Mampir ke channel youtube saya : Tulisan Votavato. Namanya Reyn, seorang anak laki-laki berusia 15 tahunan. Reyn memiliki keterbatasan dalam berbicara --alias gagap. Namun, hal itu tidak membuat Reyn minder pada teman-teman sekolahnya. Sebab, mereka dapat mengerti dengan kekurangan yang Reyn miliki.
Pada pertengahan bulan oktober, ada seorang siswa baru di sekolah Reyn. Dia anak laki-laki kurus berwajah bule. Saat ia masuk ke kelas, semua orang terpana melihat wajahnya. Namanya George.
Ia mendadak begitu disukai karena pembawaannya yang sopan.
Dalam beberapa bulan, George masih terlihat seperti anak baik yang disukai banyak orang. Karena wajahnya yang tampan, George kini menjadi anak laki-laki tertampan sesekolahan, ditambah dengan sifatnya yang membuat orang-orang kagum dengannya. Selain itu, George juga pandai dalam semua mata pelajaran. Bisa dibilang George itu hampir sempurna.
Setiap jam istirahat, George sering bersama Reyn untuk belanja di kantin. Hal itu justru membuat orang-orang yang melihat ---terutama teman sekelasnya--- menjadi bertambah kagum dengan sosok George.
Tapi, suatu hari sebuah insiden terjadi.
Sepulang sekolah, George meminta Reyn untuk menemaninya pergi ke suatu tempat. Karena selama ini George selalu menunjukan sikap baiknya, tanpa pikir panjang Reyn menuruti ajakannya.
Mereka menaiki mobil George yang dikemudikan oleh supirnya. Reyn sempat bertanya dengan kenapa tidak ditemani oleh supirnya saja. Tapi, George bilang ia akan lebih senang ditemani orang yang seumuran dengannya. Apalagi hubungan George dan Reyn itu bisa dibilang cukup dekat.
Saat mobil memasuki area hutan pinus, Reyn kembali tanya apa tujuan mereka ke sana.
George hanya bilang kalau dia menyiapkan sesuatu untuk Reyn. Dengan diliputi rasa penasaran dan prasangka yang bersarang di kepalanya, Reyn hanya bisa diam dan menunggu kejutan seperti apa yang dimaksud George.
Saat memasuki kawasan hutan pinus, mereka hanya berjalan berdua. Sesekali George menceritakan pengalamannya bermain di hutan pinus bersama dengan anjing peliharaannya.
Sampai akhirnya, mereka tiba di depan sebuah rumah yang mirip seperti gudang dan kelihatan seperti tak pernah ditempati.
Reyn lagi-lagi bertanya untuk apa dan kenapa ke sana.
George hanya tersenyum dan menyuruh Reyn masuk.
Di dalam rumah itu terdapat sedikit perabotan rumah tangga, tapi semuanya sudah ditempeli oleh debu yang cukup tebal. Sarang laba-laba juga ada di mana-mana. Reyn menututup hidungnya sambil berjalan mengikuti George.
Saat mereka memasuki sebuah ruangan lagi di dalamnya, di situ terlihat lumayan bersih dibanding area lainnya.
George meminta Reyn untuk tunggu ia sebentar di dalam karena ia akan ambil kejutannya. Reyn hanya mengangguk menuruti. Sembari menunggu, Reyn berjalan-jalan di dalam ruangan itu untuk melihat ke sekitar.
Sepuluh menit berlalu dan George belum kembali juga.
Reyn mulai merasakan adanya hawa panas dalam ruangan itu. Ia coba memanggil George namun tak ada sahutan. Saat ia duduk di sebuah sofa dan mengibaskan tangannya demi menghilangkan rasa panas, Reyn tiba-tiba melihat adanya kepulan asap yang masuk ke celah pintu.
Reyn beranjak namun sesaat berikutnya, kobaran api mendadak masuk begitu saja dan langsung menjalar ke sekitar ruangan.
Reyn lagi-lagi berteriak memanggil George, tetap tak ada sahutan. Reyn pun mencoba untuk membuka pintu, tapi yang terjadi pintu itu justru terkunci dari luar.
Karena ruangan itu tidak memiliki jendela maupun ventilasi, Reyn mulai mengalami sesak napas. Ia tak punya jalan keluar selain satu-satunya pintu tempat ia masuk tadi.
Berkali-kali Reyn coba teriak dan menggedor pintunya, tapi tetap tak ada yang menanggapinya.
Sementara dari luar, George yang sudah duduk di dalam mobil tengah merekam rumah gudang yang terbakar itu melalui ponselnya. Ia tertawa senang menyaksikan kobaran api serta teriakan samar Reyn yang ada di dalamnya.
"Dasar bodoh!"