Berbaik Sangka Kepada Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Aktualisasi Akhlak Muslim. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 06 Jumadil Awal 1442 H / 21 Desember 2020 M.
Kajian sebelumnya: Jujur dalam Perkataan dan Perbuatan
Ceramah Agama Islam Tentang Berbaik Sangka Kepada Allah
Di antara akhlak muslim adalah berhusnudzan (senantiasa berbaik sangka) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini merupakan nikmat yang sangat tinggi nilainya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengikuti persangkaan hamba terhadap diriNya. Dan tentunya adab seorang hamba kepada penciptanya adalah berbaik sangka, tidak berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berbaik sangka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabb yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang memperlakukan secara adil hamba-hambaNya, yang memberikan rezeki kepada hamba-hambaNya, yang mengatur kehidupan mereka. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berkata:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي
“Aku akan memperlakukan hambaKu sesuai dengan sangkaannya terhadap diriKu. Aku akan bersamanya apabila ia mengingatKu.”
Itu adalah keadilan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah akan dekat kepada orang-orang yang mendekatkan diri kepadaNya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan bersama hamba selama hamba itu mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي
“Jika hambaKu itu mengingatKu pada dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diriKu.”
وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ
“Apabila ia mengingatKu dalam satu kumpulan, maka Aku akan mengingatnya dalam kumpulan yang lebih baik daripadanya.”
وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا
“Jika hambaKu itu mendekat kepadaKu sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta.”
وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا
“Jika ia mendekat kepadaKu sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa.”
وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
“Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. Bukhari)
Maksud dari hadits ini adalah Allah akan membalas kebaikan hamba lebih daripada yang dilakukan hamba terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Artinya setiap kebaikan Allah balas dengan balasan yang lebih baik daripada kebaikan yang kita kerjakan.
Seorang hamba yang mengingat Allah, maka Allah mengingat hamba itu lebih daripada hamba itu mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila hamba itu mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah akan lebih dekat kepada hamba itu daripada hamba itu mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Balasan Allah lebih baik daripada kebaikan yang dilakukan oleh hamba itu kepada Rabbnya.
Ini menunjukkan kepada kita bahwa berbaik sangka kepada Allah itu merupakan dasar keimanan yang perlu dimiliki oleh setiap muslim. Bahwa iman tidak akan tegak, tidak akan berdiri kokoh tanpa tiang ini, yaitu husnuzan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tauhid tidak akan lurus kalau tidak dibarengi dengan husnudzan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Iman kepada takdir tidak akan sempurna tanpa berhusnudzan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ada tiga alasan mengapa seorang muslim wajib berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:
1.