Mampir ke channel youtube aku Tulisan Votavato. Melepaskan, kehilangan, ditinggalkan pas lagi sayang-sayanya, dan merasa mencintai tapi belum sempat memiliki.
Itu semua adalah sekelompok rasa sakit yang pasti pernah dialami sama kebanyakan orang. Setiap orang pasti punya pengalaman rasa sakit yang berbeda-beda pastinya. Salah satunya adalah cerita dari anak laki-laki satu ini.
Namanya William. Anak baik yang sedang bercosplay jadi anak yang memiliki sifat buruk lantaran keadaan keluarganya yang hancur alias berantakan. Mama papanya sering bertengkar kalau di rumah. Tapi, kalau pas lagi di depan orang-orang seperti kolega kerja, mereka bakalan langsung pasang akting layaknya keluarga harmonis. Selain itu, masing-masing dari mereka juga punya pasangan lain.
William pun muak melihat semua itu. Sejak usia William masih 5 tahun, dia sudah disuguhkan dengan kejadian dan pertunjukan menyakitkan antara kedua orangtuanya. Mereka bertengkar tidak hanya beradu mulut. Melainkan saling pukul dan mendesak satu sama lain sampai mereka lelah. Tidak jarang William juga kena imbasnya.
Meski begitu, mereka tak pernah berpisah dan terus melakukan hal yang sama hingga William menginjak dewasa. Sampai suatu hari, William sudah merasa tidak tahan lahi hidup bersama diantara sandiwara kedua orangtuanya. William akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumahnya dan memilih tinggal pada sebuah apartemen mewah milik temannya.
Kehidupan William tentu saja terpengaruh akibat perlakuan kasar orangtuanya terhadapnya. Tapi, meski William dicap sebagai anak yang memiliki perilaku yang buruk dan sering berkelahi, ia tak pernah sekalipun menyentuh yang namanya barang haram seperti alkohol dan narkoba. Teman-temannya pun sama. Mereka hanya anak nakal.
Suatu hari, William menyelamatkan seekor kucing yang (entah bagaimana caranya) berada di atas sebuah lampu jalan. Ia mengeong dan William melihatnya. William lalu meminjam tangga pada sebuah toko, namun karena penampilan dan beberapa luka yang ada di wajahnya, orang-orang menolak meminjami. Merasa tak ada yang membantunya, William akhirnya nekat memanjat tiang lampu.
Belum sampai setengah ia naik, seorang anak perempuan meneriakinya menyuruhnya turun.
"Hei! Turun! Ayahku akan menyelamatkan kucingnya!" serunya yang tak lama kemudian sebuah mobil damkar terparkir di depan lampu jalan itu. Kemudian, keluarlah seseorang di atasnya untuk mengambil kucing tersebut.
William melihat semua itu dan ia pun pergi begitu saja setelah kucing itu berhasil diselamatkan.
"Tunggu!" anak perempuan tadi ternyata mengejar William. "Namamu siapa?" tanyanya tanpa merasa takut atau jijik pada penampilan William.
Singkat cerita, mereka jadi sering bertemu. Nama anak perempuan itu adalah Audrey. Dia merasa tidak takut pada William karena dia tahu kalau sebenarnya William itu anak baik. Dan, dia juga tahu apa yang selama ini dialami William di rumahnya. Sebab, Audrey sering mendengar dari luar suara teriakan perempuan serta pecahan kaca yang sengaja dilemparkan ke tembok, yang berasal dari rumah kediaman orangtua William. Audrey juga tahu semuanya tentang William.
Tak terasa, kini sudah lebih dari 6 tahun Audrey dan William berteman. Sebenarnya, William memiliki perasaan dengan Audrey, ia berencana akan menyatakan perasaannya pada Audrey malam ini, tepat pada malam natal.
William dan Audrey bertemu pada sebuah taman yang banyak sekali dihiasi oleh pernak pernik hiasan natal. Mereka duduk di pinggiran kali yang dibuat menjadi siring. Tempatnya juga dibuat sangat cantik. Di situlah William akan menyatakan perasaannya.
"Drey."
"Will."
"Lo aja yang duluan kalau gitu."
"Nggak apa-apa kamu aja."
"Ladies first."
"Oke." Audrey melegakan tenggorokannya lebih dulu sebelum mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
"Will." panggil Audrey.
"Ya?" sahut William sambil tersenyum dan menatap dalam ke mata Audrey.
"Sebenarnya..."
"Hm?"
"Aku minta maaf baru bilang ini sekarang. Tapi, aku rasa kamu harus tahu hal ini. Sebe