Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Bila Keguguran Terjadi
    Bila Keguguran Terjadi merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 27 Safar 1443 H / 4 Oktober 2021 M.

    Kajian Tentang Bila Keguguran Terjadi
    Ini adalah sebuah peristiwa yang mungkin dialami oleh sebagian dari kita, walaupun tidak ada di antara kita yang punya cita-cita mengalami kejadian tersebut.
    Tidak setiap apa yang kita inginkan itu akan terjadi. Seringkali kenyataan berbeda dengan keinginan. Semua orang tua tentu ingin bayinya lahir dengan selamat, tidak kurang suatu apapun, sehat wal afiat. Sehingga semua usaha lahiriyah dan batiniyah dilakukan. Namun apa daya, manusia hanya bisa berusaha. Yang akhirnya menentukan adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Dan realitanya bahwa tidak semua keinginan kita terjadi sesuai dengan harapan. Kadang-kadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan, Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan sesuatu yang berbeda dengan keinginan kita.
    Begitupula terkait dengan bayi. Keinginannya adalah bayinya sehat di dalam kandungan, tidak ada gangguan apa-apa, ketika saatnya lahiran pun juga dalam keadaan sehat wal afiat. Tapi ternyata Allah terkadang menakdirkan berbeda. Ketika itu terjadi, sikap apa yang seharusnya dilakukan oleh ayah maupun ibu?
    Prinsip yang harus kita pahami bahwa dalam kondisi apapun (bahagia atau sedih), orang yang beriman tetap berusaha berpegang dengan panduan agama Islam. Yaitu:
    1. Menyadari bahwa ini takdir Allah
    Menit ke- Kalau kita ditimpa sesuatu, di antara ungkapan yang dianjurkan untuk dibaca adalah:
    قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
    “Ini sudah takdirnya Allah, terserah Allah (apa yang ditetapkan olehNya).”
    Yang menakdirkan bayi umur 8 bulan untuk meninggal adalah Allah. Yang menakdirkan janin itu tidak tumbuh adalah Allah. Dan kita harus ingat Allah itu Ar-Rahman (Maha Pengasih), Ar-Rahim (Maha Penyayang), Al-Hakim (Maha Bijaksana).
    Tidak ada satu kejadian pun yang ada di alam semesta ini melainkan pasti dengan takdir Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ‎﴿٢٢﴾‏ لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ‎﴿٢٣﴾‏
    “Setiap musibah yang terjadi di muka bumi atau yang menimpa diri kalian pasti semuanya sudah tertulis di dalam Lauhul Mahfudz. Yang seperti itu mudah bagi Allah. Ini kami sampaikan agar kalian itu jangan terlalu bersedih (berlebihan) atas apa yang tidak kalian dapatkan, dan sebaliknya jika kalian mendapatkan karunia sesuatu jangan terlalu bergembira sehingga menjadi sombong. Dan sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid[57]: 23)
    Takdir Allah untuk orang yang beriman itu pasti terbaik. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ
    “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menakdirkan sesuatu bagi seorang yang beriman kecuali pasti itu yang terbaik.” (HR. Ahmad)
    Betapa banyak orang yang sadar dan memperbaiki diri setelah sakit? Ada sebagian orang mudah marah meskipun sudah belajar agama. Allah menginginkan kebaikan untuk orang ini, akhirnya oleh Allah diberi sakit yang berat. Dan begitu sembuh masyaAllah tidak mudah marah lagi. Hal ini berarti sakit itu baik, karena membuat karakternya berubah.
    2. Menghibur diri dengan janji surga
    Menit ke- Sedih itu manusiawi.
    54 min
  • Berkumpulnya Manusia di Padang Mahsyar
    Berkumpulnya Manusia di Padang Mahsyar merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Al-Qiyamah Ash-Shughra yang disampaikan oleh Ustadz Ali Nur, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 27 Safar 1443 H / 4 Oktober 2021 M.

    Kajian Tentang Ketika Berkumpulnya Manusia di Padang Mahsyar
    Ketika manusia dikumpulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia dalam keadaan tak beralas kaki, tidak berpakaian dan tidak berkhitan. Barulah setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi pakaian kepada manusia sesuai dengan tingkat keimanan dan amal shalihnya semasa di dunia. Tentunya yang pertama sekali yang diberi pakaian oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan tentunya mereka yang akan menjadi penduduk surga diberi pakaian dari surga, sedangkan mereka yang akan menjadi penduduk neraka diberikan pakaian dari neraka.
    Tempat manusia berkumpul
    Lalu bagaimana spesifikasi bumi tempat manusia dikumpulkan? Apakah sama seperti bumi kita sekarang, dimana ada pepohonan, pegunungan, lembah dan hutan?
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ ۖ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
    “Nanti pada hari dimana bumi dan langit akan diganti dengan bumi dan langit yang bukan sekarang. Dan semua manusia akan menghadap ke hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Ibrahim[14]: 48)
    Jadi artinya buminya tidak seperti bumi sekarang yang kita saksikan, langitnya juga bukan seperti langit yang kita saksikan sekarang.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan kepada kita sifat atau kriteria bentuk bumi yang baru tempat manusia dikumpulkan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ كَقُرْصَةِ النَّقِيِّ لَيْسَ فِيهَا عَلَمٌ لِأَحَدٍ
    “Manusia nanti akan dikumpulkan di hari kiamat di bumi yang putih berbentuk bulat pipih, tidak ada satupun tanda-tanda yang ada di muka bumi sekarang. (HR. Bukhari dan Muslim)
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajianyang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Berkumpulnya Manusia di Padang Mahsyar – Al-Qiyamah Ash-Shughra
    Mari turut membagikan link download kajian ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    59 min
  • Waktu Shalat Isya’
    Waktu Shalat Isya’ ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 27 Safar 1443 H / 04 Oktober 2021 M.

    Download kajian sebelumnya: Shalat Ashar Diawal Waktu
    Kajian Tentang Waktu Shalat Isya’
    Isya’ dalam bahasa Arab adalah nama yang digunakan untuk menyebut gelap malam yang pertama dari maghrib sampai gelap sekali. Makanya shalat maghrib dijaman dahulu juga disebut sebagai shalat isya’. Adapun untuk shalat isya’ sendiri disebut sebagai العشاء الآخرة (isya’ yang akhir).
    Shalat isya’ juga disebut sebagai al-‘Atamah (Arab: العتمة). Namun nama ini ada yang mengatakan makruh, ada yang mengatakan khilaful aula (sesuatu yang sebaiknya ditinggalkan tapi derajatnya masih lebih ringan daripada makruh). Hal ini karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    لَا تَغْلِبَنَّكُمْ الْأَعْرَابُ عَلَى اسْمِ صَلَاتِكُمْ أَلَا إِنَّهَا الْعِشَاءُ
    “Jangan sampai orang-orang badui itu mengalahkan kalian dalam menyebut shalat kalian ini, ingat-ingatlah bahwa sesungguhnya shalat ini adalah shalat isya’.” (HR. Ahmad)
    Namun yang lebih kuat adalah pendapat yang mengatakan bahwa menyebut shalat isya’ dengan nama ‘atamah itu khilaful aula. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutnya.  Sebagaimana dalam hadits:
    ولو يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ لَأَتَوْهُما ولو حَبْوًا
    “Seandainya mereka (orang-orang munafik) tahu keutamaan yang ada pada shalat isya’ dan shalat subuh, maka mereka akan benar-benar mendatangi kedua shalat itu walaupun dalam keadaan merangkak.” (HR. Bukhari)
    Di sini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut shalat isya’ dengan sebutan ‘atamah.
    Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa shalat isya’ itu punya tiga nama; yaitu shalat isya’, al-isya’ al-akhirah, ‘atamah. Namun nama yang terakhir sebaiknya ditinggalkan.
    Waktu shalat isya’
    Para ulama telah berijma’ bahwa shalat isya’ itu masuk dengan hilangnya asy-syafaq. Ada yang mengatakan bahwa asy-syafaq adalah awan merah, ada juga yang mengatakan awan putih. Awan putih itu datangnya setelah awan merah.
    Mayoritas ulama mengatakan bahwa masuknya waktu isya’ itu dengan hilangnya awan merah. Hal ini karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu shalat isya’ ketika awan merah hilang.
    Kapan waktu isya’ berakhir? Simak pada menit ke-
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Waktu Shalat Isya’ – Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Waktu Shalat Isya'” penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    1 hr 2 min
  • Khutbah Jumat: Mengingat Kehidupan Akhirat
    Khutbah Jumat: Mengingat Kehidupan Akhirat ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 24 Safar 1443 H / 01 Oktober 2021 M.
    Khutbah Pertama Tentang Mengingat Kehidupan Akhirat
    Allah memuji para Nabi dan Rasul. Dimana mereka adalah hamba-hambaNya yang senantiasa menaatiNya. Dan Allah memberikan keistimewaan kepada mereka dalam sebuah ayatNya. Allah berfirman:
    إِنَّا أَخْلَصْنَاهُم بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ
    “Sesungguhnya Kami khususkan kepada mereka dengan sebuah keistimewaan, yaitu mengingat kehidupan akhirat.” (QS. Shad[38]: 46)
    Allah menyebutkan bahwasanya keistimewaan orang-orang yang diberikan oleh Allah keutamaan dari para Nabi, para Rasul, demikian pula orang-orang yang beriman, bahwasanya Allah istimewakan mereka dengan sebuah keistimewaan, dan itu merupakan akhlak yang agung dan mulia, yaitu mengingat kehidupan akhirat.
    Sebagian ulama menafsirkan bahwa artinya mereka senantiasa mengingat kehidupan akhirat dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat tersebut dengan amalan shalih. Sebagian ulama lagi berkata artinya mereka mengingatkan manusia kepada kehidupan akhirat. Dua pendapat ini tidak bertabrakan satu sama lainnya, saudaraku.
    Ini meenunjukkan bahwasanya mengingat kehidupan akhirat dan mengingatkan manusia tentang akhirat adalah keistimewaan yang Allah istimewakan orang-orang yang menjadi pilihan Allah. Karena hidup kita di dunia tidak akan selamanya. Siapa di antara kita yang akan hidup 1.000 tahun di dunia? Tidak ada! Siapa di antara kita yang berani berkata “Saya akan hidup selamanya di dunia”? Tidak ada, semua kita akan meninggal dunia, semua kita akan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
    Maka mengingat kehidupan akhirat menimbulkan berbagai macam kebaikan dalam hidup kita. Ketika kita senantiasa mengingat kehidupan akhirat, akan muncul keinginan berbuat kebaikan, beramal shalih, ketaatan. Tapi ketika yang kita ingat dunia, seringkali kita lalai dari kehidupan akhirat. Lalu kita pun menjadi orang yang malas beribadah kepada Allah. Karena kita selalu memikirkan dunia, yang kita ingat hanya sebatas dunia, sehingga akhirnya hati kita dihinggapi banyak sekali penyakit-penyakit yang menyebabkan kita berpaling dari Allah dan kehidupan akhirat.
    Mengingat kehidupan akhirat merupakan kemuliaan bagi seorang hamba. Ketika seorang hamba mengingat akhiratnya, ia sadar bahwa ia akan kembali kepada Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah dan dia akan ditanyai oleh Allah tentang perbuatan-perbuatannya di dunia.
    Ia sadar bahwasanya setelah kematian akan ada hidup yang lainnya, kehidupan yang kekal selama-lamanya abadi. Kita akan masuk kedalam sebuah negeri yang damai dan sentosa, yaitu surga. Ataukah kita akan masuk ke sebuah negeri yang di sana kita hanya akan merasakan siksa dan kesakitan selama-lamanya. Nas’alullah as-salamah wal ‘afiyah.
    Kita tidak ingin, saudaraku.. Apabila kita di dunia menderita ternyata di akhirat pun kita menderita. Sungguh saudaraku.. Allah menjadikan mengingat akhirat adalah keistimewaan yang luar biasa.
    Lihatlah orang-orang yang mencari akhirat, mereka tetap diberikan oleh Allah dunia. Mereka yang senantiasa beramal shalih dan melakukan ketaatan tetap diberikan oleh Allah dunia dalam hidupnya. Tapi lihatlah orang-orang yang hanya memikirkan dunia, mereka pun tidak mendapatkan akhirat, bahkan pun tidak mendapatkan dunia.
    Karena keinginannya hanya dunia, akhirnya Allah palingkan hatinya dari kehidupan akhirat.
    14 min
  • Ilmu dan Kekuasaan Allah
    Ilmu dan Kekuasaan Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 23 Safar 1443 H / 30 September 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu dan Kekuasaan Allah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
    “Katakanlah (Wahai Muhammad): “Apabila kalian menyembunyikan apa yang ada di dada kalian atau menampakkannya, pasti Allah mengetahuinya”. Dan Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali-Imran[3]: 29)
    Pada ayat yang mulia ini ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil, yaitu:
    Pertama, wajib menyampaikan kepada manusia tentang ilmu Allah. Allah itu Maha mengetahui. Sampai apa yang kita sembunyikan di hati kita pun Allah Subhanahu wa Ta’ala tahu.
    Kedua, keumuman ilmu Allah ‘Azza wa Jalla terhadap apa yang disembunyikan dan apa yang ditampakkan oleh manusia.
    Ketiga, hakikat akal itu ada di hati. Pengaturan dan keinginan ada di hati. Dasarnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ini. Masalah ini diperselisihkan oleh Ahlul kalam, yakni permasalahan apakah akal itu ada di hati atau di otak kepala?
    Orang yang memperhatikan Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi dengan sungguh-sungguh, maka dia akan mendapati bahwa akal itu adanya di hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
    “maka tidak pernah kah mereka berjalan di bumi, sehingga hati mereka dapat berakal atau telinga mereka mendengar? Karena sesungguhnya mata mereka itu tidak buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj[22]: 46)
    Ayat ini merupakan nash yang tegas bahwa akal itu ada di hati. Begitu juga merupakan nash yang tegas bahwa tidak dimaksudkan dengan akal itu yang ada di otak kepala. Dan yang dimaksud dengan hati di sini adalah hati yang hakiki, yaitu daging yang ada di dada. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Yang ada di dada,” tentunya Sang Pencipta lebih tahu tentang ciptaanNya.
    Namun otak kepala memiliki pengaruh. Karena yang di kepala ini menangkap sesuatu, menggambarkan, menyusunnya, kemudian dikirim ke hati. Setelah itu dia menunggu perintah. Hati memerintahkan dengan beberapa perintah ke otak. Otak inilah yang memerintahkan perintah-perintah ke anggota tubuh. Maka semua yang keluar dari lisan dan perbuatan kita, itu semua pengaruh dari hal ini. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أَلَا إِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ
    “Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging, kalau dia baik maka jasad akan baik, kalau dia rusak maka jasad akan rusak; dia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Keempat, bantahan terhadap kaum Jabariyah yang berkata bahwa manusia tidak punya kehendak. Mereka mengatakan bahwa manusia itu seperti bulu yang diterbangkan oleh angin kesana-kemari tanpa kehendak.
    Ayat ini menegaskan bahwa manusia mempunyai kehendak. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyandarkan pekerjaan kepada manusia, yaitu “Jika kalian menyembunyikan.
    47 min
  • Larangan Menjadikan Orang Kafir Sebagai Penolong
    Larangan Menjadikan Orang Kafir Sebagai Penolong adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 2 Safar 1443 / 9 September 2021 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Larangan Menjadikan Orang Kafir Sebagai Penolong
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    لَّا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
    “Janganlah orang-orang yang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong (pemimpin) melainkan orang-orang yang beriman. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya dia tidak memperoleh apaun dari Allah, kecuali karena siasat untuk menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu diri siksaNya. Dan hanya kepada Allah tempat kembali.” (QS. Ali-Imran[3]: 28)
    Faidah-faidah yang bisa kita ambil dari ayat yang mulia ini adalah:
    Pertama, haram menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong. Dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Janganlah orang-orang beriman itu menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong dari selain orang beriman.”
    Jadi jangan menolong mereka dan tidak meminta pertolongan dari mereka. Asal dari larangan ini adalah agar Islam tidak menjadi hina di hadapan mereka. Tapi kalau dalam perkara ini ada maslahat bagi kaum muslimin, maka boleh dinisbatkan ketika meminta tolong kepada mereka. Adapun menolong orang kafir di atas orang yang beriman, maka ini tidak boleh selamanya.
    Lalu apakah boleh menolong orang kafir diatas orang kafir apabila ada maslahat? Maka jawabannya adalah bahwa orang-orang beriman itu merasa bahagia ketika ada peristiwa orang-orang Romawi (ahli kitab) bisa mengalahkan orang-orang Persia (musyrikin). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    …وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ ‎﴿٤﴾‏ بِنَصْرِ اللَّهِ…
    “Dihari itu orang-orang yang beriman merasa senang mendengar kabar bahwa kaum Romawi menang mengalahkan orang-orang Persia.” (QS. Ar-Rum[30]: 4-5)
    Kalau misalnya di sana ada musuh yang dia adalah musuh kaum muslimin dan musuh kaum kafir yang lain. Kalau kita tahu jika kita tidak menolong kaum kafir yang satunya maka musuh kita menang dan memerangi kaum muslimin, maka boleh kita membantunya. Maksudnya bukan membantu dari sisi dzatnya, tapi karena ada kemaslahatan yang kembalinya kepada kaum muslimin.
    Adapun kalau ada orang kafir meminta tolong kepada kita untuk mengalahkan orang muslim, maka ini tidak boleh dalam kondisi apapun. Hal ini dengan dasar firman Allah dalam surah Ali-Imran ayat 28 ini.
    Kedua, tuntutan iman yang hakiki itu adalah seseorang menjadikan orang kafir sebagai musuh. Dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengaitkan hukum ini dengan orang-orang beriman. Ini merupakan dalil bahwa tuntutan keimanan itu tidak menjadikan mereka sebagai penolong. Justru hendaknya menjadikan mereka sebagai musuh. Karena alasannya orang-orang kafir tersebut kelompok dan wali-wali setan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا…
    “Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian, maka jadikan setan itu musuh…” (QS. Fatir[35]: 6)
    Ketiga, menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong adalah menafikan pokok keimanan atau menafikan kesempurnaan iman. Alasannya karena sebuah hukum kalau dikaitkan dengan sebu...
    37 min
  • Bab Ashabah
    Bab Ashabah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. dalam pembahasan Kitab Zadul Mustaqni. Kajian ini disampaikan pada Rabu, 23 Safar 1443 H / 30 September 2021 M.
    Download kajian sebelumnya: Mendepatkan Setengah Bagian Harta Dari Ahli Waris

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Bab Ashabah
    Setelah sebelumnya kita menjelaskan Ashabul Furudh, yaitu yang mendapatkan warisan dengan 1/2, atau 2/3, atau 1/4, atau 1/8, atau 1/3, atau 1/6, yang dijelaskan Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat  11, 12 dan 176.
    Bila masing-masing mereka sudah mendapatkan bagiannya dan masih ada sisa, maka sisa ini untuk Ashabah. Inilah yang akan kita pelajari pada kajian ini.
    Seperti inilah cara membagi warisan. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
    أَلْحِقُوا اَلْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا , فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ
    “Berikanlah harta warisan kepada yang memiliki bagian tertentu (seperti yang Allah jelaskan dalam Al-Qur’an), bila ada sisa maka untuk laki-laki yang terdekat dengan si mayat.” (HR. Bukhari)
    Siapa itu laki-laki yang terdekat?
    Mereka adalah setiap orang dari ahli waris yang apabila bersendiri maka dia bisa mengambil harta secara keseluruhan. Dan apabila bersama dengan ahli waris yang lain, maka dia mengambil yang sisanya.
    Kalau seorang anak sendirian, dan anak perempuan bukan Ashabah, maka dia tidak bisa mengambil keseluruhan harta menurut sebagian para ulama. Adapun Ashabah yang sendirian (tanpa Ashabul Furud), maka seluruh harta bisa untuknya.
    Urutan Ashabah
    Ashabah secara berurutan adalah sebagai berikut. Bila yang paling dekat ada, maka sisanya tidak dapat. Mereka adalah anak laki-laki. Bila anak laki-laki tidak ada, maka berpindah pada Ashabah selanjutnya, yaitu cucu laki-laki dari garis anak laki-laki, sampai kebawahnya.
    Bila cucu kebawah tidak ada, maka berpindah Ashabah ke atas. Yaitu ayah dari yang meninggal, kemudian kakek, dan begitu seterusnya melalui jalur laki-laki seluruhnya.
    Adapun ayah dari ibu atau kakek dari jalur ibu tidak menjadi Ashabah, tapi mereka menjadi dzawil arham.
    Untuk lebih jelas, mari kita simak melalui video rekaman LIVE Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, M.A. – Zadul Mustaqni’ Fi Ikhtishari Al-Muqni’
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Bab Ashabah
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Bab Ashabah” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    1 hr 18 min
  • Beratnya Kalimat Laa Illaaha Illallah
    Beratnya Kalimat Laa Illaaha Illallah adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 22 Safar 1443 H / 29 September 2021 M.
    Kajian Tentang Beratnya Kalimat Laa Illaaha Illallah
    Dari Abu Sa’id Al-Khudri, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
    قال موسى: يا رب علمني شيئا أذكرك وأدعوك به. قال: قل يا موسى: لا إله إلا الله، قال: كل عبادك يقولون هذا. قال: يا موسى لو أن السماوات السبع وعامرهن غيري والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفة، مالت بهن لا إله إلا الله
    Nabi Musa ‘Alaihis Salam berkata: ‘Wahai Tuhanku, ajari aku sesuatu yang aku mengingatMu dan berdoa kepadaMu dengannya.’ Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Katakanlah wahai Musa, Laa Ilaaha Illallah.’
    Nabi Musa ‘Alaihis Salam berkata: ‘Setiap hamba-hambaMu mengucapkan ini.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Wahai Musa, jika langit tujuh lapis dan seisinya selainKu, dan bumi tujuh lapis diletakkan di satu daun timbangan sedangkan Laa Ilaaha Illallah, maka akan Laa Illaaha Illallah lebih berat. (HR. Ibnu Hibban, Hakim, dan dishahihkan oleh beliau)
    Di dalam hadits ini terdapat pelajaran bahwa orang yang berdzikir hendaklah mengucapkannya seluruhnya “Laa Illaaha Illallah” dan tidak hanya mengucapkan lafadz Al-Jalalah (Allah) saja, tidak juga tidak menyebutkan (هو) sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang belum faham dari kaum tasawuf, karena hal tersebut adalah perbuatan bid’ah dan menyimpang.
    Manusia (bahkan seluruh alam semesta) dalam keadaan sangat mendesak memerlukan Laa Illaaha Illallah sampai tidak ada batasan untuknya. Maka Laa Illaaha Illallah adalah dzikir yang paling banyak, paling mudah, paling agung. Orang-orang yang belum mengetahui berpaling dari dzikir ini kepada doa-doa bid’ah yang tidak ada dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Nabi Musa saja diberikan amalan oleh Allah untuk mengucapkan Laa Illaaha Illallah. Maka semestinya kaum muslimin sering-sering mengucapkannya.
    Dari Abdullah bin Amr, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    أن نوحاً عليه السلام قال لابنه عند موته : “آمرك بلا إله إلا الله، فإن السموات السبع والأرضين السبع لو وضعت في كفة، ولا إله إلا الله في كفة رجحت بهن لا إله إلا الله ، ولو أن السموات السبع والأرضين السبع كن حلقة مبهمة لقصمتهن لا إله إلا الله
    “Bahwa Nuh ‘Alaihis Salam berkata kepada anak laki-lakinya saat anaknya mau meninggal, Aku perintahkan engkau mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallah’, karena sesungguhnya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi jika diletakkan di daun timbangan dan diletakkan ‘Laa Ilaaha Illallah’ di daun timbangan yang lain, maka ‘Laa Ilaaha Illallah’ lebih berat. Dan jikalau tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi adalah rantai yang bersambung-sambung, maka akan dipecahkan oleh ‘Laa Ilaaha Illallah’.” (HR. Ahmad)
    Laa Ilaaha Illallah lebih berat karena di dalamnya terdapat peniadaan kesyirikan dan mentauhidkan Allah yang dia adalah amalan paling utama. Ini adalah pondasi dasar agama dan kepercayaan. Maka siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dengan ikhlas, dengan keyakinan, mengerjakan konsekuensi-konsekuensinya, keharusan-keharusannya, hak-haknya, dan istiqamah diatas itu, maka tidak ada yang bisa melawan timbanganya.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
    1 hr 40 min
  • Cahaya Pada Hari Kiamat Dari Bekas Wudhu
    Cahaya Pada Hari Kiamat Dari Bekas Wudhu merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah كتاب صحيح الترغيب والترهيب (kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Rabu, 22 Shafar 1443 H / 29 September 2021 M.

    Download kajian sebelumnya: Hukum Wanita Melepas Pakaian di Selain Rumah Suaminya
    Hadits ke-176
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إن أمتي يدعون يوم القيامة غرا محجلين من آثار الوضوء فمن استطاع منكم أن يطيل غرته فليفعل
    “Sesungguhnya umatku pada hari kiamat akan dipanggil dalam keadaan ghurran (cahaya yang ada di ubun-ubun), muhajjalin (cahaya yang ada di kaki dan tangan) dari bekas air wudhu. Maka barangsiapa di antara kalian yang ingin memanjangkan cahaya yang ada di ubun-ubunnya, hendaklah ia melakukan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ucapan ‘barangsiapa di antara kalian yang ingin memanjangkan cahaya yang ada di ubun-ubunnya, hendaklah ia melakukan’ terjadi perselisihan ulama apakah ini ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ataukah ini mudraj dari ucapan Abu Hurairah. Banyak ulama seperti Syaikh Albani Rahimahullah dan yang lainnya merajihkan bahwasanya ini adalah ucapan Abu Hurairah, bukan dari ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini karena adanya riwayat yang menunjukkan terpisah. Yaitu dalam riwayat Abu Awanah.
    Disebutkan dalam riwayat tersebut setelah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ‘Sesungguhnya umatku nanti pada hari kiamat akan dipanggil dalam keadaan  ubun-ubun, kaki dan tangan mereka bercahaya dari bekas air wudhu,’ lalu disitu dikatakan: “Abu Hurairah berkata…”
    Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang berwudhu, dimana air wudhu yang kita senantiasa lakukan setiap kali berwudhu hendak shalat itu pada hari kiamat nanti akan menjadi putih. Sehingga dengan itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bisa mengenali umatnya. Ini keistimewaan yang besar bagi mereka yang menjaga wudhunya.
    Maka dari itu saudaraku, jangan kita sia-siakan keistimewaan wudhu yang besar ini. Agar dengan cara seperti itu kita bisa dikenali oleh Rasul kita yang mulia ‘Alaihish Shalatu was Salam.
    Menit ke- Adapun memanjangkan usapan wudhu, pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur ulama. Yaitu bahwa tidak disunnahkan mencuci melebihi siku-siku dan mata kaki.
    Hadits ke-177
    Menit ke- Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendatangi pekuburan, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    السلام عليكم دار قوم مؤمنين وإنا إن شاء الله بكم عن قريب لاحقون وددت أنا قد رأينا إخواننا
    “As-Salam atas kalian negeri kaum mukminin, dan sesungguhnya kami InsyaAllah akan menyusul kalian dalam waktu yang dekat. Aku ingin sekali bisa melihat teman-teman kami.”
    Mendengar ini para sahabat berkata: “Bukankah kami teman-temanmu, wahai Rasulullah?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أنتم أصحابي وإخواننا الذين لم يأتوا بعد
    “Kalian para sahabatku, saudara-saudara kita itu yang akan datang nanti.”
    Mereka berkata: “Bagaimana engkau mengenali orang yang akan datang nanti, wahai Rasulullah dari umatmu itu?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bresabda:
    أرأيت لو أن رجلا له خيل غر محجلة بين ظهري خيل دهم بهم ألا يعرف خيله
    “Bagaimana pendapatmu kalau ada seorang laki-laki memiliki seeko...
    1 hr 4 min
  • Hadits Arbain Ke 35 – Semua Muslim Bersaudara
    Hadits Arbain Ke 35 – Semua Muslim Bersaudara merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 21 Safar 1443 H / 28 September 2021 M.

    Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 34 – Aturan dalam Merubah Kemungkaran
    Kajian Hadits Arbain Ke 35 – Semua Muslim Bersaudara
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «لاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَتَنَاجَشُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخوَاناً. المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَايَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَاهُنَا -وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ- بِحَسْبِ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ المُسْلِمَ. كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Janganlah kalian saling hasad, janganlah saling memancing (harga), janganlah saling membenci, janganlah saling berpaling/memutus, dan jangan pula berjualan di atas penjualan orang lain, hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Muslim adalah saudaranya muslim. Jangan sampai dia mendzaliminya, mengecewakannya, membohonginya, dan mengejeknya. Takwa itu di sini –beliau menunjuk ke dadanya tiga kali–. Cukup buruk bagi seseorang jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim itu haram atas muslim yang lain, yaitu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.’” (HR. Muslim)
    Jangan saling hasad
    Ini senada dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
    “Jauhilah oleh kalian jasad (iri dan dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)
    Api kalau dihadapkan pada kayu bakar, maka itu adalah makanan yang empuk bagi apik. Kayu bakar akan habis oleh api. Maka demikian juga dengan amal shalih jika dihadapkan pada hasad.
    Beliau juga mengatakan:
    دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: اَلْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ ، وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ ، حَالِقَةُ الدِّيْنِ لاَ حَالِقَةُ الشَّعْرِ
    “Telah menyebar di antara kalian penyakit umat-umat sebelum kalian; hasad dan saling benci (di antara umat Islam). Permusuhan adalah sesuatu yang mencukur habis agama seseorang, bukan rambutnya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
    Hasad adalah sesuatu yang ada di hati setiap manusia. Karena setiap orang tidak ingin ada orang lain yang mengalahkannya, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Namun orang yang mulia akan menyembunyikan perasaan itu, dia akan menyimpan dan menahan sehingga tidak membuatnya melakukan hal-hal yang dilarang. Dia justru malah mendoakan orang lain dengan kebaikan, dia berbuat baik kepada orang tersebut dalam rangka menghilangkan hasad yang ada pada dirinya.
    Sementara sebagian orang yang lain tidak bisa menutupinya. Hasad dan iri yang ada dalam hatinya itu dia tampakkan dalam perkataan-perkataan dan sikap-sikapnya. Sehingga dia mengharapkan nikmat yang ada pada orang lain itu hilang, baik berpindah kepada dirinya ataupun yang penting tidak lagi dimiliki oleh orang tersebut. Ini adalah hasad yang dilarang.
    Hasad terpuji (Ghibtah)
    1 hr 14 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah