Aspek pertama gambar diri adalah aspek present atau kekinian, yaitu bagaimana seseorang memandang dirinya saat ini atau pemahaman seseorang mengenai siapa dirinya sekarang (who he is). Setiap orang memiliki penilaian atau harga terhadap dirinya sendiri. Ukuran dan penilaian seseorang terhadap gambar diri sangat ditentukan oleh nilai-nilai yang diserap dari lingkungan sejak kecil, baik lingkungan keluarga, pendidikan, pergaulan dan lain sebagainya. Aspek kekinian dalam gambar diri seseorang dibangun dalam kehidupan setiap individu melalui perjalanan panjang masa lalunya. Gambar diri seseorang tidak bisa terbangun dalam waktu singkat. Oleh sebab itu untuk mengubah gambar diri yang salah atau rusak, juga membutuhkan waktu yang panjang pula, tidak cukup beberapa hari, beberapa minggu atau beberapa bulan, bahkan juga tidak cukup dua atau tiga tahun.
Bagaimana seseorang memandang dirinya atau memiliki gambar diri, sangat ditentukan oleh nilai-nilai yang dipahaminya. Nilai-nilai di sini maksudnya sesuatu yang dianggap berharga dan yang tidak berharga. Tentu saja, jika seseorang memiliki sesuatu yang dianggap berharga, maka hal itu membuat dirinya merasa lebih bernilai dibandingkan orang lain yang tidak memiliki sesuatu tersebut. Dengan sesuatu yang dianggap berharga tersebut, maka ia merasa dirinya lebih bermartabat. Dalam hal ini nilai diri atau martabat manusia ditentukan oleh sesuatu yang dipandangnya memiliki nilai yang tinggi atau berharga, juga di mata manusia lain.
Nilai-nilai juga bertalian dengan pemahaman seseorang mengenai kebahagiaan, keamanan, ketenangan dan kenyamanan hidup. Jadi, jika sesuatu yang berharga itu dimiliki, maka membuat dirinya merasa bahagia, aman, tenang dan nyaman. Itulah sebabnya, pada umumnya manusia memburu sesuatu yang membuat dirinya berharga dan bermartabat serta membuat dirinya merasa bahagia, aman, tenang dan nyaman. Dalam hal ini perasaan bahagia, aman, tenang dan nyaman seseorang ditentukan oleh sesuatu yang dipandangnya memiliki nilai yang tinggi atau berharga.
Faktanya, manusia menghabiskan umur hidupnya hanya untuk memiliki apa yang dianggapnya memiliki nilai yang tinggi atau berharga. Bahkan demi hal-hal tersebut, mereka bisa menghalalkan segala cara sehingga mereka bisa menjadi serigala bagi sesamanya. Manusia terbelenggu dengan pola pikir dan gaya hidup yang salah. Jika hal ini berlangsung, maka Tuhan dan Kerajaan-Nya serta perkara-perkara rohani tidak akan mendapat tempat yang sepantasnya. Manusia memberhalakan banyak hal dan mengandalkan kekuatan di luar diri Allah. Tujuan manusia bukanlah Tuhan dan Kerajaan-Nya, tetapi dunia ini. Manusia menjadi sesat. Dengan cara demikian kuasa kegelapan menggiring manusia kepada kegelapan abadi. Tetapi mereka sama sekali tidak menyadarinya. Di dalamnya termasuk banyak orang Kristen.
Nilai-nilai yang salah yang dibangun dalam kehidupan hampir pada semua manusia adalah uang atau harta materi, kedudukan, gelar, penampilan, relasi dengan pejabat dan aparat keamanan, barang-barang atau fasilitas yang dimiliki dan dikenakan seperti rumah, mobil dan lain sebagainya. Orang yang paling berperan membangun gambar diri dalam diri seseorang adalah orang tua atau lingkungan keluarga, setelah itu lingkungan pendidikan dan pergaulan. Lingkungan hidup seseorang sangat menentukan nilai-nilai yang dimiliki seseorang. Berhubung manusia hidup di dunia yang sangat fasik, artinya lingkungan hidup yang tidak takut Tuhan dan tidak memedulikan hukum-hukum-Nya, tentu saja lingkungan hidup seperti ini membawa semakin banyak manusia memiliki nilai-nilai yang salah. Hal ini mengakibatkan banyak manusia menjadi semakin tidak mengenal bagaimana manusia ideal yang dikehendaki oleh Allah.
Suasana dunia hari ini dengan keadaan lingkungannya, merupakan skenario besar dari kuasa kegelapan untuk bisa mencetak manusia seperti yang diinginkannya. Memang manusia tidak selalu menjadi jahat seperti binatang, tetapi manusia digagalkan untuk menjadi manusia sep...