
Sign up to save your podcasts
Or


Abdullah bin Rawahah merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia salah satu dari dua belas orang pertama yang menyatakan keislaman dari kalangan Anshar sebelum terjadinya Hijrah. Abdullah bin Rawahah mahir membuat puisi. Nabi Muhammad sangat menyukai dan menikmati rangkaian kata-kata dalam syair-syair yang dibuatnya.
Sejak masuk Islam, Rasulullah Saw mendorongnya agar lebih tekun membuat syair. Kemampuan membuat syair kemudian Abdullah bin Rawahah baktikan untuk kejayaan Islam.
Tak hanya dikenal sebagai penyair, Abdullah bin Rawahah rupanya sosok yang jujur dan tegas.
'Umar bin Khattab adalah khalifah kedua yang berkuasa pada tahun 634 sampai 644. Beliau digolongkan sebagai salah satu Khulafaur Rasyidin. 'Umar merupakan salah satu sahabat utama Nabi Muhammad dan juga merupakan ayah dari Hafshah, istri Nabi Muhammad.
Dalam sudut pandang Sunni, 'Umar termasuk salah satu pemimpin yang hebat dan suri teladan dalam masalah keislaman[6] dan beberapa hadits menyebutkan dirinya sebagai sahabat Nabi paling utama setelah Abu Bakar. 'Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.
Pada masa kepemimpinannya, kekhalifahan menjadi salah satu kekuatan besar baru di wilayah Timur Tengah. Selain menaklukan Kekaisaran Sasaniyah yang sudah melemah hanya dalam kurun waktu dua tahun (642–644), 'Umar berhasil mengambil alih kepemimpinan dua pertiga wilayah Kekaisaran Romawi Timur.[10] Perluasan wilayah ini juga diikuti berbagai pembaharuan. Dalam bidang pemerintahan dan politik, departemen khusus dibentuk sebagai tempat masyarakat dapat mengadu mengenai para pejabat dan negara. Pembentukan Baitul Mal menjadi salah satu pembaharuan 'Umar dalam bidang ekonomi. Segala capaiannya menjadikan 'Umar sebagai salah satu khalifah paling berpengaruh sepanjang sejarah......
Langit yang begitu luas enggan menerima amanah ketika ditawari oleh Allah Swt. Bumi yang kokoh pun tidak berani menerimanya. Gunung yang besar -besar juga tak bernyali. Hanya manusia yang berani menerima tantangan itu. Langit, bumi, gunung menolak amanah bukan karena ingkar kepada Sang Pencipta, tetapi merasa tidak sanggup untuk memikulnya. Manusia-lah makhluk pemberani di semesta ini.
Langit yang begitu luas enggan menerima amanah ketika ditawari oleh Allah Swt. Bumi yang kokoh pun tidak berani menerimanya. Gunung yang besar -besar juga tak bernyali. Hanya manusia yang berani menerima tantangan itu. Langit, bumi, gunung menolak amanah bukan karena ingkar kepada Sang Pencipta, tetapi merasa tidak sanggup untuk memikulnya. Manusia-lah makhluk pemberani di semesta ini.
Langit yang begitu luas enggan menerima amanah ketika ditawari oleh Allah Swt. Bumi yang kokoh pun tidak berani menerimanya. Gunung yang besar -besar juga tak bernyali. Hanya manusia yang berani menerima tantangan itu. Langit, bumi, gunung menolak amanah bukan karena ingkar kepada Sang Pencipta, tetapi merasa tidak sanggup untuk memikulnya. Manusia-lah makhluk pemberani di semesta ini.
Langit yang begitu luas enggan menerima amanah ketika ditawari oleh Allah Swt. Bumi yang kokoh pun tidak berani menerimanya. Gunung yang besar -besar juga tak bernyali. Hanya manusia yang berani menerima tantangan itu. Langit, bumi, gunung menolak amanah bukan karena ingkar kepada Sang Pencipta, tetapi merasa tidak sanggup untuk memikulnya. Manusia-lah makhluk pemberani di semesta ini.
Langit yang begitu luas enggan menerima amanah ketika ditawari oleh Allah Swt. Bumi yang kokoh pun tidak berani menerimanya. Gunung yang besar -besar juga tak bernyali. Hanya manusia yang berani menerima tantangan itu. Langit, bumi, gunung menolak amanah bukan karena ingkar kepada Sang Pencipta, tetapi merasa tidak sanggup untuk memikulnya. Manusia-lah makhluk pemberani di semesta ini.
Langit yang begitu luas enggan menerima amanah ketika ditawari oleh Allah Swt. Bumi yang kokoh pun tidak berani menerimanya. Gunung yang besar -besar juga tak bernyali. Hanya manusia yang berani menerima tantangan itu. Langit, bumi, gunung menolak amanah bukan karena ingkar kepada Sang Pencipta, tetapi merasa tidak sanggup untuk memikulnya. Manusia-lah makhluk pemberani di semesta ini.
Langit yang begitu luas enggan menerima amanah ketika ditawari oleh Allah Swt. Bumi yang kokoh pun tidak berani menerimanya. Gunung yang besar -besar juga tak bernyali. Hanya manusia yang berani menerima tantangan itu. Langit, bumi, gunung menolak amanah bukan karena ingkar kepada Sang Pencipta, tetapi merasa tidak sanggup untuk memikulnya. Manusia-lah makhluk pemberani di semesta ini.
Langit yang begitu luas enggan menerima amanah ketika ditawari oleh Allah Swt. Bumi yang kokoh pun tidak berani menerimanya. Gunung yang besar -besar juga tak bernyali. Hanya manusia yang berani menerima tantangan itu. Langit, bumi, gunung menolak amanah bukan karena ingkar kepada Sang Pencipta, tetapi merasa tidak sanggup untuk memikulnya. Manusia-lah makhluk pemberani di semesta ini.
From the publisher's feed