
Sign up to save your podcasts
Or


圣殿的重建进程又遭阻遏,这是犹大民自己招来的。他们觉得所建的圣殿与所罗门所造的相比后,简直"看如无有",于是,部分犹大民泄气了(2:2-3)。见此情景,哈该先知传达了上帝的三个应许。第一个应许是鼓励所罗巴伯省长和约书亚大祭司无需惧怕,因有上帝同在,祂的大能定会帮助他们,使他们能建成此殿(2:4-5)。上帝还应许祂要牢记所罗巴伯的事奉,在万民中尊崇他(2:20-23)。第二个应许是与他们所建的圣殿相关。虽然此殿并不宏伟壮观,但上帝将使它比先前的更加荣耀。上帝还将使它成为祝福万民之源(2:6-9)。第三个应许是对全体犹大民说的。上帝必记念他们的工作,赐福与他们。当犹大民开始动工之时,上帝就已为他们开启赐福之门(2:15-19)。除上述三应许,哈该也警告一伙犹大民,要他们先离弃污秽的生活,以免玷污了工作成果(2:10-14)。
Seorang pendeta membesuk anggota jemaat yang lama absen dalam kebaktian. Anggota jemaat itu menyampaikan alasan demikian, "Saya juga heran, mengapa setiap kali saya mau ke gereja, selalu ada halangan. Kadang motor rusak, anak menangis, atau tiba-tiba hujan." Meskipun terkesan masuk akal, sebenarnya masalah anggota jemaat itu adalah hati yang tidak menghargai Allah. Masalah itu mirip dengan umat Yehuda yang tidak menghormati Allah sehingga dengan gampang mencari alasan untuk mengabaikan rumah Allah. Kitab Hagai ditujukan bagi bangsa Yehuda yang pulang dari pembuangan atas izin raja Koresy untuk membangun kembali Bait Suci di Yerusalem (Ezra 1:1-5). Namun, pembangunan mereka menghadapi pertentangan dan terhenti selama 14 tahun (Ezra 4:24). Saat itu, umat Yehuda justru sibuk membangun rumah sendiri. Mereka membiarkan Bait Suci terlantar dengan alasan belum waktunya untuk dibangun kembali (Hagai 1:2). Tindakan ini lahir dari hati mereka yang lebih mencintai rumah sendiri ketimbang rumah Allah.
曾有一位牧师来到久未参加主日崇拜的会友家探访,问其原因。请牧师入屋坐定后,这会友便对牧师说:"说来也奇怪,每次要去教堂时,总会有意外的事发生,有时摩托车坏了,有时孩子哭闹,有时突然下雨,结果去不了。"乍听起来,似乎合情合理;但其实这会友不尊重上帝,这是问题所在。就像这会友一样,犹大民因为不尊重上帝,就随心所欲地自找理由,置圣殿于不顾。《哈该书》写给为重建在耶路撒冷的圣殿,在塞鲁士王允准下从被掳之地归回故土的犹大民(《以斯拉记》1:1-5)。但这工程遭到敌对势力的阻挠,停顿了14年之久(《以斯拉记》4:24)。当时,犹大民却热衷于建造自己的住房,而以时候未到为理由,任凭圣殿一片瓦砾,荒凉下去(《哈该书》1:2)。他们这么做,是因为比起爱上帝的殿他们心中更爱自己的住家 。
如果以前,新郎在没有新娘的时候从旷野走进城市(3:6),这次良人和他所爱的女人一起走。新娘被表达为"靠着她的爱人"(8:5)。公众可以见证两个人之间的密切关系。然而,新娘要求她的爱人将她的存在像印记一样放在男人的心上和臂上。心上的印记表明新郎个人承诺全心全意地爱他的爱人。臂是新娘靠在情人身上的部分(8:6)。手臂上的戳记表明新郎承诺保护他的爱人。新娘的希望基础是他们之间的强烈爱。人与人之间的爱可以如此强烈,以至于没有什么可以阻止这种爱,就正如没有任何一个人可以阻止死亡一般(8:6)。
Apabila sebelumnya, mempelai pria berjalan masuk ke dalam kota dari padang gurun tanpa mempelai wanita (3:6), kali ini sang pria berjalan bersama dengan wanita yang dicintainya. Mempelai wanita itu diungkapkan sebagai "bersandar pada kekasihnya" (8:5). Masyarakat umum dapat menyaksikan relasi yang dekat di antara keduanya. Meskipun demikian, sang mempelai wanita meminta kepada kekasihnya agar keberadaan dirinya ditempatkan bagaikan meterai di hati dan lengan sang pria. Meterai di hati menunjuk pada komitmen pribadi sang mempelai pria untuk mencintai kekasihnya dengan sepenuh hati. Lengan adalah bagian tempat mempelai wanita bersandar pada kekasihnya (8:6). Meterai di lengan menyatakan komitmen mempelai pria untuk melindungi kekasihnya. Dasar dari harapan sang mempelai wanita lah cinta yang kuat di antara mereka. Cinta antarpribadi bisa sangat kuat, sehingga tidak ada yang dapat menghentikan cinta itu sebagaimana tidak ada satu manusia pun yang bisa mencegah kematian (8:6).
新郎和新娘之间的冲突(5:2-6)已经解决了。虽然冲突主要是由新娘引起的,但新郎愿意再次接受他的爱人,甚至表达他的爱和赞美之情(6:4)。新郎用诗意的语言来表达他的感情(6:5)。新郎的深爱是通过赞美新娘的外表来暗示,以至于新娘被认为是所有女人当中最宝贵的(6:6-9)。已经恢复的关系通过美丽和温暖的表达来强调(6:10-11)。新郎意识到他非常渴望始终与新娘保持亲密的关系(6:12-13)。尽管新郎最初受到新娘的伤害,但新郎最终还是接受了新娘并仍然爱着她。新郎的态度使新娘成为一个幸福的人,周围的其他女人都承认这一点(6:9)。
Konflik yang terjadi di antara mempelai pria dan mempelai wanita (5:2-6) telah dapat diselesaikan. Meskipun konflik itu terutama disebabkan oleh mempelai wanita, mempelai pria bersedia menerima kembali kekasihnya, bahkan ia mengungkapkan perasaan cinta dan pujiannya (6:4). Dengan bahasa puitis, mempelai pria menyampaikan perasaannya (6:5). Cinta sang mempelai pria yang begitu besar tersirat lewat pujian terhadap fisik sang mempelai wanita, sehingga sang mempelai wanita dinilai sebagai paling berharga daripada semua wanita lain (6:6-9). Relasi yang telah pulih itu dipertegas dengan ungkapan tentang keindahan dan kehangatan (6:10-11). Sang mempelai pria sadar bahwa ia memiliki hasrat yang besar untuk selalu berada dalam relasi yang intim dengan sang mempelai wanita (6:12-13). Walaupun mempelai pria itu pada awalnya dilukai oleh sang mempelai wanita, sang mempelai pria itu akhirnya kembali menerima sang mempelai wanita dan tetap mencintainya. Sikap sang mempelai pria itu membuat sang mempelai wanita menjadi orang yang berbahagia, seperti diakui oleh perempuan-perempuan lain di sekitarnya (6:9).
Bacaan Alkitab yang kita renungkan pada hari ini menggunakan gaya bahasa eufemisme, yaitu memakai ungkapan yang lebih halus untuk menggantikan istilah yang dianggap terlalu kasar atau tidak patut disebut. Misalnya, perkataan ‘bukalah pintu’ (5:2) menunjuk kepada aktivitas aurat wanita, dan kata ‘kepala’ (5:2) menunjuk kepada aurat pria. Dengan gaya penulisan seperti itu (5:2-6) imajinasi pembaca tentang pengalaman seksual di antara mempelai pria dan wanita dibangkitkan. Sang pria berusaha mengambil inisiatif untuk memulai hubungan fisik yang intim, namun sang wanita belum siap untuk menanggapinya (5:2,3b). Sang pria akhirnya "pergi, lenyap" (5:6). Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi konflik di antara mereka berdua.
今日所思想的经文中,采用了委婉的语言,意即使用比较文雅的词语代替被认为太过粗鲁或不配出口的词语。例如,‘开门’(5:2)指女人的下体,‘头’(5:2)指男人的下体。那样的书写风格(5:2-6)激起读者对新郎新娘性经历的想象。男方主动开始亲密的肉体关系,但是女方却还未准备好作回应(5:2,3下)。最终,男方‘离去,消失’(5:6)。在此显示他们两人之间发生了冲突。
Kitab Kidung Agung merupakan puisi tentang cinta. Istilah ‘cinta’—seperti yang kita temukan di 5:1—dalam bahasa aslinya memiliki pengertian relasi seksual. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh perikop yang kita baca hari ini, yaitu tentang sepasang insan berbeda jenis kelamin yang saling melibatkan diri dalam hubungan fisik yang sangat intim. Beberapa pembaca Alkitab mungkin merasa risih membaca kata-kata yang tertulis di 4:1-16. Sebagian orang beranggapan bahwa hal-hal yang terkait dengan seksualitas merupakan dosa dan tidak patut untuk dibicarakan secara terbuka.
From the publisher's feed