Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Skala Prioritas Dalam Beribadah
    Skala Prioritas Dalam Beribadah ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 5 Rajab 1443 H / 07 Februari 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Skala Prioritas Dalam Beribadah
    Masih berbicara tentang talbis iblis terhadap ahli ibadah dalam perkara shalat. Di antaranya beliau mengatakan di sini bahwa ada yang baru Takbiratul Ihram sementara waktu yang tersisa di rakaat yang diikutinya tinggal sedikit. Dia tidak mungkin dia untuk membaca doa istiftah, waktu yang tersisa hanyalah cukup untuk membaca Al-Fatihah. Tapi dia malah sibuk membaca doa istiftah hingga imam terlanjur ruku’ sebelum dia sempat membaca surat Al-Fatihah.
    Imam Ibnul Jauzi mengatakan bahwa ini juga merupakan talbis iblis. Dia terluput dari yang wajib karena sibuk melakukan yang sunnah. Karena membaca doa istiftah adalah sunnah sementara membaca Al-Fatihah yang dia tinggalkan adalah wajib. Maka seyogyanya Al-Fatihah tidak ditinggalkan demi membaca bacaan-bacaan yang sunnah. Tapi karena mungkin perasaannya doa istiftah itu lebih penting karena ada doa-doa, sementara Al-Fatihah mungkin tidak banyak doa didalamnya, maka dia mendahulukan doa istiftah walaupun harus mengorbankan membaca surat Al-Fatihah.
    Ibnul Jauzi menceritakan saat beliau masih kecil pernah shalat di belakang gurunya yang bernama Abu Bakar Ad-Dinawari. Dia adalah seorang ahli fiqih. Suatu hari Ibnul Jauzi melakukan perbuatan seperti, maka gurunya menasihati: “Wahai anakku, sungguh para ulama fiqih berbeda pendapat tentang wajibnya membaca surat Al-Fatihah di belakang imam. Tapi mereka sepakat bahwa bahwa doa istiftah itu hukumnya sunnah. Maka sibukkanlah dirimu dengan yang wajib dan lupakan dulu yang sunnah kalau tidak bisa dikerjakan dalam satu waktu.”
    Jika kita harus memilih di antara yang wajib dan yang sunnah, maka tentunya yang wajib kita dahulukan adalah perkara yang wajib, walaupun harus terluput dari yang sunnah.
    Ini adalah salah satu kedalaman fiqih seseorang, yaitu dia dapat meletakkan skala prioritas di dalam ibadah. Kewajiban juga bermacam-macam, ada yang sifatnya lapang dan ada yang sifatnya sempit (waktu untuk mengerjakannya tidak lapang). Maka kewajiban yang waktunya sempit ini harus kita dahulukan daripada kewajiban yang mungkin waktunya lapang. Kalau kita menyibukkan dengan kewajiban yang waktunya lapang, mungkin kewajiban yang waktunya sempit ini akan terluput. Tentunya kita ingin dapat mengerjakan dua kewajiban itu tanpa mengorbankan salah satu darinya.
    Setan ingin kita meninggalkan satu kewajiban. Yaitu meluputkan kita dari satu yang utama. Karena salah satu langkah-langkah iblis adalah mengalihkan kita dari perkara yang penting kepada yang tidak penting, walaupun perkara yang tidak penting itu adalah mubah.
    Lihat juga: Enam Langkah Iblis dalam Menyesatkan Manusia
    Bagaimana cara selamat dari talbis iblis ini? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Skala Prioritas Dalam Beribadah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua.
    41 min
  • Membaca Dua Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah Sebelum Tidur
    Membaca Dua Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah Sebelum Tidur merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 12 Rajab 1443 H / 14 Februari 2022 M.
    Lihat sebelumnya: Dzikir dan Doa Sebelum Tidur

    Kajian Tentang Membaca Dua Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah Sebelum Tidur
    Di antara doa atau dzikir atau wirid yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk dibaca sebelum tidur adalah dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah, yaitu ayat 285 dan 286. Ini adalah dua ayat yang dianjurkan untuk dibaca dimalam hari sebelum tidur.
    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud Al-Badri Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    الآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مَنْ قَرَأَهُمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
    “Dua ayat di akhir surah Al-Baqarah, barangsiapa yang membacanya pada malam hari niscaya itu sudah mencukupinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ada beberapa penafsiran yang disampaikan oleh para ulama kita tentang makna ‘mencukupi’ dalam hadits ini. Ada yang mengatakan bahwa maksud ‘mencukupi’ adalah cukup sebagai pengganti shalat malam.
    Penafsiran yang kedua, kata sebagian ulama bahwa maksud dari ‘sudah mencukupi’ yaitu sudah cukup untuk perlindungan dari gangguan/godaan setan.
    Penafsiran yang ketiga, kata sebagian ulama bahwa maksudnya adalah sudah cukup untuk melindungi dari mara bahaya, baik itu dari binatang, pencuri atau bahaya yang lainnya.
    Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata bahwa ayat ini bisa mencukupi kita dari semua yang tadi disebutkan. Oleh karena itu sangat dahsyat membaca ayat ini sebelum tidur.
    Lalu bagaimana penjelasan kandungan dari ayat ini? Mari download mp3 kajiannya. Download juga mp3 bacaan dzikir pagi dan petang.
    Download mp3 Kajian Membaca Dua Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah Sebelum Tidur

    Mari turut membagikan link download kajian “Membaca Dua Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah Sebelum Tidur” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    50 min
  • Dzikir dan Doa Sebelum Tidur
    Dzikir dan Doa Sebelum Tidur merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 28 Jumadil Akhir 1443H / 31 Januari 2022 M.

    Kajian Tentang Dzikir dan Doa Sebelum Tidur
    Tidur adalah salah satu aktivitas yang tidak mungkin hilang dari diri seorang manusia. Sehebat apapun manusia tersebut, setinggi apapun jabatannya, sebanyak apapun yang dimilikinya, tidur adalah sesuatu yang merupakan kebutuhan primer bagi seorang manusia. Sehingga orang yang susah tidur biasanya akan mengalami gangguan kesehatan. Hal ini karena tubuh kita ini butuh istirahat. Bukan hanya fisik, termasuk juga otak dan organ dalam yang ada dalam tubuh kita juga butuh istirahat.
    Makanya orang yang kurang tidur jadi susah untuk berfikir karena otaknya capek, dia butuh istirahat. Sehingga tidur adalah sebuah kebutuhan primer sekaligus juga karunia dari Allah ‘Azza wa Jalla. Makanya ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan berbagai nikmat yang Allah limpahkan kepada kita, salah satunya Allah sebutkan tidur. Setelah Allah menyebutkan nikmat bumi, Allah Sebutkan nikmat gunung, nikmat kita diciptakan oleh Allah berpasang-pasangan, kemudian Allah sebutkan:
    وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا ‎﴿٩﴾
    “Kami jadikan tidur kalian sebagai waktu istirahat yang memutuskan kalian dari aktivitas seharian.” (QS. An-Naba'[78]: 9)
    Jadi tidur adalah karunia dari Allah. Tapi kadang-kadang ada orang yang susah tidur. Padahal dia sudah berupaya untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur, kemudian sudah berusaha untuk membuat suasana di kamarnya nyaman, dia juga sudah berupaya untuk membersihkan kamarnya sebersih-bersihnya, membeli kasur yang seempuk-empuknya, kenapa ada sebagian orang yang tetap susah untuk tidur? Kalaupun kemudian dia tidur, maka tidurnya tidak nyenyak. Bahkan sering mimpi yang buruk ketika tidurnya. Sehingga ketika bangun tidur tubuhnya tidak fresh.
    Tentu banyak faktor yang mungkin memicu terjadinya hal tersebut. Mungkin juga karena terlalu banyak pikiran. Atau bisa juga seseorang susah tidur karena dia tidak membaca doa dan dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Ada sebagian orang terlalu banyak pikiran, sehingga tidak bisa tidur. Padahal ketika waktunya tidur ternyata malah memikirkan masalah-masalah itu, itu tidak menyelesaikan, malah justru menambah masalah baru.
    Ayah kami, pendiri pondok pesantren Tunas Ilmu, Ustadz Zaini Muhayat Rahimahullah, beliau itu seberat apapun masalah yang sedang dihadapi, kalau sudah datang waktunya tidur maka beliau akan merebahkan tubuhnya di atas kasur, mungkin hanya hitungan menit setelah membaca doa kemudian itu sudah pulas tidurnya. Prinsip beliau ketika waktunya tidur tiba adalah: “Sekarang waktunya tidur, bukan waktunya berfikir.” Sehingga masyaAllah mudah sekali untuk istirahat.
    Inilah sebab, dimana ada sebagian orang tidak bisa tidur karena terlalu banyak pikiran. Ada juga sebab yang lain, orang tidak bisa tidur karena dia tidak membaca doa dan dzikir yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga dia tidak bisa tidur dengan baik. Hal ini karena ada gangguan-gangguan, apalagi kalau mimpinya adalah mimpi-mimpi yang buruk. Sangat mungkin mimpi-mimpi buruk itu adalah dari setan. Karena dia sebelum tidur tidak dzikir akhirnya diganggu oleh setan.
    Maka membaca dzikir atau doa sebelum tidur itu penting sekali untuk membantu kita bisa mendapatkan tidur yang nyaman.
    48 min
  • Khutbah Jumat: Dua Perkara Yang Membuat Kita Layak Masuk Surga
    Khutbah Jumat: Dua Perkara Yang Membuat Kita Layak Masuk Surga ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 9 Rajab 1443 H / 11 Februari 2022 M.
    Khutbah Pertama Tentang Dua Perkara Yang Membuat Kita Layak Masuk Surga
    Jamaah Jumat, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati kita semua.. Pertama-tama hendaknya kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena dengan takwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan merahmati dan dan memberikan kemenangan yang besar bagi kita.
    وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
    “Kesudahan yang baik hanyalah milik orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash[28]: 83)
    Kemudian hendaknya kita senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan karunia yang Allah limpahkan kepada kepada kita. Kemudian shalawat dan salam yang tidak bosan-bosannya kita limpahkan untuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi kita bersabda kepada kita semua:
    يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
    “Wahai sekalian manusia. Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)
    Dalam riwayat lain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
    “Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)
    Berbicara ampunan, ada dua perkara yang membuat kita layak masuk surga. Yang pertama adalah ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang kedua adalah rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    وَاعْلَمُوْا أَنَّهُ لَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ
    “Ketahuilah, tidak ada yang selamat (dari api neraka) dengan amalnya.”
    Para sahabat bertanya: “Tidak juga engkau wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Tidak juga saya, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala menaungiku dengan ampunan dan rahmatNya.” (HR. Muslim)
    Dengan dua hal itu kita layak dan pantas untuk kembali ke surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ketika Adam dikeluarkan dari surga, Adam mohon ampun kepada Allah dan meminta kepada Allah dua hal:
    رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
    “Ya Rabb kami, kami telah mendzalimi diri-diri kami…”
    Adam membuat pengakuan atas kesalahan yang dilakukannya, dia tidak melemparkan kesalahan kepada orang lain, walaupun kita tahu ceritanya bagaimana Adam melanggar perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu digoda oleh iblis dengan segala tipu daya dan bujuk rayunya, sehingga Adam mendekati pohon yang dilarang untuk didekati, memetik buahnya dan memakannya.
    Adam tidak melemparkan kesalahan kepada iblis. Adam memberikan contoh kepada kita semua bahwa kalau kita berbuat salah maka akuilah kesalahan itu dan ucapkanlah رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا  (Ya Rab kami, kami telah mendzalimi diri-diri kami…” karena berbuat dosa itu hakikatnya adalah mendzalimi diri kita sendiri.
    Ini pelajaran pertama, jangan suka melemparkan kesalahan kepada orang lain, mencari kambing hitam, seolah-olah kita ingin lepas dari kesalahan itu,
    19 min
  • Kaum Musyrikin Tidak Mengerjakan Tafsiran Tauhid
    Kaum Musyrikin Tidak Mengerjakan Tafsiran Tauhid adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 27 Jumadil Akhir 1442 H / 09 Februari 2021 M.

    Kajian Tentang Kaum Musyrikin Tidak Mengerjakan Tafsiran Tauhid
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ …
    “Dan di antara manusia ada yang menjadikan sekutu-sekutu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka mencintai sekutu-sekutu tersebut sebagaimana mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan orang-orang yang beriman lebih dahsyat cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala…” (QS. Al-Baqarah[2]: 165)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keadaan orang-orang musyrik di dunia dan tempat mereka di akhirat. Yang mana mereka telah menjadikan sekutu-sekutu untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang dimaksud dengan sekutu-sekutu adalah semisal-semisal dan tandingan-tandingan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka beribadah kepada sekutu-sekutu tersebut bersamaan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka mencintai sekutu-sekutu tersebut seperti mereka mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah kebiasaan orang-orang musyrik. Padahal tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Dia, dan tidak ada sekutu bagiNya, tidak ada teman bagiNya, dan tidak ada sekutu bersamaNya.
    Dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, beliau berkata: “Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:
    أنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وهو خَلَقَكَ
    “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ini menunjukkan bahwasannya orang-orang musyrik melakukan dosa paling besar dan mereka tidak mengerjakan tafsiran dari tauhid. Adapun orang-orang yang beriman, mereka senantiasa beribadah hanya kepada Allah dan mereka senantiasa menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya yang paling berhak untuk diibadahi, mereka memurnikan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka tidak mencintai selain Allah sebagaimana mereka mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Orang-orang yang beriman lebih dahsyat cinta kepada Allah
    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi: “Dan orang-orang yang beriman lebih dahsyat cinta kepada Allah” karena kecintaan orang-orang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kesempurnaan pengetahuan mereka terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pengagungan serta pentauhidan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mereka tidak mensyirikkan Allah dengan suatu apapun, dan yang ada mereka hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan bertawakkal hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mereka bersandar di dalam seluruh perkara-perkara mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam orang-orang musyrik yang mensyirikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, orang-orang yang mendzalimi mereka dengan kesyirikan tersebut. Yaitu
    …وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا …
    “…dan jikalau orang-orang yang berbuat dzalim (yaitu orang-orang yang mensyirikan Allah Subhanahu wa Ta’ala) melihat siksa Allah Subha...
    1 hr 32 min
  • Bahaya Mengharamkan Apa Yang Allah Halalkan dan Sebaliknya
    Bahaya Mengharamkan Apa Yang Allah Halalkan dan Sebaliknya adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 30 Jumadil Akhir 1443 H / 2 Februari 2022 M.

    Kajian Tentang Bahaya Mengharamkan Apa Yang Allah Halalkan dan Sebaliknya
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ…
    “Mereka menjadikan rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala…” (QS. At-Taubah[9]: 31)
    Orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadikan para ulama dan ahli ibadah mereka sebagai sekutu-sekutu yang diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ayat ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk sahabat beliau, yaitu Adi bin Hatim.
    Adi bin Hatim yang waktu itu baru masuk Islam, beliau berkata: “Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nasrani tidak beribadah kepada para ulama dan para ahli ibadah mereka.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:
    بلى إنهم حرموا عليهم الحلال وأحلوا لهم الحرام فاتبعوهم فذلك عبادتهم إياهم
    “Benar, mereka beribadah kepada para ulama dan para ahli ibadah mereka. Sesungguhnya para ulama dan ahli ibadah mereka mengharamkan atas mereka yang halal dan menghalalkan bagi mereka yang haram, lalu umatnya mengikuti mereka. Demikianlah ibadah mereka kepada para ulama dan ahli ibadah.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
    Pensyariatan halal dan haram itu hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada yang berhak menghalalkan dan mengharamkan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka ketika ada yang menghalalkan (apalagi itu diharamkan oleh Allah) kemudian diikuti, itu berarti beribadah kepada para ulama dan beribadah kepada para ahli ibadah mereka. Atau juga ada yang haram kemudian dihalalkan, lalu diikuti penghalalan tersebut, maka ini berarti beribadah kepada yang menghalalkan yang haram tersebut.
    Imam As-Suddi berkata bahwa Yahudi dan Nasrani meminta nasihat kepada para pembesar mereka dan membuang kitab-kitab Allah dibalik punggung mereka. Artinya orang-orang tersebut mengambil perkataan manusia dan membuang firman-firman Allah yang ada di dalam kitab-kitab suci. Oleh sebab itulah Allah berfirman:
    … وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ ‎
    “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah yang satu, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Dia. Allah Maha Suci atas apa yang mereka sekutukan.” (QS. At-Taubah[9]: 31)
    Artinya termasuk menjadikan Tuhan yang diibadahi selain Allah adalah menjadikan para ulama dan para ahli ibadah ditaati dalam perihal bermaksiat kepada Allah. Allah mengharamkan sesuatu kemudian para ulama dan para ahli ibadah menghalalkan lalu orang-orang mengikuti para ulama dan para ahli ibadah, ini sama saja dengan mereka menjadikan para ulama dan para ahli ibadah sebagai Tuhan selain Allah.
    Maka nampak dengan bahwa siapa yang mentaati selain Allah dan RasulNya dan berpaling dari mengambil Al-Qur’an dan sunnah di dalam penghalalan apa yang Allah telah haramkan atau pengharaman apa yang Allah telah halalkan dan mentaatinya dalam perihal bermaksiat kepada Allah dan mengikutinya di dalam apa saja yang tidak diizinkan oleh Allah Sub...
    1 hr 27 min
  • Mengerjakan Konsekuensi Laa Ilaaha Illallah
    Mengerjakan Konsekuensi Laa Ilaaha Illallah adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 13 Jumadil Akhir 1442 H / 27 Januari 2021 M.

    Kajian Tentang Mengerjakan Konsekuensi Laa Ilaaha Illallah
    Pada pertemuan sebelumnya kita sudah membaca surah Al-Isra’ ayat 57 beserta penjelasannya. Ini menunjukkan kepada hakikat tauhid, yaitu menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya yang diibadahi. Karena orang-orang yang diagungkan oleh manusia dari para Nabi, Rasul, Malaikat dan orang-orang shalih, mereka beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Pada pertemuan yang sebelumnya juga kita sudah membaca dalil yang kedua, yaitu surah Az-Zukhruf ayat 26-28. Ayat ini menceritakan tentang Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam yang berlepas diri dari bapak dan kaumnya yang mensyirikkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hubungan dalil yang kedua dengan tafsir tauhid dan syahadat adalah ketika Nabi Ibrahim berkata:
    … إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ
    “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian ibadahi.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 26)
    Di dalam ayat ini terdapat pembatalan seluruh tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan bahwasanya tuhan-tuhan tersebut tidak dapat diibadahi, hanya Allah yang berhak untuk diibadahi.
    Dan inti pendalilan dari ayat-ayat tersebut adalah ketika Nabi Ibrahim berkata:
    إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي…
    “Kecuali yang telah menciptakan aku…” (QS. Az-Zukhruf[43]: 27)
    Ini menunjukkan syahadat Laa Ilaaha Illallah dan tafsiran tauhid. Yaitu menetapkan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Jadi surah Az-Zukhruf 26 dan 27 adalah menggabungkan dua rukun tauhid, itulah makna Laa Ilaaha Illallah. Yaitu peniadaan tuhan selain Allah dan penetapan hanya Allah yang paling berhak untuk diibadahi.
    Dalil yang ketiga, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ…
    “Mereka menjadikan rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala…” (QS. At-Taubah[9]: 31)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ…
    “Dan dari manusia ada yang menjadikan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sekutu-sekutu, ia mencintai sekutu-sekutu tersebut sebagaimana ia mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Baqarah[2]: 165)
    Maka setiap yang menjadikan sekutu untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia berdoa kepada sekutu tersebut (tidak kepada Allah), ia berharap kepada sekutu tersebut, ia menginginkan sekutu tersebut untuk apa yang ia harapkan dari tergapainya hajat-hajat dan terlepasnya kesulitan-kesulitannya, seperti keadaan orang-orang yang menyembah kuburan dan para thaghut dan berhala selain Allah, maka wajib baginya untuk mengagungkan dan mencintai mereka karena hal tersebut. Maka mereka ini mencintai sekutu-sekutu bersamaan mereka mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Meskipun mereka mencintai Allah dan mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, mereka shalat dan puasa, tetap saja orang yang seperti ini telah mensyirikkan Allah didalam kecintaan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan mereka telah mensyirikkan Allah karena beribadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Saat mereka menjadikan sekutu-sekutu, mereka mencintai sekutu-sekutu tersebut seperti kecintaan mereka terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala,
    1 hr 30 min
  • Masa Iddah Wanita – Surah Al-Baqarah 228
    Masa Iddah Wanita – Surah Al-Baqarah 228 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 6 Rajab 1443 H / 8 Februari 2022 M.
    Download juga kajian sebelumnya: Ucapan Yang Tidak Disertai Niat – Surah Al-Baqarah 225
    Masa Iddah Wanita – Surah Al-Baqarah 228
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ۚ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَن يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِن كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَٰلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا ۚ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
    “Dan wanita-wanita yang ditalaq oleh suaminya, maka hendaklah mereka menunggu tiga kali haid. Dan tidak halal bagi para wanita untuk menyembunyikan apa yang Allah ciptakan dalam rahim-rahim mereka, jika memang para wanita itu beriman kepada Allah dan kehidupan akhirat. Dan suami-suami mereka yang paling berhak untuk mengembalikan mereka dalam hal itu, jika mereka (para suami) ingin ishlah. Dan bagi mereka (para istri) pun demikian pula punya hak sebagaimana atas mereka juga hak dengan cara yang ma’ruf. Dan laki-laki memiliki derajat yang lebih dibandingkan wanita. Dan Allah Maka Perkara lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah[2]: 228)
    Di antara faedah dari ayat ini adalah:
    Masa iddah perceraian tanpa talaq
    Orang yang bercerai dengan istrinya bukan talaq, maka pada waktu itu tidak berlaku padanya iddah tiga kali haid. Contohnya jika terjadi khulu’. Kalau perpisahan suami istrinya itu bukan kena talaq, tapi karena khulu’, maka pada waktu itu cukup sekali haid saja.
    Mentalaq istri yang sedang haid
    Jika suami mentalaq istrinya saat sedang haid, maka tidak dianggap haid yang sedang dia berhaid itu saat ditalaq. Misalnya istri sedang haid kemudian si suami mentalaq, apakah saat haid itu dianggap satu? Maka jawabnya tidak dianggap.
    Namun terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama, apakah mentalaq wanita yang sedang haid sah talaknya atau tidak? Syaikh Utsaimin mengatakan bahwa pendapat yang benar bahwa mentalaq istri yang sedang haid itu tidak jatuh. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar, yaitu perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena waktu itu Ibnu ‘Umar mentalaq istrinya yang sedang haid. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan Ibnu ‘Umar untuk merujuknya.
    Lihat juga: Masa Iddah Wanita
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian Tentang Masa Iddah Wanita – Surah Al-Baqarah 228

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 225
    Jangan lupa untuk ikut membagikan link
    50 min
  • Kisah Tiga Orang Bani Israil
    Kisah Tiga Orang Bani Israil merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 6 Rajab 1443 H / 8 Februari 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Menyampaikan Kisah Uwais Al-Qarni Kepada Anak
    Kisah Tiga Orang Bani Israil
    Kisah tiga orang Bani Israil mengandung banyak sekali faedah. Di antara yang paling penting adalah kewajiban mensyukuri kelebihan-kelebihan yang Allah berikan. Ketika kita dapat lebih jangan lupa masa kita kurang. Hal ini sangat penting, yaitu menanamkan dalam diri mereka jiwa bersyukur, menerima karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rasa syukur hingga ia bisa memanfaatkan segala kelebihan itu untuk kebaikan. Karena tidak semua orang yang Allah berikan kelebihan ternyata digunakan untuk kebaikan. Banyak juga yang menggunakannya untuk kejahatan dan keburukan.
    Ini sesuatu pelajaran yang disampaikan Nabi yang dipetik dari kisah Bani Israil. Nabi berkata bahwa dahulu ada tiga orang Bani Israil. Yang satu kena penyakit kusta, yang satu lagi terkena penyakit alopecia (gugur rambutnya hingga botak), dan yang satu lagi buta.
    Disamping sakit, mereka juga miskin. Tentunya orang miskin yang sakit tidak bisa berobat, mereka sabar menjalani sakit. Mereka diuji dengan kemiskinan dan penyakit. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
    فَأَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ
    “Kemudian Allah ingin menguji mereka.”
    Di sini timbul satu pertanyaan, bukankah mereka sudah diuji? Lalu ujian apa lagi yang hendak diberikan kepada mereka? Bukankah mereka telah diuji dengan sakit dan bukankah mereka juga sudah diuji dengan kemiskinan? Tapi Nabi mengatakan bahwa Allah ingin menguji mereka. Tentunya ujian yang akan Allah berikat pasti lebih berat daripada ujian yang telah mereka jalani.
    Maka di sini perlu kita ketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji kita dengan dua bentuk ujian. Allah mengatakan:
    كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
    “Semua yang hidup pasti merasakan mati. Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan dan kepada Kami-lah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya[21]: 35)
    Jadi Allah menyebut di sini dua bentuk ujian, yaitu ujian berupa keburukan dan ujian berupa kebaikan. Sehingga ujian itu bukan hanya satu yang kita pandang buruk dan kita anggap sebagai musibah lalu kita katakan ‘Saya diuji Allah’. Tapi kebaikan-kebaikan yang Allah berikan juga itu merupakan ujian.
    Kebanyakan orang kalau sakit dia mengatakan ‘Saya sedang diuji Allah’, tapi kalau dia diberi sehat maka tidak ada orang yang berkata ‘Saya sedang diuji Allah’ karena orang tidak merasa diuji ketika sehat sehingga banyak yang tertipu dengan ujian sehat.
    Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
    “Dua nikmat yang banyak memperdaya manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
    Ini adalah nikmat kebaikan tapi juga sekaligus juga ujian. Dan kalau kita lihat ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keburukan lebih dulu baru menyebutkan kebaikan. Ini urutan ujian, yaitu ujian yang ringan kemudian ujian yang lebih berat. Ternyata ujian dengan kebaikan itu jauh lebih berat daripada ujian berupa keburukan.
    Contohnya sakit dan sehat. Ketika kita diuji dengan sakit mungkin kita ingat Allah, kita pun berdoa dengan khusyuk,
    51 min
  • Ucapan Seseorang: “Aku Sedang Malas”
    Ucapan Seseorang: “Aku Sedang Malas” adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 5 Rajab 1443 H / 07 Februari 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Ucapan Seseorang: “Aku Sedang Malas”
    Kita sampai pada باب قول الرجل يا هنتاه (Bab tentang ucapan seseorang: ‘Wahai ini’). Ini bicara adab. Terkadang kita beranggapan ucapan kita baik dan tutur kata kita lumrah. Namun ternyata orang menanggapinya tidak seperti itu. Sehingga disinilah pentingnya kita belajar, pentingnya kita bersosialisasi dengan masyarakat sehingga kita dapat mengetahui mana ucapan-ucapan yang tidak pantas diucapkan.
    Dari Habib bin Shuhban Al-Asadi, dia mengatakan:
    رَأَيْتُ عَمَّارًا صَلَّى الْمَكْتُوبَةَ ثُمَّ قَالَ لِرَجُلٍ إِلَى جَنْبِهِ: يَا هَنَاهْ، ثُمَّ قَامَ
    “Aku melihat ‘Ammar selesai shalat maktubah, kemudian dia berkata kepada orang yang di sebelahnya: ‘Wahai orang ini’ kemudian dia pergi.”
    Ini khusus untuk panggilan. Disebutkan makna panggilan ini menunjukkan bahwa orang itu sedikit pemahamannya tentang tipu daya manusia. Ada orang yang sebenarnya sedang digoda atau ditipu, tapi karena dia orang yang polos maka dia menganggapnya biasa-biasa saja.
    Jadi panggilan ini ditujukan kepada orang yang polos dan tidak terlalu memahami tipu daya orang-orang jahat. Sehingga kadangkala panggilan ini menjadi teguran.
    Hadits lain dalam bab ini Imam Bukhari menyebutkan: Dari ‘Amr bin Syarid, dari ayahnya, ia berkata: “Suatu hari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memboncengku di atas kendaraannya, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya:
    هَلْ مَعَكَ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ؟
    “Apakah engkau punya hafalan bait-bait syairnya Umayyah bin Abi Shalt?”
    Syarid mengatakan: “Iya, ada bait-bait yang aku hafal dari Umayyah. Kemudian aku sampaikan satu bait.”
    Ini menunjukkan adab juga. Karena dia tidak tahu apakah Nabi mau banyak atau mau sedikit dari bait-bait syair yang dihafal oleh Syarid. Ketika dia membacakan satu bait, Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam meminta tambahan dengan ucapannya:
    هِيهِ
    “Tambah lagi.”
    Sampai Syarid menyampaikan 100 bait syair.
    Para ulama ketika menjelaskan hadits ini mereka mengatakan bahwa diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk membacakan bait-bait syair yang terpuji, yang bagus, yang di dalamnya ada hikmah, walaupun itu orang non muslim. Sehingga tidak ada masalah tatkala ada satu ungkapan yang baik walaupun itu dari orang jahiliyah maka diperbolehkan.
    Kalau kita merasa aman dengan membaca atau mendengarkan syairnya tersebut, maka tidak ada masalah. Tapi kalau ternyata ucapannya mengandung syubhat berisi keraguan/kerancuan dalam agama yang dapat mempengaruhi orang yang mendengarkannya, maka kita tidak boleh mendengarkan/membacanya sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala melihat ‘Umar bin Khattab Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu di tangannya ada Taurat dan dia sedang membacanya, maka Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengatakan:
    امتهوكون فيها يا ابن الخطاب – لو كان موسى حيا ما وسعه الا اتباعي
    “Apa yang kau cari lagi di sana wahai Ibnul Khattab – kalau Musa itu hidup, dia tidak punya jalan kecuali harus mengikuti ajaranku.”
    Jadi kenapa mencari di tempat lain, sedangkan Allah sudah menurunkan Al-Qur’anul Karim yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya,
    1 hr 24 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah