
Sign up to save your podcasts
Or


Selama dua tahun terakhir banyak sekali tantangan pendidikan yang dihadapi Indonesia. Mulai dari penerapan pembelajaran sistem daring, terbatasnya media pembelajaran, kesehatan mental siswa dan guru, hingga situasi learning loss atau ketertinggalan pembelajaran siswa.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi learning loss, seperti melakukan pembelajaran tatap muka dan penerapan kurikulum merdeka. Seperti apa efektifitas langkah-langkah tadi dalam mengatasi learning loss? Seperti apa kesiapan para pendidik untuk mengejar ketertinggalan belajar ini?
Di Ruang Publik KBR kita akan berbincang mengenai masalah ini dengan dua narasumber. Ada Feriansyah, Kepala Bidang Litbang Pendidikan Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) dan Retno Listyarti, Perwakilan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengklaim pemulihan ekonomi di Indonesia pada 2022 berjalan cukup kuat selama beberapa waktu terakhir. Jika diakumulasikan, level produk domestik bruto (PDB) riil Indonesia dari kuartal I hingga kuartal III tahun 2022 telah mencapai lebih dari 6 persen, atau angka di atas level prapandemi pada 2019. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) salah satu yang berkontribusi besar pada Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Namun di tahun 2023, ada ancaman resesi global. Ini membuat berbagai kalangan didorong untuk mengambil langkah antisipasi, termasuk UMKM. Seperti apa pengaruh ancaman resesi global ini di dalam negeri? Seperti apa langkah antisipasi yang harus dilakukan UMKM?
Untuk membahas hal ini, di Ruang Publik KBR kita akan berbincang dengan Edy Misero, Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) dan pengamat ekonomi, Muhammad Akbar Fadzkurrahman Annahl.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mendukung peningkatan perekonomian di negeri ini. Salah satu sektor tersebut adalah komoditas hortikultura buah naga yang memiliki potensi pasar terbuka, baik di pasar nasional maupun di pasar global.
Membahas mengenai komoditas buah naga, kita akan mengundang, yaitu UMKM Pertanian binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), Ibu Sumartini. Kita akan berbincang bersama mengenai sektor pertanian yang digeluti Bu Sumartini sejak tahun 2014.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Di berbagai daerah, pasien kusta, penyandang disabilitas karena kusta maupun Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) sebagai bagian dari kelompok rentan, seringkali berada pada kondisi ekonomi yang buruk dan tidak memiliki akses matapencaharian yang layak. Berbagai bentuk stigma mereka alami, meskipun sudah menjalani pengobatan dan sembuh dari kusta, mereka tetap terjebak dalam lingkaran diskriminasi, salah satu dampaknya OYPMK dan penyandang disabilitas kesulitan mendapat pekerjaan.
Pada hakekatnya, penyandang disabilitas dan Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK), mempunyai hak yang setara dengan orang lain. Meski begitu, diskriminasi masih kerap dirasakan karena mereka dianggap tidak mandiri. Demi mencapai kemandirian, penyandang disabilitasdan OYPMK melakukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan keterampilan sosial.
Adanya undang-undang no 8 tahun 2016, membuat beberapa penyandang disabilitas bekerja di suatu perusahaan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi penyandang disabilitas karena mereka harus dapat beradaptasi dengan lingkungan kerja. Bertemu dengan orang baru tentunya bukan hal yang mudah. Diskriminasi yang telah dirasakan oleh penyandang disabilitas tentu dapat menghambat proses penyesuaian diri.
Seperti apa upaya menghubungkan antara pekerja dengan disabilitas dan OYPMK dengan perusahaan? Serta praktik baik apa saja yang sudah dilakukan dalam mempekerjakan OYPMK dan disabilitas? kita akan perbincangkan lebih dalam bersama narasumber:
1. Antony Ginting - Recruitment & Selection Manager HO Alfamart
2. Abdul Mujib - Ketua Forum Komunikasi Disabilitas Cirebon
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Sesuai dengan perkembangan zaman yang sudah modern serta teknologi yang semakin canggih, tentunya semua orang menginginkan sesuatu yang cepat dan instan. Seperti obat misalnya, berbagai macam obat yang dipasarkan sangatlah banyak namun yang kita ketahui obat dibedakan menjadi dua yaitu obat herbal atau tradisional dan obat kimia atau sintesis. Seperti yang kita ketahui obat herbal atau tradisonal merupakan obat yang diolah secara turun menurun dari nenek moyang dengan bahan alami dari alam tanpa campuran zat kimia. Sedangkan obat kimia merupakan obat yang dibuat dengan campuran bahan kimia yang tidak disintesis di dalam tubuh.
Di Indonesia, sebagian orang lebih percaya untuk menggunakan obat herbal karena dianggap bersifat alami, sehingga lebih aman dan terbebas dari efek samping yang tidak diinginkan. Alasan lainnya dikarenakan umumnya obat jenis ini lebih murah dan terjangkau dibandingkan obat sintesis.
Lalu, sebenarnya seperti apa perbedaannya? dan bagaimana penggunaan obat herbal dan obat kimia yang tepat? kita akan perbincangkan lebih dalam bersama narasumber: dr. Cindy Tiaranita, Sp.FK - Dokter Spesialis Farmakologi Klinik RSUD Kota Tangerang.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Suasana liburan Natal dan Tahun Baru sudah terasa. Berbagai kegiatan dilakukan untuk mengisi liburan seperti mengunjungi tempat wisata, kumpul keluarga atau ada juga yang menghabiskan waktu liburannya di rumah saja. Nah, sehabis liburan panjang tak jarang kita merasa 'berat' untuk kembali beraktivitas. Ini yang disebut sebagai post holiday blues. Sindrom ini melanda siapa saja, termasuk anak-anak. Bagaimana mengenali sindrom ini pada anak? Bagaimana cara mengatasinya?
Kita akan membincangkan soal ini di Ruang Publik KBR bersama Feka Angge Pramita, Psikolog Klinis Anak, Remaja dan Keluarga. Berpraktik di RS Khusus Bedah Colombia Asia Pulomas dan praktisi DIR Floortime.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Sesuai Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2008 tentang Penanggulangan HIV AIDS dijelaskan maksud Penanggulangan HIV AIDS adalah menekan laju penularan HIV AIDS serta meningkatkan kualitas hidup Orang Dengan HIV (ODHIV) dan penyalahgunaan NAPZA suntik sedangkan tujuannya adalah untuk melindungi masyarakat dan memutus mata rantai penularan HIV AIDS dengan sasaran setiap orang yang berada di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Secara umum, pengertian ruang lingkup penanggulangan HIV AIDS adalah upaya penanggulangan HIV AIDS yang diselenggarakan oleh masyarakat, pemerintah dan pemerintah provinsi DKI Jakarta serta sektor terkait lainnya berdasarkan prinsip kemitraan. Hal ini harus memperhatikan populasi rentan dan populasi risiko tinggi serta harus menghormati harkat dan martabat Orang Dengan HIV (ODHIV) dan keluarganya juga memperhatikan kesetaraan gender. Untuk menanggulangi AIDS tersebut, pemerintah membentuk Komisi khusus.
Lalu, apa sebenarnya Komisi Penanggulangan AIDS itu? Serta seperti apa ruang lingkup tugasnya? kita akan perbincangkan lebih dalam bersama narasumber:
1. Debby Irmayanti S.Psi - Bidang Dukungan dan Layanan, Komisi Penanggulangan AIDS, Provinsi DKI Jakarta
2. Hindrati Khotimah, S.Sos - Bidang Dukungan dan Layanan, Komisi Penanggulangan AIDS, Provinsi DKI Jakarta
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia diperingati oleh masyarakat internasional pada 10 Desember setiap tahunnya. Isu HAM sangat beragam. Mulai dari hak untuk hidup, hak untuk memperoleh keadilan, hak atas kebebasan pribadi hingga hak untuk menganut agama dan kepercayaan tertentu.
Dalam rangka menyambut Hari HAM Sedunia tahun 2022, Kementerian Hukum dan HAM mengangkat tema “Pemajuan HAM bagi Setiap Orang”. Ini dapat menjadi momentum untuk mulai melakukan pembudayaan nilai-nilai hak asasi manusia, infiltrasi nilai-nilai HAM melalui kebudayaan dan membudayakan nilai-nilai hak asasi manusia sesuai dengan yang dimandatkan pada Komnas HAM.Langkah apa yang harus dilakukan? Apa tantangannya? kita akan perbincangkan lebih dalam bersama narasumber: Dr. Mualimin Abdi, SH, MH - Dirjen Hak Asasi Manusia, Direktorat Jenderal HAM - Kementerian Hukum dan HAM RI.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Memasak menjadi salah satu kegiatan yang kerap diidentikkan dengan perempuan. Padahal, kegiatan ini sama sekali tak mengenal gender dan bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk laki-laki.
Menurut Dede Robiatul Adawiyah sebagai pakar pangan dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknnologi Pertanian (Fateta) Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan, kebanyakan koki profesional di Indonesia yaitu laki-laki, bukan dikarenakan koki laki-laki itu lebih kompeten, melainkan dikarenakan tingkat konsistensi sensorik alias mampu mendeteksi, membedakan, dan konsisten memberi kualitas sama dari suatu produk yang dimiliki oleh koki laki-laki dikatakan lebih konsisten karena tidak dipengaruhi oleh siklus metabolisme.
Fakta lain juga menyebutkan, laki-laki yang jago memasak terlihat lebih menarik di mata perempuan. Fakta ini dibuktikan oleh studi yang dilakukan oleh perusahaan peralatan masak asal Australia, Sunbeam yang menyebutkan sekitar 57,5 persen perempuan merasa lebih terangsang ketika melihat pria yang sedang membuat secangkir kopi dan mengaduk kue, ketimbang bekerja menggunakan bor listrik atau menggergaji yang hanya menunjukkan angka sekitar 55 persen.
Membahas mengenai lelaki bisa masak, tentu akan lebih menarik kalau kita obrolin langung dengan praktisinya. kita akan perbincangkan lebih dalam terkait ini bersama narasumber:
1. Alamsyah Kurniawan - Social Media, Content, & Community Senior Manager Sayurbox
Setiap manusia pasti ingin selalu merasakan kebahagiaan. Sumber kebahagiaan bisa datang dari mana saja dan setiap orang bisa menciptakan kebahagiaannya sendiri.
Tolak ukur kebahagiaan orang juga berbeda-beda. Namun, sebenarnya tidak sulit kok untuk menciptakan ataupun mendapatkan kebahagiaan, salah satunya dengan cara berbagi kebahagiaan dengan orang lain seperti yang dilakukan oleh Kokola.
Kokola memiliki komitmen semangat berbagi kenikmatan yang membahagiakan melalui program Sharing Happylicious.
Apa yang dimaksud dengan Sharing Happylicious dari Kokola? Kebaikan seperti apa yang dibagikan? kita akan perbincangkan lebih dalam terkait ini bersama narasumber: Nanda Syifa Sashabila - Public Relations Kokola DKI Jakarta dan Jawa Barat.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
From the publisher's feed

3 Listeners

1 Listeners