Khutbah Jumat: Dosa Terbesar Adalah Kesyirikan ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 16 Syawal 1442 H / 28 Mei 2021.
Khutbah Pertama – Dosa Terbesar Adalah Kesyirikan
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para Rasul untuk mendakwahkan kita kepada tauhid, mendakwahkan kepada manusia agar mereka beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja dan menjauhkan berbagai macam kesyirikan. Karena sesungguhnya dosa yang terbesar di mata Allah ‘Azza wa Jalla adalah mempersekutukan Allah Jalla wa ‘Ala.
Di mata sebagian manusia, dosa terbesar itu adalah korupsi. Di mata sebagian orang, dosa terbesar itu adalah pembunuhan. Di mata sebagian orang, dosa terbesar itu adalah merampok, membunuh dan yang lainnya. Akan tetapi di mata Allah, dosa yang paling besar adalah syirik. Itu adalah dosa satu-satunya yang tidak akan pernah Allah ampuni apabila seseorang wafat diatasnya. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ…
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lebih rendah dari kesyirikan…” (QS. An-Nisa[4]: 48)
Karena hakikat syirik adalah kedzaliman yang besar. Bagaimana dia menyamakan Allah, pencipta langit dan bumi dengan makhluk yang lemah yang membutuhkan karunia Allah Jalla wa ‘Ala.
Hakikat syirik adalah mengandung penghinaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Sempurna. Karena disamakan dengan makhluk yang tidak sempurna. Hakikat syirik artinya Allah Subhanahu wa Ta’ala dianggap bahwa kekuatanNya sama dengan kekuatan makhluk yang lemah. Hakikat kesyirikan itu tiada lain adalah menganggap makhluk itu mempunyai kekuatan yang sehebat kekuatan Allah. Padahal tidak ada yang sebanding dengan Allah. Allah mengatakan dan memproklamirkan dalam ayatNya:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾
“Katakan: ‘Allah adalah Esa…’”
Disebut Esa apabila tidak ada tandingannya. Adapun kalau masih ada tandingannya, maka tidak disebut Esa.
Oleh karena itu Allah mengatakan:
اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾
“Allah tempat bergantung seluruh makhluk.”
Semua makhluk bergantung kepada Allah, membutuhkan karunia Allah Jalla wa ‘Ala.
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾
“Allah tidak melahirkan dan Allah pun tidak dilahirkan.”
Allah tidak membutuhkan istri, Allah tidak membutuhkan anak. Beda dengan makhluk yang membutuhkan anak untuk melanjutkan generasinya.
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾
“Dan Allah tidak sebanding dengan apapun juga.”
Tidak ada makhluk yang sebanding dengan Allah. Sampai malaikat yang sangat besar pun. Ini dia malaikat yang disebut dengan malaikat pemikul ‘Arsy, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan dalam haditsnya:
أُذِنَ لي أن أُحَدِّثَ عن ملكٍ من حملةِ العرشِ
“Diizinkan untukku menceritakan kepada kalian bagaimana besarnya malaikat pemikul ‘Arsy.”
ما بين شحمةِ أذنِه إلى عاتقِه مسيرةَ سبعمائةِ عامٍ
“Jarak antara daging telinganya sampai ke pundaknya 700 tahun perjalanan.”