sengaja satu kali berdusta.
    Maka kalau ingin berjuang untuk agama Allah, masing-masing kita introspeksi diri dengan kejujuran kita. Para pendusta jangan pernah mengira dirinya pejuang agama Allah.
    Ketika kita berjuang ingin menegakkan agama Allah, jadilah orang yang jujur. Dan Allah menyuruh kita untuk menjadi orang yang jujur. Allah berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
    “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan jadilah kalian orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah[9]: 119)
    2. Berkorban dan Berjuang
    Sifat sahabat yang sangat dominan berikutnya adalah berkorban dan berjuang. Allah Tabaraka wa Ta’ala abadikan di dalam Al-Qur’an surah Al-Hasyr:
    لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ ‎﴿٨﴾‏ وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ ه...
    2 hr 13 min
  • Ucapan Yang Tidak Disertai Niat – Surah Al-Baqarah 225
    Ucapan Yang Tidak Disertai Niat – Surah Al-Baqarah 225 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 29 Jumadil Akhir 1443H / 01 Februari 2022 M.
    Download juga kajian sebelumnya: Istri Merupakan Ladang Untuk Suaminya – Surah Al-Baqarah 223
    Ucapan Yang Tidak Disertai Niat – Surah Al-Baqarah 225
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    لَّا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ ‎﴿٢٢٥﴾
    “Allah tidak memberikan sanksi kepada kalian disebabkan oleh main-main dalam sumpah-sumpah kalian, akan tetapi Allah memberikan sanksi disebabkan oleh apa yang disengaja oleh hati-hati kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Halim.” (QS. Al-Baqarah[2]: 225)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam ayat ini bahwa sesuatu yang tidak diniatkan itu perkara yang dimaafkan, artinya tidak berlaku padanya sanksi.
    Dari ayat ini kita ambil faidah:
    Tidak berniat mengucapkan sesuatu
    Seorang hamba tidak diberikan sanksi dari lafadz yang ia ucapkan dan tidak disertai dengan niat. Seperti orang yang bersumpah namun tidak ada niat untuk sumpah. Dan kaidah ini merupakan kaidah yang agung, banyak masalah-masalah yang berhubungan dengan ini.
    Contohnya apabila seseorang mengucapkan kata talaq kepada istrinya dan tidak tidak bermaksud untuk mentalaq, maka tidak jatuh talaqnya. Seperti seorang suami mengatakan: “Saya cerai kamu,” tapi maksud tujuannya adalah untuk mengancam saja, bukan untuk menjatuhkan talaq. Maka ini sesuai dengan niatnya, sebagaimana Nabi juga bersabda:
    إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ
    “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Contoh lagi kalau ada seorang laki-laki yang mentalaq istrinya dalam keadaan sangat marah, maka ini pun juga talaqnya tidak jatuh.
    Contoh lagi kalau ada orang yang mengucapkan kata-kata kufur namun dalam keadaan gembira yang sangat gembira, maka ia tidak kafir. Contohnya sebuah hadits bahwa Allah lebih gembira dengan taubat seorang hamba dari salah seorang dari kalian yang berada di padang pasir bersamanya untanya yang penuh makanan dan minuman. Kemudian untanya itu hilang. Ia mencari kesana-kemari tidak ketemu. Akhirnya ia berputus asa. Lalu kemudian iapun berbaringlah di dibawah pohon. Ketika ia bangun ternyata untanya sudah ada di sisinya. Lalu kemudian ia pegang tali kekangnya lalu berkata: “Ya Allah, Engkau hambaku dan aku Tuhanmu.” Dia salah karena saking gembiranya. Maka yang seperti ini dimaafkan. Karena tidak ada niat atau tidak bermaksud demikian.
    Yang dihitung oleh Allah itu yang disertai dengan niat dalam hati
    Kalau antum berkata kepada istri: “Pulang kamu ke rumah bapakmu sana.” Dan niat antum adalah mentalaq maka jatuh talaq walaupun lafadznya bukan lafadz talaq.
    Hati memiliki perbuatan
    Hati memiliki perbuatan, sebagaimana juga anggota badan pun punya perbuatan. Adapun yang dibicarakan oleh seorang instan di hatinya namun ia tidak merasa tenang dengannya, maka yang seperti ini tidak diberikan sanksi. Karena ini bukan perbuatan namanya. Berdasarkan juga hadits, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إنَّ الله تجاوز عن أمتي ما حدَّثت به أنفسها ما لم تعمل أو تكلم
    “Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku apa yang dibicarakan dalam hatinya selama tidak dilakukan atau tidak diucapkan.”
    51 min
  • Menyampaikan Kisah Uwais Al-Qarni Kepada Anak
    Menyampaikan Kisah Uwais Al-Qarni Kepada Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 29 Jumadil Akhir 1443H / 01 Februari 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Kisah Keberanian dan Semangat Berdakwah
    Menyampaikan Kisah Uwais Al-Qarni Kepada Anak
    Salah satu kisah yang perlu kita ceritakan dan kita sampaikan kepada anak-anak adalah kisah Uwais Al-Qarni. Ini tentang kebaktian seorang anak kepada orang tua. Karena salah satu harapan orang tua ketika mendidik anaknya adalah agar anak itu menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya.
    Kisah Uwais Al-Qarni salah satu kisah yang mungkin bisa memberikan manfaat bagi anak-anak kita tentang keutamaan berbakti kepada orang tua. Kisah ini dituturkan oleh Usair bin Jabir Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau berkata bahwa ketika kafilah dagang dari Yaman datang, Umar bin Khattab bertanya: “Apakah bersama kalian ada orang yang bernama Uwais bin Amir?” Maka seseorang dari mereka menjawab: “Ada.”
    Kemudian Uwais dibawa ke hadapan Umar, dan Umar bertanya: “Kamukah Uwais bin Amir yang berasal dari Kabilah Murad, kemudian dari Qarn?” Ia menjawab: “Iya benar.”
    Maka Umar bertanya lagi: “Apakah kamu pernah menderita kusta lalu sembuh setelah diobati namun tersisa bekasnya seukuran mata uang dirham?” Ia menjawab: “Iya, benar.”
    Umar kemudian bertanya lagi: “Apakah ibumu masih hidup?” Ia menjawab: “Iya, ibuku masih hidup.” Maka Umar memberitahukan kepadanya bahwa telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Akan datang kepada kalian seorang yang bernama Uwais bin Amir yang berasal dari Murad, kemudian dari Qarn, bersama sejumlah penduduk Yaman. Ia pernah menderita penyakit kusta lalu sembuh, namun tersisa bekasnya seukuran mata uang dirham. Ibunya masih hidup. Dan dia adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada ibunya. Andaikata ia bersumpah kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkannya. Jika kalian mampu meminta kepadanya maka mintakan ampunan untuk kalian, maka lakukanlah.”
    Setelah menyampaikan sabda Nabi tersebut, Umar berkata kepadanya: “Mintakanlah ampunan untukku.” Maka Uwais pun memintakan ampunan untuk Umar.
    Ini luar biasa tawadhu’nya Umar. Ketika mengetahui keutamaan seseorang ia mengakuinya dan tidak segan bertawassul kepada orang shalih dengan minta doa kepadanya. Ini salah satu bentuk tawassul yang dibolehkan.
    Demikianlah karunia yang Allah bagi-bagi kepada hamba-hambaNya. Tidak ada orang yang utama dari semua segi. Ada yang dilebihkan dari satu sisi namun tidak dari sisi yang lain.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Menyampaikan Kisah Uwais Al-Qarni Kepada Anak
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Menyampaikan Kisah Uwais Al-Qarni Kepada Anak” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    38 min
  • Anjuran Berbaring Setelah Shalat Sunnah Fajar
    Anjuran Berbaring Setelah Shalat Sunnah Fajar adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 29 Jumadil Akhir 1443H / 01 Februari 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Keutamaan Shalat-Shalat Sunnah Rawatib
    Anjuran Berbaring Setelah Shalat Sunnah Fajar
    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:
    باب استحباب الاضطجاع بعد ركعتي الفجر عَلَى جنبه الأيمن والحث عليه سواءٌ كَانَ تهجَّدَ بِاللَّيْلِ أمْ لا
    “Bab tentang dianjurkannya seorang berbaring dengan menindihkan sisi kanannya setelah shalat sunnah fajar (qabliyah subuh), apakah dia shalat tahajjud di malam hari ataupun tidak.”
    Yang akan dibawakan dalam bab ini adalah apabila seseorang selesai shalat qabliyah subuh, sambil menunggu didirikannya shalat, dianjurkan berbaring sejenak dengan menyandarkan pada sisi kanannya.
    Dan dari ‘Aisyah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anha, beliau berkata:
    كانَ النَّبيُّ ﷺ إِذَا صلَّى رَكْعَتي الْفَجْرِ، اضْطَجع عَلَى شِقِّهِ الأَيْمنِ.
    “Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kalau selesai mengerjakan shalat sunnah qabliyah subuh, beliau berbaring dengan menindihkan sisi kanannya.” (HR. Imam Bukhari)
    Juga dari ‘Aisyah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anha, beliau berkata: “Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat antara selesai shalat isya’ sampai menjelang waktu subuh masuk, beliau shalat sebanyak sebelas rakaat, setiap dua rakaat beliau salam, dan beliau menutup shalatnya dengan shalat witir satu rakaat.
    Kalau muadzin sudah selesai mengumandangkan adzan subuh dan sudah jelas bahwa telah masuk waktu shalat subuh, muadzin datang ke rumah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bangun. Lalu beliau mengerjakan dua rakaat shalat yang ringan. Kemudian beliau berbaring dengan menindihkan sisi kanannya sampai datang muadzin memberitahukan beliau lagi bahwa sudah akan iqamah.” (HR. Muslim)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang keutamaan Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anha, bahwa beliau mencermati apa yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sehingga beliau banyak memberikan ilmu kepada umat ini.
    Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anha seorang wanita alimah, cerdas dan pandai. Banyak hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang kita ketahui melalui beliau. Sehingga sampai kepada kita dari sunnah-sunnah.
    Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِذا صَلَّى أَحَدُكُمْ ركْعَتَيِ الفَجْرِ فَلْيَضطَجِعْ عَلى يمِينِهِ
    “Jika salah seorang di antara kalian telah selesai mengerjakan shalat sunnah fajar (shalat qabliyah subuh), hendaknya dia berbaring menindihkan sisi kanannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    1 hr 21 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah