
Sign up to save your podcasts
Or


Kongres Pemuda Kedua di Batavia (27-28 Oktober 1928) melahirkan Sumpah Pemuda. Peristiwa itu melibatkan kaum pemuda dari pelbagai organisasi etnis di Indonesia, termasuk pemuda peranakan Tionghoa. Di episode pertama, Didi Kwartanada membahas peran pemuda peranakan Tionghoa di masa Pergerakan Nasional dan bagaimana mereka turut memperjuangkan Indonesia yang merdeka. (Serambi Salihara, 18 Oktober 2018)
Di episode kedua, Sidney Jones mempertajam bahasan kebebasan berbicara dengan mengurai fakta keterkaitan ujaran kebencian dengan kasus kekerasan di Indonesia. Diskusi ini akan melihat kembali sejarah diskriminasi dan intoleransi di Indonesia serta faktor-faktor yang mendorong tumbuhnya perilaku tersebut. (Serambi Salihara, 16 Maret 2011)
Ujaran kebencian dilakukan untuk menyudutkan dan mendiskriminasi kelompok minoritas agama, etnis dan ras tertentu. Praktiknya diperbuat atas nama kebebasan berekspresi dan berpendapat. Di episode pertama, Asfina membahas konteks kebebasan berbicara berdasarkan tinjauan hak asasi manusia (HAM) dan hukum internasional. Apa yang sebenarnya dimaksud dengan ujaran kebencian? Perlukah kita membatasi kebebasan untuk menghadapi hal itu? (Serambi Salihara, 16 Maret 2011)
Di episode kedua, Hendro Wiyanto mempertanyakan kembali apa itu subyek dalam kesenian, khususnya seni rupa. Berangkat dari hal tersebut, ia mengemukakan beragam contoh karya para seniman sejak 1970-an yang menerobos batas-batas medium, dan perdebatan yang melingkupi hal itu. Sebenarnya, apa yang ingin dicapai oleh karya-karya tersebut? (Serambi Salihara, 05 Februari 2013)
Kesenian kerap dipandang sebagai “benda” yang dibatasi oleh mediumnya, tapi tak selamanya demikian. Di episode pertama, St. Sunardi membicarakan kesenian dari perspektif psikoanalisa. Ia mengatakan bahwa seni adalah peristiwa “evakuasi subyek (manusia)”. Tapi peristiwa apa? Dan kenapa perlu mendekati seni sebagai peristiwa? (Serambi Salihara, 05 Februari 2013)
Pada episode kedua, Goenawan Mohamad mengurai pemikiran Soekarno dengan melihat hubungan Islam dan negara. Bagaimana pemikiran Islam mampu memberikan energi pembebasan di tengah kolonialisme kala itu? Ada juga bahasan ketertarikan Bung Karno dengan Marxisme dan melihat pertautan tafsir Islam dengan rasionalitas dan pragmatis. (Teater Salihara, 04 September 2010)
Apakah arti Islam bagi Soekarno? Di episode pertama, Goenawan Mohamad membahas pemikiran Islam oleh Bung Karno yang mempertemukan narasi Islamisme, Nasionalisme dan Marxisme. Kuliah ini juga menelaah narasi keislaman Bung Karno dalam kacamata sejarah intelektual Indonesia. (Teater Salihara, 04 September 2010)
Pada episode kedua, Karlina Supelli melanjutkan bahasannya lebih dalam mengenai rasionalitas dan konsekuensinya, serta melihat irisannya dalam konteks budaya ilmiah. Bagaimana budaya ilmiah mempengaruhi cara kita berpikir dan bertindak? Apakah setelah Reformasi perkembangan budaya ilmiah kian menjernihkan kehidupan sosial kita? (Teater Salihara, 15 Mei 2018)
Apakah kita lebih demokratis setelah Reformasi 1998? Di episode pertama, Karlina Supelli membahas pemaknaan Reformasi dan melihat persinggungannya dengan rasionalitas. Bagaimana rasionalitas hadir sebagai sarana berpikir di tengah kerasnya gema intoleransi? Diskusi ini kembali menjadi perenungan dalam Hari Peringatan Reformasi. (Teater Salihara, 15 Mei 2018)
Pada episode kedua, Trisno S. Sutanto (akademisi filsafat) membahas persoalan agama dan sekularisme melalui dialog antara Jürgen Habermas dan Joseph Ratzinger (sebelum menjadi Paus Benedict XVI). Adakah titik pertemuan antara agama dengan sekularisme agar tidak terjadi konflik? Diskusi ini ditaja oleh Hivos. (Serambi Salihara, 02 Desember 2010)
From the publisher's feed