
Sign up to save your podcasts
Or


Tentang perubahan Quran dari ingatan ke catatan, tabu yang meliputinya, dan sisi historis-sosiologis di belakangnya.
Krisis Arab-Islam 1967 menyisakan kekecewaan politik yang berdampak pada polemic kebudayaan. Adonis mengajak masyarakat Arab merenungi paradigma tradisional yang selalu menatap ke belakang, seraya menolak kemajuan yang tak sesuai kehendak tradisi. Filsuf cum penyair itu mendeklarasikan pembunuhan pada tuhan dalam syairnya: “tuhan telah mati, tuhan yang turun dari tengkorak langit … siapa tahu, dari kedalamku, muncul seorang tuhan.”
Cak Nur mengajak kita menggeledah doktrin agama yang tumbuh subur selama berabad-abad: tentang transisi sunnah ke hadith, kodifikasi fiqh, & kemunculan taklid yang mengunci pintu kreatifitas intelektual dalam berijtihad. Dalam soal kebahagiaan & kesengsaraan, Cak Nur meminjam kaca mata Ibn Rusyd untuk memahami mitos surga-neraka.
Resep pertama dan paling terutama untuk belajar adalah percaya kalau kita bisa belajar dengan baik. Keyakinan pada diri sendiri adalah hal paling penting. Setelah itu, kita perlu menyadari musuh-musuh di era digital: air bah informasi, distraksi digital, dan potensi demensia. Jim Kwik menawarkan model “limitless” yang terdiri dari tiga: mindset, motivasi, dan metode. Ia membawa kita menjelajahi dunia kemungkinan di mana kita bisa berjumpa dengan diri kita dalam versi yang tak terbatas; diri kita yang telah kenalan dengan tujuan kita, telah mengenal apa yang sekiranya bermakna dalam hidup, yang tahu menstimulus motivasi dan energi secara independen, dan telah memahami rahasia fokus, kekuatan ingatan, dan metode belajar menyenangkan.
Kenapa niat baik saja tidak cukup? Grek Lukianoff dan Jonathan Haidt lalu menelusuri bagaimana peran niat baik tapi gagasan buruk bisa berdampak begitu signifikan terhadap generasi Amerika? Tiga gagasan buruk tersebut ialah: apa yang tak bisa membunuhmu akan menjadikanmu lemah, percayai perasaanmu, dan dunia hanya pertikaian antara orang baik dan orang jahat. Gagasan tersebut berkontribusi akan polarisasi politik identitas, gaya parenting yang paranoid, dan "cancel culture" yang ironisnya menjamur di wilayah kampus.
Pertama, apa yang tak dapat membunuhmu akan membuatmu lebih lemah. Kedua, percayalah apa yang dibilang perasaanmu. Ketiga, dunia hanya terbelah menjadi sisi jahat dan sisi baik, dan seolah-olah itu adalah dua opsi yang tak dapat dilepaskan. Haidt hendak merekonstruksi tiga gagasan keliru ini. Untuk itu, dia memetakan kembali pikiran remaja-remaja Amerika dan bagaimana dampaknya secara langsung maupun tak langsung.
From the publisher's feed