Tyologi

Tyologi

By TyologiArtsBooks
Download on the App Store

Tyologi episodes

  • Adonis dan Kritik Arab-Islam

    Krisis Arab-Islam 1967 menyisakan kekecewaan politik yang berdampak pada polemic kebudayaan. Adonis mengajak masyarakat Arab merenungi paradigma tradisional yang selalu menatap ke belakang, seraya menolak kemajuan yang tak sesuai kehendak tradisi. Filsuf cum penyair itu mendeklarasikan pembunuhan pada tuhan dalam syairnya: “tuhan telah mati, tuhan yang turun dari tengkorak langit … siapa tahu, dari kedalamku, muncul seorang tuhan.”

    17 min
  • Cak Nur & Kontekstualisasi Doktrin Islam

    Cak Nur mengajak kita menggeledah doktrin agama yang tumbuh subur selama berabad-abad: tentang transisi sunnah ke hadith, kodifikasi fiqh, & kemunculan taklid yang mengunci pintu kreatifitas intelektual dalam berijtihad. Dalam soal kebahagiaan & kesengsaraan, Cak Nur meminjam kaca mata Ibn Rusyd untuk memahami mitos surga-neraka.

    29 min
  • Filsafat Keindahan: Dari Mimesis sampai Neuroestetika
    Estetika diartikan sebagai filsafat tentang seni. Namun pada mulanya, penggunaan kata estetika ini tidaklah sama dengan cara kita memakainya hari-hari ini. Pada zaman Yunani klasik, estetika ialah aesthesis, yang diartikan sebagai pencerapan inderawi. Penggunaan estetika dalam definisi ini berlangsung sejak era Plato sampai Immanuel Kant. Ketika itu estetika masih berputar pada tema epistemologis.
    Barulah pada abad ke-18 pengertian itu berubah menjadi sebagaimana yang lazim kita gunakan hari ini untuk merujuk pada keindahan. Pionirnya adalah Alexander Baumgarten. Estetika merupakan bagian dari segitiga realitas: kebaikan (bonum), kebenaran (verum), dan keindahan (pulchrum).
    Pada zaman modern itu estetika tak lagi terjebak dalam perkara-perkara rasionalitas, bahwa seni dan keindahan selalu berkorelasi dengan rasio. Muncullah istilah je ne se quoi pada abad ke-17, yang artinya "aku tak tahu apa". Terminologi itu merujuk pada pemahaman pada seni yang kerap membuat lidah kelu tak berkata-kata. Kita bisa merasakan sensasi keindahan memang ketika mencerap karya seni, tapi penjelasan akan keindahan itu selalu terbentur oleh keterbatasan bahasa.
    Periode selanjutnya melahirkan istilah kekhasan wahana (medium specifity), yakni pada abad ke-19 akhir. Paham itu dipopulerkan oleh gerakan formalis yang menyatakan bahwa keindahan berada pada tataran formal bukan isi. Yang membuat lukisan indah bukanlah objek lukisan melainkan permainan warna dan coraknya. Begitu pula musik tak indah karena konten musiknya melainkan karena komposisi nada di yang merangkainya.
    Pemikiran formalisme dimungkinkan oleh seruan seni untuk seni atau l'art pour l'art pada permulaan abad ke-19. Digaungkan Theophile Gautier, bahwa keindahan bersifat asing dari kegunaan sebagaimana yang diidealkan para estetikawan klasik seperti Plato, Cicero, dan lain-lain. Muncullah mazhab estetisisme yang menyatakan bahwa seni harus dimurnikan dari segala unsur eksternal, sebab keindahan sudah berada dalam internal karya seni. Estetisisme inilah yang memungkinkan kekhasan wahana.
    Abad 20 ditandai dengan para pendobrak yang menerabas batas-batas gerakan formalisme. Mereka disebut para avant garde, garda depan yang memutus mata rantai paham estetika lama lantas membawanya ke wacana kebaruan. Kita bisa melihatnya dalam karya urinoir Marcel Duchamp atau resital piano 3.44 John Cage. Mereka tak lagi mengejar keindahan pada umumnya, bahkan kekagetan yang menghentak kesadaran bisa disebut indah. Keganjilan yang dilihat pada kakus yang dipajang Duchamp dan konser piano tanpa nada bisa dinilai indah karena ia memperluas perspektif seseorang akan keindahan. Cage berkata, bahkan terdapat musik dalam ketiadaan nada, dalam jeda, suara jarum arloji, kebisuan teater, dan kresek kertas notasi di atas piano selama tiga menit empat puluh detik
    55 min
  • Teka-Teki Wajah Levinas
    Wajah di sini tidak sekadar bersifat fisik. Wajah bukan tulang belulang dan tumpukan daging yang terbungkus kulit. Wajah merupakan sesuatu yang tak dapat dicangkup, dilihat, diraba, ditampung, dipahami; wajah selalu lebih dari apa yang kita pikirkan. Wajah, dengan kata lain, adalah metafisika.
    Dalam perjumpaan langsung dengan wajah Liyan, Aku lalu tersedot untuk bertanggung jawab, sebab terdapat himbauan dalam wajahnya yang mutlak, wajah Liyan seakan berkata, "jangan bunuh aku." Himbauan mutlak itu merupakan perlawanan dari yang tak bisa melawan, dari Liyan yang ketidakberdayaannya begitu agresif di mata sang Aku.
    Dalam perjumpaan semacam itu, yang disebut momen etis oleh Levinas, terjadilah substitusi, yakni pertukaran posisi antara Aku dan Liyan. Aku yang mulanya subjek lantas menjadi objek dari sang Liyan yang menjelma sebagai subjek. Wajah sang liyan kini tampil sebagai nir-kekerasan; alih-alih menyerang kebebasan sang Aku, sang Liyan justru mengundang sang Aku untuk bertanggung jawab kepadanya. 
    Etika Levinas memang lain. Derrida sendiri mengatakan etikanya sebagai etika dari etika (ethic of ethics). Etika Levinas tak sama dengan aturan emas yang menjamur dalam filsafat barat, "perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan." Etika Levinas justru menempatkan subjek sebagai sub-jektum: sang Aku yang berada di bawah beban alam semesta, seolah sang Aku bertanggung jawab atas segalanya. Dengan demikian, sang Aku sudah terdesentralisasi. 
    Etika Levinas menempatkan perjumpaan satu lawan satu sebagai unit dasarnya. Namun kita kemudian bertanya: bagaimana dengan orang lain di luar perjumpaan hadap-hadapan itu? Apakah sang Aku tak bertanggung jawab kepada orang lain itu? Apakah etika Levinas tak bisa diaplikasikan untuk kepentingan keadilan sosial?
    Levinas menjawabnya: keprihatinan kita akan "pihak ketiga" sudah direpresentasikan oleh keprihatinan kita kepada wajah orang lain. Inilah pondasi dari fraternitas manusia kata Levinas. Sikap tanggung jawab kita pada pihak lain yang hadir dalam wajah orang lain di hadapanku pun mesti diejawantahkan dalam institusi politik dan kebijakan negara. Meskipun begitu, ia akan menimbulkan masalah baru: bagaimana mempertahankan "yang etis" dalam "yang politis"? Sebab yang politis senantiasa mengkuantifikasi tiap individu sebagai angka (dalam demokrasi misalnya), menggeneralisirnya sebagai "rakyat", dan mengumumkan masing-masing opini individu sebagai "opini publik". Tantangan atas etika Levinas yang teramat mikro ini belum bisa dijawab dengan memuaskan.
    37 min
  • Evolusi Kreatif: Makanan, Seks, dan Agama
    Buku Creative Spark menyajikan lini masa yang agak berbeda dengan buku evolusi lain. Fuentes hendak berkata bahwa manusia sampai ke titik ini lewat proses kreatif tanpa henti. Ada beberapa gagasan menarik yang saya temukan di sini, yang melengkapi pemahaman saya soal evolusi sebagai narasi manusia dari zero ke hero.
    Penemuan Lucy sebagai bukti nenek moyang bersama (last common ancestor) dengan hominid lain mengakhiri perdebatan soal mana yang lebih dulu: bipedalisme atau perkembangan otak. Nenek moyang kita pertama-tama mulai berjalan dengan dua kaki terlebih dahulu (bipedalisme) sebelum otaknya berkembang sampai sekarang. Hipotesis ini diamati dari konstruksi arkeologis Lucy yang terlihat sudah bisa berdiri di atas dua kaki tapi volume otaknya tidak sebesar kera jenis lain. Lucy kemudian dinamai dari judul lagu Beatles, Lucy in the Sky of Diamond.
    Otak mulai berkembang ketika nenek moyang kita mulai menggunakan batu sebagai senjata berburu meski diintai risiko di mana predator bisa mendengar mereka mengasah batu dan melahapnya di tempat. Lewat analisa neurosaintifik, diketahui bahwa membuat perkakas atau peralatan membantu mengembangkan bagian otak yang disebut supramarginal gyrus di lobus parietal (bagian tengah otak). Perkembangan ini juga berlaku buat orang yang mengamati orang lain menciptakan peralatan. Menariknya, bagian otak yang sama juga bertanggungjawab atas kemampuan berbahasa manusia. Dengan demikian, kemampuan menciptakan peralatan turut mempengaruhi kemampuan manusia mengembangkan simbol-simbol sebagai medium komunikasi (homo semioticus).
    32 min
  • Absurdisme, Sisifus, dan Camus
    Camus membuka Mitos Sisifus dengan klaim bahwa bunuh diri tidak boleh dilakukan. Show must go on. Kematian prematur hanya akan menghentikan potensi kehidupan yang penuh kegembiraan abadi. Di hadapan absurdisme, memang hanya tersaji dua opsi: bertahan atau mati. Opsi terakhir ditentang Albert Camus. Bunuh diri, ujar pria Aljazair itu, ialah pengakuan bahwa hidup tak terpahami dan terlalu berat buat dipikul. Pengakuan itu tidak layak dibarter dengan nyawa.
    Absurdisme, sebagaimana yang bisa saya tangkap, ialah keinginan manusia untuk menghendaki adanya makna untuk dunia ini yang kehendak itu hanya akan terbentur oleh kesia-siaan sebab makna yang dituju itu ternyata tak ada. Tidak ada makna di dunia ini. Kalaupun ada, satu-satunya makna adalah ketiadaan makna itu sendiri.
    Camus lalu mengajak kita menengok Sisifus, manusia yang dikutuk untuk mendorong batu ke pucuk bukit hanya untuk melihat batu itu tergelincir ke kaki bukit dan Sisifus harus mendorongnya lagi hanya untuk melihat peristiwa yang sama terjadi berulang kali. Ataukah kita Sisifus itu? Yang hidup dari 24 jam ke 24 jam yang berbeda, yang bekerja dari Senin ke Senin yang lain, yang mengulangi April demi April, pergantian kalender, tumbangnya waktu di luar jendela, sebagai rutinitas? Hidup untuk mati, makan untuk berak, bangun untuk tidur, dan seluruh siklus yang tak terputus itu berselirat-kelindan sebagai gumpalan benang berwarna merah
    46 min
  • Limitless: Belajar Cara Belajar

    Resep pertama dan paling terutama untuk belajar adalah percaya kalau kita bisa belajar dengan baik. Keyakinan pada diri sendiri adalah hal paling penting. Setelah itu, kita perlu menyadari musuh-musuh di era digital: air bah informasi, distraksi digital, dan potensi demensia. Jim Kwik menawarkan model “limitless” yang terdiri dari tiga: mindset, motivasi, dan metode. Ia membawa kita menjelajahi dunia kemungkinan di mana kita bisa berjumpa dengan diri kita dalam versi yang tak terbatas; diri kita yang telah kenalan dengan tujuan kita, telah mengenal apa yang sekiranya bermakna dalam hidup, yang tahu menstimulus motivasi dan energi secara independen, dan telah memahami rahasia fokus, kekuatan ingatan, dan metode belajar menyenangkan.

    45 min
  • Niat Baik dan Gagasan Buruk di Amerika

    Kenapa niat baik saja tidak cukup? Grek Lukianoff dan Jonathan Haidt lalu menelusuri bagaimana peran niat baik tapi gagasan buruk bisa berdampak begitu signifikan terhadap generasi Amerika? Tiga gagasan buruk tersebut ialah: apa yang tak bisa membunuhmu akan menjadikanmu lemah, percayai perasaanmu, dan dunia hanya pertikaian antara orang baik dan orang jahat. Gagasan tersebut berkontribusi akan polarisasi politik identitas, gaya parenting yang paranoid, dan "cancel culture" yang ironisnya menjamur di wilayah kampus.

    47 min
  • Kenapa Niat Baik Tidak Cukup?

    Pertama, apa yang tak dapat membunuhmu akan membuatmu lebih lemah. Kedua, percayalah apa yang dibilang perasaanmu.  Ketiga, dunia hanya terbelah menjadi sisi jahat dan sisi baik, dan seolah-olah itu adalah dua opsi yang tak dapat dilepaskan. Haidt hendak merekonstruksi tiga gagasan keliru ini. Untuk itu, dia memetakan kembali pikiran remaja-remaja Amerika dan bagaimana dampaknya secara langsung maupun tak langsung.


    47 min

About Tyologi

From the publisher's feed

Saya bingung kasi deskripsi apa ini barang.