Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Keistimewaan Waktu Pagi
    Keistimewaan Waktu Pagi merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 14 Jumadil Akhir 1443 H / 17 Januari 2022 M.

    Kajian Tentang Keistimewaan Waktu Pagi
    Banyak orang yang tidak mengerti atau belum memahami betapa istimewanya waktu pagi. Atau mereka sudah mengerti betapa mahalnya waktu di pagi hari akan tetapi karena kalah dengan dorongan nafsu akhirnya menyia-nyiakan waktu paginya.
    Kita tahu bahwa pagi itu memang udaranya dingin, kalau sudah mendekati subuh rasa-rasanya kasur terasa semakin empuk, selimut terasa semakin hangat, mata terasa semakin berat untuk dibuka. Itulah godaan ketika adzan subuh berkumandang.
    Ketika seseorang kemudian bisa mengalahkan dorongan nafsunya sehingga tetap mau bangkit dari kasur untuk menunaikan shalat subuh, ternyata godaan di waktu pagi pun masih datang, yaitu setelah subuh. Karena ternyata setelah subuh akan timbul godaan seakan-akan tidur habis subuh itu sangat nikmat (dengan berbagai alasan).
    Lain cerita ketika orang sedang sakit atau baru datang berpergian. Tapi ketika dalam kondisi sehat wal afiat kemudian tetap meringkuk di atas kasur, maka ini adalah sesuatu yang harus diperbaiki dari seseorang.
    Karena pagi adalah waktu yang paling indah, istimewa dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Makanya para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat menghargai waktu pagi, mereka sangat berupaya memanfaatkan waktu pagi sebaik mungkin.
    Ada seorang Tabiin bernama Abu Wa’il (salah satu murid Abdullah Ibnu Masud Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu). Dia bercerita bahwa pada suatu hari beliau dan beberapa teman-temannya berkunjung ke rumah Sang Guru. Begitu sampai ke depan pintu rumah Ibnu Mas’ud, mereka pun mengucapkan salam. Setelah dijawab salamnya, lalu mereka dipersilahkan masuk. Tapi ternyata Abu Wa’il tetap berdiri di depan pintu seakan-akan ada yang menghalangi.
    Akhirnya pembantunya Ibnu Mas’ud keluar dan menyampaikan silahkan masuk. Begitu mereka masuk ternyata Ibnu Mas’ud sedang duduk menghadap kiblat dan berdzikir. Beliau berhenti sebentar kemudian bertanya kepada murid-muridnya: “Kalian tadi kenapa tidak segera masuk?” Murid-muridnya menjawab: “Wahai guru, kami khawatir jangan-jangan ada salah satu anggota keluargamu yang sedang tidur.”
    Maka Ibnu Mas’ud berkata: “Apa kalian pikir keluarganya Ibnu Mas’ud itu pemalas?” Artinya saat itu kalau ada orang tidur setelah subuh dan tidak ada alasan apa-apa (bukan sedang sakit/kelelahan) maka itu terkesan kebiasaannya para pemalas.
    Akhirnya muridnya diam dan Ibnu Mas’ud melanjutkan dzikirnya sampai matahari terbit. Ketika matahari terbit, Ibnu Mas’ud berkata:
    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَقَالَنَا يَوْمَنَا هَذَا وَلَمْ يُهْلِكْنَا بِذُنُوبِنَا
    “Segala puji bagi Allah yang masih memberi kesempatan hidup untuk kita di pagi ini dan tidak membinasakan kita akibat dosa-dosa yang kita kerjakan.” (HR. Muslim)
    Dari satu kisah ini dan masih ada kisah-kisah yang lain itu menunjukkan betapa para ulama Salaf sangat menghargai waktu pagi. Mereka berupaya untuk mengoptimalkan pagi itu dalam kebaikan. Sebab kalau pagi itu dioptimalkan untuk kebaikan, maka sisa hari itu akan dipenuhi dengan produktivitas dalam melakukan kebajikan.
    Syaikh ‘Abdurrazzaq Al-Badr Hafidzahullah menyampaikan bahwa pagi hari itu seperti masa muda sedangkan sore dan malam seperti masa tua. Apabila seseorang pada masa mudanya rutin melakukan sebuah kebiasaan, maka biasanya kebiasaan itu akan terbawa sampai masa tuanya.
    53 min
  • Bertemu dengan Allah Membawa Keimanan Tanpa Keraguan
    Bertemu dengan Allah Membawa Keimanan Tanpa Keraguan merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 13 Jumadil Akhir 1443 H / 16 Januari 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Kajian Hadits “Aku Diutus Untuk Memerangi Manusia”

    Kajian Hadits Bertemu dengan Allah Membawa Keimanan Tanpa Keraguan
    Dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
    “Siapa yang meninggal dalam keadaan ia berilmu (yakin) bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah, maka ia pasti masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim)
    Disini menunjukkan ﺑﺸﺎﺭﺓ ﻋﻈﻴﻤﺔ (kabar gembira yang sangat agung) bagi siapa yang meninggal diatas Laa Ilaaha Illallah. Dimana dia benar-benar memahami apa yang diinginkan oleh kalimat Laa Ilaaha Illallah. Adapun orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah tanpa memahami maknanya lalu kemudian melakukan pembatal-pembatalnya berupa kesyirikan, maka ini tidak bermanfaat ucapan Laa Ilaaha Illallah-nya.
    Oleh karena itulah para ulama mengatakan bahwa syarat Laa Ilaaha Illallah yang paling pertama adalah berilmu tentang Laa Ilaaha Illallah. Dasarnya adalah hadits yang kita bahas ini.
    Lihat juga: Syarat-Syarat Laa Ilaaha Illallah
    Maka dari itu kewajiban kita adalah untuk memahami betul tentang apa itu makna Laa Ilaaha Illallah, ini sangat dasar sekali. Siapapun yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah pahami betul-betul, tidak cukup sebatas mengucapkan Laa Ilaaha Illallah tanpa kita memahami maknanya, tanpa mengamalkan konsekuensinya. Bahkan tidak diterima Laa Ilaaha Illallah apabila apabila seseorang jatuh kepada pembatal-pembatal Laa Ilaaha Illallah.
    Konsekuensi Laa Ilaaha Illallah
    Laa Ilaaha Illallah berkonsekuensi, yang pertama hanya menetapkan bahwa Ilah yang paling berhak disembah hanyalah Allah. Yang kedua, tidak mengakui semua yang disembah selain Allah. Semua yang disembah selain Allah wajib kita kufur kepadanya. Sebagaimana Allah menjelaskan dalam FirmanNya:
    فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ
    “Siapa yang kafir kepada Thaghut (semua yang disembah selain Allah) dan beriman kepada Allah…” (QS. Al-Baqarah[2]: 256)
    Inilah makna Laa Ilaha Illallah; Laa Ilaha adalah nafiyah (meniadakan) semua yang disembah selain Allah, sedangkan Illallah adalah itsbat (menetapkan) bahwa Allah satu-satunya Dzat yang berhak disembah dan diibadahi. Maka ibadah hanyalah untuk Allah. Siapa yang memalingkan ibadah kepada selain Allah, maka hakekatnya dia telah berbuat kesyirikan.
    Contoh ibadah adalah doa. Orang yang berdoa kepada selain Allah, seperti orang yang minta kepada mayat yang ada di kuburan, atau orang yang berdoa kepada patung, maka sungguh ia telah berbuat syirik.
    Di antara contoh ibadah adalah berharap. Siapa yang menggantungkan pengharapannya kepada selain Allah, sungguh ia telah berbuat syirik. Di antara macam ibadah adalah takut. Siapa yang takut kepada selain Allah untuk memberikan padanya mudharat dan dia yakini bahwa sesuatu itu bisa memberikan mudharat tanpa izin Allah, maka dia telah berbuat syirik.
    Maka orang yang takut untuk dimudharati oleh pohon, lalu Antum bilang “permisi” atau mengklakson dengan anggapan agar t...
    50 min
  • Istri Merupakan Ladang Untuk Suaminya – Surah Al-Baqarah 223
    Istri Merupakan Ladang Untuk Suaminya – Surah Al-Baqarah 223 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 2 Jumadil Akhir 1443 H / 4 Januari 2022 M.
    Download juga kajian sebelumnya: Haram Menikah dengan Wanita Musyrik – Surah Al-Baqarah 221
    Istri Merupakan Ladang Untuk Suaminya – Surah Al-Baqarah 223
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُم مُّلَاقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ ‎﴿٢٢٣﴾
    “Istri-istri kalian adalah ladang untuk kalian, maka silahkan datangi ladang kalian bagaimanapun yang kalian mau. Dan persembahkanlah untuk diri kalian berupa ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwasanya kalian semua pasti akan bertemu denganNya. Dan berikan kabar gembira untuk orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah[2]: 223)
    Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpamakan istri bagaikan ladang. Artinya istri-istri kalian itu tempat menanam benih sebagaimana halnya ladang sebagai tempat petani menanam benih-benih padi yang kemudian mengeluarkan tanaman.
    Lalu Allah mengatakan: “Silahkan kalian datangi ladang kalian sesuai dengan kamauan kalian selama pada kemaluannya (bukan pada duburnya).” Karena mendatangi  pada dubur adalah perkara yang diharamkan dalam syariat.
    Lalu Allah mengatakan: “Persembahkan untuk keselamatan kalian berupa ketaatan.” Yaitu berupa ketaatan, demikian pula apa saja yang bermanfaat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk kita. Allah menyebutkan hal ini setelah menyebutkan “mendatangi istri” adalah agar kita tidak disibukkan dengan hanya memikirkan jima’ saja, sehingga akhirnya kita pun melupakan hal-hal yang bermanfaat untuk akhirat kita. Di antara tujuan dari bersetubuh adalah agar terjaga kemaluan kalian dan terhindar dari perbuatan zina.
    Kemudian Allah mengatakan: “Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwasanya kalian akan bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Di sini Allah mengingatkan agar kita betul-betul mempersiapkan diri dengan banyak ketaatan. Jangan sampai kita hanya memikirkan seputar kemaluan dan perut saja dan melupakan diri untuk berbuat ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian Tentang Istri Merupakan Ladang Untuk Suaminya – Surah Al-Baqarah 223

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 223
    Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian “Istri Merupakan Ladang Untuk Suaminya – Surah Al-Baqarah 223” ini ke facebook, twitter dan yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.
    52 min
  • Khutbah Jumat: Hanya Allah Yang Mampu Menolak Mudharat
    Khutbah Jumat: Hanya Allah Yang Mampu Menolak Mudharat ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 11 Jumadil Akhir 1443 H / 14 Januari 2022 M.
    Khutbah Pertama Hanya Allah Yang Mampu Menolak Mudharat
    Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
    وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ…
    “Apabila kamu ditimpa mudharat, tidak ada yang bisa menghilangkannya kecuali Allah saja.” (QS. Yunus[10]: 107)
    Sebuah keyakinan yang Allah tanamkan kepada Rasulullah, demikian pula kepada umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, aqidah tauhid. Yaitu bahwasanya tidak ada yang bisa menghilangkan mudharat, baik itu kesialan, ataupun kesakitan, ataupun musibah dan bencana ataupun bala kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Hanya Allah yang mampu menghilangkan itu semuanya.
    Maka kewajiban seorang hamba ketika ditimpa musibah adalah dia kembali kepada Allah. Dan kewajiban seorang hamba agar ia tidak ditimpa musibah adalah dia senantiasa berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara kesyirikan adalah ketika seseorang meminta perlindungan kepada selain Allah atau menjadikan sesuatu untuk melindungi diri mereka dari bala akan menimpa mereka.
    Di negeri kita, kita dapati mereka-mereka yang memasang sesajen misalnya. Mereka menganggap bahwasanya sesajen itu bisa menolak bala, bisa menghindarkan berbagai macam musibah yang akan menimpa. Padahal Subhanallah, sesajen itu hakekatnya persembahan kepada para Jin. Padahal hakekatnya itu adalah memohon perlindungan kepada para Jin. Itu bukan sama sekali menolak bala, karena sesungguhnya sesajen sendiri tidak bisa menolak bala. Bahkan dirinya sendiri tidak bisa menolak orang yang hendak membuangnya. Apabila sesajennya saja tidak bisa melakukan apa-apa, bagaimana hendak menolak balak yang lebih besar dari itu?
    Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dalam Al-Qur’an:
    وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ…
    “Apabila kamu ditimpa mudharat (berupa kesialan, penyakit, bala, musibah), tidak ada yang bisa mengangkatnya kecuali Allah saja…” (QS. Yunus[10]: 107)
    Dahulu kaum musyrikin Quraisy,
    فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
    “Maka apabila mereka berlayar di lautan dan ditimpa ombak yang besar, mereka hanya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, mereka tinggalkan tuhan-tuhan yang mereka sembah, mereka tinggalkan Latta, ‘Uzza, Manat, dan Hubal, dan mereka hanya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Namun ketika Allah selamatkan mereka ke daratan, ternyata mereka kembali berbuat syirik.” (QS. Al-Ankabut[29]: 65)
    Sementara dizaman sekarang, sebagian orangnya mengaku dirinya muslim, mereka membuat sesajen baik senang maupun susah. Demikian pula ketika ditimpa musibah dan bala serta bencana, semakin mereka mempersembahkan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan dia mengaku dirinya seorang muslim.
    Berapa banyak di negeri kita orang-orang seperti itu. Katanya itu semuanya untuk menolak bala, padahal tidak ada yang bisa menolak bala kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Di antara mereka ada yang mempersembahkan kepala kambing, di antara mereka ada yang mempersembahkan kepala kerbau, padahal kambing yang menciptakan adalah Allah, kerbau yang menciptakan adalah Allah, sapi yang menciptakan adalah Allah. Lalu kenapa dipersembahkan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla?
    Sungguh demi Allah, itulah kesyirikan yang tidak pernah Allah ampuni seseorang yang apabila mati diatasnya. Allah berfirman:
    16 min
  • Etika Lebih Baik dari Sebagian Amal
    Etika Lebih Baik dari Sebagian Amal adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 17 Rabi’ul Akhir 1443 H / 22 November 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Etika Lebih Baik dari Sebagian Amal
    Kita masuk ke bab باب الهدي والسمت الحسن. Ini berkaitan dengan kepribadian/sikap seseorang dengan penampilan.
    Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu berkata:
    إِنَّكُمْ فِي زَمَانٍ: كَثِيرٌ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيلٌ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيلٌ سُؤَّالُهُ، كَثِيرٌ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيهِ قَائِدٌ لِلْهَوَى. وَسَيَأْتِي مِنْ بَعْدِكُمْ زَمَانٌ: قَلِيلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيلٌ مُعْطُوهُ، الْهَوَى فِيهِ قَائِدٌ لِلْعَمَلِ، اعْلَمُوا أَنَّ حُسْنَ الْهَدْيِ، فِي آخِرِ الزَّمَانِ، خَيْرٌ مِنْ بَعْضِ الْعَمَلِ
    “Kalian sekarang hidup disebuah zaman yang banyak ulamanya dan sedikit oratornya (penceramah), sedikit yang bertanya, yang mau menjawab pertanyaan banyak, amal pada masa ini adalah yang mengarahkan hawa nafsu. Setelah kalian akan datang suatu zaman sedikit ulamanya, yang tukang ceramah banyak, yang mau bertanya banyak, yang mau menjawab sedikit, hawa nafsu mengarahkan amalan. Ketahuilah sesungguhnya etika yang baik diakhir zaman itu lebih baik dari sebagian amal.” (HR. Bukhari)
    Abdullah bin Mas’ud mengatakan hal ini kepada generasi Tabi’in. Kita tahu sabda Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam:
    خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
    “Sebaik-baiknya generasi adalah generasiku, kemudian yang selanjutnya, kemudian yang selanjutnya.” (HR. Bukhari)
    Maka Abdullah bin Mas’ud mengingatkan kepada para Tabi’in tentang hal ini. Yaitu sedikitnya penceramah. Yang ada adalah ulama yang mengajarkan ilmu, menyampaikan kepada masyarakat tentang apa yang seharusnya mereka lakukan, mengenalkan mereka dengan hukum-hukum syariat Islam. Dimasa itu masih banyak masih banyak para sahabat Nabi, kemudian di antara para Tabi’in yang menjadi ulama juga tidak sedikit.
    Lihat juga: Mengenal Keutamaan dan Mengikuti Jejak Sebaik-baik Manusia
    Sedikit yang bertanya
    Kenapa sedikit yang bertanya? Yaitu karena mereka belajar. Sedangkan seseorang kalau belajar maka menjadi paham dan tidak perlu bertanya lagi. Dia tahu bahwa ternyata tidak  boleh melakukan sesuatu mungkin dari membaca, hadir kajian, dan menyimak.
    Subhanallah.. dimasa itu sedikit yang bertanya karena mereka sudah belajar. Dimasa kita sekarang orang yang belajar agama sangat sedikit, yang mau belajar agama juga sedikit.
    Amal mengarahkan hawa nafsu
    Kita punya hawa nafsu, kita punya keinginan. Kalau kita menuruti keinginan, maka neraka menjadi tempat kita. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
    “…sesungguhnya nafsu itu benar-benar memerintahkan kepada keburukan…” (QS. Yusuf[21]: 53)
    Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ ‎﴿٤٠﴾‏ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ ‎﴿٤١﴾
    “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempatnya.” (QS. An-Nazi’at[79]: 41)
    Dimasa para sahabat dan para Tabi’in yang mengara...
    1 hr 28 min
  • Mengapa Mengaqiqahkan Anak?
    Mengapa Mengaqiqahkan Anak? ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 07 Jumadil Akhir 1443 H / 10 Januari 2022 M.

    Kajian Tentang Mengapa Mengaqiqahkan Anak?
    Ketika ada sepasang suami istri yang mendapatkan kabar bahwa sang istri hamil positif, maka tentunya akan muncul kegembiraan di dalam hati sepasang suami-istri itu. Apalagi seandainya kehamilan itu terjadi setelah penantian yang cukup panjang. Begitu pula ketika anak lahir dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Maka wajar seandainya ayah dan ibunya juga berbahagia.
    Akan tetapi kadang-kadang kegembiraan seseorang mendorong dia untuk melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama kita. Misalnya mendorong dia untuk melakukan ritual-ritual yang tidak dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai wujud dia menyalurkan kegembiraannya.
    Oleh karena itulah agama Islam mengajarkan kepada kita bagaimana cara menyalurkan kegembiraan atas karunia yang Allah berikan, salah satunya ketika seorang dikaruniai anak oleh Allah.
    Kegembiraan dan kebahagiaan orang tua itu disalurkan antara lain dengan cara melaksanakan sebuah ibadah yang bernama aqiqah.
    Kalau kita berbicara beberapa puluh tahun yang lalu, ibadah yang satu ini tidak terlalu terkenal. Sehingga kalau kita tanyakan kepada orang-orang yang saat ini mungkin sekitar usianya 60-70 tahun, banyak di antara mereka yang menjawab bahwa tidak diaqiqahi. Mungkin karena tidak tahu bahwa ternyata bayi itu disunnahkan untuk diaqiqahi atau karena kesulitan ekonomi.
    Tapi Alhamdulillah kalau kita perhatikan tahun-tahun belakangan ini MasyaAllah sudah tidak asing lagi kita mendengar istilah aqiqah. Bahkan banyak sekali usaha-usaha yang dibangun diatas hal ini. Misalnya seperti usaha penyembelihan aqiqah, usaha penyediaan aqiqah, pelayanan aqiqah, sehingga semuanya dimudahkan.
    Apa itu aqiqah?
    Aqiqah adalah menyembelih kambing dihari ke tujuh paska kelahiran. Ini dilakukan sebagai wujud syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Dari jumlah kambing yang disyariatkan untuk disembelih bagi bayi laki-laki dan bayi perempuan dibedakan. Untuk bayi laki-laki maka disembelihkan dua kambing, sedangkan untuk anak perempuan disembelihkan satu ekor kambing.
    Hukum aqiqah
    Mayoritas ulama mengatakan sunnah muakkad (sesuatu yang sangat dianjurkan). Sehingga ketika ada orang misalnya betul-betul tidak mampu, dan berhutang pun juga tidak mampu, jika dia tidak mengaqiqahi maka tidak apa-apa. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا…
    “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya…” (QS. Al-Baqarah[2]: 286)
    Kalau seandainya ternyata baru ada uangnya dua tahun kemudian, maka tidak mengapa dilakukan aqiqah tersebut. Waktu penyembelihan dihari ketujuh itu adalah bagi mereka yang memang betul-betul punya kemampuan.
    Adapun kalau harus berhutang dahulu dan dia mampu untuk membayar, maka ini tidak mengapa.
    Hadits tentang aqiqah
    Dari Samurah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى
    “Setiap anak itu tergadaikan dengan aqiqahnya, kambing tersebut disembelih pada hari ketujuh, dan dicukur habis rambut, dan dinamai.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
    Hadits lain yang menjelaskan tentang aqiqah adalah hadits Ummu Kurz Radhiyallahu ‘Anha. Beliau pernah berkonsultasi dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ten...
    45 min
  • Syarat-Syarat Adzan
    Syarat-Syarat Adzan ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 07 Jumadil Akhir 1443 H / 10 Januari 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Masalah Yang Berkaitan dengan Adzan dan Iqamah
    Kajian Syarat-Syarat Adzan
    Para ulama Rahimahumullahu Jami’an menyebutkan banyak syarat dalam masalah adzan ini. Yaitu:
    Pertama, adzan harus dikumandangkan setelah waktu shalat masuk
    Adzan harus dikumandangkan setelah waktu shalat masuk, kecuali untuk waktu subuh. Apabila adzan dikumandangkan sebelum waktunya, maka adzan tersebut dianggap tidak sah dan kewajiban adzan belum gugur.
    Dianjurkan untuk mengumandangkan adzan diawal waktu. Ketika masuk waktu shalat, ketika itulah waktu yang paling afdhal untuk mengumandangkan adzan. Hal ini agar kaum muslimin tahu bahwa sejak saat itu mereka bisa melakukan kewajiban shalat dan agar mereka bisa menjalankan shalat diawal waktunya.
    Dari sahabat Jabir bin Samurah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, beliau mengatakan:
    انَ بِلَالٌ يُؤَذِّنُ إذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ لَا يُقِيمُ حَتَّى يَخْرُجَ إلَيْهِ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَإِذَا خَرَجَ أَقَامَ حِينَ يَرَاهُ
    “Dahulu Bilal mengumandangkan adzan ketika matahari tergelincir (itulah awal waktu), kemudian Bilal tidaklah mengumandangkan iqamat sampai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar (untuk mengimami kaum muslimin). Maka apabila Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar, sahabat Bilal mengumandangkan iqamah ketika beliau melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i)
    Ini berkaitan dengan waktu-waktu selain subuh. Adapun diwaktu subuh, maka disana ada dua adzan. Yaitu adzan sebelum masuknya waktu subuh dan adzan setelah masuknya waktu subuh. Tentunya ini berdasarkan pendapat yang paling kuat.
    Disana ada pendapat lain yang mengatakan bahwa diwaktu subuh pun adzannya hanya satu, yaitu adzan setelah masuknya waktu shalat. Pendapat kedua ini dipilih oleh Imam Abu Hanifah, Imam Ats-Tsauri.
    Pendapat yang lebih kuat adalah pendapatnya jumhur ulama yang menyatakan bahwa untuk waktu subuh disyariatkan dua adzan. Yaitu adzan yang pertama adalah adzan untuk memberikan peringatan kepada kaum muslimin agar mereka bersiap-siap untuk berangkat ke masjid, adzan untuk membangunkan kaum muslimin dari tidurnya atau untuk memberikan pengingat kepada orang-orang yang sudah shalat malam bahwa waktu subuh sudah dekat. Adzan ini juga bisa bermanfaat bagi mereka yang ingin berpuasa agar bisa menyiapkan makan sahur dan menyantap makanan sahurnya.
    Adzan pertama ini adalah adzan sunnah yang derajatnya dianjurkan, tidak sampai pada derajat wajib.
    Adapun adzan kedua untuk shalat subuh adalah adzan setelah masuknya waktu subuh. Dan adzan ini adalah diwajibkan sebagaimana pendapat yang paling kuat dalam masalah ini.
    Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits dari sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu telah bersabda:
    إنَّ بلَالًا يُؤَذِّنُ بلَيْلٍ، فَكُلُوا واشْرَبُوا حتَّى يُنَادِيَ ابنُ أُمِّ مَكْتُومٍ
    “Sesungguhnya Bilal adzannya diwaktu masih malam (belum terbit fajar shadiq). Maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzannya.” (HR. Bukhari)
    Di dalam hadits ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa disana ada dua adza...
    1 hr 2 min
  • Haram Menikah dengan Wanita Musyrik – Surah Al-Baqarah 221
    Haram Menikah dengan Wanita Musyrik – Surah Al-Baqarah 221 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 2 Jumadil Akhir 1443 H / 4 Januari 2022 M.
    Download juga kajian sebelumnya: Islam Membawa Maslahat – Surah Al-Baqarah 219-220
    Haram Menikah dengan Wanita Musyrik – Surah Al-Baqarah 221
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
    “Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, hingga mereka beriman. Dan sungguh budak yang mukminah lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun wanita yang musyrik itu membuat kamu kagum akan kecantikannya. Dan jangan kalian menikahkan anak-anak kalian dengan laki-laki musyrik hingga mereka beriman. Dan sungguh hamba sayaha yang mukmin lebih baik daripada laki-laki yang musyrik, walaupun laki-laki yang musyrik itu membuat kamu kagum. Mereka menyeru kepada api neraka, sedangkan Allah menyeru kepada surga dan ampunan dengan izinNya. Dan Allah menjelaskan ayat-ayatNya kepada manusia agar mereka mau ingat.” (QS. Al-Baqarah[2]: 221)
    Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan tentang pentingnya mencari pasangan dan mencarikan pasangan. Bahwasanya pasangan yang musyrik (menyekutukan Allah) ini sangat tidak baik untuk agama kita.
    Maka di sini Allah mengingatkan. Untuk kamu yang mau menikah, jangan menikahi wanita-wanita musyrik, sampai mereka mau mentauhidkan Allah dan meninggalkan kesyirikan.
    Siapa itu lelaki atau wanita musyrik? Yaitu yang menjadikan untuk Allah sekutu dalam perkara yang itu khusus untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik syirik dalam rububiyah, uluhiyah, ataupun syirik asma’ wa shifat. Maka siapa yang mengambil Ilah selain Allah, dia adalah musyrik. Walaupun dia beriman bahwa Allah yang menciptakan alam semesta.
    Pengakuan dia bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi itu percuma kalau ternyata dia mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena orang-orang Musyrikin Quraisy juga mengakui kalau Allah pencipta langit dan bumi. Tapi pengakuan itu tidak ada manfaatnya karena mereka mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Maka siapa yang punya keyakinan bahwa ada bersama Allah pencipta alam semesta atau ada selain Allah yang bersendirian dalam menciptakan alam semesta atau setidaknya menjadi pembantu Allah untuk menciptakan alam semesta, maka ini disebut musyrik.
    Maka jangan sekali-kali punya pasangan yang seperti ini. Walaupun wanita musyrikah ini kecantikannya luar biasa dan kaya raya, walaupun laki-laki ini tampan, punya kedudukan, punya harta, kecerdasan, kefasihan dan yang lainnya, ini semua tidak ada manfaatnya di sisi Allah.
    Allah mengingatkan bahwa budak yang mukmin itu lebih baik daripada orang yang merdeka tapi musyrik. Walaupun statusnya budak dimata kita, tapi dimata Allah tidak. Allah tidak membedakan antara budak maupun merdeka. Siapapun yang beriman kepada Allah dan mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla, maka dihadapan Allah ia mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
    “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian disisi Allah adalah yang paling bertakwa....
    50 min
  • Kisah Orang Yang Memiliki Dua Kebun
    Kisah Orang Yang Memiliki Dua Kebun adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 30 Jumadil Awal 1443 H / 3 Januari 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Hadits Larangan Menjadikan Kubur Sebagai Masjid
    Ceramah Agama Islam Tentang Kisah Orang Yang Memiliki Dua Kebun
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلًا رَّجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا
    “Dan berilah perumpamaan untuk mereka dua orang laki-laki, Kami beri kepada salah satu dari keduanya (yang kafir) dua kebun anggur dan Kami kelilingi dua kebun tersebut dengan pohon-pohon kurma dan Kami jadikan di antara dua kebun itu Kami buat ladang.” (QS. Al-Kahfi[18]: 32)
    كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِم مِّنْهُ شَيْئًا ۚ وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا
    “Dua kebun tersebut menghasilkan buahnya, dan tidak berkurang sedikitpun buahnya, dan Kami alirkan di celah-celah kebun tersebut sungai.” (QS. Al-Kahfi[18]: 33)
    وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا
    “Dan dia memiliki buah yang banyak, dan dia berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-cakap: ‘Aku memiliki anak lebih banyak darimu dan pengikutku lebih kuat.'” (QS. Al-Kahfi[18]: 34)
    وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا
    “Dan diapun masuk ke kebun miliknya, dan dia mendzalimi dirinya sendiri, dia berkata: ‘Saya tidak mengira kalau kebun ini akan binasa selamanya,” (QS. Al-Kahfi[18]: 35)
    وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنقَلَبًا
    “dan aku tidak mengira hari kiamat itu tegak, apabila aku dikembalikan kepada Rabbku, aku akan mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik daripada kebun-kebun itu”. (QS. Al-Kahfi[18]: 36)
    قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا
    “Kawannya (yang beriman) berkata kepadanya (bercakap-cakap): ‘Apakah engkau kufur terhadap Allah Rabbmu yang telah menciptakan engkau dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian membentukmu sebagai laki-laki yang sempurna?'” (QS. Al-Kahfi[18]: 37)
    لَّٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا
    “Akan tetapi Dia adalah Allah Rabbku dan aku tidak akan menyekutukan Rabbku dengan apapun.” (QS. Al-Kahfi[18]: 38)
    وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا
    “Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu memasuki kebunmu “Maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekalipun kamu melihat aku lebih sedikit harta darimu dan lebih sedikit anak,” (QS. Al-Kahfi[18]: 39)
    فَعَسَىٰ رَبِّي أَن يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا
    “Semoga Rabbku memberikan kepadaku sesuatu yang lebih baik dari kebunmu, kemudian mengirimkan petir kepada kebunmu dari langit sehingga dia menjadi tanah yang licin.” (QS. Al-Kahfi[18]: 40)
    45 min
  • Pemimpin Yang Tidak Mempekerjakan Para Ahli
    Pemimpin Yang Tidak Mempekerjakan Para Ahli ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 30 Jumadil Awal 1443 H / 3 Januari 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Pemimpin Yang Tidak Mempekerjakan Para Ahli
    Kekuasaan dan kepemimpinan adalah amanah yang besar dan sangat berat. Ada dua kemungkinan, yaitu apabila seorang hamba dapat memikulnya dengan amanah dan tanggungjawab maka Allah menjadikannya sebagai salah satu sifat penghuni surga. Nabi mengatakan di dalam sebuah hadits bahwa salah satu dari tiga sifat penghuni surga adalah:
    ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ
    “Seorang penguasa yang berlaku adil, gemar bersedekah dan mendapat petunjuk untuk menjalankan dan melaksanakan kebenaran.” (HR. Muslim)
    Ini yang pertama disebutkan Nabi tentang sifat penghuni surga. Tapi di lain sisi ini juga merupakan amanah yang berat, tanggung jawab yang besar, yang apabila disia-siakan maka ancamannya adalah neraka. Seorang pemimpin yang berbuat aniaya seperti yang Nabi katakan didalam hadits:
    مَنْ وَلاَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمُ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ
    “Barangsiapa yang Allah serahkan urusan kaum muslimin kepadanya, namun dia menutup diri dengan tidak menunaikan hajat, kebutuhan rakyatnya dan kefakiran mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup dirinya terhadap hajat, kebutuhan dan kefakirannya.”  (HR. Abu Dawud, Al-Hakim dan yang lainnya)
    Ancamannya berat. Artinya kepemimpinan dan kekuasaan adalah amanah yang harus dipikul dengan tanggungjawab.
    إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا…
    “Allah menyuruh kamu untuk menyerahkan amanat itu kepada ahlinya (orang yang berkompeten dan berhak untuk menerima amanah itu)…” (QS. An-Nisa[4]: 58)
    Sehingga para Salaf dahulu saling menahan diri dan menolak untuk diangkat dan ditunjuk menjadi pemimpin. Mereka justru mengalihkannya kepada orang lain yang mereka pandang lebih pantas dan lebih berhak untuk mengembannya. Demikian wara’nya mereka terhadap kekuasaan dan kepemimpinan. Mereka bukanlah orang-orang yang haus kekuasaan. Kita lihat para sahabat sepeninggal Nabi, mereka bertebaran di muka bumi dan menjauh dari hiruk-pikuk perebutan kekuasaan.
    Maka iblis menjadikan ini sebagai salah satu celah untuk memperdaya anak Adam. Dan iblis juga menjadikan mereka ini sebagai salah satu bala tentaranya untuk menyebarkan kerusakan. Karena iblis tahu bahwa pemimpin adalah panutan, apa yang dilakukan/dikatakan/dikerjakan oleh pemimpin biasanya diikuti/diamini/ditiru oleh rakyatnya. Maka mereka tidak lepas dari tipu daya dan makar iblis.
    Di antara talbis iblis terhadap para pemimpin dan penguasa adalah para pemimpin ini tidak mempekerjakan orang-orang yang cakap, mereka justru mempekerjakan orang-orang yang tidak ahli dibidangnya. Nabi mengatakan di dalam sebuah hadits:
    إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
    “Jika diserahkan satu tugas kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggu saja masa kehancurannya.” (HR. Bukhari)
    Biasanya mereka mempekerjakan orang-orang yang dekat dengan mereka, karib kerabat, sanak keluarga atau orang-orang yang mungkin mencari perhatian di hadapan mereka. Orang-orang inilah yang ditunjuk untuk melakukan tugas-tugas mengurus rakyat. Sehingga karena orang-orang ini tidak berilmu atau mungkin juga tidak bertakwa,
    38 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah