Tulisan Votavato

Tulisan Votavato

By Anisa RahmaArtsBooks
Download on the App Store

Tulisan Votavato episodes

  • Cerita Menjelang Buka Puasa : Jangan Tunggu Aku Pulang - Bag. 23 #AlurCerita || Horror-Mystery
    Xander benar-benar melakukan hal yang dipinta Neo dengan menyamar menjadi pengantar makanan di kantin sekolah. Sesuai permintaan, ia juga mengawasi anak-anak DFA yang sudah diketahui Neo wajahnya semenjak mengikuti Gesa kemarin. Tak lupa ia juga langsung menujukan siapa saja anak-anak DFA yang dimaksud. Mereka benar-benar terlihat seperti anak-anak biasa pada umumnya. Tak berbeda sama sekali.
    Xander tampak terlihat begitu senang hati melakukan tugasnya. Entah kenapa ia merasa begitu tertarik melakukan tugas dari sosok yang baru pertama kali ia lihat waktu itu. Xander merasa dirinya lebih berguna sekarang.
    7 min
  • Cerita Teman Sahur : Its OK to Not to be Okay - Bag. 15 | Drama Romantis #AlurCerita
    Suga sudah siap dengan pakaian santainya untuk ikut Jeara pergi.
    "Om Wis, kami berangkat dulu, ya." pamit Jeara dan Suga dengan bahasa isyaratnya.
    "Ya, hati-hati kalian. Kalau ada apa-apa hubungi om ya." sahut Wisman sambil menggerakan tangannya.
    Pukul sebelas kurang limabelas menit, Suga dan Jeara sudah tiba lebih dulu di dermaga. Di sana sudah ada perahu berukuran sedang, milik ayahnya Raka dulu.
    "Apa kita akan naik perahu itu?" tanya Suga sambil menunjuk ke perahu.
    Jeara mengangguk membenarkan. "Aku yakin kamu bakalan senang saat berada di atas sana. Tempatnya keren banget lho." puji Jeara saat mengingat kali terakhir ia pergi ke sana sekitar... rasanya sudah lama sekali.
    "Karena perginya denganmu. Aku percaya bahwa pemandangan yang dilihat olehmu pasti akan selalu cantik. Apa kamu juga akan melukis di sana?" kata Suga sambil mencari-cari dimana Jeara menyimpan buku gambarnya. Pasalnya Jeara hanya mengenakan tas kecil untuk membuat ponselnya saja saat ini.
    "Kamu akan tahu kalau sudah tiba di sana nanti. Nah, itu teman-teman datang." kata Jeara menunjuk pada ketiga temannya yang datang bersamaan. Mereka membawa dua plastik berisi makanan serta minuman untuk mereka habiskan di mercusuar nantinya.
    "Mereka lagi-lagi menganggap mercusuar sebagai tempat piknik." ucap Jeara pelan.
    "Suga!" seru Raka dan Yusuf bersamaan sambil bertos ria ala anak laki-laki.
    Mereka lalu menaiki perahu dengan bergantian dan pelan-pelan. Jenis perahu yang mereka naiki adalah perahu yang biasa digunakan oleh para nelayan melaut. Bukan perahu motor melainkan perahu yang mengandalkan angin yang berhembus mengenai layar. Namun, hal itu tak akan menjadi hal sulit bagi mereka. Sebab, Yusuf dan Raka sudah begitu terlatih untuk menjalankan perahu model tersebut. Sehingga, meski memakan waktu yang tak sebentar, mereka akhirnya tiba juga di mercusuar di tengah lautan.
    Ini adalah kali pertama Suga mendatangi mercusuar secara langsung. Biasanya ia hanya melihat melalui gambar atau video di internet saja. Ternyata ukurannya sangat besar dibanding yang kelihatan di gambar. Angin yang berembus juga lumayan kencang. Mereka berlima lalu masuk ke dalamnya. Menaiki anak tangga menuju ke atas.
    Suga menyentuh pundak Jeara.
    "Aku pikir tadinya di dalamnya ada ruangan yang sangat besar. Tidak kusangka hanya tangga yang sama seperti di luarnya." kata Suga menyuarakan pikirannya.
    Jeara hanya terkekeh menanggapinya. Mereka kemudian sampai di atas dengan ketinggian duabelas meter dari permukaan laut yang sedang surut saat ini.
    9 min
  • Cerita Menjelang Berbuka : Skylar dan robotnya - Season 2. Bag. 3
    Empat hari adalah hari paling membosankan yang pernah dilewati Skylar. Bagaimana tidak, ia benar-benar dipaksa oleh ketiga robot dan satu manusia di rumahnya itu untuk benar-benar beristirahat tanpa melakukan kegiatan apapun. Kegiatan mengenai pemantauan dan perkembangan pada robot-robotnya diambil alih oleh robot pintarnya sendiri, yaitu Brown. Sistem yang dimiliki Brown memang seolah menjadi duplikat dari apa yang ada dalam isi kepala Skylar.
    Sementara Hester dan Jennie selalu berkolaborasi untuk memasakan menu yang bisa ditelan Skylar. Selama ini, sepanjang perjalanan hidupnya, baru kali ini Skylar merasakan apa itu namanya sakit dalam artian yang sebenarnya. Ia demam, lemas, lelah, dan sulit untuk bangun beraktivitas. Sakit yang pernah sempat bisa ia alami dulu hanya sekedar flu ringan atau sakit kepala biasa ketika terlalu sering menatap layar monitor. Selebihnya, ia selalu baik-baik saja.
    Empat hari ia habiskan dengan berbaring di dalam kamarnya. Ia juga sama sekali tidak membuka data ponselnya. Ia tidak menggunakan internet untuk mengakses apapun. Pun halnya dengan kedua robotnya dan Hester. Mereka sama sekali tidak memainkan internet karena demi menghargai Skylar. Namun, empat hari itu ternyata cukup untuk membuat Skylar menyelesaikan satu novel barunya. Ia tidak benar-benar membuang waktunya meski dalam keadaan terbaring lemah sekalipun.
    Dan kini, empat hari itu sudah ia lewati. Keadaan Skylar sudah jauh lebih baik. Tentunya berkat ia yang mau menurut untuk rutin meminum obatnya.
    5 min
  • Cerita Teman Sahur : Rasa Sakit Terhebatku - Bag. 42
    Malam itu angin laut berembus lumayan kencang. Membuat gelombang berkali-kali menyeret kapal yang ditumpangi oleh satu keluarga yang sedang mengadakan sebuah pesta kecil untuk anaknya yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di London.
    Tadinya cuaca tidak seburuk itu, tapi langit tiba-tiba berubah tanpa terprediksi sama sekali. Mereka berlayar ke tengah laut sambil sesekali melepaskan kembang api ke langit. Tertawa bersama sambil melepaskan rasa rindu yang selama ini jarang untuk bertemu.
    Namanya Raka. Anak kedua dari dua bersaudara keluarga Malaka.
    Tidak hanya satu keluarga itu saja yang berada di kapal. Citra, tunangan Raka pun turut ikut merayakannya.
    Hujan deras yang tiba-tiba turun membuat mereka bergegas untuk masuk ke dalam meninggalkan pesta yang baru satu jam dimulai itu. Angin yang berembus lumayan kencang merusak propertinya seiring dengan gerakan kapal yang rada oleng lantaran gelombang yang dimainkan oleh angin.
    7 min
  • Menjadi seseorang yang tak pernah dianggap keberadaannya itu menyedihkan
    Menjadi sesuatu yang tidak dianggap keberadaannya adalah hal yang sangat menyedihkan
    Aku sering kali berada diantara banyaknya manusia yang berlalu lalang di sekitarku
    Mereka melihatku
    Mereka menatapku
    Mereka melewatiku
    Mereka tahu aku ada
    Tapi saat aku bersuara meminta untuk didengar
    Menunjukan diri bahwa aku juga ada di sini
    Orang-orang justru seperti menutup pandangannya masing-masing
    Serta tak lupa juga menutup rapat telinganya
    Seolah apa yang ingin aku katakan adalah sesuatu yang tidak ada artinya sama sekali
    Suaraku hanyalah sekedar omong kosong bagi mereka
    Dan seharusnya aku hanya perlu diam saja seperti biasanya
    Tak perlu ada suara yang berarti
    Pernah suatu kali aku sempat seperti dihargai
    Merasa seperti dianggap
    Seakan diakui
    Namun nyatanya aku salah
    Aku didengarkan hanya untuk ditertawakan
    Aku dilihat hanya untuk dipermalukan
    Mereka lantas senang
    Mereka pun tertawa
    Sedang aku di sini tertunduk menahan diri
    Diam membisu dengan segala kekacauan yang ada di pikiranku
    Aku bisa saja berontak dengan semua perlakuan buruk mereka terhadapku
    Tapi aku masih sadar dengan satu hal
    Tidak ada gunanya menjelaskan pada mereka dengan bagaimana diriku sebenarnya
    Mereka tidak akan pernah peduli itu
    Ada atau tidak adanya diriku
    Tak memiliki arti sama sekali pada kenyataan
    Tak mengubah apapun pada yang ada
    Jadi, untuk apa aku resah pada orang-orang yang sejatinya tidak pernah peduli dengan perasaanku?
    Nanti juga semuanya melupa
    2 min
  • Selamat malam, gimana hari ini? - eps. 9
    Selamat malam
    Raga yang masih terjaga
    Dengan rasa penat yang terus bersarang dalam isi kepala yang rumit
    Gimana hari ini?
    Masih kesal sama orang-orang sekitar yang nggak bisa ngertiin kita?
    Atau, jangan-jangan kamu yang nggak bisa ngertiin mereka?
    2 min
  • Cerita Suara : Catatan Psikopat - Bag. 13 | Thriller-Horror #AlurCerita
    Aku baru saja terbangun dari tidurku sesaat mendengar suara berisik yang berasal dari perutku sendiri. Kemudian, aku beranjak ke ruangan rahasia yang berada di bawah meja belajarku. Di sana terdapat wadah tempat biasa aku menyimpan kudapan. Tapi, sebelum aku sempat melangkahkan kakiku masuk ke dalam, aku berhenti lantaran mataku yang masih terus memejam.
    Aku lalu beralih arah masuk ke dalam kamar mandi demi mencuci wajah sebentar. Sesaat setelah merasa sedikit lebih segar dari sebelumnya, aku kembali beranjak masuk ke dalam ruangan rahasiaku tadi.
    Tempatnya tidak lebih besar dari ruangan yang biasanya dijadikan toilet. Karena memang hanya untuk dijadikan wadah mini penimbun kudapanku saja di sini. Aku lalu membuka salah satu penutup kulkas kecil dibagian bawah. Sontak aroma amis menguar masuk ke dalam hidungku. Aku lantas menghirupnya kuat-kuat
    Kemudian, aku mengambil gunting untuk memotong bagian yang hendak aku makan. Tak perlu menggunakan piring yang hanya akan membuatku harus beranjak untuk mencucinya, aku lalu memakan kudapanku itu begitu saja setelah memotong bagiannya sesuai seleraku. Sesaat aku menggigit, retakan dari darah yang membeku itu membuatku menjadi semakin berselera untuk terus memakannya. Hingga akhirnya seluruh isi kulkas itu pun kosong. Aku lalu mengelap mulutku yang belepotan menggunakan tisu dan menyimpan sampahnya ke dalam wadah yang sudah dipenuhi oleh belatung. Wadah itu sebelum dipenuhi oleh belatung, adalah tumpukan sampah tisu yang sama kugunakan sehabis makan seperti sekarang.
    Sekarang, sudah saatnya aku untuk mengisi kulkasku kembali.
    Begitu selesai dengan sarapan pagi yang super duper mengenyangkan itu, aku lantas beranjak ke luar guna mencari manusia beruntung mana lagi yang akan memenuhi isi kulkasku. Sebab, aku begitu gemar sekali mengunyah sosis dari usus manusia yang membeku. Rasanya sangat lezat meski tak perlu dimasak sekalipun.
    3 min
  • Cerita Suara : Miror Short - Bag. 7 part 2 | Mystery-Horror-Thriller #AlurCerita
    Saat aku menoleh pada rumah kosong itu, tak ada siapa-siapa di sana. Mungkin karena keadaaannya yang gelap menjadikan aku tak dapat melihat dengan jelas apa yang ada di sana.
    Aku melirik jam yang ada ditanganku yang menunjukan sudah menunjukan waktu yang begitu larut malam.
    Ponselku terus bergetar lantaran ayahku yang menelpon sedari tadi namun tak segera kuangkat. Saat ponselku kembali bergetar, aku merasa ada cahaya terang yang baru saja berpendar sesaat dan berasal dari dalam rumah kosong itu.
    3 min
  • Cerita Suara : BRAVO - its OK to Not to be Okay - Bag. 14
    Sekarang sudah hari sabtu lagi. Pagi-pagi sekali Jeara sudah duduk di tepi pantai sambil memperhatikan langit jingga oleh matahari yang masih mengintip.
    Jeara menatap lurus pada lautan yang ada di depannya. Perasaan berharapnya masih ada. Menatap bergantian dengan para nelayan yang datang sehabis melaut semalaman. Meski tahu tak ada sosok yang ia cari di antara mereka, Jeara tetap memperhatikan mereka satu persatu.
    Jeara masih percaya bahwa Jerion masih hidup. Ia menyingkirkan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi menimpa ayahnya, semacam dimakan oleh binatang laut. Jeara merasa itu tidak mungkin, ayahnya pernah bilang, di laut tempat mereka tinggal itu, tak ada hewan laut yang berbahaya. Dan Jeara mempercayai itu hingga sekarang.
    "Ayah, Jeara rindu. Kapan ayah akan pulang?" ucap Jeara pelan pada angin pagi yang berembus.
    9 min
  • Cerita Suara : Jangan Tunggu Aku Pulang - Bag. 22
    Neo berlari secepat mungkin menuju kelasnya Carra. Semenjak ia menyadari akan jati dirinya, Neo tak lagi merasakan lelahnya berlari meski sejauh apapun.
    Pelajaran tengah berlangsung. Neo memperhatikan satu persatu wajah-wajah dari orang yang mungkin akan melukai Carra. Sebab, anak-anak DFA yang sempat Neo lihat wajahnya hanya laki-laki berhoodie waktu itu saja. Sementara dua orang sisanya tak tahu sama sekali.
    "Mereka bertiga tidak berada di satu kelas yang sama. Dan salah satu dari mereka tidak ada di sini. Mereka seangkatan denganmu." kata Gesa yang sudah berdiri di belakang Neo.
    "Kamu tahu mereka di mana sekarang?" tanya Neo dengan menoleh.
    "Mereka sedang berada di kelas masing-masing. Sedang membaur menjadi murid biasa. Kau akan sulit menemukan mereka."
    "Kalau begitu kau beritahu aku di mana mereka sekarang." desak Neo dengan tatapannya yang begitu sangat memohon. Ia tidak mau hal serupa yang ia alami juga menimpa ke adiknya. Neo tidak mau hal itu sampai terjadi. Sebab, akan membuat ibunya semakin merasa kehilangan. Melihat ibunya waktu itu saja sudah membuat Dada Neo serasa diiris. Apalagi jika sampai Carra ikut menyusulnya. Neo tak tahan untuk membayangkannya. Ibunya pasti akan merasa sangat sedih sekali.
    "Baiklah ikuti aku." kata Gesa yang langsung diikuti Neo, tapi sedetik kemudian Neo terhenti dengan kebingungannya. Sebab, Gesa menghilang begitu saja.
    9 min

About Tulisan Votavato

From the publisher's feed

Karena, anak introvert juga punya cerita untuk minta didengar