Tulisan Votavato

Tulisan Votavato

By Anisa RahmaArtsBooks
Download on the App Store

Tulisan Votavato episodes

  • Cerita Fiksi : Its OK to Not be Okay - Bag. 20. Jerion masih hidup #Alurcerita Drama romantis indo
    Mari mampir ke channel youtube aku Tulisan Votavato. "Jika kamu tidak suka dengannya. Abaikan saja. Kalau kamu juga tidak mau ikut dengannya, maka tolak saja." kata Suga dengan sebelah tangannya.
    Jeara mengela napasnya. Ia mengangguk membenarkan perkataan Suga. Sebenarnya, bukan hal itu yang benar-benar menjadi poin utama kekesalannya. Melainkan hal yang ia katakan mengenai ayahnya
    Beberapa jam yang lalu, di ruang guru.
    "Ayahmu masih hidup. Tidakkah kamu rindu dengannya, Jeara?" tanya Javin yang membuat Jeara menoleh kearahnya sepenuhnya.
    "Ayahku sudah tidak ada. Jangan menyangkut pautkan hal ini dengan orang yang sudah tak lagi ada. Tadinya saya pikir Anda adalah orang yang baik. Berbeda dengan ibu saya. Tapi ternyata saya salah, Anda tak jauh berbeda dengannya. Anda hanya memiliki kesan baik diawal." kata Jeara dengan menatap kesal pada Javin.
    "Saya tidak mengada-ngada. Ayahmu memang berada di tempat saya. Lihat ini kalau kamu tidak percaya." ujarnya dengan menyodorkan video cctv dari basemant di rumahnya.
    "A-ayah!?" seru Jeara yang langsung membuat perasaannya merasa senang sekaligus sedih. "Apa yang Anda lakukan pada Ayah saya!?" tanyanya lagi dengan setengah berteriak.
    "Pelankan suaramu atau kamu akan benar-benar kehilangan ayahmu." kata Javin dengan tenang.
    "Hiks, apa sebenarnya mau Anda? Kenapa Anda melakukan semua ini kepada saya?" tanya Jeara yang sudah tak dapat menahan tangisnya.
    "Kenapa? Apa ada jawaban untuk alasan rasa senang yang kita miliki saat melakukan sesuatu?" ujarnya membingungkan.
    "Lepaskan ayah saya sekarang atau Anda akan saya laporkan ke polisi." ancam Jeara.
    "Silahkan laporkan pada polisi. Namun, saya bisa pastikan ketika polisi menemukan ayahmu. Mereka hanya akan menemukan jasadnya saja. Bagaimana?"
    Tak lama kemudian beberapa guru kembali masuk.
    "Datanglah nanti sore ke kafe dimana kita kali pertama bertemu. Kita obrolkan lagi nanti." ujar Javin sambil berlalu pergi keluar begitu saja meninggalkan Jeara yang masih mematung.
    "Kamu? Kenapa kamu menangis, Nak?" tanya salah satu guru yang menyadari raut wajah Jeara.
    "Ah, nggak apa-apa, Bu. Saya permisi dulu." ujarnya yang langsung berpamitan pada guru yang tadi merasa keheranan melihat wajahnya.
    9 min
  • Cerita Fiksi : Jangan Tunggu Aku Pulang - Bag. 28 #Alurcerita Thriller Horror Mystery
    Mari mampir ke channel youtube aku Tulisan Votavato. Neo mengampiri sebuah mobil yang baru saja keluar dari balik pepohonan itu. Neo sangat yakin bahwa keberadaan mobil itu tidak ada sebelumnya. Ia lalu beranjak hendak masuk ke dalamnya, namun belum sampai dirinya menyentuh badan mobil tersebut, tubuh Neo langsung terpental hingga beberapa meter ke belakang. Tak lama berselang, Xander pun datang mengampiri.
    "Neo, kamu nggak apa-apa?" tanya Xander.
    "Aku apa-apa. Kalau saja aku masih manusia, aku pasti dipenuhi banyak luka sekarang." sahut Neo agak sedikit ketus.
    "Tapi, kau terlihat baik-baik saja untuk ukuran mahkluk yang ada apa-apa." kata Xander lagi setelah sesaat memperhatikan kondisi Neo.
    "Sepertinya aku mulai mengerti kenapa para sosok seperti aku itu lebih memilih untuk mengabaikanmu." kata Neo dengan menghilang tiba-tiba.
    "Neo! Neo! Pergi kemana!? Neo!?" untuk pertama kalinya Xander tak dapat mengetahui kemana sosok Neo menghilang. Biasanya, ia akan bisa melihat kemana arwah itu pergi menghilang melalui dengan adanya portal yang muncul dan sempat ia lihat dalam waktu sepuluh detik. Tapi, kali ini tak ada portal sama sekali. Neo benar-benar hilang begitu saja.
    Sementara itu, Neo yang tak bisa masuk ke dalam mobil itu pun memilih untuk mengikuti kemana mobil itu pergi. Ia masih bingung kenapa ia sampai tak bisa menembus mobil tersebut. Setelah menempuh perjalanan udara yang cukup menguras energi mistiknya, akhirnya mobil itu masuk ke dalam sebuah rumah besar dan memarkirkannya ke dalam bagasi yang ada di bawah rumah.
    Tak lama berselang, beberapa orang turun dengan membawa masing-masing kotak berukuran sedang. Mereka menuju pintu yang tak jauh dari bagasi. Neo berharap ia dapat masuk ke dalam rumah itu. Namun, lagi-lagi ia tidak bisa melakukannya. Seolah-olah ada sesuatu yang menghalanginya untuk tidak bisa masuk ke dalam. Setiap kali ia memaksakan diri untuk masuk, setiap kali itu juga dadanya serasa seperti ditampar.
    Karena tak kuat lagi menahan, Neo pun kembali lagi ke tempat dimana ia meninggalkan Xander tadi.
    Tapi, sesampainya di lokasi semula, Neo tak melihat lagi dengan keberadaannya Xander. Salahnya sendiri memang meninggalkan Xander begitu saja, dan tidak memintanya untuk jangan beranjak ke mana-mana. Dari pada itu, ia merasa sedikit tak asing dengan tempatnya saat ini. Ia seperti pernah mengenali lokasi ini sebelumnya. Kemudian, dengan mengandalkan rasa tak asingnya, Neo merasa kalau di sekitar situ ada lubang yang menuju ke suatu tempat.
    Satu jam Neo berkeliaran di sekitar situ, tak kunjung ia temukan pintu dari lubang dalam ingatan tak asingnya itu. Sampai akhirnya, ia pun memilih mengistirahatkan tubuhnya di bawah sebuah pohon besar dengan akar yang menyembul keluar. Baru saja hendak duduk, ia langsung terperosok jatuh masuk ke dalam sebuah lubang. Ketika ia tengok ke atas, terlihatlah langit malam yang dipenuhi oleh taburan bintang. Padahal, sesaat yang lalu keadaan di sekitarnnya masih siang dengan sinar matahari yang cerah.
    Darr!!
    Belum lagi Neo bersiap hendak naik ke atas, ia dikejutkan dengan suara dentuman cukup keras hingga mengakibatkan tanah yang dipijaknya menjadi bergetar. Neo yakin ledakan tersebut tak jauh dari tempatnya berada. Kemudian, dengan susah payah Neo berusaha untuk naik ke atas sampai membuat tubuhnya kotor. Entah kenapa tiba-tiba ia tak bisa menggunakan kekuatan mistiknya.
    9 min
  • Cerita Fiksi : Rasa Kecewa Terhebatku - Bag. 46. Sadboy #Alurcerita Dramatis
    Mampir ke channel youtube aku Tulisan Votavato. Melepaskan, kehilangan, ditinggalkan pas lagi sayang-sayanya, dan merasa mencintai tapi belum sempat memiliki.
    Itu semua adalah sekelompok rasa sakit yang pasti pernah dialami sama kebanyakan orang. Setiap orang pasti punya pengalaman rasa sakit yang berbeda-beda pastinya. Salah satunya adalah cerita dari anak laki-laki satu ini.
    Namanya William. Anak baik yang sedang bercosplay jadi anak yang memiliki sifat buruk lantaran keadaan keluarganya yang hancur alias berantakan. Mama papanya sering bertengkar kalau di rumah. Tapi, kalau pas lagi di depan orang-orang seperti kolega kerja, mereka bakalan langsung pasang akting layaknya keluarga harmonis. Selain itu, masing-masing dari mereka juga punya pasangan lain.
    William pun muak melihat semua itu. Sejak usia William masih 5 tahun, dia sudah disuguhkan dengan kejadian dan pertunjukan menyakitkan antara kedua orangtuanya. Mereka bertengkar tidak hanya beradu mulut. Melainkan saling pukul dan mendesak satu sama lain sampai mereka lelah. Tidak jarang William juga kena imbasnya.
    Meski begitu, mereka tak pernah berpisah dan terus melakukan hal yang sama hingga William menginjak dewasa. Sampai suatu hari, William sudah merasa tidak tahan lahi hidup bersama diantara sandiwara kedua orangtuanya. William akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumahnya dan memilih tinggal pada sebuah apartemen mewah milik temannya.
    Kehidupan William tentu saja terpengaruh akibat perlakuan kasar orangtuanya terhadapnya. Tapi, meski William dicap sebagai anak yang memiliki perilaku yang buruk dan sering berkelahi, ia tak pernah sekalipun menyentuh yang namanya barang haram seperti alkohol dan narkoba. Teman-temannya pun sama. Mereka hanya anak nakal.
    Suatu hari, William menyelamatkan seekor kucing yang (entah bagaimana caranya) berada di atas sebuah lampu jalan. Ia mengeong dan William melihatnya. William lalu meminjam tangga pada sebuah toko, namun karena penampilan dan beberapa luka yang ada di wajahnya, orang-orang menolak meminjami. Merasa tak ada yang membantunya, William akhirnya nekat memanjat tiang lampu.
    Belum sampai setengah ia naik, seorang anak perempuan meneriakinya menyuruhnya turun.
    "Hei! Turun! Ayahku akan menyelamatkan kucingnya!" serunya yang tak lama kemudian sebuah mobil damkar terparkir di depan lampu jalan itu. Kemudian, keluarlah seseorang di atasnya untuk mengambil kucing tersebut.
    William melihat semua itu dan ia pun pergi begitu saja setelah kucing itu berhasil diselamatkan.
    "Tunggu!" anak perempuan tadi ternyata mengejar William. "Namamu siapa?" tanyanya tanpa merasa takut atau jijik pada penampilan William.
    Singkat cerita, mereka jadi sering bertemu. Nama anak perempuan itu adalah Audrey. Dia merasa tidak takut pada William karena dia tahu kalau sebenarnya William itu anak baik. Dan, dia juga tahu apa yang selama ini dialami William di rumahnya. Sebab, Audrey sering mendengar dari luar suara teriakan perempuan serta pecahan kaca yang sengaja dilemparkan ke tembok, yang berasal dari rumah kediaman orangtua William. Audrey juga tahu semuanya tentang William.
    Tak terasa, kini sudah lebih dari 6 tahun Audrey dan William berteman. Sebenarnya, William memiliki perasaan dengan Audrey, ia berencana akan menyatakan perasaannya pada Audrey malam ini, tepat pada malam natal.
    William dan Audrey bertemu pada sebuah taman yang banyak sekali dihiasi oleh pernak pernik hiasan natal. Mereka duduk di pinggiran kali yang dibuat menjadi siring. Tempatnya juga dibuat sangat cantik. Di situlah William akan menyatakan perasaannya.
    "Drey."
    "Will."
    "Lo aja yang duluan kalau gitu."
    "Nggak apa-apa kamu aja."
    "Ladies first."
    "Oke." Audrey melegakan tenggorokannya lebih dulu sebelum mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
    "Will." panggil Audrey.
    "Ya?" sahut William sambil tersenyum dan menatap dalam ke mata Audrey.
    "Sebenarnya..."
    "Hm?"
    "Aku minta maaf baru bilang ini sekarang. Tapi, aku rasa kamu harus tahu hal ini. Sebe
    6 min
  • Cerita Fiksi : Skylar dan robonya - Season 2. Bag. 8 #Alurcerita Sci-Fi Romance
    Mampir ke channel youtube aku Tulisan Votavato. "Pemandangan yang bagus di pagi hari, eh?" tegur Hester saat mendapati Skylar sudah berada di atas menara sambil melihat pada matahari yang masih ragu-ragu menimbulkan sinarnya.
    "Kamu tahu, Hester? Kupikir kita sudah begitu jauh pergi dari tempat kita sebelumnya, ternyata kita hanya pindah beberapa mil." kata Skylar seraya menyesap teh lemonnya.
    "Tahu kenapa artinya?"
    "Apa?"
    "Kamu sudah ditakdirkan untuk tetap berada di tempatmu dan menjadi apa yang sudah kamu mulai dari asalmu sendiri."
    "Ya. Kadang aku merasa lucu. Ingin kabur justru aku malah makin bersembunyi dalam ruanganku sendiri. Dengan begini, kurasa suatu saat orang-orang pasti akan menemukan tempat ini."
    "Saat itu tak usah terlalu khawatir. Aku dan robot-robotmu yang lain akan berjaga di depan untuk melindungimu."
    "Kamu bisa pastikan itu?"
    "Tentu saja."
    "Aku ingin tahu apa alasanmu melindungiku sampai sejauh ini? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan dibaliknya?"
    "Persis seperti yang kuduga. Kamu pasti akan mengira kebaikanku adalah bagian dari sesuatu yang negatif. Kupikir aku sudah mengatakan ini sebelumnya padamu atau pada yang lainnya, entahlah. Aku tak begitu ingat. Dan bisa kuperjelas sekali lagi." Hester menjeda perkataannya dan memilih untuk duduk santai di pinggir tembok kaca dengan duduk di atasnya. Ia tak akan terjatuh karena tempat itu sepenuhnya dilindungi oleh kaca yang bahkan anti peluru sekalipun.
    "Kau sudah begitu baik kepadaku. Membiarkan aku tinggal dan menolong hidupku. Dan aku pun lantas mengikrarkan hidupku untuk menjadi seseorang yang kamu butuhkan. Apapun, kapanpun, dan dimanapun. Aku juga akan turut melindungimu dari orang-orang yang berpotensi membuatmu tak nyaman atau bahkan menyakitimu. Dan sekarang aku tengah mempraktekannya. Intinya, aku melakukannya karena aku berutang budi padamu dan juga karena kau adalah orang baik, Skylar." Hester mengentikan ucapannya sambil melirik pada Skylar menunggu responnya.
    "Aku kira tadinya kamu melindungiku dengan alasan yang lebih sedikit romantis. Seperti kamu menyukaiku mungkin. Ternyata tidak." ucap Skylar dengan santainya menyesap kembali tehnya sampai habis.
    "Kamu sungguh mengatakan hal yang barusan sesantai ini?" Hester tak percaya akan reaksinya.
    "Ya? Memangnya kamu ingin aku seperti apa?"
    "Haaah... Entahlah. Aku gerah. Aku pergi duluan kalau begitu. Kamu segeralah mandi." ucap Hester sesaat merasa agak pengap. Padahal cuaca pada pagi itu cukup dingin dengan beberapa gumpalan awan mendung yang seperti sedang berebut alih antara matahari yang bersinar terang atau hujan yang akan turun seharian.
    "Kamu pikir aku tidak tahu maksudmu, Hester." ucap Skylar dengan terkekeh.
    Tak lama berselang ia pun beranjak dari sana menuju kamarnya.
    "Apa yang tadi kamu bicarakan dengan Skylar sampai membuat wajahmu semerah itu, Hester?" tanya Hugi yang ketika itu tengah menonton drama namun terjeda karena iklan yang lewat. Ia sengaja tak menyekip karena kata Skylar itu adalah bentuk dari menghargai karya orang lain.
    "Ah, tidak. Matamu pasti error Hugi. Wajahku tidak memerah sama sekali." elak Hester berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
    "Kamu tak bisa membohongi kami Hester. Masing-masing dari kami memiliki alat pendeteksi kebohongan. Dan kau tertangkap sedang menutupi sesuatu dari kami." ujar Jennie menimpali.
    "Em.. Apa di menara ada cctv?"
    "Semua ruangan di tempat ini terpasang cctv dengan kualitas terbaik dan penangkap suara jernih seperti aslinya. Kecuali tempat-tempat yang memang dilarang untuk Skylar."
    "Nah, tontonlah disitu. Aku akan keluar sebentar untuk memperbaiki beberapa bahan dari pembuatan patung Skylar yang sudah tidak begitu berpendar lagi selama beberapa hari belakangan ini." kata Hugi sambil berlalu pergi.
    "Jennie, mari cek cctv sekarang. Aku jadi penasaran."
    6 min
  • Musikalisasi Puisi : Coba Senyum Sebelum Kamu Nangis
    Mari mampir ke channel youtube saya Tulisan Votavato. Rasanya begitu sakit setiap kali keberadaan kita tak pernah dianggap
    Apa yang kita lakukan tak pernah dihargai
    Suara kita tak pernah didengarkan
    Orang anggap kita itu hanya sampah
    Gak berarti
    Gak penting
    Gak berguna sama sekali
    Menyesakkan memang
    Setiap kali orang-orang terus melihat remeh
    Memandang dengan sebelah matanya
    Menginjak diikuti dengan tawanya di bekakang
    Menyedihkan
    Saat diri kita dikecualikan hanya karena kita yang berbeda
    Dijauhi seakan kita begitu menjijikan untuk didekati
    Tak sedikit juga banyak yang menghindari
    Tidak jarang selalu terpikir tentang dimana letak salahnya
    Mereka bilang takan ada asap kalau tak ada api
    Tapi tidak sedikit orang bahkan membenci tanpa alasan yang jelas
    Mereka menyakiti hanya karena alasan tidak suka
    Mereka hanya peduli dengan perasaan mereka sendiri
    Mereka hanya peduli dengan diri mereka sendiri
    Sementara kita yang mendapatkan akibatnya
    Duduk diam di pojok ruangan hanya untuk memikirkan kesalahan apa yang padahal tidak pernah ada
    Pantaskah untuk menangis atas semua itu?
    Tidak.
    Aku tahu itu menyakitkan dan tanpa sadar kitapun pasti menangis ketika sendirian
    Susah sekali memang untuk bisa tersenyum ketika air mata ingin benar-benar keluar
    Tak apa
    Tak ada yang melarangmu untuk menangis
    Semua orang berhak untuk menangis
    Tanpa terkecuali
    Namun, pastikanlah setiap kali kamu atau aku menangis
    Tak ada seorangpun yang tahu
    Sebab, orang-orang hanya penasaran
    Bukan peduli
    Untuk itu
    Tersenyumlah sebelum rasa ingin menangis itu menguasai diri
    4 min
  • Cerita fiksi : Catatan Psikopat - Bag. 18 #Alurcerita Thriller-Horror
    Mampir ke channel youtube aku Tulisan Votavato. Malam ini, aku sedang berjalan di trotoar jalan sambil menikmati angin malam yang lumayan dingin. Aku lalu berpapasan dengan beberapa anak jalanan yang mencegatku. Ia memintaku untuk diberikan uang alias memalak.
    Aku lantas mengabaikannya dan berjalan terus melewatinya.
    Dengan kondisi jalan yang cukup lengang, mereka kembali mencegatku dengan cara yang tak sopan, yaitu menyentuh tanganku dengan tangan kotor mereka. Aku sontak menyentakkan tangan tersebut.
    Temannya yang lain yang melihat hal itu lantas mendorong kepalaku karena tidak terima temannya kuperlakukan seperti itu.
    Rencanaku yang tadinya hendak menikmati malam dengan tenang tanpa melakukan hal itu. Justru dipaksa harus melakukannya lagi.
    Aku lalu mengajak mereka ke tempat sepi agar terhindar dari patroli polisi atau orang-orang yang melihat kami. Aku mengimingi mereka dengan memberikan apapun yang mereka mau.
    Setelah itu, saat kurasa tak akan ada orang yang mau repot-repot masuk ke dalam perkebunan kelapa sawit hanya sekedar untuk mencari jalan alternatif, aku lantas meminta mereka untuk berbaris. Bodohnya mereka menurut dengan wajah kelaparan sekaligus menjijikan. Entah apa yang ada dalam benak mereka saat itu.
    Aku merogoh cincin suntik yang selalu kubawa kemana-mana untuk mengadapi situasi seperti sekarang. Kemudian dengan gerakan cukup cepat aku menancapkan jarum itu bergantian ke leher mereka masing-masing. Sampai akhirnya mereka pun linglung bersamaan.
    Karena tak ingin berlama-lama, aku lalu mendobrak salah satu pintu gubuk yang kutahu untuk tempat penyimpanan alat pemotong kayu, dan lain-lain. Aku justru memilih gergaji mesin untuk mempercepat kerjaanku.
    Begitu aku kembali, mereka semua dalam ke adaan terduduk dan sebagian lainnya tertidur. Mereka ada bertujuh. Aku lalu mengikat tubuh mereka menjadi satu.
    Percobaan pertama untuk memastikan ketajaman gergaji itu, aku merobohkan satu kelapa sawit. Aku tak perlu khawatir dengan penjag yang mungkin sedang berjaga disekitar perkebunan. Karena, sebelum mengajak mereka kemari. Aku sudah cukup memperhatikan dengan keadaan perkebunan yang memang tak pernah dijaga itu, bahkan hanya didatangi setiap sekali seminggu. Sebab, setahuku, pemilik kebun tidak pernah membayar dengan pasti orang-orang yang menjaga kebunnya. Makanya, dapat kupastikan tak ada oranglain disitu selain aku dan mereka.
    Kemudian, dengan santainya aku mengarahkan gergaji mesin itu mulai dari jari-jari mereka satu persatu. Saat, aku memotong salah satu jari yang lain, salah satu dari mereka sadar dan berteriak dengan lantang. Sontak hal itu membuat gergaji yang kupegang langsung mengarah ke wajahnya. Kemudian dilanjutkan dengan sembarangan dan brutal ke sekumpulan mereka hingga tercincang habis layaknya daging kurban.
    Setelah semuanya selesai. Aku lalu mengumpulkan bagian tubuh mereka yang masih dapat dipegang itu ke beberapa bambu yang belah dan kusingkap sedikit. Aku memasukannya sedikit demi sedikit potongan daging itu ke dalamnya. Dan sisanya, aku serahkan pada beberapa hewan liar yang ada dijalan untuk membersihkan bekasnya.
    9 min
  • Cerita Fiksi : Jangan Tunggu Aku Pulang - Bag. 27 #Alurcerita Thriller-Horror-Mystery
    Mampir ke channel youtube saya : Tulisan Votavato. Sudah seharian ini,Neo menelusuri tempat-tempat yang sempat ia ingat sewaktu ia masih hidup, pernah lihat Sean berada di beberapa tempat itu. Namun, setelah didatangi pun tak kunjung ia temukan di mana arwahnya Sean berada sekarang.
    Setelah tak berhasil menemukannya, Neo lalu pergi ke sebuah bangunan tua tempat di mana ia pertama kali bertemu Gesa waktu itu. Tempat itu kini sangat sunyi sekali. Tak ada lagi polisi berkeliaran yang berjaga atau mengawasi daerah sekitarnya. Hanya ada terdapat garis kuning yang mengelilingi sekitaran bangunan serta cctv yang dipasang di beberapa bagian.
    "Kamu terlihat murung sekali." tegur Gesa tiba-tiba.
    "Aku mencemaskan adikku." sahut Neo tanpa menoleh.
    "Bukannya adikmu sudah kamu titipkan pada anak laki-laki itu untuk menjaganya?"
    "Sean kemarin terlibat kecelakaan maut. Aku sempat bertemu dengan rohnya sebentar. Kemudian ia menghilang dan aku tidak kunjung menemukannya."
    "Jadi, sebenarnya kamu mencemaskan adikmu atau Sean?"
    "Semenjak Sean pergi, adikku jadi sering menangis ditambah dengan ibuku yang mendadak stress akibat kepergian Sean yang mengingatkannya kembali dengan kejadian naas yang sempat menimpaku dulu. Aku jadi tak berani melihat bagaimana keadaan Carra sekarang. Karena itu pasti akan membuatku semakin sedih. Apalagi, dengan wujudku yang sekarang. Aku jadi tidak bisa melakukan apa-apa untuknya." keluh Neo sambil menatap ke langit.
    "Aku yakin, saat Sean tersadar dengan dirinya nanti. Dia juga akan mengalami hal yang sama denganmu. Dan, entah untuk keberadaan ia saat ini. Aku rasa ia tengah berada di suatu tempat dengan dimensi yang berbeda dari kita."
    "Apa itu artinya aku akan bertemu dengan Sean setelah satu tahun kemudian?" tanya Neo dengan raut kecewa.
    "Tidak tahu. Aku bukan pengamat kematian seseorang. Tapi, kebanyakan sosok yang kutemui, mereka dibawa ke tempat lain selama beberapa lama sampai akhirnya dibawa kembali kemari."
    Neo seperti mengela napas walau tahu ia sudah tak bernapas lagi.
    "Setelah kucari-cari, ternyata kamu di sini." tegur seseorang dari samping Neo. Ia lantas menoleh pada siapa yang baru saja bicara.
    "Xander?" ucap Neo pelan.
    "Aku pikir kamu mengkhawatirkan adikmu. Tenang saja, saat ini aku sudah meminta orangtuaku untuk menemuinya. Jadi, adikmu akan baik-baik saja." kata Xander dengan ikut duduk di samping Neo. Sedang Gesa menghilang entah kemana.
    "Apa yang kamu lakukan pada adikku? Kenapa sampai melibatkan orangtuamu?" tanya Neo penasaran.
    "Untuk sementara, aku meminta orangtuaku untuk datang sebagai teman lama ibumu. Awalnya, Carra memang tak langsung percaya dan menanggapi dengan dingin. Tapi, setelah berkali-kali orangtuaku sering menemuinya untuk meyakinkannya, Carra akhirnya luluh dan sekarang tinggal di rumahku. Ibuku senang akhirnya Carra mau ikut meski ia tidak sepenuhnya membuka diri. Setidaknya, ia dapat kembali perhatian seseorang dibanding dibiarkan sendirian di rumah. Karena kupikir itu tidak baik untuk kesehatan mentalnya." kata Xander menjelaskan.
    10 min
  • Cerita Fiksi : Its OK to Not be Okay - Bag. 19 #Alurcerita Kisah Romantis
    Mampir ke channel youtube saya : Tulisan Votavato. "Ada apa Anda memanggil saya kemari?" tanya Jeara begitu ia tiba di ruang guru yang sedang lengang karena sebagian gurunya pergi ke kantin guru.
    "Bukannya caramu bicara terdengar tidak sopan untuk berkata pada gurumu ini, Jeara?" ujarnya dengan tatapan mata yang kembali mengingatkan Jeara pada sosok perempuan yang sempat ia lihat fotonya itu di akun instagram dari laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
    "Saya hanya sopan pada orang-orang yang menurut saya berhak mendapatkannya." kata Jeara dengan muka datarnya.
    Javin memperhatikannya dengan lebih dalam. Ia benar-benar seperti melihat kakaknya dari dalam diri Jeara. Keberanian anak itu juga mirip seperti kakaknya.
    "Jika tidak ada lagi yang ingin Anda sampaikan, saya akan pergi sekarang." Jeara hendak pergi namun perkataan Javin membuat langkahnya terhenti dengan melihat ke kiri dan kanan yang sudah tak ada siapapun lagi kecuali hanya mereka berdua.
    "Ayahmu masih hidup. Tidakkah kau rindu dengannya?" katanya lagi ketika Jeara berbalik menoleh ke arahnya.
    __________
    "Woah, Suga, rangkaian bunga buatan kamu keren banget." seru Venus saat dikelasnya sedang membuat hiasan dinding untuk ruangan kelas yang terbuat dari bunga plastik.
    Suga hanya tersenyum malu dipuji seperti itu. Kalau saja hal itu terlihat oleh teman sekelasnya waktu ia sekolah di sekolahnya dulu, mungkin tanggapannya akan berbeda. "Terima kasih," ujarnya kemudian.
    "Omong-omong, Jeara kok lama banget ya pergi ke ruang gurunya. Padahal kan guru tampan itu baru hari ini kali pertamanya ngajar di kelas kita. Kok, sudah manggil satu murid gitu aja. Udah gitu yang dipanggil yang paling cantik sesekolahan lagi." kata Venus sambil menggerakan tangannya agar Suga dapat mengerti apa yang sedang ia katakan.
    "Jangan-jangan pak Javin suka sama Jeara." komentar Raka sambil memakan sosis yang baru dibelinya bersama Yusuf.
    "Iya, bener. Apa lagi coba alasannya kalau bukan karena suka. Ditambah Jeara kan anaknya memang semenarik itu." kata Yusuf yang langsung mendapatkan tatapan menyipit oleh Raka dan Venus.
    "Jangan-jangan kamu suka ya sama Jeara selama ini?" tanya Venus curiga.
    "Siapa sih yang nggak suka sama Jeara di sekolah ini? Kamu kan tahu sendiri Jeara itu banyak yang suka. Dia itu sudah ibarat idol di sekolah kita." sahut Yusuf berargumen.
    "Ceh, bilang aja kali kalau kamu suka. Tapi..." Venus melirik pada Suga yang diam saja tak tahu harus apa. "Bisa nggak nyaingin dia?" tantang Venus.
    "Kalau saingannya model begini, sih. Aku juga mesti mikir-mikir dulu kali. Beda level soalnya." sahut Yusuf dengan menyengir pada Suga. Suga hanya menaikan satu alisnya sebelah karena tidak mengerti apa yang sedang teman-temannya itu bicarakan. Sesekali mereka menepuk pundak Suga sambil diiringi dengan tertawa. Sesekali pula, Venus menggerakan tangannya memberi tahu Suga kalau ia sedang diledek oleh Raka. Namun, Suga hanya tersenyum karena ia tahu mereka semua hanya bercanda dengannya.
    9 min
  • Cerita Fiksi : Kenapa Aku Bisa Mati? - Eps. 5. Dikunyah Kudanil #Alurcerita Horror-Dramatis
    Mampir ke channel youtube saya : Tulisan Votavato. Namanya Lara. Suatu hari dia diajak ibunya berkunjung ke sebuah kebun binatang. Lara sangat senang dan antusias sekali karena baru pertama kali melihat hewan-hewan langka dan buas secara langsung.
    Mereka berkeliling kebun binatang sampai lelah dan sebentar lagi akan tutup. Ibu dan Lara masih tetap berjalan berkeliling. Padahal, Lara sudah mau pulang karena lelah. Tapi, ibunya tetap menyuruh Lara untuk terus berjalan.
    Karena suasana kebun binatang sudah mulai sepi, ibu Lara sengaja mengajak Lara untuk berkeliling sekali lagi bahwa hanya ada mereka berdua saja yang tersisa.
    Para pawang pun juga sedang berkeliling untuk memeriksa binatang mereka.
    Saat mereka semua sedang lengah, ibu Lara menarik paksa Lara hingga ia terseret-seret sampai sepatunya lepas. Lara hampir menjerit, tapi ibunya sigap membekap mulutnya sampai suara Lara tak begitu kencang.
    Ibu Lara juga membisikan pada Lara agar ia tidak berisik, kalau dia berani teriak ibunya akan meninggalkannya di situ. Lara pun hanya diam dengan mengangguk menuruti perkataan ibunya.
    Tak jauh dari ia diseret paksa, ibu Lara berhenti. Melihat keadaan di sekitarnya yang sudah sunyi sekali. Pawang juga tidak ada di situ.
    Dengan tidak berperikeibuan, ibu Lara mendorong paksa Lara masuk ke dalam kandang kudanil. Lara pun jatuh namun belum siap ia berdiri, mulut kudanil sudah menyentuh kepalanya.
    Kejadian selanjutnya, petugas yang mengawasi cctv pun terkejut dengan apa yang dilakukan oleh ibu Lara barusan. Ketika para pawang menerima laporan itu, semuanya berlarian mengampiri kandang kudanil, namun sayang, Lara sudah tidak sempat diselamatkan lagi. Sebab, kudanil sedang mencoba untuk mengunyahnya. Dan satu kaki Lara berada di luar mulutnya.
    Ibu Lara hanya terdiam menyaksikan perbuatannya. Saat petugas bertanya alasannya kenapa, ia pun menjawab bahwa ia terpaksa melakukan itu karena ia sedang terlilit hutang dan tidak mau anaknya jadi jaminan kepada si penagih.
    3 min

About Tulisan Votavato

From the publisher's feed

Karena, anak introvert juga punya cerita untuk minta didengar