Tulisan Votavato

Tulisan Votavato

By Anisa RahmaArtsBooks
Download on the App Store

Tulisan Votavato episodes

  • Cerita Fiksi : Miror Short - Bag. 14. Jalan Misterius #Alurcerita seram horor
    Mampir ke channel youtube aku Tulisan votavato. Waktu itu aku sedang mengendarai mobil hadiah pemberian dari ayahku. Untuk pertama kalinya dan masih belum memiliki sim. Tapi, aku bisa menjamin bahwa aku sudah memiliki kemampuan mengemudi yang lebih baik.
    Saat itu malam hari, dan aku menggunakan mobil hanya untuk membeli camilan kesukaanku yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Tapi, karena setahuku ada jalan singkat yang cepat untuk menuju ke sana, aku pun memilih jalur jalan itu.
    Jalannya sangat sepi dengan kiri kanan seperti perkampungan tak berpenghuni. Sebab, rumah-rumah yang dulunya padat penduduk kini ditinggalkan begitu saja tanpa pernah kutahu penyebabnya apa. Aku tetap menjalankan mobilku melewati jalan itu tanpa berpikiran buruk sama sekali.
    Sampai akhirnya di persimpangan, saat aku membelokan mobilku kekiri yang seharusnya aku akan menemukan jalan raya, tiba-tiba saja terlihat seperti jalan yang penuh dengan ilalang. Saat aku nekat untuk berjalan terus, karena aku sangat yakin bahwa disitu adalah jalan raya, aku akhirnya menemukan sesuatu yang janggal.
    Rasanya seperti aku kembali melewati rumah besar yang tadi sudah kulewati sebelumnya. Aku masih dapat berpikir positif saat itu dengan mengira aku salah ingat. Hingga akhirnya aku jalan lagi dan mendapati rumah yang sama sebanyak tiga kali.
    Dan yang keempat kalinya aku memilih untuk berbelok ke kanan. Setahuku jalan ke kanan akan membuatku kembali ke jalan raya juga, tapi dengan jarak yang akan lumayan jauh dari tujuanku berada. Tapi anehnya, jalur jalan itu terasa lebih panjang dan sangat jauh. Saat aku menghentikan mobilku dan melihat keadaan sekitar sambil membuka kaca jendela, aku lagi-lagi dikejutkan dengan kembali berada di jalanan di depan jalur singkat itu.
    Karena mendapati keanehan itu berulang kali,  akupun memutar balik mobilku dan tak berapa lama kemudian aku sudah berada di jalan raya dengan mudahnya.
    3 min
  • Cerita Fiksi : Jangan Tunggu Aku Pulang - Bag. 29. Masa lalu yang kelam #Alurcerita Horror Dramatis
    Mampir ke channel youtube aku Tulisan Votavato. "Ibu..." ucap Neo pada ibunya yang sedang berada dalam ruangan isolasi. Xander membawanya kemari agar dapat bertemu ibunya. Sejak kejadian kemarin, Neo merasakan kerinduan yang teramat sangat berat pada ibunya. Jadilah, ia meminta Xander untuk bisa ikut mengunjungi ibunya. Karena Neo rasa selama ini tidak ada seorangpun yang mengunjungi ibunya. Carra juga pasti belum siap.
    Sesampainya di panti rehabilitasi atau secara umum biasa dikenal orang dengan rumah sakit kejiwaan, Xander langsung bertanya pada perawat yang berjaga untuk memberitahu dimana ibu Neo berada. Dan disinilah mereka sekarang. Sebuah ruangan sempit yang mana ibu Neo dalam keadaan terikat kuat.
    Sebab, ibunya sering kali mengamuk setiap kali ia teringat dengan anak-anaknya, terutama Neo. Ia juga lebih sering menangis sampai membuat tubuhnya lelah dan demam tinggi. Keadaannya sungguh sangat memprihatinkan.
    Neo yakin jika Carra yang melihat ini, Ia pasti sangat sedih sekali.
    "Xander, aku mohon jangan pernah bawa Carra kemari ya. Aku tidak mau dia semakin terluka melihat keadaan ibu seperti ini." ucap Neo pada Xander yang hanya bisa melihat dari luar pintu karena tidak diperbolehkan masuk.
    "Iya, akan aku usahakan. Tapi, kalau suatu hari nanti dia maksa juga. Aku nggak mungkin terus melarangnya untuk tidak pergi kemari kan. Karena mau bagaimana pun, di sinilah tempat orangtua kalian berada." sahut Xander dengan pelan.
    "Iya, kamu benar. Tapi, tolong usahakan agar ia tidak pernah mengungkit untuk berencana datang kemari." Xander hanya mengangguk mengiyakan. "Terima kasih, Xander. Oh, ya, mumpung lagi di sini, aju jadi penasaran bagaimana keadaan orang itu sekarang." lanjut Neo lagi yang membuat dahi Xander mengerut bingung dengan siapa orang yang dimaksud Xander.
    11 min
  • Cerita Fiksi : Skylar dan robotnya - Season 2. Bag. 9.Live Streaming SkyApp #Alurcerita Sci-Fi
    Mampir ke channel youtube saya Tulisan Votavato. Suga sudah menunggu Jeara keluar dari rumahnya sejak setengah jam yang lalu. Namun, Jeara tak kunjung keluar dari rumahnya. Sementara waktu terus berjalan, hingga dalam waktu 15 menit lagi Jeara tidak keluar, maka mereka akan terlambat jika berangkat dalam 15 menit lagi.
    Suga sudah berkali-kali mengetuk pagar rumahnya, namun Jeara tidak kunjung keluar. Sampai akhirnya tiga sekawan yang biasanya muncul lebih awal dibanding Suga, mendadak kompak untuk bangun kesiangan.
    "Suga, kenapa masih di sini? Kok, belum berangkat juga?" tanya dan sapa Venus setelah dekat.
    "Jeara tidak keluar sedari tadi. Aku sudah menunggunya cukup lama di sini dan mengetuk-ngetuk pagarnya. Tapi, tak ada tanda apapun di dalam sana." kata Suga sambil menunjuk ke pintu rumah Jeara yang ada di dalam.
    "Ha! Jeara masih belum keluar juga? Nggak kayak biasanya dia begitu. Tunggu, deh, aku masuk ke dalam buat cek dia." kata Venus dengan beranjak sambil diikuti Yusuf yang akan membantunya sebagai pijakan untuk melewati pagar yang setinggi bahunya itu.
    Begitu ia masuk dan berada di depan pintu, suasana rumah Jeara lengang tak terdengar aktivitas sama sekali.
    "Jeara! Jeara! Kamu di dalam ngapain!? Kita bakalan telat kalau berangkatnya lebih lama lagi!" teriak Venus sambil mengetuk kaca rumahnya. Tetap tidak ada sahutan. Venus lalu berjalan ke samping rumah menuju kamar yang ditiduri Jeara. Ia mengintip pada jendelanya dan tak dapat melihat apapun karena tertutup oleh tirai.
    "Jeara! Jeara!" teriaknya lagi namun tetap tak ada sahutan. Venus pun kembali ke depan dengan Yusuf yang sudah ikut masuk dan bersiap jadi pijakannya Venus lagi. Seolah hal itu memang sudah biasa ia lakukan untuk Venus.
    Setelah keduanya keluar, mereka akhirnya memilih untuk berangkat berempat lantaran jam sudah menunjukan waktu yang sudah cukup siang jika untuk bersantai-santai lagi.
    "Mungkin Jeara sudah berangkat duluan kali." kata Raka dengan diisyaratkan oleh Venus agar Suga mengerti.
    "Bisa jadi, soalnya dia cukup sering sih pada ninggalin kita buat berangkat duluan. Udah, Suga kamu tenang aja. Jeara pasti sudah ada di sekolah sekarang." kata Venus dengan menggunakan bahasa isyarat.
    Suga hanya mengangguk dengan perasaan aneh yang mendadak merasuki rongga dadanya. Entah kenapa ia merasa cemas pada Jeara. Ditambah saat ia mengingat ekspresi Jeara kemarin. Sepertinya ada sesuatu yang Jeara sembunyikan darinya.
    Mereka tak sempat mengobrol seperti biasanya agar cepat lekas sampai. Dan bertepatan dengan bel yang berdering, mereka akhirnya tiba di gerbang sekolah.
    "Huh!" ujar keempatnya dengan membungkukan badan karena lelah. Napas mereka juga tersengal karena sedari tadi langkahnya terus diajak berjalan dengan setengah berlari.
    "Tuh, benar, kan apa aku bilang." kata Venus saat mereka sudah sampai di depan pintu kelas mendapati Jeara yang sedang mendengarkan musik dari earphonenya sambil menggambar.
    "Oy!" tegur Venus begitu ia melepaskan ranselnya yang ada di bangku depan meja Jeara. Jeara terkejut sampai membuat goresan tak terduga pada gambarannya.
    "Yah, Venus. Gambarannya kan jadi rusak." ujar Jeara dengan wajah yang cemberut berusaha mengimpropisasi goresan tersebut menjadi sesuatu.
    "Biarin. Abisnya kamu tega banget ninggalin kita berangkat duluan. Tuh, Suga lama banget nungguin di depan rumah kamu. Tapi kamunya malah berangkat duluan." kata Venus dengan suara sarat kekesalan.
    "Suga, maaf. Aku tidak bermaksud ninggalin kamu duluan. Tadi aku juga lupa buat mengirimi kamu pesan untuk berangkat duluan. Maaf, ya, Ga." kata Jeara dengan matanya yang merasa bersalah.
    "Kamu emangnya tadi berangkat jam berapa, Je?" tanya Raka yang duduknya di seberang dudukannya Jeara.
    6 min
  • Cerita Fiksi : It OK To Not be Okay - Bag. 21. Masalah #Alurcerita Kisah Romantis
    Mari mampir ke channel youtube aku Tulisan Votavato. Suga sudah menunggu Jeara keluar dari rumahnya sejak setengah jam yang lalu. Namun, Jeara tak kunjung keluar dari rumahnya. Sementara waktu terus berjalan, hingga dalam waktu 15 menit lagi Jeara tidak keluar, maka mereka akan terlambat jika berangkat dalam 15 menit lagi.
    Suga sudah berkali-kali mengetuk pagar rumahnya, namun Jeara tidak kunjung keluar. Sampai akhirnya tiga sekawan yang biasanya muncul lebih awal dibanding Suga, mendadak kompak untuk bangun kesiangan.
    "Suga, kenapa masih di sini? Kok, belum berangkat juga?" tanya dan sapa Venus setelah dekat.
    "Jeara tidak keluar sedari tadi. Aku sudah menunggunya cukup lama di sini dan mengetuk-ngetuk pagarnya. Tapi, tak ada tanda apapun di dalam sana." kata Suga sambil menunjuk ke pintu rumah Jeara yang ada di dalam.
    "Ha! Jeara masih belum keluar juga? Nggak kayak biasanya dia begitu. Tunggu, deh, aku masuk ke dalam buat cek dia." kata Venus dengan beranjak sambil diikuti Yusuf yang akan membantunya sebagai pijakan untuk melewati pagar yang setinggi bahunya itu.
    Begitu ia masuk dan berada di depan pintu, suasana rumah Jeara lengang tak terdengar aktivitas sama sekali.
    "Jeara! Jeara! Kamu di dalam ngapain!? Kita bakalan telat kalau berangkatnya lebih lama lagi!" teriak Venus sambil mengetuk kaca rumahnya. Tetap tidak ada sahutan. Venus lalu berjalan ke samping rumah menuju kamar yang ditiduri Jeara. Ia mengintip pada jendelanya dan tak dapat melihat apapun karena tertutup oleh tirai.
    "Jeara! Jeara!" teriaknya lagi namun tetap tak ada sahutan. Venus pun kembali ke depan dengan Yusuf yang sudah ikut masuk dan bersiap jadi pijakannya Venus lagi. Seolah hal itu memang sudah biasa ia lakukan untuk Venus.
    Setelah keduanya keluar, mereka akhirnya memilih untuk berangkat berempat lantaran jam sudah menunjukan waktu yang sudah cukup siang jika untuk bersantai-santai lagi.
    "Mungkin Jeara sudah berangkat duluan kali." kata Raka dengan diisyaratkan oleh Venus agar Suga mengerti.
    "Bisa jadi, soalnya dia cukup sering sih pada ninggalin kita buat berangkat duluan. Udah, Suga kamu tenang aja. Jeara pasti sudah ada di sekolah sekarang." kata Venus dengan menggunakan bahasa isyarat.
    Suga hanya mengangguk dengan perasaan aneh yang mendadak merasuki rongga dadanya. Entah kenapa ia merasa cemas pada Jeara. Ditambah saat ia mengingat ekspresi Jeara kemarin. Sepertinya ada sesuatu yang Jeara sembunyikan darinya.
    Mereka tak sempat mengobrol seperti biasanya agar cepat lekas sampai. Dan bertepatan dengan bel yang berdering, mereka akhirnya tiba di gerbang sekolah.
    "Huh!" ujar keempatnya dengan membungkukan badan karena lelah. Napas mereka juga tersengal karena sedari tadi langkahnya terus diajak berjalan dengan setengah berlari.
    "Tuh, benar, kan apa aku bilang." kata Venus saat mereka sudah sampai di depan pintu kelas mendapati Jeara yang sedang mendengarkan musik dari earphonenya sambil menggambar.
    "Oy!" tegur Venus begitu ia melepaskan ranselnya yang ada di bangku depan meja Jeara. Jeara terkejut sampai membuat goresan tak terduga pada gambarannya.
    "Yah, Venus. Gambarannya kan jadi rusak." ujar Jeara dengan wajah yang cemberut berusaha mengimpropisasi goresan tersebut menjadi sesuatu.
    "Biarin. Abisnya kamu tega banget ninggalin kita berangkat duluan. Tuh, Suga lama banget nungguin di depan rumah kamu. Tapi kamunya malah berangkat duluan." kata Venus dengan suara sarat kekesalan.
    "Suga, maaf. Aku tidak bermaksud ninggalin kamu duluan. Tadi aku juga lupa buat mengirimi kamu pesan untuk berangkat duluan. Maaf, ya, Ga." kata Jeara dengan matanya yang merasa bersalah.
    "Kamu emangnya tadi berangkat jam berapa, Je?" tanya Raka yang duduknya di seberang dudukannya Jeara.
    9 min
  • Cerita Fiksi : Rasa Kecewa Terhebatku -Bag. 47. Brothet F**k #Alurcerita Drama Patah Hati
    Mari mampir ke channel youtube saya Tulisan Votavato. Namanya Fieska, seorang anak perempuan berkebangsaan Eropa yang tinggal di sebuah rumah paling besar yang ada di wilayah itu. Ia punya keluarga yang lengkap. Namun, kurang rasa peduli antar satu sama lainnya. Fieska punya seorang kakak laki-laki bernama Hanzel. Hubungannya dengan Hanzel tidak begitu dekat, karena Hanzel sering pergi keluar bersama teman-temannya.
    Orangtua mereka pun sebenarnya sudah tak harmonis lagi. Apalagi Cakka, ayah mereka. Ia sudah sering membawa wanita lain masuk ke dalam rumah mereka. Sementara istri atau ibu dari Fieska dan Hanzel, ia biarkan terkurung dalam kamarnya. Sebab, Azzura sudah tak lagi dapat berdiri dan berjalan akibat kecelakaan yang dialaminya dua tahun lalu itu.
    Fieska dibiarkan bebas mau ngapain saja atau pergi kemana saja tanpa ada yang melarang dan mencarinya. Tapi, Fieska tak melakukan hal itu. Ia sering ada di dalam kamar ibunya untuk menemaninya sepanjang waktu.
    Sejujurnya, Fieska sangat merindukan hubungan keluarganya kembali seperti dulu lagi. Namun, semua itu sudah tak lagi bisa. Ayahnya sudah terlanjur menyakiti ibunya, tidak hanya mengabaikan dan mengurungnya saja, melainkan juga memberikan pukulan sampai Azzura sempat dilarikan ke rumah sakit sebab pendarahan yang dialaminya.
    Suatu hari, suasana rumah yang biasanya sunyi mendadak ramai oleh kedatangan teman-temannya Hanzel. Mereka cukup banyak sampai hampir memenuhi isi rumah. Hanzel tidak keberatan dengan semua itu. Pula, Cakka sedang pergi ke Parris hari itu dengan kekasih barunya. Sementara Fieska dan ibunya masih berada di kamar lantai atas.
    Mereka mendengar dengan semua bunyi bising yang ada di lantai bawah. Keributan itu dibuat oleh Hanzel sendiri. Ia memainkan gitar listrik dengan kenyaringan setara musik metal.
    Fieska menutup pintu dan jendela rapat-rapat agar suara berisik itu tidak sampai mengganggu ia dan ibunya. Setelah itu, Fieska pergi ke bawah untuk mengecek apa yang sedang dilakukan kakak dan teman-temannya itu.
    Fieska sudah di tengah anak tangga ketika seseorang tiba-tiba menarik tubuhnya untuk turun dan menyeretnya ke samping rumahnya. Kejadian itu begitu cepat hingga Fieska tak dapat mengeluarkan suara akibat mulutnya yang disumpal dan dilakban. Tangan Fieska diikat kebelakang dan ditambatkan ke sebuah pohon.
    Detik berikutnya adalah hal yang paling menyakitkan bagi Fieska. Sementara itu matanya pun melihat jelas bagaimana Hanzel sedang merekam dirinya.
    Semenjak saat itu, Fieska kecewa oleh yang namanya laki-laki.
    4 min
  • Cerita Fiksi : Miror Short - Bag. 13. Pasar Gaib #Alurcerita Horror Mystery
    Mari mampir ke channel youtube aku Tulisan Votavato. Hari libur, aku dan ayahku pergi ke rumah kakek dan nenek yang ada di sebuah perkampungan di belakang sebuah gunung. Saat pergi ke sana, aku begitu antusias dengan membayangkan aku bisa pergi ke gunung bersama kakek seperti waktu dulu lagi.
    Setibanya di sana, aku mendapati kakek dan nenekku sudah tambah semakin menua. Tapi tetap saja, kakekku masih terlihat gagah.
    Suatu malam, saat kakek dan ayahku sedang pergi memancing, aku ditinggal berdua bersama nenek. Aku tidak ikut pergi disamping karena aku tidak suka memancing, juga karena banyaknya nyamuk yang berkeliaran.
    Malam itu aku dan nenek sedang membuat makan malam. Tapi, tiba-tiba lampu di dapur mendadak mati. Nenek lalu menyalakan lampu petromax sebagai ganti penerangan sementara. Begitu sudah selesai, makanan pun sudah siap menunggu kepulangan ayah dan kakek.
    Selagi menunggu, aku pun berinisiatif untuk mengganti bola lampu itu. Nenek lalu menyuruhku untuk mengambil tangga yang ada di belakang rumah. Sementara nenek pergi ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Nenek sempat menungguku untuk ikut membantuku katanya. Namun aku tolak karena aku sudah biasa mengganti lampu di kamarku dan juga di kelasku. Itu dikarenakan karena aku satu-satunya murid tertinggi di kelas.
    Saat aku menaiki tangga dan bersiap untuk menjangkau bagian pemasang bohlam, tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat ramai berada di sekitarku. Saat aku menunduk dan menatap ke sekitar, penampakan dapur seketika berubah menjadi tanah lapang yang luas dengan banyaknya aktivitas pasar malam seperti pada umumnya. Aku yang keheranan sempat memperhatikan orang-orang yang saling beinteraksi itu.
    Anehnya aku tidak bisa melihat wajah mereka selain gelap. Saat aku mencoba untuk turun dan menginjak ke lantai, aku kembali berada di dapur nenek. Merasa bingung, aku kembali naik kemudian turun lagi dengan memastikan apa yang baru saja aku alami.
    Pada akhirnya, aku tak bisa mengganti bohlam itu sampai nenek datang lagi.
    Aku lalu bertanya mengenai tangga itu. Dan, bertapa tercengangnya aku saat nenek menjelaskan bahwa tangga yang aku pijak bukanlah tangga, melainkan setumpuk tulang manusia yang dibuat menyerupai tangga. Dilihat olehku memang seperti tangga. Tapi, bagi nenekku, itu sebenarnya bukan tangga.
    3 min
  • Cerita Fiksi : Kenapa Aku Bisa Mati? - Bag. 6. Tersambar Petir #Alurcerita Dramatis horror
    Mari mampi ke channel youtube aku Tulisan Votavato. Namanya Lani, anak perempuan usia 15 tahun. Dia suka memainkan ponselnya sepanjang hari. Akibat kecanduan game online yang sampai membuatnya lupa diri.
    Ibunya sering kali menegurnya untuk tidak terlalu lama berkutat dengan ponselnya. Tapi, Lani tidak menuruti peringatan itu. Ia terus-terusan bermain dan bermain. Sampai ibunya pun harus menyuapinya makan karena Lani tidak pernah bergerak dari duduknya.
    Ibu Lani bukan jenis ibu tegas dan keras, sehingga dia tidak tega untuk mengambil ponsel Lani. Pernah sekali ia mencoba menyembunyikan ponsel Lani, dan itu berakhir dengan Lani yang mengamuk di rumah sampai perabotan di dalam rumah rusak berhamburan.
    Ibu Lani sudah cukup tua untuk menghadapi Lani anak bungsunya. Hingga ia hanya bisa pasrah saja sekarang.
    Ayah Lani sudah meninggal sejak ia masih kecil. Dan kakak-kakaknya sudah berkeluarga dengan tinggal di tempat yang lumayan jauh. Sehingga Lani hanya tinggal dengan ibunya sekarang.
    Suatu hari, saat Lani sedang asik bermain, tiba-tiba gamenya mendadak berhenti karena datanya yang habis. Lani kemudian berteriak pada ibunya untuk dibelikan paket data.
    Setelah mendapatkan uang dari ibunya, Lani pun pergi keluar rumah setelah hampir sebulan hanya berkurung di dalam rumah.
    Langit sedang mendung saat itu. Sebentar lagi akan turun hujan. Namun, untungnya saat Lani sudah membeli paket data, ia sudah kembali tiba di rumahnya.
    Sebelum ia sempat melanjutkan mainnya, ibu Lani menyuruh makan lebih dulu. Tapi, reaksi Lani malah melemparkan semua piring yang ada di meja makan sampai membuat ibunya menangis.
    Saat Lani sudah masuk kembali dalam kamarnya dan hendak memasukan paket datanya. Tiba-tiba petir masuk ke dalam kamarnya mengenai tubuhnya yang seketika terbakar.
    Lani berteriak histeris dibantu ibunya yang berusaha memadamkan api ditubuh Lani menggunakan selimut basah. Tapi, itu tidak berhasil karena aliran listrik di tubuh Lani masih muncul membuat ibunya hanya bisa menyaksikan saat terakhir Lani begitu saja.
    3 min
  • Cerita Fiksi : Catatan Psikopat - Bag. 19. Pembantaian #Alurcerita Thriller berdarah
    Mampir ke channel youtube saya Tulisa Votavato. Hari ini, aku kesal sekali dengan beberapa orang yang sedang nongkrong di depan rumahku. Mereka berisik dan itu membuatku merasa terganggu.
    Ketika ayahku menegur, mereka justru semakin ribut. Tapi, karena kami adalah warga baru di wilayah ini, akhirnya ayah membiarkan mereka begitu saja. Walaupun dengan perasaan dongkol dan kesal tentunya.
    Aku yang berada di lantai dua pun, masih dapat mendengar suara mereka yang ada di luar. Jika aku menututup jendela, memang suara mereka tak lagi kedengeran. Tapi, aku tak bisa menutupnya karena aku tak biasa menutup jendela di siang bahkan malam hari seperti saat ini sekalipun.
    Aku mencoba untuk memutar musik penenang dan mulai melakukan aktivitas sebelum tidurku untuk membaca novel. Lagi-lagi suara mereka membuat konsentrasiku membuyar. Aku lantas melempar novelku sembarangan. Aku benar-benar kesal sekarang.
    Aku akan membungkam mulut mereka sampai tak bisa mengeluarkan suara sekecil apapun.
    Aku menengok jam digital di kamarku yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Bisa-bisanya para babi-babi itu masih melakukan keramaian di depan rumah oranglain. Aku lalu keluar kamar dan menengok pada kamar orangtuaku. Tertutup rapat. Sepertinya ayah tengah berada di ruang kerjanya yang memiliki dinding pengedap suara. Sedang ibuku masih belum pulang.
    Aku lalu ke gudang dan mengambil beberapa kaleng berukuran sedang, gunting pemotong seng, dan blender jumbo. Aku memasukannya ke dalam ransel besar. Meskipun berat tapi ketika aku membayangkan mereka tak lagi dapat bersenang-senang setelah ini, rasa berat itu sontak berubah menjadi begitu sangat ringan.
    Aku lalu membuka pagar rumah dan mendapati mereka yang masih sibuk bercengkrama disertai tawa sumbang yang membuat kuping pekak. Aku heran dengan mengapa warga di sini tak ada satupun yang berusha untuk mengentikan aktivitas mereka yang begitu sangat mengganggu ini.
    Dengan memutar bola mata malas, aku lantas melemparkan sekantung uang di tengah-tengah kerumunan mereka. Tenang saja, kali ini bukan bom mematikan yang kumasukan dalam tumpukan uang itu, melainkan bom bau yang mengeluarkan aroma bagi siapapun yang menghirup baunya akan pangling.
    Aku yang sudah menutup hidungku sedari tadi tinggal menunggu sebentar kapan mereka akan benar-benar ditinggalkan oleh kesadaran. Tak lama berselang, mereka akhirnya bertingkah seperti orang mabuk. Aku lalu mengeluarkan mobilku dan menyuruh mereka untuk naik.
    Aku tidak peduli pada mereka yang berdesakan saat ini. Aku kemudian membawa mereka ke sebuah kawasan pasar yang pastinya sudah tutup. Aku pun menyuruh mereka berjalan dengan hati-hati dan berpencar agar sebagian orang-orang yang tidur di pasar tidak memedulikan keberadaan kami. Aku meminta mereka untuk naik ke lantai paling atas di mana tak ada satupun orang yang diperbolehkan untuk tidur di sana.
    Selagi berpencar, aku lantas mencari seseorang yang biasa ditugaskan untuk menjaga keamaan pasar ini ketika malam. Begitu menemukan dua penjaganya, aku langsung menembakan jarum yang mana ujungnya sudah terdapat cairan penghilang kesadaran ke leher mereka berdua secara bersamaan. Detik itu juga, mereka pun dilanda oleh rasa kantuk yang teramat berat. Barulah aku menyusul para babi itu ke atas.
    Sesampainya di atas, para babi-babi ini benar-benar terlihat seperti orang-orang bodoh. Sudahlah, aku tidak peduli bagaimana penampakan sampah mereka.
    Sekarang, adalah waktunya untuk aku membungkam mulut mereka selamanya.
    Aku lalu mengeluarkan gunting seng lebih dulu dari ranselku dan tanpa merasa kasihan sedikit pun, kupotong jari-jari tangan mereka satu persatu. Mereka lucu sampai tak sadar jari-jarinya sudah tak lagi ada.
    Kemudian, jari-jari tadi kubuat dalam blender jumbo bertenaga batrai yang tadi kubawa dalam keadaan full.
    Aku juga tak lupa untuk menghitung waktu sadar mereka yang sebentar lagi akan kembali. Tentunya, tubuh mereka sudah dalam keadaan terikat dengan rantai sehingga tak akan l
    6 min
  • Cerita Fiksi : Catatan Psikopat - Bag. 20. Simulasi Nyata Lebih Menyenangkan #Alurcerita Thriller
    Mari mampir ke channel youtube aku Tulisan Votavato. Aku mendapatkan tugas yang harus dikerjakan berdua dari guru sekolahku. Aku lalu mengerjakannya dengan teman sebangkuku. Aku kemudian mengajaknya ke rumahku agar lebih bebas mengerjakannya.
    Saat ia sedang melihat-lihat isi ruang kamarku, aku mengmbilkan minuman yang sudah kuseduhkan bersama obat bius di dalamnya.
    Saat aku kembali, ternyata ia sudah berdiri di depan pintu yang mana bahkan orangtuaku sendiri tidak boleh masuk ke dalamnya. Aku lalu menyodorkan minuman ke depannya sampai membuatnya terlonjak kaget. Aku hanya tersenyum dan memberikan tatapan yang langsung dipahami olehnya, yakni menjauh dari pintu itu.
    Kami pun duduk dan mulai kembali fokus mengerjakan tugas. Aku sengaja membuat reaksi obatnya satu jam setelah di minum, sebab, aku juga tidak mau mengerjakan tugas itu sendirian.
    Tepat ketika tugasnya selesai dikerjakan, perlahan wajahnya kulihat mulai dipenuhi oleh rasa kantuk. Sebentar lagi ia akan tak sadarkan diri. Kemudian dalam hitungan beberapa detik saja, kepalanya pun menyentuh meja.
    Tak perlu menunggu waktu lama, aku lantas menyeretnya untuk masuk ke kamar mandi. Tak lupa aku ikatkan tangan dan kakinya ke sisi kamar mandi. Tak susah. Karena aku sudah pernah melakukan simulasinya pada boneka tiruan manusia yang kusimpan di dalam ruangan rahasiaku itu.
    Aku menempatkannya dalam bak mandi dengan kepala di dasarnya. Kemudian dengan perlahan kunyalakan air sambil bernyanyi riang menunggunya bangun. Tak lupa aku juga sudah menyiapkan lilin aromaterapi di dekatnya agar merasa lebih rileks lagi.
    Saat air mulai membasahi bagian belakang kepalanya, ia pun terbangun. Awalnya ia biasa saja, tapi saat hendak menggerakan tubuhnya, barulah ia mulai menyadari dengan apa yang terjadi pada dirinya.
    Ia lantas berteriak histeris ke arahku dengan tak lupa minta dilepaskan ikatannya.
    Satu menit dua menit kubiarkan saja. Tapi lama lama ia semakin bertambah berisik. Lalu aku tancapkan saja lilin aroma terapi tadi kemulutnya hingga suaranya menjadi tersamarkan.
    Tapi, aku juga tidak suka dengan cara matanya melihatku. Aku lalu keluar dan mengambil toples baru. Begitu aku kembali, ternyata ia sedang berontak untuk melepaskan ikatanya membuat lantai yang tadinya kering jadi basah karenanya.
    Aku tentu saja kesal. Aku pun mulai mecekiknya dengan perlahan sampai salah satu kukuku yang tajam menancap di lehernya. Ia semakin beringas hingga aku terus menekan kuat lehernya.
    Tak lama berselang, ia seperti mendengkur. Aku lalu dengan tenang mengambil dua bola matanya dengan mencongkelnya menggunakan jari tanganku.
    4 min

About Tulisan Votavato

From the publisher's feed

Karena, anak introvert juga punya cerita untuk minta didengar