
Sign up to save your podcasts
Or


🎶engkau bukan yang pertama, tapi pasti yang terakhir...🎵 Begitu cuplikan lagu lawas mus mujiono berjudul arti kehidupan. Menjadi yg pertama memang membawa keuntungan tersendiri. Kita jadi diingat lebih. Namun jika gagal menjadi yg pertama atau gagal memberikan kesan pertama yg baik, setidaknya kita masih bisa jadi yg terakhir meninggalkan kesan baik. Otak kita memang memiliki kecenderungan mengingat yg paling. Paling awal dan paling akhir. Paling bagus dan paling jelek. Untuk itu kita harus berhati2 untuk setidaknya selalu meninggalkan kesanbterakhir yg baik untuk bisa diingat. Karena manusia sering mengambil kesimpulan dari bagaimana sesuatu berakhir. Brand2 besar mengerti betul hal ini dan maka dari itu mendesain experinece yg berkesan di akhir. Karena bagaimana kita meninggalkan kesan di akhir bisa menetralisir kekecewaan yg kita timbulkan di awal.
Untuk mendapatkan content dan buku Brain & brand, visit: https://linktr.ee/Brain_n_brand
Kita dan manusia memang memiliki tendensi judgemental. "Menghakimi" dan menilai orang lain dari kesan pertamanya. Ini memang mekanisme survival kita. Dengan memanisme ini kita bisa mendapat gambaran cepat tentang apapun di hadapan kita, orang lain ataupun brand. Penilaian cepat tersebut, walaupun tidak selalu akurat, menentukan bagaimana kita harus bersikap kepadanya. Untuk itu kita berpenampilan rapi, berbicara secara sopan dan hati2 pada pertemuan pertama kita dengan orang lain. Ini karena kita ingin menciptakan kesan pertama yg setidaknya tidak buruk. Karena kita tau banyaj hal bergantung dari kesan pertama Menciptakan kesan pertama yg baik memang penting. Tapi harus diingat kesan pertama yg dibentuk pun harus jujur dan autentik, bukan yg dibuat2 dan berbeda dengan kita apa adanya. Karena ketika kesan pertama kita tidak autentik, maka pada akhirnya pun kita tidak akan nyaman dengannya. Yuk ciptakan kesan pertama yg jujur dan apa adanya, supaya apapun yg kita dapat dari kesan pertama tersebut bisa kita terima dengan nyaman, dan tidak bikin kita tidak nyaman dengan segala kepura2an kità.
Untuk mendapatkan content dan buku Brain & brand, visit: https://linktr.ee/Brain_n_brand
Consumer experience memang penting. Brand berlombaomba menawarkan kepraktisan atas nama consumer experience ini. Berbagai barang ditawarkan sebagai barang siap pakai. Ready to drink, ready to use, ready to play, dll. Karena konsumen mau yg instant. Tapi ada beberapa brand yg berani nawarin produk yg butuh effort untuk merakitnya sebelum bisa dipakai. IkEA, lego, tamiya, kyosho, dll. Dan effort yg mereka keluarkan bukan cuma bebas dari concerm kepraktisan, tapi bahkan membuat konsumen menghargainya lebih. Effort yang dikeluarkan konsumen memang justtu bisa bikin mereka lebih terikat. Konsumen memang complicated ya, di satu sisi mau yg praktis, tapi twrnyata diribetin sedikit nggak selalu bikin mereka ngibrit.
Untuk mendapatkan content dan buku Brain & brand, visit: https://linktr.ee/Brain_n_brand
Dari kecil kita suka ditakut2i, jangan duduk di depan pintu, jangan mandi malam2, jangan makqn dengan tangan kiri, dsb. Ketakutan memang begitu manjur untuk membuat orang berubah. Orang yg tidak butuh pun mendadak tertarik membeli ketika ditakut2i akan sesuatu yg relevan. Dari situ banyak orang yang menjual krtakutan untuk bisa menjual produknya. Sayangnya walaupun dalam jangka pendek bisa menghasilkan penjualan, menggunakan ketakutan untuk menjual bisa berbahaya bagi brand. Karena pada dasarnya tidak ada yg suka ketakutan, brand yg diasosiasikan dengan ketakutan bisa dihindari dan ditinggalkan.
Untuk mendapatkan content dan buku Brain & brand, visit: https://linktr.ee/Brain_n_brand
Pebisnis dan brand owner seringkali berpikir terlalu lugu. Kita berpikir satu-satunya yang harus dilakukan dalam berbisnis adalah kualitas produk. seolah-olah apapun yang baik pasti akan dipilih. Sayangnya tidak, banyak peristiwa dalam hidup membuktikan bagaimana kita gagal mendorong diri kita untuk memilih hal baik. Maka dari itu brand butuh sesuatu lebih dari sekedar menciptakan produk baik dan mengkomunikasikannya.
Untuk mendapatkan content dan buku Brain & brand, visit: https://linktr.ee/Brain_n_brand
Brand, sama seperti manusia, sesekali pasti bikin salah juga baik sengaja atau tidak. Bagaimana brand merespon kesalahan tersebut lah yang pada akhirnya membedakan bagaimana konsumen bereaksi selanjutnya. Ada yang percaya bahwa brand harus jaim, jangan mudah minta maaf, ada yang percaya bahwa brand harus berani minta maaf setiap saat dibutuhkan. Episode ini kita bahas bagaimana maaf itu jadi penting untuk bangun brand jangka panjang
Untuk mendapatkan content dan buku Brain & brand, visit: https://linktr.ee/Brain_n_brand
Dalam hampir dari setiap pembelian kita, ada sekian persen pertimbangan bahwa pembelian tersebut dilakukan untuk juga "memuaskan" orang di sekeliling kita. Tapi jangan senang dulu, bukan karena kita sebegitu memikirkan mereka, tapi lebih karena kita ingin membeli sesuatu yg membuat orang kagum dan pada akhirnya memuji kita.
Untuk mendapatkan content dan buku Brain & brand, visit: https://linktr.ee/Brain_n_brand
Brand bukan cuma soal bisnis dan pekerjaan. Kita semua adalah brand diri kita sendiri. Dan sama seperti brand dalam bisnis menentukan banyak hal dalam kesuksesan bisnis, personal brand kita juga berperan dalam berbagai kemudahan dan kesulitan kita dalam hidup.
Untuk mendapatkan content dan buku Brain & brand, visit: https://linktr.ee/Brain_n_brand
Kerjasama McD x BTS membuktikan bagaimana powerfulnya sebuah cult dan fanatisme. BTS Army semerta-merta menyerbu gerai McD. Menarik untuk membahas bagaimana cult dan fanatisme terbentuk dari perspektif neuromarketing & behavior science. Kok bisa sih kita sebegitu "fanatik" nya terhadap apa yang kita idolakan?
Untuk mendapatkan content dan buku Brain & brand, visit: https://linktr.ee/Brain_n_brand
Bikin brand sebaiknya bukan asal bikin bagus, tapi juga menenmpatkan karakter flaw yang tidak fatal. Ini diperlukan karena pada dasarnya manusia tidaklah sempurna dan justru itu yang membuat manusia punya rasa. Brand bisa belajar dari bagaimana kita menyukai ketidaksempuranaan manusia tadi untuk membuatnya lebih terasa seperti manusia ketimbang robot sempurna.
Untuk mendapatkan content dan buku Brain & brand, visit: https://linktr.ee/Brain_n_brand
From the publisher's feed