Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Pembersihan Jiwa yang Tidak Sejalan dengan Sunnah

    Pembersihan Jiwa yang Tidak Sejalan dengan Sunnah ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 19 Dzulqa’dah 1445 H / 27 Mei 2024 M. Kajian tentang Pembersihan Jiwa yang Tidak Sejalan dengan Sunnah Kita masih berbicara tentang tipu daya iblis terhadap satu […]

    Tulisan Pembersihan Jiwa yang Tidak Sejalan dengan Sunnah ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

    0 min
  • Doa Pergi ke Masjid

    Doa Pergi ke Masjid ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 19 Dzulqa’dah 1445 H / 27 Mei 2024 M. Kajian Tentang Doa Pergi ke Masjid Membaca doa pergi ke masjid ini sangat penting. Karena banyak di antara kita merasa […]

    Tulisan Doa Pergi ke Masjid ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

    0 min
  • Shalat Khauf

    Shalat Khauf ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 19 Dzulqa’dah 1445 H / 27 Mei 2024 M. Download kajian sebelumnya: Sebab-Sebab Lain yang Membolehkan Menjamak Shalat Kajian Tentang Shalat Khauf Shalat khauf atau shalat dalam […]

    Tulisan Shalat Khauf ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

    52 min
  • Bab Dihapusnya Berbicara dalam Shalat

    Bab Dihapusnya Berbicara dalam Shalat merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Sabtu, 18 Dzulqa’dah 1445 H / 26 Mei 2024 M. Bab Dihapusnya Berbicara dalam Shalat Kita masih di Bab Dihapusnya Berbicara dalam Shalat, artinya tadinya boleh berbicara dalam […]

    Tulisan Bab Dihapusnya Berbicara dalam Shalat ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

    56 min
  • Beriman Bahwasannya Allah Telah Menulis Takdir

    Beriman Bahwasannya Allah Telah Menulis Takdir adalah kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada Ahad, 17 Dzulqa’dah 1445 H / 25 Mei 2024 M. Kajian Tentang Beriman Bahwasannya Allah Telah Menulis Takdir Beriman kepada takdir adalah rukun iman yang keenam. Dimana iman kepada takdir memiliki banyak manfaat. Di antaranya adalah […]

    Tulisan Beriman Bahwasannya Allah Telah Menulis Takdir ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

    2 hr 4 min
  • Mengejar Husnul Khatimah

    Mengejar Husnul Khatimah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah tematik oleh Ustadz Dr. Abu ‘Abdil Muhsin Firanda Andirja, M.A. Hafidzahullah pada Senin, 17 Dzulqa’dah 1445 H / 25 Mei 2024 M. Kajian Tentang Mengejar Husnul Khatimah Suatu hal yang menggelisahkan para Shalihin adalah ketidaktahuan mereka tentang akhir kehidupan mereka, apakah masuk surga ataukah masuk neraka? Oleh […]

    Tulisan Mengejar Husnul Khatimah ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

    1 hr 12 min
  • Khutbah Jumat: Tiga Hal yang Menyempurnakan Amal Shalih

    Khutbah Jumat: Tiga Hal yang Menyempurnakan Amal Shalih ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 16 Dzulqa’dah 1445 H / 24 Mei 2024 M. Khutbah Jumat Pertama: Tiga Hal yang Menyempurnakan Amal Shalih Sesungguhnya, amalan shalih adalah sebab […]

    Tulisan Khutbah Jumat: Tiga Hal yang Menyempurnakan Amal Shalih ditampilkan di Radio Rodja 756 AM.

    10 min
  • Kesalahan-Kesalahan yang Harus Dihindari dalam Komunikasi dengan Remaja

    Kesalahan-Kesalahan yang Harus Dihindari dalam Komunikasi dengan Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 13 Dzulqa’dah 1445 H / 21 Mei 2024 M.







    Kajian Tentang Kesalahan-Kesalahan yang Harus Dihindari dalam Komunikasi dengan Remaja



    Komunikasi yang hangat dan lancar antara orang tua dan remaja adalah kunci penting dalam mencapai kebaikan bersama. Sebagai pihak yang lebih dewasa, orang tua semestinya bersungguh-sungguh belajar dan memperbaiki diri. Tentunya, para orang tua memiliki pengalaman yang lebih daripada anak-anak remaja. Mereka tentunya lebih banyak tahu. Dan seiring dengan bertambahnya usia, biasanya menjadi lebih santun dan lebih bisa mengendalikan diri. Berbeda dengan anak remaja yang mungkin masih berapi-api, dengan gairah muda dan semangat darah muda yang biasanya memiliki sifat impulsif dan eksplosif.



    Maka, orang tua harus menjadi penyeimbang di sini, agar bisa menjadi pendamping sekaligus pembimbing yang mampu menyuguhkan suasana yang hangat dan perasaan yang nyaman, khususnya ketika berkomunikasi dan berdialog dengan mereka. Orang tua tidak boleh membuat remaja tambah stres, tidak nyaman, atau bingung karena komunikasinya tanpa arah dan tidak terarah, bukan membimbing tapi membingungkan. Tentunya, ini perlu kematangan ilmu dan kedewasaan untuk melihat suatu masalah tidak hanya dari satu sisi tapi dari banyak sisi. Ini akan memperkaya etika komunikasi kita, sehingga tidak picik dan seperti pepatah “seperti katak di bawah tempurung.”



    Kadang-kadang orang tua tidak nyambung dengan anak remajanya karena mereka berbicara tentang sesuatu yang tidak up-to-date. Sehingga remaja tidak mengerti, dan orang tua selalu membanding-bandingkan dengan masanya waktu dia remaja dulu. Ini tidak sama tentunya, dan ini juga tidak bisa dijadikan ukuran. “Dulu, ayah masih remaja begini,” ini beda, tidak bisa disamakan karena tantangannya berbeda. Jadi, itu kurang bijak juga kalau kita menyamakan kondisi remaja kita dulu dengan kondisi anak remaja sekarang. Mereka pasti kurang nyambung karena mereka tidak bisa membayangkan bagaimana orang tua mereka waktu remaja dulu. Kondisi dulu tidak masuk dalam kepala mereka, mereka tidak bisa menggambarkannya. Mereka hanya mendapat cerita dari orang tua.



    Maka, sebenarnya kita tidak perlu membandingkan masa remaja kita dengan masa remaja anak-anak zaman sekarang. Kadang-kadang pembicaraan itu tidak relate dan tidak menyentuh masalah mereka. Lebih parah lagi, kadang-kadang tidak memberikan solusi. Ini yang membingungkan, kalau kita berkomunikasi dan berbicara tentang masalah-masalah yang mereka hadapi tapi tanpa solusi, seolah-olah kita menyuruh mereka untuk mencari solusi sendiri. Maka dari itu, para orang tua sebelum menasihati, sebaiknya menata dan mengonsep lebih dulu nasihat yang akan disampaikan, materi yang akan dibicarakan, sehingga lebih terarah dan tidak membuat bingung orang yang diajak dialog atau bicara.



    Mau tidak mau, para orang tua juga harus menyelami dan mengetahui sedikit banyak tentang dunia remaja hari ini karena tantangan mereka sangat besar dan banyak. Mungkin tidak seperti masa remaja kita dulu yang lebih simpel dan sederhana, berbeda dengan sekarang. Contohnya, dari sisi informasi yang masuk dan sampai kepada mereka, hari ini manusia dicekoki dengan informasi yang luar biasa banyaknya. Hal ini mempengaruhi pola pikir, cara pandang, dan gaya hidup mereka.



    57 min
  • Buruk Sangka Sesama Muslim

    Buruk Sangka Sesama Muslim adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 12 Dzulqa’dah 1445 H / 20 Mei 2024 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Buruk Sangka Sesama Muslim



    Imam Bukhari dan Muslim, dalam dua kitab shahihnya, dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,



    إيَّاكُمْ والظَّنَّ، فإنَّ الظَّنَّ أكْذَبُ الحَديثِ، ولا تَحَسَّسُوا، ولا تَجَسَّسُوا، ولا تَنافَسُوا، ولا تَحاسَدُوا، ولا تَباغَضُوا، ولا تَدابَرُوا، وكُونُوا عِبادَ اللهِ إخْوانًا.



    “Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah sedusta-dusta perkataan. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan, mengintai-intai kesalahan, janganlah selalu berlomba-lomba saling iri, saling hasad, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari Muslim)



    Sesungguhnya, di antara tujuan-tujuan yang harus diperhatikan oleh setiap Muslim adalah menjaga persaudaraan keimanan, menjaga hubungan keagamaan yang merupakan hubungan yang paling kuat dan tali yang paling kokoh, serta menghindari semua hal yang bisa melemahkan atau merusak persaudaraan. Allah Ta’ala berfirman,



    اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ



    “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka perbaikilah hubungan antara saudara-saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah agar kalian mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat[49]: 10)



    Ada beberapa perkara yang diperingatkan oleh syariat dan dilarang olehnya, yang bisa mempengaruhi persaudaraan keimanan, serta bisa merusak dan melemahkan persaudaraan, yaitu prasangka buruk kepada saudara sesama Muslim. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,



    إيَّاكُمْ والظَّنَّ، فإنَّ الظَّنَّ أكْذَبُ الحَديثِ



    “Jauhilah prasangka, sesungguhnya prasangka tersebut adalah seburuk-buruk perkataan.” Yaitu bisikan jiwa yang dibisikan oleh setan di dalam jiwa seorang manusia. Tentu yang dimaksud di sini adalah larangan dari prasangka buruk, karena hal ini sama dengan apa yang tertera dalam Al-Qur’anul Karim setelah firman Allah Azza wa Jalla, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” Allah berfirman,



    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ…



    “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat[49]: 13)



    Sesungguhnya, persangkaan buruk yang dilakukan oleh seorang Muslim kepada saudaranya merupakan salah satu penyakit dari pengyakit-penyakit hati, yang bisa berdampak besar dan memberikan pengaruh yang sangat buruk dan berbahaya dalam merusak persaudaraan. Bahkan, hal ini bisa menghancurkan persaudaraan sesama kaum Muslimin. Persangkaan buruk adalah prasangka yang ada di dalam hati yang tidak dibangun di atas bukti, melainkan hanya bersandar pada ucapan yang ia dengar dari saudaranya atau kelakuan yang ia lihat dari saudaranya. Kemudian,
    0 min
  • Konsep Zuhud Yang Salah

    Konsep Zuhud Yang Salah ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 12 Dzulqa’dah 1445 H / 20 Mei 2024 M.







    Kajian tentang Konsep Zuhud Yang Salah



    Kita masih berbicara tentang kaum Sufi dan sikap mereka yang menyimpang dari syariat, masuk dalam bab menghinakan diri sendiri. Ini salah satu perkara yang dilakukan oleh kaum Sufi untuk menunjukkan kezuhudan, kewara’an, ataupun keshalihan. Mereka beranggapan bahwa untuk menjadi orang yang tawadhu, harus menghinakan diri; untuk jadi zuhud, harus miskin. Ini sebenarnya satu pemahaman yang salah, karena zuhud itu tidak harus miskin.



    Zuhud adalah bagaimana seorang hamba bisa membersihkan hatinya dari kecondongan kepada dunia atau terbebasnya hati seseorang dari keterikatan kepada dunia. Maka, kezuhudan itu tidak berkaitan dengan status sosial. Siapapun bisa zuhud apabila dia bisa membebaskan dan melepaskan belenggu dunia dari hatinya, baik itu si kaya maupun si miskin.



    Berapa banyak orang-orang miskin gagal zuhud karena di dalam hatinya masih tersimpan belenggu dunia, yaitu ambisi untuk mengejar dunia. Padahal dunia menjauh darinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membentangkan dunia itu untuknya. Dia miskin, tapi hatinya terus terikat dengan dunia, orientasinya kepada dunia, dipenuhi dengan ambisi-ambisi dan ketamakan-ketamakan kepada dunia. Sehingga banyak kita lihat orang miskin main judi, apalagi sekarang ada namanya judi online. Kalau kita lihat, orang-orang yang terjebak dalam praktik judi online banyak di antara mereka justru orang miskin. Kenapa mereka bisa terjerat pada perjudian itu dan mereka tahu itu judi? Karena hati mereka belum terbebas dari belenggu dunia. Padahal mereka miskin, ketamakan dan keserakahan kepada dunia masih menghiasi hati mereka. Lalu bagaimana mereka bisa zuhud?



    Jadi, kezuhudan itu juga tidak berkaitan secara langsung dengan status sosial, apakah orang itu miskin atau kaya. Berapa banyak orang-orang kaya justru bisa membebaskan belenggu dunia dari hatinya. Dia menjadi orang kaya yang dermawan, mau berbagi, bahkan mereka berbagi sebelum diminta. Tidak ada ketamakan pada hati mereka, bahkan mereka berusaha menjauh, tapi dunia justru mengejar mereka. Allah takdirkan mereka menjadi orang-orang yang kaya,



     ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ…



    “Itulah karunia yang Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki.” (QS. Al-Jumu’ah[62]: 4)



    Jadi, kezuhudan juga tidak berkaitan dengan status sosial. Artinya, untuk jadi orang zuhud tidak harus jatuh miskin.



    Demikian juga, untuk menjadi orang tawadhu tidak perlu menghinakan diri. Namun, konsep yang ada di kalangan kaum Sufi ini justru agak aneh dan menyimpang. Mereka mengidentikkan kezuhudan dengan kemiskinan. Maka sebelumnya, kita banyak mengupas kisah-kisah atau cerita-cerita dari mereka yang membuang harta untuk memiskinkan diri. Karena menurut mereka, zuhud itu tidak bisa dilakukan kalau tidak miskin. Ini adalah konsep zuhud yang salah.



    Demikian juga, kisah-kisah sebelumnya tentang orang-orang Sufi yang sengaja menghinakan diri, menjadikan diri mereka hina supaya bisa menjadi orang yang tawadhu. Untuk bisa menjadi orang shalih, mereka terus ibadah dan meninggalkan aktivitas dunia, seperti mencari nafkah, agar bisa menjadi orang shalih. Seolah-olah,
    38 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah