Renungan Pagi : PILIHAN ADA DI TANGAN KITA (bag.1)
Saya sungguh termotivasi dengan pernyataan saya sendiri, bahwa ada 1001 alasan untuk menjadi kuatir dan takut, tetapi sebaliknya, ada 10.000 alasan untuk dapat bersyukur dan bergembira karena Tuhan.
Sekarang ini, mudah bagi seseorang untuk beralasan bahwa dia pantas kuatir dan takut, karena hari-hari ini setelah hampir 10 bulan berjalan, pandemi covid 19 belum menampakkan tanda-tanda mereda. Bahkan kecenderungan mereka yang positif terinfeksi semakin bertambah. Keadaan ekonomi masih terus tergoncang, sementara kondisi kesehatan masyarakat terus terancam, karena minimnya disiplin menjalankan protokol kesehatan. Belum lagi ancaman berbagai penyakit lainnya yang tidak kurang berbahayanya.
Karena situasi dianggap belum aman, pemerintah provinsi DKI pun belum mengijinkan sekolah dilaksanakan secara tatap muka. Hal ini menimbulkan kekuatiran akan terus berlangsungnya stress atau ketegangan, baik di kalangan guru, orang tua dan peserta didik, karena proses belajar mengajar secara daring sesungguhnya tidaklah mudah. Ini semua hanya sebagian kecil dinamika yang sudah menjadi cerita keseharian di musim pandemi ini. Kuatir, stress dan takut membayangi kehidupan banyak orang, tak terkecuali orang-orang percaya. Bagaimana menghadapi situasi ini?
Saya mengulangi, ada 1001 alasan untuk menjadi kuatir dan takut, tetapi sebaliknya ada 10.000 alasan untuk dapat bersyukur dan bergembira karena Tuhan. Namun 10.000 alasan ini harus ditemukan, dihayati dan dinikmati karena sumbernya bukan dari dunia ini melainkan dari kebenaran firman-Nya.
Hari ini kita mengingat kembali apa yang sudah kita temukan di dalam 1 Timotius 6:7, Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
Jelas, waktu kita dilahirkan ke dalam dunia, kita tidak membawa apa-apa, dan kelak waktu kita mati, tidak ada sesuatupun yang kita dapat bawa. Apa artinya? Artinya, kita sesungguhnya tidak pernah memiliki apapun! Bahkan hidup itu sendiri! Jadi, mengapa kita menguatirkan sesuatu yang tidak pernah kita miliki?
Gembala saya di Semarang dulu pernah mengatakan,”Saya tidak pernah minta untuk dilahirkan, tidak pernah minta untuk hidup, jadi mengapa harus kuatir akan hidup saya? Benar, hidup ini adalah pemberian semata, bukan milik kita sendiri, jadi mengapa harus dikuatirkan?
Matius 6:25, mencatat ucapan Yesus, Tuhan kita, "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
Perhatikanlah, perkataan Tuhan Yesus, hidup itu lebih penting dari makanan dan tubuh itu lebih penting dari pakaian. Jadi, kalau hidup saja Tuhan masih berikan kepada kita, masakan makanan yang diperlukan untuk hidup tidak Dia berikan? Jika tubuh ini masih hidup dan bergerak, masakan Dia tidak memberikan kita pakaian? Saudaraku, ingatlah prinsip yang telah kita pelajari bersama, bahwa yang kurang penting akan mengikuti yang lebih penting. Makanan mengikuti hidup dan bukan sebaliknya, hidup untuk mengejar makanan. Kekuatiran manusia seringkali dipicu oleh ketidaktahuan akan prinsip ini.