
Sign up to save your podcasts
Or


Kehilangan seratus dolar bisa berdampak berkali-kali lipat secara mental ketimbang memperoleh seratus dolar. Itu umum dalam ekonomi perilaku. Musababnya, manusia terpengaruhi hal-hal negatif ketimbang positif. Contoh paling akrab barangkali, fakta kalau perempuan lebih termotivasi diet karena takut menerima body shaming ketimbang demi tampak kurus. Otak memang lebih peka terhadap stimulus negatif daripada positif, dan demi menanggulangi itu, Roy Baumesteir dan John Tierney berkolaborasi memahami dan memanfaatkan naluri negativitas ini untuk tujuan-tujuan positif. Buku ini menyadarkan kita bahwa negative thinking bahkan bisa digunakan untuk mendorong manusia ke potensi-potensi terbaik yang kita miliki.
Penulis favorit Bill Gates. Hans Rosling terkenal dengan presentasinya yang penuh keseruan, dengan bantuan anak-anaknya, ia menyulap data-data kering menjadi narasi yang kaya akan warna dan gelembung yang disampaikan dengan atraktif seperti pertunjukan akrobatik. Rosling hendak melawan bias-bias kognitif dan naluri berpikir irasional dengan data. Meski kerap disebut seorang optimis, Rosling berkata kalau masa depan bukan berarti terhindar dari hal-hal tak diinginkan, dengan itu, ia menyebut diri sendiri probabilis.
“Makam Pahlawan Tak Dikenal” atau cenopath, adalah istilah yang disematkan Benedict Anderson tatkala menatap sang pusaka merah-putih dengan ketakziman. Dalam Imagined Community, beliau menulis: “Betapapun kosongnya liang lahat itu dari sisa-sisa kehidupan yang fana dan sukma yang abadi, tetap saja mereka sarat dengan anggitan tentang ‘kebangsaan’ yang membayangi bagai hantu.”
Barangkali Ben hendak mengungkapkan jika bendera memiliki makna semiotik lebih daripada sekadar identitas negara dihadapan masyarakat global, lebih daripada artefak sejarah. Bendera kita tidak sekedar menyimbolkan harapan dan segenap keresahan akan masa depan suatu komunitas bangsa; bendera juga merupakan cermin masa lalu kita – yang ironisnya seringkali tidak pernah kekal dalam ingatan.
Adapun Goenawan Mohammad membuka sebuah catatan berjudul Kaki Langit dengan tulisan yang haru namun nyaris tidak dapat menyembunyikan sebuah keresahan mendalam, “Di makam pahlawan tak dikenal, kita diberi tahu: ada seorang yang luar biasa berjasa, tapi ia tak punya identitas. Ia praktis sebuah penanda yang kosong. Tapi hampir tiap bangsa, atau lebih baik: tiap ide kebangsaan, memberi status yang istimewa kepada sosok yang entah berantah yang terkubur di makam itu.”
Peradaban bagi Freud, adalah akumulasi pencapaian-pencapaian manusia dalam bidang estetika, kesehatan, dan moralitas yang membedakan manusia hari ini dengan nenek moyang mereka. Peradaban dibangun semata-mata untuk mereduksi agresi dan memperkaya Eros (cinta kasih). Namun di balik kemajuan peradaban itu, Freud malah ketemu dengan kekecewaan-kekecewaan dan ketidakbahagiaan. Civilization & Discontent konon merupakan buku terpenting Freud. Di sana, kita bisa melihat ketegasan posisinya soal agama, masyarakat manusia modern, dan relasinya dengan suara hati individu.
Apakah hanya manusia yang memiliki pikiran atau kesadaran? Bagaimana dengan monyet rhesus, atau semut proletar yang membangun sistem agrikultur di sarangnya, atau anjing yang sangat peka dengan sahabat manusianya? Bagaimana dengan Sofia, robot yang bisa berinteraksi dengan manusia, apakah ia memiliki kesadaran dan apakah dia bisa berbahasa? Dalam buku ini saya belajar bahwa manusia lebih piawai memanusia makhluk non-manusia ketimbang memanusiakan manusia, saya juga belajar bahwa teater Descartes sudah gulung tikar gara-gara Dennett.
From the publisher's feed