
Sign up to save your podcasts
Or


Tanggal 22 Desember 2020, Pesantren Agro Kultural Markaz Syariah, Mega Mendung, yang didirikan Habib Rizieq Syihab, mendapatkan somasi dari PTPN VIII yang mengklaim memegang HGU atas lahan tersebut. Somasi yang terkesan sangat tiba-tiba memunculkan berbagai spekulasi tentang alasan sebenarnya. Bagaimanapun rasa keadilan kita terusik, karena bukan cuma Pesantren Markaz Syariah yang berdiri di atas lahan yang diklam sebagai HGU PTPN VIII.
Beberapa kejadian yang akhir-akhir ini menimpa HRS dan FPI memunculkan spekulasi bahwa Habib Rizieq sedang menjadi sasaran balas dendam lawan-lawan politiknya dalam gelaran Pilkada DKI 2017 dan Pilpres 2019. Akankah generasi penerus mewarisi politik baper dan balas dendam dari para seniornya?
Mungkin hanya terjadi di Indonesia, kompetitor dalam gelaran Pilpres kemudian berkumpul satu wadah di kabinet. Publik tambah miris, karena ada Menteri baru yang terang-terangan bilang, dirinya sudah dapat ijin Presiden untuk sementara waktu tetap merangkap sebagai Wali Kota. Jelas UU tidak mengijinkan itu. Apa yang bisa kita harapkan dari penerapan demokrasi tanpa etika? Apa yang hendak kita ajarkan untuk generasi mendatang tentang praktik bernegara?
Rentetan peristiwa mulai dari 6 anggota FPI tewas dalam insiden KM 50 Tol Jakarta Cikampek hingga tetiba Polisi mengumumkan temuan 2 kuintal sabu di sebuah hotel di Petamburan, bersama 11 tersangka pengedarnya membuat sebagian pihak menengarai, ada upaya sistematis dan masif untuk menyingkirkan HRS dan FPI. Benarkah demikian?
Di Hari Ibu, 22 Desember 2020, Presiden Jokowi mengumumkan nama 6 Menteri baru, Sandiaga Uno salah satu di antaranya. Namun demikian, reshuffle kalkulatif-transaksional tersebut tidak perlu menyita perhatian. Fokus kita adalah mengawal penanganan tindak pidana yang hina, menghina, dan menghinakan, mega korupsi Bansos Covid-19, yang melibatkan mantan Mensos, Juliari Batubara, dan beberapa oknum lainnya.
Tentu saja, respon Gibran dan Sritex perlu diapresiasi, sebagai bagian dari proses membuat kasus mega korupsi ini terang-benderang. Selanjutnya, tugas seluruh elemen masyarakat sipil adalah sekuat mungkin mendorong KPK untuk mengungkap kasus ini hingga ke akarnya.
Mirip kata-kata Gesang dalam lagu Bengawan Solo, "Air mengalir sampai jauh," menurut Tempo dalam edisi terbarunya, duit korupsi Bansos mengalir sampai jauh. Ditengarai bukan cuma mantan Mensos, Juliari Peter Batubara, yang menikmatinya, tapi berbagai pihak di lingkaran kekuasaan.
Direktur Eksekutif Indo Barometer, M, Qodari, mengungkapkan kemungkinan di 2024 Jokowi maju mejadi Presiden untuk ketiga kalinya, berpasangan dengan Prabowo sebagai Wapres, setelah Konstitusi diamandemen. Mungkin Qodari lupa, Prabowo tidak lagi menjadi simbol oposisi setelah bergabung ke dalam Kabinet Jokowi pasca Pilpres 2019.
1812 digelar dengan tiga tuntutan: bebaskan HRS, usut tuntas penembakan 6 Laskar FPI, dan hentikan kriminalisasi ulama. Di Jakarta, aksi direncanakan dipusatkan di depan Istana Negara. Daerah-daerah lain pun ternyata ikut bergerak.Sangat disayangkan jika Pemerintah mengecilkan gejolak ini semata terkait dengan FPI dan HRS, karena sejatinya berbagai kelompok masyarakat sedang mengekspresikan rasa keadilan mereka yang terkoyak.
Mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono, memprediksi kemungkinan jutaan orang akan turun ke jalan menuntut Habib Rizieq Syihab dibebaskan. Belakangan, di media sosial beredar seruan Aksi 1812, hari Jumat 18 Desember 2020. Prediksi Hendropriyono memang berdasar. Gelombang protes terhadap insiden tewasnya enam anggota FPI 7 Desember, dan penahanan HRS 13 Desember dinihari, terus mengalami ekskalasi, dan diekspresikan dengan berbagai bentuk.
From the publisher's feed