Renungan pagi : JANGAN MENYESATKAN ANAK-ANAK KITA
Kita masih membahas Ulangan 6:7, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
Petunjuk tehnis yang kedua agar hal mengasihi Allah dapat dipraktikkan secara nyata di dalam setiap keluarga Israel adalah membicarakan hal tersebut. Membicarakan berarti memperbincangkan, menjadikannya topik pembicaraan secara sengaja di dalam keluarga. Ini sebuah cara yang simple, sederhana namun penuh dengan kuasa untuk membentuk suatu budaya baru di dalam sebuah keluarga. Mengajarkannya berulang-ulang dan tidak berhenti di sana, melainkan meneruskannya dengan membicarakannya secara sengaja.
Benar, semua ini harus dilakukan secara sengaja. Bagi Israel yang sekian ratus tahun berada dalam belenggu perbudakan bangsa Mesir yang tidak megenal Allah yang benar, mengajarkan dan membicarakan tentang mengasihi Allah dengan segenap hati, pastilah sesuatu yang harus diperjuangkan dengan sengaja.
Begitu juga bagi kita yang pada dasarnya dulu juga tidak mengenal Allah yang benar, harus berupaya dan berjuang sedemikian rupa agar budaya mengasihi Allah di dalam Kristus, dapat dibangun juga di dalam keluarga kita. Mengajarkan dan membicarakan secara berulang-ulang.
Kapan membicarakannya? Firman Allah menerangkan :
Pada waktu engkau duduk di rumahmu, pada waktu kamu dalam perjalanan, pada waktu kamu berbaring, pada waktu kamu bangun. Artinya pada setiap kesempatan, dan pada setiap keadaan. Dan kesempatan terbesar adalah di dalam rumah kita sendiri, yakni ketika anak-anak kita masih kecil atau pada usia dini.
Jadi, kita bisa simpulkan, pendidikan rohani terbaik untuk anak-anak kita diperoleh pertama-tama dari orang tua mereka sendiri, di dalam keluarga dan sejak usia dini.
Allah dengan segala hikmat-Nya yang luar biasa memberikan kehormatan kepada orang tua, sebagai orang pertama yang harus meletakkan dasar pengajaran yang sangat penting ini.
Tuhan Yesus menilai betapa berharganya jiwa anak-anak, sehingga ia berkata dalam Matius 18:6
"Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.
Salah satu pengertian dari kata menyesatkan di sini adalah, menaruh batu sandungan yang menyebabkan anak-anak tersandung dan jatuh.
Saudaraku, siapakah orang yang paling berpotensi menyesatkan anak-anak? Saya berani mengatakan, orang tua mereka sendiri. Dengan cara bagaimana? Dengan tidak mengajarkan dan memberi teladan, bahwa anak-anak mereka, pertama-tama, harus mengenal dan mengasihi Allah lebih dari apapun yang patut dikasihi.
Orang tua yang tidak mendidik anak-anaknya mengasihi Allah, membicarakan hal tersebut setiap saat dengan anak-anaknya, berpotensi menyesatkan anak-anak mereka. Kiranya kita menyadari hal ini dengan sungguh-sungguh dan bergegas untuk mengambil tanggung jawab yang mulia ini, yang Allah sudah bebankan kepada kita para orang tua.
Saya Theo Barahama, mari pancarkan Kerajaan Sorga dari rumah kita.