
Sign up to save your podcasts
Or


Kalau dilihat sebagai beban, jadilah ia beban. Kalau dilihat sebagai peluang, jadilah ia sebuah ladang tempat bunga-bunga syukur bermekaran.
Kalau lihat media sosial orang lain, rasanya dalam diri kita muncul pertanyaan: kok enak sekali, ya, kelihatannya? Mengapa saya tidak seperti itu? Berikut adalah jawabannya.
Ketakutan adalah bagian hidup kita. Ia tidak mungkin hilang, selama manusia punya keinginan. Maka jika tak bisa hilang, gunakanlah ketakutan jadi senjata yang kita bawa ke mana-mana, untuk menjaga kaki kita tetap menapak.
Hal-hal tak mengenakkan, seperti putus dari hubungan yang panjang, harus disiasati dengan olah rasa. Biar tidak ada aspek salah-menyalahkan di sana, melainkan syukur yang leluasa. Terkadang sesuatu terjadi karena memang harus terjadi saja.
Attachment atau kemelekatan, adalah sumber duka manusia. Kita sering kali tak bisa lepas dari keinginan kita. Padahal, keinginan tak bisa selalu sejalan dengan kenyataan. Maka lepas. Lepaskan. Jangan melekat.
Semakin dewasa, lingkar pertemanan kita akan semakin mengecil. Benarkah? Dapatkah kita jadikan itu kebenaran, saat sebenarnya kita yang menutup diri dari perjumpaan dan keterbukaan?
Ada kalanya kita berharap sepenuh tenaga, berusaha dan berafirmasi yang baik-baik, tapi hasilnya tak sesuai ekspektasi. Marah? Kecewa? Wajar. Tapi tak boleh ingat satu hal: banyak, dan terlalu banyak sebenarnya, hal-hal yang letaknya di luar kendali kita sebagai manusia biasa.
Semakin dewasa, lingkar pertemanan kita semakin kecil. Maka, kita tak bisa lagi ada di fase main-main. Kita dan teman-teman kita, harusnya bisa semakin kuat menghadapi perbedaan, sebab sudah dibekali kedewasaan yang cukup dan matang.
Kalau pekerjaan hanya soal gaji, kok bisa kita lihat beberapa orang mau bertahan di tempat kerja yang sama untuk waktu yang lama, ketika rasanya ia bisa dapat lebih banyak di tempat lain?
Dalam proses manusia bicara dari hati ke hati, jangan-jangan tak pernah ada kata, hanya tatap mata.
From the publisher's feed