Radio Seila FM

Radio Seila FM

By Seila fm BatamReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Seila FM episodes

  • Shalawat Badar, Jalan Jihad Ulama Jawa Melawan PKI
    “Tajuk Rasil”
    Selasa, 11 Rabiul Awwal 1445 H/ 26 September 2023
    *Shalawat Badar, Jalan Jihad Ulama Jawa Melawan PKI*
    _Artikel Republika, Oleh: Andrian Saputra_
    Dalam torehan sejarah bangsa ini, kepopuleran shalawat Badar tergolong fenomenal. Shalawat ini tak hanya dilafazkan oleh jamaah masjid. Para ulama, aktivis, dan politisi pun mengumandangkan syair tersebut saat melawan komunisme hingga pada era reformasi. KH Ali Manshur Siddiq merupakan sosok di balik terciptanya shalawat Badar. Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama (PP Lesbumi NU) KH Muhammad Jadul Maula mengatakan, dalam sebuah catatan abjad pegon, Kiai Ali Manshur menuliskan, shalawat Badar ditulis sekitar 1962 atau setelah Dekrit Presiden 1959 dan menjelang upaya kudeta G-30-S PKI alias Gestapu.
    Menurut Kiai Jadul Maula, Kiai Ali Manshur merasa gelisah dengan situasi umat dan kebangsaan pada era tersebut. Dia pun ingin menulis shalawat itu sebagai doa. Pada catatan itu, Kiai Ali Manshur mengatakan, pada malam Jumat tetangganya bermimpi didatangi sekelompok orang berjubah putih. Bersamaan dengan itu, istrinya, yakni Nyai Khotimah, bercerita mimpi melihat Kiai Ali Manshur berangkulan dengan Rasulullah ﷺ. Kiai Ali Manshur pun mendapat penjelasan dari Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi bahwa orang-orang berjubah itu adalah Ahlul Badr (para sahabat Nabi yang bertempur di Perang Badar). Dari situ, Kiai Ali menulis shalawat dan menamainya shalawat Badar.
    Shalawat Badar kemudian dibacakan Kiai Ali Manshur di hadapan pamannya, yakni KH Ahmad Qusyairi, dan para muridnya. Beberapa waktu kemudian, para habib yang dipimpin Habib Ali bin Abdurahman al-Habsyi Kwitang datang menemuinya untuk mendiskusikan tetang situasi kebangsaan. Di tengah diskusi, Habib Ali Kwitang meminta Kiai Ali Manshur membacakan shalawat Badar. Para habib yang bertamu pun mendengarkan, mengaminkan, meluapkan rasa haru. Saat itu, Habib Ali Kwitang mengajak agar shalawat Badar dipopulerkan sehingga dapat menyaingi lagu "Genjer-Genjer" yang dipopulerkan PKI.
    KH Ali Manshur kemudian diundang ke Jakarta untuk membacakan Shalawat Badar di hadapan jamaah. Habib Ali segera menginstruksikan murid-muridnya mencatat Shalawat Badar, mencetak, dan memperbanyak untuk di sebarkan ke berbagai daerah. "Shalawat Badar diciptakan mengiringi keprihatinan kebangsaan, nasib rakyat, umat di tengah situasi tahun 60-an. Komunis menggunakan kebudayaan melalui seni rakyat untuk mengusung tema komunisme yang bersitegang dengan kiai-kiai. Atas situasi itulah shalawat Badar tercipta," kata Kiai Jadul Maula.
    Hubungan NU dan PKI begitu memanas pada era 1960-an. Terlebih, banyak para kiai NU yang mendapatkan perlakukan kekerasan karena menentang ideologi PKI serta menolak upaya paksa perampasan tanah-tanah wakaf umat untuk pesantren dan masjid, atau lembaga pendidikan Islam oleh PKI. Sejarawan Islam yang juga rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah Kencong, Jember, Rizal Mumazziq, mengatakan, sebelum peristiwa Gerakan 30 September (Gestapu) bentrok antara NU dan PKI sering terjadi di sejumlah daerah. Misalnya saja di Surabaya, pada 1960-an PKI melalui Pemuda Rakyat dan Barisan Tani Indonesia menyerobot tanah milik Muslimat NU yang bertujuan untuk wakaf Yayasan Khadijah. Menurut Gus Rijal, PKI menginginkan agar tanah-tanah wakaf yang dimiliki pesantren atau kiai itu harus dibagikan secara merata bagi para rakyat atau Barisan Tani Indonesia.
    Patok-patok yang dipasang pemuda rakyat dan BTI itu pun menyulut kemarahan para santri, terutama Banser hingga berujung bentrok. Penistaan terhadap agama Islam juga dilakukan PKI untuk memancing kemarahan warga Nahdliyin. Di Jember, misalnya, di tengah istighatsah dan pembacaan shalawat Badar oleh para santri dan GP Ansor, tak jauh dari lokasi, para anggota PKI justru menggelar parade nyanyian seni dan drama yang menyinggung umat Islam. Di antara drama yang ditampilkan berjudul "Matine Gusti Allah", "Malaikat Kawin", dan "Haji Bahrum" sebagai .........
    9 min
  • Masjid Al-Aqsa
    “Tajuk Rasil”
    Senin, 10 Rabiul Awwal 1445 H/ 25 September 2023
    *Masjid Al-Aqsa*
    _Artikel Harian Republika edisi 09 Juni 2011. Oleh: Prof Azyumardi Azra (1955-2022), cendekiawan Muslim._
    Mengelilingi masjid yang pernah menjadi kiblat pertama kaum Muslimin dalam shalat, yang menyelinap dalam pikiran dan perasaan adalah kekaguman terhadap arsitekturnya yang unik. Dibangun jauh sebelum adanya semen, masjid ini terdiri atas kubus batu-batu besar, yang entah bagaimana dulu mereka mengangkat dan menyusunnya sehingga sangat kokoh. Bangunan masjid tidak hanya terdiri atas satu lantai dasar, tetapi juga mencakup lantai bawah tanah dengan beberapa ruangan masjid, termasuk ruangan yang dipercayai sebagai tempat Nabi Muhammadﷺ mengimami para nabi lain sebelum Mikraj.
    Arsitektur yang sama juga terlihat pada Masjid Qubbah al-Sakhrah, yang mencakup ruang gua yang dilindungi batu menggantung seperti kubah. Inilah tempat yang dipercayai sebagai titik Rasulullah bertolak melakukan Mikraj; kini ada lubang dengan bau wangi yang tersisa di tangan peziarah yang memasukkan tangannya mengingatkan peziarah pada Hajar Aswad di Masjid al-Haram. Juga ada kesyahduan rohani yang dalam ketika membayangkan Rasulullah melakukan Mikraj berangkat dari Masjid al-Aqsa ini. Inilah perjalanan menuju pusat eksistensial yang menggambarkan berbagai pengalaman anak manusia dalam kehidupan masing-masing.
    Berkeliling ke berbagai bagian Masjid al-Aqsa dan Qubbah al-Sakhrah, kawasan Kota Tua Yerusalem, tempat kedua bangunan historis ini berdiri adalah oasis keislaman dan sekaligus eksistensial bagi kaum Muslimin Palestina. Bagi kaum Muslimin di seluruh dunia, Masjid al-Aqsa adalah tempat suci ketiga setelah Masjid al-Haram di Makkah dan Masjid al-Nabawi di Madinah. Karena itu, ia juga menjadi tumpuan ziarah, termasuk dari Indonesia yang datang dalam jumlah kian banyak—memadukannya dengan perjalanan umrah.
    Muhammad Majid, warga Palestina, pemandu wisata rohaniah yang menemani berkeliling, bercerita banyak tentang kesulitan hidup di Kota Tua Yerusalem. Warga Palestina merupakan ‘penduduk tetap’—bukan warga negara Israel seperti warga Arab Palestina yang tinggal di wilayah utama Israel. Sebagian mereka memiliki paspor Yordania, yang juga kian sulit mereka peroleh.
    Warga Palestina di Yerusalem hampir tidak bisa lagi berhubungan dengan mereka yang tinggal di wilayah Tepi Barat; mereka terkepung tembok tinggi yang dibangun penguasa Israel, yang merupakan semacam ‘Tembok Berlin’; atau dalam istilah mantan presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter, ‘simbol politik apartheid’ Israel. Mereka yang tinggal di wilayah Tepi Barat sangat sulit masuk ke Kota Tua Yerusalem, terutama untuk menjual hasil pertanian, komoditas, dan produk lain serta mencari nafkah dalam sektor konstruksi dan pekerjaan kasar lainnya. Akibatnya, kondisi ekonomi bangsa Palestina di Tepi Barat kian sulit dari hari ke hari.......
    8 min
  • Usman-Harun, Singapura, dan Pulau Batam
    “Tajuk Rasil”
    Jumat, 7 Rabiul Awwal 1445 H/ 22 September 2023
    *Usman-Harun, Singapura, dan Pulau Batam*
    _Disadur dari Harian Republika edisi 13 Februari 2014. Oleh: Alwi Shahab (wartawan Republika sepanjang zaman. Beliau meninggal pada 2020)_
    Ketika Singapura menghukum gantung dua prajurit Korps Komando Angkatan Laut (KKO) (kini Marinir), terjadi peristiwa menghebohkan, berupa emosi kemarahan rakyat Indonesia yang mengutuk eksekusi tersebut. Sersan KKO Harun dan Kopral KKO Usman yang tertangkap pada 13 Maret 1965 dieksekusi di tiang gantungan di Changi, Singapura, pada 17 Oktober 1968. Keduanya dituduh bersalah dalam kasus pengeboman gedung McDonald di Orchard Road, pada era konfrontasi RI-Malaysia. Kala itu, Singapura masih bergabung dengan Malaysia.
    Pihak hakim menolak tuntutan terdakwa agar diperlakukan sebagai tawanan perang. Perwakilan kita di Singapura, Abdurrahman Ramly, berusaha menghubungi pihak Singapura agar kedua prajurit gagah berani ini tidak dihukum gantung. Namun, upaya itu pupus, Pemerintah Singapura seolah-olah tidak memedulikan protes keras yang dilancarkan hampir seluruh lapisan masyarakat. Presiden Soeharto saat itu pun melakukan berbagai cara untuk menyelamatkan kedua prajurit, minimal hukuman dikurangi menjadi hukuman penjara seumur hidup. Hingga Pak Harto mengutus Sekretaris Militer Presiden, Mayjen Tjokropranoto. Sebagai utusan presiden, Tjokropranoto meminta agar keduanya dibebaskan minimal hukumannya diubah menjadi seumur hidup.
    Namun, usaha ini kembali sia-sia. Yang sangat menyakitkan bagaimana Perdana Menteri Lee Kuan Yew begitu memandang rendah kedatangan Sekretaris Militer Presiden, dengan sengaja pergi ke Tokyo, Jepang. Dia menghindar dari Tjokropranoto agar pelaksanaan hukuman mati itu tidak memenuhi penyelesaian seperti diinginkan Indonesia. Bangsa Indonesia boleh bangga, ketika kedua prajurit menjalani hidupnya di tiang gantungan dengan tabah pada pukul 06.00 pagi waktu Singapura. Sebelumnya, keduanya berpesan agar jenazahnya dimakamkan di Tanah Air. Setibanya di Tanah Air, kedua prajurit KKO (Marinir) itu dianugerahi Bintang Sakti dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Pangkat keduanya dinaikkan satu tingkat.
    Dalam perjalanan dari Bandara Kemayoran ke Markas Hankam (di Jalan Medan Merdeka Barat), ratusan ribu masyarakat dari berbagai kalangan berdiri di kedua sisi jalan mengelu-ngelukan jenazah kedua pahlawan Dwikora itu. Saya sendiri saat itu turut menyaksikan kesedihan mereka hingga banyak yang meneteskan air mata. Suasana lebih mengharukan terjadi di Markas Hankam. Jenderal Tjokropranolo yang gagal dalam tugasnya untuk menyelamatkan nyawa kedua prajurit, terlihat terisak menangis sambil memeluk Jenderal AH Nasution. Di Markas Hankam, sejumlah perwira tinggi dari keempat angkatan, termasuk Polri, hadir
    Keesokan harinya, ketika kedua jenazah hendak diberangkatkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, masyarakat luas memberikan penghormatan kepada kedua prajurit ini. Diperkirakan satu setengah juta atau sepertiga penduduk Jakarta kala itu, tumplek ke jalan-jalan yang dilewati iring-iringan jenazah. Pada upacara pemakaman banyak prajurit dan perwira KKO meneteskan air mata. Demikian meluapnya emosi dan kemarahan rakyat pada Singapura. Panglima KKO Mayjen Mukiyat dengan nada emosi saat itu menegaskan, “Kalau diperintah, KKO sanggup merebut Singapura.” Sedangkan, Ketua MPRS Jenderal Abdul Haris Nasution juga tidak dapat mengendalikan emosinya. “Penghinaan lebih dari permusuhan," katanya, dengan penuh kemarahan.
    Nasution bahkan mengatakan, dalam masalah kehormatan bangsa, tidak boleh perhitungan-perhitungan dagang dijadikan pertimbangan. Lalu, bagaimana reaksi PM Lee melihat gejolak kemarahan ini? Dia dengan enteng mengatakan kepada Reuters, krisis yang terjadinya antara negaranya dan Indonesia hanyalah sebagai kesukaran yang relatif kecil.
    Kembali kepada kedua prajurit KKO itu, mereka adalah sukarelawan-sukarelawan yang diterjunkan ke perbatasan Malaysia dalam era konfrontasi......
    9 min
  • Pentingnya Keberadaan Ulama

    "Tajuk Rasil"

    Rabu, 4 Rabiul Awwal 1445 H/ 20 September 2023


    Pentingnya Keberadaan Ulama


    "Ulama adalah pewaris Nabi", demikianlah hadist yang diriwayatkan At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu‘anhu. Di samping itu, Ulama adalah pewaris perbendaharaan ilmu agama. Melalui Ulama pula, umat Islam terpelihara kemurnian agamanya dan menjadikan rujukan umat dalam membantu menyelesaikan permasalahan yang terjadi dengan pemahaman syariat.


    Dihadapan para sahabat, Nabi Muhammadﷺ menjelaskan bahwa Allah SWT tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hambanya, akan tetapi Allah SWT mecabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga tidak menyisakan seorang alim pun, hingga orang orang pada saat itu mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh dan mereka berfatwa tanpa dasar ilmu hingga mereka sesat dan menyesatkan.


    Ulama yang hadir di tengah tengah umat saat ini adalah rahmat dan barakah dari Allah SWT, dan meninggalnya seorang alim akan membuat umat kebingungan dalam mencari pegangan. Pun kini, para ulama semakin langka, bahkan generasi muda yang bercita-cita ingin menjadi ulama juga semakin sedikit.


    Lalu marilah kita tanyakan kepada anak-anak kita, generasi penerus agama ini, tanyakan kepada mereka lebih hafal nama-nama tokoh ulama atau artis dunia, mungkin kita sudah tau jawabannya. Lalu apakah ini menjadi salah mereka sebagai generasi penerus Islam, jawabnya tidak! bisa jadi ini adalah salah kita sebagai orang tua yang kurang mengenalkan para tokoh ulama kepada anak-anak kita.


    Anak-anak kita saat ini tidak tahu bagaimana kisah penelusuran hadist dari seorang Imam Bukhari yang mengembara dari dataran Eropa menuju kota Madinah! Atau bagaimana perjuangan para Walisongo yang mengislamkan Nusantara dengan hikmah dan teladan yang baik atau para Ulama, Kyai dan santri dalam merebut kemerdekaan bangsa ini dan mempertahankannya.


    7 min
  • Politik Beragama

    “Tajuk Rasil”

    Selasa, 3 Rabiul Awwal 1445 H/ 19 September 2023


    Politik Beragama

    Artikel Hidayatullah.com, Oleh: Kholili Hasib (Aktivis muda Nahdhatul Ulama)


    Pada tahun 1935, Muktamar Nadhatul Ulama (NU) di Banjarmasin mengeluarkan keputusan penting berkaitan dengan pembelaan negeri dari ancaman kolonial Belanda. Ditetapkan bahwa bumi Jawa (Nusantara) adalah Negeri Muslim (Dar al-Islam). Keputusan Muktamar ini diambil dengan pertimbangan ada jaminan kebebasan kepada umat Islam mengamalkan Islam di negerinya sendiri. Ketetapan tersebut bersifat “defensif” sekaligus “politis”. Salah satu tujuan keputusan tersebut untuk melindungi tanah air dan bangsa dari ancaman penjajah.


    Meskipun Indonesia belum merdeka, keputusan muktamar NU tersebut dapat dikatakan keputusan politik. Sebuah siasat untuk menegaskan identitas dan meneguhkan legalitas. Bahwa mengamalkan Islam di tanah air adalah legal. Ternyata Langkah ini berhasil. Beberapa tahun kemudian, Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dipilih sebagai qadhi untuk pulau Jawa dan Madura. Belanda tidak mempersoalkan. Dalam beberapa catatan sejarah awal Indonesia, keterlibatan beberapa ulama dalam politik praktis tidak bisa selalu ditafsir sebagai sikap pragmatis. Tetapi sebagai sikap teologis. Dalam politik kenegaraan, cara pandang para ulama sangat dominan dengan pemikiran fikih.


    Sebagai contoh, KH. Bisri Syamsuri, Rais ‘am NU sejak 1971 dan termasuk ‘faunding fathers’ NU, pernah menjadi anggota Dewan Konstituante, anggota DPR dari partai NU dan PPP. Bagi KH. Bisri berpolitik adalah media berdakwah. Bukan karena hubburiyasah (ambisi jabatan). Di awal Orde Baru, peneliti Jepang yang bernama Nakamura, menyebut bahwa NU berpikiran radikal. Kemungkinan karena sikap KH. Bisri Syamsuri yang menolak RUU Perkawinan, menolak aliran kepercayaan, dan menolak P4. Tentu saja, penilaian radikal itu karena KH. Bisri Syamsuri sangat konsisten memegang ajaran fikih selama beraktifitas politik. Lebih dari itu, KH. Bisri Syamsuri yang tersohor ahli fikih tersebut sangat teologis.


    Sikap politik tokoh seperti sosok ulama seperti KH. Bisri Syamsuri dan KH. As’ad Samsul Arifin sangat berpengaruh. Pada awal Orde Baru pemerintah sangat memperhitungkan pengaruh dan pengikut kedua kiai tersebut. Memang, sejak Indonesia berdiri hingga saat ini pertimbangan agama menjadi sangat penting untuk diperhitungkan. Dalam perjalanan politik Indonesia, selalu ada faksi-faksi yang berbeda; faksi nasionalis, sekular dan religius. Namun, hampir setiap politikus, sekular sekalipun, tetap mempertimbangkan dimensi-dimensi religius. Cara-cara membuang agama biasa dilakukan faksi sekular. Salah satu caranya dengan membuang agama dari politik. Cara ini barangkali cukup mudah................


    10 min
  • Operasi “Menghabisi Cak Imin dan PKB”
    Kini, peluru mulai diarahkan ke Muhaimin Iskandar, Ketum PKB yang akrab disapa Cak Imin. Pasalnya, bukan saja karena Cak Imin mendampingi Anies Baswedan, tapi lebih karena Cak Imin telah memperbesar peluang kemenangan bagi Anies Baswedan. Setelah Cak Imin dan PKB gabung ke Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP), operasi bertahun-tahun dalam rangka menghancurkan (black campign) terhadap Anies Baswedan, khususnya di kalangan Nahdliyin Jawa Timur dan Jawa Tengah akhirnya kandas. Operasi stigmatisasi Anies sebagai tokoh kontra-NU menjadi berantakan dengan keputusan PKB mengusung Cak Imin sebagai cawapres Anies.
    Stigmatisasi Anies dengan tuduhan politik identitas, tuduhan bahwa Anies didukung oleh kelompok intoleran, Anies dikerumuni oleh orang-orang di sekitarnya yang ekstrem kanan, kini berangsur mulai meredup. Pada akhirnya ini memberi kesimpulan bahwa semua tuduhan kepada Anies selama ini memang tidak ada faktanya. Secara substantif salah objek.
    Meski Anies Baswedan telah lima tahun memimpin DKI Jakarta dan membuktikan bahwa semua tuduhan itu salah dan fitnah, tapi tidak cukup mempan untuk menghadapi gelombang operasi black campaign yang dijalankan secara sistemik dan dilakukan oleh orang-orang profesional. Baru setelah Cak Imin bergabung, mata dan kesadaran publik mulai terbuka bahwa tuduhan itu merupakan kampanye hitam belaka. Cak Imin telah mengubah peta pilpres 2024. Merapatnya Cak Imin ke Anies berhasil mengubah semua skenario pilpres, khususnya terhadap Anies. Satu-satunya cara yang saat ini dianggap efektif untuk menghentikan kemenangan Anies adalah “Habisi Cak Imin dan PKB”........
    10 min
  • Mengenal Mualaf Aktivis pro-Palestina

    “Tajuk Rasil”

    Jumat, 30 Shafar 1445 H/ 15 September 2023


    Mengenal Mualaf Aktivis pro-Palestina


    Adalah Lauren Booth, seorang jurnalis sekaligus aktivis perdamaian dunia kemanusiaan yang pro-Palestina dari London, Inggris. Namanya sempat menjadi sorotan publik dunia tatkala Lauren memutuskan sebagai seorang mualaf. Bulat dengan keputusannya, Lauren pun turut mengubah penampilannya dengan mengenakan hijab. Lahir pada 22 Juli 1967, perempuan berusia 56 tahun ini merupakan adik ipar dari mantan perdana Menteri Inggris, Tony Blair. Cherie Blair, istri Tony Blair, merupakan kakak tiri dari Lauren Booth.


    Masuk Islam pada tahun 2010. Perjalanan Lauren menjadi seorang muslim cukup menarik, karena sebelumnya dia sangat membenci Islam. Dalam sebuah video yang dia unggah ke YouTube, Booth bercerita pertama kali mengetahui Islam melalui serangan teroris di World Trade Center, pada (9/11) silam. Tragedi tersebut kata Booth, menjadikan Islam sebagai agama yang menakutkan. Menurutnya, Islam selalu identik sebagai perang dari Barat. Namun pada saat itu, dia memahami bahwa tragedi di WTC bukanlah ulah semua umat muslim, melainkan ulah sekelompok teroris yang kebetulan beragama islam.


    Selama menjadi seorang jurnalis, Booth telah menemukan banyak hal baru, dan mengunjungi berbagai wilayah konflik, seperti Palestina. Dalam perjalanannya di negara konflik itu, Booth justru merasakan kedamaian dari warga sipil yang menjadi korban perang. Dia kemudian menceritakan pengalamannya mengenal Islam pada tahun 2008 tepatnya saat bulan Ramadan, ketika dia menjadi relawan di Palestina. Di negara konflik itu, Booth justru mendapatkan perlakuan baik dan merasakan kedamaian.


    8 min
  • Jauhi Kezaliman

    “Tajuk Rasil”

    Kamis, 29 Shafar 1445 H/ 14 September 2023


    Jauhi Kezaliman


    Adanya kezaliman dalam kehidupan individu dan masyarakat tidak dapat dipungkiri. Setiap hari media massa maupun media sosial memberi informasi yang berisi cerita tentang kezaliman. Penipuan, penggelapan, perampokan, penyerangan, perkelahian, penggusuran dan pembunuhan serta tindakan-tindakan amoral lainnya dari kalangan masyarakat bawah sampai lapisan atas menjadi berita yang hangat dan menarik untuk dibaca.


    Seperti yang dikatakan oleh psikolog sosial Leonard Berkowitz, berita-berita seperti kejahatan manusia hanyalah contoh yang paling ekstrim dari kezaliman yang terjadi setiap hari. Masih banyak lagi kezaliman yang terjadi yang tidak tertampung oleh media massa. Kezaliman memang terjadi di mana-mana dan cenderung terus berlanjut. Oleh karena itu, ajaran Islam sangat menentang perbuatan zalim. Islam adalah agama yang penuh keadilan dan jauh dari kezaliman. Pemeluknya diperintahkan untuk berbuat adil dan melarang berbuat zalim.


    Secara bahasa, zalim atau azh-zhulmu artinya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Secara istilah, zalim artinya melakukan sesuatu yang keluar dari koridor kebenaran, baik karena kurang atau melebih batas. Al Asfahani mengatakan: “Zalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada posisinya yang tepat baginya, baik karena kurang maupun karena adanya tambahan, baik karena tidak sesuai dari segi waktunya ataupun dari segi tempatnya.” Zalim juga diartikan sebagai perbuatan menggunakan milik orang lain tanpa hak. Al Jurjani mengatakan: “Zalim artinya melewati koridor kebenaran hingga masuk pada kebatilan, dan ia adalah maksiat.


    Sebagai pengingat, terdapat banyak sekali ayat-ayat Alquran dan hadits yang mencela dan melarang perbuatan zalim. Allah Ta’ala berfirman:

    “Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18).

    “Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim: “Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu” (QS. Saba: 40).

    “Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” (QS. Ghafir: 18).

    “Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan” (QS. Al An’am: 21).


    8 min
  • Konflik Tanah dan Budaya di Rempang
    Rempang telah menjadi persemaian konflik tanah, satu dari ribuan kasus serupa di tanah air sejak republik ini berdiri. Penanganan konflik ini yang berat sebelah dan penuh kekerasan telah membangunkan sentimen kaum Melayu. Ribuan orang Melayu datang dari Riau, Jambi, Medan bahkan Palembang berkumpul di Rempang untuk memprotes penggusuran 6 desa di Rempang untuk kepentingan investor. Publik menanyakan apa respon para bakal calon presiden tentang hal ini.
    Pulau Rempang adalah pulau kecil yang terletak di sebelah utara Pulau Batam. Pulau ini memiliki luas sekitar 2.600 hektar. dan dihuni oleh sekitar 7.500 jiwa. Mayoritas penduduk Pulau Rempang adalah orang Melayu. Konflik tanah berkaitan dengan rencana penggusuran 16 desa setempat yang notabene telah dilengkapi dengan semua fasilitas umum seperti puskesmas, masijid, jalan raya, pelabuhan, angkutan umum, lapangan sepakbola, voli, basket, jaringan listrik dan telpon, termasuk 10 unit SD, 3 unit SMP dan 1 unit SMA. Warga akan dipindahkan ke tempat baru yang terletak di Pulau Galang, sekitar 10 kilometer dari Pulau Rempang. Tempat tinggal baru tersebut akan dibangun oleh Pemerintah.
    Mata pencaharian utama warga desa-desa tersebut adalah pertanian, perkebunan, dan perikanan. Sebagian warga juga bekerja sebagai pedagang dan buruh bangunan. Konflik tanah di Pulau Rempang telah menimbulkan berbagai dampak negatif bagi warga setempat. Warga kehilangan mata pencaharian, identitas, dan budaya mereka. Atas semua kesulitan yang bakal dihadapi penduduk Rempang Pemerintah Indonesia berkewajiban mencari solusi yang adil dan komprehensif. Solusi tersebut harus dapat memenuhi kebutuhan warga Rempang dan memastikan bahwa mereka dapat hidup layak dan mampu mempertahankan identitas budaya mereka..
    Warga Pulau Rempang menolak rencana penggusuran tersebut karena mereka merasa bahwa tanah mereka adalah milik mereka secara turun-temurun dan mereka memiliki hak untuk tinggal di tanah tersebut. Mereka juga khawatir bahwa penggusuran tersebut akan membuat mereka kehilangan mata pencaharian dan tempat tinggal. Pulau Rempang mulai dihuni jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, yaitu pada sekitar abd ke-16. Ketika itu Rempang masih manjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Johor. Sementara BP Batam mengklaim bahwa tanah di Pulau Rempang adalah milik negara dan memiliki hak untuk menggunakannya untuk kepentingan pembangunan. BP Batam juga menawarkan ganti rugi kepada warga yang terkena penggusuran, tetapi warga menolaknya karena mereka menilai ganti rugi tersebut tidak adil.
    11 min
  • Mengenang Peristiwa 9/11

    “Tajuk Rasil”

    Selasa, 27 Shafar 1445 H/ 12 September 2023


    Mengenang Peristiwa 9/11

    Oleh: Imam Shamsi Ali, Saksi mata peristiwa 9/11 di New York City

    Hari ini ritual rutin pemerintah kota New York dan Amerika kembali dilaksanakan. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya para pajabat Amerika, khususnya kota New York hadir. Para tokoh masyarakat dan agama juga diundang, termasuk saya sendiri. Hanya saja, sejak tahun 2007 saya berhenti hadir.


    Berhentinya saya hadir bukan karena saya tidak punya rasa solidaritas dengan mereka para korban atau yang dikorbankan dengan peristiwa ini. Bukan pula karena saya tidak cinta New York dan Amerika. Bagi saya di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Indonesia dan Amerika keduanya adalah bumi Allah. Takdirnya saya dilahirkan di bumi Allah yang dinamai Indonesia. Siapa tahu takdir selanjutnya adalah diwafatkan di bumi Allah yang dinamai Amerika.


    Alasan saya tidak lagi hadir di acara peringatan (memorial service) itu sederhana. Satu, karena memang dari awal saya tidak setuju dengan slogan Amerika “We forgive but never forget”. Bagi saya slogan ini seperti indah. Tapi menyiratkan “kebencian dan dendam” yang mendalam. Paradoksikal dengan ajaran Islam “fa’fuu wa ishfahu” (maafkan dan lapangkan dada). Kata lapangkan dada dipahami sebagai “let it go” alias “move on”. Amerika dengan slogan “never forget” seolah tidak mau move on.


    Alasan kedua, saya setuju bahwa peristiwa 9/11 itu sangat besar dan dahsyat bagi Amerika dan dunia. Peristiwa 9/11 telah merubah banyak hal, khususnya tatanan hubungan antar manusia, baik pada tataran kelompok (antar agama misalnya) bahkan mungkin pada tataran global (antar negara). Berbagai isu internasional bahkan mendadak terdefenisikan dengan defenisi-defenisi yang kadang di luar nalar, bahkan merendahkan nalar manusia.


    Tapi yang lebih penting bagi saya adalah adanya nuansa “playing victim” dan “perception building” yang terjadi dengan peringatan ini. Sehingga menghadirinya seolah ikut membenarkannya. Dengan peringatan 9/11 itu Amerika selalu ingin menampilkan diri sebagai korban kekerasan kelompok lain. Dan pastinya dengan peristiwa 9/11 ini kelompok Islamlah yang menjadi tertuduh sebagai pelaku.


    Buntut peristiwa 9/11 memang dahsyat. Kita bisa membayangkan “the magnitude” (dahsyatnya) peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Dari Afghanistan, ke Irak, ke Suriah, hingga ke Libia. Saya bukan membandingkan kejahatan dengan kejahatan. Bagi saya peristiwa 9/11 dengan korban hampir 3000 jiwa manusia adalah kejahatan. Tapi pernahkah kita sadar bahwa ratusan ribu korban di Afghanistan, Irak, Suriah dan Libia juga kejahatan yang sebenarnya lebih dahsyat? Lalu Kenapa hanya peristiwa 9/11 yang dikenang dengan segala rasa “haru dan sedih?”.


    Di sinilah saya kemudian terpikir jika ada sesuatu yang salah dengan peringatan ini. Akhirnya sejak tahun 2008 hingga kini undangan itu masih saya terima. Namun saya memutuskan untuk tidak menghadirinya.

    7 min

About Radio Seila FM

From the publisher's feed

Menyajikan sederetan program unggulan on air