Tyologi

Tyologi

By TyologiArtsBooks
Download on the App Store

Tyologi episodes

  • Gen Egois dan Sindrom Stockholm
    Manusia pada dasarnya egois, karena itu kebaikan hati harus diajarkan sejak dini. Meski mengenakan kata “egois” di judul bukunya, Dawkins pada akhirnya menekankan betapa penting kebaikan hati. Ia bukan hal yang alamiah memang, seperti halnya konsep negara dan bendera, altruisme harus diciptakan. Dan barangkali inilah keunikan manusia, kitalah satu-satunya spesies yang bisa memberontak dari program dasar kita.
    46 min
  • Minimalisme Digital
    Cal Newport membicarakan tentang bagaimana teknologi membajak pikiran kita, bagaimana media sosial memanipulasi realitas sosial kita, dan tentang paradoks media sosial yang justru meruntuhkan kesehatan mental manusia. Salah satu kutipan paling saya suka adalah (kurang lebih): “Kita harus mulai prihatin, ketika percakapan suara dan secangkir kopi dengan sahabat telah dikudeta oleh ‘likes’ di postingan media sosial.”
    Satu poin mayor yang ditekankan Cal dalam hal ini adalah merebut kembali konversasi atau percakapan. Sebab, konversasi tidak seperti koneksi. Dalam konversasi terdapat pertukaran ekspresi, gestur, intonasi, yang tidak gampang dimanipulasi seperti lewat chat jarak jauh; konversasi jauh lebih humanis dan memperkaya potensi manusia untuk berempati. Sedangkan koneksi justru mendehumanisasi kita.
    30 min
  • Menyangkal Ajal
    Punggung kita senantiasa berhadapan dengan maut yang terbentang sebagai bayangan. Ia selalu ada sejak hari pertama tangis kita memecah udara. Semakin jauh kita melangkah, menjauhinya, semakin kita sadar bahwa ajal tak bisa disangkal. Faktisitas ini menjengkelkan. Hidup tampak seperti hoaks. Untuk apa hidup kalau pada akhirnya harus jadi santapan bernga di bawah tanah dan menjelma fosil yang menjadi bahan bakar di knalpot seseorang ribuan tahun kemudian.
    Demi itu, kita membuat epos kepahlawanan. Heroisme, ujar Ernest Becker, ialah refleks alami manusia pada ketakutan akan kematian. Heroisme adalah cikal bakal agama, budaya, kehendak berkuasa, dan penerimaan sejati lewat mantera “memento mori”. Heroisme merupakan upaya menciptakan diri konseptual seusai diri fisikal terkubur, menciptakan kekekalan yang tak terbatasi kepunahan biologis: proyek Gilgamesh.
    Becker adalah salah satu psikolog dan eksistensialis terbaik kita. Pada 1973, bukunya berjudul “Denial of Death” menerima Pulitzer Prize. Buku itu adalah upaya heroik Becker mengekalkan diri konseptualnya ke dalam teks, yang mengajari kita bahwa mempelajari kematian membuat kita lebih bergairah menjalani hidup.
    49 min
  • Kepakan Angsa Hitam di India akan Tornado di New York
    Arloji di tangan kirimu begitu cerewet. Kau mau menghitung waktu tapi waktu tidak mau dihitung. Ia relatif ketika kamu berada di dalam Pentagon, hendak menghantam menara kembar bernama WTC pada 9 September 2001. Kau tidak tahu berapa kecepatan doa, tapi kau mau mencium arloji itu seperti memberi pesan kepada anak-anak kamu: hal-hal yang tak terduga bakal berdampak berkali-kali lipat kepada mereka yang merasa hidup tengah baik-baik saja. Lalu sayap pesawat itu terbakar lidah api lalu dengan ganas moncong pesawat ketemu dengan gedung pencakar langit bernama WTC lalu setiap tanggal 9 September 2001 kita mengingat kembali kenyataan bahwa ketiadaan bukti atas Angsa Hitam bukanlah bukti ketiadaan Angsa Hitam; bahwa nyaris semua teroris adalah muslim tidak sama dengan nyaris semua muslim adalah teroris.
    Manusia adalah makhluk yang suka ditipu otaknya sendiri. Mesin pikiran kita diatur mengejar hal-hal yang stabil sehingga kita porak-poranda ketika ditimpa segala ketidakstabilan yang ada. Berburu Angsa Hitam adalah niscaya sekaligus muspra. Sebrengsek-brengseknya hidup bagi Taleb, semenjengkelkannya statistik, senaif apa pun empirisme, kita mesti menemukan derau di mana kita kerapkali abai kepadanya. Hal-hal yang acak dan tak pasti, justru sumber kekuatan bertahan.
    Pada akhirnya adalah amor fati. Cintailah takdir meski Black Swan itu pahit (ketinggalan kereta hanya menyakitkan ketika Anda berusaha mengejarnya)—btw, kenapa Black Swan? Kenapa bukan gagak putih, gajah albino, atau ikang waseng? Barangkali karena Black Swan konotasinya lebih puitis dan lebih metaforis saja. Heuheu….
    1 hr 1 min
  • Tuhan, Uang, dan Harari
    Harapan ialah renungan panjang di hadapan masa depan. Berbekal itu, pengembaraan Homo sapiens selama tujuh puluh ribu tahun penaklukan menempatkan spesies kita sebagai makhluk penguasa. Fiksi lalu disusun sebagai pondasi paling dasar peradaban umat manusia. Setidaknya itu yang diyakini Yuval Noah Harari, sejarawan yang beberapa tahun ini meng-edgy-kan sejarah dan sains di lini masa kita. Dan di antara pelbagai penaklukan dan harapan, uang merupakan alat paling mangkus.
    “Money: Hikayat Uang dan Lahirnya Kaum Rebahan”, adalah buku mini yang mengumpulkan petualangan konsep uang yang banyak Harari bicarakan di buku Sapiens dan Homo Deus. Uang adalah topik yang selalu menarik perhatian manusia modern. Orang-orang bisa berbeda soal status kebangsaan, bisa beda soal agama, bisa berbeda soal ideologi, tapi di hadapan uang, mereka bisa bersepakat suara. Uang menjembatani perbedaan, yang membuat benda warna-warni ini menjadi benda paling penting yang menyimbolkan kepercayaan di antara sesame orang asing.
    Uang adalah perwujudan tertinggi dari toleransi dan pluralisme. Saya dan Anda bisa saja berbeda dari segala macam identitas, tapi kita tidak pernah berbeda kesepakatan bila berhadapan dengan selembar kertas ini.
    50 min
  • Hidup Ini Brengsek dan Hanya Demotivasi yang Kita Punya
    Pintu menuju kejujuran-kejujuran yang lucu adalah demotivasi. Buku “Demotivasi” Syarif Maulana ini membantu kita menetralisir overdosis motivasi yang menimpa masyarakat modern. Terutama saya. Saya adalah anak yang sangat menggemari ceramah Mario Teguh setiap Minggu sore. Saking terobsesinya dengan si plontos, saya menjuluki diri Martio Teguh. Di masa SMP itu, berbekal jalur emas Mario, saya suka tiba sebagai pahlawan kesiangan dalam kemalangan orang lain. Kerap saya memberi petuah-petuah bijaksana sembari membanding-bandingkan hidup mereka dengan hidup orang lain yang lebih buruk nasibnya. Tapi saya tidak pernah mengalami kemalangan yang dialami oleh alamat ceramah saya, tapi saya senang karena merasa menjadi penolong. Belakangan saya tahu kalau ini namanya Messiah Complex, kecenderungan bahwa kita merasa senang menjadi juru selamat di muka bumi ini.
    Seiring berjalan waktu, saya menyadari bahwa sindrom juru selamat tidak hanya terjadi kepada saya. Setiap kali saya ingin mengeluhkan beberapa persoalan sepele dalam hidup, orang-orang langsung mengerubuni saya bersama dengan solusi yang masing-masing mereka sodorkan kepada saya. Semua orang bisa bersaing solusi siapa yang paling benar, paling elegan, dan paling tepat. Teman-teman saya, seketika menjelma Mario Teguih dengan gaya mereka masing-masing. Di tengah-tengah perlombaan solusi siapa yang paling baik saya mendadak kejang-kejang karena overdosis motivasi.
    Di buku ini juga saya menemukan upaya Syarif membumikan filsafat yang kerap dikenal sebagai ilmu dengan bahasa melangit untuk lebih membumi ke khalayak pembacanya. Sebuah upaya yang tak mudah, sesukar Sidharta keluar dari baluarti yang nyaman dan aman itu.
    49 min
  • Hasrat Untuk Diakui dan Politik Identitas
    Dunia mengalami gempuran gelombang demokratisasi berkali-kali. Pertama abad ke-19 di mana negara-negara Eropa Barat mulai percaya sistem yang ditawarkan oleh deklarasi kemerdekaan Amerika. Saat itu, dua puluh sembilan negara menganut sistem demokrasi liberal. Gelombang kedua terjadi setelah Nazi retak sampai ke inti akarnya, jumlah negara demokratis bertambah dari dua puluh sembilan menjadi tiga puluh enam.
    Kebebasan mengibaskan sayapnya selebar-lebarnya pada 1970-an sampai 2000-an di mana negara-negara memekarkan satu per satu dirinya menjadi taman demokrasi liberal di muka bumi. Enam puluh persen masyarakat dunia menikmati kemerdekaan menghirup oksigen di paru-paru mereka tanpa dikte siapa pun. Tapi lambat laun, ketidaksetaraan menjadi hantu yang diam-diam bersembunyi di belakangnya.
    Fukuyama menyadari itu, dan demi mencegah End of History menjadi End of Fukuyama, dia lantas menggugat, dia merevisi satu per satu klaim yang ia ejawantahkan di sana. Dia memunggut satu per satu daun sakura yang gugur di belakang rambutnya yang menguban, lalu ia mempersoalkan kenapa hitam harus dilawankan dengan putih? Kenapa laki-laki harus dilawankan dengan perempuan? Kenapa agama harus saling berhadapan? Kenapa ada tagar #MeToo? Kenapa ada #BlackLivesMatter? Kenapa ada Aksi212? Kenapa ada politik identitas lainnya?
    1 hr 1 min

About Tyologi

From the publisher's feed

Saya bingung kasi deskripsi apa ini barang.