Suga sudah siap dengan pakaian santainya untuk ikut Jeara pergi.
"Om Wis, kami berangkat dulu, ya." pamit Jeara dan Suga dengan bahasa isyaratnya.
"Ya, hati-hati kalian. Kalau ada apa-apa hubungi om ya." sahut Wisman sambil menggerakan tangannya.
Pukul sebelas kurang limabelas menit, Suga dan Jeara sudah tiba lebih dulu di dermaga. Di sana sudah ada perahu berukuran sedang, milik ayahnya Raka dulu.
"Apa kita akan naik perahu itu?" tanya Suga sambil menunjuk ke perahu.
Jeara mengangguk membenarkan. "Aku yakin kamu bakalan senang saat berada di atas sana. Tempatnya keren banget lho." puji Jeara saat mengingat kali terakhir ia pergi ke sana sekitar... rasanya sudah lama sekali.
"Karena perginya denganmu. Aku percaya bahwa pemandangan yang dilihat olehmu pasti akan selalu cantik. Apa kamu juga akan melukis di sana?" kata Suga sambil mencari-cari dimana Jeara menyimpan buku gambarnya. Pasalnya Jeara hanya mengenakan tas kecil untuk membuat ponselnya saja saat ini.
"Kamu akan tahu kalau sudah tiba di sana nanti. Nah, itu teman-teman datang." kata Jeara menunjuk pada ketiga temannya yang datang bersamaan. Mereka membawa dua plastik berisi makanan serta minuman untuk mereka habiskan di mercusuar nantinya.
"Mereka lagi-lagi menganggap mercusuar sebagai tempat piknik." ucap Jeara pelan.
"Suga!" seru Raka dan Yusuf bersamaan sambil bertos ria ala anak laki-laki.
Mereka lalu menaiki perahu dengan bergantian dan pelan-pelan. Jenis perahu yang mereka naiki adalah perahu yang biasa digunakan oleh para nelayan melaut. Bukan perahu motor melainkan perahu yang mengandalkan angin yang berhembus mengenai layar. Namun, hal itu tak akan menjadi hal sulit bagi mereka. Sebab, Yusuf dan Raka sudah begitu terlatih untuk menjalankan perahu model tersebut. Sehingga, meski memakan waktu yang tak sebentar, mereka akhirnya tiba juga di mercusuar di tengah lautan.
Ini adalah kali pertama Suga mendatangi mercusuar secara langsung. Biasanya ia hanya melihat melalui gambar atau video di internet saja. Ternyata ukurannya sangat besar dibanding yang kelihatan di gambar. Angin yang berembus juga lumayan kencang. Mereka berlima lalu masuk ke dalamnya. Menaiki anak tangga menuju ke atas.
Suga menyentuh pundak Jeara.
"Aku pikir tadinya di dalamnya ada ruangan yang sangat besar. Tidak kusangka hanya tangga yang sama seperti di luarnya." kata Suga menyuarakan pikirannya.
Jeara hanya terkekeh menanggapinya. Mereka kemudian sampai di atas dengan ketinggian duabelas meter dari permukaan laut yang sedang surut saat ini.