
Sign up to save your podcasts
Or


Waktu itu relatif. Ia bisa panjang, bisa pendek. Bisa lama, bisa singkat. Tergantung bagaimana kita menyikapinya dalam periode hidup yang berbeda-beda.
Di hidup yang tak pasti, wajar kalau kita bingung saat hendak mengambil keputusan besar. Tapi kita tak bisa bergantung pada pembenaran dan jawaban orang lain. Sebab yang tahu baik-buruk-benar-salah menurut kita, ya siapa lagi kalau bukan diri kita sendiri?
Kita boleh saja dipisahkan oleh jarak, dan menemukan hati kita jadi ciut karenanya. Tapi cinta seharusnya menang. Ia harusnya disusun oleh untaian sabar demi sabar yang membuat jarak kalah dan bertekuk lutut di hadapannya.
Terkadang kita merasa yang kita lakukan adalah sia-sia. Semua hanya pengulangan demi pengulangan yang tak ada ujungnya. Tapi coba perhatikan, lebih sabar dan pelan-pelan. Benarkah tak ada makna yang bisa kita dapatkan?
Coba tengok hatimu. Masih adakah hal-hal yang kau sembunyikan rapat-rapat di sana?
Pada hal-hal yang kita sesali, kita sering ingin melupakan dan kalau bisa, memutar balik waktu untuk mengubah jalan cerita. Tapi masalahnya, sesal adalah hal baik. Ia pertanda kita sudah tumbuh. Jadi, jangan sampai lupa, justru. Biarkan ia ada dan senantiasa menjadi jangkar perjalanan kita ke depan.
Kita sering diingatkan: jangan terlalu begini, jangan terlalu begitu, apa lagi di awal-awal kita merasakan sebuah emosi yang kuat dan baru. Tapi mau itu 'dirayakan' atau tidak, kita akan tetap merasakannya. Jadi, ya, mengapa tidak dirasakan sebaik-baiknya saja?
Fokuslah pada menanam bibit baik. Tugasmu hanya itu. Nanti urusan tumbuh, berbuah, dan mekar, itu biarkan saja semesta yang bekerja.
Mungkin pada beberapa dari kita, tahun lalu tak berjalan sesuai rencana. Tapi coba lihat lagi baik-baik. Jangan-jangan, banyak juga kebaikan lain yang luput dari pengetahuan kita, hanya karena kita sibuk mengukur rencana.
Selamat datang di tahun yang baru! Hendak menulis cerita yang seperti apa di tahun ini?
From the publisher's feed