Hatiku tetap hancur corat marut,
Bulan purnama tidak memberikan senyum,
Ketidakadilan membuat semua merasa pilu.
Kehidupan mereka buat seperti jet coaster,
Manusia dikurung dalam cluster-cluster,
Bukan kualitas yang membedakan,
Kemampuan menjilat menjadi andalan.
Mereka yang di sana membuatku meradang,
Kopi pahit kutelan bukan untuk menghilang,
Kubiarkan semua rasa Itu semakin pekat,
Pada waktunya lidah mereka akan tercekat.
Langit tetap mencatat semua doa terurai,
Awan kelabu yang berkerumun akan terbakar mentari dan dihalau tegarnya badai,
Para pengkhianat itu akan segera tenggelam,
Terbawa gelombang arus air terganas dari dalam.
Rinduku akan terpenuhi pada saatnya,
Cintaku pun akan tersambut dengan mesranya,
Para durjana akan punah di neraka jahanam,
Semerbak harum Ibu Pertiwi akan kembali mekar mewangi di setiap sanubari.
Mimpiku bukan sekedar mimpi,
Perjuangan dan doa bukan hanya sekedar kata,
Jangan pernah ragukan cinta dan pertanyakan rinduku,
Aku senantiasa ada untukmu, Indonesia.
Pangandaran, 28 Desember 2020