Aku mengajak jaguar peliharaan kakek pergi jalan-jalan. Setiap kali ia berpapasan dengan kucing jalanan, jaguar selalu menggeram seperti sedang marah. Tapi, ia hanya menggertak dan sama sekali tidak mengampiri kucing itu. Aku lalu mengambil kucing itu dan mendekatkannya pada jaguar, ia malah terdiam sementara si kucing justru semakin aktif mengeong seolah membuat pertahanan diri.
Ternyata jaguar tidak suka kucing.
Aku lalu membawanya ke siring dan bertemu orang-orang yang juga membawa peliharaan mereka. Ada berbagai macam hewan yang dibawa, namun yang menjadi perhatianku adalah seorang pria dewasa dengan tubuh besar yang menggendong ular.
Aku lalu berjalan mendekatinya. Jaguar lagi-lagi menggeram. Tapi, saat aku lihat ke arah mana matanya menggeram, justru bukan pada si ular, melainkan pada pria dewasa itu. Aku lalu meminta ular itu dan mendekatkannya pada jaguar, keajaiban muncul saat jaguar terlihat akrab dengannya. Namun, keanehan justru muncul saat si pemiliki ular berjongkok di depan jaguar, ia menggeram seperti tidak suka dengan keberadaan pria tersebut. Ia bahkan seperti hendak menyerang sehingga aku berusaha untuk menarik jaguar dari sana.
Aku tak tahu apa yang membuat jaguar seperti itu. Kemudian, saat makan siang, kutanya kakekku penyebab jaguar menggeram pada manusia dan terkesan hendak menyerang. Kakek bilang, sebelum jaguar dipelihara, ia sempat disiksa oleh seorang pemburu.
Aku lalu meminta kakekku untuk memberi tahu bagaimana ciri-ciri pemburu tersebut. Rupanya sama persis dengan penampilan pria dewasa tadi.
Malamnnya, saat semua orang tertidur, aku mengajak jaguar pergi berburu pria ular tadi. Meski tidak tahu pasti di mana tempat tinggalnya, namun aku percaya dengan firasatku yang menyatakan bahwa ia tak jauh tinggal dari sini.
Kemudian, setelah hampir dua jam kami berkeliling. Aku akhirnya menemukan rumah pria itu. Ia sedang duduk di depan rumah sambil mengelap senjata berburunya seperti senapan. Meski sempat merasa aneh dengan untuk apa ia masih terjaga dan sedang mengelap senapan dipukul 2 dini hari itu, tapi ketika mengingat aku sendiri pun sama anehnya masih berkeliaran di jam segini, aku menepis pikiran rasionalku itu.
Aku lalu memperhatikannya dari kejauhan sampai ia kembali masuk ke dalam rumah. Dengan mengendap aku mendekat ke rumahnya. Rumahnya sangat gelap, sepertinya ia sengaja mematikan semua lampunya.
Kemudian, tak lama berselang jendela di sampingku berdiri mendadak terbuka dan sebuah tangang berhasil menyeretku untuk masuk ke dalam. Aku kemudian dihempaskan ke dinding ruangan yang kotor. Ada lampu dengan cahaya yang remang bertengger di atas. Meski cahayanya tak dapat membuat wajahnya terlihat, tapi aku tahu kalau dia adalah pria yang sama sempat kulihat tadi siang.
Jaguar menggeram serta menggigitnya namun dengan bangs*tnya ia melempar jaguarku ke tembok sampai membuatnya sempat menggelepar. Ia berhasil membuat jiwa dalam diriku bangkit sepenuhnya.
Aku lalu menyerangnya dengan melumpuhkan semua anggota geraknya dengan menempelkan jarum yang kuselipkan diantara jariku sejak tadi. Ia yang tak sempat menghindar itu pun lantas mematung dan melihatku dengan gerakan matanya saja.
Aku tertawa begitu melihatnya yang kesulitan bergerak. Matanya tampak sekali menunjukan kemarahan. Tapi aku tidak peduli, karena ia berhadapan dengan lawan yang salah. Meski aku terlihat seperti manusia lemah pada umumnya, tapi tak ada yang bisa mengentikan jiwa yang ada dalam diriku kecuali diriku sendiri. Setidaknya, aku selalu berhasil membuat diriku aman sampai sejauh ini.
Karena rumahnya berada lumayan jauh dari rumah-rumah penduduk yang lain dan lebih menghadap ke lautan, aku jadi semakin leluasa bermain-main dengannya. Aku dapat melihat jaguar turut tersenyum menyaksikan penyiksa binatang itu berada dalam kendaliku.
Kemudian, tak peduli dengan gesekan yang ia rasakan, aku menyeretnya menuju tepi laut yang ada di belakang rumahnya.