Radio Seila FM

Radio Seila FM

By Seila fm BatamReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Seila FM episodes

  • Barat dan Sekutunya yang Barbar
    “Tajuk Rasil”
    Selasa, 9 Rabiul Akhir 1445 H/ 24 Oktober 2023
    *Barat dan Sekutunya yang Barbar*
    _Artikel Hidayatullah.com, Oleh: Dr. Javed Jamil (Ilmuwan muslim India)_
    Bagi Barat dan ‘Israel’, kekerasan apa pun yang dilakukan terhadap mereka adalah terorisme, yang patut mendapat kecaman tertinggi dan cap “jahat”. Namun kekerasan yang jauh lebih besar yang dilakukan oleh mereka hanya disebut dengan sebuah “Kerusakan Tambahan”.
    Menurut laporan website Jewish Virtual Library, sejak awal konflik Israel-Plaestina hingga tahun 2021, sekitar 24 ribu warga Israel/Yahudi dan sekitar 94.000 warga Arab/Palestina telah terbunuh. Sumber lain menunjukkan perbedaan yang jauh lebih tinggi.
    Padahal, orang-orang Yahudi lah yang merebut tanah Palestina dengan bantuan Amerika, Inggris, Prancis dan Jerman. Saat ini, bahkan media-media India dan Pemerintahnya menyebut Hamas sebagai “teroris”, bukan milisi kemerdekaan atau milis pembebasan. Sekalipun serangan terbaru mereka merupakan respons terhadap tindakan tidak manusiawi yang jauh lebih besar yang terus dilakukan terhadap mereka selama lebih dari 70 tahun.
    Saya percaya bahwa setiap kematian orang yang tidak bersalah harus dikutuk, tetapi marilah kita mengutuk setiap pihak sebanyak jumlah orang tak berdosa yang telah mereka bunuh. Sekarang, datanglah ke Barat. Negara-negara Barat yang dipimpin oleh Amerika mengklaim dirinya sebagai “Dunia yang Beradab” hanya karena mereka telah mencapai keunggulan dalam teknologi dan kekuatan militer, dan melalui hal ini mereka berusaha untuk mendominasi seluruh dunia.
    Namun kenyataannya mereka telah menggunakan perkembangan, kekuatan uang, dan kekuatan politik mereka untuk membawa kematian dan kehancuran di mana-mana. Merekalah sebenarnya  pembunuh utama dalam dua perang dunia. Ketika peristiwa 9/11 terjadi, dalam waktu singkat mereka menggambarkannya sebagai aksi teror dengan biangnya bernama Al-Qaeda......
    6 min
  • Volunterisme dan Masa Depan Partai Politik
    “Tajuk Rasil”
    Senin, 8 Rabiul Akhir 1445 H/ 23 Oktober 2023
    *Volunterisme dan Masa Depan Partai Politik*
    _Oleh: Asri Tadda, Waketum Konfederasi Nasional Relawan Anies_
    Dulu, istilah volunterisme hanya jamak kita kenal di dunia gerakan kemanusiaan. Saat itu, volunter yang bermakna sukarelawan, adalah mereka yang secara tanpa pamrih memberi kontribusi baik materi maupun non-materi, fisik maupun non-fisik pada kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Di Indonesia, istilah relawan sudah mulai dikenal masuk ke dunia politik saat era Pilkada langsung. Entah siapa yang memulai, tetapi gerakan yang kemudian kita sebut sebagai volunterisme politik, hingga kini terus tumbuh dengan segala bentuk dan dinamikanya.
    Fenomena volunterisme politik semakin terasa nyata dalam perhelatan Pemilihan Presiden. Dengan skala keterlibatan publik yang begitu luas, partisipasi dan keterlibatan dari semua elemen yang ada untuk bisa memenangkan kontestasi menjadi sebuah keniscayaan. Pada konteks inilah lahir ribuan simpul-simpul relawan, seolah mengambil alih sebagian peran dari partai politik.
    Peneliti Politik LIPI Prof Siti Zuhro pada sebuah kesempatan bahkan mengatakan, kerja-kerja para relawan politik sesungguhnya adalah tugas partai politik. Tak terkecuali menjelang Pilpres 2024 mendatang. Sejak awal 2021, simpul-simpul relawan yang mengusung tokoh-tokoh nasional untuk menjadi calon presiden, mulai bermunculan. Saat itu, malah belum ada satupun partai politik yang menyebutkan nama untuk diusung sebagai bacapres, kecuali isu perpanjangan masa jabatan menjadi 3 periode.
    Demikianlah dinamika demokrasi di negeri ini. Partai politik yang diharapkan mengambil peran maksimal dalam edukasi dan sosialisasi politik kepada rakyat, ternyata juga tak kunjung menemukan jalan keluar dari masalah internalnya. Faktanya, hampir tak ada partai politik di negeri ini yang benar-benar mandiri dan independen dalam kerja-kerja operasional kepartaian. Apalagi jika sudah berbicara menyangkut program ideologisasi kepartaian hingga ke lapis paling bawah.
    Padahal demokrasi yang kita harapkan terwujud adalah ketika partai politik memiliki infrastruktur yang memadai hingga pada grass root, sehingga aspirasi masyarakat dapat dikanalisasi dengan baik hingga menjadi aspirasi dan kebijakan nasional. Idealnya, partai politik berperan maksimal sebagai wadah kaderisasi dan pendidikan politik bagi siapapun yang berkeinginan masuk ke dunia politik. Sejak lepas SMA, putera-puteri bangsa sudah bisa menentukan akan bergabung di parpol mana dan memulainya dari lingkungan di mana dia berdomisili..........
    7 min
  • Kisah Pejuang Palestina Ditakuti Israel, Gugur Oleh Jebakan Bom Zionis

    “Tajuk Rasil”

    Jumat, 5 Rabiul Akhir 1445 H/ 20 Oktober 2023


    Kisah Pejuang Palestina Ditakuti Israel, Gugur Oleh Jebakan Bom Zionis

    Artikel Republika


    Nama lengkapnya adalah Yahya Abdul Lathif Ayyasy, lahir pada tahun 1966 di desa Rafat, sebuah desa yang ada di wilayah Thulkurm, Palestina. Kantor urusan wakaf memberikan penghargaan kepada Yahya Ayyasy karena prestasinya dalam bidang membaca dan menghafal Alquran pada tahun 1989, dia lulus dari jurusan teknik listrik Universitas Bir Zaid. Setelah itu, Yahya Ayyasy mengajukan permohonan izin untuk pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studinya. Permohonan izin tersebut ditolak oleh pemerintah Israel.


    Pada tahun 1991, Yahya Ayyasy menikah dengan putri pamannya. Pernikahannya dikaruniai dua putra yaitu Bara dan Abdul Lathif. Sejak tahun 1993, Yahya Ayyasy menjadi anggota persatuan Insinyur Yordania. Dia adalah ahli perakit bom pada pasukan pimpinan Izzuddin Al Qassam, pasukan pimpinan Izzuddin Al Qassam adalah sayap militer kelompok Hamas. Yahya Ayyasy merencanakan 11 usaha isytisyhad atau bom bunuh diri. Dia melaksanakan rencana tersebut pada bulan April 1994 sampai November 1995. Usahanya itu berhasil menyebabkan kematian 410 orang Yahudi Israel.


    Israel telah tiga kali melakukan usaha pembunuhan terhadap Yahya Ayyasy. Dia selalu bersembunyi dari kejaran pemerintah Israel, dia bersembunyi di rumah salah seorang kawannya yang bernama Usamah Hamad selama empat bulan. Setiap kali Yahya Ayyasy keluar rumah, dia selalu menyamar dalam bentuk yang berbeda-beda. Kadang dia menyamar seperti orang tua, terkadang seperti orang Yahudi yang arogan dan kadang seperti orang Yahudi yang membawa senjata.


    Di antara ucapan-ucapannya yang terkenal, Yahya Ayyasy berkata, "Sesungguhnya peperangan melawan Israel harus terus dilakukan sampai mereka keluar dari bumi Palestina."


    Israel memasang bahan peledak seberat 50 gram di telepon genggam yang dia ambil dari kawannya yang bernama Usamah. Usamah menerima telepon tersebut dari pamannya. Pamannya Usamah adalah satu-satunya orang yang mengetahui tempat persembunyian Yahya Ayyasy di rumah Usamah. Paman Usamah mengambil telepon dari Usamah kemudian memberikannya kembali. Suatu saat Yahya Ayyasy merasa curiga kalau orang Yahudi memasang bahan peledak di teleponnya. Yahya Ayyasy membuka telepon tersebut dan tidak mendapatkan sesuatu yang mencurigakan..........


    12 min
  • Membela mereka yang al-Mustadh’afiin

    “Tajuk Rasil”

    Kamis, 4 Rabiul Akhir 1445 H/ 19 Oktober 2023


    Membela mereka yang al-Mustadh’afiin

    Oleh: Imam Syamsi Ali


    Saya yakin jika saja seseorang memilki akal sehat dan hati nurani pastinya akan menerima kenyataan jika dalam konflik Palestina-Israel ini pihak yang mustadh’afin (yang lemah) dan mazhlumin (terzholimi) adalah bangsa Palestina. Mereka adalah korban penjajahan lebih 70 tahun; tanah, rumah, bahkan nyawa sedemikian banyak yang telah korban. Sementara dalam setiap peristiwa yang terjadi selalu dipaksa dan dipojokkan untuk berada di posisi kejahatan.


    Saya tidak ingin lagi merincikan penderitaan bangsa Palestina dari masa ke masa. Sejak tahun 1947 hingga kini semua telah menjadi catatan kelam sejarah. Bagaimana wilayah Palestina di awal Israel diberikan sebongkah tanah oleh Inggris sedemikian luas dan subur. Kehidupan bangsa Palestina sangat maju dan makmur karena mereka termasuk bangsa yang kepintarannya di atas rata-rata. Tapi setelah sekian lama terjajah bangsa Palestina dipaksa memposisika diri seolah bangsa terbelakang, kurang terdidik, bahkan biadab.


    Semua itu seharusnya menjadikan mereka yang berakal sehat dan punya hati nurani mengakui jika bangsa Palestina memang bangsa yang dilemahkan (mestadh’afii) dan terzholimi (mazhlumin). Dan karenanya dengan akal sehat dan hati nurani pula hendaknya bangsa Palestina mendapat perlakuan sebagai mustadh’afin dan mazhlumin, baik secara moral keagamaan maupun kemanusiaan. Berikut ini beberapa argumentasi yang mendasar Kenapa bangsa Palestina harus mendapat dukungan sebagai pihak al-mustadh’afin al-mazhlumi:


    Satu, karena pertimbangan dasar kemuliaan manusia. Baik dalam pandangan Islam maupun atas dasar nilai Universal kemanusiaan atau kemuliaan manusia menjadi hak yang sangat mendasar. Dalam pandangan Islam diyakini bahwa kemuliaan manusia secara alami merupakan pemberian Allah yang sangat mendasar. “Dan Sungguh Kami (Allah) telah muliakan anak cucu Adam”. Dan dalam tatanan Deklarasi Universal HAM juga mendapat tempat yang mendasar.


    Dua, salah satu bentuk kemuliaan manusia adalah kebebasan yang Allah karuniakan kepada mereka. Kita yakini bahwa Allah memberikan kebebasan kepada manusia melalui deklarasi Tauhid “laa ilaaha illallah”. Esensi dasar dari kalimah Tauhid adalah “kebebasan” yang bertanggung jawab. Manusia bebas tapi punya tanggung jawab kepada Tuhan (illallah). Jaminan kebebasan juga dipastikan melalui Deklarasi Universal HAM yang dideklarasikan di tahun 1948, berabad-abad setelah Islam mendeklarasikan melalui firman Ilahi dan lisan Rasulullah ﷺ.


    Tiga, karena tuntutan keadilan dan kesetaraan. Menjadi tuntutan alami manusia untuk diperlakukan secara adil dan setara. Pada konteks ini pastinya saja pasti akan mengakui kenyataan bahwa bangsa Palestina telah diperlakukan secara sangat tidak adil dan diskriminatif. Baik oleh dunia internasional, khususnya kalangan negara-negara besar yang mengaku demokratis dan beradab juga media. Keadilan dalam pandangan Islam menjadi sangat mendasar. Bahkan menjadi salah satu karakteristik ketakwaan yang mendasar: “berbuat adillah karena itu dekat kepada ketakwaan”. Dalam nilai kemanusiaan keadilan menjadi esensi. Sehingga dalam Konstitusi banyak negara, termasuk Amerika (justice for all) dan Indonesia (keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).


    Empat, perintah amar ma’ruf nahi mungkar. Perintah menyeru kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran menjadi sangat mendasar dalam ajaran Islam. Bahkan sekiranya ada rukun Islam keenam, perintah inilah yang menjadi rukunnya. Ma’ruf atau kebaikan tertinggi dalam ajaran Islam adalah kebebasan yang diekspresikan dalam ketauhidan. Sebaliknya kemungkaran terbesar adalah isti‘bad (penyembahan selain kepada Allah. Penjajahan adalah bentuk perlakuan perbudakan kepada sesama dan merupakan kemungkaran yang harus dihapuskan.…

    11 min
  • Keliru Menilai Aspirasi Rakyat
    “Tajuk Rasil”
    Rabu, 3 Rabiul Akhir 1445 H/ 18 Oktober 2023
    *Keliru Menilai Aspirasi Rakyat*
    Ketika berbicara kebijakan pemerintaah yang berkaitan dengan rakyat, ada satu praktek kegiatan politik yang dinamakan lobi politik. Pengertian sederhananya adalah segala upaya yang dilakukan oleh individu atau kelompok kepentingan swasta untuk mempengaruhi keputusan pemerintah. dalam arti aslinya merujuk pada upaya mempengaruhi suara pembentuk undang-undang, umumnya dilakukan melalui lobi di luar ruang legislatif. Lobi dalam berbagai bentuk tidak bisa dihindari dalam sistem politik mana pun.
    Di Amerika Serikat sudah cukup lama dikenal peranan dari para lobbyists yang bekerja secara profesional untuk men dekati para pengambil keputusan di Kongres dan di jajaran Pemerintahan Amerika Serikat untuk kepentingan kliennya. Bahkan ada kelompok lobi Israel yang juga dikenal sebagai lobi Zionis, individu dan kelompok yang berusaha mempengaruhi pemerintah Amerika Serikat agar dapat melayani kepentingan Israel dengan lebih baik. Kelompok lobi pro-Israel terbesar adalah Christians United for Israel dengan lebih dari tujuh juta anggota. Juga American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) organisasi terkemuka dalam lobi, yang berbicara atas nama koalisi kelompok Yahudi Amerika.
    Sementara di Indonesia, menurut pakar politik Arbi Sanit menengarai peran lobbyists ini dimainkan oleh partai-partai politik, yang cenderung memonopoli kekuasaan Negara. Kelompok lain yang berpotensi ‘membajak Negara’ adalah apa yang disebut sebagal konglomerat hitam yang berkolusi dengan para koruptor di dalam jajaran pemerintahan, bahkan dalam jajaran cabang legislatif, eksekutif dan yudikatif, yang menghasilkan kebijakan pemerintahan yang hanya menguntungkan kelompok mereka dan merugikan rakyat banyak. Melupakan tujuan utama menjalankan amanah Negara.
    Meninjau kembali tujuan Negara sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 adalah “Melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Dalam pasal 36 UUD 1945 dejelaskan bahwa setiap warganegara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Dalam pasal 33 ayat (2) dijelaskan bahwa “Bumi, air dan apa-apa yang terkandung di dalamnya, dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
    Apabila kita cermati tujuan Negara dan hak-hak warga negara yang tercantum dalam UUD 1945 tersebut diatas, semua butir itu adalah nilai-nilai publik yang harus menjadi tujuan dari semua kebijakan publik di negeri ini, nilai-nilai publik sebenarnya adalah seberapa besar kemanfaatan suatu kebijakan terhadap rakyat. Walaupun dalam tahun 1945 para pendiri Negara memberikan perhatian yang amat besar pada masalah kelembagaan negara, khususnya kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat, Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, para Menteri, namun beliau-beliau sangat sadar bahwa pada taraf terakhir yang akan membuat keputusan adalah manusia yang menguasai lembaga-lembaga tersebut.
    8 min
  • Jaringan Yahudi di Indonesia
    “Tajuk Rasil”
    Selasa, 2 Rabiul Akhir 1445 H/ 17 Oktober 2023
    *Jaringan Yahudi di Indonesia*
    _Artikel Republika 6 Agustus 2006, oleh: Alwi Shahab (wartawan Republika sepanjang zaman, Wafat pada 2020)_
    Dengan judul "Sahabat Akrab", foto Reuters yang dimuat sejumlah harian di Ibu Kota pekan lalu memperlihatkan Menlu Amerika Serikat Condoleeza Rice berjabatan tangan dengan Perdana Menteri Israel Ehud Omert di Yerusalem. Keduanya tertawa-tawa, seolah-olah puas karena pasukan Israel berhasil melakukan pembunuhan massal terhadap rakyat Lebanon dan Palestina --kebanyakan di antaranya wanita dan anak-anak--.
    Israel yang mendapat dukungan Amerika Serikat juga mempergunakan senjata pemusnah massal yang dinyatakan terlarang oleh konvensi Jenewa. Sementara, pakar hukum dari sebuah universitas ternama di Amerika Serikat tidak menyebutkan serangan Israel itu sebagai kejahatan perang. Itulah sikap negara imperialis yang mengklaim kampiun hak asasi manusia. HAM memang milik mereka, bukan milik kita. Sementara PBB tidak berdaya melihat kekejaman di luar perikemanusiaan itu. Dulu Bung Karno pernah menyatakan bahwa PBB nyata-nyata menguntungkan Israel dan merugikan negara-negara Arab. Pernyataan itu dikemukakan saat Indonesia keluar dari organisasi dunia tersebut.
    Konon, warga Yahudi sudah sejak kolonial Belanda banyak berdiam di Indonesia, khususnya di Jakarta. Pada abad ke-19 dan 20 serta menjelang Belanda hengkang dari Indonesia, ada sejumlah Yahudi yang membuka toko-toko di Noordwijk (kini Jl Juanda) dan Rijswijk (Jl Veteran) -- dua kawasan elite di Batavia kala itu--. Mereka hanya sejumlah kecil dari pengusaha Yahudi yang pernah meraih sukses. Mereka adalah pedagang-pedagang tangguh yang menjual berlian, emas dan intan, perak, jam tangan, kacamata dan berbagai komoditas lainnya.
    Sejumlah manula yang diwawancarai menyatakan, pada tahun 1930-an dan 1940-an jumlah warga Yahudi di Jakarta banyak. Jumlahnya bisa mencapai ratusan orang. Karena mereka pandai berbahasa Arab, mereka sering dikira keturunan Arab. Sedangkan Abdullah Alatas mengatakan, keturunan Yahudi di Indonesia kala itu banyak yang datang dari negara Arab. Maklum kala itu negara Israel belum terbentuk. Seperti keluarga Musri dan Meyer yang datang dari Irak.
    8 min
  • Akar sejarah Hamas

    Namanya merujuk pada Harakatu al-Muqawwamah al-Islamiyah. Resminya, gerakan ini didirikan Syekh Ahmad Ismail Hasan Yasin bersama enam orang sahabat sekaligus anak didiknya: Dr Ibrahim al-Bazuri, Muhammad Syam’ah, Abdul Fatah Dakhan, Dr Abdul Aziz ar-Rantisi, Isa an-Nasyar, dan Shalah Syahadah. Syekh Ahmad Yasin merupakan seorang aktivis Ikhwanul Muslimin sebelum dirinya menginisiasi pembentukan Hamas. Ia turut mengembangkan Ikhwanul Muslimin cabang Palestina di Gaza. Namun, awal keterlibatannya dengan organisasi bentukan Hasan al-Banna itu lebih sebagai “ketaksengajaan.”


    Pada 1956, ia ditangkap intel Mesir karena dicurigai berkaitan dengan Ikhwanul Muslimin. Ya, Ikhwanul sedang menjadi target pemerintah Mesir kala itu. Setelah diinterogasi, tuduhan tersebut tak terbukti. Justru, sejak saat itu dirinya ingin mengenal lebih dekat Ikhwanul Muslimin, terutama selama mengikuti kuliah di Al-Azhar. Akhirnya, Yasin bergabung dengan Ikhwanul Muslimin cabang Palestina.


    Pada 1973, ia mendirikan Pusat Keislaman atau Mujma’ al-Islamiyyah di Gaza. Melalui yayasan tersebut, Syekh Ahmad Yasin turut mengembangkan pendidikan dan dakwah, khususnya bagi generasi muda Palestina setempat. Perhatiannya pada kaderisasi dai begitu tinggi. Terbukti, banyak muridnya yang kemudian menjadi pendakwah terkenal. Lelaki kelahiran tahun 1937 ini menderita paraplegi sehingga melumpuhkan kemampuan motoris tubuh bagian bawahnya. Sakit itu dialaminya sejak berusia remaja. Namun, baginya, keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berjuang melawan penjajahan Zionis.


    Lantaran keahliannya dalam berpidato, ia menjadi khatib paling populer di kalangan masyarakat Gaza. Kekuatan argumentasi dan semangatnya dalam menegakkan kebenaran membuat masyarakat tertarik untuk mengikutinya. Ceramah-ceramahnya selalu diikuti banyak khalayak. Periode perjuangan Palestina pada 1960-an hingga 1970-an diisi pergerakan para simpatisan Ikhwanul Muslimin setempat. Mereka pun sempat bekerja sama dengan Fatah, faksi yang mengisi mayoritas Palestine Liberation Organization (PLO

    10 min
  • “Tafsir” Pancasila dan Rekonsiliasi Nasional

    “Tafsir” Pancasila dan Rekonsiliasi Nasional

    Artikel Hidayatullah.com, Oleh: Kholili Hasib (Aktivis muda NU, doktor bidang Akidah dan Filsafat Islam)


    Pada 21 Desember 1983, Musyawarah Nasional Alim Ulama NU di Situbondo, Jawa Timur, memutuskan satu poin penting tentang “tafsir” Pancasila. “Sila ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ sebagai dasar negara Republik Indonesia menurut Pasal 29 ayat 1 UUD 1945, yang menjiwai sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam”. Demikian salah satu keputusan Munas Alim Ulama NU tersebut. Keputusan ini bersejarah. Sebelumnya, di kalangan umat Islam, bahkan internal NU masih pro dan kontra tentang asas tunggal Pancasila. Beredar juga beragam pendapat tentang tafsir-tafsir sila-sila Pancasila.


    Maka itu, diperlukan keputusan tentang Pancasila oleh NU. Namun, alim ulama NU memutuskan poin di atas bukan tidak memiliki dasar. Suatu ketika KH. Bisri Syansuri menghadap Presiden Soeharto dan bertanya: “Pak Presiden, apakah benar jika kami memahami Ketuhanan Yang Esa itu tauhid”? Presiden Soeharto menjawab: “Iya”. KH. Muhammad Isa Ansori berpendapat bahwa nilai ketuhanan menjadi asas filsafat Pancasila. Penjagaan Pancasila haruslah dengan cara mengaplikasikan sila pertama ke dalam sila-sila lainnya. Penafsiran Pancasila yang diputuskan Munas NU sesungguhnya pernah dikemukakan oleh Bung Hatta. Pada 18 Agustus 1945, menjelang sidang PPKI untuk mengesahkan UUD 1945, Bung Hatta bertemu dengan beberapa pemimpin Islam. Dalam pertemuan itu, perwakilan Islam dapat menerima penghapusan “tujuh kata” yang tercantum dalam Piagam Jakarta, karena dua alasan yang diterima dan dikemukakan oleh Bung Hatta.


    Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan monoteisme tauhid dalam Islam. Kedua, demi menjaga kesatuan dan keutuhan wilayah negara yang baru diproklamasikan sehari sebelumnya. Selain itu, yang menjadi dasar keputusan Munas NU itu adalah Pembukaan UUD 1945 dan batang tubuhnya sebenarnya dijiwai oleh Piagam Jakarta. Mendiang Jendral Abdul Haris (AH) Nasution dalam sebuah pidato peringatan 18 Tahun Piagam Jakarta pada 22 Juni 1963 di Jakarta mengatakan, rumusan dasar negara muncul di antaranya karena inisiatif para alim ulama yang mengirimkan surat berisi usulan tentang bentuk dan ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi Indonesia merdeka. Surat yang dikirim dari berbagai alim ulama itu berjumlah 52 ribu surat yang terdaftar.

    10 min
  • Kisah Taubat Sastrawan Lekra/PKI

    Namanya Saleh Iskandar Poeradisastra, sering disingkat S.I Poeradisastra. Ia punya nama lain, Boejoeng Saleh. Nama ini, di kalangan seniman pada masa lalu, cukup dikenal. Ia disebut sebagai sastrawan berideologi Marxis-Komunis. Sebagaimana seniman dan sastrawan berideologi kiri lainnya seperti Pramoedya Ananta Toer dan Utuy Tatang Sontani.


    Boejoeng Saleh yang lahir di Jakarta pada 25 Desember 1923 aktif dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi yang menjadi underbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). Yang menjadi unik dari perjalanan hidupnya, dia salah satu dari ketiga sastrawan kiri (Pramudya Ananta toer dan Utuy Sontani) memiliki akhir hidup yang mengesankan.


    Sebelum wafat, Utuy berwasiat jenazahnya diurus cara Islam. Pram, panggilan Pramoedya Ananta Toer, mengirim putrinya untuk belajar pada Buya Hamka. Bahkan ia memuji kehebatan tauhid ulama asal Minangkabau tersebut. Sementara Boejoeng Saleh, bertaubat sebelum wafat dan dekat dengan tokoh-tokoh Islam di akhir hayat.


    Kisah pertaubatan Boejong Saleh dapat dibaca dalam buku “Mengenang Hidup Orang Lain” karya sastrawan terkenal Ajip Rosidi. Di buku itu, Ajip menceritakan ketiga sosok sastrawan dan seniman kiri di atas. Uniknya, baik Pram, Utuy, dan Boejoeng, seperti diceritakan Ajip, pernah merasakan kesulitan ekonomi, sebelum akhirnya ‘direkrut’ oleh Lekra/PKI. Pram bahkan pernah mengetuk pintu rumah Ajip hanya sekadar untuk minta sesuap nasi, karena sudah beberapa hari tidak makan. Dan, ketiganya, di akhir hayatnya terlihat luntur bahkan hilang kekiri-kiriannya.


    Kembali kepada S.I Poeradisastra alias Boejoeng Saleh. Sebagai seniman Lekra ia pernah bertugas mengajar di Moskwa Rusia. Sepulang dari negeri komunis itu, ia diangkat jadi Sekjend Baperki (Badan Permusyawaratan Kebudayaan Indonesia), organisasi yang didirikan oleh Siau Giok Tjan yang berideologi kiri. Setelah itu, Boejoeng dibuang ke Pulau Buru.


    Di Pulau Buru inilah, kata Ajip Rosidi, Boejoeng mendapatkan hidayah dari Allah. Melalui bimbingan seorang dai yang ditugaskan di pulau itu, Boejoeng akhirnya kembali menjadi muslim dan terlihat taat dalam beribadah. Sebelumnya, di tahun 50-an, kenang Ajip, sastrawan Aoh K. Hadimadja pernah bertanya kepada Boejoeng, “Sebagai Marxis apa saudara percaya akan adanya Tuhan atau tidak?”


    7 min
  • Jadilah Umat yang Dirindukan Nabi
    Kecintaan Rasulullahﷺ kepada umatnya kerap dikisahkan melalui berbagai riwayat hadits. Dalam catatan sejarah itu, kita mengenang betapa Nabi Muhammadﷺ selalu berusaha untuk mendahulukan kepentingan dan kebutuhan umat dibandingkan kepentingannya sendiri. Hidupnya penuh dedikasi kepada umat. Waktunya habis untuk memikirkan kemaslahatan umat. Berjuang untuk umat, mengorbankan air mata, darah, bahkan nyawa pernah dipertaruhkannya untuk umat. Sampai di ujung hayatnya, umat selalu menjadi prioritas perhatiannya. Bahkan nanti di akhirat pun, umat yang beliau cari untuk diberikan syafaatnya.
    9 min

About Radio Seila FM

From the publisher's feed

Menyajikan sederetan program unggulan on air