Tulisan Votavato

Tulisan Votavato

By Anisa RahmaArtsBooks
Download on the App Store

Tulisan Votavato episodes

  • Cerita Suara : Jangan Tunggu Aku Pulang - Bag. 26
    Langit masih menangis dengan derasnya sejak malam itu. Tidak beda jauh dengan Carra yang terus menangis terisak di samping seseorang yang kini dalam keadaan terbalut kain kafan. Ia tak menduga kedua kakaknya kini telah meninggalkannya dengan cara mendadak seperti ini.Rasanya, baru kemarin ia tertawa bersama ketika sedang menonton tv bersama ibunya. Baru kemarin rasanya Sean ikut tinggal bertiga di rumah baru mereka. Rasanya baru kemarin juga ia merasa kehilangan kakak kandungnya Neo, dan sekarang ia harus kembali dihadapkan dengan situasi menyesakan yang sama. Dan semuanya pun terjadi begitu saja.
    Begitu mendapati berita mengenai kecelakaan maut yang menewaskan Sean beserta penabraknya, Carra merasa dunianya perlahan hancur sepenuhnya. Terlebih, ibunya kini harus pergi menyusul ayahnya untuk direhab. Carra benar-benar hanya seorang diri menghadapi jenazahnya Sean. Sedang orangtua Sean sendiri tak bisa datang lantaran tengah berada di Kanada. Mereka juga tidak meminta untuk menunda pemakamannya. Seolah, tak apa-apa jika mereka tak melihat wajah Sean untuk yang terakhir kalinya. Meski sebenarnya, wajah Sean pun sudah tak lagi sama dengan terakhir kali semasa ia hidup. Bahkan wajahnya pun sangat sulit dikenali. Membuat Carra terus-terusan menangis menahan diri agar tak sampai melihatnya.
    Beberapa teman Carra pun berdatangan termasuk teman sekelasnya Sean. Mereka semua datang tidak terkecuali dengan anak-anak DFA. Mereka datang atas dasar perintah saja. Kalau tidak, mereka pasti tak akan mau datang. Selain tidak begitu kenal dengan Sean, juga karena tak ingin berurusan dengan Sean, meski orangnya sudah tak lagi ada.
    "Ra, lo yang sabar ya."
    "Lo pasti kuat hadapin ini semua, Ra."
    Dan selanjutnya bermunculanlah kata-kata bertema turut berduka yang dilontarkan oleh teman-teman Carra dan murid-murid yang sekelas dengan Sean. Dan kemudian, jenazah Sean pun harus segera lebih cepat dimakamkan lantaran tubuhnya yang tak bisa berlama-lama dibiarkan. Dikhawatirkan akan membusuk sebelum dimasukkan ke tanah. Carra dengan sesunggukan menggiring menuju pemakaman Sean, sambil membawa foto Sean yang memuat ia dan juga Neo yang diambil saat mereka belajar daring di bawah pohon rindang waktu itu. Hanya itu satu-satunya foto cetak yang sempat Carra miliki.
    Setelah Sean selesai di makamkan, Carra tak kunjung pergi dari sana. Sebab, tak jauh dari makamnya Sean, juga terdapat makamnya Neo. Membuat Carra jadi tinggal lebih lama disitu karena rasa rindunya akan kedua kakaknya itu. Dengan suara yang serak dan air mata yang masih perlahan jatuh, Carra terus berbicara sendirian membahas kenangan singkat yang sudah sempat mereka lewati bersama. Meski tak ada kenangan yang benar-benar spesial, mengingatnya di saat seperti ini membuat kenangan yang tadinya biasa saja itu menjadi sangat luar biasa.
    "Kak, aku ikhlas kalian pergi. Cuma, aku nggak mengira aja semuanya terjadi secepat ini. Aku sekarang benar-benar ditinggal sendirian, Kak. Ibu sedih banget sampai nggak kuat buat ngontrol dirinya sendiri lagi. Aku belum bisa buat nenangin ibu, Kak. Maaf." lirih Carra dengan suara paraunya yang semakin mengecil. Ia sudah menangis selama berjam-jam lamanya semenjak kemarin malam hingga sekarang yang sudah tak terasa sudah sore lagi.
    10 min
  • Cerita Suara : Its OK to Not be Okay - Bag. 18
    Jeara memasang wajah datarnya ketika Suga mengatakan ia mesti melukis untuk ayahnya. Jeara jadi teringat kejadian waktu itu lagi. Saat dimana ayahnya melihat ia menggambar dan tanpa bicara apa-apa langsung merenggutnya begitu saja dan merobek kertasnya hingga dibuang ke tong sampah. Jeara melihat hal itu semua dengan kedua matanya sendiri. Tapi, sampai hari ini, ia masih belum mengerti dan tahu, apa sebab ayahnya sebenci itu padanya yang gemar menggambar. Padahal Jerion melihat cukup jelas bagaimana hasil dari gambaran Jeara saat itu.
    "Kamu kenapa?" tanya Suga dengan menggoyangkan lengan Jeara membuatnya tersadar dari lamunannya.
    "Ayahku tidak suka melihatku menggambar. Ia membencinya." jawab Jeara.
    "Tapi kenapa? Karyamu kan sangat bagus."
    Jeara tidak menyahut dan menggedikan bahunya saja sambil menghela napas lelah.
    "Jadi kamu tidak mau melukis hanya karena ayahmu tidak suka?" tanya Suga lagi.
    "Tidak. Aku masih tetap menggambar meski dengan cara diam-diam. Tapi... aku hanya jadi teringat saja pada ayahku."
    "Melukis bukan sesuatu yang buruk Jeara. Melukis juga dapat menghilangkan perasaan buruk yang ada dalam dadamu. Semisal seperti kamu menggambar sesuatu selain pantai, senja, dan matahari. Aku yakin kamu pernah menggambar selain tiga hal itu kan?"
    "Ya, tapi itu hanya ketika perasaanku sedang kalut saja. Selebihnya aku tetap menggambar hal yang selalu kusukai selama ini."
    "Bagaimana kalau kamu jadikan kanvas ini sebagai media untuk melampiaskan perasaan kalutmu itu? Tak apa tak sering digunakan. Setidaknya kamu berencana untuk memakainya nanti."
    "Akan aku pikirkan lagi nanti. Terima kasih, Suga. Sudah datang lagi kemari. Aku masih tidak menyangka kita bisa bertemu dan berbicara sealami ini sekarang. Seolah kita memang dua orang yang sudah akrab sebelumnya. Maaf, jika aku sempat memiliki kesan yang buruk padamu." kata Jeara kemudian.
    "Tak apa. Aku justru bersyukur bisa bertemu dan berteman denganmu seperti ini. Kamu adalah orang pertama yang tak pernah mempermasalahkan kekuranganku. Sejauh ini, kamu masih menjadi teman terbaik yang pernah kumiliki Jeara." ucap Suga dengan tersenyum menatap Jeara.
    "Masih? Apa itu artinya kamu berencana untuk menggeserkan posisiku jadi teman terbaikmu itu menjadi orang lain?" tanya Jeara sedikit bercanda.
    "Tidak begitu maksudku. Bagiku kamu selamanya akan tetap jadi teman terbaik untukku." kata Suga seperti menghibur.
    "Ceh, mana ada selamanya Suga. Suatu hari nanti, kau dan aku pasti punya kisah hidup masing-masing. Dan kita tidak lagi bisa terus-terusan seperti ini. Katakanlah sekitar satu setengah tahun lagi. Ketika kita sudah tak lagi bersekolah." ucap Jeara dengan pemikirannya yang jauh.
    "Kamu kejauhan mikirnya. Setidaknya sekarang kita masih bisa bersama. Itu poin pentingnya."
    "Omong-omong, Suga, aku penasaran dengan kerlipan yang ada di sebelah sana. Kamu tahu itu apa?" tanya Jeara dengan menunjuk tempat yang tak jauh dari tempat mereka berada. Lokasinya berada di tengah hutan.
    "Itu kunang-kunang. Dan di sana ada danau. Kamu mau pergi ke sana?" ajak Suga.
    "Apa tidak berbahaya pergi ke sana di hari yang sudah gelap begini?" tanya Jeara.
    "Kamu perhatikan lampu-lampu kecil ini." Jeara menoleh sejenak pada tangan Suga yang menunjuk lilitan lampu kecil di sepanjang tali yang diikatkan ke pohon-pohon dengan menyambung. "Lampu-lampu itu menyala sampai sana. Lihat, kan? Di sana tidak gelap sepenuhnya. Lagipula, om Wisman sudah memerintahkan orang suruhannya untuk berjaga di sekitar hutan ini. Mereka sengaja tak menampakan diri karena tidak ingin membuat kita merasa seperti sedang diawasi. Jadi, kamu tenang saja Jeara." Suga menjelaskan.
    9 min
  • Cerita Suara : Skylar dan robotnya - Season 2 Bag. 6
    Jennie dan Hugi tidak langsung melepaskan Radar ---- nama gadis yang mengaku tidak sengaja masuk dalam bunker mereka. Mereka justru mengurungnya ke dalam ruangan yang memang masih kosong dan belum sempat dijadikan tempat sesuatu untuk Skylar. Ia tidak diikat layaknya tawanan. Ia hanya dikurung sementara demi mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Karena sudah malam, Jennie masuk ke dalam dengan membawakan bantal, selimut, dan makanan untuknya. Gadis itu langsung menerimanya tanpa berkata apapun.
    "Sebenarnya, apa yang kau lakukan beberapa hari belakangan di sekitar sini? Kukira kau sudah pergi dari hutan sejak beberapa hari yang lalu ketika aku merasa tidak melihatmu di sekitar sini lagi." tanya Jennie.
    "Saya memang sudah berusaha untuk pergi dari hutan ini. Tapi setelah berhari-hari saya pergi dan berjalan jauh, tidak tahu kenapa saya justru kembali ke tempat awal di mana saya terjatuh." katanya di sela makannya.
    "Apa yang membuatmu bisa secara kebetulan jatuh kemari? Kau tahu kita pernah bersitatap tak sengaja saat di perjalanan menuju pemakaman di bukit waktu itu, kan. Nah, jarak dari lokasi itu ke tempat ini sangat jauh sekali. Bagaimana bisa kau jatuh kemari kalau bukan... menempelkan pelacak pada kami?" tanya Jennie dengan menaruh kecurigaan yang sangat kentara. "Kau bisa terus sambil makan untuk menjawab pertanyaanku. Selagi kau jujur mengatakannya, tak masalah." lanjut Jennie lagi ketika melihat Radar menyampingkan makanan tersebut tapi dicegah oleh Jennie.
    "Mengenai kita yang pernah bertatapan tanpa sengaja itu sepertinya aku tidak ingat sama sekali. Karena aku tipikal orang yang mudah melupakan segala sesuatunya jika itu tidak berarti untukku. Nah, untuk yang bagian aku bisa terjatuh kemari, kurasa itu lucu. Ya, terdengar seperti takdir yang dibuat dalam serial drama. Ah, maafkan aku. Aku terlalu santai menjawab tanyamu. Maksudku, aku pun tidak tahu kenapa. Namun yang jelas, ketika aku sedang menaiki paralayang, saat aku tengah di atas aku memang mengarahkan paralayangku lebih jauh dari garis terbang. Aku benar-benar menikmati penerbanganku saat itu sehingga tidak menyadari dengan titik keberadaanku sudah ada di mana. Hingga pada akhirnya sekumpulan burung terbang menabrakku hingga paralayangku oleng dan rusak. Tak ingin membuat tubuhku cidera parah, aku lantas melepaskannya dan membuka parasutku. Namun masalah baru menimpaku lagi, sebuah angin besar menghantamku membuat berputar-putar di udara. Hingga akhirnya aku pun terjatuh ke hutan ini." jelasnya dengan kembali menyuapkan makan ke mulutnya.
    "Begitu." sahut Jennie yang sedang memproses keterangan dengan menyinkronkan kejadian yang ia sempat lihat dan rekam. Jennie justru terlihat seperti sedang berpikir.
    "Saya tidak berbohong. Saya juga tidak sedang mengarang cerita. Apa yang kau dengar memang itu kejadian aslinya. Kamu bisa percaya pada saya." ujarnya lagi karena seakan menyadari sikap Jennie yang seolah tidak mempercayai perkataannya.
    "Aku tidak mudah percaya manusia."
    "Hm?"
    "Maksudku, aku tidak gampang percaya pada orang baru. Jadi, aku harus mengurungmu sedikit lebih lama sampai aku tahu kamu memang benar-benar mengalami kecelakaan murni sehingga bisa jatuh ke mari."
    "Kalau kuboleh tahu, siapa sepasang kekasih yang kulihat kemarin? Dan, memangnya ini tempat apa sampai aku harus menutup mulutku mengenai tempat ini?" tanya Radar. Kali ini ia benar-benar memposisikan dirinya lebih santai dan rileks dari sebelumnya. Ketakutan yang sempat hinggap dalam dirinya berangsur menghilang hingga akhirnya ia merasa seperti tengah mengobrol dengan seorang teman. Tentunya hal itu tidak sepenuhnya perasaan Radar sendiri. Jennie juga turut andil untuk menciptakan suasananya yang membuat seseorang ketika berbicara dengannya seakan seperti berbicara dengan seorang teman dekat. Tentunya hal itu tak bisa disadari oleh orang biasa.
    "Memangnya kamu tidak pernah menonton berita atau paling tidak memainkan sosial mediamu?"
    "Kau pasti akan menyebutku kuno dan kol
    6 min
  • Cerita Suara : Patah Hati Terhebatku - Bag. 44
    Nama gue Riky. Gue sering dikenal sama panggilan anak baik kalau di sekolah. Bahkan sampai di lingkungan rumah pun orang-orang sering negur gue dengan sebutan itu. Kadang berat juga sih nyandang gelar itu setiap hari. Rasanya kayak gue mesti dituntut buat bersikap sempurna gitu. Salah dikit bisa-bisa gue dihujat. Padahal, kan, ya, menurut gue, gue nggak sebaik yang mereka pikir, tuh.
    Tapi, berkat gelar itu. Gue jadi sering dikelilingin sama cewek-cewek. Dikelilinginnya bukan dalam artian mereka lagi pada godain gue macam lelaki hidung belang ya. Nggak sama sekali.
    Jadi, cewek-cewek tuh suka spik atau caper gitu ke gue. Cuma gue nanggepinnya sewajarnya aja. Karena gue nggak mau kayak kelihatan ngasih harapan gitu ke dia. Dan gue juga nggak mau mainin perasaannya cewek.
    Nah, waktu itu gue lagi jalan pulang sekolah. Sengaja nggak pake motor karena gue pengeb jalan kaki, soalnya udah lama banget kayaknya gue nggak olahraga. Gue jalan melewati jalanan yang nggak banyak dilalui sama kendaraan dan mobil.
    Terus gue lihat ada cewek lagi ngelukis di pinggir sungai. Gue lihat dari mukanya dia kayak kenal gitu. Gue lalu ngehampiri dekatin dia buat lebih memastikan lagi.
    Ternyata benar, dia cewek pendiam dan kacamataan di kelas gue. Dia sering gue lihat sendirian di sekolah. Tapi gue lupa namanya siapa.
    "Kamu ngapain?" tanya cewek itu. Kayaknya dia nyadarin keberadaan gue.
    "Lukisan lo bagus." kata gue sambil lebih mendekat lagi ke dia.
    "Kalau kamu yang buat pasti lebih bagus lagi." kata dia yang buat gue bingung.
    "Gue? Ngelukis? Heuh, gue boro-boro lukis, megang kuas aja gue mesti nonton tutorial dulu." kata gue meremehkan diri sendiri. Tapi emang beneran sih.
    "Kamu itu anak baik, apapun yang dilakuin sama anak baik. Pasti selalu dipuji sama orang-orang." katanya lagi yang bikin gue makin penasaran.
    Dari situlah awalnya gue kenal sama dia. Namanya Rhea. Awalnya, gue pikir Rhea bakalan cuekin gue atau jutekin gue kan. Tapi ternyata nggak sama sekali. Bahkan Rhea berbeda dengan image dia kalau lagi di sekolah. Di sekolah dia sering dianggap pendiam sama anak-anak. Tapi kalau pas lagi di luar, dia tuh bisa juga lho cerewet.
    Terus gue jadi makin akrab sama dia. Lama-lama gue jadi suka sama dia. Meski di sekolah kita tuh jarang ngobrol. Tapi gue tetap hargain kemaunannya dia buat bersikap sebagaimana gue biasanya aja ke dia. Ini nih, gue dikenal sama anak baik, tapi sama teman sekelas yang sering sendirian gue cuekin tuh. Anak baik darimananya coba.
    Seminggu sebelum ujian sekolah, gue ketemuan sama dia di taman pinggir sungai tempat biasa dia sering ngelukis. Di situ nggak begitu banyak orang. Soalnya tamannya tuh biasa aja. Cuma orang-orangnya doang yang mau datang ke situ.
    Gue berniat buat nyatain perasaan gue selama ini ke dia.
    Dia sudah asik ngelukis pada saat gue samperin dia waktu itu. Terus gue ngomong, "Rhe, ada yang mau gue omongin sama lo."
    "Aku sudah punya tunangan, Ky. Dia sekarang lagi sekolah di Prancis. Bulan depan dia pulang buat liburan." sahut Rhea begitu masih sambil melukis.
    "Ohh." gue seketika kehilangan kosakata buat ngomong.
    4 min
  • Musikalisasi Puisi : Tolong Jangan Seperti Itu, Ya
    Sejauh ini, aku sudah berjalan seorang diri
    Menapaki waktu dari setiap detik menit dan jamnya
    Hanya untuk melewati proses yang begitu  sangat panjang
    Bahkan, ujungnya pun tak pernah sedikit pun kelihatan
    Walau sebatas buram sekalipun
    Ketika aku jatuh tak ada tangan yang terulur
    Aku harus berdiri dan bertumpu pada kakiku sendiri
    Melangkah lagi meski terus berkali-kali tumbang
    Kakiku sudah terlalu banyak garis lukanya
    Duri-duri rasanya sudah menjadi bagian dari kulit
    Rasanya pun sudah tidak sesakit dulu lagi
    Aku mulai terbiasa dengan perihnya
    Hingga pada akhirnya aku tak merasa
    Aku masih percaya dengan sang waktu yang ada di penghujung senjaku
    Kelak ketika langit soreku sudah hampir menguning
    Tolong jangan tiba-tiba kamu datang seenaknya ya
    Tolong jangan bersikap seolah kamu selama ini sudah berjalan bersamaku
    Tolong jangan membuatku bingung
    Aku tahu hadirmu adalah bentuk dari sebuah hasil
    Tapi jika kamu datang hanya untuk membuat luka
    Lebih baik tak usah muncul sama sekali
    Karena hadirmu hanya akan membuatku terlihat harus berpura pura baik
    Sementara aku sangat membenci dengan yang namanya pura-pura
    Aku akan lebih memilih diam daripada aku harus berpura-pura hanya untuk terlihat baik
    Tolong jangan seperti itu ya
    Aku sengaja bilang dari awal
    Sebab, aku tidak pernah ingin untuk mau berhadapan dengan situasi itu
    Meski pada akhirnya
    Kamu akan tetap datang dengan rasa sok peduli
    Sementara aku hanya bisa diam membiarkan
    2 min
  • Cerita Suara : Catatan Psikopat - Bag. 16 | Thriller-Horror-Mystery #Alurcerita (Fiksi)
    Aku mengajak jaguar peliharaan kakek pergi jalan-jalan. Setiap kali ia berpapasan dengan kucing jalanan, jaguar selalu menggeram seperti sedang marah. Tapi, ia hanya menggertak dan sama sekali tidak mengampiri kucing itu. Aku lalu mengambil kucing itu dan mendekatkannya pada jaguar, ia malah terdiam sementara si kucing justru semakin aktif mengeong seolah membuat pertahanan diri.
    Ternyata jaguar tidak suka kucing.
    Aku lalu membawanya ke siring dan bertemu orang-orang yang juga membawa peliharaan mereka. Ada berbagai macam hewan yang dibawa, namun yang menjadi perhatianku adalah seorang pria dewasa dengan tubuh besar yang menggendong ular.
    Aku lalu berjalan mendekatinya. Jaguar lagi-lagi menggeram. Tapi, saat aku lihat ke arah mana matanya menggeram, justru bukan pada si ular, melainkan pada pria dewasa itu. Aku lalu meminta ular itu dan mendekatkannya pada jaguar, keajaiban muncul saat jaguar terlihat akrab dengannya. Namun, keanehan justru muncul saat si pemiliki ular berjongkok di depan jaguar, ia menggeram seperti tidak suka dengan keberadaan pria tersebut. Ia bahkan seperti hendak menyerang sehingga aku berusaha untuk menarik jaguar dari sana.
    Aku tak tahu apa yang membuat jaguar seperti itu. Kemudian, saat makan siang, kutanya kakekku penyebab jaguar menggeram pada manusia dan terkesan hendak menyerang. Kakek bilang, sebelum jaguar dipelihara, ia sempat disiksa oleh seorang pemburu.
    Aku lalu meminta kakekku untuk memberi tahu bagaimana ciri-ciri pemburu tersebut. Rupanya sama persis dengan penampilan pria dewasa tadi.
    Malamnnya, saat semua orang tertidur, aku mengajak jaguar pergi berburu pria ular tadi. Meski tidak tahu pasti di mana tempat tinggalnya, namun aku percaya dengan firasatku yang menyatakan bahwa ia tak jauh tinggal dari sini.
    Kemudian, setelah hampir dua jam kami berkeliling. Aku akhirnya menemukan rumah pria itu. Ia sedang duduk di depan rumah sambil mengelap senjata berburunya seperti senapan. Meski sempat merasa aneh dengan untuk apa ia masih terjaga dan sedang mengelap senapan dipukul 2 dini hari itu, tapi ketika mengingat aku sendiri pun sama anehnya masih berkeliaran di jam segini, aku menepis pikiran rasionalku itu.
    Aku lalu memperhatikannya dari kejauhan sampai ia kembali masuk ke dalam rumah. Dengan mengendap aku mendekat ke rumahnya. Rumahnya sangat gelap, sepertinya ia sengaja mematikan semua lampunya.
    Kemudian, tak lama berselang jendela di sampingku berdiri mendadak terbuka dan sebuah tangang berhasil menyeretku untuk masuk ke dalam. Aku kemudian dihempaskan ke dinding ruangan yang kotor. Ada lampu dengan cahaya yang remang bertengger di atas. Meski cahayanya tak dapat membuat wajahnya terlihat, tapi aku tahu kalau dia adalah pria yang sama sempat kulihat tadi siang.
    Jaguar menggeram serta menggigitnya namun dengan bangs*tnya ia melempar jaguarku ke tembok sampai membuatnya sempat menggelepar. Ia berhasil membuat jiwa dalam diriku bangkit sepenuhnya.
    Aku lalu menyerangnya dengan melumpuhkan semua anggota geraknya dengan menempelkan jarum yang kuselipkan diantara jariku sejak tadi. Ia yang tak sempat menghindar itu pun lantas mematung dan melihatku dengan gerakan matanya saja.
    Aku tertawa begitu melihatnya yang kesulitan bergerak. Matanya tampak sekali menunjukan kemarahan. Tapi aku tidak peduli, karena ia berhadapan dengan lawan yang salah. Meski aku terlihat seperti manusia lemah pada umumnya, tapi  tak ada yang bisa mengentikan jiwa yang ada dalam diriku kecuali diriku sendiri. Setidaknya, aku selalu berhasil membuat diriku aman sampai sejauh ini.
    Karena rumahnya berada lumayan jauh dari rumah-rumah penduduk yang lain dan lebih menghadap ke lautan, aku jadi semakin leluasa bermain-main dengannya. Aku dapat melihat jaguar turut tersenyum menyaksikan penyiksa binatang itu berada dalam kendaliku.
    Kemudian, tak peduli dengan gesekan yang ia rasakan, aku menyeretnya menuju tepi laut yang ada di belakang rumahnya.
    6 min
  • Cerita Suara : Its OK to not be Okay - Bag. 17 | Drama Romantis Indonesia #Alurcerita (Fiksi)
    Suga menepuk tangan Jeara seraya berkata, "Aku bawa banyak bunga di rumah pohon. Kamu mau aku ajarkan buat bikin crown, nggak?" tanya Suga setelah cukup lama suara ombak lebih mendominasi.
    "Boleh, aku jadi penasaran bagaimana kamu bisa membuatnya sebagus ini." sahut Jeara dengan mengangguk antusias.
    Lalu mereka pun berjalan kaki menyusuri tepian pantai menuju hutan yang tak jauh dari sana. Matahari mulai semakin menguning seiring malam yang sebentar lagi akan menelannya sepenuhnya. Langit senja pada saat itu selalu indah hingga membuat bayangan Suga dan Jeara seperti memanjang di belakang mereka. Pemandangan yang sungguh menakjubkan jika saja hal itu dapat dilukiskan.
    Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di rumah pohon.
    Jeara terperangah saat mendapati untaian rangkaian bunga yang memanjang dari pohon yang dijadikan rumah ke pohon-pohonnya lainnya. Tak hanya itu, di situ juga terdapat sebuah ayunan yang dihiasi dengan lilitan bunga-bunga warna-warni. Seketika wangi bunga yang bercampur memasuki indera penciuman mereka masing-masing. Baunya sama sekali tak menusuk, melainkan begitu lembut dan membuat nyaman serta tenang. Jeara tak mampu berkata apa-apa lagi saking terpananya. Ia bukannya berlebihan, melainkan karena ini adalah kali pertama ia melihat rangkaian bunga warna-warni hidup yang dihias begitu cantik seperti sekarang.
    Suga menyodorkan tangannya yang membuat Jeara tersadarkan lantas menengok ke wajahnya.
    "Ya?" tanyanya masih tidak menyambut uluran tangan Suga.
    Suga lalu menunjuk ke atas mengajak Jeara untuk segera naik.
    9 min
  • Cerita Suara Mystery : Miror Short - Bag. 10 | Mystery-Horror-Thriller #Alurcerita (Fiksi)
    Silahkan datang ke channel youtube saya Tulisan Votavato, untuk pengalaman dengar beserta visual. Aku sedang membersihkan gudang bersama adikku. Saat aku membersihkan bagian tumpukan kayu dan seng yang berserakan, aku menemukan pintu di lantainya. Saat aku mencoba untuk membukanya, ternyata sangat berat sekali. Pintu itu tidak berengsel atau berlubang kunci.
    Adikku mengampiriku dan menanyakan apa yang ada di bawah kakiku. Saat aku katakan padanya itu pintu, ia pun dengan rasa penasaran yang sama denganku membantu untuk turut membuka pintu itu. Tapi rupanya tetap tidak bisa terangkat. Pintunya masih terlalu berat untuk kami berdua.
    Karena kami berdua harus segera menyelesaikan tempat itu, kami pun memutuskan untuk lain kali membukanya.
    Begitu selesai, kami menyusul orangtua kami ke dapur untuk makan malam.
    Sambil makan, adikku bertanya pada ayah dan ibu mengenai pintu berat yang ada di dalam gudang.
    Ayah bertanya apakah kami dapat membukanya atau tidak. Saat ia tahu kami tak dapat menarik pintunya, ia pun mengembuskan napas lega yang membuatku menjadi penasaran.
    Ibuku pun berkata, bahwa pintu itu adalah lubang untuk menuju sebuah goa yang mana ujungnya tidak pernah tahu sampai ke mana.
    Ia bilang, pintu itu juga sudah ada dari zaman ayah dan ibu masih seusia kami dan sejak saat itu sudah tak dapat dibuka. Padahal, pintunya memang tidak dikunci, diengsel, atau terbuat dari bahan yang berat. Sementara mengenai ayah dan ibuku bisa mengetahui hal itu karena berasal dari cerita turun temurun yang diceritakan almarhum kakek dulu.
    Konon katanya, kalau sampai pintu itu berhasil dibuka. Sesuatu yang buruk akan datang menimpa kami. Untung saja kami tak sampai bisa membukanya.
    3 min
  • Cerita Suara : Skylar dan robotnya - Season. 2 Bag. 5 | Sci-Fic #AlurCerita
    7 menit berlalu begitu saja sejak mereka berdua melakukan live streaming pada aplikasi SkyApp. Meski tak ada yang bicara selain sibuk membaca komentar yang ada di layar laptop, tidak membuat orang-orang yang menonton mereka untuk menuntut untuk seperti apa yang diinginkan. Hanya dengan melihat wajahnya yang diam dan tenang seperti itu saja sudah membuat mereka... bahagia? Setidaknya hal itulah yang dirasakan oleh orang-orang yang sedang menonton dirinya.
    "Kami saudara." adalah kata pertama yang diucapkan Hester lantaran saking banyaknya komentar yang menanyakan hubungan antara dirinya dan Skylar.
    "Uh, namamu. Mereka tanya namamu sedari tadi." kata Hester lagi menunjuk pada komentar spam yang menanyakan nama asli Skylar.
    "Namamu juga." sahut Skylar begitu melihat komentar serupa yang menyepam menanyakan tentang anak laki-laki di sampingnya.
    "A-aku Skylar." kata Skylar kemudian dengan sedikit kaku juga canggung.
    "Dan aku Hester." Hester menimpali dengan mantap.
    Kemudian tak lagi ada suara. Jika pada saat live sebelumnya ---yang masih tidak menunjukan wajah--- Skylar masih aktif berbicara mengenai dirinya dan membacakan beberapa komentar netizen. Namun, ketika dengan memperlihatkan wajahnya seperti ini, Skylar justru merasa aneh, canggung, kaku, dan semua hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya seperti menjadi satu. Hasilnya, ia hanya bisa diam dengan sesekali menatap tepat ke kamera yang membuat orang yang sedang menontonnya seolah sedang ditatap olehnya langsung. Sesekali Skylar juga terkekeh mendapati komentar yang lucu menurutnya.
    "Skylar!" tiba-tiba ada panggilan dari luar kamarnya. Hester yang beranjak.
    Sesaat kemudian Hester kembali lagi, kali ini ia tidak lagi duduk di samping Skylar melainkan berdiri di depannya dan mengisyaratkan agar Skylar mengakhiri siarannya.
    "Aku tidak tahu kata seperti apa yang seharusnya untuk mengakhiri siaran ini secara singkat dan bagus. Jadi, terima kasih untuk yang sudah menontonku dan memberikan dukungan kepadaku. Sampai jumpa lain waktu." laptop pun secara otomatis berganti tampilan layar wallpaper.
    "Ada apa, Hester?" tanya Skylar begitu menyimpan kembali kotak kecil ke atas nakas.
    "Kita keluar sekarang. Ada sesuatu di luar." ajak Hester dengan lebih dulu beranjak ke luar. Skylar pun menyusulnya.
    "OOH!" seru seseorang dengan berdiri dari sofa. Skylar dan Hester yang melihat itu pun sontak membulatkan mata lantaran ada orang asing yang masuk dalam basecamp mereka.
    "Jennie!" panggil Skylar pada Jennie yang langsung mengampirinya.
    "Dia anak yang terjatuh dari paralayang waktu itu Skylar. Tadinya aku pikir dia sudah pergi jauh dari area hutan ini tapi----"
    "Maafkan saya! Saya tidak tahu kalau tempat ini dilarang untuk dimasuki. Tolong jangan bunuh saya. Saya janji tidak akan mengatakan tempat ini pada siapapun." kata perempuan itu dengan berlutut di hadapan Skylar.
    "Kenapa kamu bisa sampai masuk ke mari?" tanya Hester.
    "Sa-saya tidak sengaja terjatuh dalam tempat yang mirip seperti kolam itu. Saya sungguh tidak sengaja masuk ke dalam sini." sahutnya masih dengan menunduk.
    "Mana ada orang yang tidak sengaja masuk ke mari kalau bukan karena penasaran. Jennie, Hugi, kalian saja yang urus." kemudian Skylar berlalu pergi ke tempat mirip kolam yang dimaksud. Saat itu juga ia memerintahkan robot turbonya untuk menutup bagian atasnya dengan menyerupai timbunan tanah. Ia juga memindahkan alat kapsul terbangnya ke dalam menara.
    Hari ini terasa begitu tidak terduga untuk Skylar. Wajahnya yang tak sengaja terekpose sehingga ia benar-benar membuat dirinya tak lagi dikenal sebagai angelmask melainkan Skylar. Dan sekarang, ada orang asing yang berhasil menemukan tempat tinggalnya. Setidaknya, hanya tahu wajahnya saja mungkin tak apa bagi Skylar. Tapi kalau untuk tempat tinggal, Skylar tak akan pernah mengungkapkan itu semua. Pun, ia juga tidak berpikir untuk melakukan pertemuan secara langsung pada orang-orang yang mengidolakan dirinya. Ia sudah membut keputusan bahwa
    5 min

About Tulisan Votavato

From the publisher's feed

Karena, anak introvert juga punya cerita untuk minta didengar