
Sign up to save your podcasts
Or


Siapa yang tak mengenal dongeng? Pasti sebagian dari kita pernah mendongeng atau mendengarkan cerita dongeng. Nah, ternyata banyak sekali manfaat mendengarkan dongeng terutama kepada anak-anak. Di antaranya untuk mengasah imajinasi, alat pembuka cakrawala, hingga mencerdaskan anak.
Tak hanya itu, dongeng juga seringkali digunakan sebagai sarana menyisipkan pesan dan moral kepada anak. Lalu, bagaimana eksistensi dongeng saat ini? dan manfaat apalagi yang didapat oleh anak jika rutin mendengar dongeng?
Berikut perbincangan saya bersama Pendongeng dari Ayo Dongeng Indonesia Kak Oni dan Inisiator Gerakan Suka Baca, Kak Renita Yulistiana.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Hingga saat ini, penyandang disabilitas baik yang disebabkan oleh kusta atau ragam disabilitas lainnya masih tetap terjebak dalam lingkaran diskriminasi. Salah satu hambatan terbesarnya adalah pemahaman yang keliru dan stigma. Akibatnya, para penyandang disabilitas tidak mendapat kesempatan yang sama seperti masyarakat non-disabilitas lainnya dalam berbagai aspek. Sejalan dengan kampanye pada Hari Kusta untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi, perjuangan melawan stigma juga turut disuarakan oleh penyandang down syndrome. Penyandang down syndrome, sebagai salah satu ragam disabilitas intelektual, acap kali lekat dengan stigma buruk dan keliru karena dianggap sebagai orang dengan gangguan kejiwaan.
NLR Indonesia sebagai organisasi yang memiliki fokus untuk isu kusta dan pembangunan yang inklusi disabilitas, turut mendukung kampanye kesadaran dan upaya melawan stigma terhadap semua ragam disabilitas, salah satunya terhadap penyandang down syndrome. Kampanye ini diangkat bertepatan dengan peringatan hari down syndrome sedunia yang dirayakan setiap 21 Maret.
Lalu, seperti apa perjuangan penyandang disabilitas selama ini dalam menghadapi stigma dan diskriminasi? Kita akan perbincangkan lebih dalam soal ini di Ruang Publik KBR bersama narasumber: dr. Oom Komariah, M.Kes - POTADS (Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome) / Ketua Pelaksana Hari Down Syndrome Dunia 2022 dan Uswatun Khasanah - Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK).
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) menjadi jenis kekerasan terbanyak yang dilaporkan oleh perempuan dan anak-anak ke LBH APIK Jakarta pada 2021, yaitu 489 laporan. Jumlah ini meningkat pesat, dari 17 laporan pada 2019 dan 307 laporan pada 2020.
Dalam kasus KBGO, penyintas kerap menerima ancaman distribusi ilegal data/konten pribadi, tipu daya, pelecehan seksual lewat dunia maya, pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, sampai penguntitan.
Bagaimana upaya untuk mencegah Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) terjadi pada perempuan dan anak? Kita akan simak perbincangan ini bersama Aktivis gender dan penggagas Purple Code, Dhyta Caturani dan Kepala Sub Divisi Kekerasan Berbasis Gender Online SAFEnet, Ellen Kusuma.
Episode kali ini dipersembahkan oleh EngageMedia.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Sebagai salah satu upaya pencegahan stunting sejak dini, edukasi bagi calon pengantin perlu didorong sejak pra-pernikahan. Stunting atau gagal tumbuh akibat gizi buruk merupakan persoalan yang mendapat perhatian serius dari pemerintah, terlebih angka kasus stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan Survei Status Gizi Balita Indonesia (2019), dari 5 juta bayi lahir per tahun, 1,2 juta di antaranya mengalami stunting. Artinya, satu dari empat anak usia di bawah lima tahun (balita) di Indonesia mengalami stunting. Angka ini melebihi prevalensi stunting yang ditoleransi Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni di bawah 20 persen. Untuk itu pemerintah menargetkan dapat menurunkan angka prevalensi stunting menjadi 14 persen pada 2024.
Bagaimana edukasi yang dilakukan kepada calon pengantin untuk mencegah stunting? Kita akan perbincangkan lebih dalam soal ini di Ruang Publik KBR bersama narasumber: dr. Maria Endang Sumiwi, MPH - Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI dan Nopian Andusti, SE., MT - Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayan Keluarga, BKKBN.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Pedagang memprediksi harga sejumlah komoditas pangan akan mengalami kenaikan. Tak hanya itu, stoknya juga disebut akan langka.
Pedagang mencatat komoditas pangan yang harganya naik pada pekan ini di antaranya minyak goreng, tempe dan tahu. Sementara itu, cabai, daging ayam, daging sapi, telor, dan beras juga mengalami kenaikan, meskipun efeknya tidak terlalu besar.
Lalu, apa saja upaya yang bisa dilakukan guna mengatasi kenaikan harga pangan dan kelangkaan ini? Selengkapnya, kami akan berbincang bersama Pakar Pangan dan Guru Besar IPB, Dwi Andreas Santosa dan Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Sejumlah fakta di luar negeri menemukan bahwa anak dengan kondisi down syndrome kerap mengalami perundungan. Peristiwa ini diyakini dapat menjadikan kondisi anak semakin tak stabil dan membuatnya enggan melaksanakan proses pendidikan.
Padahal perlu kita ketahui, anak dengan kondisi down syndrome adalah anak yang istimewa. Tak jarang mereka memiliki bakat luar biasa yang jarang dimiliki orang lain. Oleh karena itu, hak pendidikan serta kesehatan anak down syndrome juga tak boleh dilepaskan.
Lalu, sebenarnya bagaimana sejauh ini pemberian hak pendidikan dan kesehatan anak down syndrome di Indonesia? berikut perbincangan saya bersama Wakil Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi, dan Humas Komunitas Peduli Down Syndrome (KPDS), Iskandar Adisapoetra, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Konsultan, Dokter Nilla Mayasari dan Orangtua Anak dengan Down Syndrome Jessryan Vandinata, Anita Ratnasari.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Hingga saat ini pasien TBC di Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan, bukan sekedar masalah aspek kesehatan, namun juga stigma dan diskriminasi. Permasalahan yang dialami oleh pasien TBC berkaitan dengan akses dan kualitas pelayanan kesehatan, stigma, diskriminasi, di antaranya hak atas informasi, hak atas partisipasi dan hak atas pekerjaan. Termasuk dalam aspek ekonomi terkait berkurangnya pendapatan rumah tangga selama masa pengobatan. Untuk itu dibutuhkan peran serta kolaborasi antara masyarakat dan pemangku kepentingan lintas sektor dalam mendukung proses eliminasi TBC tahun 2030.
Melalui kampanye 'Ketahui Hak-mu', POP TB Indonesia sebagai SR Tematik dibawah PR Konsorsium Komunitas Penabulu – STPI melalui pendanaan Global Fund, pagi hari ini mengajak anda untuk terus mendengarkan Ruang Publik KBR hingga pukul 10 WIB dan dilanjutkan dengan Konferensi Pers Peringatan Hari TB Sedunia 2022 dengan harapan terwujudnya ketersediaan, keterjangkauan, penerimaan, dan kualitas pelayanan kesehatan dan terciptanya kondisi yang mendukung bagi pasien TBC.
Narasumber :
1. DR. Dr. Heidy Agustin Sp.P(K) - Tim Ahli klinis TB MDR (Multi Drug Resistant), RSUP Persahabatan
2. Heny Prabaningrum MPA, MSc - National Program Director, PR Komunitas Konsorsium Penabulu-Stop TB Partnersip Indonesia (STPI)
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Investasi publik di sektor pangan dan pertanian menjadi langkah yang diambil Pemerintah untuk memenuhi ketersediaan pangan dalam negeri. Ketahanan pangan merupakan aspek yang mendapat perhatian serius ditengah pesatnya pertumbuhan penduduk, terlebih lagi adanya ancaman pandemi yang memengaruhi ketersediaan, akses, dan stabilitas komoditas pangan.
Investasi pertanian dimaksudkan untuk meningkatkan produksi dalam negeri, memperbaiki derajat kehidupan petani, dan menekan impor pangan. Namun, meskipun investasi semakin meningkat, permasalahan pangan tetap tidak terelakkan. Pada awal 2022 ini kita menghadapi kelangkaan dan naikknya harga sejumlah bahan pangan, seperti minyak goreng, kedelai, gula, terigu dan daging. Ketergantungan pada impor pangan juga telah mendistorsi investasi publik di sektor pangan di tingkat nasional dan lokal, menanamkan kepercayaan palsu pada ketersediaan dan stabilitas pangan, serta mengubah prioritas kebijakan.
Lalu apa kaitan investasi pertanian dengan kelangkaan dan naikknya harga pangan akhir-akhir ini? Dan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki investasi publik di bidang pertanian? Kita akan perbincangkan lebih dalam soal ini di Ruang Publik KBR bersama narasumber: Dr. Ir. Hermanto MP – Koordinator Substansi Kelompok Perencanaan Wilayah Biro Perencanaan Kementerian Pertanian dan Said Abdullah – Koordinator Nasional KRKP.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Pandemi COVID-19 di Indonesia memberikan dampak terhadap berbagai sektor baik perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat lainnya termasuk kepada permasalahan kesehatan. Walau cukup berat beban di sektor kesehatan, tetapi dengan berbagai upaya yang telah pemerintah lakukan dalam mengantisipasi dampak pandemi COVID-19, khususnya pada kelompok rentan seperti ibu hamil maupun balita, memberikan hasil yang cukup menggembirakan karena selama 2 tahun terakhir permasalahan stunting di Indonesia menunjukkan terjadinya penurunan. Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2021, prevalensi stunting saat ini masih berada pada angka 24,4 persen atau 5,33 juta balita. Prevalensi stunting ini telah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, Presiden RI Joko Widodo menargetkan angka stunting turun menjadi 14 persen di tahun 2024.
Lalu apa saja upaya yang dilakukan untuk melakukan percepatan penurunan prevalensi Stunting? kita akan perbincangkan lebih dalam soal ini di Ruang Publik KBR bersama narasumber: I Made Yudhistira Dwipayama, S.Psi., M.Psi - Plt. Direktur Bina Penggerakan Lini Lapangan, BKKBN dan Agus Suryo Suripto, S.Ag., M.H – Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah, Kementerian Agama RI.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Hingga saat ini Indonesia masih menghadapi permasalahan stunting atau masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Asian Development Bank (2020) melaporkan, prevalensi stunting di Indonesia no. 2 tertinggi di Asia Tenggara yakni mencapai 36%, berarti 8,2 juta anak balita di Indonesia menderita stunting. WASH (Water, Sanitation and Hygiene) disebut menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya stunting. Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang (2021) menyatakan ada 4.780 anak balita (0-59 bulan) di Kabupaten Tangerang menderita stunting dan tidak dapat tumbuh kembang secara normal dikarenakan sistem sanitasi yang buruk dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk hidup bersih, sehingga Tangerang menjadi wilayah yang berpotensi kehilangan generasi yang sehat.
Sebagai bagian dari upaya percepatan penurunan stunting di Indonesia dan di Tangerang khususnya, Habitat for Humanity Indonesia berkolaborasi dengan Alleira Batik dan The Sultan Hotel & Residence Jakarta, akan mengadakan Charity Fashion Show 2022, di mana dana yang terkumpul akan digunakan untuk membangun toilet individu dan akses air bersih di Mauk, Tangerang untuk mencegah stunting pada anak-anak. Seperti apa event ini digelar?
Kita akan perbincangkan lebih dalam soal ini di Ruang Publik KBR bersama narasumber: Susanto Samsudin - Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia dan Indira Puliraja - Marketing Communications Manager The Sultan Hotel & Residence Jakarta
**Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
From the publisher's feed

3 Listeners

1 Listeners