Bab ini membahas tentang dosa dan penderitaan manusia. Yesus mengingatkan untuk tidak mudah menghakimi penderitaan orang lain dan mengaitkannya dengan dosa mereka selama hidupnya. Bab ini diawali kisah tentang meningkatnya kelompok orang Galilea yang patriotik di sekitaran bait pengadilan namun keburu ditumpas oleh prajurit Romawi yang berada di benteng terdekat. Prajurit Roma mencemooh tanah suci yang hanya diperuntukkan bagi kaum Yahudi dan mereka menumpahan darah di sekitaran bait suci yang mencederai kesuciannya.
Saat diberitakan tentang hal ini, orang-orang berharap bahwa Yesus akan membela kelompok sesama warga Yahudi dan agamanya. Mereka berharap Yesus akan mengutuk apa yang dilakukan para prajurit karena telah menghina Tuhan Allah. Namun, Yesus memilih untuk tidak fokus dengan hal ini. Seperti biasa, Ia tunjukkan dalam pengajarannya bagaimana manusia selalu berhenti pada tataran duniawi daripada masalah keilahian. Yesus mengingatkan bahwa kelompok orang Galilea adalah orang yang sama-sama mengetengahkan kekerasan seperti halnya prajurit Roma. Di tengah lingkungan yang penuh kekerasan seperti itu, tidak ada jalan lain bagi masyarakat mayoritas Yahudi kecuali melalui iman, karena iman bekerja melalui semangat pengampunan. Inilah perubahan atau 'conversion' yang dikehendaki Allah. Seringkali kita mudah menghakimi dan menyangkakan kepada manusia lain bahwa dosa mereka lebih besar dari pada dosa orang-orang yang lain. Satu hal yang diingatkan Tuhan adalah untuk melihat ke dalam hidup kita sendiri terlebih dahulu dan bertobatlah dari jalan lama yang bengkok supaya terhindar dari kebinasaan akibat dosa.
Pelajaran kedua adalah tentang perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah. Kisah ini melambangkan hidup manusia yang bagaikan pohon yang dilihat dari buah-buah kehidupannya. Jika selama hidupnya manusia tak menghasilkan buah yang baik, siaplah untuk ditebang, bagaikan buah ara yang tak berbuah. Di lain sisi, sang pengurus kebun adalah orang yang begitu penuh kasih. Ia menunjukkan kesabaran untuk menunggu, merawat, dan memberinya kesempatan untuk berubah dan berbuah limpah sampai musim panen berikutnya. Jika tidak, maka 'ditebanglah' pohon itu pada tahun berikutnya.
Pelajaran ketiga adalah saat Yesus menegur para ahli agama dan kepala rumah ibadat yang munafik dalam menjalankan kehidupan agamaya. Mereka begitu memperhatikan hukum-hukum dan detil ajaran Taurat namun sayangnya mereka lupa untuk menunjukkan kasih pada orang lain yang menderita. Hal ini dilakukan Yesus saat ia menyembuhkan seorang Ibu yang telah delapan belas tahun menderita sakit karena roh jahat pada hari Sabat. Para ahli kitab bukannya bersuka cita karena salah satu warganya telah kembali sehat dari belenggu penderitaan, namun mereka malah mengkritisi waktu penyembuhan yang dilakukan Yesus pada hari Sabat.
Pelajaran terakhir dari bab ini adalah tentang kerajaan Allah yang diumpamakan sebagai biji sesawi dan ragi. Ukuran biji sesawi begitu kecil, tetapi saat tumbuh di tanah dan menjadi pohon yang besar, ia akan menjadi tempat perlindungan banyak ciptaan. Begitu juga sejumput ragi dalam adonan, walaupun sedikit namun mengembangkan seluruh adonan sampai berlipat-lipat. Di sini, Yesus mengundang semua anak bangsa untuk berjuang melalui pintu yang sempit, mengikuti panggilanNya dan nantinya bersatu bersama dalam kerajaan surga.