
Sign up to save your podcasts
Or


A. Teeuw adalah kritikus, pengkaji dan akademisi sastra Indonesia asal Belanda. Ide-idenya sangat penting dalam perkembangan kesusastraan Indonesia. Di episode ketiga, Hasif Amini (sastrawan) menelaah pemikiran A. Teeuw yang melakukan kritik sastra menggunakan sudut pandang berbeda dan belum pernah dikaji oleh para sastrawan pada masa itu. (Serambi Salihara, 28 September 2013)
H.B. Jassin adalah kritikus dan dokumentator kesusastraan Indonesia. Di episode kedua, Arif B. Prasetyo (sastrawan) membahas pemikiran H.B. Jassin, termasuk kewibawaan dan produktivitasnya mengkritik sastra Indonesia. Pemikiran apa yang ditawarkan H.B. Jassin dan sebenarnya apa peran kritikus dalam perkembangan sastra? (Serambi Salihara, 28 September 2013)
Sutan Takdir Alisjahbana adalah tokoh penting dalam perkembangan sastra Indonesia modern pada awal abad ke-20. Ia adalah salah satu sosok di balik berdirinya majalah Pujangga Baru pada 1930-an. Di episode pertama ini Zen Hae (sastrawan) mengupas pemikiran Sutan Takdir mengenai kesusastraan pada masa itu yang sedang beralih ke zaman modern. (Serambi Salihara, 28 September 2013)
Di episode kedua, Manneke Budiman melanjutkan bahasan narasi keindonesiaan dengan meninjau cerita pendek “Laluba” (2005) karya Nukila Amal dan “Lelaki Beraroma Kebun” (2004) oleh Linda Christanty. Melalui dua cerita itu ia menggali lebih dalam dimensi segar dari imaji keindonesiaan yang lebih beragam. (Galeri Salihara, 28 September 2011)
Bagaimana kita menemukan nilai keindonesian jika geliat sastra hanya dilihat dari ukuran estetika ibu kota? Di episode pertama, Manneke Budiman membahas persoalan tersebut dengan mengupas novel Pertarungan (2002) karya Hanna Rambe melalui perspektif unik yang mengimajinasikan kembali tanah air dan kenusantaraan. (Galeri Salihara, 28 September 2011)
Kelompok intoleran dan anti-demokrasi kian “canggih” menyiasati agenda mereka melalui argumentasi hukum. Di episode kedua ini Sulistyowati Irianto, melalui perspektif hukum, membahas apakah hukum berkontribusi terhadap potensi kekerasan? Bagaimana hukum menggerakan keadilan jika ia berpihak pada kepentingan tertentu, sehingga netralitas dan objektivitasnya kerap dipertanyakan? (Teater Salihara, 08 Juni 2011)
Aksi kekerasan dan terorisme kerap bersembunyi di balik agama. Di episode pertama ini Thamrin Amal Tomagola mengupas persoalan akar kekerasan melalui perspektif sosiologi. Bagaimana tingkat kelas di masyarakat, terutama di perkotaan, menciptakan kesenjangan dan ketegangan, lalu saling berkait dengan tumbuhnya kekerasan dan radikalisme? (Teater Salihara, 08 Juni 2011)
Apakah keabsahan peranakan Tionghoa sebagai warga Republik hanya dinilai terkait sejauh mana “kontribusi” yang mereka berikan? Di episode kedua, Andi Achdian menawarkan perspektif mengenai keindonesiaan dan ketionghoaan melalui penelitiannya di kota Surabaya. Seperti apa cita-cita kemajuan dan dunia intelektual komunitas Tionghoa di Surabaya? Serta bagaimana dinamika hubungan budaya Jawa dan Tionghoa pada masa kolonial? (Serambi Salihara, 18 Oktober 2018)
From the publisher's feed