Khutbah Jumat Renungan Hidup – Apa Yang Seharusnya Kita Pikirkan? ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 27 Jumadal Akhirah 1441 H / 21 Februari 2020 H.
Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Renungan Hidup – Apa Yang Seharusnya Kita Pikirkan?
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
Ummatal Islam,
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk senantiasa beribadah kepadaNya. Karena itulah tujuan hidup kita di dunia. Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 56)
Maka kewajiban setiap hamba untuk benar-benar memperhatikan tentang ibadah. Karena itu adalah merupakan tujuan hidupnya. Manusia tidak diciptakan untuk hidup di dunia selamanya, manusia tidak diciptakan untuk senantiasa mencari dunia dan dunia walaupun itu sesuatu yang ia butuhkan dalam hidupnya. Karena sesungguhnya ibadah adalah kebutuhan yang lebih besar daripada makanan dan minuman.
Maka kewajiban seorang hamba untuk senantiasa merealisasikan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara menuntut ilmu, dengan cara berusaha mengamalkan ilmu, dengan cara berusaha untuk mengikuti jejak kaki Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena tidak ada manfaat hidup kalau ternyata tidak diwarnai dengan ibadah kepada Allah.
Manusia berbeda dengan binatang ternak. Binatang ternak hanya mengikuti hawa nafsu saja, mereka tidak diberikan oleh Allah akal, mereka tidak diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala alat untuk berpikir. Mereka hanya hidup di dunia saja. Adapun di hari akhirat mereka dikumpulkan kemudian menjadi tanah. Saat itulah orang-orang kafir berkata:
يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَابًا
“Andaikan aku pun menjadi tanah seperti mereka.” (QS. An-Naba'[78]: 40)
Maka dari itu saudaraku.. Manusia diberikan oleh Allah balasan di akhirat kelak.
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ﴿٧﴾ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ﴿٨﴾
“Siapa yang mengamalkan kebaikan sekecil apapun dia akan melihat balasannya dan siapa yang mengamalkan keburukan sekecil apapun dia akan melihat balasannya.” (QS. Al-Zalzalah[99]: 7-8)
Maka setiap kita, saudaraku.. Berpikir tentang hakikat hidupnya di dunia bahwasanya ia akan kembali kepada Allah. Bahwasannya ia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka saudaraku sekalian.. Kita hidup di dunia hendaklah waspada. Jangan sampai kemudian kita tenggelam di dalam dunia. Karena sesungguhnya ketika kapal itu telah dipenuhi oleh air di lautan, ia akan karam dan tenggelam.