Tyologi

Tyologi

By TyologiArtsBooks
Download on the App Store

Tyologi episodes

  • Berani Tidak Disukai
    Menurut Adler, segala permasalahan manusia terletak di relasi interpersonal kita dengan orang lain. Segala emosi yang meluap-luap dalam dada kita, juga punya tujuan terpendam yang berhubungan dengan relasi interpersonal kita dengan orang lain. Seseorang yang kerap mengisolasi dirinya dari masyarakat, melakukan dengan tujuan tidak terluka oleh hubungan interpersonal. Ketakutan pada hubungan interpersonal mengandung tujuan terpendam yaitu menghindari hubungan interpersonal, dan untuk mendukung tujuannya itu, ia pun membenci dirinya sendiri. Tapi di sisi lain, kita tidak mungkin bisa lari hubungan interpersonal itu. Pada dasarnya mustahil untuk tidak terluka dalam hubungan dengan orang lain. Tidak bisa dihindari bahwa ketika kita masuk dalam hubungan interpersonal, sampai ke tingkat tertentu, kita akan terluka dan melukai orang lain pula. Adler mengatakan, “Yang bisa dilakukan seorang manusia untuk menyingkirkan masalahnya halanya menjalani hidupnya seorang diri di alam semesta ini.” Tapi manusia tidak bisa melakukan hal semacam itu.
    Segala masalah dan solusi, berkah dan kutukan, tawa dan tangis, selalu bermukim dalam hubungan interpersonal kita. Hubungan sosial adalah asal muasal segala rasa
    28 min
  • Pengembaraan Kosmos
    Dalam buku Cosmos, Carl Sagan, Kosmos sendiri diartikan sebagai "segala yang ada dan segala yang pernah ada dan akan ada." Kapankah Kosmos ada? Kita tidak tahu dengan pasti. Tapi teori terbaik sejauh ini, alam raya sudah ada sejak 13 milyar tahun lalu. Bumi sendiri baru muncul sejak 4 milyar tahun. Dan spesies manusia hadir 70.000 tahun belakangan. Kita bisa analogikan begini: bila alam semesta baru tercipta kemarin, maka bumi muncul 7 jam lalu, manusia tercipta satu menit sebelum saat ini, sedangkan revolusi industri terjadi 2 detik tadi.
    21 min
  • Mengapa Nietzsche Begitu Riya?
    Di balik aforismenya yang terkesan maskulin dan garang, Nietzsche sesungguhnya bertubuh lemah dan sakit-sakitan. Profesor filologi Jerman berkumis tebal itu bahkan pernah ditolak militer karena kondisi tubuhnya yang tak cukup kuat. Pada usia 36, Nietzsche kian lemah, ia melepas jabatan profesornya pada 1879. 
    Pernah ia dihantam pusing selama tiga hari diikuti batuk dahak tak tertahan. Setiap dokter yang ia datangi tak dapat mendiagnosis penyakitnya. Padahal ia selalu sakit perut, letih, asam lambungnya naik, mata kabur. Tapi dari jurang penderitaan itu, Nietzsche sadari, periode panjang rasa sakit adalah asal muasal kekuatan seseorang. "Apa yang tak dapat membunuhmu, akan membuatmu lebih tangguh."
    21 min
  • Orang Lain Adalah Neraka
    Padang mahsyar Sartre berbeda dengan imajinasi manusia: hanya ruang pengap, sofa hijau cerah dan sofa merah anggur, perapian, patung perunggu, tak ada jendela, tak ada cermin. Tapi juga tak ada besi rajam merah menyala, tak ada alat penyiksaan seperti yang kita lihat di komik neraka. Udara memang panas, namun bukan karena kobaran api yang mengerikan.
    Pintu Tertutup, diterjemahkan oleh Asrul Sano dari drama No Exit filsuf eksistensialis itu. Tokohnya ada tiga: Garcin, Inez, dan Estelle. Garcin adalah jurnalis cum sastrawan, satu-satunya lelaki di kamar neraka, dan dosa utamanya adalah ketidaksetiaan kepada istri yang amat setia kepadanya. Sedangkan Inez seorang lesbian sinis yang meninggal gara-gara bunuh diri. Terakhir, Estelle, perempuan agak kekanak-kanakan yang selalu butuh cermin. Estelle berkata: "aku takut tanpa cermin, aku tak bisa memastikan aku ada atau tidak." Perempuan narsis itu wafat oleh radang paru-paru.
    Neraka bagi Sartre adalah rajam objektivikasi antara ketiga orang itu. Garcin, Inez, dan Estelle saling merundung satu sama lain. Memang di hadapan mata orang lain, batin kita seolah ditelanjangi. Tampaknya ini dipengaruhi kejatuhan masa kanak Sartre, saat ia diejek mirip kodok oleh kakeknya dan sang ibu kembali menikah sehingga Sartre tak lagi jadi poros perhatian ibunya. Di hadapan orang lain yang matanya bahkan tak menyelidik, subtitusi bekerja, menukar posisi Sartre menjadi objek dari pertemuan konkret dengan yang lain.
    Setelah lelah dirisak Inez dan Estelle, Garcin meronta supaya dilepaskan dari kamar terkutuk itu. "Buka. Buka, laknat. Aku rela menerima segala-galanya, jepit panas, timah lebur, semua alatmu–segala yang membakar dan merobek. Aku sedia menerima siksaan yang kau berikan. Apa saja, apa saja lebih baik dari derita batin ini. Keperihan yang menyelinap, yang menggigit, dan menggerayangi, mengusap-usap, yang menikam tapi tak pernah cukup dalam (ia mengguncang-guncang pintu). Buka!" Garcin lalu menyadari, neraka fisik lebih baik daripada neraka batin. "Orang lain adalah neraka," ia berkata, matanya mantap memahaki teka-teki kamar itu.
    38 min
  • Heidegger: Dari Ada Menuju Kematian

    Dasein berada-di-dalam-dunia, yang berbeda dengan pernyataan air ‘di dalam’ gelas atau punting ‘di dalam’ asbak. Berada-di-dalam-dunia artinya menjadi bagian dari dunia artinya mendunia. Bahkan berada-di-dalam-dunia merupakan nama lain dari Dasein. Akhir dari berada-di-dalam-dunia, adalah kematian. Bahasa Indonesia punya padanan menarik dari akhir Dasein ini: meninggal dunia.

    Beberapa hal yang dapat ditemui dalam dunia Dasein: alat-alat, benda non-alat, dan orang lain. Alat-alat merupakan benda yang punya fungsi atau diperuntukkan buat sesuatu. Sikap terhadap alat ialah memanipulasi atau memperalat. Dalam hal ini, terdapat aroma humanisme, di mana Heidegger berkata memperalat manusia merupakan sesuatu yang tak tepat karena manusia direduksi menjadi alat bagi manusia lain. Seperti budak. Selain alat-alat, terdapat non-alat, benda yang tak punya nilai fungsional tertentu. Selain itu, dunia Dasein juga terdapat orang lain atau disebut Mit Dasein, orang-orang lain.

    Dalam keseharian atau rutinitas, Dasein bisa terbenam dan tenggelam sehingga jauh dari cara mengada manusia yang sejati. Sebab manusia dalam keseharian tak mengenal dirinya sendiri, dan justru menyembunyikan dirinya yang sejati. Saat itulah, Dasein menjadi das Man, atau sesuatu yang kerap kita ujar sebagai “orang”.

    Ketika Dasein menjadi das Man, keunikan dan kekhasan pun lenyap, sebab orang-orang cenderung mengikuti trend, fesyen, dan terbenam dalam kerumunan massa. Tapi di sisi lain, Dasein juga tak bisa dilepaskan dalam keseharian tersebut. Inilah yang mencemaskan dan paradoks: Dasein ingin mengenal Ada-nya, tapi di sisi lain Dasein mesti berkubang dalam keseharian yang mengasingkan Ada-nya.

    Apabila das Man menjelma das Man, maka ia jadi anonim. Contohnya soal kawin. Das Man akan kawin karena tekanan keluarga atau ikut tren sosial atau karena cemburu dengan teman-teman dekat yang sudah menikah lebih dulu. Sedangkan das Sein, memilih kawin karena keputusan pribadinya yang dilalui lewat proses permenungan, proses memahami apa yang penting bagi masa depannya. Dalam proses yang mencemaskan itulah, keputusan eksistensial lahir.

    Das Sein hidup dan memerankan drama eksistensial: das Sein tak tahu dari mana ia berasal, akan ke mana ia nanti, dan mengapa ia ada. Ketiga hal itu lalu mengusik sebagai kecemasan. Ketiga pertanyaan itu lalu menjadi akar dari krisis eksistensial kita. Kiwari, kita tahu itu sebagai quarter life crisis, yang sesungguhnya merupakan panggilan untuk memahami keterlemparan manusia di muka bumi. Das Sein lantas bertanya: untuk apa aku harus hidup? Mau jadi apa nanti? Kenapa aku harus tetap hidup? Dan seterusnya dan seterusnya.

    48 min
  • Filsafat Islam: Klasik ke Kontemporer

    Dalam trayektori keilmuan Islam, filsafat muncul belakangan. Gairah intelektual awal Islam dimeriahkan oleh Syafii, Malik, Hambali, dan Hanafi. Mereka merupakan rujukan utama mazhab salaf (aliran klasik). Diikuti dengan perkembangan saintifik di bidang kimia oleh Ibn Hayyan dan matematika oleh Al-Khawarizmi. Filsafat muncul setelah diterjemahkannya teks Yunani oleh al-Kindi hingga melahirkan buku filsafat Islam pertama.


    Sayangnya, saat itu Arab-Islam memendam kecurigaan terselubung terhadap ilmu yang tak berasal dari tradisi asli Islam. Seolah segala di luar Quran, Sunnah, dan Hadith tidak bisa diterima sebagai kebenaran. Karena itu, keberanian al-Kindi mengimportasi filsafat ke dunia Islam menyebabkan ia dipecat dari istana kerajaan. Filsafat saat itu bagai subversif di hadapan status quo kerajaan Islam.


    Dalam bukunya, al-Kindi menyatakan pembelaan pada filsafat: "Kita semestinya tidak perlu merasa malu untuk menerima kebenaran dari mana pun ia berasal…." Al-Kindi barangkali pengin bilang, bahwa kebenaran tak punya KTP, tak mengenal tanah kelahiran, tak berjenis kelamin, dan bukan kepemilikan eksklusif satu identitas semata, karena apabila demikian maka kebenaran tidaklah bersifat universal. 


    48 min

About Tyologi

From the publisher's feed

Saya bingung kasi deskripsi apa ini barang.